Home / I'm Your Destiny / SINOPSIS I’m Your Destiny 02 part 1

SINOPSIS I’m Your Destiny 02 part 1

SINOPSIS dorama I’m Your Destiny episode 02 part 1. Masaki Makoto, hampir 30 tahun. Kurang beruntung soal wanita dan hubungan. Hidupnya berubah saat seseorang yang mengaku GOD datang dan mengatakan kalau ada seorang wanita bernama Kogetsu Haruko yang ditakdirkan untuknya. Sejak saat itu, Makoto pun mendekati Haruko.

(yasalaaaam, maafkan Kelana ya, Guys. Tulisan ini kembali tertunda cukup lama, karena dunia nyata sedang butuh perhatian ekstra. Ok, ini sudah kembali normal ritmenya, jadi semoga Kelana bisa nulis lagi ya, #ehe)

Batter yang membuat hit terakhir, Panggilannya Sadaoka-kun. Setelah bertahun-tahun, dia akan segera bersatu kembali dengannya. Dia akan merasa, itu seperti takdir. Jadi kali ini, kau harus benar menghadapi sainganmu.

“Tentu saja… Aku tidak akan kalah padanya dua kali.”

Diperingatkan soal saingan untuk mendapatkan Haruko yang muncul dari masa lalu, Makoto pun menjadi waspada. Apalagi pria ini dulu pernah mengalahkannya dalam sebuah pertandingan bisball di SMA-nya. Dan Makoto bertekat tidak mau main-main lagi. Ia tidak ingin kalah padanya dua kali.

Makoto senyum-senyum di depan papan pengumuman di belakang mejanya. Ia memerhatikan pengumuman di sana, yang menyatakan ‘bonus 100.000 yen akan diberikan pada karyawan yang membawa kontrak baru dalam satu bulan’.

Rekan kerjanya mendekat. Paham maksud Makoto, rekannya mengingatkan kalau hal itu mustahil. Selama ini tidak pernah ada yang berhasil mendapatkan kontrak baru dalam satu bulan, sebanyak itu. Rekannya yang lain ikut nimbrung. Ia mengatakan, kalaupun mereka bisa mendapatkan kontrak itu, maka tidak akan ada gunanya, karena di kantor mereka itu tidak ada yang namanya menang atau kalah. Mereka berpikir semuanya dilakukan bersama-sama. Tapi Makoto tidak setuju dengan ide ‘bersama-sama’ itu. Ia tetap berpikir bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan 10 kontrak baru dalam satu bulan. Makoto yang over semangat pamit pergi.

Makoto naik lift dan di sana ia bertemu dengan Haruko dan temannya, Mie. Makoto sumringah, tapi menyapa mereka dengan canggung.

“Waktu itu sangat menakjubkan ya. Dengan banyaknya orang disana, hanya kita yang berdiri,” Makoto mencoba memecahkan kecanggungan.

“Apakah kau pernah bertemu Haruko sebelumnya?” tanya Mie balik.

“Ya, di konser musik klasik,” Aku Makoto.

“Teman sekolahku bermain disana,” sambung Haruko.

Makoto terkesan oleh fakta yang diungkapkan Haruko. Mie bertanya apakah Makoto suka musik klasik juga. Makoto mengaku tidak suka, hanya kebetulan mendapatkan tiketnya. Tapi ia melanjutkan kalau ia mulai menyukai musik klasik dan bahkan membeli CD-nya. Semua jelas modus untuk mendapatkan perhatian Haruko.

Lift sudah sampai di lantai bawah. Mie memersilahkan Makoto keluar dulu. Tidak punya pilihan, Makoto pun menurut saja. Setelah itu, giliran Haruko yang digoda habis-habisan oleh Mie.

“Hei hei! Dalam situasi ini ‘Haruko’ and ‘musik klasik’ berarti sama,” ujar Mie pula. Tapi Haruko malah menganggap itu menjijikan.

Mie heran, karena Haruko tampak sangat tidak menyukai si pria tadi, Makoto.

“Bukan tidak menyukainya, aku hanya tidak punya waktu untuk dialihkan olehnya,” ujar Haruko sambil menyantap nasi kare di depannya.

Tapi Mie tidak sepakat dengan Haruko. Dia justru berpikir kalau itu bisa jadi jalan pintas untuk menikah. Jelas Haruko tidak setuju. Karena jalan pintas biasanya berakhir kacau atau bahkan hilang.

“Makanya, jika sebuah jalan terbuka, kau harus mengambilnya tanpa takut. Kadang, kau bisa tahu itu salah jalan tanpa harus mencoba berjalan,” saran Mie kemudian. “Sebuah perasaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Setelah berkencan dengan pria-pria tanpa harapan bisakah kau bangga dengan akalmu? Jika perasaanmu berkata ‘tidak’, mungkin sebaliknya dia orang yang tepat untukmu,” cecar Mie lagi.

Hari itu Makoto memulai misinya untuk mendapatkan kontrak baru. Ia datang ke satu demi satu kantor untuk menawarkan produk mereka. Sayangnya, dari semua yang didatangi nyaris semua menunjukkan ketidaktertarikan pada tawaran Makoto. Tapi Makoto tidak menyerah.

Sadaoka baru keluar dari kantornya saat ia melihat Haruko di seberang dan memanggilnya. Setelah dipanggil pun Haruko langsung bisa mengenali pria itu, Sadaoka, pria yang satu sekolah dengannya dulu. Haruko mengaku kalau ia bekerja di lantai delapan. Pun Sadaoka yang mengaku baru dipindahkan ke lantai 8 di gedung seberang. Ternyata mereka sudah tidak bertemu sejak 8 tahhun silam, sejak tahun terakhir di universitas. Sadaoka memberikan kartu namanya pada Haruko, ia bekerja di perusahaan perdagangan.

“Kau sama sekali tidak berubah,” puji Sadaoka.

Tapi Haruko menggeleng cepat, “Aku berubah tahu. Beberapa hari lalu aku menemukan uban, Aku langsung menariknya!”

“Aku punya 2 atau 3 tumbuh disekitar sini,” ujar Sadaoka juga dengan sumringah.

Dari arah lain, tampak Makoto mendekat. Ia mengenali pria itu sebagai Sadaoka, yang sedang bicara dengan Haruko. Makoto pun mencoba menyapa. Sadaoka mengira kalau Makoto bekerja di perusahaan yang sama dengan Haruko. Tapi Haruko mengoreksi cepat, kalau Makoto bekerja di perusahaan sebelah.

“Kau tidak ingat aku?” tanya Makoto.

“Eh, kau tahu aku?” Sadaoka heran. “Ah, kita berada di kelas yang sama di tahun pertama. Akiyoshi!” tebak Sadaoka yang dijawab gelengan oleh Makoto. “Tapi aku benar-benar mengenalmu, kan?”

“Pada preliminaries prefektur musim panas kita saling berhadapan,” Makoto memberikan klu.

“Eh? Kau si pitcher?” dan Sadaoka salah tebak nama lagi.

Makoto tidak punya pilihan selain menyebutkan namanya sendiri.

“Jadi, kau bekerja di sebelah perusahaan Haruko?” tanya Sadaoka kemudian.

“Aku baru dipindahkan kesini beberapa hari yang lalu,” aku Makoto.

“Aku tidak akan pernah melupakan pukulan itu,” lanjut Sadaoka. Makoto merasa itu wajar. “Tapi permainan itu adalah pertama dan terakhir kalinya memukul.”

Makoto kaget, “Benarkah?”

“Sadaoka-kun selalu duduk di bangku cadangan,” Haruko menimpali.

“Hari itu, salah satu pemain inti terluka, Dan orang yang akan menggantikannya lengannya terluka. Itu murni kebetulan. Aku sama sekali tidak merasa ada harapan. Mereka mengira tidak ada yang bisa memukulnya,” lanjut Sadaoka.

“Sebagai lawanmu, ini mungkin aneh untuk dikatakan. Tapi kupikir kau melakukannya cukup baik,” komentar Makoto.

“Itu kebetulan juga.”

“Apa kebetulan berlanjut seperti itu?” tanya Makoto lagi.

“Kau tahu, Masaki-kun, karena kau adalah pitcher yang bagus, Aku tidak mengira aku bisa memukul bola sama sekali. Aku hanya mengira, dan tiba-tiba memukulnya,” Sadaoka pun memraktekkan gaya memukulnya.

“Ya, setelah pertandingan kau mengatakannya, ‘Tuhan baseball tersenyum kepadaku.’” Sambung Haruko.

“Heh, aku bilang begitu? Memalukan banget!” Sadaoka pun menawari Makoto untuk pergi minum kapan-kapan. Makoto setuju saja.

Makoto sampai ke rumahnya saat hari sudah gelap. Saat itu si Dewa muncul. Tapi Makoto tidak tampak terkejut sama sekali. Dewa berpikir kalau Makoto sudah terbiasa. (well, gais sepertinya Na nggak akan pakai istilah God lagi ya. Tapi diganti jadi Dewa aja deh, biar gampang #ehe. Semoga nggak pada bingung ya)

Makoto mendadak serius. Ia bertanya soal Sadaoka. Makoto berpikir kalau si Dewa inilah yang membuat Sadaoka bisa memukul dengan baik saat pertandingan dulu.

“Aku bukan Dewa baseball!” elak si dewa cepat. “Apa kau pikir aku membantunya untuk bisa memukul bola di pertandingan? Aku tidak punya waktu untuk itu!”

“Kau datang kesini, setiap malam pasti kau punya waktu,” protes Makoto.

“Dia mungkin hanya tiba-tiba mengatakan itu, karena akhirnya dia bisa bermain, dia berusaha lebih keras dari yang lain. Sederhananya, dia membuat hit dengan keahliannya sendiri.”

“Jadi sederhananya, aku kalah dalam hal kemampuan,” Makoto menyimpulkan. “Kuharap aku tidak bertanya.”

Obrolan berubah. Kali ini mereka kembali membahas cara mendapatkan hati Haruko. Makoto berpikir kalau yang paling penting adalah Cinta dan kesungguhan. Tapi dewa mengatakan bukan. Karena yang paling penting adalah … uang.

“Di kantormu menawarkan bonus, kan? Jika kau mendapatkannya, uang bisa menjadi senjata yang kau gunakan, untuk membuatnya melihatmu,” ujar dewa lagi.

“Tunggu sebentar. Kau tahu berapa banyak tabungan yang kumiliki ?!” tantang Makoto.

“Tentu, dengan uang segitu, kau bahkan tidak bisa membeli sepasang kaus kaki,” si dewa pamer kaus kakinya sambil menggerakkan jempol kakinya.

“Hah, aku sudah cukup banyak kaus kaki!” ujar Makoto kesal.

“Mau aku beritahu berapa banyak tabungan Sadaoka?” tantang dewa balik.

“Aku tidak ingin tahu! Aku akan merasa seperti tidak akan menang,” Makoto kesal.

“Uang akan memungkinkan kau untuk bergerak kapan saja. Tapi jika itu bukan dari kerja kerasmu maka itu tidak akan berarti,” saran dewa lagi.

“Jika aku mendapat 10 kontrak penjualan baru itu akan menjadi caranya, kan? Aku hanya harus melakukannya!” ujar Makoto serius.

“Dia saingan yang lebih sulit dari yang kau pikirkan!”

Makoto memandangi pengumuman bonus untuk 10 kontrak baru di dinding belakang meja kerjanya. Tekadnya sudah bulat. Ia harus berhasil.

Hari itu, Makoto kembali melakukan pekerjaannya. Ia keluar dan mendatangi satu per satu perusahaan lain untuk menawarkan produk air mineral mereka. Beragam cara dan upaya dilakukan Makoto. Dari memberikan bonus sampai mengekor si pemilik perusahaan dan meminta waktu untuk bicara. Makoto benar-benar serius kali ini.

 

Rupanya gelagat Makoto pun menjadi perbincangan rekan-rekan sekantornya. Dan mereka tahu alasan Makoto begitu bersemangat beberapa hari belakangan, demi bonus untuk kontrak baru. Tapi ada salah satu rekan kerjanya yang nyinyir dan mengaku tidak mau repot harus seperti Makoto, kalau Cuma ingin bonus. Ia pun pamit pergi duluan.

Rekan Makoto yang lain pun membicarakan pria tadi. Meski kelihatan cuek dan nyinyir, si karyawan tadi sebenarnya salah satu yang terbaik. Dia juga pernah mendapatkan sejumlah kontrak besar dari tempat-tempat yang tidak terbayangkan sama sekali. Bahkan dari perusahaan saingan. Sayangnya, si karyawan ini tidak konsisten dengan semangatnya. Sekarang saja, tidak banyak yang dilakukannya.

Sadaoka selesai membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang. Ia memandang keluar jendela dan melihat Haruko—yang ada di gedung seberang lantai yang sama—juga sedang beres-beres bersiap pulang. Tampak Haruko sedang bicara dengan Mie.

Sementara itu di seberang …

“Maaf Haruko, pesta minumnya dibatalkan. Ternyata tiba-tiba ada perjalanan bisnis ke luar negeri itu kejam, kan? Itu jelas saja bohong. Saat mereka menggunakan kata ‘di luar negeri’ mereka pikir kita tidak punya pilihan selain menerimanya,” curhat Mie sambil mengomel.

“Bukankah kau yang menyuruhku untuk tidak berprasangka pada pebisnis?” Haruko mengingatkan.

Makoto ditelepon oleh rekannya dan ditanya apa ia sudah selesai. Tapi Makoto mengatakan belum dan masih menunggu.

“Cepatlah, selesaikan segera dan kembali,” ujar si rambut cepak lagi.

“Aku juga ingin,” sesal Makoto. Ia bicara dengan suara pelan sambil melihat ke sekitar, menunggu orang yang tadi ditawarinya produk mereka.

Haruko dan Mie baru keluar dari kantor saat melihat Sadaoka sudah menunggu mereka di luar. Mereka sedang bicara soal minuman yang akan dipilih.

“Selamat malam. Aku pikir kita bisa pergi minum,” sapa Sadaoka.

“Maaf. Kita baru saja mau pergi minum,” tolak Haruko. Ia mengacu pada dirinya dan Mie.

Tapi Mie paham situasi. Ia pun mengajak Sadaoka untuk bergabung sekalian. Mie minta izin pada Haruko. Dan dengan sedikit bujukan, Haruko pun setuju kalau Sadaoka bergabung dengan mereka untuk minum malam itu.

Mereka bertiga pun minum di bar tempat biasa Mie dan Haruko datang. Sadaoka berpikir kalau Haruko sudah menikah. Dan ini membuat Mie penasaran dengan masa lalu Haruko. Mie pun bertanya seperti apa Haruko saat di SMA.

“Dia sangat populer,” ujar Sadaoka.

“Jangan bilang yang tidak-tidak!” elak Haruko.

“Di buku tahunan kelulusan, rangking ‘Siapa yang akan menjadi istri terbaik’ dia di no.1 dengan tulisan yang sangat besar,” Sadaoka melanjutkan.

“Benarkah begitu?!” Mie terkejut. “Itu sangat ironis dengan bagaimana dia sekarang.”

“Sebenarnya, dia pernah menolak ku sekali,” curhat Sadaoka kemudian. Membuat Mie makin penasaran. “Setelah hari olahraga di tahun ke 3 kami, Aku mengumpulkan keberanian dan mengajaknya kencan. Dia sedang sibuk dengan ujian masuk universitas dan bilang ‘maaf’. Bagaimanapun, aku ingin dia mengatakan apakah dia menyukaiku atau tidak.”

“Dia bisa saja mengatakan ‘Tentu setelah ujian selesai.’,” timpal Mie kemudian.

“Sebenarnya, aku tertarik padanya beberapa saat setelah kami masuk universitas,” lanjut Sadaoka pula.

Obrolan pun terus berlanjut. Kali ini Mie yang bertanya pada Haruko, apa pendapatnya soal Sadaoka. Sadaoka tampak tertarik dan penasaran juga.

Haruko tampak berpikir sebelum menjawab, “Aku tidak terlalu ingat.”

Jelas jawaban ini membuat Mie dan Sadaoka kecewa. Obrolan pun berlanjut. Sadaoka mengaku kalau dia senang berada di sekitar Haruko, rasanya selalu menyenangkan. Karena Haruko selalu membawa energi positif bagi orang-orang di sekitarnya.

“Itulah mengapa semua orang ingin menikahinya…jadi ironis bagaimana dia berakhir,” komentar Mie, kembali menggoda Haruko.

Haruko kesal dan berniat pergi. Tapi Mie menahannya dan mengatakan kalau ia hanya bercanda. Mereka pun melanjutkan minum dan memesan menuman baru lagi.

“Kau akan mendaftarkan kontraknya! Aku sudah membicarakannya dengan atasan, dan menyetujuinya. Aku belum memberimu kartu bisnis ku,” ujar seorang pria.

Makoto menerima kartu nama itu dan terkejut karena namanya adalah Kogetsu.

“Itu nama yang tidak biasa ya. Aku sudah lama bekerja tapi, Aku belum pernah bertemu seseorang dengan nama keluarga yang sama,” ujar Kogetsu-san pula.

“Apakah kau, mempunyai anak perempuan?” tebak Makoto, belum yakin.

“Kenapa kau bisa tahu?!”

“Ah, hanya terlihat sepertinya memang begitu.”

Kogetsu-san makin kaget, “Kau bisa melihat sesuatu? Seperti arwah atau semacamnya?”

“Ah, tidak tidak. Itu hanya naluri penjual,” elak Makoto cepat. Ia tidak mau membuat masalah.

“Sadaoka boleh juga,” komentar Mie saat ia hanya berdua dengan Haruko.

“Kau tertarik padanya?”

“Bukan begitu. Maksudku untukmu,” elak Mie. Ia berpikir kalau Sadaoka cocok untuk Haruko, terutama karena ia pria realistik. “Penampilan dan pekerjaannya tidak buruk, tidak seperti mantan pacarmu yang asal-usulnya tidak menjadi perhatian. Dia memenuhi semua persyaratan.”

“Hal yang harus dikatakan dalam situasi ini adalah ‘Kau cocok satu sama lain.’,” ujar si pemilik bar, ikut nimbrung.

“Apa yang kalian bicarakan?” saat itu Sadaoka baru kembali.

Mie seperti biasa menjawab asal. Dan itu membuat Haruko kesal juga.

“Kenapa Haruko belum menikah?” tanya Sadaoka to the point.

“Jika ada seseorang, aku ingin…” Haruko tampak berpikir.

“Kau belum punya pacar?” tebak Sadaoka lagi.

Dari obrolan mereka, Sadaoka juga punya masalah yang sama. Ia ingin segera menikah tapi tidak punya pasangan. Dan ternyata, mereka single dalam kurun waktu yang sama, sekitar 2 tahun terakhir.

“Jadi, kenapa kalian tidak bersama?!” saran Mie.

Haruko kaget. Sementara Sadaoka langsung mengiyakan. Ini membuat Haruko kesal. Tapi Sadaoka mengatakan kalau itu Cuma bercanda. Obrolan pun berlanjut. Mereka pun memesan minuman lagi dan berbagi traktiran.

Kogetsu-san membubuhkan cap pada kotraknya dengan perusahaan Makoto. Ia pun mulai curhat, “Ah… Mungkin esok hari Aku menandatangani surat nikah putriku seperti ini. Dengan caranya sendiri yang akan membuatnya sedih, tapi jika begini terus, kupikir dia mungkin akan selalu sendirian. Sayang sekali bukan. Tidak apa-apa. Aku yakin dia akan menemukan seseorang yang baik. Kau sudah menikah?”

“Ah, belum … “ Makoto kaget tiba-tiba ditanya seperti itu.

“Bagaimana dengan anak perempuanku?” pertanyaan Kogetsu-san membuat Makoto makin kaget. Tapi ia buru-buru meralatnya dan mengatakan kalau itu Cuma bercanda. “Kau orang yang sangat serius ya.”

“Orang sering marah padaku karena tidak bisa bercanda,” ujar Makoto.

“Bagaimana kalau kita pergi minum?” tawar Kogetsu-san kali ini, tampak serius.

Mie, Haruko dan Sadaoka masih melanjutkan obrolan mereka. Kali ini mereka membahas soal festival sekolah dan salah satu band-nya yang membawakan musik folktale. Haruko mengatakan kalau band itu punya musik mereka sendiri dan berpakaian aneh. “Mereka bernyanyi tentang perdamaian dunia.”

Sadaoka ikut menimpali. Dalam band itu tidak ada yang memainkan gitar. Mereka Cuma pegang gitar dan pura-pura memainkannya. “Aku tidak tahu kenapa tapi, aku bermain dengan sangat baik.”

“Sehari setelah kelulusan, mereka meminjam tempat dan mengadakan pertunjukan reuni. Bahkan saat aku melihat merpati di taman, mengingatkanku akan lagu itu. ‘Burung merpati penyihir itu bersiap untuk berdamai.’” Haruko berdendang sedikit.

Dan ternyata Sadaoka juga tahu lirik itu. Haruko mengaku ia juga kadang mendendangkannya saat sedang mandi. Haruko pun meminta Sadaoka untuk menyanyikannya. Ide yang disetujui juga oleh Mie. Bahkan pemilik bar menawarkan untuk mengambilkan gitar bagi Sadaoka.

“Heh, disini? Itu tidak mungkin,” elak Sadaoka. “Aku hampir lupa liriknya.”

Malam itu Makoto berakhir dengan pergi minum bersama Kogetsu-san. Bahkan saat Kogetsu-san minta tambah minuman, Makoto tidak keberatan lagi menemaninya.

“Aku harap aku punya karyawan sepertimu. Hari-hari ini, jika aku meminta mereka untuk minum, mereka menolaknya. Beberapa dari mereka bahkan tidak lepas perhatiannya dari layar komputer, dan hanya mengatakan ‘aku tidak bisa’,” curhat Kogetsu-san pula.

“Itu tidak sopan,” komentar Makoto.

“Dibandingkan denganmu hari ini dengan pria paruh baya yang baru saja kau temui, menganggapnya serius dan keluar untuk minum. Kuharap anak perempuan ku bisa menemukan seseorang sepertimu. Aku tidak bercanda, aku bersungguh-sungguh!”

Makoto terdiam sejenak sebelum menjawab, “Terima kasih banyak!”

Makoto tiba di rumah dan sepi. Tapi ia kembali dibuat kaget oleh dewa yang muncul tiba-tiba di depannya lalu duduk di sebelahnya.

“Ada masalah apa?! Kenapa reaksimu begitu?”

“Aku lelah, beri aku istirahat,” protes Makoto.

Dewa mulai membahas soal yang Makoto lakukan hari itu. Alih-alih mendekati Haruko, ia justru sibuk dengan ayah Haruko. “Ketika kau sedang mendekati ayahnya, sainganmu terus-menerus mengumpulkan poin. Seperti ini. Kerching, kerching.”

“Poin apanya?”

“Sekarang, dia sedang di sisinya dan tidur dengan gembira. Dia tertidur,” dewa menyandarkan kepalanya di bantal yang ada di pangkuan Makoto.

“Kau pasti bohong!”

Haruko, Mie dan Sadaoka sudah pindah ke bar lain. Saat itu Sadaoka tampak setengah tertidur. Sementara para wanita mulai mengobrolkannya.

“Dia pria yang baik, bukan?” ujar Mie.

“Karena dia mentraktir kita, kan.”

“Bukan itu,” elak Mie cepat. “Yah, itu juga. Kukira dia cocok denganmu.”

Saat itu Sadaoka yang terkantuk-kantuk terbangun. “Woah, apa aku tertidur sebentar tadi?”

Haruko membecandainya soal tidur kemudian beranjak bangun dan pergi.

“Ini kedua kalinya Haruko datang bersamaku untuk bertemu pria,” ujar Mie pada Sadaoka saat tinggal mereka berdua saja. “Sudah sejak lama aku tidak melihatnya (Haruko) begitu menyenangkan.”

“Yang hanya kulihat darinya ketika SMA yaitu saat dia selalu tersenyum,” ujar Sadaoka.

“Berbagai hal menyakitkan terjadi saat usianya 20-an. Dia memiliki nasib buruk dengan pria,” Mie mulai membahas soal Haruko. “Begitu dia mulai pacaran dengan mereka, mereka berhenti bekerja dan menjadi parasit, atau ternyata mereka punya istri. Kurasa dia tidak mengira dia akan melakukan semacam kesalahan itu sendiri. Jadi, itu mengejutkannya, dan dia sekarang menjadi sangat berhati-hati.”

“Tentu saja, aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya untuk memiliki kisah cinta seperti itu,” komentar Sadaoka.

“Bolehkah aku jujur?” tanya Mie kemudian. “Tidakkah kau pikir kau ingin melindunginya?”

Sadaoka berpikir sebentar, “Aku akan berbohong jika aku mengatakan ‘aku sama sekali tidak berpikir seperti itu’.”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di I’m Your Destiny episode 02 part 2.

Pictures and written by Kelana

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top