Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 07 part 2

SINOPSIS Married as Job 07 part 2

SINOPSIS dorama Married as Job episode 07 part 2. Ciuman setelah pulang dari liburan dari penginapan ternyata berbuntut panjang. Hiramasa berusaha menghindari Mikuri dalam berbagai kesempatan. Mikuri yang terus mendesak ingin tahu, tidak bisa berbuat banyak.

Tapi Hiramasa tidak berkutik saat harus berhadapan dengan ‘ulang tahun Mikuri’. Mau tidak mau mereka harus kembali berinteraksi. Dan akhirnya kesempatan Mikuri pun datang.

Pesan dari Mikuri : Apa boleh aku bertanya? Kenapa Anda menciumku?

Hiramasa kaget diberi pertanyaan seperti ini dari Mikuri. Butuh beberapa lama hingga akhirnya di bisa membalas pesan Mikuri itu.

Pesan dari Hiramasa : Maaf, itu tindakan tak pantas dari seorang bos.

Mikuri kesal mendapat balasan seperti itu. Pesan dari Mikuri : Bukan permintaan maaf. Alasan!

Hiramasa panik. Aku tak bisa mengatakan bahwa aku terbawa suasana dan menciumnya. Aku akan menambahkan permintaan. Pesan dari Hiramasa : Bisakah kau berpura-pura hal itu tak pernah terjadi?

Pesan balasan dari Mikuri : Anda tak perlu minta maaf.

Pesan dari Hiramasa : Tak apa-apa… jika aku tidak minta maaf? Tetap saja, tindakan sepihakku tak bisa dimaafkan. Aku benar-benar menyesal.”

Mikuri kesal sendiri. Ia berpikir, kenapa Hiramasa harus menyesalinya?

Pesan dari Hiramasa : Jika melihatnya sebagai liburan kantor, itu termasuk pelecehan seksual dan tak pantas.

Pesan dari Mikuri : Akan tetapi, liburan kemarin juga bulan madu, dan secara teknis kita berdua adalah kekasih, jadi bukankah bisa diterima sebagai sentuhan lanjutan? Tapi kemudian Mikuri heran sendiri dengan kalimat ‘bisa diterima’ yang barusan ditulisnya.

(ni orang, Cuma dibatasi tembok selapis aja pake sms-an segala. Kenapa nggak ngomong langsung aja sih? hih! Bikin gemes aja!)

Pesan dari Hiramasa : Terima kasih. Mulai sekarang tolong tetap membantuku. Hiramasa bingung sendiri dengan kalimatnya. Bantuan apa? Akhirnya ia mengubah kalimat pesannya jadi Mulai sekarang tolong tetap membantuku.

Mikuri tersenyum mendapat pesan balasan dari Hiramasa. Ia pun membalasnya cepat : Sama-sama, mohon bimbingannya. Selamanya .

(ada yang ngerti maksud kalimat-kalimat pesan mereka berdua ini? Itu endingnya, mereka sepakat jadian ato gimana sih? kekekeke. Habisnya Hiramasa ini clueless banget sih. gemesss )

Mikuri dan Hiramasa pun senyum-senyum sendiri sambil memandang bulan yang sama dari jendela masing-masing.

Pagi berikutnya, Mikuri mempersiapkan sarapan seperti biasa. Setelahnya ia pun memberikan bekal makan siang pada Hiramasa.

“Kupikir aku akan pulang malam dari kantor. Aku akan makan malam di kantor, jadi jangan khawatir,” ujar Hiramasa sebelum berangkat. Kali ini ia seolah ingin berlama-lama berpamitan. “Hari ini…Selasa, ‘kan?” Hiramasa mendekat dan kemudian memeluk Mikuri di hari pelukan. “Hari ini pastikan… kau tidur lebih dulu. Aku berangkat.”

“Selamat jalan,” Mikuri tersenyum seperti biasa saat melepas kepergian Hiramasa.

Tapi … setelah pintu tertutup, Mikuri hanya bisa bersimpuh karena kakinya lemas. Level kebahagiaan Mikuri naik derastis, bahkan mencapai point tertinggi angka 9 untuk keempad digit angka. Gelombang… cinta ini. Angin Puyuh Hiramasa di dalamku sudah. Hari ini pastikan kau tidur lebih dulu dari Tsuzaki Hiramasa: 9.999 poin!

Apa tak apa-apa… punya rasa suka sedalam ini? Ini akan menimbulkan masalah dalam pekerjaan. Tidak, mari sekarang kita bahagia dengan setulusnya. Selamat, peringkat pertama! Terima kasih, peringkat pertama!

Tak terasa, Selasa berikutnya terasa ternyata datang dengan cepat. Selasa kini jadi hari yang ditunggu.

“Aku akan pulang di waktu biasa hari ini.”

“Oke. Aku akan menunggu,” ujar Mikuri.

“Tolong tunggu aku. Aku berangkat,” pamit Hiramasa. Ia kemudian menutup pintu. Dan ternyata tidak hanya Mikuri yang merasakan bahagia luar biasa. Hiramasa sampai merasakan kakinya lemas dan terduduk di lantai karena melihat Mikuri pagi ini. Imut sekali…!

Aku selalu berpikir dia cukup imut, tetapi belakangan ini aku mulai berpikir dia benar-benar imut.

Aku tak mungkin menyangkalnya. Ini…

Hiramasa masih saja terus memikirkan Mikuri. Saat di jalan, ia pun melihat ke arah apartemennya di lantai dua dan menemukan Mikuri ada di sana melambaikan tangan. Hiramasa pun membalas lambaian tangan itu dengan senyum lebar terkembang. Tapi, karena tidak hati-hati, Hiramasa nyaris saja tertabrak mobil yang lewat. Si sopir marah-marah melihat Hiramasa yang berjalan tidak hati-hati.

Hiramasa pun melihat ke arah Mikuri lagi yang tampak khawatir. Tapi ia kemudian memberikan tanda kalau dirinya baik-baik saja. Aku tak mau mati saat ini. Malam ini aku tak boleh mati sebelum sampai di rumah.

Lajang profesional tidak mengambil langkah lanjutan. Itu adalah peraturan yang tak bisa diganggu gugat. Akan tetapi, untuk pertama kalinya aku tahu bahwa tempat itu sangat hangat. Aku mulai pulang ke rumah untuk menghangatkan tubuhku yang beku.Hiramasa menatap apartemennya dari bawah, dengan perasaan berbeda dari biasanya.

Malam itu, hari Selasa, seperti biasa Hiramasa dan Mikuri berpelukan. Dan hanya itu. lalu keduanya saling mengucapkan selamat malam dan beranjak tidur.

Apa mungkin… takkan ada ciuman kedua?

Hiramasa kembali kamarnya. Alih-alih langsung tidur, ia justru mencari sesuatu di internet. Tapi setelahnya Hiramasa dibuat pusing dengan hasil pencarian yang muncul di sana.

Waktu ciuman

Waktu Ciuman: 20 Hal untuk Diperhatikan

“Kau kurang tidur?” sapa Kazami-san melihat Hiramasa hari itu.

“Kemarin malam aku mencari tahu tentang sesuatu. Makin lama kupelajari, makin banyak yang perlu diperhatikan,” ujar Hiramasa. “Yang mana yang benar? Yang mana yang fakta?”

“Masalah sosial atau yang lain?”

“Yah, sesuatu seperti itu.”

Hino-san lalu bergabung. Ia memperingatkan Hiramasa dan Kazami, karena mungkin saja Numata-san akan datang lagi dan berpikira yang tidak-tidak karena melihat mereka mengobrol berdua seperti itu.

“Siapa yang berpikir kalau Numata mengira Kazami dan aku saling jatuh cinta?”

“Itu lucu, ya. Kukira Numata orang yang tajam,” komentar Kazami pula.

Mereka akhirnya sepakat kalau Numata-san tidak selalu tepat dalam menebak segala hal. Dan Numata adalah Numata, seorang pria bernama lengkap Numata Yoshitsuna. Biasanya di saat-saat seperti itu, Numata akan muncul. Tapi kali ini, Numata ternyata tidak muncul. Itu membuat ketiganya heran juga.

Kemana Numata-san? Ternyata ia mengikuti salah seorang karyawan perusahaan yang belakangan cukup mencurigakan. Tepat seperti dugaan Numata, si karyawan muda itu bicara dengan atasannya di tempat tidak biasa, di tangga darurat.

“Aku sendiri juga tidak begitu mengerti! Bagaimanapun…Membeli semua saham?!”

“Ssst!”

Yuri rapat bersama dua stafnya di ruangan lain. Kali ini si staf pria memuji kuku milik Yuri yang cantik. Yuri mengelak karena bisa jadi itu akan jadi masalah lagi. Lagipula meski ia sudah dinyatakan tidak bersalah, rumor yang terlanjur beredar tentangnya tidak bisa hilang begitu saja.

Si karyawan wanita juga ikut kesal karena melihat karyawan lain masih saya merumpikan soal Yuri. Ia bahkan menantang mereka untuk mengerjakan pekerjaan Yuri.

“Kau baru saja membuat banyak orang memusuhimu,” tegur Yuri.

“Aku hanya mengatakan kebenaran,” elak si karyawan wanita.

“Kadang-kadang kebenaran menimbulkan masalah,” sambung si karyawan pria.

“Itu alasannya aku benci Jepang. Meski aku juga benci Amerika,” keluh si karyawan wanita.

Si karyawan wanita ini ternyata adalah migran yang kembali dari Amerika. Dan dia tidak mau kalau orang-orang di sekitarnya tahu soal ini. Karena kalau mereka tahu, maka ia akan dianggap aneh. Bahkan orang-orang akan menyuruhnya kembali saja ke Amerika. Lalu saat di Amerika, orang-orang di sana menyuruhnya kembali saja ke Jepang. Serba salah.

“Meski aku bisa dua bahasa, bahasa Inggrisku beraksen selatan, dan aku tak cakap menulis artikel dalam bahasa Jepang,” lanjut si karyawan wanita.

“Kau seharusnya memberitahuku!” komentar Yuri.

“Kupikir kau hanya anak muda tanpa motivasi,” ujar si karyawan pria.

“Karena ada banyak migran yang kembali dan bisa menulis dengan sempurna. Aku tak mau menggunakannya sebagai alasan,” ujar si karyawan wanita pula.

“Meski sulit dikendalikan, tetapi aku menyadari bahwa mereka berdua anak yang baik. Pekerjaan itu adalah… menghubungkan satu orang dengan orang lain,” ujar Yuri. Ia baru saja menceritakan soal dua orang bawahannya yang tadinya menurutnya menyebalkan itu.

“Menghubungkan… Pada akhirnya itu persoalannya, ya. Apakah kau mau atau tidak. Mungkin itu jenis pekerjaan yang kumau. Alih-alih bekerja di perusahaan besar, tempatku bekerja mungkin tidak luas, tetapi dibangun dari hubungan orang-orang. Pekerjaan sukarela,” komentar Mikuri selanjutnya. Tapi ia buru-buru meralatnya, karena ia juga butuh uang.

Obrolan Yuri dan Mikuri hari itu masih soal pekerjaan. Sampai sekarang Yuri masih tidak tahu kalau sebenarnya pernikahan Mikuri dengan Hiramasa adalah urusan pekerjaan.

“Tak peduli apa pekerjaanmu, kau perlu memiliki rasa terima kasih dan hormat pada orang lain,” ujar Yuri pula.

Mikuri pun memikirkannya. Terima kasih dan hormat. Hiramasa selalu menunjukkan rasa terima kasih dan hormat padaku. Apa karena ini… hanya hubungan kerja? Kalau kami melewatinya apa yang akan terjadi?

Mikuri pulang ke rumah. Ia membawa oleh-oleh dari Yuri dan menawarkannya pada Hiramasa. Anggur es.

“Yuri memberikannya padaku,” ujar Mikuri.

Hiramasa pun menikmati minuman itu, “Tampaknya anggur ini hanya menggunakan anggur yang beku alami di daerah dingin. Kandungan gulanya naik karena proses kondensasi. Ini jauh lebih manis dari yang kukira.”

Mikuri yang duduk di sebelah Hiramasa mulai bicara serius, “Aku belum pernah mengatakannya dengan layak, jadi akan kulakukan sekarang. Karena Anda cukup baik untuk mempekerjakanku, aku bisa menikmati pekerjaanku tiap hari. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama.”

“Lalu, bukan itu saja. Aku tetap paling menyukaimu, Hiramasa,” sayangnya itu hanya adala dalam hati Mikuri saja. Ia lalu meletakkan kepalanya di pundak Hiramasa. Kata-kata yang dulu bisa kukatakan dengan mudah sebagai pekerja, kenapa… aku tak bisa mengatakannya lagi?

Hiramasa merasa canggung dengan sikap Mikuri ini. Tapi ia juga tidak berbuat apapun. Alih-alih, Hiramasa justru mengambil gelasnya dan minum anggur dari sana lagi.

Hiramasa meletakkan gelasnya kembali ke meja. Mikuri pun bangun dari pundak Hiramasa. Hiramasa lalu menggeser duduknya, tangannya memegang tangan Mikuri. Pelan, Hiramasa mendekatkan wajahnya ke wajah Mikuri.

Seperti sebelumnya, Hiramasa pun mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. Kali ini Mikuri sudah tidak kaget seperti yang pertama dulu. Semuanya berjalan secara alami.

Setelah berciuman, keduanya pun jadi canggung. Tapi tidak seperti yang dulu, mereka akhirnya bepelukan erat, menikmati rasa nyaman satu sama lain.

“Aku tak apa-apa. Kalau itu Anda, Hiramasa. Untuk melakukan hal seperti “itu”,” bisik Mikuri dalam pelukan Hiramasa. (tahu maksudnya kan ya, “itu” yang dikatakan Mikuri? Ok, ok, Na sebutkan deh, bersenang-senang. Mudeng? Paham? Kalau belum paham, berarti kalian belum saatnya baca sinopsis ini. kekekekeke)

Kaget karena Mikuri mengatakan hal itu, Hiramasa justru melepaskan pelukannya. “Maaf. Itu tak mungkin… bagiku. Bukannya aku mau melakukan hal seperti itu. Maaf. Itu tidak mungkin.”

Suasana berubah benar-benar jadi canggung. Mikuri lalu segera berdiri, “Aku juga minta maaf. Tolong lupakan hal itu,” ia bersikap sebiasa mungkin.

Mikuri lalu mengambil gelas minumannya dan meletakkannya ke bak cuci di dapur. Mikuri berusaha menyembunyikan fakta kalau tangannya bergetar, sebagai pelengkap gemuruh yang ada di dalam dadanya akibat penolakan tadi.

Hal ini membuatku ingin masuk ke dalam lubang, jika ada. Aku benar-benar berharap aku bisa pergi ke sisi lain dunia.

Di malam dengan bulan yang samar, aku…melarikan diri dari apartemen 303.

Malam merambat pelan. Mikuri berada di dalam sebuah bis malam yang melaju cepat di jalanan. Ia dalam sebuah perjalanan.

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Tu kan ya … baru episode tujuh, jadi nggak mungkin perjalanan kisah Mikuri sama Hiramasa langsung berjalan baik. Meski sempat ada manis-manisnya gitu, tapi tetap aja ternyata masih ada masalah juga. Mikuri kabur dari apartemen Hiramasa. Kemana dia pergi? Dan apa yang akan dilakukan Hiramasa kemudian?

Oh ya, Happy New Year!

ahahahaha, hampir ketinggalan. Sampai lupa tanggal nih

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top