Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 08 part 2

SINOPSIS Married as Job 08 part 2

SINOPSIS dorama Married as Job episode 08 part 2. Setelah insiden malam itu, Mikuri berusaha keras menghindari hari Selasa, hari pelukan. Dan kesempatan itu pun datang. Ibu Mikuri jatuh dan ia menjadikan alasan itu untuk pergi dari rumah, mengunjungi orang tuanya.

Sementara para pria memasak di dapur, para wanita di ruang makan membuat selai dari sayuran. Mikuri melapor kalau para pria tengah asyik mengobrol dan narsis terhadap diri mereka sendiri. Obrolan makin seru, terutama setelah mereka mengobrolan peran wanita. Antara bekerja, punya anak dan mengurus rumah.

Mikuri ingat masa kuliahnya. Kisah cintanya yang terpaksa kandas karena si pria merasa kalau Mikuri terlalu pintar dan suka ikut campur. Mikuri kemudian berpikir, kalau ia memang harus tinggal di Tateyama itu, maka ia akan coba jadi anggota dewan kota.

“Aku punya pertanyaan untuk kandidat anggota parlemen, Mikuri. Apa pendapatmu tentang wanita pekerja yang membesarkan anak?” tanya kakak iparnya.

Ibu Mikuri pun mengusulkan kalau mereka debat betulan saja. Dan inilah debat imajinasi yang dihadiri Mikuri, ibunya, kakak ipar dan juga Yassan. Debat tentang wanita yang bekerja dan membesarkan anak.

Moryama Aoi – kakak ipar : Tuntutan masyarakat saat ini berlebihan. Bekerja, melahirkan, membesarkan anak. Mereka menyuruh kami hidup anggun sebagai wanita, tetapi berapa pun tubuh yang kami miliki tak akan cukup. Akan tetapi, jika wanita tidak melahirkan, angka penurunan kelahiran akan semakin parah. Di sisi lain, sebagian kaum wanita ingin bekerja.

Moriyama Mikuri – kandidat anggota parlemen : Kalau begitu, bagaimana kalau semua orang melahirkan saat SMA? Dibandingkan membesarkan anak saat bekerja, kupikir lebih mudah membesarkan anak saat masih sekolah. Kita bisa membuat penitipan bayi di kelas kosong dan meninggalkan anak-anak di sana waktu sekolah. Lalu, menyusui saat istirahat. Meski mengambil cuti melahirkan, jika mengikuti kelas tambahan di libur musim panas kau bisa mengejar pelajaran di kelas. Kau bisa membuat baju atau makanan bayi di kelas Ekonomi Rumah Tangga, ‘kan? Ya. Dengan begitu, seluruh sekolah membesarkan anak…

Yassan – ibu tunggal : Itu ide yang menarik, tetapi kalau kau mengajukan diri dengan program tersebut, menurutku kau takkan terpilih.

Kembali ke dunia nyata.

“Setidaknya kau ingin menikmati masa muda di SMA…” lanjut Yassan

“Kalau begitu, kapan sebaiknya kita melahirkan? Apa sulit mencari waktu untuk menjadi anggota masyarakat sambil membesarkan anak?” ujar ibu Mikuri pula.

Akhirnya mereka sama sekali tidak menemukan kesimpulan apapun. Mereka berpikir kalau itu butuh kerjasama dengan pasangan. Bahkan kalau perlu, suami istri bergantian melahirkan.

Obrolan itu pun didengar oleh para pria. Chigaya berpikir obrolan mereka menjijikan.

Tapi reaksi ayah Mikuri justru berbeda, “Aku juga ingin melahirkan.”

Jawaban yang membuat ekspresi Chigaya kaget sekaligus jijik.

“Bersulang!”

Numata-san, Hino-san dan Kazami-san berkumpul serta minum bersama dan mulai mengobrolkan banyak hal. Termasuk sering absennya Hino-san dalam acara-acara mereka karena anaknya panas atau kena flu. Hino-san berpikir kalau kesempatan seperti ini sangat langka, saat ia bisa berkumpul bersama rekan-rekan kerjanya. Mereka merasa Hiramasa juga perlu diajak.

“Hiramasa, Selesaikan pekerjaanmu, lalu cepat ke sini!” ujar Hino-san saat panggilannya hanya tersambung pada pesan suara di ponsel Hiramasa. “Saat kau mendengar pesan ini, segera ke datang ke sini, ya!”

Rupanya Hiramasa masih ada di kantor. Ia pun mendengarkan pesan suara di ponselnya. Tapi tidak langsung mengambil keputusan. Kalau sekarang aku minum alkohol, mungkin aku akan mengatakan sesuatu yang tak seharusnya kukatakan. Akan tetapi, aku berutang pada Hino. Akan tetapi, kondisiku tidak bagus. Akan tetapi, Hino…

Hiramasa kembali memikirkan Mikuri. Kenapa aku begini? Karakter langka. Seorang laki-laki yang tidak bisa mengambil keputusan. Wajar saja Mikuri bosan denganku.

“Ah, akhirnya dia datang! Hai!” seru Hino-san saat melihat Hiramasa akhirnya tiba juga.

Numata-san mengatakan kalau ia juga mengundang Yuri-san. Tapi karena dia menyetir, Yuri tidak jadi ikut minum.

“Aku juga mau bertemu dengan mereka… Yuri and Mikuri,” ujar Hino-san.

“Aku tak tahu tentang Yuri, tetapi…kau takkan bisa bertemu dengan Mikuri lagi. Pasti,” ujar Hiramasa setelah meneguk minumannya. Situasi beruah menjadi canggung.

Masakan yang dibuat para lelaki akhirnya siap. Tapi ternyata hasilnya mengecewakan, bahkan hanya dapat satu bintang saja. Kakak ipar Mikuri bahkan minta suaminya untuk membuatkannya lagi di rumah, dengan ancaman dijepit di tembok seperti tadi.

“Semua salahmu, Yassan,” keluh Chigaya pula.

“Oi, lama-lama dingin. Ayo makan!” ujar Mikuri. Dan mereka pun makan malam bersama dengan lahap malam itu.

“Kazami, bagaimana dengan pekerja di rumahmu? Apa yang terjadi? Kau mengatakannya, ‘kan? Kau suka padanya,” ujar Hino-san.

“Yah, dia tiba-tiba minta cuti seminggu. Kupikir tak sesederhana itu. Dia orang yang bertanggung jawab atas ucapan dan tindakannya. Sepertinya ada sesuatu yang rumit,” ujar Kazami-san.

“Misalnya apa?” lanjut Hino-san.

“Aku tak tahu sejauh itu,” Kazami menjawab sambil melihat ke arah Hiramasa.

“Kalau tak tahu, tolong jangan berkomentar apa-apa,” ujar Hiramasa setelah meneguk minumannya.

“Aku tak tahu keadaannya…tetapi mungkin aku lebih mengenalnya darimu. Kau bisa bilang aku memperhatikannya,” ucap Kazami sambil menatap Hiramasa tegas.

Hiramasa pun tidak teriama diam saja, “Aku tak tahu apa yang kau lihat, tetapi mungkin saja kita berdua melihat hal yang berbeda? Aku dan kau berbeda. Aku bukan orang yang penuh percaya diri dan mencari ribut dengan sarkasme di tempat seperti ini. Cara kita hidup dan cara pandang kita, semuanya berbeda. Kita pada dasarnya… tidak sama.”

Suasana benar-benar jadi canggung antara Hiramasa dengan Kazami. Sementara itu Hino-san dan Numata-san sibuk memperbaiki situasi. Mereka mencoba mengalihkan pembicaraan.

Hino-san, Numata-san dan Kazami-san mengantarkan Hiramasa masuk ke mobil Yuri-san. Sementara itu, Kazami juga ikut masuk ke dalam mobil, karena merasa bertanggungjawab.

“Yang benar saja, apa yang kaulakukan di umurmu itu?” keluh Yuri-san.

Hiramasa tertidur di jok belakang. sementara itu Hino-san dan Numata-san ternyata melanjutkan acara mereka malam itu. Season kedua minum-minum.

“Apa Ibu tak terlalu kejam pada Ayah? Meski aku paham Ibu ingin Ayah sedikit membantu mengerjakan pekerjaan rumah di masa pensiunnya,” ujar Mikuri sambil mempersiapkan futon untuk tidurnya dan ibunya malam itu.

“Bulan lalu aku menjalani pemeriksaan kesehatan reguler. Aku tak memberitahukan Ayahmu, tetapi ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali sehingga aku melakukan pemeriksaan menyeluruh.”

Mikuri sudah tegang menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan ibunya, “Lalu?”

“Tidak ada apa-apa. Sebelum hasilnya keluar aku sangat khawatir, memikirkan ini dan itu. Jika aku mati lebih dulu, bagaimana dengan ayahmu? Jadi, kupikir ini kesempatan bagus.”

“Kalau begitu, katakan saja,” saran Mikuri.

“Jika membahas kemungkinan aku meninggal duluan, dia akan khawatir, ‘kan? Seperti aku benar-benar sekarat.”

“Bahagianya, dicintai seperti itu,” ujar Mikuri pula.

“Aku memang mencintainya. Kami berdua sama-sama berusaha. Kau tak bisa mendedikasikan diri pada cinta yang tak berbalas. Kami ini orang asing, lho. Akhirnya kau bilang juga.”

“Mereka sering berkata tentang “jodoh,” tetapi kupikir tak ada hal seperti itu,” ujar Mikuri lagi.

“Orang yang ditakdirkan untukmu…harus diusahakan. Tak bisa melanjutkan karena tak ada ketetapan hati itu menurutku sama saja di pekerjaan dan di rumah tangga.”

“Berkat Tsuzaki, aku jadi ingat sesuatu dari masa lalu,” ujar Kazami yang duduk di sebelah Yuri.

“Apa itu cerita yang menarik?”

Kazami mengatakan tidak. Yuri memberi saran kalau itu tidak usah diceritakan. Tapi ternyata Kazami sudah mulai ceritanya.

“Pacar pertamaku…adalah seseorang yang bisa dibilang biasa. Aku sangat menyukainya. Akan tetapi, suatu hari…”

Si gadis mengatakan kalau ia tidak bahagia bersama Kazami. Selama ini Kazami keren, atlet yang baik serta populer di kalangan gadis-gadis. Si pacar ternyata merasa rendah diri. Dan akhirnya mereka pun putus.

“Aku tak bisa melakukan apa-apa. Meski kurangnya rasa percaya diri adalah masalahnya sendiri, mungkin aku seharusnya berkata…’Tak peduli seberapa banyak orang yang tak suka padamu, aku tetap menyukaimu’. Meski dia tidak memikirkan perasaanku sama sekali. Baginya yang hanya memperhatikanku, apa yang seharusnya kukatakan?”

Tapi Yuri maupun Kazami tidak sadar, kalau di kursi belakang Hiramasa tidak benar-benar tertidur. Hiramasa mendengarkan semua obrolan mereka.

Hiramasa tiba kembali di apartemennya. Setelah minum air, Hiramasa membuka lemari es. Ia mengambil salah satu kotak berisi makanan yang disiapkan Mikuri untuknya.

Sarapan 1: Nasi putih, Omelet dashi, Makerel asin bakar, Gobo masak gula & kecap asin. Tolong panaskan dulu sebelum makan, ya! Semangat untuk hari ini!

Sarapan 2: Nasi putih, Omelet dengan daun bawang, Sayuran akar rebus, Wortel parut. Wortel hari ini manis. Enak sekali!

Makan Malam 1: Nasi berbumbu, Terung goreng, Labu manis. Nasi berbumbu dimasak dalam kaldu yang dibuat dengan baik, sangat cocok dengan makanan pendamping.

Makan Malam 2: Omelet dengan saus hayashi, Brokoli, Sayuran akar tumis bawang putih. Terima kasih atas kerja keras Anda. Sekarang Anda bisa berendam di air 38°C!

Makan Malam 3: Ikan sauri pasifik panggang bumbu kecap asin, Bakso ayam gula-kecap asin, Tumis sayuran akar dalam cuka hitam. Hari ini ada banyak sayuran akar musim gugur. Bahkan akar teratai pun ada!

Makan Malam 4: Nasi goreng, Sayuran, Siomay bokchoy, Wortel parut. Terima kasih atas kerja kerasnya. Hari ini masakan Cina. Sangat bergizi, lho!

Hiramasa memandangi makanan yang sudah disiapkan Mikuri untuknya. Di atasnya selalu ada pesan yang ditulis Mikuri. Hiramasa mengeluarkan semua makanan itu dan mulai memakannya.

Aku penasaran bagaimana perasaannya saat membuat semua ini. Apa yang dia rasakan saat meninggalkan rumah ini, ya? Waktu itu apa yang dipikirkan Mikuri? Aku terlalu memikirkan perasaanku sendiri, sampai-sampai tidak mau menyentuh makanan yang ditinggalkannya untukku.

Di malam yang sama, Mikuri berdiri di luar rumah orang tuanya. Ia memandangi langit, masih memikirkan hubungannya dengan Hiramasa dan bagaimana kelanjutannya nanti.

Terus mencintai seseorang dengan tulus, mungkin adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Kau tak bisa mengubah perasaan seseorang, tetapi, kau yang memegang kendali hidupmu.

Setelah mengantarkan Hiramasa, Kazami masih mengekor Yuri masuk ke dalam mobil. Mereka melanjutkan obrolan soal mobil. Menurut Yuri, punya mobil itu perlu. Tapi bagi Kazami, itu tidak penting. Karena mereka sudah bisa pergi ke berbagai tempat dengan kereta dan bus. (coba di negeri ini orang mikirnya gitu ya. Kali … jalanan nggak bakalan macet. kekekeke)

“Namun, kau tahu, kau bisa pergi jauh, lebih jauh dari yang kaukira,” komentar Yuri kemudian.

Pagi berikutnya rumah sudah lebih sepi. Kakak Mikuri, Chigaya dan keluarga kecilnya sudah kembali ke rumah mereka sendiri. Sementara Mikuri masih membantu ayahnya menjemur pakaian di luar. Ibu Mikuri memerhatikan mereka semua dengan senyum di wajah.

“Semua orang tiba-tiba pulang. Sepi, ya….”

“Mikuri. Tidak apa-apa kalau kau mau di sini selamanya,” ujar ibu Mikuri saat melepas putrinya itu pergi lagi.

“Terima kasih.”

Mikuri masih ada di jalan saat ponselnya berbunyi. Dari Hiramasa. (ini adegan telepon pertama kali Mikuri-Hiramasa selama delapan episode, ckckck). Hiramasa menyapa dari seberang. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka bicara agak serius. Mikuri mengatakan kalau ia punya hal yang ingin dibicarakan.

“Apa pun kesimpulan Anda, aku yakin dengan perasaanku. Aku mencoba menguraikan perasaanku. Jika aku menghilangkan hal-hal yang tak perlu, apa yang tersisa? Untuk pekerjaan dan juga gaji, apa yang kuinginkan dan apa cita-citaku, aku memikirkan berbagai macam hal, dan juga…”

“Tunggu sebentar. Setelah kupikirkan lagi, tolong izinkan aku berbicara lebih dulu,” potong Hiramasa.

Keduanya berdebat soal siapa yang harus bicara lebih dulu. Hiramasa merasa dirinya yang harus bicara lebih dulu, karena dirinyalah yang menelepon.

“Aku…tak punya pengalaman dengan perempuan. Meski begitu, aku hidup tanpa berpikir itu sesuatu yang buruk. Akan tetapi, malam itu hal pertama yang kupikirkan adalah bagaimana kalau aku gagal? Aku juga berpikir betapa menyedihkannya aku dibimbing oleh seseorang yang sepuluh tahun lebih muda. Bagaimana perasaanmu setelah ditolak sama sekali tak terpikirkan. Maaf. Aku juga takut kau akan tahu aku tak berpengalaman,” curhat Hiramasa.

“Aku sudah tahu,” ujar Mikuri dari seberang. “Aku sudah tahu sejak lama. Dari obrolan dengan ibumu, aku menggabungkan kepingannya dan menyimpulkannya. Bagiku itu bukan masalah besar. Akan tetapi, penolakan itu benar-benar membuatku sangat kaget. Aku pikir mungkin aku bisa menjadi anggota dewan Kota Tateyama.”

“Anggota dewan kota?” Hiramasa heran. Ia melirik ke arah poster tentang seorang dewan kota, tepat di depan gedung yang juga pernah Mikuri lihat.

“Aku bertemu seorang anggota parlemen perempuan yang seumurku dan berpikir aku bisa juga menjalani kehidupan seperti itu. Saat berpikir begitu aku merasa lega.”

Mikuri menarif napas sebelum bicara lagi, “Tak apa-apa gagal di jalan yang sedang dijalani. Sekarang, aku berpikir untuk kembali ke apartemen 303. Itu adalah jawaban yang kudapat saat semuanya kuhilangkan. Mungkin ini akan mengganggumu, tetapi aku tak ingin mengakhirinya seperti ini. Aku ingin bertemu lagi dengan Anda dan berbicara serius…”

“Kita bisa bertemu!” seru Hiramasa girang. “Aku sekarang di sini, sangat dekat. Bertemu, lalu berpelukan hari Selasa!” Hiramasa langsung berlari menuju rumah Mikuri.

Saat tiba di kediaman keluarga Mikuri, Hiramasa disambut oleh ayah Mikuri yang sangat girang atas kedatangan menantunya ini.

“Hiramasa, Anda sekarang di mana?” tanya Mikuri heran.

“Di mana? Tateyama…” ujar Hiramasa.

“Aku sekarang di depan rumah kita! Hiramasa, pelukannya?”

“Saat ini aku sedang dipeluk…oleh ayahmu.” Hiramasa berusaha bicara lewat telepon dalam pelukan ayah Mikuri. (Hiramasa kan kecil ya, sementara ayah Mikuri ini tinggi besar. Jadi keliatan lucu gitu, kayak meluk anak kecil #ups)

“Eeeeeeh?!” seru Mikuri kecewa parah.

Mikuri akhirnya melanjutkan langkahnya menuju apartemen Hiramasa. Ia masuk dan menemukan kotak plastik berisi makanan yang disiapkan oleh Mikuri sudah kosong dan bersih. Mikuri tersenyum lega oleh hal itu.

Malam itu Hiramasa ditahan oleh orang tua Mikuri. Mereka bertiga makan malam bersama. Bahkan meminta Hiramasa untuk menginap saja. Kedua orang tua Mikuri sangat bersemangat menunjukkan foto-foto kenangan Mikuri saat kecil, termasuk video olahraga Mikuri yang mereka rekam.

Hiramasa mencoba bersikap tertarik. Tapi dalam hati, ia tidak sabar lagi. Hiramasa pun mengirim pesan pada Mikuri. Maaf, sepertinya aku tak bisa pulang hari ini.

Maaf, orangtuaku terlalu memaksa. Mendapat pesan seperti itu, Mikuri membalasnya dengan cepat.

Keduanya akhirnya bertukar pesan sambil terus tersenyum menatap ponsel mereka masing-masing. Hiramasa yang tidak sabar ingin segera pulang. Lalu Mikuri yang mengatakan akan menunggu Hiramasa dan berpikir untuk masak apa saat Hiramasa kembali esoknya.

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Aduh, kopel satu ini makin lama makin manis aja sih. Kalau dibiarin terus, ntar diabetes deh. Etapi etapi, ini kan baru episode 8 ya. Masih banyak kejutan menanti di episode berikutnya lho. #ehe. Sampai jumpa minggu depan ya.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top