Home / I'm Your Destiny / SINOPSIS I’m Your Destiny 01 part 2

SINOPSIS I’m Your Destiny 01 part 2

SINOPSIS dorama I’m Your Destiny episode 01 part 2. Masaki Makoto (Kamenashi Kazuya), pria nyaris 30 tahun yang selalu tidak beruntung soal hubungan. Sampai seorang pria misterius (Yamashita Tomohisa) yang mengaku ‘GOD’, datang padanya dan mengatakan soal wanita yang akan jadi takdirnya. (mulai sekarang Kelana nyebutnya Mr.Rius aja ya, soalnya agak canggung nyebut GOD). Sejak itu, Makoto mulai terobsesi untuk mendapatkan wanita—yang katanya—adalah takdirnya ini, si cantik berambut pendek Kogetsu Haruko (Kimura Fumino).

Haruko makan malam bersama Mie seperti biasa. Mie mengajak Haruko untuk datang ke pesta minum, Jumat depan. Mie mengaku sudah mengikuti saran Haruko untuk putus dari pacarnya yang selingkuh dan sudah akan datang ke pesta lagi untuk cari pacar baru.

“Aku sudah melihat beberapa gambar dan mereka semua diatas rata-rata, mereka semua pebisnis dan tentu, single,” pamer Mie.

Tapi respon Haruko seperti biasa, sarkas. Haruko berpikir kalau mereka harus realistis dan hati-hati, jangan sampai tertipu orang yang mengaku single dan punya pekerjaan baik, padahal sebenarnya sudah menikah atau hanya pengangguran.

Mie kesal dengan argumentasi penolakan dari Haruko, “Aku tidak akan mengundangmu lagi ke pertemuan berkelas ini.”

“Baguslah kalau begitu,” komentar Haruko, santai.

Makoto makan siang sendirian. Ia masih saja memikirkan soal Haruko, wanita yang katanya adalah takdirnya. Makoto memandangi foto Haruko dan juga fotonya saat berdoa di kuil, awal tahun baru kemarin. Makoto kemudian memberesi barang-barangnya. Ia berlari menuju kuil tempatnya berdoa di tahun baru.

Makoto langsung menuju tempat orang-orang menggantung permohonan mereka. Ia mencari dan akhirnya menemukan ucapan harapan Haruko, Aku ingin bertemu seseorang yang telah ditakdirkan dan menikah. Haruko

“Masaki-kun. Maukah kamu pergi perjalanan bisnis untuk ku besok? Ini permintaan dari pelanggan khusus, Ini jauh kedalam pegunungan,” pinta sang bos pada Makoto.

Makoto heran, “Mereka ingin air kita di pegunungan?”

“Kurasa mereka mungkin hanya mencoba-coba belanja online. Walaupun begitu kita harus menanggapinya,” ujar sang bos lagi.

Makoto pun mengiyakan permintaan itu. Melihat Makoto agak ragu, karyawan lain ada yang menawarkan diri untuk menggantikannya. Tapi Makoto menolak dan mengatakan kalau tidak masalah dan ia akan tetap berangkat besok.

Makoto pulang kerja seperti biasa. Dan dia bertemu Haruko di lift. Meski awalnya ragu, Makoto akhirnya memberanikan diri untuk bicara.

“Jangan terkejut, tolong dengarkan. Kau adalah pasanganku yang telah ditakdirkan. Kau berpikir, “apa sih yang dia katakan”. Aku mengerti perasaan itu. Apakah kau ada waktu sebentar?” pinta Makoto.

“Hah?” Haruko heran. “Maaf, tapi jika ini semacam undangan aku menolak.” Haruko bergegas pergi. Ia tidak mau terlibat dengan orang aneh di depannya ini.

Tapi Makoto tidak menyerah begitu saja. Ia terus saja mengejar Haruko dan berusaha menjelaskannya, kalau mereka ditakdirkan bersama. “Awalnya aku juga tidak percaya, tapi aku mendengarkannya, sepertinya dia tidak bohong. Seorang pria yang menyebut dirinya Tuhan. Dan kemudian dia mulai membicarakannya bagaimana kita memiliki peran penting dalam menyelamatkan dunia. Anak kita akan menjadi penyelamat dunia. Maukah kau pergi ke kafe?”

Haruko makin kesan diajak bicara seperti itu. Ia berjalan cepat. Dan saat di lantai satu, ia minta tolong pada pihak keamanan untuk menyingkirkan Makoto.

“Hei tunggu, ini salah paham! Tunggu tunggu! ini salah paham!” teriak Makoto. Tapi petugas keamanan tidak mau melepasnya.

“Karena kau, aku mendapat masalah,” curhat Makoto di rumah.

“Itu karena metode pendekatanmu salah. Ada banyak cara yang lebih baik untuk melakukannya.

“Aku muak. Maukah kau berhenti mengikutiku?” pinta Makoto akhirnya.

Tapi Mr.Rius tidak peduli. Dia terus saja bicara, “Sama sepertimu, dia memiliki nasib buruk dengan pria. Jadi dia menjadi sangat waspada.”

“Jangan menyamakanku dengannya!” protes Makoto.

“Tentu saja pria akan lari dari seseorang yang berkemauan keras. Dia menderita dengan perasaan itu. Seperti yang kau miliki, dengan nasib burukmu dengan wanita. Bukankah kau yang bisa pahami bahwa dia yang terbaik? Soalnya setelah ini itu kalian berdua bisa bertemu satu sama lain. Kau mengerti kan?”

“Tidak, aku tidak mengerti sama sekali,” ujar Makoto dengan bosan. “Dia tidak merasakan ‘takdir’ ini takdirnya juga. Dan dia tidak tertarik masa depan 30 tahun dari sekarang.”

“Meski begitu, kau harus mengembalikan sesuatu yang kau pinjam.”

Haruko baru saja mandi dan hendak mengambil air di dapur saat orang tuanya membahas soal undangan reuni. Haruko mengaku sudah menolak undangan itu.

“Kenapa kau tidak pergi?” cecar orang tuanya.

“Aku sudah bertemu orang-orang yang aku ingin bertemu. Ayah dulu juga tidak tertarik pergi ke reuni kelas,” ujar Haruko.

Tapi ibunya terus saja membujuk Haruko untuk datang. Haruko paham benar. Ibunya berharap, kalau Haruko mau datang ke reuni kelasnya, mungkin saja dia bisa bertemu dengan pasangannya dan akan segera menikah. (dasar emak-emak rempong, kenapa sih ribet banget soal niqa? Semua ada waktunya dong, Mak. Plis atuh lah. #curcol)

Tidak mau terus saja ditanya oleh ibunya, Haruko pun mengalihkan pembicaraan. “Ah, aku tidak akan makan malam besok. Aku akan melakukan perjalanan bisnis dan pulang telat.”

“Jika kau telat aku akan menjemputmu di stasiun,” ujar ayahnya.

“Terima kasih, aku akan menelepon,” Haruko pun beranjak ke kamarnya.

Haruko mengecek ponselnya. Ada pesan dari Mie yang masih saja mengajaknya untuk datang ke pesta minum minggu depan. Tapi Haruko tidak benar-benar tertarik. Ia meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas apapun.

Haruko lalu beranjak pada buku catatannya. Ia menuliskan beberapa hal di sana terkait perjalanan bisnisnya besok. Haruko tidak tahu kalau perjalanan besok akan menyimpan cerita untuknya.

Makoto turun dari kereta di sebuah stasiun kecil, di daerah yang agak terpencil. Setelah itu ia berjalan menuju alamat yang dimaksud. Benar saja, seperti yang dikatakan bosnya, tempatnya benar-benar terpencil. Ada hutan di kanan dan kiri jalanan yang dilalui Makoto.

Makoto yang merasa haus berhenti sebentar. Ia menemukan sebuah mata air dan langsung minum air itu. “Dingin! Lezat!”

Selesai minum, Makoto pun melanjutkan perjalanan. Ia akhirnya tiba di alamat yang dimaksud. Pemilik rumah itu adalah dua orang lansia. “Selamat siang. Aku Masaki dari Welcome Water.”

Pasangan lansia itu memersilahkan Makoto masuk. Mereka minta maaf karena sudah meminta Makoto untuk datang, padahal sangat jauh.

Makoto pun memberikan sampel air minum kemasan dari perusahaannya. Setelah minum, pasangan itu tampak senang. Mereka suka dengan air minum yang dibawa Makoto.

“Ini mungkin sedikit aneh bagiku untuk menanyakan ini, Ada air yang sangat lezat mengalir melewati desa…”

“Sepertinya itu tidak sesuai dengan tubuh kami. Sudah 58 tahun sejak kita pindah kesini tapi, itu selalu menjadi perhatian kami. Jadi, kita kebetulan saja melihat iklan perusahaanmu … “

Makoto paham kalau kedua lansia itu tertarik dengan produknya. Ia pun menjelaskan lebih lanjut soal produk dan fasilitas yang diberikan. Kedua lansia itu tampak berdiskusi dengan asyik. Melihat itu, Makoto justru terdiam. Lagi-lagi, ia memikirkan soal takdirnya.

Hari sudah sore saat Makoto bersiap pulang. Sambil menunggu kereta, ia menelepon ke kantornya, melaporkan kalau ia sudah mendapatkan kontrak dari pasangan lansia itu. Tapi seseorang mengagetkan Makoto. Haruko juga ada di stasiun itu, tengah menunggu kereta. Melihat Makoto, Haruko sudah keburu berpikiran negatif. Ia berniat pergi menjauh.

“Ah, tunggu sebentar! Tolong, berhentilah! Kau salah paham. Aku datang ke sini hari ini untuk bekerja. Lihat! aku punya kontraknya dengan tanggal hari ini. Dan alamat desanya. Bukankah kau yang mengikutiku?” Makoto berusaha menjelaskan.

“Heh?! Kenapa aku harus mengikutimu?” Haruko jengkel.

“Jadi, kenapa kau disini?”

“Ada toko roti tua disini. Aku datang untuk mengambil sampel,” ujar Haruko.

“Ah … kita memang benar-benar terlihat terhubung dengan cara misterius,” Makoto lega.

“Cukup sudah bicara tentang ‘takdir’,” pinta Haruko kemudian.

Makoto mengeluarkan sebuah benda dari tasnya, “Ini pensilmu kan? Universitas Keimei, ujian masuk jurusan ekonomi. Aku duduk didepanmu. Waktu itu aku lupa membawa pensil, dan kau berbicara kepadaku. Ketika aku ingin mengembalikannya setelah ujian, tapi…kau sudah tidak ada. Kau kenal gambar ini. Ini adalah aku. orang yang ini, kamu bukan?”

“Bohong…” Haruko tidak yakin.

Makoto belum menyerah. Ia mengeluarkan foto saat mereka masih kecil, “Kita membuat istana pasir bersama 25 tahun yang lalu. Kau percaya? Aku juga tidak percaya pada takdir. Sebaliknya, Aku selalu berpikir itu adalah kebodohan. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri untuk hal yang tidak berjalan dalam kehidupan cintaku. Aku juga menyalahkan masyarakat. Tapi bukan itu. Alasannya karena, mereka bukan orang yang ditakdirkan. Haruko-San. Sama seperti aku, kau juga punya kehidupan cinta yang sulit bukan? Kamu juga selalu menunggu seseorang yang ditakdirkan untukmu, kan?” cecar Makoto.

Haruko benar-benar sudah kesal. Ia kemudian memilih berjalan pergi, tidak mau lagi mendengarkan ucapan Makoto.

Haruko makan malam bersama Mie seperti biasa. Ia menceritakan soal pria yang tiba-tiba datang padanya dan terus saja bicara soal takdir dan pasangan. Haruko berpikir itu menjijikan.

“Eh, betapa indahnya percakapannya! Soalnya kalian berdua bertemu secara kebetulan saat kamu kecil. Dan sekarang kau bekerja di sebelahnya satu sama lain. Itu pasti takdir,” komentar Mie.

“Jangan menggunakan kata takdir dengan mudah. Hanya berpikir bahwa aku akan melihatnya di kantor besok saja sudah suram,” ujar Haruko.

“Hei. Tidakkah kau berpikir bahwa dia pasti mengumpulkan keberanian untuk mendekatimu?” cecar Mie lagi.

“Itu menakutkan. Jika orang asing muncul dan tiba-tiba mengatakan “aku adalah pasangan takdirmu” apa yang kau pikirkan?!” protes Haruko.

Mie tersenyum, “Pertama, aku tertawa terbahak-bahak. Bagaimanapun, dia bukan orang asing, kan? Hidupmu telah disentuh berkali-kali sebelumnya.” Mie berpikir kalau saja mungin benar si orang asing ini adalah takdir Haruko, jadi kenapa ia tidak mencobanya?

Makoto pulang ke rumah sempoyongan. Ia mabok. Ia mencari-cari si Mr.Rius, yang biasanya sudah muncul tiba-tiba, tapi kali ini tidak ada. Lalu suara bel terdengar. Makoto menyuruhnya masuk.

“Dengar, Jika nasib dunia ada di tanganku saat itu, pilihlah beberapa persenjataan yang cocok untukku,” pinta Makoto.

“Persenjataan yang cocok?”

“Soal takdir ini, sama sekali tidak terbukti membantu. Dengan perusahaan Jepang saat ini ‘takdir’ adalah senjata terlemah. Jika kau akan bertarung dengan ‘takdir’ kau akan lebih baik bertengkar dengan tangan kosong,” curhat Makoto lagi.

“Makanya… Kau sebaiknya jangan mengatakan apapun hingga takdir itu datang. Ini karena kau belum benar menguasai penggunaan takdir.”

Makoto masih menceracau, “Lagipula, pada awalnya, ya, pada awalnya. Kenapa aku harus menikah dengan orang yang aku tidak suka?”

“Kau bilang dia adalah tipemu.”

Tapi Makoto mengelak cepat, “Aku sudah berbicara dengannya dua kali dan itu membosankan. Bersama-sama dengan wanita dingin itu … Aku tidak bisa membayangkannya.”

“Sayang sekali. Tapi kalian berdua, hanya perlu …”

Makoto protes dan meminta agar si Mr.Rius itu melakukan sesuatu untuknya. “Bukan salahku dunia akan hancur dalam 30 tahun kedepan. Dan juga bukan salahnya. Bukankah pada awalnya itu sudah menjadi takdir bumi.” Makoto pun menyuruh pria itu pergi.

Makoto bersiap ke kantor seperti biasa. Tapi ia menemukan tiket dalam tumpukan surat-suratnya. Makoto protes, karena tiket itu berasal dari kawannya yang rambut cepak. Tiket pertunjukkan musik klasik.

“Ah aku punya tiket sisa. Kupikir akan lebih baik daripada membuangnya,” ujar si rambut cepak.

“Lagian kenapa kau malah membelinya?” protes Makoto.

Tiket itu ada dua. Kawan Makoto yang berambut cepak menyarankan agar Makoto mengajak seseorang. Tapi Makoto tidak punya orang yang biasa diajak. Bahkan Midori, satu satunya karyawan wanita di cabang itu pun tidak bersedia ikut.

Tidak punya pilihan, Makoto pun akhirnya datang ke acara musik klasik itu. Musik yang terdengar dari arah panggung membuat ingatan Makoto kembali di masa SMA-nya. Dulu, ia adalah seorang pelembar dalam permaianan bisball. Tapi karena satu hal, ternyata timnya justru kalah. Saat itu ada anak perempuan di deratan tim musik yang juga ikut melihat pertandingan.

Kalah membuat Makoto bersedih. Ia duduk dan menutup wajahnya dengan topi. Tapi, seorang anak perempuan lewat dan mengatakan kalau itu semua bukan salah Makoto dan justru menyemangatinya. Akhirnya Makoto ingat kalau anak perempuan itu adalah orang yang sama dengan wanita yang ia kenal sekarang, Kogetsu Haruko.

Kenangan masa SMA itu berakhir tepat saat pertunjukkan musik juga berakhir. Dan tanpa pikir panjang, Makoto langsung berdiri memberikan tepuk tangan. Saat itu, di deretan lain ternyata juga ada Haruko yang berdiri memberikan tepuk tangan juga.

Mereka saling memandang, sesaat tepat sebelum orang-orang di gedung itu juga berdiri memberikan tepuk tangan atas penampilan konser tadi.

Pulang dari konser, Haruko memeriksa album lamanya. Ia memandangi foto dirinya bersama seorang anak laki-laki di pantai. Mereka baru saja membangun istana pasir. Foto yang sama, yang juga dimiliki Makoto dan sempat ditunjukkan padanya kemarin.

Apakah Haruko mulai percaya soal takdir yang dikatakan oleh Makoto?

Makoto pulang ke apartemennya seperti biasa. Di sana sudah ada Mr.Rius yang duduk manis di atas kursi sofanya.

“Apa kau sedikit sudah mulai percaya dengan takdir?”

“Yah, sedikit. Hanya sedikit,” aku Makoto akhirnya.

“Tepuk tangan meriah. Bukankah itu sesuatu yang disampaikan kepadamu oleh orkestra?” cecar si pria misterius itu lagi. Maksudnya, yang sebenarnya dirasakan Makoto saat itu, bukan karena indahnya penampilan orkestra. Melainkan, musik yang membawa kembali ingatannya pada Haruko saat di SMA dulu.

“Ini adalah tepuk tangan dari 30 tahun kedepan. Bravo!” pria itu lalu bertepuk tangan lagi. “Sepertinya kau akhirnya ingat apa yang terjadi hari itu.”

“Aku tidak mempercayainya, tapi… takdir mendorong kita sejauh ini, sejujurnya aku terkejut.”

“Benarkan! Tapi takdir memiliki rasa ironi,” si pria misterius berhenti menyanjung Makoto. “ Batter yang membuat hit terakhir. Masih ada hal-hal yang belum beres dengannya.” (maksudnya, pada pertandingan baseball saat itu, ada seorang batter terakhir, salah satu kunci kekalahan Makoto juga, kini terlibat dalam kisah mereka)

“Apa maksudmu?” Makoto heran.

“Panggilannya Sayoka-kun. Dia (Sayoka) akan segera bersatu kembali dengannya (Haruko) setelah bertahun-tahun. Aku pikir itu akan terasa seperti takdir.”

“Bukankah itu gawat?” cecar Makoto.

“Ya, gawat. Sangat gawat. Jadi kali ini, kau harus benar menghadapi sainganmu.”

“Ya, itu tentu saja. Aku tidak akan kalah pada orang yang sama dua kali. Jika tidak, sebuah meteor akan menabrak bumi,” ujar Makoto yakin.

“Bang! Aku serahkan padamu!”

“Baiklah. Ah, perlu kau tau, ini bukanlah permainan!” Makoto tampak sangat yakin.

Dan benar saja, orang yang bernama Sayoka itu sudah ada di sekitar mereka. Sayoka baru saja dipindahkan bekerja di gedung yang berada persis di depan gedung tempat Makoto dan Haruko bekerja. Bahkan persis di deretan lantai yang sama. Dari ruang kerja Sayoka, tampak sangat jelas ruang kerja Makoto dan Haruko yang saling membelakangi satu sama lain.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di I’m Your Destiny episode 02 part 1.

Pictures and written by Kelana

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

7 comments

  1. Semangat kak….. ditunggu sinopsis selanjutnya. Saya tunggu….. ^_^ terima kasih

  2. Diandra Prihartini

    rada kecewa nih di php in sama elang kelana, updatenya lama banget, padahal serialnya menarik loh,
    padahal sy suka baca sinop nya elangkelana,
    update ya boku unmei no hito desu nya udh masuk eps8 loh

    • halo diandra, maaf ya
      Kelana nggak ada niat untuk php kok, serius #deepbow
      semoga bisa kembali ke rutinitas posting ya
      terimakasih

  3. niken ayu wardani

    Ditunggu episode berikutnya. Liat dimana yg ep. 8 itu Diandra?

  4. Na, terima kasih ya udah nulis sinopsis yg keren.

Leave a Reply

Scroll To Top