Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 06 part 1

SINOPSIS Married as Job 06 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 06 part 1. Mikuri dan Hiramasa sepakat untuk menjadi kekasih. Mereka berpelukan tiap hari Selasa. Dan karena kecurigaan Yuri, Mikuri dan Hiramasa akhirnya sepakat untuk bersikap mesra di depan Yuri. Tapi ternyata situasi menjadi tidak terduga.

Selasa pagi diawali dengan menaruh sampah daur ulang. Seperti biasa, aku menyiapkan bekal makan siangnya. Dan seperti biasa, aku menyiapkan sarapan.

Melihat Hiramasa, yang dulu berganti pakaian sebelum keluar kamar, berjalan-jalan dalam piamanya, membuatku bahagia. Kebahagiaan ini…apa mirip dengan menjinakkan kapibara liar, ya? Aku ingin membelainya. Aku ingin membelainya, tetapi dia mungkin akan lari, jadi aku tak bisa mendekatinya!

Setelah Hiramasa pergi kerja, aku melanjutkan rutinitasku merapikan rumah, mencuci baju, dan menyedot debu. Sebagai tambahan, sekali dalam seminggu ada bersih-bersih besar. Di waktu istirahat makan siangku, aku pergi ke dokter gigi, berbelanja, pulang ke rumah, mengangkat jemuran, menyetrika dan memasak makan malam.

Setelah membereskan sisa makan malam, aku menyiapkan sampah yang akan dibuang besok. Itu adalah pekerjaanku sebagai pekerja bayaran. Pekerjaanku.

Selesai membereskan makan malam, Mikuri melihat Hiramasa tengah menonton televisi. Ingat masih punya teh, Mikuri pun membuatnya satu cangkir untuk Hiramasa. Dan Mikuri … duduk di sebelah Hiramasa di sofa.

Mikuri mengingatkan Hiramasa kalau hari itu hari Selasa, hari pelukan. Tapi karena Sabtu kemarin mereka sudah pelukan saat ingin pamer kemesraan di depan Yuri, Hiramasa menolak. Tapi Mikuri berkeras kalau mereka perlu pelukan lagi. Tapi Hiramasa berkeras kalau mereka tidak perlu pelukan, karena itu menyalahi pekerjaan. Dan Mikuri tidak menyerah membujuk. Akhirnya Hiramasa menyerah dan kembali berpelukan dengan Mikuri.

Yuri dipanggil oleh atasannya soal pelecehan seksual. Ia heran, karena tidak pernah merasa mengalaminya. Tapi atasannya mengatakan kalau ia pelakunya.

“Rabu lalu, kau bilang anak buahmu, Umehara Natsuki, ganteng.”

Menurut pelapor, yang dikatakan Yuri setelah berkomentar kalau Umehara ganteng adalah Yuri ingin menyayanginya. Yuri jelas mengelak. Karena memang bukan itu yang terjadi. Ia membantah kalau cerita itu berubah di tengah.

“Tsucchi yang telat menonjol, teliti, dan tekun… tak akan berlaku seperti itu, ya ‘kan?” ujar atasannya yang juga wanita itu.

Yuri heran. Ia penasaran siapa yang telah melaporkannya soal pelecehan seksual ini. Tapi atasannya menolak memberitahukan hal itu.

“Kau tidak pernah cuti melahirkan atau cuti urusan anak. Bagi kami, kau adalah cahaya harapan dalam karier. Supaya kau tidak tersandung hal-hal aneh, hati-hati juga dengan penyalahgunaan kekuasaan.”

“Sudah kubilang, aku tak melakukannya!” elak Yuri lagi.

Dan malam itu Yuri melanjutkan curhatnya di rumah Hiramasa. Sementara Yuri curhat sambil minum bir, Hiramasa dan Mikuri duduk bersimpuh di depannya. (ini mirip anak yang lagi dimarahi sama emaknya, kekekeke) Laporan lain mengatakan kalau Yuri terus saja menyalahkan anak buahnya yang wanita. Karena itu mereka kasihan melihat si anak buah itu.

“Namun bukan berarti aku ingin jadi wanita tua yang rewel! Aku tak punya pilihan lain karena kalimat yang ditulisnya benar-benar buruk! Sesungguhnya, akan lebih cepat kalau aku mengerjakannya saja sendiri, tetapi kalau aku mengambil pekerjaannya, itu tak baik juga untuknya, ‘kan? Meski aku jadi wanita tua rewel yang tak kusukai, belum lagi tuduhan wanita tua yang gila seks, aku benar-benar muak!” curhat Yuri lagi.

Sementara itu Mikuri dan Hiramasa hanya duduk dengan tenang menyimak semua curhatan Yuri.

“Bisakah kau tidak menambahkan gelar wanita tua tukang mengeluh? Aku hanya ingin sedikit mengomel sementara aku di sini,” ujar Yuri lagi.

Puas dengan curhatnya, Yuri pun mengalihkan pembicaraan. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, “ Oke, ini tujuan kedatanganku. Beberapa tahun ini aku sudah mengumpulkan poin kartu kreditku dengan giat, dan akhirnya terkumpul 50.000 poin!”

“Selamat!” ujar Mikuri dan Hiramasa dengan canggung.

“Dan aku menukarkannya…dengan ini!” Yuri menyodorkan tiket itu di depan Mikuri dan Hiramasa.

“Tiket gratis penginapan pasangan?” Hiramasa bingung. Tapi ia kemudian paham. “Ini permohonan izin untuk cuti Mikuri? Silakan, ambil cuti dan berlibur berdua.”

“Bukankah ini jelas-jelas untuk kalian berdua?! Pergilah berbulan madu berdua!” perintah Yuri.

Tentu saja Mikuri dan Hiramasa kaget dengan ide Yuri ini. Mereka berusaha untuk tidak menerima tiket itu. Hiramasa beralasan masih harus bekerja.

Dan imajinasi Yuri pun beraksi

Yuri berdiri di depan kelas penuh mahasiswa, seperti dalam sebuah kelas di kampus, “Untuk hal-hal seperti ini, pergilah saat kau bisa! Kapan kau akan pergi? Sekarang, ‘kan? (katanya ini parodi acara tv, Hayashi Osamu, “Now, right?”) Saat berpikir “suatu saat nanti, suatu saat nanti,” lalu kalian punya anak. Kalian tidak bisa berlibur selama tiga tahun. Lalu anak kedua lahir. Dan keadaan sulit untuk tiga tahun berikutnya.”

Mikuri mengangkat tangannya untuk bertanya, “Kami tidak berencana punya anak…”

“Kalian naif! Jika hidup berjalan sesuai rencana, aku sudah menikah di umur 27 tahun. Nasibku menjadi wanita rewel atau wanita yang melakukan pelecehan seksual, siapa yang pernah mengira? Mengerti? Terjadinya hal-hal tak terduga adalah kehidupan. Dan kalian tahu? Ini karena aku tak tahu apakah hubungan kalian berdua baik atau tidak yang membuatku memilih liburan berdua ini. Sebenarnya, aku akan memilih sesuatu seperti makanan kelas atas atau resor spa solo.”

“Meski begitu, karena kalian berdua…” ucapan Yuri dipotong oleh Hiramasa.

Sepertinya Hiramasa tidak ingin masalah ini makin berlarut-larut, “Kami menerima… dengan senang hati.”

“Bagus. Kalau begitu, aku pulang!” ujar Yuri senang.

Mikuri menyeret Hiramasa menjauh sedikit, “Apa tak apa-apa?”

“Tak ada pilihan lain.”

Mikuri bertemu dan makan siang bersama dengan Yassan. Ia bercerita soal rencana liburannya dengan Hiramasa ke pemandian air panas.

Yassan langsung tertarik dan menebak-nebak kelanjutannya. Dari mandi bersama dan saling menggoda lalu berlanjut ke ranjang besar. Tapi Mikuri buru-buru mengelaknya semua, karena nanti di sana kamar mereka adalah ranjang terpisah.

“Menjadi lebih dari sekadar teman tetapi bukan kekasih itu… hangat, menyenangkan, dan pas, mungkin?” ujar Mikuri.

“Bagaimana dengan pakaian dalam? Yang imut? Atau kau lebih suka yang seksi?” Yassan masih belum menyerah. Ia bahkan menunjukkan brosur yang didapatnya dari stasiun.

“Kau beruntung ada rumah orangtuamu, ‘kan?” Mikuri mengalihkan pembicaraan.

“Benar sekali! Kupikir aku tidak benar-benar suka tinggal di rumah, tetapi jika itu tak ada, aku tak mungkin punya rumah sekarang, ‘kan?” ujar Yassan pula.

“Kau tidak selalu tahu apa yang ternyata baik. Yassan, ayo makan sampai kenyang hari ini. Aku traktir,” ujar Mikuri. Di depan mereka memang sudah ada sederet makanan enak, nyaris memenuhi meja.

“Ini bagus! Imut tetapi tak berlebihan. Pakaian dalam untuk menginap,” Yassan masih asyik dengan brosur pakaian dalam di tangannya. “Ini imut. Diskon 30% saat pembukaan toko.”

“Murah sekali!” seru Mikuri. Ia ikut-ikutan tertarik. “Tunggu, aku tak ingin beli ini.”

(baby Hirari bingung ngeliat emaknya sama tante aneh lagi ngobrol, kekekeke)

Hiramasa menceritakan soal rencana liburannya pada Hino-san saat makan siang bersama. “Kekhawatiranku adalah di malam hari.”

“Malam?” Hino-san memikirkan sesuatu.

Hiramasa masih khawatir soal kamar mereka. Aku penasaran, apa aku bisa tidur, ya? Meski kamar ranjang ganda, tetapi aku tak pernah sekali pun tidur sekamar dengan perempuan.

“Kalau seserius itu, nanti akan kuberikan sesuatu yang bagus untukmu,” janji Hino-san.

Hiramasa minta agar Hino-san tidak mengatakan apapun pada Numata-san, karena pasti akan ada kekacauan. Sayangnya Numata-san terlanjur tengah menguping obrolan mereka dari balik kursi.

Sementara itu, Numata-san akhirnya berhasil lolos dari ruang istirahat. Dia melihat Kazami-san menuju Hiramasa dan Hino-san. Berpikir tahu situasinya, Numata-san menahan Kazami-san agar tidak mendekati Hiramasa. Kazami Cuma bisa heran dengan sikap aneh Numata-san ini.

Hari cuti sekaligus hari berangkat liburan.

Kalau kuberitahu Kazami bahwa Mikuri dan aku akan pergi liburan, dia pasti cemburu. Lalu meskipun ini liburan, sebenarnya hanya acara kantor. Mari kita apresiasi jasa pekerja kita sebesar mungkin.

Hiramasa memandangi kotak yang diberikan Hino-san padanya. Ada stiker smile berwarna kuning di sampulnya. Hiramasa masih belum mengerti apa isi kotak itu. Ia kemudian memasukkannya ke dalam tasnya sendiri, karena Mikuri sudah memanggil dari luar dan mereka akan bersiap berangkat.

Mikuri dan Hiramasa sudah duduk dalam kereta. Meski tidak menuju Kyoto, mereka merasa kalau perjalanan ini seperti akan ke Kyoto.

“Maaf, apa kau keberatan aku duduk di sebelahmu? Aku tak bisa tenang kecuali menghadap ke arah jalannya kereta,” pinta Hiramasa. Rupanya ia tadinya duduk menghadap berlawanan dengan arah kereta.

“Oh, aku juga seperti itu,” Mikuri lalu menyingkirkan tas di sebelahnya dan membiarkan Hiramasa duduk di sana sebagai gantinya.

“Terima kasih. Liburan kali ini adalah untuk mengapresiasi jasamu. Terima kasih untuk segalanya,” ujar Hiramasa.

Mikuri merasa canggung, “Tak perlu, aku juga. Terima kasih atas perhatianmu.”

Tiba di tempat tujuan, mereka disambut hujan. Dengan payung transparan, Hiramasa dan Mikuri menyusuri jalanan menuju penginapan mereka. Tempatnya sangat cantik dengan jembatan penuh bunga di kanan kirinya. Mereka juga melewati hutan bambu yang menjulang tinggi dan menghijau cantik di sekelilingnya. Mikuri bahkan masih sempat mengambil beberapa gambar.

Setelah berjalan beberapa lama, Hiramasa dan Mikuri pun sampai di penginapan yang dimaksud. Dan apa yang akan terjadi setelah ini? (tempatnya … uwaaaaa, bikin mupeng banget, serius. Jepang memang sangat serius ya soal layanan wisata mereka)

Petugas kamar mengantar Hiramasa dan Mikuri ke kamar mereka. Baru saja Mikuri akan memuji kamar itu, tapi ucapannya terhenti saat ia dan Hiramasa melihat ranjang di kamar itu adalah … ranjang besar, dan bukan ranjang terpisah.

“Maaf, kami memesan kamar ranjang terpisah ….” protes Hiramasa pada petugas kamar.

“Kami menerima pemberitahuan perubahan….”

“Kenapa kau memutuskannya sendiri?” protes Mikuri. Ia menelepon Yuri yang tengah berada di kantornya.

“Aku menerima telepon konfirmasi dari penginapan dan saat mereka bilang kamar ranjang ganda, kubilang “Jangan itu.” Tolong ganti ranjang besar!” ujar Yuri-san. “Apa masalahnya? Kalian selalu tidur bersama, ‘kan?”

“Kami ti…” protes Mikuri terputus. “…dur bersama. Ya.” Ujar Mikuri akhirnya.

Mikuri dan Hiramasa lalu menemui petugas penginapan dan minta ganti kamar. Tapi sepertinya semua kamar ranjang terpisah sudah terisi. Hirasama akhirnya meminta Mikuri untuk menyerah saja dan tidak perlu memaksa lagi.

Mikuri hanya bisa menghembuskan nafas berat. Ia teringat dengan pacar SMA-nya. Pacar SMA Mikuri adalah orang yang sangat mudah protes. Apabila apa yang diberikan tidak sesuai dengan yang ia minta, maka ia tidak segan meminta ganti dengan sedikit memaksa. Dan akhirnya Mikuri hanya bisa minta maaf dan berusaha memaklumi pacarnya itu.

Mikuri lalu memikirkan kalau waktu itu adalah Hiramasa. Hiramasa lebih tenang. Saat ada sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, Hiramasa akan menanggapinya dengan tenang dan berpikir positif. Dan yang jelas, tidak memaksa minta ganti hingga membuat masalah lain.

Bahkan di angan-angan pun tetap menyenangkan.

Mikuri sadar dari lamunannya saat Hiramasa menegurnya dan mengajaknya kembali ke kamar. Mikuri masih memikirkan soal pacar SMA-nya saat ia kemudian sadar mengenal sebuah suara.

Tidak jauh dari mereka, ada pasangan kekasih. Si pria tengah protes pada pegawai penginapan soal menu makanan. Meski pacarnya sudah minta agar mereka menerima saja, si pria tidak mau tahu dan tetap protes tanpa tahu diri.

Mikuri mengenali pria yang tengah protes itu. Dia adalah pacar masa SMA Mikuri dulu. Sadar kalau mengenalnya, Mikuri buru-buru mengajak Hiramasa untuk pergi dari sana.

“Aku tak tahu laki-laki tadi, tetapi rasa toleran perempuan yang berpacaran dengannya patut dipertanyakan juga, ya?” komentar Hiramasa. Rupanya ia juga ikut memperhatikan pasangan tadi.

Kenapa ya dulu aku berpacaran dengannya?

Sebelum festival sekolah, orang-orang sedikit demi sedikit mulai berpasangan. Di saat seperti itu, dia mengajakku pacaran. Dia keren, dan bukan orang jahat. Kupikir tak apa-apa berpacaran dengannya. Namun, cara pandang kami tak begitu sama.

Banyak sifat Kaoru (nama si pria) yang membuat Mikuri kesal. Selain karena tidak toleran terhadap sesuatu, Kaoru juga banyak memaksakan kehendaknya sendiri serta tidak terlelu peduli dengan sekitarnya. Ia benar-benar membuat Mikuri kesal.

Akhirnya, aku diputuskan karena “bersamamu tidak asyik.”

Di kamar, Mikuri dan Hiramasa asyik dengan lamunan mereka masing-masing. Mikuri kemudian mengajak Hiramasa untuk mengambil foto mesra lalu dikirimkan pada Yuri. Hiramasa setuju dengan ide Mikuri ini.

Sementara Mikuri pergi mencari minuman dingin, Hiramasa mengecek tasnya. Ia melihat dan membuka kotak yang diberikan Hino-san padanya. Isinya … minuman penambah tenaga, [Ekstrak ular pit viper]. Hiramasa lalu menelepon Hino-san untuk protes.

“Waktu itu kau bilang khawatir tentang malam hari, ‘kan?” ujar Hino-san.

“Bukan kekhawatiran semacam itu! Kukira ini produk yang bisa membuat tidur nyenyak atau semacamnya,” protes Hiramasa.

“Itu sangat mahal, jadi jangan sia-siakan, ya. Ciao!” Hino-san tidak peduli dengan protes Hiramasa.

Hiramasa makin pusing. Apalagi minuman energi itu adat tiga buah sekaligus.

 

Hiramasa yang kaget dengan kedatangan Mikuri buru-buru menyembunyikan kotak minuman energi itu di bawah ranjang. Mikuri pun menyodorkan minuman dingin pada Hiramasa.

“Ini memang ranjang besar, tetapi jika sebesar ini, seperti tidur dalam kelompok besar. Kupikir kita bisa tidur tanpa ada masalah. Seperti duduk bersama di sofa. Ditambah lagi, pegasnya kelihatannya bagus. Kupikir kita takkan terganggu oleh gerakan masing-masing,” Mikuri bahkan mencoba telentang di ranjang, membuat Hiramasa kaget. Mikuri merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah selimut, “Di bawah ini ada sesuatu…” dan berniat melihatnya.

Tapi Hiramasa mencegah cepat, “Ah, jangan! Ada ular pit viper … [mamushi].” Tapi Hiramasa buru-buru meralatnya, “Serangga. Ada serangga.[mushi]. Itu serangga yang cukup kuat, jadi sebaiknya tak usah dilihat.”

“Ayo telepon petugas kamar!” Mikuri beranjak ke meja telepon.

“Tidak usah… ini bukan masalah besar,” sergah Hiramasa lagi. Tapi Mikuri tidak mendengarnya dan tetap berusaha menelepon. Hiramasa akhirnya mengambil kesempatan mengambil kotak minuman energi itu dari balik selimut,berguling di lantai dan melemparkan kotak itu hingga jatuh jauh di bawah kursi.

“Ah, dia lari. Serangganya lari. Di dekat kakimu!” Hiramasa mengingatkan.

Takut dan kaget, Mikuri pun melangkah mundur. Tapi lantai yang tidak rata membuatnya nyaris terjatuh. Sigap Hiramasa menyambar tubuh Mikuri, berniat menolong. Tapi, lantai yang licin membuat Hiramasa ikut terpeleset dan keduanya pun terjatuh dalam posisi … Hiramasa berada tepat di atas Mikuri, sangat dekat, nyaris berciuman. (kkkkk, posisinya aduhai. Kalau di drakor biasanya sih lanjut romantisnya. Tapi … ini jdrama, jadi sabar ya)

Sadar posisi mereka masing-masing, Hiramasa segera menyingkir cepat. “Ini tak bisa dihindari!”

“Aku tahu, tak apa-apa,” Mikuri pun buru-buru bangun.

“Itu bukan pelecehan seksual,” ujar Hiramasa lagi.

“Ini kecelakaan. Anda aman.”

Tapi kekhawatiran di wajah Hiramasa makin menjadi. Meski belum dua jam kami sampai di sini, pada akhirnya … apa misi liburan kantorku bisa terwujud dengan aman?

Mikuri juga memikirkan hal itu. Keringat Hiramasa benar-benar banyak dan entah kenapa, aku juga…

Hiramasa dan Mikuri baru sadar, kalau ternyata ruangan mereka … sangat panas.

Petugas hotel minta maaf karena ternyata pendingin ruangan di kamar Hiramasa dan Mikuri tidak bekerja dengan baik. Ia pun kemudian mempersilahkan Hiramasa dan Mikuri pindah ke kamar lain.

“Ini kamar terbaik, tetapi baru pagi ini kami menerima pembatalan reservasi. Kami takkan meminta tambahan biaya. Ini adalah kamar yang terhubung dengan kamar mandi di luar ruangan. Semoga liburan Anda menyenangkan.”

Tapi lagi-lagi Hiramasa dan Mikuri dibuat syok karena kamar baru mereka lebih parah. Ada kamar mandi terbuka di teras, yang langsung terhubung dengan kamar mereka yang beranjang besar. Ini lebih mengkhawatirkan dibanding kamar yang tadi.

Tapi Mikuri berupaya berpikir positif, “Kita beruntung dapat kamar yang indah ini, ya!”

“Tidak, tidak, tidak…Kamar ini aneh, ‘kan? Kamar ini tidak cocok untuk liburan kantor,” elak Hiramasa.

“Tapi ini kamar terbaik. Dan semua kamar lain penuh,” ujar Mikuri.

“Kalau begitu, aku akan pergi ke kamar mandi besar di bawah,” Hiramasa memutuskan.

“Sayang sekali, dong! Kalau pintu gesernya ditutup, kita bisa masuk seperti biasa, dan harga kamar ini mungkin lebih dari 100.000 yen. Kita tak biasanya bisa tinggal di kamar seperti ini, jadi ayo kita nikmati sepuasnya,” bujuk Mikuri lagi.

Belum selesai obrolan mereka, petugas hotel datang lagi. Ia mengatakan akan memberikan barang yang tertinggal di ruangan sebelumnya. Mikuri yang di dekat pintu tadinya mau menerima barang itu. Tapi petugas hotel melewatinya dan langsung memberikan kotak itu pada Hiramasa, lengkap dengan ekspresi wajah mencurigakan.

Mikuri heran sekaligus penasaran, “Apa itu?”

“Ini tak ada hubungannya denganmu,” ujar Hiramasa.

“Karena kita sudah di sini, bagaimana kalau berendam bersama?” usul Mikuri.

Kaget dengan ide Mikuri, kotak di tangan Hiramasa pun terjatuh hingga pembungkusnya terbuka. Hiramasa buru-buru menerkamnya, menghindarkannya dari Mikuri. “Jangan lihat! Jangan seenaknya bercanda seperti mengajak berendam bersama. Ini hanya hubungan kerja, dan pelukan di hari Selasa. Bahkan saat ini, hanyalah acara liburan kantor. Tidak lebih atau kurang dari itu. Yang benar saja, kau selalu berkata hal-hal gila seperti itu.” Hiramasa berusaha membungkus kembali kotak di tangannya sambil mengomel pada Mikuri.

Mikuri pun keluar dari ruangan mereka dengan kesal, “Aku dimarahi.”

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Kekekeke … kira-kira, kotak berisi minuman energi itu bakalan berguna nggak ya? Tapi melihat Hiramasa yang sangat kaku dan terlalu logis begitu sih sepertinya nggak banyak harapan. Tapi, yang namanya lelaki ya tetap lelaki kan ya. Sepintar atau selogis apapun dia, lelaki tetaplah serigala #ups. Ini kata bang Irie Naoki lho, di drama Itazura na Kiss.

Sampai jumpa di bagian kedua.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top