Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 11 end part 2

SINOPSIS Married as Job 11 end part 2

SINOPSIS dorama Married as Job episode 11 part 2 end. Duh, maaf ya guys. Bagian terakhir dari sinopsis drama satu ini malah lama. #tjurhat. Tapi ya selamat membaca aja #ehe

Kesepakatan Mikuri dan Hiramasa untuk menjalankan ‘rumah tangga’ sebagai perusahaan bersama ternyata tidak berjalan lancar begitu saja. Ada saja masalah yang terjadi antara keduanya. Mikuri bahkan sempat begitu sedih dan berpikir untuk mundur saja. Kali ini giliran Hiramasa yang akan menarik Mikuri dari persembunyiannya.

Mikuri baru keluar dari kamar mandi saat Hiramasa sudah menunggunya di ruang makan. Rupanya tadi Mikuri mengerjakan pekerjaannya di kamar mandi. Rapat pertanggungjawaban ketiga manajemen bersama perusahaan 303.

Sudah satu minggu Hiramasa dan Mikuri berbagi tugas manajemen rumah. Tapi ternyata situasi tidak berjalan seperti harapan. Mikuri merasa ini sulit. Meski mereka berbagi tugas, kalau ada tugas salah satu yang tidak dibereskan, Mikuri merasa bersalah.

Mikuri melanjutkannya ucapannya, “Soal makanan, Walaupun aku yang bertanggungjawab, Maaf kalau kau tidak merasa puas.”

“Tidak, aku tidak akan menyalahkanmu,” elak Hiramasa cepat.

“Haruskah aku hentikan saja pembagian tugas ini?” usul Mikuri tiba-tiba, “Seperti berbagi rumah, Kita akan melakukan semuanya masing-masing. Bahkan kita akan masak nasi dan bersih-bersih masing-masing.”

“Tapi kalau itu terjadi, Ada kemungkinan tak satupun ruang bersama akan dibersihkan,” potong Hiramasa.

Mikuri menarik napas berat, “ Semua pekerjaan rumahtangga, Aku yang akan mengerjakannya. Tapi itu sukarela. Karena itu hanya bersifat sukarela, Kalau aku merasa, “Ah, aku tidak mau masak nasi hari ini”, Aku tidak akan melakukannya. Kalau aku bilang “Aku tidak mau bersih-bersih”, Aku tidak akan bersih-bersih. Karena bersifat sukarela, Kau tidak boleh bilang “Apa tidak ada nasi?” Kau tidak boleh bilang “Ruangannya sangat kotor” Itu karena aku melakukannya dengan sukarela, Itu bukan pekerjaanku.” (Mikuri ini agak keras kepala deh ya)

“Mikuri-san, Arah ceritanya…” Hiramasa makin tidak mengerti maksud Mikuri.

Air mata nyaris mengalir di pipi Mikuri, “Bagaimana kalau kita berhenti sekarang juga? Hiramasa-san, Kau merasa kerepotan, kan? Kalau seperti ini terus. Sebelum kau hidup bersamaku, Gajimu pasti cukup untuk meminta asisten rumahtangga dari agen luar untuk datang seminggu sekali. Kalau kau hidup sendiri. Baik tentang kompensasi pekerjaan ibu rumahtangga atau semacamnya, Tak akan ada yang “kepandaian” mengatakan hal itu padamu. Hiramasa-san, wanita yang akan menerima lamaranmu dengan senang hati, Pasti banyak sekali. Jadi itu hal yang normal. Tidak akan ada yang membuatmu kerepotan.” Mikuri beranjak dari kursinya dan kembali mengurung diri di kamar mandi.

Hiramasa tidak habis pikir dengan ucapan Mikuri ini. Ia beranjak mendekati burung emprit yang kini ada di dalam sangkar. Hiramasa mengingat masa-masa ia masih bersikap begitu tertutup pada Mikuri.

Mikuri-san menutup pintunya. Suatu hari, Mungkin aku masih sama dengan aku yang tertutup. Kalau itu terjadi, Aku.. Tahu cara untuk membukanya.

Lalu saat perlahan-lahan Mikuri mencoba mendekati Hiramasa. Usaha demi usaha yang dilakukan Mikuri hingga akhirnya sekarang Hiramasa tidak lagi menjadi sosok yang sangat tertutup.

Terus dan terus terulang kembali.. Tanpa kenal lelah, Kau terus mengetuknya. Tidak ada orang lain, Dialah Mikuri-san.

Mikuri benar-benar menangis sambil memeluk lututnya di dalam kamar mandi yang sempit. Sementara itu, di luar Hiramasa mendekat dan mengetuk pintu kamar mandi. Hiramasa mengajak Mikuri bicara, tapi juga tidak memaksa Mikuri membuka pintu. Hiramasa akhirnya memilih duduk di depan pintu dan mulai bicara.

“Menghindari dan terus menghindari kerepotan, Kalau aku terus menghindarinya sampai pada batasnya, Berjalan dan makan juga akan jadi merepotkan. Bahkan untuk bernapas, Itu juga akan jadi merepotkan. Bukankah aku akan lebih dekat dengan batas kematian? Untuk bertahan hidup, Itu juga akan jadi merepotkan. Jadi sendirian atau berdua sama saja. Masing-masing punya kerepotan yang berbeda. Jalan yang manapun, Walaupun merepotkan, Bukankah kalau kita bersama, Kita pasti bisa mengatasinya? Kita akan mendiskusikannya, Saat tidak memungkinkan, Kita bisa melakukannya di waktu yang lain. Bahkan kalau ada kecurangan demi kecurangan, Bagaimanapun caranya, Bukankah kita bisa mengatasinya? Bukankah tidak ada yang tidak bisa kita lakukan bersama?”

Hiramasa berhenti bicara. Kepalanya menoleh ke arah pintu yang tetap tertutup. Di dalam, ternyata Mikuri juga mendengarkan ucapan Hiramasa.

Hiramasa kembali melanjutkan kalimatnya, “ Mikuri-san,Walaupun kau sendiri bilang kalau itu bukanlah hal yang normal, Bagiku, Sekarang sudah terlalu jauh. Aku sudah tau sejak lama. Itu bukan masalah yang besar. Kalau orang-orang menghakimi kita, Kita.. Sejak awal memang sudah tidak normal. Sekarang sudah terlalu jauh. Aozora, Aku akan menantikannya dengan senang hati. Selamat malam.” Hiramasa pun beranjak bangun dan pergi.

Saat semuanya tidak berjalan lancar, Seseorang akan menunggu, Seseorang akan percaya, Aku tidak boleh kehilangan arah, Ayo kita bangun lagi, Satu persatu. Ayo kita bangun lagi, Walaupun perlahan-lahan.

Hari bazar di Aozora pun akhirnya tiba. Para pedagang sudah bersiap di stand masing-masing. Keributan hari itu membuktikan kalau para pedagang bersemangat menjajakan dagangan mereka pada tiap pengunjung yang datang.

Tapi sekelompok pedagang pria berlarian mendekati Mikuri. Mereka melaporkan kalau selebaran untuk bazar Aozora ini hilang. Pedagang yang lain mengatakan kalau selebaran itu ditumpuk dan diletakkan di belakang mobil. Dan saat mobil berjalan, selebaran itu pun terbawa angin. Hingga hanya tersisa selembar.

Tidak mau acaranya kacau, Mikuri pun mengambil selebaran yang tinggal satu lembar itu. Ia berniat mengkopi selebaran itu lalu berlari keluar.

Dari arah lain tampak Yuri-san bersama Numata-san datang ke area bazar itu. Mereka berdua menyapa Mikuri dengan riang.

“Maaf Yuri-chan, Aku mau pergi,” sesal Mikuri, karena belum bisa membalas sapaan kedua orang tadi dengan layak. Mikuri pun langsung berlari pergi.

Dari arah lain datang Hiramasa. Dia bertanya soal Hino-san. Dan seperti biasa, anaknya Hino-san mengalami demam jadi ia tidak bisa datang. Saat ditanya oleh Hiramasa, Yuri mengatakan kalau ia tadi bertemu Mikuri. Tapi sepertinya Mikuri sedang terburu-buru, jadi langsung pergi saja.

“Aku berharap bisa berlari seperti Mikuri-san,” komentar Hiramasa.

“Pemikiran macam apa itu?” protes Yuri-san.

“Itulah cinta.” Komentar Numata-san.

Yuri-san dan Numata-san memilih duduk di salah satu area bazar itu.

“Aku jadi sangat ketakutan. Aku lebih berkecil hati dengan usiaku sendiri daripada berkencan. Apakah akan lebih baik kalau kami berteman saja? Aku tidak bisa melakukannya dengan mudah,” curhat Yuri-san.

“Aku juga punya rasa berkecil hati. Karena aku selalu dicampakkan. Aku tidak mengirimkannya pesan kepastian. Aku menghindari dan terus menghindarinya untuk mengulur waktu,” balas Numata-san, dengan curhatnya juga.

“Kita adalah orang dewasa yang tidak berguna. Apa yang bisa kita lindungi?” komentar Yuri-san. Lalu ide itu pun muncul, “Kenapa kau tidak mengirimkan pesan saja? Aku juga akan mengirimkannya. Kalau berakhir dengan hasil menyedihkan, Tolong pungut tulangku,” ujar Yuri-san, yakin.

“Baiklah, pungut juga tulangku,” Numata-san setuju dengan ide Yuri-san ini soal mengirim pesan.

Dua orang bawahan Yuri-san tengah berjalan menuju area bazar juga. Di salah satu sudut jalan, mereka menemukan banyak kertas berserakan. Keduanya pun memutuskan untuk mengambil kertas-kertas itu.

Dari arah lain, tampak Mikuri masih berjalan dengan cepat, “Mesin fotokopinya kehabisan toner, Benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku akan ke tempat lain yang bisa memfotokopi.” Dan Mikuri melihat kedua karyawan tadi, “Selebarannya!” seru Mikuri saat melihat selebaran yang dicarinya ada pada kedua karyawan tadi. “Aku berimakasih pada kalian, bawahan Yuri-chan.” Mikuri lalu pamit pergi.

“Aku juga akan memanggilnya “Yuri-san”,” ujar si karyawan wanita.

“Jangan! Itu adalah nama samaranku,” cegah si karyawan pria. Dengan sedikit malu-malu ia pun mengaku, “Aku meminjam nama Tsuciya-san tanpa izin untuk aplikasi gay.”

Si karyawan wanita kaget, “Apa? Kau gay?”

Si karyawan pria mengangguk tapi meminta pada si karyawan wanita untuk merahasiakan hal itu. “Aku tak punya keberanian untuk menunjukkannya. Aku berkenalan dengan seseorang di aplikasi gay, Dia sangat cocok denganku. Walaupun aku yakin dia pasti kerja di sekitar sini, Tapi dia tidak akan pernah menemuiku. Aku yakin dia bilang padaku kalau dia akan mati…” dan pesan itu pun datang. Sebuah pesan gambar, gerbang tempat bazar Aozora, yang meminta si karyawan pria untuk datang.

Mikuri kembali berlari ke area bazar. Ia menyerahkan selebaran tadi dan meminta para pedagang pria untuk segera membagikan selebaran itu secepatnya.

Mikuri masih ngos-ngosan karena berlarian tadi. Ia tengah berusaha mengatur nafasnya kembali saat melihat Hiramasa ada di depan toko milik Yassan.

Tampak Hiramasa tengah melayani pembeli saat Mikuri mendekat. Mikuri menegur Yassan karena justru melamun padahal banyak pembeli yang datang.

Dari arah lain, ternyata datang Hino-san yang langsung menyapa Hiramasa, “Kaget, kan? Anakku demam itu bohong,” aku Hino-san akhirnya.

“Apa kau Hino-san?” tanya Mikuri.

“Mikuri-chan? Akhirnya aku bertemu denganmu.. Aku kira tidak akan bisa bertemu denganmu selamanya,” komentar Hino-san.

Hino-san pun menjabat tangan Mikuri. Tampak ia sangat sumringah. Terutama karena soal ‘takdir terbalik’. Saat ia berencana untuk pergi, ternyata anaknya malah demam. Sekarang sebaliknya, saat ia tidak berencana pergi, ternyata anaknya malah baik-baik saja dan kini ia berada di area bazar Aozora itu.

Dari arah lain, datang juga seorang wanita dengan dua anak di gandengannya. Hino-san memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya, pada Hiramasa dan Mikuri.

“Salam kenal. Aku istrinya Hino.”

Numata-san menyindir Yuri-san yang tidak juga mengirimkan pesannya. Padahal tadi Yuri sendiri yang punya ide itu.

“Berikan padaku, Biar aku saja yang mengirimnya..,” ujar Numata-san dan mereka berdua pun berebut ponsel Yuri.

Dan dari arah lain ternyata datang bartender bersama Kazami-san. Yuri kaget, karena ia bahkan belum mengirim pesannya. Tahu situasinya, bartender tadi lalu menyeret Numata-san menjauh dengan alasan mengajaknya bicara.

Dua bawahan Yuri-san ini akhirnya tiba di komplek bazar Aozora.

“Kau tidak tahu wajahnya?” tanya si karyawan wanita.

“Dia tidak pernah mengganti fotonya. Ciri-cirinya adalah nori senbei berukuran besar. (Nori senbei: Kue beras yang dilapisi nori]” si karyawan pria menunjukkan kua beras yang ada di tangannya.

Yuri-san dan Kazami-san akhirnya punya waktu bicara berdua.

“Dia bilang “Aku bertengkar dengan Yuri-san”. Positive monster itu yang mengakuinya sendiri,” cerita Kazami.

“Itu julukan yang hebat. Gadis itu bilang apa?”

Dia adalah wanita 50 tahunan yang beruntung. Aku tidak ingin bertengkar sekali lagi. Lalu dia bilang, Menurutku Onee-san itu menyukaimu, Kazami-san. Kalian berdua orang dewasa yang seperti orang bodoh. Itulah yang dia katakan.”

“Itu sebabnya kau datang?” tanya Yuri-san lagi.

“Bahkan tanpa cerita seperti itu, Setelah aku banyak dicampakkan, Aku tidak bisa menunjukkan wajah ini,” ujar Kazami-san.

“Apa kau datang karena ada peluang berhasil?”

“Sampai di sana, Masih ada harapan,” ujar Kazami lagi.

“Jadi begitu, ya? Kalau tidak ada apapun, Kau tidak bisa bergerak, kan? Orang dewasa memang merepotkan. Saat mencapai usia ini, Kita bisa merasakan suasana dan membuat hubungan bagaimanapun itu. Walaupun kita berkencan satu sama lain secara tidak sengaja, Aku tidak melakukannya.”

“Aku.. Suka padamu, Yuri-san,” potong Kazami-san cepat. “Aku ingin mengatakannya dengan benar.”

“Aku juga suka padamu. Bukan Kazami-kun sebagai keponakanku. Walaupun aku tidak memahami itu sebelumnya, Apakah tidak apa-apa kalau aku mencoba jujur pada perasaanku saat ini? Saat aku tidak bisa melihatmu, Aku merasa kesepian,” Yuri-san akhirnya mengakui semuanya.

Kazami pun menarik Yuri-san dalam pelukannya. Keduanya tersenyum setelah akhirnya jujur pada perasaan masing-masing. Kazami melepaskan pelukannya. Ia menatap serius ke dalam mata Yuri-san. Perlahan wajahnya mendekati wajah Yuri-san.

Tapi tangan Yuri-san menahan Kazami, “Tiba-tiba?”

Kazami tersenyum. Ia pun akhirnya tidak jadi mendaratkan bibirnya ke bibir Yuri. Alih-alih, ia mencium kening Yuri-san dengan sayang.

Hiramasa tengah memilah-milah dan memasukkan sampah ke tong sesuai jenisnya saat Mikuri mendekat.

“Maaf, kau sampai melakukan pekerjaan seperti ini,” ujar Mikuri.

“Tidak apa-apa. Mikuri-san, kau sangat populer, ya?” komentar Hiramasa.

“Untuk bisa datang sampai sejauh ini, Aku telah melalui jalan yang sangat panjang.”

“Kau ingin melakukannya lagi, kan?” tebak Hiramasa.

Mikuri berhenti sebentar, berpikir, “Tergantung kondisinya, ya. Negosiasi adalah hal yang paling penting. Ini adalah sebuah penemuan. Saat aku masih pegawai magang, Aku sering menyarankan ini itu pada atasanku. Entah sepertinya cara ini lebih efisien, Atau kenapa anda tidak melakukannya dengan cara ini? Tapi di sisi lain, Aku tidak ingin melakukan hal seperti itu. Akhirnya dia bilang merasa terganggu, Lalu aku diberhentikan. Aku merasa “kepandaian” ku tidak disukai di manapun aku berada. Di pekerjaan Aozora ini, Aku merasa lebih diterima dengan baik. Mungkin masih ada pekerjaan yang bisa ku lakukan dengan “kepandaian” ku,” curhat Mikuri.

“Kalau kau “pandai”, Memangnya kenapa?” ucapan Hiramasa ini membuat Mikuri tertegun. “ Aku mengerti arti dari kata-kata itu. Kalau kau “pandai”, Bukankah mungkin rekanmu mengatakannya karena merasa terlihat kecil? Aku tidak pernah melihat Mikuri-san berkecil hati. Aku tidak pernah sekalipun merasa kalau kau “pandai”.”

Mikuri terdiam oleh ucapan Hiramasa. Dan tanpa kata-kata, ia langsung menghambur dan memeluk Hiramasa dengan erat.

Hiramasa yang dipeluk seperti itu kaget. Ia ragu harus balas memeluk atau tidak, “Itu.. Mikuri-san? Semua orang di sini, Sedang melihat kita.” Ujar Hiramasa. Dan memang benar, saat itu nyaris sebagian besar orang tengah memerhatikan Mikuri dan Hiramasa berpelukan.

Tapi Mikuri tidak peduli. Ia justru makin erat memeluk Hiramasa, “Terimakasih.”

“Untuk apa kau berterimakasih?” Hiramasa heran.

“Aku sangat menyukaimu,” ujar Mikuri.

Hiramasa pun akhirnya membalas pelukan Mikuri itu. Ia pun balas memeluk Mikuri dengan erat.

Dari semuanya yang mengikat kami. Dari rasa sakit yang tak terlihat ini, Suatu hari nanti pasti terbebaskan. Walaupun terkadang aku menangis, Aku berharap bisa tersenyum.

Semua orang menikmati area bazar itu dengan gembira. Yuri-san dan Kazami-san berpandangan sambil melempar senyum.

Sementara itu, si karyawan pria akhirnya menemukan orang yang dicarinya. Dengan ciri kue beras besar di tangan. Dan orang itu adalah … Numata-san. Hino-san pun bersenang-senang dengan keluarganya. Bersama istrinya, ia bergantian menyuapi anak-anak mereka. Sementara itu si karyawan wanita pun asyik bicara dengan bartender. Mereka semua menikmati momen santai bersama di area bazar Aozora itu.

Selesai dengan Hiramasa, Mikuri pun bergabung dengan yang lain. Yuri memeluknya dengan erat. Tampak keduanya tengah bergembira dengan kebahagiaan masing-masing.

“Yuri-chan, pasti terjadi sesuatu yang bagus, ya?” pertanyaan Mikuri ini hanya dijawab dengan senyum oleh Yuri-san.

Malamnya…

“Mulai sekarang, apa yang harus kita lakukan?” tanya Mikuri.

“Aku merasa semuanya berjalan baik. Dengan atau tanpa mendaftarkan pernikahan,” ujar Hiramasa.

“Bagaimana kalau aku mencari pekerjaan dengan serius?” ide Mikuri.

“Ini sudah sesuai, Tidak ada pilihan lain kecuali merubah gaya hidup. Pencarian akan terus berlanjut.”

Mikuri punya ide, “Apakah kau mau menghidupkan hari berpelukan lagi? Kalau sibuk, aku cenderung melupakannya. Saat kita bertengkar, Bagaimana seharusnya aku menyentuhmu? Karena aku sangat kehilangan itu.”

Hiramasa setuju dengan ide ini. “Apa aku boleh juga … “ ucapan Hiramasa menggantung.

Mikuri tersenyum, paham maksud Hiramasa dan mengatakan iya.

“Aku tidak bilang setiap malam, Kalau kau memelukku sebelum tidur, Aku pasti akan melihat mimpi indah,” ujar Mikuri pula.

Hiramasa pun kembali mengusulkan soal mereka perlu pindah rumah. “Kita membutuhkan kamar untuk Mikuri-san, Kamar yang juga bisa ditempati tempat tidur double bed. Mungkin dengan tempat tidur yang berbeda (dengan yang sekarang), Kita bisa tidur lebih nyenyak.” (maksudnya satu ranjang, gitu)

“Itu… Bisa kita negosiasikan,” balas Mikuri. “Aku akan membangunkanmu setiap pagi. Saat itu, Ciuman selamat paginya…”

“Mikuri-san, kalau kau memintanya, Aku akan melakukannya,” ujar Hiramasa pula. (ehem ehem, eh tapi kata temen Na, ena-ena)

“Di hari minggu, Tolong bangunkan aku, Hiramasa-san,” pinta Mikuri pula.

“Setelah itu?” pancing Hiramasa.

“Bisa dinegosiasikan,” ujar Mikuri.

Hiramasa menggeser duduknya. Pelan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Mikuri. Dan tanpa canggung, Hiramasa pun mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. Mereka berciuman.

(jadi, tadi mereka berdua sedang membahas rencana masa depan mereka nantinya. Tapi eh tapi, bentuknya malah kayak semacam main game. Jadi, Hiramasa ini melempar dart ke lingkaran yang sudah berisi beberapa partisi dengan rencana masa depan mereka)

Apa yang harus dilakukan di masa depan?

Lemparan pertama tepat mengenai ‘pesta pernikahan’. Hiramasa dan Mikuri saling melirik malu. Tapi mereka akhirnya melangsungkan pesta pernikahan dan pemotretan penuh angin, di atap sebuah gedung. Diantara banyaknya jalan, Kau bisa memilih jalan yang kau inginkan atau tidak bisa memilihnya.

Lemparan dart kedua ternyata tepat pada … punya banyak anak.

Hiramasa dan Mikuri pun saling menatap dengan malu. Dan dalam imajinasi mereka, keduanya punya lima anak. Dua anak terbesar ada di meja makan tengah duduk sambil bermain. Dua anak lainya lain tengah berlarian keliling rumah, karena dikejar-kejar oleh Hiramasa yang akan memakaikannya pakaian. Sementara Mikuri juga tengah mengganti baju si bungsu. Walau setiap jalan merepotkan dari hari ke hari,

Lemparan dart ketiga ternyata jatuh ke bapak rumah tangga. Mikuri melirik Hiramasa, ragu apakah Hiramasa benar bisa melakukannya atau tidak. Dalam imajinasi mereka, tampak Mikuri yang pergi berangkat bekerja, sementara Hiramasa melepasnya berangkat. Setiap jalan memiliki hari-hari yang indah.

Dan lemparan berikutnya ada pada kata berpisah. Melihat itu, Mikuri dan Hiramasa buru-buru mengelaknya. Mereka tidak berniat untuk berpisah. Bahkan walaupun ada hari untuk melarikan diri, Berikutnya juga tidak kalah jelek, melarikan diri. Hiramasa dan Mikuri juga buru-buru mengelaknya. Carilah jalan yang lain. Lalu kembali lagi. Hari yang baik maupun hari yang buruk.

Mikuri dan Hiramasa tengah beres-beres rumah. Sepertinya mereka benar-benar akan pindah apartemen.

“Hiramasa-san, Gawat! Kemarin adalah hari selasa! Sudah lewat enam jam. Ayo kita simpan saja!” ujar Mikuri.

Tapi Hiramasa tidak setuju, “Ayo kita lakukan!”

Dan keduanya pun akhirnya berpelukan erat. Mikuri tersenyum dalam pelukan Hiramasa. Seperti biasanya sekali lagi, Ayo kita mulai dari hari selasa!

TAMAT

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Yeeeeee …. akhirnya sinopsis ini selesai juga. Maaf ya, minna …kalau lama selesainya. Banyak yang terjadi dan banyak yang Na lakukan. #ehe.

Tapi semoga setelah ini Na bisa rutin nulis lagi yeeee

Sampai jumpa di sinopsis baru. Eh ya, ada ide nggak, enaknya nulis apa nih buat proyek baru?

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top