Home / I'm Your Destiny / SINOPSIS I’m Your Destiny 04 part 2

SINOPSIS I’m Your Destiny 04 part 2

SINOPSIS dorama I’m Your Destiny episode 04 part 2. Makoto atau Sadaoka? Haruko menolak kedua pria yang mendekatinya itu. Sadaoka bisa menerima keputusan Haruko dan memilih menyerah. Tapi, Makoto tidak berpikir demikian. Makoto pun menggunakan strategi wortel. Apakah kali ini ia akan berhasil?

Sepulang kantor, Haruko melihat Sadaoka berjalan menuju arahnya. Haruko sempat ragu, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk tidak menghindar lagi.

Sadaoka menyapa Haruko seperti biasanya, “Saya meminta Mie-san untuk memberimu pesan, apakah dia menyampaikannya?”

“Dia melakukanya,” ujar Haruko.

Keduanya kembali ke situasi canggung. Sadaoka kemudian mengajak Haruko bicara. Mereka duduk di taman, sambil minum bir kaleng.

“Aku tidak ingin Kamu marah saat mendengar ini. Itu adalah misteri bahkan bagiku juga kenapa aku melamarmu. Kita bertemu setelah sekian lama, dan Kita berdua bebas. Perusahaan Kita kebetulan dekat. Aku merasa seperti itu pasti berarti sesuatu. Aku tidak bisa dengan mudah mengatakannya tapi, aku merasa kita dalam situasi sangat mungkin untuk menikah. Aku memiliki keyakinan yang aneh bahwa “Entah bagaimana kita akan bersama.” Jadi saat Kamu menolakku lebih dari sekadar shock. Aku terkejut bahwa hasilnya tidak seperti yang Aku pikirkan. Aku yakin ada makna kita dipertemukan kembali. Aku ingin tahu apa perasaan itu sebenarnya,” ujar Sadaoka panjang lebar.

“Ini mungkin membuatmu marah tapi, Aku merasakan hal yang sama dengan mantanku sebelumnya. Aku pikir dia akan melamarku, Tapi apa yang dia katakan adalah “Sebenarnya Aku sudah menikah.” Entah bagaimana itu membuatku tertawa. Aku baru saja akan mengatakan ‘Tidak, tidak, Kamu salah ketik.’” Curhat Haruko balik.

Situasi canggung di antara keduanya perlahan mencair. Sadaoka minta maaf, karena sudah meminta musik klasik sebagai latar belakang lamarannya pada Haruko waktu itu. Ia merasa sudah memainkan musik aneh.

“Itu melanggar peraturan! Aku tidak bisa menahan tawa,” ujar Haruko, lebih riang.

Makoto kembali mengajak sang bos makan. Kali ini di bar tempat ia dan teman-temannya berkumpul biasanya. Dan menu malam itu … semuanya berasal dari wortel.

Sang bos tampak waspada, “Bisakah Aku mengatakan sesuatu? Membuat atasanmu makan sesuatu yang dia benci, IniTidak normal, kan.”

“Aku khawatir dengan keseimbangan gizi Anda.”

“Pernahkah Kamu mempertimbangkan bagaimana rasanya menerima hal-hal manis dari pegawai laki-lakimu, hari demi hari?” sang bos curiga. “Ini benar-benar sangat menakutkan kau tahu.”

“Tolong jangan salah paham!” potong Makoto cepat. “Yang saya inginkan adalah untuk Anda, menaklukan ketidaksukaan Anda terhadap wortel.”

Sang bos menarik nafas berat, “Apa yang Kamu lakukan adalah menjadi salesman yang memaksa. Hal yang sama seperti ketika seorang salesman memaksa pelanggan Untuk membeli sesuatu yang sama sekali tidak mereka minati. Penting untuk mendapatkan hasil, Tapi kupikir sama pentingnya mengetahui kapan harus menyerah.” Ujar sang bos, menasehati Makoto.

“Saya minta maaf,” ujar Makoto kemudian. “Jadi, misalnya saja, Saya mengejar seorang gadis, yang sama sekali tidak tertarik padaku, menyuruhnya untuk menyukaiku, Itu sama dengan salesman pemaksa?”

“Aku pikir begitu. Bagaimanapun, perasaan mereka terhadap kamu adalah nol, bukan. Tidak masalah seberapa besar angka yang kamu kalikan dengannya, Itu tetap nol Misalnya, jika nilai cinta Kamu adalah, Satu juta atau bahkan seratus juta, Hasilnya tidak berubah. Ah maaf, ini hanya membahas tentang saya yang dipaksa makan wortel. Jangan terlalu dipikirkan. Orang dan wortel berbeda,” ujar sang bos kemudian.

Makoto pulang ke rumah dalam keadaan mabok. Seperti biasa, dewa sudah menyambutnya di rumah, lengkap dengan apron di badan dan makan malam yang sudah disiapkan. Tapi Makoto tidak terlalu peduli lagi.

“Aku tidak berhasil membuat atasan saya makan wortel,” curhat Makoto yang sempoyongan menuju kursinya.

“Apa ini? Apakah kamu menyerah?”

“Yah, saya pikir saya harus menerima apa yang dia katakan. Apa yang telah Aku lakukan adalah salesman cinta pemaksa,” ujar Makoto lagi. “Jadi saya telah memutuskan untuk benar-benar menyerah padanya (Haruko).

“Hei! Jika Kamu tidak menyerah, sesuatu yang baik mungkin terjadi,” dewa mengingatkan.

“Tidak, saya sudah memutuskan.”

“Baiklah kalau begitu. Kata-kata siapa yang lebih penting. Aku atau bos anda?” tanya dewa.

“Bos saya. Jelas atasan saya,” ujar Makoto membuat dewa kaget sekaligus kesal.

Makoto lalu minta untuk diambilkan minuman. Tapi dewa memberi syarat, agar Makoto menelepon Haruko lebih dulu dan mengatakan kalau ia sudah menyerah.

“Tidak tidak. Dia tidak perlu mendengarnya,” elak Makoto.

“Untuk kebaikan kalian berdua, Kamu perlu untuk mengakhiri hal-hal dengan jelas.

“Aku tidak akan melakukannya,” tolak Makoto lagi.

“Aku mengerti. Kamu belum benar-benar menyerah,” komentar dewa dengan santainya.

“Apa? Aku sudah menyerah!”

“Bila besok datang, Kamu akan pura-pura tidak tahu, Dan kembali mengejarnya. Apa, Kenapa Kamu tidak mau menelponnya?” sindir dewa lagi.

“Oke AKu mengerti. Aku hanya perlu meneleponnya kan? Aku akan mengatakan kepadanya bahwa Aku telah benar-benar menyerah,” Makoto mengambil ponselnya dan memencet nomer Haruko. Ditunggu beberapa lama, tidak ada respon.

Haruko sudah pulang ke rumah. Saat ponselnya berbunyi, Haruko memeriksa untuk melihatnya. Tapi saat tahu itu dari Makoto, Haruko urung menjawab teleponnya. Haruko justru beranjak ke ranjangnya dan memeluk lutut. (suer deh, kalau jadi Haruko, gue juga kesel kali. Udah ditolak, masih aja rese gangguin!)

Pagi berikutnya, Makoto berangkat ke kantor seperti biasa. Keluar dari lift, ia berhenti sebentar dan memandang lift sebelah. Berharap keajaiban kembali terjadi, takdir yang memertemukannya dengan Haruko. Tapi ternyata yang keluar dari sana justru, bosnya Haruko.

“Kita jadi sering bertemu. Bagaimana kue itu? Itu kelas pertama bukan,” ujar sang bos wanita.

“Sebenarnya Aku membelinya untuk diberikan kepada bosku,” aku Makoto.

“Apa yang dia katakan?”

“Dia bilang itu enak sekali. Sebenarnya, bosku benci wortel. Aku telah mencoba segala cara untuk membuatnya bisa mengatasinya. Tapi Aku belum berhasil,” cerita Makoto.

“Ini terlalu dini untuk menyerah. Seorang kenalanku adalah petani wortel nomor 1 di Jepang. Pertanian Furukawa di Chiba. Kamu harus membuatnya memakan wortel tersebut. Meskipun Aku pikir itu mungkin tidak akan berhasil… Aku akan menelepon mereka, Kamu langsung menuju ke sana. Jika Kamu memberi mereka namaku, mereka akan dengan senang hati menerimamu,” ujar sang bos wanita itu lagi.

Makoto menuruti saran dari sang bos wanita itu. Ia mengunjungi pertanian wortel nomer satu di Jepang. Tapi, saat ditanyakan, sang pemilik pertanian mengaku tidak mengenal Hatozaki-san, sang bos wanita. Makoto sendiri heran. Tapi ia tidak menyerah.

“Sebenarnya, ada seseorang yang saya kenal yang membenci wortel. Kudengar kalau dia mencicipi wortel nomor 1 Jepang mungkin bisa mengatasi ketidaksukaannya,” ujar Makoto menyampaikan maksud kedatangannya.

“Itu tidak akan membuat perbedaan. Jika mereka tidak menyukai wortel, mereka tidak menyukainya,” ujar sang pemilik.

“Maaf? Aku pikir Anda akan mengatakan sesuatu seperti ‘Jika mereka hanya mencicipi wortel kita, mereka akan bisa memakannya…’ atau apalah. Anda mengatakan tidak seperti itu?” Makoto heran.

“AKu mengatakan itu tidak mungkin.”

“Permisi, tapi Anda adalah petani wortel nomor 1 di Jepang?” Makoto tetap tidak menyerah.

“Itu Cuma hal yang diributkan orang-orang.”

“Meski begitu, orang menghargai pekerjaan yang Anda kerjakan bukan? Saya membayangkan bahwa Anda akan memiliki Kebanggaan yang kuat dalam pekerjaan Anda atau sesuatu,” komentar Makoto.

“Aku tidak bangga dengan hal itu, sejak awal,” elak sang petani. “Bagaimanapun, Aku tidak memulai pekerjaan ini karena Aku menyukainya.”

Haruko makan siang bersama Mie seperti biasa. Dia bercerita soal Makoto yang masih terus menghubunginya, tetapi Haruko tidak punya minat untuk merima panggilan telepon dari Makoto itu.

“Apa kau benar-benar benci padanya?” tebak Mie.

“Aku Cuma tidak ingin dia salah paham. Kalau aku menanggapinya, dia nanti berpikir kalau aku memberinya kesempatan. Karenanya, lebih baik kalau kita menjaga jarak saja,” ujar Haruko.

“Aku tahu itu…Mati-matian menjaga jarak, Memastikan dia tidak bisa mendekatimu. Itu karena Kamu mencoba membencinya, yang berarti Kamu sedikit menyukainya.”

“Tidak, tidak, bukan begitu!” protes Haruko.

“Jadi, telepon dia sekarang juga, Dan katakan padanya untuk tidak mendekatimu lagi,” tantang Mie.

“Aku tidak bisa melakukannya sekarang,” elak Haruko. Tapi ia tidak mau mengatakan alasannya.

“Aku melihat dia berbeda dari Sadaoka-kun. Dia tidak mudah mengubah perasaannya dan tidak tahu kapan harus menyerah,” kali ini Mie seperti memuji Makoto.

“Kamu pikir itu adalah nilai lebih?” tanya Haruko, sarkas.

“Tentu dengan Kamu, dengan kepribadian bijaksana, Kalian memiliki takdir yang sama.”

Makoto telah kembali ke kantor. Ia membawa juga sekardus besar wortel, oleh-oleh dari perkebunan. Dan ternyata … sang bos yang tadinya sangat membenci wortel, tengah mengunyah umbi itu dengan senangnya.

“Aku berfikir mengapa aku belum makan wortel sampai sekarang,” ujar sang bos sambil terus mengunyah.

Makoto mengomentari bos mereka, “Bahkan orang yang suka wortel, Biasanya tidak bisa memakannya seperti itu.”

Rekan Makoto yang botak, mengajaknya bicara agak menjauh. Sebelum ke-geeran Makoto makin meninggi, rekannya ini pun menjelaskan kalau sang bos mau makan wortel setelah tahu kalau wortel itu masuk kompetisi sebagai perwakilan dari Jepang. Dan bos mereka sangat mencintai semua barang perwakilan Jepang.

Hari sudah gelap. Tapi Haruko masih belum pulang. Ia sendirian di kantor sementara semua rekannya sudah pulang. Ponsel Haruko berbunyi, membuatnya kaget. Khawatir kalau itu panggilan dari Makoto lagi, Haruko sama sekali tidak mau menyentuh ponselnya. Ponsel itu terus berbunyi, membuat Haruko tergoda untuk mengambilnya. Pelan, tangannya terulur mengambil ponsel itu. Saat dilihat, ternyata itu dari ibunya.

“Apa yang kamu makan untuk makan malam nanti?” tanya nyonya Kogetsu-san dari seberang.

“Tidak apa-apa, aku akan makan dulu sebelum pulang,” ujar Haruko.

“Baiklah kalau begitu, hati-hati dalam perjalanan pulang.”

Haruko menghembuskan nafas lega.

Di sebelah, ternyata Makoto juga belum pulang. Dari ponselnya terdengar suara musik klasik yang dikenalnya. Makoto menebak judul lagu itu dengan mudah. Sampai ia sadar, kalau nada itu adalah nada yang khusus ia pasang untuk panggilan dari Haruko. Sadar siapa yang menelepon, Makoto buru-buru mengangkatnya.

“Kamu menelepon saya kemarin,” ujar Haruko saat akhirnya panggilan teleponnya diterima oleh Makoto.

“Maaf itu sudah larut malam. Apa yang bisa Aku bantu?”

Haruko terdiam sebentar, “Hmm, ini tentang… Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Erm… saat Aku meneleponmu tempo hari, Aku mengatakan bahwa jika Kamu baru mengenalku, Kamu akan datang untuk menyukaiku…”

“Itu… Aku minta maaf, izinkan Aku untuk mengambil kembali kalimat itu. Ini adalah cara berpikir yang keterlaluan. Aku sungguh minta maaf,” potong Makoto.

“Tidak masalah.”

Kali ini Makoto yang bicara lagi, “Hari ini Aku berbicara dengan petani wortel no.1 di Jepang dan Aku menyadari sesuatu. Ia hanya menjadi petani wortel, karena ia mewarisinya, Awalnya dia sama sekali tidak menyukainya. Bukankah itu mengejutkan? Meski dia tidak menyukainya, dia terus menumbuhkan wortel terbaik di Jepang. Tapi inilah yang dia katakan padaku. “Aku tidak suka menanam wortel, tapi Aku juga tidak membencinya. ” “Jika Aku membencinya, Aku rasa Aku tidak bisa melanjutkannya. Dan baru-baru ini aku jadi menyukainya. ” Dia tersenyum. Mendengar itu membuatku berpikir. Tidak apa-apa jika pada awalnya Kamu tidak mencintaiku. Jika Kamu tidak bisa mencintaiku, dan untuk alasan itu Kamu menjaga jarak dariku, haruskah kita mulai dari sesuatu yang tidak Kamu benci. Jadi, biar ku tanya satu hal saja. Apakah kamu… membenciku? Atau… Apakah kamu tidak membenciku?” Makoto harap-harap cemas.

Haruko sempat terdiam, “Aku… Tidak membencimu.”

“Sungguh?!” Makoto kaget karena Haruko ternyata menjawab seperti itu. “Apakah kamu benar-benar tidak membenciku?”

“Tidak, saya tidak membencimu,” Haruko meyakinkan.

“Terima kasih banyak. Itu membuatku sangat senang mendengar kata-kata tersebut.” Makoto mengangguk-angguk hingga wortel di tangannya pun ikut terayun.

“Erm… erm! Aku belum bilang aku menyukaimu atau apapun,” potong Haruko cepat. Ia tidak ingin Makoto salah paham.

“Tentu saja, tentu saja. Saya tidak salah paham sama sekali. Jika Kamu mengambil ‘kebencian’ sebagai nol, Itu berarti ‘tidak benci’ tidak nol. Sangat penting bagiku apakah itu nol atau tidak. Restoran yang seharusnya Kita kunjungi tempo hari, Jika Kamu tidak membenci ide itu maka mungkin kita bisa pergi bersama lain kali.” Tapi karena tidak ada respon dari Haruko, Makoto membatalkan tawaran ini.

“Tidak masalah.” Haruko geli sendiri, karena samar-samar suara histeris Makoto terdengar dari balik tembok pembatas kantor mereka.

Sementara itu, di lantai yang sama kantor seberang, Sadaoka telah selesai bekerja dan bersiap untuk pulang. Ia melihat ke arah kantor Haruko dan melihat Haruko serta Makoto seolah seperti tengah bicara.

“Keduanya ada di perusahaan berbeda bukan. Tidakkah terlihat seperti tidak ada dinding di antara mereka?” komentar seorang karyawan wanita yang memerhatikan kalau Sadaoka tengah melihat ke gedung sebelah.

“Tidak ada,” Sadaoka sepakat.

Haruko baru saja keluar dari kantornya saat Makoto ada di depan lift tengah memunguti wortel yang terjatuh dari kardus yang dibawanya. Keduanya sempat canggung. Tapi Haruko pun membantu Makoto memunguti wortel itu. Keduanya pun akhirnya masuk ke lift yang sama untuk turun.

“Ini adalah wortel yang Aku bicarakan tadi. Aku tahu aku menjatuhkan mereka tapi, Jika Kamu mau, tolong ambil beberapa,” Makoto menawarkan.

“Tidak, Aku baik-baik saja terima kasih,” tolak Haruko.

“Aku tidak bisa makan semuanya sendirian, Kumohon,” pinta Makoto lagi.

Haruko tidak enak dipaksa begitu. Ia pun menurut. “Baiklah jika begitu, hanya satu.” Lalu mengambil satu wortel dari kardus yang dibawa Makoto.

“Ah, ambil 3, masing-masing untuk orang tuamu,” Makoto meminta lagi. Makoto kemudian memilihkan wortel terbaik untuk Haruko. “Eh, apakah kamu sudah makan malam?”

“Tidak, belum.”

Makoto merasa ini kesempatannya, “Aku akan membawa ini ke restoran teman-temanku Jika Kamu tidak membenci ide itu, maukah Kamu ikut denganku?”

“Terima kasih banyak. Tapi mari kita lakukan lain kali.”

Kali ini Makoto tidak memaksa lagi. Keduanya berpisah di depan gedung. Makoto kemudian meletakkan kardus berisi wortelnya. Dengan kedua tangannya, ia melambai ke arah Haruko. Tanpa disangka, Haruko pun membalas lambaian Makoto itu dengan senyum terkembang.

Setelah mengantar wortel ke resto kawannya, Makoto pulang dengan perasaan gembira. Di rumah, ia sudah disambut dewa. Dan seperti biasa, mereka memperdebatkan hal-hal sepele tidak penting soal kantong kertas.

“Itu berjalan seperti yang Aku katakan bukan. Sudah kubilang kau harus meneleponnya,” komentar dewa.

“Jika Aku berbicara dengannya, semua akan berakhir bukan. Dia tidak menjawab semuanya sesuai rencana.”

Malam itu, saat Makoto menelepon jelas Haruko tidak menelepon balik. Tapi akhirnya Haruko menelepon balik di hari berikutnya.

“Tidak, tapi sungguh kau menakjubkan Makoto. Aku sangat tersentuh! Biasanya pria yang berusia hampir 30 tahun, tidak akan begitu bersemangat untuk diberi tahu bahwa dia tidak dibenci. Kamu benar-benar mengalahkanku?! Dan bukan itu saja, dia malah mengundangmu untuk makan malam,” puji dewa pula.

“Setelah itu, dia berbalik dan melambai padaku,” Makoto menambahi dengan gembira.

Tapi dewa tidak pernah memuji dengan gratis. Tiap kali Makoto ‘seolah’ berhasil, selalu ada saja yang membuatnya kembali ‘down’.

“Karena hadiah kecil seperti itu membuatmu sangat bahagia, Kamu punya jarak tempuh yang bagus, Kamu hemat energi! Para wanita dunia bahagia!”

Makoto memukul dewa, tapi tidak berhasil mengenai dewa sama sekali. Justru Makoto yang terjatuh di lantai.

“Hei sekarang, bagaimana jika kamu terluka! Kencan pertamamu yang sangat penting akan tiba!”

“Aku tidak percaya sepatah kata pun yang Kamu ucapkan,” elak Makoto.

“Kalian berdua pergi ke hotel. Bahu kalian bersentuhan. Proyek kerja gabungan pertamamu.”

Sebenarnya Makoto penasaran, tapi ia masih berusaha menahan diri, “Bisakah Kamu berhenti mengatakan hal-hal konyol seperti itu.”

“Itu bukan seperti apa yang Kamu bayangkan. Sebuah tepi yang tajam akan mengurangi perasaan enggan. Dia akan menangis. Jangan lupa saputangan!” dewa mengingatkan lagi.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di I’m Your Destiny episode 05 part 1.

Pictures and written by Kelana

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

6 comments

  1. niken ayu wardani

    Keren. Kawai.
    Aku luar biasa menunggu sinopsis lanjutan nya. Aku br download s.d ep3. Tlg tetap semangat selalu ya. Aku mengandalkan mu. Ganbatte

  2. keren … ga sabar nunggu lanjutannya . Semangat y kak

  3. Ceritanya semakin menarik😅😅😅

Leave a Reply

Scroll To Top