Home / I'm Your Destiny / SINOPSIS I’m Your Destiny 03 part 2

SINOPSIS I’m Your Destiny 03 part 2

SINOPSIS dorama I’m Your Destiny episode 03 part 2. Hubungan Makoto dan Haruko belum ada kemajuan sama sekali. Alih-alih makin baik, justru makin kacau dan canggung. Tugas Makoto untuk bisa mendapatkan kontak Haruko pun belum berhasil dilakukannya. Bagaimana selanjutnya?

Meski tidak banyak yang datang, tapi suasana minum bersama malam itu perlahan mencair. Tapi, Makoto mendapatkan firasat akan terjadi sesuatu, firasat buruk. Tapi bukan kedatangan Haruko dkk, melainkan … apalagi sekilas terdengar lagu ‘The Devil ‘oleh Shubert …

“Apakah itu Makoto?” sapa Sadaoka yang baru saja tiba. Ia melihat Makoto tengah berada di tengah-tengah rekan-rekannya.

“Ternyata benar! Aku punya firasat bertemu denganmu,” gumam Makoto berusaha tersenyum membalas sapaan Sadaoka.

“Rekan kerja aku secara diam-diam mengadakan pesta selamat datang… jadi karena itulah aku disini,” cerita Sadaoka. “Apakah Kalian semua rekan kerja?” saat itu sejumlah karyawan wanita juga ikut masuk, teman-teman sekantor Sadaoka.

Ini membuat rekan-rekan Makoto tertarik, “Apakah Kamu ingin minum bersama kami? Jika kamu teman Makoto, kami juga arus mengenalmu!”

“Aku menghargai tawaran itu tapi untuk hari ini, Aku harus menolak,” ujar Sadaoka kemudian. Karena dipanggil oleh rekan-rekan wanitanya, Sadaoka pun pamit pergi. “Oke, sampai jumpa lagi.”

Sadaoka menyapa Makoto saat mereka sama-sama buang air di toilet. Sadaoka menceritakan kalau itu tidak semenyenangkan seperti yang terlihat.

“Aku sudah hampir tidak mabuk sama sekali,” ujar Sadaoka, mengacu pada acara minum-minum bersama rekan-rekan kantornya.

“Mengapa itu? Sedikit keterlaluan kan, padahal mereka sudah memersiapkan pesta untukmu,” kometnar Makoto.

Tapi Sadaoka tidak benar-benar tertarik dengan perbincangan itu. Ia justru menceritakan hal lain, “Aku akan melamar Haruko besok.”

Tadinya Makoto biasa saja. Tapi ia kemudian sadar, melamar artinya …

“Mie-san memberitahuku bahwa Haruko bermaksud menikahi orang berikutnya yang pergi keluar (kencan) dengannya,” cerita Sadaoka lagi.

“Tapi … meski begitu, ini agak terlalu cepat kan?” Makoto mencoba tenang padahal hatinya sudah bergemuruh.

Sadaoka tersenyum, “Kita tahu orang seperti apa Haruko. Lebih cepat kukatakan, lebih cepat juga aku tahu respon Haruko. Apalagi jika ia tahu aku siap untuk menikah. Aku ingin mengejutkannya, jadi kamu harus merahasiakannya.” Pinta Sadaoka pula pada Makoto.

Makoto hanya bisa terdiam mendengar cerita Sadaoka ini. Ia kaget karena ternyata ia sudah kalah start dari Sadaoka sejak awal. “Apa yang harus aku lakukan?”

“Masalah besar! Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus dilakukan?” Makoto heboh sendiri saat pulang ke rumahnya. Ia mencari-cari si dewa, yang tiba-tiba saja muncul secara tidak terduga di hadapannya, masih saja membuat Makoto kaget meski itu bukan pertama kalinya.

“Kamu tidak punya hak untuk mengandalkannya. Ketika Kamu tidak bisa mendapatkan kontaknya Atau bahkan memberikannya milikmu, jadi…”

Makoto yang tidak sabar memotong ucapan dewa, “Kamu bilang dia akan menerima lamarannya?”

“Nah, sekarang dia (Sadaoka) sudah mencapai puncak popularitasnya sekarang. Selanjutnya, temannya (Mie) memberi dia (Haruko) dorongan yang kuat. Kau berada dalam situasi buruk,” dewa sama sekali tidak mambantu, justru membuat Makoto makin frustasi. “Tapi hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Besok kamu akan pergi ke rumahnya Untuk mengantarkan server air. Satu-satunya hal yang bisa Kamu lakukan adalah menunda dia. Ini adalah kesempatan terakhirmu.”

Hari berikutnya, Makoto datang ke kediaman keluarga Kogetsu membawakan server air dari perusahaannya. Hari itu sebenarnya hari Sabtu/libur.

Setelah meletakkan server air itu, Makoto melihat sekeliling dan tidak menemukan Haruko, “Erm, dimana Haruko hari ini?”

“Dia pergi sebelum Kamu datang. Dia bilang dia akan pergi Untuk bertemu teman sekolahnya,” ujar Kogetsu-san.

“Apa? Kemana dia pergi ?!”

“Dia akan mengucapkan selamat kepada Guru SMAnya yang baru saja melahirkan,” lanjut nyonya Kogetsu pula.

Makoto memutar otak. Ia ingin mencari alasan untuk bisa menghubungi Haruko, “Ah, tidak Tentang posisi tersebut, Aku sarankan agar kita mendapatkan pendapat dari Semua anggota keluarga.”

“Kupikir Haruko tidak keberatan di mana kita menaruhnya,” ujar pasangan Kogetsu itu lagi.

Tapi Makoto berkeras, kalau ia perlu juga mendengarkan pendapat Haruko. Makoto pun memotret server air itu dan mengirimkannya pada Haruko, dengan alasan agar tidak terjadi perdebatan selanjutnya.

Sementara itu …

Haruko berjalan dengan Sadaoka di halaman sekolah mereka. Sadaoka membicarakan soal guru mereka yang tampak tidak berubah meski punya begitu banyak siswa. Sadaoka juga berpikir kalau gurunya tidak akan mengenalinya. Tapi ternyata festival budaya di sekolah membuat sang guru masih mengenalinya.

Haruko berpikir agar Sadaoka berkumpul dengan band-nya lagi dan datang ke acara reuni sekolah berikutnya. Sadaoka mengkritik Haruko yang juga tidak pernah datang. Tapi Haruko berjanji, kalau Sadaoka berhasil berkumpul (10 orang) bersama band-nya, ia akan datang ke reuni.

“Akan sangat bagus jika Aku bisa, Tapi mereka semua sibuk dengan ini dan itu,” ujar Sadaoka akhirnya. “Waktu berjalan begitu cepat. Dalam sepuluh tahun sejak pertunjukan bodoh itu, sebagian dari teman-teman band-ku sudah menikah. Entah bagaimana, usia dua puluhan berlalu dalam sekejap.”

Keduanya masih terus berjalan. Sementara itu, di sebelah tampak anak-anak SMA tengah berolahraga di lapangan.

“Apakah kamu ingat tempat itu disana?” Sadaoka menunjuk suatu tempat tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. “Di situlah aku mengajakmu kencan, 12 tahun yang lalu. Tempat dimana aku gagal Untuk mendapatkan respon yang tepat darimu,” ujar Sadaoka kemudian.

Bagaimana Makoto? Dengan setengah berlari, Makoto akhirnya tiba di depan sekolah. Ia mencoba masuk, tapi dihalangi oleh satpam di sana. Satpam itu mengatakan, kalau Makoto tidak bisa masuk kalau tidak punya izin. Makoto mencoba mencari celah. Tapi tetap saja gagal. Ia pun akhirnya beranjak pergi.

Makoto berjalan di samping lapangan sekolah. Ia tidak bisa masuk. Tapi saat itu, ia melihat Haruko tengah berjalan beriiringan dengan Sadaoka, dan berhenti di suatu tempat.

“Haruko-san! Posisi server air! Harap konfirmasi posisinya …” Makoto mencoba menarik perhatian Haruko dengan berteriak. Tapi akungnya, tempatnya terlalu jauh hingga tidak akan terdengar.

Sementara itu, di seberang tampak Haruko yang tersipu malu di depan Sadaoka. Tahu apa yang terjadi (Sadaoka melamar Haruko), Makoto pun langsung terduduk lemas, bersandar pada pagar lapangan. Harapannya pupus sudah.

Makoto tengah melamun di sisi lapangan yang ada di dekat sungai saat sebuah bila mendekatinya. Dua orang anak kecil mendekat dan meminta bola itu. Tapi karena anak itu tidak sopan, Makoto pun menegurnya. Tidak hanya meminta bola bisbol saja, kedua anak itu pun mengajak Makoto ikut main. Tapi karena lagi-lagi ucapan mereka tidak sopan, Makoto protes dan meminta mereka mengatakan permintaan dengan baik. Mood buruk Makoto membuatnya jadi mudah marah oleh hal-hal remeh. Kedua anak itu pun menurut. Mereka meminta Makoto untuk ikut main dengan bahasa yang lebih sopan.

Tidak punya pilihan lagi, Makoto pun setuju untuk ikut main. Pertandingan dua lawan satu. Makoto sendirin jadi tim lawan. Tapi karena bisbol, Makoto pun bisa sedikit lebih sumringah dan tidak suram lagi seperti tadi.

Bola yang digunakan bermain terlempar cukup jauh hingga ke jalan. Saat Makoto akan mengambilnya, saat itu Haruko lewat. Ia pun berhenti dan menyapa Haruko.

“Selamat ya,” ujar Makoto.

Haruko heran, “Apa maksudmu?”

“Sebenarnya aku dengar dari Sadaoka-kun kemarin. Bahwa dia akan melamarmu hari ini. Apakah begitu?”

“Lalu.. Kenapa kamu mengucapkan selamat?” tanya Haruko lagi.

“Ah, baiklah. Lamaran itu berjalan dengan baik, bukan?” tebak Makoto.

“Aku menolaknya,” cerita Haruko.

Makoto kaget, “Eh? Tapi Kamu tersenyum dan tampak bahagia?”

“Kau melihatku?” Haruko curiga.

“Ah, Aku minta maaf. Eh, aku ingin konfirmasi denganmu posisi server air. Tepat pada saat itu ‘Wedding March’ mulai bermain, Itu terlalu aneh.”

Haruko tersenyum, “Tertawa bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.”

Kedua anak yang tadi bermain bisbol memanggil Makoto dan memintanya kembali ke permainan. Tapi Makoto meminta mereka menunggu sebentar, karena ia punya pembicaraan serius.

“Tidakkah Kamu pikir sebaiknya Anda pergi?” ujar Haruko.

Makoto mengatakan agar tidak perlu memedulikan anak-anak itu. Ia mencoba kembali bicara pada Haruko. Tapi anak-anak itu makin ramai mengganggunya. Makoto pun tidak punya pilihan dan pamit pergi.

Tapi saat melihat papan skor, Makoto mendadak berbalik pada Haruko. “Ini adalah benang merah takdir. Tolong tunggu! Maukah kau menyimpan kontak ku?” Makoto menunjuk pada papan skor. “Itu belum selesai.”

“Apa yang kamu bicarakan?”

“Pada papan skor, itu adalah paruh pertama Nomor teleponku. Jika kita benar-benar terhubung Oleh benang merah takdir, Aku berpikir bahwa 5 kolom terakhir Akan melengkapi nomorku. Juga, anak laki-laki yang bermain denganku itu bernama Akai (merah) dan Ito (benang).” (akai ito=benang merah bisa juga diterjemahkan sebagai takdir)

Haruko heran, “Tapi, apa bisa kamu membuat sesuatu sesuai keinginanmu seperti itu? Jika mulai sekarang, Kamu tidak mengambil poin Dan membiarkan mereka mengambil poin sesukamu, Maka tidak bisakah kamu melengkapi nomor kamu?”

“Sejauh yang Kamu tahu itu benar, Tapi dengan bisbol, kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Permainan tidak akan selalu berjalan seperti yang ku inginkan,” ujar Makoto.

“Mengapa Kamu ingin sejauh itu untuk melengkapi nomor itu?”

“Bukankah sudah jelas? Aku ingin berbicara denganmu di telepon. Jadi, jika kamu berminat, tolong kembali lagi nanti dan periksa papan skor itu.” Makoto pun pamit pergi dan kembali ke lapangan.

Haruko tiba kembali di rumah. Tapi kedua orangtuanya heran, karena Haruko pulang sendiri. Mereka berpikir kalau Haruko akan pulang bersama Makoto.

“Dia sudah pulang?”

“Aku pikir, dia mungkin masih di lapangan baseball di tepi sungai,” ujar Haruko.

“Jadi, teleponlah dia,” ujar Kogetsu-san.

Haruko heran. Ternyata alasannya, karena ibunya sudah memersiapkan makan malam udang goreng dan saus buatan tangan, berpikir Makoto akan makan malam bersama mereka. Haruko pun tidak punya pilihan. Tapi … ia tidak punya nomer kontak Makoto.

Haruko kembali datang ke lapangan bisbol dekat sungai. Ia menemukan papan skor di sana sudah penuh angka. Haruko tidak yakin, tapi ia kemudian memencet nomer yang ada di sana pada ponselnya.

“Halo, Ini Haruko.”

Dan suara yang tidak asing terdengar dari seberang, “Masaki berbicara.”

Haruko kaget, “Sejujurnya aku tidak berpikir itu akan berhasil.”

“Aku juga tidak berpikir begitu,” ujar Makoto.

“Apakah kamu curang?”

“Tentu saja tidak! Ini adalah skor yang aku dapatkan dari bermain,” elak Makoto cepat.

“Nah, itu berhasil dengan baik.”

“Itu lebih sulit dari yang kubayangkan. Kupikir mereka sudah melihatku Ketika Aku mendapat tiga out dengan sengaja. Aku harus tunduk pada mereka, Dan mereka memberiku permainan.”

Haruko berjalan menjauhi lapangan bisbol itu. Ia pun tiba di padang rumput dengan bunga kuning yang bermekaran. Saat itu, terdengar alunan lembut musik klasik. Dan dengan mudah Makoto menebaknya, ‘Clair de Lune’ oleh Debussy. Haruko juga cukup kaget karena Makoto menebaknya dengan benar.

“Malam ini bulan purnama bukan?” ujar Makoto kemudian.

Di seberang, Haruko juga memandang ke langit dan mengiyakan.

“Apakah Kamu mau pergi untuk makan denganku? Salah satu teman sekolah lamaku adalah mantan pegulat, Dan restoran yang dibukanya Dekat kantor kami. Tapi aku belum pernah ke sana. Jadi Aku tidak tahu apakah enak atau tidak,” Makoto menawarkan.

“Kupikir aku tahu restoran mana yang kamu maksud. Kalau begitu, aku mau pergi.”

“Sungguh?! Baiklah kalau begitu…Haruskah kita pergi bersama?”

“Jika boleh membawa teman,” lanjut Haruko.

Makoto makin sumringah. Apalagi di tempat makan yang mereka rencanakan ini, tidak akan ada potensi perbedaan selera makanan yang perlu diperdebatkan. Keduanya pun menutup obrolan malam itu dengan ucapan sampai jumpa.

Makoto begitu bahagia. Ia bahkan memeluk tiang listrik yang ada di dekatnya, membuat orang-orang yang lewat di dekatnya mengernyit heran.

Makoto minum sendirian di teras sambil senyum-senyum sumringah. Saat itu dewa pun menyusulnya. Tapi mereka kemudian masuk kembali ke dalam.

“Sadaoka-kun, yang jauh lebih menarik darimu Dengan sengaja disingkirkan Haruko. Apakah kamu sudah menyadari gravitasi ini?” ujar dewa.

“Apa maksudmu?” Makoto heran.

“Maksudku, betapa sulitnya hal itu Untuk menangkap hatinya.”

“Tapi dia bilang dia akan pergi bersamaku untuk makan malam,” elak Makoto.

“Dan di sana Kamu akan diberitahu sekali lagi, ‘Aku tidak punya perasaan romantis terhadapmu. “

“Tidak, itu pasti tak terpikirkan,” Makoto tidak percaya.

“Bukankah kamu meremehkan ukuran musuhmu? Jika Sadaoka adalah bosnya, Maka dia adalah bos besar. Jika Kamu melancarkan serangan normal, dia tidak akan menyerah satu inci pun. Dia memakai baju besi yang tak tertembus. Kamu tidak bisa menyerangnya seperti itu. Kamu harus membalikkan dunia. Kamu harus membuat langkah berani!”

Haruko makan malam bersama ayah dan ibunya seperti biasa. Kogetsu-san bercerita kalau ia sudah pernah minum bersama Makoto. Kedua orang tuanya ini berpikir kalau Makoto orang baik dan seolah … ingin agar Haruko dekat dengan Makoto.

Tapi Haruko tidak tampak tertarik, “Aku mungkin tidak bisa menikah.” Ia terus mengunyah makanannya.

“Aku tidak mengatakan Kamu harus bersama dengannya,” ujar Kogetsu-san.

“Aku tahu. Ini bukan tentang siapa orangnya, Melainkan hubungannya dengan pernikahan itu sendiri.” (rumit ya? Kadang cewek emang gini. Nggak mau nikah bukan masalah orangnya. Tapi masalah pernikahan itu sendiri, termasuk konsekuensi setelahnya. Hmmm … seperti curhat jadinya, hehe)

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di I’m Your Destiny episode 04 part 1.

Pictures and written by Kelana

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. niken ayu wardani

    Please next episode. Thanks

Leave a Reply

Scroll To Top