Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 10 part 2

SINOPSIS Married as Job 10 part 2

SINOPSIS dorama Married as Job episode 10 part 2. Setelah ehm ehm malam itu, hubungan Hiramasa dan Mikuri makin dekat. Tapi ternyata tidak semua semudah itu. Masih saja tetap ada masalah yang siap menghadang mereka berdua.

(halo semua, maaf banget ya, sepertinya Kelana terlalu lama menghilang #ehe. Dan berhubung Na kembali nulis lagi, jadi Na akan lanjutkan sinopsis yang sempat lama tertunda. Enjoy … ^_^)

Numata datang menemui Hiramasa di rumahnya, “Efek dari pembelian saham Company M, kita kehilangan 40% dari penjualan kita. Untuk merampingkan manajemen kita, kami perlu melakukan pemecatan.”

“Dan itu…aku?”

“Tolong jangan salah sangka. Kau adalah insinyur terbaik, Tsuzaki. Dan gaji per tahunmu mencerminkannya. Kalau memecat seseorang dari bagian pengembangan, itu sama saja menyia-nyiakan bakat. Dan satu hal lagi, kau belum menikah kan?”

Hiramasa kaget ditanya secara langsung seperti itu.

Numata melanjutkannya ucapannya, “Aku tak sengaja mendengar. Kau dan Mikuri tak berada dalam satu kartu keluarga. Aku bertanya pada direktur, dan bertanya juga pada bagian urusan umum.”

“Aku tidak melanggar hukum….” elak Hiramasa.

“Aku tahu. Perusahaan kita menyetujui asuransi sosial, bahkan dengan pernikahan de facto, jadi tak masalah. Akan tetapi, jika hanya hubungan kerja, membuatnya mudah untuk memilihmu…sebagai pegawai yang akan kami lepas. Kau memiliki keleluasaan untuk menyewa orang lain. Kau tak punya istri dan anak untuk dibiayai seperti Hino.”

Hiramasa mengerti, “Memang, ya, tidak masuk ke dalam kartu keluarga berarti aku tidak memikul tanggung jawab.”

Obrolan di balai pertemuan makin seru. Para pemilik toko sepakat untuk mengadakan semacam bazar untuk memperkenalkan kembali distrik perbelanjaan mereka. Dan dari sana, Mikuri akhirnya sadar kalau kemungkinan ia tidak akan dibayar untuk pekerjaan ini.

Mikuri lemas. Idenya yang keren, ternyat justru berakhir seperti ini, “Memanfaatkan niat baik seseorang, dan memintanya bekerja sukarela adalah eksploitasi. Misalnya, karena kita berteman, kau belajar sesuatu untuk keuntunganmu…atau hal lain, dan tidak membayar gaji. Kita tak bisa mengabaikan eksploitasi “layak” seperti ini. Aku, Moriyama Mikuri, dengan tegas menentang eksploitasi “layak.”!”

Salah satu pemilik toko pun mengerti maksud Mikuri, “Oke, aku mengerti! Tiga ribu yen per hari,” tawarnya kemudian.

Meski akhirnya dapat upah, ternyata yang diterima oleh Mikuri sangat sedikit.

Mikuri pulang bersama Yassan. Yassan menyesal karena sudah melibatkan Mikuri seperti ini. Tapi Mikuri mengatakan tidak masalah. Ia bertekat untuk bisa bekerja cepat, jadi pendapatannya masih akan sesuai dengan upah minimum di daerah tersebut.

“Apa aku terlihat pelit?” tanya Mikuri akhirnya.

“Tidak!” elak Yassan cepat. “Punya pendapatan tunai itu penting, itu yang kupelajari setelah bercerai.”

Numata-san pamit untuk pulang. Hiramasa mengantarnya hingga di depan pintu. Numata-san masih punya sedikit rasa menyesal atas keputusan ini.

“Kalau aku jadi kau…mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Tolong jangan menyalahkan diri sendiri,” ujar Hiramasa pula.

Setelah Numata-san pergi, Hiramasa kembali ke kamarnya. Ia langsung asyik masyuk di depan komputernya, membuka beberapa informasi lowongan pekerjaan. Ini bukan salah Numata. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya kenyataan yang kejam. Kerja. Aku harus mencari kerja. Pekerjaan dengan gaji tahunan yang sama, perusahaan yang akan membela mati-matian waktu bermesraanku dengan Mikuri. Kupikir pekerjaan yang pas takkan semudah itu ditemukan, tetapi aku akan melakukan apa pun untuk mempertahankan gaya hidupku saat ini.

Mikuri baru saja tiba. Kali ini Hiramasa yang menyambutnya pulang. Tampak Hiramasa ingin mengatakan sesuatu, tapi urung diucapkannya.

Mikuri heran melihat Hiramasa yang tampak berbeda dari biasanya. Mikuri mengatakan kalau ia membeli bahan-bahan yang sempat mereka bicarakan tadi pagi. Tapi karena Hiramasa tidak bicara lebih banyak, Mikuri pun tidak bertanya lagi.

Yuri masih berada di depan stasiun saat ponselnya berbunyi, dari Kazami. Kazami memintanya mampir, karena ingin bicara. Tidak bisa mengelak, Yuri pun datang ke rumah Kazami.

“Aku datang karena ada yang mau kutanyakan. Apa maksudmu waktu itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Contohnya, wanita sepertiku, lajang dan berumur 50-an… dibutuhkan di masyarakat dan bisa memberikan dukungan untuk seseorang di luar sana. Makanya kupikir…aku harus hidup dengan cara yang mengagumkan.” Yuri to the point. Ia ingin bicara soal insiden sebelumnya, saat Yuri menangis. “Berpura-pura kuat, memasang topeng dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan?”

“Aku suka Yuri yang tenang, tetapi ada sesuatu tentang ketenangan yang kau pancarkan ini,” ujar Kazami. “Kau tak perlu memaksakan diri demi menjadi contoh untuk seseorang.”

Obrolan mereka terus berlanjut. Dengan caranya, Kazami mampu memahami apa yang dipikirkan oleh Yuri, yang tengah mengalami krisis kepercayaan diri di usianya yang tidak lagi muda itu. Bahkan Kazami meyakinkan Yuri, kalau tidak masalah sesekali tampak lemah.

“Maaf, aku menangis di tempat seperti itu. Dan terima kasih telah menutupiku sehingga orang-orang tak melihatnya,” ujar Yuri pula.

“Bukannya aku menutupimu…tetapi aku tak mau membiarkan mereka melihatnya. Siapa pun,” ujar Kazami.

Yuri kaget dengan ucapan Kazami. Ia paham arah pembicaraan itu. Tapi Yuri memilih percaya kalau ucapan Kazami itu hanya ucapan seorang anak muda pada bibinya. Yuri terus mengelak soal apa yang sebenarnya dipikirkan Kazami tentangnya.

“Beri air di sini. Seperti ini, dan seperti ini,” Mikuri mengajari Hiramasa cara membuat makanan. “Mulai sekarang, sepertinya aku akan lebih sering ke tempat Yassan. Aku perlu membantu beberapa hal.”

“Pasti sulit, ya… jadi ibu tunggal,” komentar Hiramasa. Tangannya sibuk mengikuti intruksi yang tadi diajarkan oleh Mikuri.

Bukan hanya Yassan. Di tempat yang penuh laki-laki, aku dipekerjakan dengan biaya minimum. Namun itu sulit kukatakan. Mikuri menarif nafas. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Hiramasa.

“Aku bisa!” seru Hiramasa kemudian.

“Anda lebih jago dariku!” puji Mikuri ikut sumringah. “Hiramasa… Anda bisa melakukan banyak hal kalau mencoba, ya ‘kan?”

Hiramasa terdiam memandangi Mikuri. Aku bisa melakukan hal-hal yang kukira tak bisa kulakukan. Sedikit demi sedikit, duniaku meluas. Yang membuatku tetap tenang meski kehilangan pekerjaan… adalah aku percaya pada dunia yang kumiliki di sini saat ini. Aku bersyukur kau ada di sini, Mikuri.

Mikuri membantu mengelap kaca mata Hiramasa yang berembun karena peluh. Dalam hati, Mikuri juga bersyukur bertemu dan bisa bersama Hiramasa, meski mereka tidak punya ikatan yang jelas.

Tidak mau terlibat dalam situasi canggung lebih dalam, Yuri pun bergegas pamit. “Kapan-kapan datang ke rumahku juga, ya. Aku akan memberimu anggur enak sebagai ponakanku.”

“Apa kau benar-benar menganggapku hanya sebagai ponakanmu?” cecar Kazami. “Meski aku ingin memelukmu.”

Yuri masih terus berusaha menguasai diri, “Jangan mengolok-olok tantemu.” Ia bergegas merapikan syalnya dan buru-buru pergi. Di depan pintu rumah Kazami, Yuri berhenti. Ia menghembuskan nafas yang sempat ditahannya sejak tadi. Hatinya bergejolak oleh sikap maupun perkataan Kazami. Tapi, Yuri terus saja mengelak semua itu. “Aku bilang apa, sih?”

Sepeninggal Yuri, Kazami hanya terdiam memandangi pintu rumahnya kembali tertutup. Ia memikirkan perasaannya dan … Yuri. Dan hubungan mereka yang … entah.

Mikuri dan Hiramasa makan malam seperti biasa. Tidak ada yang istimewa malam itu. Hiramasa kembali sibuk di balik pintu kamarnya. Pun Mikuri yang akhirnya sibuk dengan laptopnya, memikirkan rencana pekerjaan yang dijanjikannya bersama Yassan.

Asalkan keseimbangannya tidak rusak….Selamanya, hanya seperti ini. Kami bisa melakukannya.

Kantor heboh saat daftar karyawan yang dipecat muncul. Hino-san tidak percaya kalau Hiramasa yang hebat seperti itu ternyata malah kena efek pemecatan.

“Seharusnya kita bersyukur saja masih kerja di sini, apa kau mau berhenti sebagai gantinya?” ujar Kazami.

Hino-san yang nyaris protes lagi akhirnya terdiam. Ia ingat soal keluarganya, cicilan rumah dan lain-lain. Sementara itu Numata-san yang masih merasa bersalah soal pemecatan itu, sakitnya kambuh lagi. Tapi mereka percaya, kalau orang hebat seperti Hiramasa pasti akan segera mendapatkan pekerjaan baru gantinya.

Bisik-bisik pun terdengar nyaris di seluruh kantor. Bagaimana Hiramasa? Dia tetap bersikap tenang. Alih-alih terlihat pusing, Hiramasa justru memanfaatkan jam makan siangnya untuk mencari pekerjaan baru.

Hari-hari berikutnya Mikuri maupun Hiramasa sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hiramasa banyak menghabiskan waktu istirahatnya sambil terus menekuri laptop. Ia harus segera mendapatkan pekerjaan baru.

Sementara itu Mikuri pun sudah mulai bekerja untuk area perbelanjaan. Ia sudah menyiapkan kuisioner dan membagikannya ke tiap toko untuk persiapan acara mereka.

“Terima kasih atas makanannya,” selesai makan Hiramasa kembali masuk ke kamarnya.

Mikuri hanya bisa terdiam melihat sikap Hiramasa itu. Belakangan ini, Hiramasa terlihat sibuk. Dia bahkan tak mengomentari makanannya. Dia menghabiskannya, jadi kupikir tidak tak enak, sih…

Di kamar, Hiramasa kembali sibuk dengan komputernya. Sepertinya pencarian pekerjaan barunya mulai menampakkan hasil.

Sebuah panggilan telepon datang, “Yang benar? Oke. Terima kasih banyak. Besok aku akan memperkenalkan diri.” Hiramasa sumringah menutup telepon malam itu.

Ia pun kembali beranjak ke komputernya dan mengeprint beberapa lembar kertas. Ada tatapan puas di mata Hiramasa saat melihat lembaran-lembaran kertas itu.

Pagi berikutnya

Setelah sarapan, seperti biasa Mikuri beres-beres dapur. Saat itu Hiramasa sudah siap untuk berangkat bekerja.

“Mikuri, apa kau mau makan malam di luar malam ini?” tanya Hiramasa dengan hati-hati.

“Di luar?” Mikuri heran.

“Nanti kita bertemu di tempat di memo ini,” Hiramasa menyerahkan selembar kertas pada Mikuri. “Tolong sampai di sana jam 18:45.”

Mikuri mengiyakan saja permintaan Hiramasa tanpa bertanya lebih lanjut. Ia pun tidak lupa memberikan bekal makan siang untuk Hiramasa dan mengantarkannya seperti biasa hingga di depan pintu. “Selamat jalan!”

Mikuri menatap kertas di tangannya. Di sana tertulis tulisan tangan Hiramasa yang memintanya bertemu di depan patung gajah di taman belalai gajah.

Yuri berangkat kantor seperti biasa. Melihat Kazami datang, Yuri berusaha untuk berjalan lebih cepat. Tapi Kazami melihatnya dan langsung menyusul.

“Selamat pagi. Kau tak perlu menghindariku,” sapa Kazami.

“Aku tidak menghindarimu,” elak Yuri.

“Kau tak datang ke bar dan juga tak membalas pesan-pesanku.”

“Aku sibuk,” Yuri masih saja mencari alasan.

“Secara teknis, aku juga manusia, jadi, kalau dijauhi seperti ini, aku juga masih merasa depresi. Kalau kau tak ingin berbicara denganku lagi, aku takkan lagi mendekatimu,” protes Kazami setengah mengancam.

“Bukannya begitu…”

Tapi ucapan Yuri terpotong oleh kehadiran si gadis centil yang mengejar-ngejar Kazami. Gadis itu langsung bergelayut di lengan Kazami, membuat suasana justru makin canggung.

Saat itu salah satu bawahan Yuri yang pria datang. Melihat kesempatan melarikan diri dari situasi tidak jelas, Yuri pun segera menyeret bawahannya dan menjadikannya alasan untuk pergi menjauh dari Kazami dan si gadis centil.

Kehadiran si gadis centil kali ini benar-benar membuat Kazami kesal, “Kau membuatku marah.”

“Hore! Ada kemajuan dalam hubungan kita!” alih-alih mengkeret pergi, si gadis centil justru makin bersemangat.

Kazami menghembuskan nafas berat, makin kesal, “Aku akan memberimu julukan. Positive monster.”

“Posimon? Aku menangkap Posimon!” si gadis centil justru makin bersemangat.

Yuri masuk ke lift bersama bawahannya tadi.

“Kelihatannya lancar, ya, dengan si ganteng itu,” ujar si staf pria.

“Apanya yang lancar? Aku cukup tua untuk jadi ibunya,” elak Yuri.

“Bagus, ‘kan? Rintangan seperti itu. Karena hidup kalian bisa bertemu.”

Yuri melirik sebal pada bawahannya ini.

Mikuri mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya. Tapi, ia masih saja terus memikirkan ajakan Hiramasa untuk makan malam di luar. Mikuri penasaran. Ia pun ingat soal ulang tahunnya. Saat itu Hiramasa mengaku menyesal karena tidak melakukan apapun saat ulang tahun Mikuri dan berjanji akan mengajaknya makan di luar di ulang tahunnya tahun depan. Alih-alih menunggu tahun depan, akhirnya Hiramasa mengajak Mikuri pergi makan malam, untuk alasan ini. Seperti itulah akhirnya Mikuri menyimpulkan.

Kebersamaan pertama kami. Kencan pertama kami! Apa aku harus bersikap manis? Mikuri membuka lemari dan mulai memilih baju. Satu baju dicoba, baju kedua dan ketiga … tapi tidak ada yang pas menurut Mikuri. Terlalu antusias juga tidak bagus. Kalau bau yakitori akan menempel pada baju, maka … Aku tak bisa memutuskan….

Hari sudah gelap saat Mikuri berjalan ke tempat ia janjian dengan Hiramasa. Mikuri melihat Hiramasa sudah menunggunya di dekat patung gajah, persis seperti yang dikatakan Hiramasa pada catatan yang diberikannya pada Mikuri tadi pagi.

“Maaf, aku telat,” sapa Mikuri saat sudah dekat.

“Tidak, pas waktunya, kok. Ayo pergi.”

Mikuri pun berjalan sambil bergandengan tangan dengan Hiramasa. Keduanya baru sadar kalau selama ini belum pernah sekalipun makan malam bersama di luar. Mereka sepakat untuk melakukannya sekali sebulan. Dan yang lebih penting, mereka belum pernah kencan.

“Ini tempatnya,” ujar Hiramasa saat mereka tiba di depan sebuah restoran.

“Sepertinya mahal…” komentar Mikuri.

Tapi Hiramasa tetap mengajaknya masuk. Tampak restoran itu mewah dengan tetamu yang duduk di tempat mereka masing-masing. Penyambut tamu menyambut Mikuri dan Hiramasa lalu menawarkan untuk menyimpan mantel mereka. Mikuri yang belum benar-benar percaya, sempat terdiam hingga Hiramasa menegurnya. Keduanya pun duduk di tempat yang ditunjukkan pelayan.

“Ini restoran terkenal. Kalau kutahu bakal begini aku akan pakai baju yang lebih bagus….” komentar Mikuri.

“Kau kelihatan imut,” puji Hiramasa.

Pelayan menyerahkan menu pada Hiramasa. Tampak ia membaca menu sambil sesekali bicara pada si pelayan tadi.

Dan sekali lagi, Mikuri dibuat takjub dengan Hiramasa. Hiramasa yang tekun dan tenang, yang cocok dengan kuil…Di suasana gemerlap ini, dia berbicara kebarat-baratan.

“Antara daging domba dan sapi, mana yang kau pilih, Mikuri?” tanya Hiramasa.

Tapi di mata Mikuri, pertanyaan tadi membuat angannya melayang tinggi. Bagi Mikuri, Hiramasa di depannya bertransformasi menjadi seorang pengeran tampan yang tengah bertanya soal pesanan makanan pada Mikuri. Hiramasa tampak sangat bersinar, tampan dan manis dengan senyumnya, membuat Mikurit tidak bisa berkata apapun.

Tapi Mikuri buru-buru menghapus angannya yang terlalu tinggi. Tunggu, bukan, bukan begitu.Hiramasa yang seperti pangeran ini agak keren, tetapi bukan itu intinya.

Karena melihat Mikuri tampak tidak terlalu fokus, akhirnya Hiramasa langsung saja memesan menu. Dalam pikirannya, ia sudah memersiapkan segalanya dengan baik.

Jadi, selain mencari pekerjaan, Hiramasa ternyata juga mencari restoran keren yang ingin dijadikannya tempat kencan makan malam dengan Mikuri. Ia sempat memesan beberapa tempat, tapi terlanjur penuh. Hingga akhirnya Hiramasa menemukan tempat yang tepat ini. Bahkan Hiramasa sempat lebih dulu melakukan survey ke restoran itu siangnya.

Semuanya berjalan baik sampai saat ini.

Pesanan makanan mereka pun datang. Tanpa butuh waktu lama, Hiramasa dan Mikuri pun menyantap makanan di piring masing-masing. Dan seperti beritanya, makanan di restoran itu benar-benar enak.

Ini sangat, sangat enak. Akan tetapi…dari tadi Hiramasa diam saja. Dia hanya makan, dan terkadang tersenyum bahagia. Mengerikan. Ada apa di balik kelakuan Hiramasa yang seperti pangeran? Mikuri menyantap makanannya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Hiramasa, menunggu Hiramasa bicara. Tapi ternyata tidak ada yang dikatakan.

Makan malam selesai. Dan kini di depan mereka adalah makanan penutup. Hiramasa mengumpulkan keberaniannya dan akhirnya bicara.

“Alasan kita datang ke sini hari ini adalah untuk membicarakan masa depan. Aku tak tahu ukuranmu, jadi aku belum punya cincin, tetapi Mikuri, Ayo kita masukkan namamu di kartu keluarga secara resmi lalu menikah,” ujar Hiramasa.

Mikuri kaget dengan ucapan Hiramasa yang tiba-tiba ini, “Kupikir Anda tak berniat menikah….”

“Kupikir itu sesuatu yang takkan pernah terjadi padaku. Namun, sejak bertemu denganmu, Aku berubah. Aku melakukan simulasi perhitungan. Kalau kita menikah, kita tak lagi memerlukan kontrak kerja. Gaji yang saat ini kubayarkan padamu bisa digunakan untuk biaya hidup atau simpanan.” Hiramasa mengeluarkan kertas berisi catatan keuangan yang telah disusunnya. “Antara menikah atau tidak, dalam tiga dan lima tahun…selisihnya sebesar ini. Dengan uang ini, kita bisa beli rumah tua, atau di masa depan, dengan satu bahkan dua anak, bagaimanapun caranya bisa kita atasi. Ini datanya.”

“Dengan kata lain, kuputuskan, menikah itu…akan menguntungkan bagi kita berdua. Dengan begitu…” ucapan Hiramasa dipotong oleh Mikuri.

“Tunggu sebentar. Sebelum membuat rencana masa depan seperti rumah dan anak-anak, Kenapa Anda berpikir untuk mendaftarkannya? Pemicunya.”

“Pemicunya adalah… dipecat. Ah… tentu saja, aku berniat memberi tahumu setelah aku mendapatkan pekerjaan baru.”

“Anda dipecat… jadi Anda melamar?” nada suara Mikuri sedikit lebih tinggi.

“Bukan hanya itu alasannya. Kurasa pernikahan itu lebih logis,” elak Hiramasa.

“Kalau kita menikah, Anda tidak harus membayar gaji, dan bisa memanfaatkan jasaku secara gratis, jadi itu logis….Begitu maksudnya, ‘kan?” cecar Mikuri.

Hiramasa bingung, “Apa… kau tak suka padaku?”

“Itu…eksploitasi cinta!” tegas Mikuri.

“Kalau saling suka, kalau saling cinta, kita bisa melakukan segalanya…”

“Anda pikir itu baik?” kali ini Mikuri benar-benar marah. “Aku, Moriyama Mikuri…dengan tegas menentang eksploitasi cinta!”

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Lama nggak buat sinopsis, ternyata kecepatan nulis Kelana agak melambat nih. Tapi semoga nggak mengecewakan ya.

Ok, kembali ke cerita …. Ending episode 10 ini memang nggak banget. Lamaran yang harusnya sukses, justru gagal total. Oh Hiramasa …

Pertama, lamaran ini sama sekali nggak romantis. Atau gagal romantis saat Hiramasa mengeluarkan kertas-kertas berisi catatan keuangan yang ia buat. Iya sih, Hiramasa itu orang yang kaku. Tapi ya masa ada gitu … orang melamar kok pakai catatan keuangan gitu.

Kedua, karena catatan keuangan itu, akhirnya lamaran berubah jadi salah paham. Niat hati Hiramasa ingin menikahi Mikuri secara resmi karena memang sayang, ternyata diterima berbeda oleh Mikuri.

Ketiga, Mikuri juga agak keras kepala. Memang sih, kalau menikah dan tidak lagi digaji, artinya kerjanya gratis. Tapi ya … namanya keluarga kan gitu ya. Masak sih semua harus dinilai dengan uang. Nah, si Mikuri ini masih money-oriented banget lah. Jadi, nggak bisa melihat niat baik Hiramasa. Ditambah lagi, Mikuri sudah keburu negatif thinking saat tahu, Hiramasa melamar setelah dipecat. Padahal niat Hiramasa melamar murni karena sayang, bukan karena ia nggak mau lagi menggaji Mikuri. Rumit.

Ok, … memang kedua orang ini punya problem ‘sulit berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan dan pikiran masing-masing’. Jadi ya …gitu deh. Tapi tenang aja, masih ada satu episode lagi kok, episode terakhir. Kira-kira, gimana endingnya ya?

Couple ini memang couple keren di season musim dingin lalu. Nggak heran, kalau Mikuri yang diperankan oleh Aragaki Yui pun menyabet sejumlah penghargaan. Dan lagi … mas Hiramasa—yang ternyata imut ini—pun jadi kebagian lebih banyak job lagi. Musim semi ini nanti pun dia sudah ada di list pemeran drama tayang.

Ah ya … setelah ini Na akan selesaikan dulu sinopsis Married as Job sampai ep 11, atau sampai selesai. Nah, sambil nunggu drama musim semi tayang+muncul subtitle-nya nanti, Na akan buat preview drama apa saja yang akan muncul di musim semi.

Hosh! Hosh! Capek juga lama nggak nulis, kekekekeke. Sekali lagi, selamat membaca ^_^

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

6 comments

  1. Ka tulis movie jepang Your Lie in April dong kak pleas :*

  2. baru nonton kemarin suka banget ma nih film ….suka jenis jenis film yang seperti ini

  3. Memang seru gak rumit cerita nya asik Dan ringan

Leave a Reply

Scroll To Top