Home / I'm Your Destiny / SINOPSIS I’m Your Destiny 03 part 1

SINOPSIS I’m Your Destiny 03 part 1

SINOPSIS dorama I’m Your Destiny episode 03 part 1. Masaki Makoto, 30 tahun. Pertarungannya mendapatkan hati wanita takdirnya, Kogetsu Haruko baru saja dimulai. Dan saingan beratnya adalah seorang pria bernama Sadaoka, yang musim panas kali ini semakin memesona dan populer di kalangan para wanita.

Pagi Makoto dimulai dari sapaan Sadaoka yang tiba-tiba datang dan mengajaknya minum bersama. Makoto jelas tidak bisa menolak. Dari sana, Makoto sadar kalau Sadaoka adalah saingan yang berat. Seseorang yang benar-benar akan popouler di antara para wanita.

Sampai di ruangan, Makoto sudah disambut pertanyaan dari rekan-rekannya. Rupanya mereka melihat saat Makoto disapa Sadaoka tadi. Makoto Cuma bilang kalau itu kenalannya. Tapi rekan-rekannya curiga, karena Makoto tampak melihat pria itu dengan sangat serius.

“Aku bisa melihat dengan jelas api kebencian,” ujar salah satu rekan Makoto.

Makoto akhirnya menjelaskan alasannya. Sadaoka adalah lawannya saat pertandingan baseball di SMA. Dan karena pukulan yang dibuat oleh Sadaoka, tim Makoto kalah. Obrolan pun berlanjut.

Sementara itu, di kantor sebelah, Haruko sedang meeting bersama tim dan rekan-rekannya. Setelah meeting selesai, tinggal Mie dan Haruko yang masih berada di ruangan.

“Melihat grafik, Itu membuatku memikirkan Sadaoka-kun,” komentar Mie. “Semua orang mencari orang seperti ini. Tapi orang yang sempurna tidak ada, jadi kita menyerah. Tapi Sadaoka-kun, menyentuh semua titik di hexagon. Dia tidak menonjol pada satu titik pun, Tapi mereka semua di atas rata-rata. Ini tidak sering terjadi Kamu menemukan seorang pria Dengan heksagon yang indah,” Mie terus saja memuji Sadaoka.

“Jika Kamu berpikir begitu tinggi tentang dia Kenapa kamu tidak mengajaknya keluar?” tanya Haruko dengan bosan.

“Apa yang kamu katakan! Sadaoka-kun jelas-jelas menyukaimu. Aku menyemangatimu,” elak Mie cepat. “Aku tidak berpikir dia orang jahat.”

“Tapi jujur saja Aku tidak begitu tahu,” ujar Haruko lagi.

“Aku mengerti. Serahkan padaku. Yang lebih cocok untuk Haruko, Hari ini Aku akan menentukan jawabannya, Dengan mataku sendiri!”

Malam itu, Haruko dan Mie minum bersama Sadaoka dan juga Makoto. Obrolan tadinya berjalan lancar. Hingga saat makanan datang, ternyata Makoto punya selera yang berbeda dengan Mie. Dan mereka pun berdebat.

Berbeda dengan Makoto, Sadaoka justru mendapat banyak pujian dari Mie. Ia benar-benar jadi pusat perhatian dalam obrolan mereka malam itu.

“Sadaoka-kun, sangat bijaksana bukan? Dia juga ahli memasak daging. Dia meminta lebih banyak minuman. Pada waktu yang tepat,” komentar Mie saat Sadaoka pamit pergi untuk mengambil minuman lagi.

“Apakah kamu masih marah?” tanya Makoto hati-hati. Ia mengacu pada perdebatan mereka tadi soal makanan.

“Aku tidak terlalu marah,” elak Mie pula. “Aku hanya mengatakan betapa luar biasa Sadaoka-kun.”

Merasa tidak enak, Haruko mengalihkan pembicaraan, “Jadi apa yang kamu lakukan pada hari libur?”

Makoto berpikir, “Eh … baik, saya bersih-bersih dan mencuci.”

“Aku sedang berbicara tentang minatmu?”

“Minatku? Minatku … erm berbagai hal …” Makoto tidak yakin.

Obrolan mereka terhenti saat Sadaoka kembali. Dan ternyata dia kembali dengan memakai wig, kaca mata hitam dan gitar di tangan. Sadaoka mulai berdendang. Jelas ini membuat Mie dan Haruko berteriak girang.

Coo coo coo. Hujan air mata adalah …Coo coo coo. Kaki kita menjadi basah …Topi sutra, 1, 2, 3 … Masukkan banyak kebencian dan kesedihan. Tutupi dengan syal. 1, 2, 3. Seekor merpati terbang keluar. Topi sutera, 1, 2, 3. Masukkan banyak kebencian dan kesedihan. Tutupi dengan syal 1, 2, 3. Seekor merpati terbang keluar. Coo, coo.

“Selamat datang di rumah, Makoto,” dewa menyambut Makoto yang baru pulang sambil memainkan gitar dan bernyanyi. “Lagu ini terkenal.”

“Apa? Apa kamu ingin berkelahi denganku?” komentar Makoto dengan kesal. Moodnya benar-benar buruk malam itu.

“Aku mengerti, Kamu tidak suka musik folk?”

“Ini tidak ada hubungannya dengan genre. Dan juga, Bisakah kamu berhenti santai menggunakan nama pertamaku!” protes Makoto lagi.

Tapi dewa sama sekali tidak peduli dengan komentar Makoto, “Makoto, seperti Sadaoka-kun, Kamu harus membuat musik sekutumu.

“Aku harus menulis dan menyanyikan Laguku sendiri juga maksudmu?”

“Bernyanyi tidak cukup untuk membuat musik menjadi sekutumu. Ada hal lain yang harus Kamu lakukan, bukan? Tidakkah kamu memberitahunya bahwa, Kamu akan menyukai musik klasik. Bagaimana dengan itu? Kamu membeli CD yang begitu mahal, Tapi kamu masih belum membukanya.” Dewa menunjukkan CD musik klasik yang dibeli Makoto.

“Itu karena aku sibuk akhir-akhir ini,” elak Makoto.

“Tidakkah kamu mengerti caranya meluangkan waktu? Untuk mengetahui gairah/passion seseorang, Bisa menggerakkan hati mereka. Baiklah, dalam seminggu, Hafalkan semua ini Lagu dan komposer.”

“Apa?! Itu jelas tidak mungkin.”

Tapi dewa jelas tidak mendengarkan, “Ada 100 lagu. Jika Kamu menghafal 20 lagu sehari, Kamu bisa melakukannya dalam 5 hari.”

“Jangan membuatnya terdengar begitu mudah!” protes Makoto lagi.

“Kebahagiaan tidak datang kepada mereka yang tidak bisa mencintai musik.”

“Jadi, jika Aku menghafal itu semua, Aku bisa menemukan kebahagiaan kan?” Makoto menyimpulkan.

“Beri aku nama dan komposer lagu ini,” ujar dewa, setelah menyetel salah satu lagu dari CD milik Makoto.

Makoto berpikir, “Aku pernah mendengarnya sebelumnya …”

“Ini ‘The Wedding March’ oleh Mendelssohn. Apakah Kamu atau Sadaoka-kun? Yang mendengar lagu ini bersamanya. Jawabannya adalah… Sisanya 99 lagu dan komposer, Saat kamu sudah hafal semua. Itu secara alami akan membimbingmu.”

“Kamu mengatakan yang sebenarnya bukan?” Makoto ragu.

“Komponis Mussorgsky. ‘Pictures at an Exhibition’ Benar, Mussorgsky,” gumam Makoto.

Ia mengikuti saran dewa dan mulai menghafal lagu-lagu di CD musiknya. Makoto menggunakan headset sepanjang perjalanannya ke kantor. Bahkan di kantor pun, Makoto tetap terus menghafal. Ia memanfaatkan waktunya di sela-sela kegiatannya.

Makoto sudah duduk di balik mejanya, saat kedua rekannya yang baru datang heboh. Salah satu dari mereka mengaku beruntung pagi itu, ‘keberuntungan yang cukup’. Sementara yang lain mengaku mendapat ‘Keberuntungan besar’.

“Apa ini, ‘Keberuntungan pagi?’” Makoto heran.

“Di perusahaan sebelah, mereka memiliki seorang karyawan bernama Yotsuya Mie. Orang yang tinggi, ramping dan wangi luar biasa. Dengan sangat hormat kami memanggilnya ‘Menara wangi’. Jika dia di lift denganmu di pagi hari Itu ‘Keberuntungan besar’. Jika Dia tidak disana, tetapi ada aroma yang tersisa itu disebut ‘sedikit beruntung’. Jika Anda melewati seseorang di jalan yang wanginya sama, itu ‘keberuntungan berlanjut’. Pada hari ketika Kamu mendapatkan ‘Keberuntungan besar’, Kamu pasti akan mendapatkan kontrak. Dia dikenal sebagai … ‘Fragrance Venus’.”

“Kaulah satu-satunya yang diizinkan masuk dan keluar dari pintu sebelah. Mohon untuk berhubungan baik dengan Yotsuya Mie-san, secepatnya.”

Tapi Makoto tidak terlalu terkejut, “Ah, kemarin, Aku kebetulan pergi minum bersamanya.”

Diberitahu seperti itu, kedua rekannya ini langsung heboh. Mereka kesal karena Makoto tidak menelepon mereka. Makoto mengelak kalau ia tidak tahu, kalau kedua rekannya ini sangat tertarik.

“Bisakah kamu menyebarkannya sedikit keberuntungan itu kepada kita?”

“Ah, tapi Aku pikir, itu sebagai hasil dari kemarin, mereka membenciku,” ujar Makoto.

Obrolan para pria ini membuat kesal satu-satunya karyawan wanita di kantor Makoto.

“Kemarin, semua menjadi jelas kan? Tanpa ragu Dia adalah Sadaoka-kun,” ujar Mie, mendekati Haruko di jam istirahat mereka.

“Tolong jangan membuat keputusan tentang hidupku!” protes Haruko.

“Sebagai perbandingan, pria takdirmu … tidak ada apa-apanya. Jika dibandingkan dengan Sadaoka, semua jadi jelas. Ketertarikan, sikap positif, humor dan sejenisnya, dia sangat rendah. Hanya ‘takdir’ yang secara tidak normal nilainya tinggi. Ini dikenal sebagai bentuk ‘teleskop’ Atau tipe ‘topi runcing’. Ini adalah formasi grafik yang merusak.” Mie mulai mengoceh tidak jelas.

“Sejak kapan kamu menjadi seorang kritikus?” pertanyaan sarkas Haruko.

Tapi ia tidak menyerah meyakinkan Haruko, “Begini, takdir hanya menyenangkan di awal. Tapi kalau menyangkut pernikahan, pergi ke kota, Dan bertemu seseorang secara kebetulan, itu akan jadi masalah.”

Haruko memilih tidak mau berkomentar lagi. Ia tahu pasti, Mie tetap berkeras soal Sadaoka.

Masaki masih bertugas. Ia menelepon pelanggan yang sempat ia datangi sebelumnya. Sambil menunggu dijawab, tidak sengaja ada musik klasik diputar. Dan dalam sekejap ia bisa mengenali lagu itu, Offenbach, ‘Heaven and Hell’

Ini menarik perhatian atasannya, “Masaki-kun, Kamu tahu musik klasik?”

“Ah, tidak tidak juga, Baru-baru ini saya berkecimpung di dalamnya sedikit.”

“Ini sering dimainkan dalam acara olahraga. Tapi aku tidak berpikir bahwa judul lagu ceria itu adalah ‘Heaven and Hell’! Tetapi acara olahraga Adalah neraka bagiku. Aku benci suara pistol start.”

“Beberapa orang memang seperti itu, bukan?” komentar Makoto.

Obrolan mereka terhenti saat suara di seberang telepon menyapa balik Makoto. Sayangnya, kontrak yang ditanyakan oleh Makoto ternyata dibatalkan oleh perusahaan sebelah.

Mendapat penolakan seperti itu, Makoto pun akhirnya mengerti maksud dewa kalau musik adalah sekutunya. Artinya, musik bisa jadi tanda-tanda dari situasi yang akan terjadi atau akan dia alami.

Masaki sudah hampir pulang saat telepon di mejanya kembali berbunyi. Dari Kogetsu-san yang ternyata mengabari kalau keluarganya setuju untuk berlangganan air dari perusahaan tempat Makoto bekerja.

“Bila Anda punya waktu, Bisakah saya menjelaskannya kepada Anda? Saya bisa datang besok atau lusa?” Makoto menawarkan.

“Baiklah, bisakah kamu datang ke rumahku besok sore?” ujar Kogetsu-san.

Makoto sempat kaget saat Kogetsu-san mengundangnya ke rumah. Kogetsu-san pun menawarkan kalau di kafe saja. Tapi Makoto mengelak dan mengatakan tidak masalah datang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Makoto sempat membeli makan malam. Saat itu sebuah mobil melintas di belakangnya. Terdengar suara musik klasik dari sana.

“’Triumphant March’ oleh Verdi,” komentar Makoto dengan yakin. Makoto sudah berhasil menghafal banyak lagu dari CD musik klasiknya dan makin mahir menebak judul serta komposernya.

“Kamu terlalu dini untuk bersemangat. Hal yang sebenarnya adalah besok,” komentar dewa saat menyambut Makoto pulang masih mendengarkan lagu-lagu dari CD-nya.

“Aku tahu itu,” ujar Makoto.

“Kenapa kamu mengintip ke kantornya?” tanya dewa lagi. Dia mengacu pada sikap Makoto tadi sepulang kantor, yang justru mengintip ke kantor sebelah.

“Jika Aku tiba-tiba tiba di rumahnya, dia akan panik.”

“Harta karunmu berasal dari hal-hal seperti itu,” ujar dewa lagi. “Aku mengatakan bahwa, secepatnya kau harus dapatkan kontaknya,” saran dewa.

Makoto tidak yakin, “Dia akan memberikannya padaku hanya dengan bertanya padanya.”

Dewa langsung menyodorkan kartu kuning di depan wajah Makoto, “Kamu benar-benar tidak bisa mengatakan itu. Kamu bahkan belum mencobanya. Bahkan jika dia tidak memberitahumu miliknya, kamu setidaknya harus memberikannya milikmu.”

“Lain waktu Aku akan mendapatkannya, Ok?” Makoto mencoba negosiasi. “Aku tidak tahu apakah aku akan menemuinya besok.”

“Apakah kamu idiot?! Kemarin sore, di depan kotak makan siang, Kamumendengar ‘Triumphant March’. Bukan? Tentu Kamu akan menemuinya!”

Makoto berpikir lagi, “Apa itu maksudmu? Musik menjadi sekutuku? Bukan hanya kebetulan saja aku mendengar lagu itu. Ini memiliki makna?”

“Hidup lebih menyenangkan jika kamu berpikir seperti itu. Jika Kamu tidak mendapatkan kontaknya besok, lain kali itu akan menjadi kartu merah!” ancam dewa lagi.

Malam itu, Makoto pun menulis. Ia ingin agar Haruko tidak kaget saat datang ke rumahnya.

Hari berikutnya, Makoto benar datang ke rumah keluarga Kogetsu. Ia dijamu di meja dapur oleh pasangan Kogetsu. Nyonya Kogetsu menyeloroh saat melihat Makoto memerhatikan cetak tangan yang dipajang tidak jauh dari meja makan.

“Ini adalah cetak tangan besar bukan. Apakah Anda tahu pegulat sumo Daikaiyama?” tanya nyonya Kogetsu.

“Ah iya, dia baru saja pensiun.”

“Putriku adalah penggemar berat nya,” cerita nyonya Kogetsu. Ia pun mengambil salah satu foto keluarga dan menunjukkannya pada Makoto. “Ini putriku Haruko. Sejak Daikaiyama pensiun, Dia sedang dalam suasana hati yang buruk.”

“Sungguh, ah, dia sangat cantik,” puji Makoto, canggung.

“Itu diambil saat dia datang dari upacara umur, Sudah lebih dari 10 tahun. Kita punya beberapa gambar yang lebih baru bukan?”

Kedua pasangan Kogetsu ini pun langsung heboh. Mereka lalu mengambil album dan mencoba menunjukkan foto-foto Haruko pada Makoto. Pada salah satu foto, Kogetsu-san terhenti. Ia melihat foto putri mereka, Haruko bersama seorang anak kecil lain di pantai dan merasa kalau anak kecil itu mirip dengan Makoto.

“Sekarang setelah Anda menyebutkannya, ya, memang begitu. Sebenarnya, ini Saya,” komentar Makoto, meski hanya melihat foto itu sekilas.

Pasangan Kogetsu pun kaget. Mereka tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu.

Tepat saat itu, Haruko baru saja tiba di rumah dan kaget menemukan Makoto ada di rumah mereka, “Apa yang sedang kamu lakukan?!”

Makoto juga kaget, “Maafkan saya. Karena tidak memberitahumu lebih dulu.”

Tapi kedua orang tua Haruko tampak belum paham, kenapa Makoto tiba-tiba saja minta maaf. Mereka justru asyik menunjukkan foto masa kecil Haruko yang bersama Makoto kecil.

Haruko menjelaskan kalau Makoto adalah kenalan yang bekerja di sebelah kantornya. Makoto pun kembali minta maaf. Haruko yang kesal justru berbalik dan bersiap pergi lagi dengan alasan belanja, membuat Makoto makin tidak enak hati.

Tidak ingin kehilangan kesempatan, Makoto pun mengejar Haruko ke depan. Ia berniat memberikan kertas yang sudah dipersiapkannya semalam pada Haruko. Tapi urung dilakukan.

“Maaf tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan,” ujar Makoto, menghentikan Haruko di depan pintu.

“Ini pekerjaan bukan. Tidak perlu meminta maaf.”

“Ibumu tertarik dengan produk kami dan jadi …” Makoto masih berusaha menjelaskan.

“Jika orang tuaku menginginkannya, maka itu tidak masalah,” potong Haruko cepat.

“Kamu suka sumo kan? Teman sekelasku adalah mantan pegulat,” Makoto mencoba mencari perhatian Haruko.

“Kamu sedang bekerja sekarang, bukan?” sindirnya. Ia pun benar-benar beranjak pergi.

Makoto pulang ke apartemennya sendiri dengan perasaan kacau. Situasi antara dirinya dan Haruko, bukan jadi lebih baik justru makin kacau.

Makoto mencoret-coret sejumlah catatan, “100 lagu hafal! Hei, apakah kamu mendengarkan? Hei! Keluar. Demi kebaikanmu!” ia mencari-cari si dewa. Tapi, malam itu dewa sama sekali tidak muncul.

Atasan Makoto mengumpulkan anak buahnya. “Jumat depan. Akan ada pertemuan bisnis. Berkumpul dengan karyawan kantor sebelah. Seperti yang kalian ketahui, mulai bulan ini mereka telah mengambil sebuah kontrak dengan kita. Atas nama persahabatan, untuk saat ini kita akan minum bersama.”

Tapi reaksi anak buahnya beragam. Ada yang berpikir kalau itu tidak ada gunanya. Tapi karyawan lain yang ngefans pada Mie, jelas bersemangat karena mereka akan punya kesempatan bertemu Mie.

“Partisipasi tidak diwajibkan, Tolong datang jika kamu mau. Terima kasih!” ujar sang atasan lagi.

Karyawan fans Mie bersemangat. Mereka sudah berpikir bagaimana caranya, agar Mie nanti duduk di antara mereka. Mereka berpikir kalau pengaturan tempat duduk sangat penting.

Malam yang direncanakan pun tiba. Seluruh anggota Welcome water lengkap datang. Tapi … dari kantor sebelah yang datang ternyata hanya sang bos wanita. Ia tampak tidak nyaman dengan situasi itu. Tapi ia berusaha kerasa menutupinya.

Sementara itu, dua orang fans Mie menarik sang bos sedikit menjauh. Mereka protes karena situasinya justru kacau seperti ini. Dan mereka curiga kalau karyawan lainnya memang tidak akan datang.

Sementara itu, Makoto yang sejak tadi menahan nafas akhirnya justru bisa bernafas lega. Ia lega. Kalau karyawan itu tidak datang, artinya ia juga tidak akan bertemu Haruko. Situasi antara mereka masih canggung karena insiden kemarin.

Setelah memastikan tidak ada orang lain lagi yang datang, acara minum bersama pun dimulai. Karena hanya sedikit orang, mereka pun berbagi meja lebih longgar. Makoto pun pindah ke meja seberang.

“Bolehkah Aku bertanya sesuatu yang sedikit aneh?” tanya si karyawan wanita pada Makoto. “Apakah Kamu percaya pada takdir?”

Makoto kaget ditanya seperti itu, “Takdir? Aku kira Aku percaya.”

“Sungguh?!” si karyawan wanita makin bersemangat. “Sebenarnya Aku pikir takdir itu menarikku ke arah seseorang. Seperti yang kamu tahu, warna kesukaanku adalah merah gelap. Orang ini memakai kaus kaki merah gelap setiap hari.”

“Kaus kaki merah gelap …” Makoto berpikir dan mencari. Dan ia menemukan kalau si pemakai kaos kaki merah gelap adalah rekannya yang botak.

“Dia memiliki nama yang sama dengan Anjing orangtuaku,” lanjut si karyawan wanita. “Restoran kari favorit kami sama. Ulang tahun kami hanya berbeda dua hari. Ponsel kami berbeda warnanya tapi modelnya sama. Aku golongan darah A dan dia O, yang merupakan kompatibilitas terbaik.”

“Karena ini takdir, maka aku mendukungmu!” ujar Makoto kemudian.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di I’m Your Destiny episode 03 part 2.

Pictures and written by Kelana

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. niken ayu wardani

    Keren bgt sinopsisnya. Semangat y. Smg sukses selalu

Leave a Reply

Scroll To Top