Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 08 part 1

SINOPSIS Married as Job 08 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 08 part 1. Mikuri berusaha bersikap baik-baik saja meski sudah ditolak malam itu. Tapi ternyata semua tetap sulit. Dan hari selasa, hari berpelukan pun datang. Mikuri berpikir untuk menghindari hari itu.

Untuk pertama kalinya, Mikuri mangkir dari pekerjaannya. Apakah ini berarti Mikuri sudah tidak sanggup lagi bekerja menjadi ‘pekerja rumah tangga’ bagi Hiramasa?

Hiramasa makan siang di kantor. Tapi kali ini ia hanya makan nasi kepal. Tidak ada bekal dari Mikuri. Hino-san yang ikut bergabung menyadari hal itu. Ia menebak kalau Hiramasa tengah bertengkar dengan Mikuri, jadi tidak ada bekal makan siang.

“Hino, kau tak mengerti apa-apa, ya?” Numata-san tiba-tiba ikut bergabung dengan bekal makan siangnya sendiri juga. “Kau sama sekali tak mengerti rahasia bekal Hiramasa selama ini. Bekal Hiramasa selama ini…dibuat oleh Tsuzaki sendiri. Seperti membeli cokelat untuk dirimu sendiri pada Hari Raya Valentine…dan menaruhnya sendiri di lokermu.”

“Aku takkan melakukannya,” komentar Hino-san cepat.

Hiramasa sendiri tidak banyak berkomentar hari itu. Ia Cuma melihat Numata-san, tanpa minat untuk membalas ucapannya.

“Bagaimanapun, ini menjelaskan semuanya. Mikuri itu…hanya istri sewaan. Kau hanya menyewanya saat akan bertemu kami.”

Hiramasa kaget saat Numata-san menebaknya seperti itu. Meski benar, Hiramasa sudah tidak terlalu kaget. Kekagetannya pun tidak ditangkap oleh Numata-san atau Hino-san.

Justru Kazami yang panik karena tahu juga soal rahasia ini. “Numata…Hiramasa dan Mikuri yang seperti ini sebenarnya mesra, lho.”

Hiramasa benar-benar tidak berkomentar apapun. Dia justru mengingat-ingat peristiwa malam itu.

Malam itu…Sejak saat itu, Mikuri bersikap seperti tak ada yang terjadi. Akan tetapi, malam itu saat aku pulang ke rumah, Mikuri sudah pergi

Rumah dalam situasi gelap saat Hiramasa pulang malam itu. Ia tidak mendapati Mikuri di manapun. Alih-alih, Hiramasa justru menemukan catatan yang ditinggalkan Mikuri di meja. Ya, Mikuri pergi dari rumah Hiramasa malam itu.

Kazami keluar makan malam bersama Yuri-san. Sepertinya insiden Mikuri yang pergi dari rumah Hiramasa juga sudah mereka ketahui.

“Aku juga tak tahu pasti. Saat dia datang untuk bebersih di hari Senin, dia tak berkata apa pun. Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” tanya Hiramasa.

“Hari itu juga. Senin malam di stasiun, saat dia pulang dari tempatmu. Dia bilang dia mau mengembalikan anggur es yang kuberikan padanya,” cerita Yuri-san.

Malam itu Mikuri sengaja menunggu Yuri-san. Ia kemudian mengembalikan anggur yang pernah diberi oleh Yuri-san. Mikuri tahu anggur itu mahal, dan dia tidak mungkin membuangnya. Jadi Mikuri memilih mengembalikannya pada Yuri.

“Melihatnya… membuatku ingin mati,” ujar Mikuri malam itu.

Yuri mengingat-ingat apa yang dikatakan Mikuri saat mereka bertemu. “Aku tak mengira anggur es bisa memojokkan seseorang sejauh itu, tetapi….Pasti ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Hiramasa, ‘kan ya?”

Kazami mulai berkomentar soal hubungan Hiramasa dan Mikuri, yang sebenarnya adalah bisnis. Tetapi kalimatnya tidak langsung, hanya menggunakan perumpamaan. Ia berpikir, kalau itu adalah dirinya dan Mikuri, tentu situasi tidak akan ribet seperti ini. Yuri-san protes karena lagi-lagi Hiramasa bicara dengan kalimat perumpamaan yang membuatnya bingung.

“Kalau khawatir, kenapa kau tak coba meneleponnya?” saran Hiramasa kemudian.

Yuri pun menelepon Mikuri, dan bertanya kapan Mikuri akan kembali.

“Aku tak bisa kembali sekarang,” ujar Mikuri dari seberang.

“Kenapa?”

“Karena ada kemungkinan cerai,” ujar Mikuri pula.

“Kemungkinan cerai?!” Yuri kaget. Rupanya Kazami yang ikut menguping di sebelahnya juga kaget. “Ternyata, sudah separah itu?”

“Kelihatannya lebih serius dari yang kukira…” lanjut Mikuri. Ia memandangi kedua orang tuanya yang tengah bertengkar soal cucian yang luntur akibat tidak dipisahkan saat mencuci.

“Maaf, nanti kuhubungi lagi,” Mikuri pun menutup teleponnya.

(jadi, yang sebenarnya dibahas oleh Mikuri ‘rawan’ cerai ini adalah orang tuanya. Mereka sedang bertengkar hebat karena cucian. Selama ibu Mikuri sakit akibat terjatuh, semua pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh ayah Mikuri. Tapi ternyata pekerjaan itu tidak selesai dengan baik. Dan kini mereka bertengkar)

Mikuri menyusul ayahnya yang tengah duduk di teras menatap langit, “Sudah kubilang, jangan khawatir. Ibu hanya sedikit kesal.”

“Sedikit?”

“Yah, lumayan kesal,” Mikuri meralatnya. “Karena dia selalu sehat dan tak pernah cedera sebelumnya, kupikir dia merasa kesal sendiri.”

“Aku senang kau datang ke sini, Mikuri,” ujar ayah Mikuri.

“Aku juga terbantu, kok.”

Mikuri juga masih mengingat-ingat kejadian malam itu.

Malam itu…Sejak saat itu, aku mencoba untuk hidup seperti tak terjadi apa pun. Namun, apa pun yang kulakukan, kenangan malam itu…. Meski begitu, aku ingin melupakannya, dan mencoba sekuat tenaga untuk memikirkan hal lain.

Mikuri melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Saat mencuci, ia kembali ingat kejadian malam itu. Saat bersih-bersih rumah dan melihat ke arah sofa, Mikuri ingat kejadian malam itu di atas sofa. Saat mencuci piring dan melihat anggur es yang masih tersisa di dapur, Mikuri kembali ingat kejadian malam itu. Itulah alasan Mikuri memilih mengembalikan anggur es-nya pada Yuri-san lagi. Mikuri juga sampai pada situasi sulit tertidur.

Imajinasi Mikuri. Kali ini ia menjadi seorang atlet, tetapi karena satu dan lain hal ternyata gagal mencapai targetnya.

Aku mengacaukannya. Itu adalah kesalahan mendasar. Kalau saja aku tak mengatakannya, hari itu akan berakhir dengan suasana menyenangkan. Aku jadi tamak, ingin lebih dekat. Aku yakin akan diterima…. Aku wanita yang tersakiti…. Maaf.

“Kalau begitu, bagaimana perasaanmu pada Hiramasa saat ini?” tanya sang reporter lagi.

Dia orang yang hebat dan aku sangat menghormatinya. Mulai sekarang aku akan menjaga jarak dan bekerja dengan teliti.Terima kasih.

Aku bisa! Begitu seharusnya. Aku yakin jika aku memikirkan malam itu sebagai suatu acara lawak, dan mengirimkannya ke dalam anganku, aku pasti bisa melupakannya. Meski demikian, hari pelukan datang tanpa ampun.

Mikuri melepas kepergian Hiramasa ke kantor seperti biasa, dengan senyum terkembang. Tapi setelah Hiramasa pergi, Mikuri terduduk dil lantai, lemas. Ia sudah berusaha untuk baik-baik saja, tapi ternyata sulit.

Ponsel Mikuri bebunyi, dari kakaknya, “Katanya ibu patah tulang. Dia jatuh dari tangga dan perlu dua bulan untuk menyembuhkannya.”

“Duh, gawat! Bagaimana dengan pekerjaan rumah?” Mikuri khawatir.

“Ayah yang melakukannya. Selain kakinya, ibu tak apa-apa, jadi jangan khawatir dan tak usah ke sana,” ujar kakak Mikuri lagi.

Tapi Mikuri berpikiran lain. Ia tidak menuruti saran kakaknya itu. Mikuri pun berbelanja banyak bahan makanan lalu mulai memasak. Ada deretan menu lengkap yang dibuat oleh Mikuri dan dimasukkan dalam kotak plastik. Mikuri lalu memasukkan kotak-kotak plastik berisi makanan itu ke dalam lemari es.

Setelahnya Mikuri melakukan pekerjaan lain. Termasuk menyetrika baju. Sadar kalau sudah jam 6 sore, Mikuri pun menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah siap pergi dengan tas baju dan jaket di badan. Mikuri tidak lupa menulis catatan yang ia tinggalkan untuk Hiramasa di meja.

Saat bekerja, di sekolah, dan klub sekolah, aku sekali pun tak pernah tak masuk. Itu satu-satunya kebanggaanku. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku mengabaikan pekerjaan, jadi paling tidak aku harus mempersiapkannya dengan sempurna.

Untuk Hiramasa, Kaki ibuku patah, dia memintaku datang apa pun yang terjadi, jadi aku pergi ke Tateyama. Aku sudah menyiapkan makanan di kulkas.Hari itu adalah hari Selasa, hari pelukan.

Mikuri menunggu bisa di halte. Saat sebuah bis berhenti, Mikuri naik dari pintu depan. Ternyata itu bis yang sama, yang digunakan oleh Hiramasa. Tapi Hiramasa turun dari pintu tengah, jadi mereka tidak bertemu.

Apa pun akan kulakukan asal aku bisa melarikan diri. Asal aku bisa lari dari hari Selasa. Asal aku tak perlu melihat diriku yang menyedihkan. Aku mungkin takkan pernah bisa kembali. Sisi lain diriku berkata bahwa ini juga bagian dari hidup. Mikuri melamun di kursi yang membawanya mengarungi malam di atas bis menuju Tateyama.

Ayah Mikuri menyajikan makanan untuk Mikuri dan ibunya. Masih seperti kemarin, ibu Mikuri terus saja protes soal pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh ayah Mikuri.

“Seharusnya aku lebih banyak menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” keluh ibu Mikuri.

“Aku membantu sedikit. Membuang sampah.”

“Itu bukan pekerjaan rumah tangga!” Mikuri juga ikut protes.

“Membersihkan kamar mandi, kadang-kadang.”

“Seberapa sering kadang-kadang?”

“Sebulan dua kali.”

Pertengkaran kedua orang tua Mikuri masih saja berlanjut. Sampai akhirnya ada yang datang dan membuat mereka berhenti. Istri dari kakak laki-laki Mikuri, bersama anaknya yang masih kecil Kozue!

Ayah Mikuri lalu turun menyambut dan langsung menggendong cucunya itu. Sementara kakak ipar Mikuri ikut bergabung dalam rumah.

“Bu, apa kakinya baik-baik saja?” sapa kakak ipar Mikuri.

“Baik, baik.”

Dan curhat soal pekerjaan rumah tangga yang dilakukan para suami pun berlanjut. Kakak ipar Mikuri juga mengaku kesal karena kakak laki-laki Mikuri juga tidak mau membantu pekerjaan rumahnya. Saat pulang kerja dia mengaku capek dan malah minta dipijat. (kayaknya ini masalah semua kaum hawa ya. Yang dibutuhkan istri itu nggak selalu barang mahal atau uang banyak. Tapi perhatian suami sama pekerjaan istri di rumah, yang nggak pernah ada habisnya. Sukur-sukur mau bantu-bantu)

“Yah, untuk sementara tak masalah, tetapi bulan depan aku akan kembali bekerja,” ujar si kakak ipar.

“Jadi kau sudah menemukan Kelompok Bermain!”

“Akan tetapi, bekerja, mengasuh Kozue, bahkan mengasuh Chigaya (kakak laki-laki Mikuri).NAku tak tahu apa aku bisa melakukan semuanya,” curhat kakak ipar Mikuri lagi.

“Maaf aku yang tak benar membesarkannya,” sesal ibu Mikuri.

Berbeda kakak iparnya, berbeda juga dengan Mikuri. Selama ini Mikuri berpikir pekerjaan rumah tangga seperti sebuah hobby, jadi dia santai saja melakukannya tanpa beban.

Ibu Mikuri mengingatkan kalau cucian sudah selesai. Tadinya Mikuri ingin membantu, tapi dilarang oleh ibunya. Akhirnya si kecil Kozue yang dibawa masuk dan ayah Mikuri yang melanjutkan menjemur cucian di luar. Ibu Mikuri yang masih saja khawatir bahkan mengajarinya cara menjemur pakaian.

Di dalam, kakak ipar Mikuri curhat pada Mikuri. Ia ingin tahu juga bagaimana dengan rumah tangga Mikuri. Mikuri cukup kaget, tapi ia mengatakan kalau Hiramasa cukup banyak membantunya.

Aku digaji untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku tak bisa mengatakannya di depan orang-orang yang melakukannya tanpa bayaran. Ujar Mikuri dalam hati.

Yuri rapat bersama kedua bawahan langsungnya itu. Yuri mengatakan kalau tim mereka akan kekurangan orang karena ada karyawan yang akan cuti melahirkan. Dua bawahannya itu kesal karenanya. Tapi Yuri tampak tidak terlalu terganggu. Bahkan meski resikonya, Yuri akan semakin banyak pekerjaan setelah ini.

“Maaf, tetapi aku tak punya pandangan seperti itu lagi. Rasa terima kasih. Terima kasih telah mewakiliku melahirkan! Saat kau seusiaku ini, kau tidak lagi iri atau yang lainnya!” Yuri tiba-tiba menjadi begitu bersemangat. Ia bahkan meminta kedua karyawannya ini agar jangan menggerutu. “Saat ini, perusahaan yang memahami cuti melahirkan itu bagus. Selain itu, memiliki program kesejahteraan berarti kalian masih aman.”

Sebenarnya sih yang disidang Numata-san. Tapi entah kenapa, terkesan sebaliknya. Numata justru menanyai para atasannya soal keadaan perusahaan. Rupanya ia curiga kalau belakangan situasi perusahaan sedang tidak terlalu baik. Rupanya dulu Numata-san pernah menjadi instruktur nasional, jadi dia paham benar situasi yang terjadi dengan perusahaan hanya dengan melihat gelagat yang mencurigakan.

Perusahaan ternyata sedang ada masalah. Saham salah satu klien mereka akan dibeli. Jadi, ada kemungkinan perjanjian bisnis akan dibatalkan. Dan artinya, 40% penjualan mereka akan hilang. Bos punya ide, kalau mereka perlu memecat beberapa karyawan untuk mengurangi pengeluaran. Situasi lebih buruk dari perkiraan.

Numata melamun di mejanya. Makan siang di tangan pun dibiarkan tidak tersentuh. Saat Hino-san menegurnya, Numata-san justru menghindar.

“Bisakah kau menjauh dariku?” pinta Numata-san.

Hino-san bertanya pada Kazami yang juga ada di pantry dan tengah mengambil kopi. Tapi sepertinya Kazami juga tidak mengerti dengan yang tengah terjadi. Numata-san yang biasanya ceplas-ceplos saat berbicara, kali ini benar-benar tampak diam. Hino-san juga heran karena Hiramasa tidak tampak di manapun.

Kemana Hiramasa? Dia makan siang sendirian di taman dekat kantor. Rupanya Hiramasa menghindar dari rekan-rekannya yang masih kepo soal hubungannya dengan Mikuri.

Sebuah pesan masuk di ponsel Hiramasa, dari ibunya. Di sana ada foto ibu Hiramasa dengan seorang anak kecil. Tulisan di bawahnya mengatakan kalau itu adalah cucu tetangga, dan ibu Hiramasa ingin tahu kapan ia juga bisa menggendong cucu seperti itu.

Hiramasa memandang orang-orang yang lalu lalang di taman itu bersama anak-anak kecil. Ibu… maaf. Anakmu tidak dalam posisi bisa mempunyai anak, bahkan belum berdiri di garis start. Aku hanya berhasil memeluk dan menciumnya. Aku tak bisa mengimbangi Mikuri yang sepuluh tahun lebih muda. Aku tak seharusnya melewati batas.

Hiramasa ingat momen saat ia dan Mikuri piknik di taman itu juga, dalam rangka membuat Yuri percaya kalau mereka adalah pasangan. Saat itu Mikuri memeluk Hiramasa dan mengatakan kalau Mikuri akan berada di pihaknya seterusnya. Andai saja kami bisa selamanya seperti itu. Aku ingin menghilangkan kekhawatiranku dengan angan-angan sepertimu, tetapi aku tak bisa berimajinasi seperti itu.

Mikuri jalan-jalan sendirian di kampung dekat pantai itu. Ia menemukan seekor kucing dan mengelusnya. Kucing itu menurut saja. Suasana yang benar-benar damai.

Akan tetapi, tak ada pekerjaan di daerah ini. Hidup di sini seperti ini, Kalau itu terjadi…

Mikuri mengimajinasikan dirinya yang tinggal di Tateyama setelah beberapa lama dan jadi pengangguran. Dia menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk main game, nonton tv, tidur dan bersantai-santai. Semuanya serba kacau dan berantakan.

Tapi Mikuri segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Situasi seperti itu sepertinya tidak cocok dengannya. Mikuri pun memutuskan kalau ia tetap harus mencari pekerjaan.

Mikuri melanjutkan perjalanan. Ia pun kemudian menemukan sebuah poster. Di sana ada gambar seorang wanita seusia dengannya, yang bekerja jadi anggota dewan kota Tateyama.

“Jadi ada juga pilihan seperti ini,” komentar Mikuri.

Mikuri kemudian melihat seorang wanita keluar dari sebuah gedung. Ia lalu menyadari kalau wanita itu adalah wanita yang sama dengan yang ada dalam poster. Mikuri segera mengejar wanita itu.

“Noguchi Mayu! Aku benar-benar ingin bertemu dengan Anda!”

Yassan menurunkan sayuran dari truknya. Rupanya ia mengantar belanjaan ke rumah keluarga Mikuri. Hirari tidak tampak bersama Yassan. Dan Yassan mengatakan kalau Hirari dijaga oleh neneknya.

“Aku mau makan chikuzenni!” ujar ibu Mikuri pada ayah Mikuri. (chikuzenni: semur ayam dengan talas, wortel, dan lain-lain.)

“Apa tak bisa sesuatu yang lebih mudah?” protes ayah Mikuri. Tapi ibu Mikuri tidak mau dengar ia tetap berkeras ingin makan makanan itu. Ayah Mikuri pun mengalah dan menurut.

Mikuri pun menyeret Yassan sedikit menjauh dari keluarganya. “Tentang kawin kontrak itu rahasia, oke?” pinta Mikuri.

“Oke.”

Tidak lama setelahnya, kakak laki-laki Mikuri, Chigaya juga datang. Ia merasa kalau rumah terlalu ramai oleh banyak orang. Chigaya mengenali Yassan dan mulai menyebut-nyebut soal Yassan yang dulunya yankee.

“Kakakmu sama sekali belum berubah,” komentar Yassan kesal. Ia bicara pada Mikuri.

“Kau boleh menjepitnya di tembok,” ujar Mikuri.

Kakak ipar Mikuri bingung. Yassan lalu memberikan contoh menjepit di tembok, artinya memegang kerah baju lawan mereka dan memandangnya tajam, kasar.

Ayah Mikuri pun punya ide kalau mereka juga perlu menelepon Hiramasa. Tapi Mikuri buru-buru melarangnya dengan alasan biaya telepon yang mahal. Tapi Chigaya menyiram garam. Ia menebak kalau Mikuri tengah bertengkar dengan Hiramasa dan membuat situasi makin runyam.

“Kau harus memperlakukan suamimu yang lelah dengan lebih banyak kebaikan dan rasa hormat,” saran Chigaya.

Mikuri yang kesal menoleh ke arah Yassan, memberi isyarat kalau Mikuri mengijinkan Yassan menjepit kakak laki-lakinya yang reseh itu.

Tapi, Yassan bahkan belum bertindak, kakak ipar Mikuri yang bertindak lebih dulu. Ia menarik kerah baju suaminya dan menyudutkannya ke tembok. “Tolong… berlakulah yang pantas!” teriak kakak ipar Mikuri, membuat seisi rumah terdiam dengan sikapnya yang tiba-tiba. Chigaya sendiri kaget luar biasa melihat istrinya yang tiba-tiba menjadi galak seperti itu.

Sebagai hukuman, Chigaya pun harus membantu ayahnya menyiapkan makan malam untuk mereka semua.

“Aku bahagia, lho,” ujar ayah Mikuri.

“Akan lebih baik kalau orang-orang di sekitarmu bahagia. Kalau kau sendiri tak bahagia, kau tak bisa membuat orang lain bahagia,” komentar Chigaya pula.

Ayahnya kaget mendengar Chigaya bicara seperti itu, “Kau… mengatakan sesuatu yang bagus, ya.”

“Karena aku putramu.”

Ayah dan anak ini pun saling memuji. Mereka tidak sadar kalau Mikuri memerhatikan mereka dari dekat pintu sambil geleng-geleng kepala.

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top