Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 10 part 1

SINOPSIS Married as Job 10 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 10 part 1. Mikuri tidak sengaja melihat Hiramasa berjalan dengan Igarashi ke sebuah restoran. Dan ternyata itu hanya salah paham. Karena Hiramasa sengaja datang ke resto itu untuk membelikan bahan makanan untuk Mikuri.

Pertengkaran mereka malam itu membuat Hiramasa memberanikan diri memastikan perasaannya. Dan dia sadar kalau Mikuri … sudah cemburu. Buatku, kau sudah menjadi seseorang yang tak bisa kulepaskan begitu saja. Dalam diakhiri dengan ucapan … maukah kau bersamaku hingga pagi, oleh Hiramasa.

Yang kami butuhkan bukan membangun kembali sistem yang ada, melainkan saling mengutarakan perasaan kami yang sesungguhnya.

Hiramasa menemani Mikuri berbelanja. Yang sebenarnya hanya membeli daun bawang. Sepanjang perjalanan pulang, mereka pun bergandengan tangan sambil sesekali saling memandang dan melempar senyum satu sama lain.

Sampai di rumah, Mikuri pun segera membuatkan makan malam untuk mereka. Soba istimewa untuk makan malam berdua.

Sambil makan malam, rupanya Hiramasa sudah memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Bersama hingga pagi hari. Aku mengatakannya begitu saja, tetapi Apa yang akan kami lakukan sampai pagi, ya?

Imajinasi Hiramasa pun berulah. Dari asyik mengisi sudoku sampai pakai. Bermain wii dengan Mikuri. (semacam game balapan) atau bahkan memainkan RoBoHoN sampai pagi. (Robohon semacam ponsel yang bisa diubah jadi robot mainan)

Semuanya menyenangkan, tetapi saat ini itu semua bukan hal yang utama. Aku memang bilang sampai pagi, tetapi Sejauh apa dia berharap?

Setelah makan malam, Mikuri pun beres-beres. Dia berniat membuang bungkus bekas bahan makanan dengan lebih dulu mengikatnya dengan karet gelang. Tapi benda elastis itu ternyata terlempar ke bawah. Dan pikiran Mikuri pun sampai ke sana.

Kupikir Hiramasa tak akan berinisiatif. Yang artinya hanya tidur berdampingan hingga pagi hari? Itu saja sudah cukup baik.

Sementara itu di kamar, Hiramasa makin panik. Ia masih saja khawatir apa yang harus dilakukannya nanti. Hiramasa membongkar-bongkar laci mejanya, mencari sebuah benda.

Hiramasa ingat, kalau musim panas tahun lalu Hino-san pernah memberikannya suatu benda. Menurut Hino-san, itu adalah produk terbaru dari perusahaan adiknya. Saat itu Hiramasa menerimanya saja tanpa banyak komentar dan langsung memasukkannya ke dalam sakunya tanpa curiga sama sekali. (Na nggak yakin sih, barang yang dicari Hiramasa ini apaan. Tapi sepertinya sih semacam ko***m)

Hiramasa makin panik. Saat itu, meski aku tak berpengalaman, aku berpura-pura tenang dan membawanya pulang. Kelihatannya mungkin terjadi jika situasinya begini. Aku harus bagaimana? Aku pergi sejauh-jauhnya. Aku paham prosesnya. Akan kucari di Google lagi untuk memastikan…

Tapi ketukan Mikuri di pintu menghentikan kegiatan Hiramasa. Ia pun segera kembali duduk di ranjangnya kemudian mempersilahkan Mikuri masuk. Saat itu Mikuri juga membawa bantalnya sendiri. Mikuri lalu duduk dengan canggung di sebelah Hiramasa.

Mikuri pun memegang tangan Hiramasa, lalu menggenggamnya erat. Hiramasa mencuri pandang ke arah Mikuri. Senyum yang tercipta di antara mereka adalah senyum canggung.

Tapi, bencana sebenarnya baru saja dimulai!

Hiramasa tidur lurus di balik selimutnya. Sementara Mikuri memiringkan tubuhnya ke arah Hiramasa.

“Seperti aroma tubuhmu,” komentar Mikuri.

“Aku sudah mandi, sih,” ujar Hiramasa.

“Aku suka. Menenangkan. Apa kita takkan bersenang-senang?” tanya Mikuri kemudian.

Hiramasa kaget, “Maaf, aku belum pernah melakukannya sebelumnya.”

“Kalau dipikir-pikir, siapa yang menciptakan, sih? Kenapa memakai kata itu?” komentar Mikurin kemudian. Tangan Mikuri pun beraksi.

“Itu… geli,” ujar Hiramasa. Tapi yang tampak hanya RoBoHon.

“Ini namanya bersenang-senang,” ujar Mikuri. Dan yang muncul adalah boneka babi. “Anda coba juga.”

Hiramasa setuju, “Kalau begitu, permisi…” gambar RoBoHon bergerak-gerak karena guncangan.

Suara Mikuri yang mendesah kaget membuat Hiramasa menyesal dan minta maaf. Tapi Mikuri mengatakan tidak masalah.

Jadi begini rasanya. Setelah itu…Itu, kalau begini seharusnya berlanjut ke hal itu, tetapi bagaimanapun, aku hanya setengah niat.

(pada ngerti kan ini adegan apaan? Gambarnya Cuma gambar RoBoHon goyang-goyang sama boneka babi kok, jadi aman. Cuma suaranya aja yang seru-seru bikin terbayang. Hahahaha … gomene!)

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Hiramasa menyambar jaketnya dan berlari keluar apartemen. Dia berteriak sepanjang jalan, hingga akhirnya berhenti di sisi jembatan.

Benar-benar bencana! Kenapa aku mengembalikan Turbo Lingkar (minuman energi) ke Hino?! Makanya aku membencinya. Kegagalan yang kutakutkan. Aku yang pengecut. Makanya aku menjaga jarak sebagai lajang profesional. Membangun tembok, dan tetap di zona aman, sendiri. Selalu… sendiri. Hiramasa makin frustasi pada dirinya sendiri.

Tapi ia kemudian ingat pada Mikuri. Pada genggaman tangannya bersama Mikuri, genggaman tangan kekasih. Bagaimana perasaan Mikuri saat ini? Boleh saja melarikan diri. Bahkan jika melarikan diri itu memalukan, bertahan itu lebih penting. Aku takkan menerima bantahan atau sangkalan apa pun tentang hal ini. Akan tetapi bukan di sini. Kau tak bisa melarikan diri dari orang yang penting bagimu. Kalau tak mau kehilangan orang itu, tak peduli betapa tak kerennya, bahkan jika tak enak dipandang.

Hiramasa pun mengambil keputusan. Ia sudah yakin untuk kembali. Hiramasa segera bangkit dan berjalan pulang lagi.

Hiramasa pun pulang kembali ke rumah. Ia menemukan Mikuri bergelung di bawah selimut. Hiramasa berpikir kalau Mikuri sudah tidur.

Tapi ternyata Mikuri belum tidur. Ia pun bangun menyambut Hiramasa, “Bagaimana bisa tidur? Anda meninggalkanku di sini.”

“Maafkan aku. Aku takkan melarikan diri lagi.”

Lalu kami berpelukan, berciuman, dan entah bagaimana melewati tembok itu.

Mikuri bangun lebih dulu dan mengecup pipi Hiramasa, “Selamat. Ini hari ulang tahunmu.” Lanjut Mikuri saat melihat kebingungan di wajah Hiramasa. (masak bangun tidur udah pakai kaca mata gitu?). Mikuri pun kembali menenggelamkan kepalanya di sisi Hiramasa.

Hiramasa tersenyum lega. Pagi yang baru datang di tahun ketiga puluh enamku.

Pagi itu Yuri berangkat ke kantor seperti biasa. Tapi memandangi papan iklan besar di seberang jalan mengingatkannya pada insiden semalam bersama Kazami.

Saat menangi, Kazami menghalangi pandangan orang-orang dari melihat Yuri. Setelahnya Kazami pun menawaran untuk mengantar Yuri pulang. Selama perjalanan di taksi, keduanya hanya saling diam. Bahkan setelah taksi itu menurunkan Yuri, mereka hanya saling bertukar ucapan selamat malam.

Lamunan yang nyaris sama juga dirasakan oleh Kazami. Dia kantornya, Kazami masih juga memikirkan Yuri dan insiden semalam.

Numata-san datang menyapa Hino-san dan heran karena Hiramasa belum datang. Menurut Hino-san, Hiramasa menelepon akan datang agak siang. (cieee, yang males berangkat kerja)

Numata sudah meyakinkan diri untuk mengatakannya pada Hiramasa. Tapi saat Hiramasa sudah ada di hadapannya, Numata justru tidak bisa mengatakan apapun. Apalagi saat itu wajah Hiramasa tampak sangat cerah ceria.

“Cuaca hari ini bagus, hari yang menyenangkan,” komentar Hiramasa sambil menunggu kopinya selesai.

“Menurutku berawan,” komentar Hino-san, heran.

“Udaranya juga segar,” lanjut Hiramasa.

“Ada kejadian apa?” Hino-san penasaran.

“Tidak ada yang istimewa. Kalau aku harus bilang, hari ini aku berumur 36 tahun,” ujar Hiramasa. Senyum masih saja belum menghilang dari wajah Hiramasa.

“Selamat ulang tahun!” ujar Hino-san lagi. Ia mengingatkan Numata-san kalau ada yang ingin disampaikan pada Hiramasa.

“Tidak hari ini,” tolak Numata-san, cepat. Numata-san malah berlutut di depan Hiramasa, mengatakan ia tidak sanggup mengatakannya pada Hiramasa.

Hiramasa yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, tidak memerhatikan Numata-san. “Kopi ini juga enak,” ujar Hiramasa sambil menghirup aroma kopinya. (pas ngomong kalimat ini, om Gen manis bangeeeetttt #diabetes)

Hino-san yang bingung dengan sikap rekan-rekannya hari itu. Hiramasa yang terus-terusan tersenyum tanpa alasan yang jelas. Numata-san yang tampak frustasi karena suatu hal. Hingga Kazami yang terus melamun di depan jendela tanpa merespon apapun pertanyaannya.

Hari itu Mikuri memasak makanan dengan gembira. Yang dipikirkannya hanya satu orang, yakni Hiramasa. Dan hasil masakan Mikuri kali ini benar-benar luas biasa. Tidak hanya jenis makannya saja yang menggoda, tapi juga tampilannya penuh garnis manis yang benar-benar menggugah selera.

“Sekali lagi, selamat ulang tahun,” ujar Mikuri pada Hiramasa malam itu. Mereka pun makan malam bersama sambil sesekali saling curi pandang satu sama lain.

Selesai makan malam, Mikuri pun seperti biasa membereskan meja. Ia melirik ke arah Hiramasa yang duduk di sofa dengan televisi menyala dan buku sudoku di tangannya.

Hiramasa sedang menungguku. Dia buka buku sudoku, tetapi belum mengisi satu kotak pun. Dia hanya menunggu aku selesai bekerja.

Dan imajinasi Mikuri pun mulai. Dia berlari ke sebuah tebing yang tinggi dan kemudian meneriakkan, ‘Hiramasa terlalu menggemaskan!’

Dan lamunan Mikuri buyar saat Hiramasa menegurnya, “Mikuri, apa pekerjaanmu sudah selesai?”

“Belum,” ujar Mikuri canggung.

Hiramasa mengerti. Ia pun berbalik dan berniat kembali ke sofa. Tapi sebuah pelukan dari Mikuri menghentikan langkah Hiramasa.

“Aku bohong! Aku sudah selesai. Bukankah terlalu menggemaskan?” ujar Mikuri dari punggung Hiramasa.

“Mestinya aku yang bilang begitu,” protes Hiramasa.

“Aku benar-benar mau berteriak dari tebing, Hiramasa benar-benar… benar-benar menggemaskan!””

Hiramasa heran, “Bilang seorang laki-laki menggemaskan itu…”

Mikuri pun melepaskan pelukannya lalu berdiri di depan Hiramasa, “Menggemaskan adalah pujian terbaik! Kalau bilang “keren,” saat melihat sisi tak kerennya, Anda mungkin kecewa. Akan tetapi, kalau “menggemaskan”… Apa pun yang Anda lakukan, semuanya menggemaskan. Anda dulu sebelum rasa gemas.”

Hiramasa pun mengerti maksud Mikuri. Ia pun mengajak Mikuri untuk duduk di sofa, “Aku ada satu permintaan. Apa kau bisa berhenti bekerja di tempat Kazami? Bukannya aku curiga, tetapi saat aku membayangkan kalian hanya berdua di tempatnya, aku tak bisa tak cemburu.” (ecieeee, jadi ceritanya Hiramasa juga cemburu juga nih)

Mikuri tersenyum, “Aku mengerti. Itu adalah pekerjaan sampingan untuk membiayai perawatan gigiku, dan pembayarannya sudah lunas, jadi aku akan berhenti.”

Mikuri dan Hiramasa saling pandang. Dan sebuah pelukan jadi penutup kebersamaan mereka malam itu.

Mikuri datang ke tempat Kazami seperti biasa. Tapi kali ini ia pamit pada Kazami untuk berhenti bekerja.

“Terima kasih untuk segalanya. Senang bisa mempekerjakanmu,” ujar Kazami.

“Apa rasanya mempekerjakan pekerja rumah tangga?”

Kazami berpikir sebentar, “Memudahkanku, tetapi kupikir aku juga bisa melakukannya sendiri.”

“Kazami, apa kau tak bisa berpacaran saja dengan seseorang yang tak mau menikah?” usul Mikuri kemudian.

“Apa ada seseorang seperti itu?”

“Seperti Yuri. Dia dulu mungkin menginginkannya, tetapi sekarang…. Dia bilang dia tak bisa membayangkan hidup bersama dengan orang lain. Kalau kau mencari orang seperti itu…” tapi ucapan Mikuri dipotong oleh Kazami.

“Aku tak secara khusus mencari pacar. Saat ini ada seorang wanita yang terus saja mengajakku kencan.” Kazami bercerita soal si centil Igarashi. “Dia bahkan tak mengenalku. Apa yang dicarinya?”

Mikuri tersenyum, “Kau mau terhubung secara emosi, ‘kan? Bukan hanya dari penampilan. Kau mau dilihat sebagai dirimu sendiri. Kalau begitu, apa kau sudah lihat wanita itu yang sebenarnya? Kenapa kau tak coba melihatnya satu kali?” saran Mikuri lagi.

Hiramasa makan siang bersama Hino-san. Mereka heran, karena tidak biasanya Numata-san mengambil cuti bekerja. Sepertinya Hino-san menyadarinya, kalau Numata-san sedang tidak sehat.

“Dulu aku juga selalu memikirkan hal itu. Kalau aku tiba-tiba pingsan di rumah, siapa yang akan menemukanku?”

“Sekarang kau bisa tenang, ya. Ada istrimu, ‘kan. Pernikahan juga sedikit mirip alat keselamatan. Jika sesuatu terjadi pada salah satu dari kalian, meski berat ditanggung sendiri, entah bagaimana kalian bisa menyelesaikannya bersama. Seperti satu bentuk kebijaksanaan untuk bertahan. Apa… aku baru saja mengatakan sesuatu yang baik?” komentar Hino-san.

Numata-san mengunjungi dokter hari itu. Dan menurut pemeriksaan, ternyata ada beberapa luka di lambung Numata-san. Dokter menyarankan agar Numata-san tidak terlalu stres. Bahkan memintanya juga untuk istirahat total lebih dulu.

Setelah selesai bertemu dokter, Numata-san duduk-duduk di luar. Ia merasa aneh, karena tidak berangkat kerja. Tapi ingat situasi kesehatannya saat ini, ia memang memerlukan istirahat.

Mikuri seperti biasa datang ke toko milik Yassan. Kali ini ia bahkan mengendong si imut Hirari. (ya ampun, ni baby imut manis banget sih. baby-nya siapaaaa!)

“Jangan menghela napas, Hirari jadi khawatir. Bukannya kau sangat bahagia?” tanya Yassan.

“Maaf. Ada banyak hal yang terjadi….” tapi Mikuri menghentikan ucapannya. Ia justru memikirkan hal lain. Kalau jujur, aku seperti menyombongkannya, jadi aku takkan melakukannya, tetapi aku benar-benar bahagia! Itu helaan kebahagiaan! Sekarang aku bisa masuk acara itu.

Mikuri pun mulai berhayal. Kali ini ia berhayal bisa datang ke sebuah acara TV yang mendatangkan para pengantin baru. Hiramasa dan Mikuri saling memperkenalkan diri. Mereka kemudian bercerita soal kehidupan mereka. Dari berpelukan, menghabiskan malam bersama di sofa, berciuman sebelum tidur dan menghabiskan waktu seharian di rumah saat libur. Keduanya pun saling pandang dengan senyum malu-malu.

Pelukan harian, ciuman harian…Ini adalah kehidupan pribadi yang dimasuki waktu kerja. Sedikit rasa curang, dan bahagia.

Siapa yang mengira dunia di balik tembok seperti ini? Pernikahan adalah satu bentuk kebijaksanaan untuk bertahan.

Sepertinya kebiasaan berhayal juga mulai menular pada Hiramasa. Di rumah, Hiramasa mengambil minuman kemudian memilih duduk menghadap terasnya. Di luar, seperti biasa ada dua burung emprit yang mampir. Tampaknya kedua burung itu adalah pasangan.

Saat ada angin kencang yang menerpa, salah satu emprit bergeser dan seolah melindungi pasangannya. Hiramasa memerhatikan sikap burung emprit itu dan mulai memikirkan sesuatu.

Tapi suara ponsel membuyarkan lamunan Hiramasa. Dari Numata-san, yang mengatakan akan datang karena ada yang ingin dibicarakannya dengan Hiramasa.

Kazami bersama Igarashi datang ke pameran. Igarashi tadinya berpikir kalau Kazami tidak akan datang. Tapi, Kazami menuruti saran Mikuri untuk mencoba ‘kencan’ dengan Iagarashi.

“Kupikir akan menyenangkan jika pergi bersama laki-laki yang baik,” ujar Igarashi.

“Jadi kau memanfaatkanku….”

“Kau marah?” tanya Igarashi yang dijawab oleh Kazami dengan kata tidak.

Mereka pun berkeliling mengomentari barang-barang yang dipamerkan pada pameran budaya itu.

Dari arah lain, ternyata datang juga Yuri bersama seniornya. Igarashi menangkap perubahan ekspresi Kazami. Kazami menjelaskan kalau mereka bekerja di gedung yang sama. Mereka berempat pun berkeliling bersama, mengagumi lebih banyak lagi pameran. Tapi setelah beberapa lama, mereka pun berpisah dan jalan dengan pasangan masing-masing.

Tapi satu hal yang tidak bisa dibohongi satu sama lain, Kazami maupun Yuri saling curi pandang, melihat satu sama lain.

“Mereka seperti suami-istri yang keren.”

“Mereka bukan suami-istri,” elak Yuri.

“Kau benar-benar mengenalnya, ya. Mereka cocok,” komentar yang diiyakan juga oleh Yuri. “Akan tetapi, yang laki-laki memperhatikanmu, lho. Apa hubungan kalian?”

“Tidak ada. Dia 17 tahun lebih muda,” Yuri tampak tidak nyaman ditanyai seperti itu. Seolah ia diinterogasi oleh seniornya itu.

Yassan mengeluh soal selai sayur jualannya, yang katanya belum ada satupun yang terjual.

“Kenapa kau tidak memasang papan iklan di pintu masuk jalan ini? Di toko roti di sudut,” saran Mikuri.

“Oh, benar! Itu toko roti, jadi beberapa orang pasti ingin selai,” Yassan setuju.

“Sebagai gantinya, kita bisa bilang selai ini cocok sekali dengan roti di sana, dan memasang poster yang merekomendasikan kombinasi ini,” lanjut Mikuri. “Maaf, aku berbicara tanpa diminta lagi.”

Tiba-tiba Yassan mendapatkan sebuah ide, “Ayo ikut denganku!” ajaknya pada Mikuri.

Yassan mengajak Mikuri untuk datang ke sebuah balai pertemuan. Di sana ada banyak pedagang yang tokonya juga terletak di sekitar toko milik keluarga Yassan. Yassan memperkenalkan Mikuri sebagai teman SD-nya yang punya banyak ide.

Pertemuan itu sebenarnya pertemuan rutin para pemilik toko, yang rata-rata adalah generasi kedua atau ketiga. Tapi kenyataannya mereka lebih banyak hanya berkumpul dan minum-minum saja. Dan bahkan membicarakan hal-hal tidak penting.

Mikuri pun mengusulkan, kalau mereka membuat pasar di luar agar orang-orang mau datang dan membeli barang-barang mereka. “Hal itu bisa menarik minat keluarga, dan pelanggan yang biasanya hanya pergi ke supermarket, mungkin teringat kembali ada toko-toko hebat ini di distrik perbelanjaan. Maafkan pemikiran amatirku.”

Tapi rupanya ide Mikuri disambut dengan baik. Mereka berpikir untuk membuat semacam pasar terbuka atau bazar di depan kuil. Jadi, orang-orang tua yang ingin berpartisipasi juga bisa ikut. Mereka pun mulai memikirkan produk apa saja yang akan ditawarkan. Obrolan pun semakin kacau.

Mikuri berusaha menengahi. Ia mengusulkan kalau mereka perlu menentukan akan menjual apa saja, agar tidak ada persaingan antara toko. Selain itu, harga yang ditawarkan juga serendah mungkin. Karena tujuan utamanya adalah mempublikasikan kembali distrik perbelanjaan mereka, maka sebaiknya memang tidak mengeruk banyak untung

“Mikuri, apa kau mau ikut membantu?”

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Akhirnya, sodara-sodara … ada perkembanga cukup berani dan cepat dalam hubungan Hiramasa dan Mikuri. Dan malam itu … #ehe. Yeeeee, Hiramasa sukses menghancurkan tembok tinggi yang selama ini menghalanginya. Waaah, pokoknya di episode ini, om Gen menang banyak deh.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top