Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 09 part 1

SINOPSIS Married as Job 09 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 09 part 1. Insiden penolakan malam itu membuat Mikuri menghindari hari Selasa, hari pelukan. Dan ibunya yang jatuh dari tangga, menjadi alasan bagi Mikuri untuk pergi meninggalkan rumah Hiramasa. Tapi, sekarang Mikuri memutuskan kembali ke rumah hiramasa.

Butuh delapan episode sampai akhirnya Mikuri teleponan dengan Hiramasa. Saat Hiramasa menyusul ke rumah keluarga Mikuri di Tateyama, Mikuri ternyata sudah berada di depan komplek apartemen. Dan mereka pun tidak bertemu. Tapi Hiramasa berjanji akan segara pulang untuk menemui Mikuri.

Hiramasa tidak akan pulang. Karena…setelah dia ditahan orangtuaku dan menginap satu malam, ada keadaan darurat di kantor. Dia mendapat panggilan dan sampai sekarang masih di sana.

Di kantor pun Hiramasa tidak bisa bekerja dengan tenang. Ada saja masalah yang terjadi, hingga membuatnya gagal fokus. Padahal Hiramasa benar-benar ingin pulang. Berkali-kali Hiramasa mengirim pesan pada Mikuri dan mengatakan kalau ia akan pulang dan pasti pulang. Pesan-pesan itu semuanya nyaris tidak banyak berbeda. Dan di rumah pun, saat membaca pesan-pesan dari Hiramasa, Mikuri bisa merasakan kalau kali ini Hiramasa benar-benar tulus.

Setelah menyiapkan makan malam, Mikuri tertidur di sofa. Ia kelelahan menunggu. Hingga saat Hiramasa pulang, Mikuri sama sekali tidak terbangun. Melihat Mikuri tertidur di sofa, Hiramasa mengambilkannya selimut lalu mengelus kepala Mikuri dengan sayang.

Mikuri terbangun keesokan harinya. Tapi ia juga tidak menemukan Hiramasa di manapun. Mikuri hanya melihat kalau makanan yang ia siapkan semalam sudah habis. Ada pesan yang ditinggalkan oleh Hiramasa untuknya di meja.

Setelah tidur sebentar, aku pergi kerja lagi. Makan malam yang kaubuat untukku kubawa untuk kumakan di kantor. Hari ini, pasti aku pasti akan pulang!!!

Kekhawatiran mulai menyergap hati Mikuri, “Bagaimana kalau kami tak pernah bertemu lagi?”

Kazami meletakkan secangkir kopi di meja Hiramasa. “Sejujurnya…aku suka Mikuri. Akan tetapi, sepertinya berbeda dari rasa “suka”-mu. Aku juga suka Tsuzaki. Kejadian di malam itu… maaf.” (Kazami membahas soal sindir-sindiran mereka saat minum bersama beberapa hari silam)

Tapi langkah Kazami terhenti oleh ucapan Hiramasa, “Malam itu di mobil Yuri aku sebenarnya tidak tidur. Mendengarmu berkata begitu membuatku menyadari sesuatu yang sangat penting. Terima kasih.”

“Pura-pura tidur sambil menguping…. Itu buruk sekali,” sindir HIRamasa.

“Maaf.”

Kazami tersenyum, “Aku hanya bercanda. Aku tahu, kok.”

“Kau tahu, jadi berkata demikian?”

“Kepribadianku buruk,” ujar Kazami lagi.

Di depan supermarket, Yuri dan tim-nya sedang melakukan promo untuk produk kosmetik baru mereka. Sejumlah stand berdiri dengan para karyawan yang menawarkan produk pada orang-orang yang lewat.

Mikuri datang dan menyapa Yuri yang ada di sana. Kedua bawahan Yuri pun ikut mendekat. Yuri memperkenalkan Mikuri sebagai keponakan kesayangannya. Dan sebaliknya, Yuri pun memperkenalkan Mikuri pada dua karyawannya itu. Saat itu situasi sedang sedikit ramai. Sadar akan situasi dan tidak ingin mengganggu momen Yuri-Mikuri, kedua karyawan tadi pamit pergi dan segera kembali ke pos masing-masing.

“Aku hanya pikir mereka menikmati pekerjaan mereka,” komentar Mikuri.

“Kenapa kau tak bekerja juga? Kau ‘kan belum punya anak. Bukankah baik kalau bekerja?” usul Yuri kemudian.

Mikuri canggung ditembak seperti itu, “Kau benar. Aku akan memikirkannya.”

Yuri pun menyerahkan angket dan meminta Mikuri untuk mengisinya. Ia pun pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.

Mikuri memandangi kertas angket itu. Ada kolom pekerjaan di sana. Mikuri kembali memikirkan pekerjaan yang tengah dilakoninya saat ini. Sebenarnya, aku dibayar untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Itu pekerjaan. Namun, aku tak bisa mengatakannya. Apa dari luar aku terlihat seperti pengangguran?

Kazami baru saja tiba di lobby kantor saat seorang gadis menyapanya. Gadis itu mengaku bernama Igarashi dan mereka pernah bertemu di kencan buta setahun lalu. Baru kemudian Kazami mengenali si gadis. Tanpa ragu, Igarashi pun mengajak Kazami untuk minum bersama malam nanti.

“Aku tertarik padamu,” ujar Igarashi sangat jujur.

“Kau tak berpikir aku tak tertarik padamu?” ujar Kazami, tidak yakin.

“Kalau begitu… alasan kau tak tertarik padaku tolong katakan sambil minum-minum. Kapan pun kau ada waktu,” usul Igarashi lagi.

Acara pengenalan produk baru sudah selesai. Setelah memastikan semuanya beres, Yuri pun pamit pergi lebih dulu. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pria yang dikenalnya. Manajer yang juga seniornya di kampus, tengah membujuk seorang anak laki-laki di depan supermarket. (pria yang pernah mengajak Yuri kencan)

“Perceraianku sedang diproses, sekarang hanya aku dan putraku. Kami seperti “Kramer vs. Kramer”. Mereka bilang aku tak butuh wewenang orangtua. Saat kau dan aku minum bersama, kami sedang berdebat tentang pembagian harta. Saat terburuk,” cerita si pria pada Yuri. Saat itu mereka duduk berdua di sisi taman.

“Kau seharusnya bilang padaku,” ujar Yuri kemudian.

“Aku tak bisa bilang begitu saja, itu memalukan.”

“Kita dulu dekat, jadi paling tidak aku akan mendengarkanmu,” kata Yuri.

Si pria menatap wajah Yuri dengan serius, “Kalau begitu, apa lain kali kau mau berkencan denganku?” tapi melihat wajah Yuri yang kaget, pria itu pun tertawa. Menunjukkan kalau ia tengah bercanda. “Kencan yang kekeluargaan di siang hari.”

Mikuri tengah membuat makan malam saat terdengar pintu depan terbuka. Mikuri pun meninggalkan dapurnya dan segera menyapa orang yang datang. Mikuri dan Hiramasa tersenyum, saling pandang satu sama lain. Tanpa canggung, mereka pun berpelukan secara alami.

“Ini menenangkan.”

Mikuri kemudian merasakan hal aneh, “Bau.”

“Maaf, aku mandi dulu,” Hiramasa kaget dan segera melepaskan pelukannya.

Tapi Mikuri menggeleng cepat, “Bau gosong!”

“Hari ini aku berpikir akan masak sesuatu yang lezat,” ujar Mikuri. Ternyata masakan Mikuri agak gosong.

“Niatnya saja sudah cukup,” komentar Hiramasa. Dan keduanya pun mulai makan.

“Anda pergi jauh-jauh ke Tateyama untuk menjemputku, membuatku bahagia,” ujar Mikuri kemudian.

“Meski kita tidak bertemu. Aku sudah pulang.” Keduanya pun saling lempar senyum sambil makan malam.

Hiramasa dan Mikuri baru menyadari kalau hari ini hari Selasa. Dan mereka ternyata tidak berpelukan minggu lalu. Mikuri menagih soal pelukan hari ini, setelah makan. Tapi kemudian Hiramasa mengusulkan kalau itu jadi simpanan saja. Jadi bisa sewaktu-waktu berpelukan jika butuh untuk dihibur.

“Kita bisa juga mendiskusikannya. Bagaimanapun, yang terpenting adalah membangun kembali sistem yang ada,” ujar Hiramasa.

“Membangun kembali… sistem yang ada?” Mikuri bingung. Kenapa mereka kembali membahas sistem?

Mikuri seperti biasa ngobrol dengan Yassan. Kali ini di toko keluarga Yassan, sambil memasang stiker pada selai sayur yang akan dijual

“Pada dasarnya, revisi detail kontrak. Aku sebelumnya menulis klausul tambahan, kalau-kalau kau mempunyai kekasih, tetapi aku tak terpikir kalau kekasihnya adalah si majikan,” ujar Mikuri.

“Pacarmu benar-benar menjengkelkan.” Komentar Yassan.

Mikuri mengakau kalau dirinyalah yang pertama kali mengusulkan soal pelukan. Tetapi, dia tidak pernah bilang kalau itu tidak harus terlalu kaku juga. Kalau melakukan pelukan tidak harus sesuai jadwal. Kalau perlu, tiap hari juga tidak apa-apa.

“Aku tidak mau membuat kesalahan mendasar lagi. Aku belum benar-benar paham. Kami sedikit demi sedikit sampai ke posisi ini, tetapi, apa dia benar-benar menyukaiku?” curhat Mikuri lagi.

Yassan bingung, “Dia tak pernah bilang dia suka padamu?”

“Tidak pernah,” ujar Mikuri. Dan jawaban yang sama untuk pertanyaan Mikuri yang diulang lagi. “Dia seseorang yang tak pernah berpacaran sebelumnya, Jadi, alih-alih karena dia menyukaiku, mungkin saja dia begitu karena aku orang pertama di sekelilingnya yang paling mirip pacar. Jika kau seorang wanita yang hidup dengannya, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan memberikan pelukan, ada kemungkinan siapa saja bisa melakukannya. Mungkin saja ya, benar kan?”

“Simpanan?” Hiramasa heran.

“Berapa besar aset yang kau miliki saat ini?” ulang Numata-san lagi.

“Kenapa kau menanyakannya?” Hiramasa makin curiga.

“Sejujurnya, aku meminjam uang dari tempat yang mengerikan, CowCow Finance …”

Tapi ucapan Numata dipotong oleh Hiramasa cepat, “Itu dari komik, ‘kan?” (Dari komik “Yamikin Ushijima-kun“) (Hiramasa ternyata gaul juga soal komik ya. Kirain dia bener-bener cupu dalam banyak hal.)

Karena terlanjur ketahuan bohong, Numata nyengir lebar. Ia pun mengatakan alasan lain, “Blogger kenalanku berkata dia mau menulis artikel tentang simpanan rata-rata insinyur sistem. Kira-kira kau ada di posisi mana?” Numata menyodorkan tampilan beberapa pilihan nominal uang di tabletnya pada Hiramasa.

Hiramasa ragu sejenak, tapi ia juga kemudian menunjuk salah satu nominal yang ada di sana.

“Terima kasih banyak, kau sangat membantuku,” Numata lalu berbalik pergi.

Ia pun mendatangi karyawan lain dan bertanya hal yang sama. Bodohnya, Numata mengatakan lagi soal Cowcow Finance pada karyawan lain juga. Hal ini makin membuat Hiramasa heran dan curiga.

“Untungnya orangtuamu memiliki kuailifikasi sebagai pengawas kebersihan makanan,” komentar Mikuri saat membantu Yassan mengatur botol-botol berisi selai sayuran yang sudah diberi label di depan toko.

Yassan mengaku hanya punya SIM. Dan soal pekerjaannya di kantor perfektur dulu, ia Cuma pegawai kontrak karena koneksi ayahnya. Jadi dia tidak punya sertifikat PNS. Mikuri sendiri baru tahu hal ini.

“Kau bergaul dengan teman-teman kuliahmu, dan kita ada di dunia yang berbeda. Saat aku tiba-tiba menikah dan menjadi ibu rumah tangga pun, entah kenapa aku merasa kau seperti memandangku rendah. Seperti “Itu hidup Yassan, jadi tak apa-apa.”” Curhat Yassan.

Mikuri menyesal. “Maaf. Sekarang aku baru menyadari nilai seorang ibu rumah tangga. Saat ini, karena aku digaji, aku bisa memandangnya sebagai pekerjaan dan melakukannya dengan sempurna. Namun, jika tidak demikian, aku tak tahu apa aku bisa berusaha sekeras ini. Kalian semua hebat. Saat bekerja, ataupun membesarkan anak. Dan tak ada yang memuji saat melakukannya. Seperti “tentu saja kau harus melakukannya.””

Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Pada dasarnya, pekerjaan fisik diberi kompensasi dalam bentuk gaji. Apa sebenarnya arti ibu rumah tangga?

Imajinasi Mikuri. Dengan pakaian khasnya, Mikuri tengah memegang kaca pembesar dan melihat pada kaligrafi bertuliskan ibu rumah tangga. Di layar harga kemudian muncul angka sekian juta yen. Angka yang sama dengan nilai gaji ibu rumah tangga dalam satu tahun, jika mendapatkan upah minimum daerah dari pekerjaannya.

Ibu rumah tangga tidak menerima imbalan dalam bentuk gaji. Akan tetapi, menurutku ini adalah pekerjaan hebat, yang mendukung keseluruhan rumah tangga. Buka harganya! Penghargaan untuk pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, bisa dibayar dengan apa? Apa melalui biaya hidup? Atau…

Numata rapat kembali dengan atasan kantor. Ia menyerahkan hasil pemeriksaannya tentang simpanan pegawai. Perdebatan pun terjadi karena hal ini. Ancaman restrukturisasi atau PHK paling santer akan dilakukan pada pekerja yang beban kerjanya sedikit. Tapi kalau memerhatikan data simpanan pegawai juga tidak bisa dikatakan valid. Karena belum tentu juga semua pegawai menjawab dengan jujur saat ditanya oleh Numata-san.

“Seperti yang bos bilang, kita berhentikan dari yang evaluasi kerjanya paling buruk.”

“Bagaimana dengan tujuh orang ini?”

“Hari ini aku merayakannya. Perayaan pembayaran sepuluh tahun KPR-ku,” ujar Hino-san. Saat diberi selamat oleh Hiramasa dan Kazami, Hino mengatakan lanjutannya. Kalau cicilan rumahnya masih dua puluh lima tahun lagi.

“Hal itu membuatmu kebas, ‘kan?” tanya Kazami kemudian.

“Sebenarnya membuatku gemetaran,” ujar Hino. Ia pun bertanya pada Hiramasa, apakah Hiramasa tidak akan beli rumah karena saat punya anak, maka rumahnya pasti akan sempit.

“Anak?” kaget sekaligus tersipu, Hiramasa spontan menutup wajahnya.

“Kenapa mukamu merah?” Hino-san heran.

“Tak ada apa-apa. Tak apa-apa.”

Sejujurnya, karena nama kami tak dalam satu kartu keluarga, kami bahkan tidak pada posisi untuk mempunyai anak. Namun, aku tak bisa mengatakannya. Hiramasa kembali teringat dengan kehidupan pribadinya bersama Mikuri.

Setela Hino-san pamit karena akan melanjutkan pekerjaan, Hiramasa tinggal mengobrol berdua dengan Kazami.

“Apa saat ini kalian sedang berusaha mempunyai anak?” tanya Kazami yang langsung dijawab tidak oleh Hiramasa. “Kenapa kau tidak mendaftarkannya?” kali ini suara Kazami sedikit lebih kecil.

“Aku belum pernah memikirkannya. Kupikir ini sesuatu yang takkan pernah terjadi di hidupku.”

“Yah, dengan keadaan sekarang lebih mudah, ‘kan? Justru karena ini kawin kontrak dan kau membayar gaji, kalian bisa saling menjaga dan hidup bersama,” ujar Kazami lagi.

Tapi Hiramasa dan Kazami tidak tahu, kalau ada seseorang yang menguping obrolan mereka, di belakang sofa. Dia adalah … Numata-san.

Sambil mengambilkan nasi untuk makan malam, Mikuri curhat kalau cookpad milik Numata tidak mengunggah resep baru.

“Dia sepertinya sibuk dengan sesuatu belakangan ini…Dia bertanya ke semua orang apa punya simpanan,” ujar Hiramasa.

“Apa mungkin dia sedang memulai sebuah bisnis?” tanya Mikuri. “Mengumpulkan dana untuk memulai bisnis. Misalnya, bisnis yang berhubungan dengan memasak. Kalau begitu dia bisa mencoba selai sayuran Yaoyasu, mendapatkan ide pencitraan dari Yuri, dan membuat bisnis yang menarik bagi semua orang, dari ibu rumah tangga hingga pemuda lajang yang trendi. Ah maaf, Aku membiarkan ide gilaku keluar.”

“Aku kagum kau bisa berpikir sejauh itu dalam waktu sesingkat ini,” puji Hiramasa. “Saat aku pergi ke Tateyama, ayahmu bertanya apa rumah orangtuaku memiliki ruang bawah tanah. Saat kubilang rumah kakek-nenekku punya, dia bilang “Apa ada harta karun? Kalau ada, aku akan mencarinya,” dan jika ada sesuatu yang berharga,” apa kau akan mengizinkanku mendaftarkannya ke acara TV tentang penaksiran harta karun?”” curhat Hiramasa.

“Ayahku selalu suka hal-hal seperti itu. Maaf tentang semuanya,” sesal Mikuri.

“Aku kagum. Keluargamu memiliki imajinasi yang benar-benar jelas,” puji Hiramasa lagi.

“Yah, kalau Anda berpikir begitu…” Mikuri tersenyum sambil meneruskan makannya.

“Akan tetapi, kalau kau tak menyarankan kawin kontrak, kita tak akan seperti ini sekarang. Tak peduli seberapa gila, kupikir imajinasi memiliki kemampuan untuk mengubah kenyataan,” ujar Hiramasa pula.

Cara Hiramasa memandang kegilaanku dan ilusi bodohku, menjadi kekuatan untuk mengubah kenyataan. Bahkan jika dia tidak berkata “Aku suka padamu,” mungkin ini kebahagiaan yang lebih dari cukup untukku.

“Ada seseorang… yang mengajakku kencan. Teman sekelasku waktu kuliah. Kepala penjualan di agensi periklanan,” curhat Yuri saat minum bersama Kazami di bar. Ia juga mengatakan kalau pria itu duda beranak satu.

“Yuri… kau akan menjadi ibu?” komentar si bartender.

“Mana mungkin. Dan kuyakin ini tak segampang itu. Akan tetapi, kau tahu, kalau aku menikahi seseorang yang punya anak, aku masih bisa punya anak. Aku baru menyadarinya.”

“Kau ingin punya anak?” tanya Kazami lagi.

“Dalam hal ini, aku punya Mikuri. Aku bisa merasakan rasanya punya anak perempuan. Ini yang terbaik, lho! Tak ada tanggung jawab, dan aku bisa hanya memanjakannya. Hanya hal-hal yang menyenangkan.” (wah Yuri Cuma mau enaknya punya anak nih. Nggak mau ribet dan repotnya)

Obrolan berlanjut soal kebahagiaan yang sebenarnya. Lalu soal bagaimana seseorang tahu yang orang lain tidak tahu atau sebaliknya.

Imajinasi Hiramasa ternyata tidak kalah kacau dengan Mikuri. Ia membaca ulang kontrak di komputernya, lalu pusing sendiri saat membaca klausa soal ‘kekasih’.

Saat membuat kontrak ini aku tak pernah membayangkankemungkinan sang majikan menjadi kekasih.(10.) Jika majikan menjadi kekasih. Sebelumnya, Mikuri pernah berkata…

Hiramasa teringat kembali kejadian malam itu. Saat Mikuri menyerahkan dirinya dan mengatakan tidak masalah jika Hiramasa melakukan ‘itu’ padanya. Tapi Hiramasa justru menolaknya. Hiramasa pun memandangi lukisan berisi gambar wajah Mikuri.

Akan tetapi, aku langsung menolaknya, dan perjanjian kami putus begitu saja. Sebenarnya, apa arti sebenarnya dari “aku tak apa-apa”? Apa mungkin … Apa Mikuri itu… perempuan yang bisa melakukan hal itu dengan seseorang yang tak disukainya?

Tapi Hiramasa buru-buru meralatnya. Tidak, aku tak boleh berpikir begitu. Aku tak mau berpikir begitu. Aku yang tak tahu malu untuk saat ini, berasumsi Mikuri menyukaiku. Hasil dari pemikiran Mikuri yang menghilangkan segalanya, adalah keputusan untuk kembali ke apartemen 303, katanya. Apa yang dia hilangkan dan apa yang dia pertahankan? Apa dia menyadari nilai Tsuzaki Hiramasa sebagai majikan? Atau nilai Tsuzaki Hiramasa sebagai kekasih? Berapa sebenarnya nilai Tsuzaki Hiramasa?

Gambar Hiramasa sedang menaksir nilai wajahnya sendiri pun muncul. Menyusul setelahnya nominal harga di layar yang juga keluar.

Hiramasa masih saja terus berpikir. Tidak bisa begini. Bahkan jika seseorang sepertiku berilusi, aku hanya bisa membayangkan hal yang negatif dan efeknya merugikan. Meski aku memutuskan untuk berhenti berpikir begitu negatif setiap saat….

Hiramasa terperangah kaget saat melihat Mikuri ada di pintu kamarnya. Mikuri membawakan teh untuk Hiramasa dan meletakkannya di meja Hiramasa. Mikuri pun langsung pamit pergi.

Hiramasa panik. Aku tidak mengucapkannya dengan keras kan?

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Ya, pekerjaan ibu rumah tangga memang masih sering diremehkan. Nggak semua wanita bangga dengan pekerjaan ini. Di negeri ini, hal tersebut juga terjadi. Kelana? Sejujurnya Na juga lebih suka menikmati dunia luar dibanding terus menerus berada di rumah. Nggak memungkiri, betapa mulia dan kerennya pekerjaan ibu rumah tangga itu. Tetapi kalau harus menjalaninya sendiri, kok masih berat ya.

Soal gaji ibu rumah tangga. Jadi kepikiran, tentang konsep ‘nafkah’ dan juga ‘uang belanja’. Ternyata ini dua hal yang sama sekali berbeda. Nafkah berarti pemberian suami untuk istri, yang bisa dipakai untuk mengusahakan kebutuhan pribadi si istri. Sementara ‘uang belanja’ adalah uang yang dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah, baik makan, kebersihan atau apapun yang berhubungan dengan rumah. Sayangnya, nggak semua paham konsep ini. Jadi, mereka pikir yang namanya nafkah ya uang belanja itu. Jadi nggak heran, banyak buibu yang nggak sempat merawat diri. Selain nggak sempat, kadang nggak kebagi juga uangnya, karena dari awal emang nggak dibagi. Hmmm … besok cari misua yang paham konsep ini deh. Biar duwit ‘nafkah’ bisa buat beli kuota, jadi bisa terus donlot dan nonton drama #eeeeeeh

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. Hahaiii,, Na curhat juga nih di akhir. Arigatou Na. Btw, klo aku tipe orang yg suka kerja di rumah daripada di luaran. Emang tipe orang beda2 yaa

Leave a Reply

Scroll To Top