Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 07 part 1

SINOPSIS Married as Job 07 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 07 part 1. Mikuri dan Hiramasa liburan bersama dari tiket liburan yang diberikan Yuri. Meski hanya semalam, berbagai insiden sudah terjadi. Dari insiden ranjang besar, kotak berisi minuman energi hingga terpeleset karena serangga. Sayangnya, sampai akhir tidak terjadi apapun. Mikuri pun hanya bisa menahan tangisnya saja.

Dan akhir episode enam adalah ending yang paling banyak ditunggu. Liburan mereka berakhir. Tapi, sebelum turun dari kereta, tiba-tiba saja Hiramasa mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. LOL?

Pagi ini ada dua emprit jepang datang ke beranda. Apa yang putih juga sehat? Ya, sehat. Baguslah kalau baik-baik saja.

Sarapan pagi pertama, kedua dan berikutnya sepulang liburan kemarin yang (tidak) baik-baik saja.

Mikuri’s imagination mode on.

Ini adalah bosku, Tsuzaki Hiramasa. Apa Anda percaya, orang ini di perjalanan pulang liburan yang lalu tiba-tiba menciumku! Akan tetapi…

Saat kereta akhirnya sampai di pemberhentian terakhir, Mikuri sudah menyerah. Ia tidak mau berharap apapun ataupun meminta apapun lagi pada Hiramasa. Tapi ternyata Hiramasa menghentikannya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Mikuri. Sadar atas sikapnya ini, Hiramasa buru-buru turun dari kereta. Ia bahkan tidak mendengarkan panggilan Mikuri di belakangnya.

Setelah itu, di dalam kereta dan bus, dia tidak berbicara apa pun dan tidur seperti balok kayu. Namun, pasti dia berpura-pura tidur! Sesampainya di rumah pun…

Di rumah, Mikuri berusaha minta penjelasan pada Hiramasa soal insiden ciuman tadi. Tapi Hiramasa buru-buru mengelak dan mengatakan masih ada pekerjaan (alasan paling absurd, soalnya besoknya masih libur) dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Jelas Hiramasa menghindari bicara dengan Mikuri.

Sejak saat itu, dia sama sekali mengabaikannya, benar-benar mengabaikannya. Tak ada sentuhan, tak ada reaksi, baik-baik saja di belakang! Orang ini kenapa, ya?

“Bagaimana sup miso pagi ini?” tanya Mikuri. Ia memulai pembicaraan.

“Ya… seenak biasanya.”

Sup miso ini…Karena makanan di penginapan yang sangat enak, aku terinspirasi membuat dashi* otentik. (dashi: kaldu masak khas Jepang) Pagi ini aku bangun pagi dan membuat kaldu dari ikan bonito kering. Ini adalah sup miso spesial. Itu yah, tak masalah. Masalahnya adalah, apa maksud Hiramasa? Menyalakan api lalu meninggalkannya begitu saja. Bagaimana kalau apinya menyebar? Apa Anda seorang pembakar? Mikuri masih saja bertanya-tanya soal insiden kemarin dalam pikirannya.

“Bagaimana ikannya?” tanya Mikuri lagi.

“Ini enak. Kau belum pernah masak ikan ini sebelumnya, ‘kan ya?” komentar Hiramasa, tetap datar.

“Ya. Ini ikan kisu* bakar.” (*kisu: nama ikan, pelafalannya mirip kata kiss—ciuman)

Ucapan Mikuri membuat Hiramasa tersedak. Tapi juga tetap tidak mengatakan apapun soal insiden ciuman kemarin. Mikuri tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan sikap Hiramasa yang luar biasa tanpa ekspresi ini.

Setelah melepas Hiramasa yang berangkat kerja, Mikuri beres-beres rumah. Ia melepas sprei ranjang Hiramasa dan berniat menggantinya. Tapi Mikuri kembali berimajinasi.

Mikuri berkerudung merah duduk di pinggir jalan dengan korek api di tangan. Satu per satu korek itu dinyalakan. Dan momen-momen menyenangkan selama ini bersama Hiramasa pun berseliweran. Tiap kali korek di tangannya mati, Mikuri kembali menyalakannya. Dan kilasan kisah manis itu pun kembali muncul. Sayangnya semua korek akhirnya habis. Dan Mikuri akhirnya terlelap di bawah guyuran salju. (ini mirip dongeng gadis kerudung merah, ato bukan ya?)

Jika dia akan mengabaikannya sejauh ini, kupikir semuanya hingga saat ini apakah hanya ilusi? Lelah mencari pekerjaan, seorang wanita sedih, tak dibutuhkan oleh siapa pun, dan tak punya tempat tujuan melihat sebuah ilusi di ambang kematian. Bulan madu palsu yang juga liburan kantor, juga ciuman di kereta, semuanya. Semuanya, semuanya hanya ilusiku. Meski semua itu membuatku bahagia…

Kenyataan? Mikuri berselimut sepresi meletakkan kepalanya di ranjang milik Hiramasa dan mengelus bibirnya.

Di kantor, Hiramasa mengembalikan minuman energi pada Hino-san, “Ini aku kembalikan. Barang yang kauberikan sebelumnya…”

“Oh, minuman energi?”

“Kau tak perlu mengatakannya!” protes Hiramasa.

“Kau tak meminumnya?” Hino-san heran karena minuman itu masih lengkap.

“Aku takkan meminumnya,” elak Hiramasa.

“Namun, aku sudah memberikannya padamu, kau seharusnya meminumnya!”

“Itu adalah sesuatu yang takkan pernah kubutuhkan selama hidupku. Aku hanya akan menerima niat baikmu. Terima kasih,” Hiramasa beranjak pergi kembali ke mejanya.

Tapi Hino-san justru berpikir lain, “Dia ternyata hebat, ya (tanpa meminum minuman energi).”

Ada yang aneh denganku. Seorang lajang profesional tidak mudah jatuh cinta, tidak mengambil langkah lanjutan. Atau bisa dibilang, penting untuk tidak melanjutkannya. Dengan begitu tercipta ketenteraman. Ada yang aneh denganku saat itu. Saat itu… Tak mudah meninggalkannya, dan kurasa kami memikirkan hal yang sama. Sangat manis…

Hiramasa masih terus memikirkan insiden kemarin saat liburan itu. Soal ciuman dengan Mikuri. Hingga ia pun berteriak dari dalam toilet.

Karyawan lain yang mendengar teriakan itu heran. Saat ia melihat Hiramasa keluar, si karyawan bertanya soal teriakan. Tapi Hiramasa mengelak kalau dia yang berteriak dengan wajah datarnya seperti biasa.

Pulang kantor, Hiramasa tidak langsung pulang ke rumah. Ia malah mampir ke toko buku dan membeli buku sudoku. (tahu kan game sudoku itu?). Dan sekarang dia malah nongkrong di kafe sambil mengisi kotak-kotak sudoku yang masih kosong itu.

Benar-benar ada sesuatu yang aneh denganku. Kenapa aku melakukan hal seperti itu? Kenapa aku terbuai bulan madu palsu itu? Buaian bulan madu. Aku terbuai. Aku hanya meyakinkan diriku sendiri bahwa kami memikirkan hal yang sama. Itu adalah tindakan terburuk seorang majikan. Itu adalah pelecehan seksual. Mikuri tidak akan mengatakannya terus terang, tetapi dia pasti kesal. Jika dia mulai membenciku lalu mengundurkan diri dan apa yang tertinggal untukku.

Begitu, ya…Untuk orang seusiaku ini, tentu saja, paling tidak sudah pernah mencium seseorang.

Aku bisa mengatakannya. Aku sekarang bisa mengatakan dengan bangga apa yang dulu kututup-tutupi. Bahkan hanya karena itu, aku bisa berpikir aku bersyukur hal itu terjadi.

Nyaris tengah malam saat Hiramasa akhirnya tiba di rumah. Ia mengendap-endap masuk. Rupanya Hiramasa sengaja pulang telat untuk menghindari Mikuri. Sayang, sebelum masuk ke kamarnya, lampu ruangan menyala. Hiramasa kaget karena Mikuri masih belum tidur.

“Aku sudah memberitahumu bahwa aku akan pulang telat karena lembur dan menyuruhmu tidur duluan,” ujar Hiramasa.

“Aku sudah baca pesanmu. Akan tetapi, ini hari Selasa,” ujar Mikuri.

Hiramasa menunjuk jarum panjang jam yang baru saja melewati angka dua belas, “Baru saja jadi Rabu.”

Tapi Mikuri tidak tergoyahkan. Dia malah membuka tangannya lebar-lebar. Tidak punya pilihan, Hiramasa pun mendekat dan memeluk Mikuri, dengan terpaksa. Setelahnya ia pun kembali masuk ke kamarnya.

Tidak adil. Seakan-akan dia tidak punya pilihan. Tiba-tiba dia seperti menyesali ciuman itu. Mikuri melihat pintu kamar Hiramasa yang tertutup itu dengan tatapan sedih.

Ternyata di dalam, Hiramasa juga belum bisa tidur. Ia masih memikirkan soal insiden kemarin itu. Apa aku melakukan hal yang benar? Seperti biasa, seperti tak ada yang terjadi. Namun, tak mungkin aku bisa berpura-pura tak ada yang terjadi. Tolong, bagaimanapun caranya, buat gaya hidup ini tetap berjalan, bahkan jika hanya sehari lebih lama.

Mikuri seperti biasa datang dan membersihkan rumah Kazami. Kazami yang penasaran mulai bertanya-tanya soal bulan madu Mikuri. Tapi Mikuri tampak malas membahasnya dan memilih mengalihkan pembicaraan.

“Kazami, kau tak pergi kerja?” tanya Mikuri.

“Hari Sabtu aku masuk, jadi aku libur hari ini.”

Mikuri tengah bersih-bersih lantai. Ia pun mengusir Hiramasa agar pindah dulu. Hiramasa heran dengan sikap Mikuri yang tampak emosidonal. Tapi Mikuri mengatakan kalau dia biasanya juga demikian.

Tidak mau kehilangan momen, Kazami lalu menarik Mikuri dalam pelukannya, “Kalau kau jadi pasanganku, bahkan jika kau melakukan sesuatu yang mengejutkanku, Aku akan berpikir “Ah! Ini pasti sebuah trik.””

Mikuri cukup kaget dipeluk tiba-tiba begitu. Tapi perasaan Mikuri baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Ini pasti strategi untuk menggetarkan hatiku.

“Apa hatimu berdebar-debar?” tanya Kazami kemudian.

“Tolong jangan bercanda!” protes Mikuri. Ia pun melepaskan diri dari pelukan Kazami.

“Aku mulai iri pada Hiramasa. Orang sepertiku tak dipandang serius. Mereka pikir kami hanya main-main,” curhat Kazami saat makan siang bersama Yuri.

“Ada yang bilang begitu?” tanya Yuri.

“Aku coba mencium Mikuri. Tidak, tidak benaran…” ralat Kazami cepat saat ia melihat perubahan ekspresi wajah Yuri.

“Yang mana sebenarnya? Ini buruk untuk jantungku.”

Kazami tersenyum, “Tampang dan kepribadian Hiramasa sama-sama tulus, jadi dia bisa menemukan cinta sejati. Orang berkata yang sama tentangku saat aku masih muda.”

Yuri hanya tersenyum menanggapi curhatan Kazami. Ia juga mengaku pernah punya pengalaman seperti itu. Dan seperti inilah dia sekarang.

Mereka pun bangun selesai makan siang dan berebut untuk membayar makan siang itu.

“Aku sudah mengubah pandanganku tentangmu. Aku bukan “laki-laki ganteng yang menyebalkan” lagi. Sekarang kau “ponakan bermuka tebal.”,” ujar Yuri kemudian.

“Kalau aku ponakan, apa boleh kupanggil kau tante?”

“Kau takkan selamat jika berani melakukannya,” ancam Yuri, tapi dengan bercanda.

Hiramasa makan siang bersama Hino-san. Hino-san mengaku kehabisan ide untuk hadiah ulang tahun istrinya, setelah lebih dari 10 tahun berlalu. Hino-san bertanya, apa yang diberikan Hiramasa untuk ulang tahun Mikuri.

“Ulang tahunnya belum lewat…” ujar Hiramasa. Tapi ia kemudian ingat saat mengisi form pernikahan. Ternyata ulang tahun Mikuri sudah lewat, 8 September 1990. Hiramasa lalu mengecek tanggal di ponselnya, “Aku lupa ulang tahunnya. Sudah hampir sebulan lalu.”

“Kau bercanda, ‘kan? Kau tak memberinya apa-apa? Bagaimana dengan “selamat ulang tahun”?”

“Tidak juga,” ujar Hiramasa jujur. “Akan tetapi, kami adalah pasangan menikah yang tak melakukan apa pun.”

“Tidak bisa begitu. Kalau tak menghargai hal-hal kecil, kalian akan bercerai di masa tua.”

“Dalam kasus kami, malah aneh jika aku melakukan sesuatu,” elak Hiramasa.

“Tidak aneh, ‘kan? Bukankah bukan hal yang aneh bahwa hal ini tidak tak aneh?” Hino-san akhirnya bingung sendiri. “Kupikir kau perlu memikirkannya, lho.”

Tidak lama setelahnya Kazami bergabung untuk makan siang juga. Ia mengaku mempekerjakan wanita untuk membersihkan ruamhnya dua kali seminggu. Dan karena ulang tahunnya awal September dulu, Kazami juga sudah memberinya hadiah ulang tahun.

“O-omong-omong, apa yang kau berikan?” justru Hino-san yang penasaran.

“Teh Sri Lanka yang lumayan enak.”

“Hebat sekali jika kau bisa memberinya hadiah sesantai itu,” puji Hino-san lagi.

Sementara Hiramasa mengingat-ingat. Sepertinya ia kenal dengan teh itu. Seperti yang pernah disajikan oleh Mikuri saat malam.

“Dia mendekati tipe idealku, tetapi dia bukan orang yang terus terang. Benar ‘kan, Hiramasa?” Kazami bertanya pada Hiramasa, membuat Hiramasa makin salah tingkah.

Hino-san heran karena Kazami bicara seperti itu. Tapi Kazami mengatakan kalau Hiramasa juga mengenal wanita pekerja itu.

“Kami sering membahasnya,” ujar Kazami lagi.

“Makanya kalian berdua belakangan ini kelihatan dekat,” komentar Hino-san.

Tapi Numata-san bergabung dan membuat kacau. Ia berpikir kalau Hiramasa dan Kazami bohong soal itu. Karena Numata-san percaya, kalau Hiramasa dan Kazami dekat lantaran tertarik satu sama lain. (baca=gay). Hiramasa dan Kazami Cuma bengong dituduh seperti itu oleh Numata.

Mikuri makan siang di toko milik Yassan. Dan seperti biasa, dia memulai curhatnya di sana. “Apa kaupikir pernikahan bisa berjalan lancar jika tidak ada cinta? Jika tak ada cinta, kau tak mengharapkan banyak hal dan hanya memikirkannya sebagai perjanjian bisnis. Dan menganggap suamimu sebagai ATM-mu?”

“Itu terlalu ekstrem, sih,” komentar Yassan. “Kalau bisa dipecahkan semudah itu, aku takkan bercerai, juga takkan bekerja di toko seperti ini.”

“Jangan berkata “toko seperti ini” saat kau sendiri yang kembali ke sini,” saran Mikuri.

“Pendengaran Nenek hanya bagus di saat-saat seperti ini,” Yassan ikut berbisik.

“Kau akan mewarisi toko ini?” tanya Mikuri kemudian.

“Aku tak menginginkannya, sih.”

“Bagaimana dengan memperbaruinya?”

“Kami tak punya uang untuk itu,” elak Yassan.

“Bukan dengan mengeluarkan uang, tetapi misalnya menjual selai sayuran, memberi tahu resep masakan yang menggunakan sayur-sayuran, atau sesuatu untuk menarik pelanggan ibu rumah tangga…” saran Mikuri.

“Mikuri… kau selalu mengatakan hal seperti ini. Kalau melakukan ini, kalau melakukan itu… Kalau kau melakukannya sendiri itu adalah masalahmu sendiri, tetapi kalau disuruh orang lain jadi menyebalkan,” keluh Yassan.

“Ahk! Kata-kata itu baru saja memukulku telak. Ada banyak hal yang tak berjalan lancar…”

“Dengan pacarmu?” Yassan heran.

“Sebenarnya, dia bahkan bukan pacarku. Kami menikah, tetapi aku tak terdaftar di kartu keluarganya. Selain itu aku diciumnya. Hanya sekali.”

“Ini imajinasimu?” sindir Yassan. Sepertinya dia tidak terlalu serius menanggapi curhat Mikuri.

Hiramasa menunggu Yuri keluar dari kantor baru menghampirinya.

“Terima kasih atas hadiah liburannya waktu itu,” ujar Hiramasa.

“Sepertinya kalian bersenang-senang. Terima kasih oleh-olehnya.”

“Omong-omong bulan lalu ulang tahun Mikuri, ya. Apa kau memberinya sesuatu, Yuri?” tanya Hiramasa sangat hati-hati.

“Kau belum dengar? Sebuah Bamix, mikser tangan. Kenapa kau bertanya?”

“Tak ada alasan khusus,” elak Hiramasa ceoat.

“Jangan bilang, kau tak berbuat apa pun?” tembak Yuri, tepat.

“Mana mungkin!”

“Kalian bukan pasangan paruh baya. Kalian berdua seperti baru mulai berpacaran,” komentar Yuri kemudian.

Hiramasa mengecek di dapur. Dan benar saja, ia menemukan benda yang dihadiahkan Yuri pada Mikuri. Lalu kotak teh, seperti yang diceritakan oleh Kazami.

Apa hanya aku satu-satunya yang tak menyadarinya. Tepat di depanku. Ini faktanya.

Mikuri heran melihat tingkah Hiramasa yang tumben mengendap-endap di dapur. Tapi Hiramasa buru-buru menghindar dengan berjalan ke kamarnya sendiri setelah mengucapkan selamat malam.

Hari berikutnya, Hiramasa datang ke deprtemen store. Ia berniat mencari hadiah untuk Mikuri. Perhiasan, pakaian, peralatan rumah … ternyata mencari hadiah untuk wanita lebih membuat pusing Hiramasa.

Hiramasa lalu duduk di depan departemen store dan menelepon orang tua Mikuri. “Ah, begini, aku mau bertanya apa yang Mikuri suka atau hal-hal apa yang dia sukai.”

“Hal-hal yang Mikuri sukai?” orang tua Mikuri terlalu bersemangat menanggapi pertanyaan menantu mereka ini.

Tapi alih-alih membantu, kedua orang tua Mikuri justru sibuk menceritakan soal pero, anak anjing yang pernah disukai Mikuri saat masih kecil. Tidak ada solusi sama sekali.

Hiramasa masuk kembali ke departemen store, menuju toko perhiasan.

“Apa yang Anda cari?” tanya si pegawai.

“Hadiah untuk seorang wanita…” Hiramasa ragu.

Tapi saat si pegawai bertanya ‘siapa’, selalu dijawab bukan. Istri, saudara perempuan, pacar, semuanya bukan.

Hari sudah gelap saat Hiramasa pulang ke rumah. Mikuri heran karena tidak biasanya Hiramasa pergi di hari liburnya seperti ini.

“Mikuri, ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Aku bisa menunggu sampai kau selesai nonton TV,” ujar Hiramasa.

“Tak apa-apa, aku tak menontonnya,” Mikuri pun mematikan televisi.

Hiramasa duduk di kursi, “Ini tentang sesuatu yang belum lama berlalu…Ulang tahunmu di awal September, ‘kan? Aku benar-benar minta maaf.”

“Itu bukan masalah,” ujar Mikuri santai.

“Yang lebih penting… Aku mempertimbangkan banyak hal, tetapi kupikir ini yang terbaik,” Hiramasa memberikan amplop putih pada Mikuri. “Ini bukan hadiah, ini bonus. Kupikir tidak terlalu baik jika seorang bos secara pribadi memberikan hadiah pada pekerjanya. Akan tetapi, aku ingin rasa terima kasihku berwujud. Jadi, dalam bentuk bonus. Jadi, kau tak perlu membalasnya. Itu saja. Selamat ulang tahun,” Hiramasa lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya sendiri.

“Terimakasih, “ Mikuri masih bingung. Ia membuka amplop putih itu yang ternyata isinya adalah uang dalam jumlah cukup banyak.

Banyak pertanyaan berseliweran di kepala Mikuri. Ulang tahunku sudah lebih dari sebulan yang lalu, jadi… kenapa? Apa mungkin uang kompensasi ciuman?

Mikuri akhirnya mengirim pesan pada Hiramasa. Terima kasih atas bonusnya. Apa boleh aku bertanya? Kenapa Anda menciumku?

Sementara Mikuri menunggu jawaban pesan dari balik pintu, Hiramasa kaget mendapat pesan to the point dari Mikuri seperti itu. Hiramasa panik. Jawaban apa yang harus ia berikan pada Mikuri?

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Cewek gitu ya. Kalau dicium, pasti bakalan minta penjelasan. Apa maksud ciuman itu. Gitu kata drama. Hei-hei … Na bukan mengatakan Na berpengalaman lho ya. Jadi ini yang clueless itu Mikuri atau Hiramasa sih sebenarnya? Mereka gagal jujur soal perasaan masing-masing sih ya.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top