Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 05 part 1

SINOPSIS Married as Job 05 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 05 part 1. Hubungan Mikuri dan Hiramasa adalah kontrak kerja. Mikuri berstatus sebagai istri kontrak, yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah Hiramasa dengan gaji tertentu. Tapi, hubungan mereka tidak berjalan mulus seperti rencana.

“Hiramasa…maukah Anda menjadi pacarku? Jika aku berpacaran dengan Anda, Hiramasa, aku tak perlu menyembunyikannya dari orang lain. Tidak ada hal tak penting yang perlu kukhawatirkan. Semua terserah Anda.”

“Terserah padaku?” Hiramasa panik.

Dia terpojok. Dia benar-benar terpojok.

Imajinasi Mikuri. Ada dua kandidat cinta untuk calon Mikuri di Parta Pekerjaan Rumah Tangga, Tsuzaki Hiramasa atau Kazami.

Akan tetapi…Salah satu alasan utama canggungnya hubungan kami adalah, rendahnya rasa percaya diri Hiramasa. Karena hal itu, setiap kali dia membentengi hatinya, aku hanya merasakan kesepian, aku sudah di batas kesabaranku. Karena rasa kesepian yang berlebihan, aku bahkan hampir jatuh ke kata-kata manis Kazami. Namun kalau itu terjadi, rasa percaya diri Hiramasa akan makin rendah, dan tembok di hatinya akan makin tinggi. Jadi, aku memutuskan untuk meruntuhkan tembok itu. Caranya… dengan berevolusi menjadi kekasih. Dengan mengubah peran menjadi kekasih, aku mengambil pendekatan psikoterapi untuk menambah rasa percaya dirinya.

Di saat yang sama, hal ini bisa mengisi rasa kesepian di hatiku. Hanya prasangka! Benar. Kalian semua benar. Ini strategi sekali-mendayung-dua-tiga-pulau-terlampaui yang hanya bisa dipikirkan orang berprasangka sepertiku. Pilihlah Moriyama Mikuri yang paling suka berprasangka, Moriyama Mikuri. Terima kasih. Memilih atau tidak memilih, semua terserah kalian. Terserah Anda, Hiramasa.

Jadi, apa keputusanmu? Apa keputusanmu, Hiramasa?

“Apa berpacaran itu sesuatu yang ingin kaucoba?” Hiramasa masih mencoba menenangkan diri setelah meneguk air.

“Menurutku tak ada apa pun yang tak bisa dilakukan.”

“Menurutmu kekasih itu apa?”

Mikuri berpikir, “Makan bersama…”

Tapi buru-buru dipotong oleh Hiramasa. Tiap ide soal kekasih yang dikatakan oleh Mikuri, selalu dapat dipatahkan oleh Hiramasa. Karena semua hal itu juga bisa dilakukan bahkan bersama orang yang bukan kekasih.

“Bagaimana dengan sentuhan?” usul Mikuri kemudian. “Berpelukan saat senang, atau bergelung bersama saat lelah. Menepuk kepalaku dan berkata “tak apa-apa”… Bukankah kekasih adalah hubungan yang saling mendukung seperti itu? Ada saatnya, ‘kan? Anda berpikir “Aku sangat lelah… aku butuh pelukan…””

“Misalnya kita melakukannya, bisakah kau menyebutnya tempat kerja?” Hiramasa masih ragu.

“Tentu saja, kita akan membuat pemisah yang jelas dengan pekerjaan. Aku hanya mau menentukan waktu berpacaran khusus di luar jam kerja,” lanjut Mikuri. Ia berjanji tidak akan minta lebih dari itu.

“Kalau kau segitu inginnya dihibur, alih-alih hanya nama…kenapa kau tak cari pacar sungguhan?” usul Hiramasa.

Mikuri cukup terkesiap dengan saran Hiramasa ini, “Aku hanya mau hal yang baik dari sebuah hubungan.”

Melihat Hiramasa yang terus terpojok sejak tadi, Mikuri pun tak mau memaksa lagi. Ia pun mengatakan kalau Hiramasa tidak perlu buru-buru mengambil keputusan. Lalu mengucapkan selamat tidur.

Hari berikutnya

Mikuri datang lebih pagi ke rumah Kazami. Kazami heran dan berpikir kalau Mikuri dan Hiramasa bertengkar. Tapi Mikuri mengatakan tidak ada masalah dengan mereka.

Kazami menyerahkan pemberitahuan pembersihan pipa pada Mikuri. Jadi, hari itu akan ada yang datang untuk bersih-bersih. Karena Mikuri ada di sana, Kazami jadi tidak khawatir lagi.

“Kedatanganmu benar-benar membantu,” ujar Kazami-san.

“Aku menerima semua uang tambahan,” jawab Mikuri.

Yuri berjalan ke kantor seperti biasa. Ia melihat Kazami-san turun dari tangga dan berniat menyembunyikan wajahnya. Tapi sebuah suara menarik perhatian Yuri-san.

Yuri-san kemudian melihat Mikuri yang berlari turun mengejar Kazami-san. Mikuri menyerahkan payung pada Kazami-san. Terdengar percakapan kalau Kazami meninggalkan payung itu di teras, padahal ada kemungkinan hari itu akan hujan. Yuri tidak menyangka akan melihat adegan seperti itu. Pikirannya langsung menyimpulkan sesuatu. Ada yang tidak beres!

Hiramasa makan siang bekal dari Mikuri seperti biasa. Tapi pikirannya masih mengingat apa yang dikatakan Mikuri kemarin malam.

Apa maksudnya hanya ingin hal baik dari sebuah hubungan? Ada saatnya, ‘kan? Anda berpikir “Aku sangat lelah… aku butuh pelukan…” Aku tak pernah berpikir demikian. Dalam hidupku, aku jarang mendengar kata “pe-luk”. Aku ingat pernah dipeluk ibuku saat masih anak-anak. Namun dari seseorang tanpa hubungan darah, tidak seorang pun dalam 35 tahun….

“Apa ini? Sejarah 35 tahun berubah dalam sekejap,” gumam Hiramasa.

Melihat Hiramasa yang bergumam sendiri, Hino-san pun mendekatinya. Ia berniat memeluk Hiramasa karena berpikir Hiramasa kesepian, seperti yang dikatakan oleh Numata-san. Tapi Hiramasa buru-buru mengelak, kalau sebenarnya tidak demikian.

“Tidak, kau salah paham. Hanya … aku sedang memikirkan hidupku,” elak Hiramasa.

“Apa ada sesuatu yang terjadi dengan istrimu? Kau seharusnya mengalah saat bertengkar. Dalam rumah tangga, yang terpenting adalah menjaga istrimu dalam suasana hati yang baik. Kalau kalian berdua adu kuat dan mencoba mendominasi, kalian akan terus begitu sampai salah satu dari dari kalian kalah. Sebelum menjadi legenda penguasa tertinggi abad ini, berhenti bertengkar adalah yang terbaik,” ujar Hino-san memberi saran tanpa diminta.

Tapi saran dari Hino-san maupun komentar dari Numata-san membuat Hiramasa makin memikirkannya. Kenapa Mikuri berpikir untuk memeluk laki-laki yang tak disukainya? Atau… apa mungkin… dia tidak tak menyukaiku? Berhenti tersipu. Tenangkan dirimu. Cara terbaik adalah proses eliminasi. Ini evaluasi relatif dan bukan evaluasi pasti, jangan salah. Dia tidak secara khusus menyukaiku. Aku hanya majikannya… hanya sebagai…bantal peluk. Hanya saja kebetulan ada laki-laki yang pas di depannya. Hiramasa bergumam sendiri sambil tertunduk di meja.

Melihat tingkah Hiramasa ini, Hino-san dan Numata-san tidak punya pilihan lain. Mereka kemudian memeluk Hiramasa-san, membuat yang dipeluk justru tidak nyaman.

“Aku tidak kesepian, aku baik-baik saja.”

“Ini sulit dimengerti. Perbaiki lagi bahasa Jepang-mu. Kurasa maksudnya bisa tersampaikan. Tulis kembali sambil memikirkan orang yang membacanya!” pesan Yuri-san pada bawahannya yang wanita.

Ia kemudian kembali ke mejanya, mengambil tas dan beranjak pulang. Kali ini Yuri pulang tepat waktu. Dan sikap ini langsung jadi obrolan para staf bawahannya. Mereka menduga-duga kalau masalah Yuri pasti soal lelaki, lalu putus dan seterusnya.

Rupanya Yuri-san menunggu Kazami-san di depan gedung. Hari sudah gelap saat akhirnya Kazami keluar dari kantornya dan diajak bicara oleh Yuri.

“Apa kau mau pergi makan bersama?” tawar Kazami-san.

“Tidak mau!” elak Yuri-san cepat. “Aku melihatmu pagi ini, di stasiun. Kau dan Mikuri.”

“Hanya karena kami tinggal berdekatan. Kupikir sebaiknya kau bertanya padanya,” saran Kazami-san, tetap santai.

“Aku tak bisa! Aku tak mau dia berpikir aku tante yang mengganggu. Dari awal, kau memanfaatkan masalah dalam hubungan mereka dan memperdayanya. Ini salahmu. Aku tak percaya Mikuri bisa selingkuh…” saat berpaling Yuri melihat Hiramasa juga berjalan keluar dari kantor. Yuri berniat mengikuti Hiramasa. Tapi saat melihat ke sekeliling, ternyata Kazami sudah menghilang.

Ternyata Kazami menggunakan jalan lain dan menyeret Hiramasa pergi, agar tak lagi ada dalam jangkauan Yuri. “Ini gawat!” ujar Kazami pada Hiramasa.

Mikuri tengah memasak makan malam saat Yuri meneleponnya.

“Apa kalian berdua baik-baik saja?” Yuri menelepon saat masih di jalan. Ia tengah berusaha berteduh dari hujan yang mengguyur malam itu. “Aku hanya sedikit khawatir. Yah, ini pernikahan tiba-tiba, ‘kan? Biasanya… pasangan yang menikah tiba-tiba menikah tanpa benar-benar kenal satu sama lain. Misalnya, sang suami sebenarnya kasar, atau yang lain?”

Mikuri heran tiba-tiba ditelepon begitu oleh Yuri, “Hah? Apa maksudmu?” Mikuri sempat memikirkannya, “Kurasa situasi sekarang agak canggung. Semuanya salahku. Aku mengatakan sesuatu yang sangat berani.”

“Kau memberitahu Hiramasa tentang Kazami?” Yuri makin syok dan curiga.

“Hah?” Mikuri bingung.

“Kenapa kau memberitahunya? Apa kau hanya tergoda? Atau serius? Yang mana yang benar-benar kausukai?” cecar Yuri.

“Yuri, kau bicara apa, sih? Maaf, Hiramasa pulang, aku tutup dulu, ya.”

Sambil menunggu makan malam, Hiramasa pun menceritakan semuanya pada Mikuri. Dari Kazami, ia mendengar cerita kalau Yuri curiga, ada masalah antara Mikuri dengan Hiramasa. Hingga Mikuri berselingkuh dengan Kazami. Dari sana, Mikuri akhirnya mengerti kenapa Yuri tadi meneleponnya dengan nada begitu khawatir.

“Kita terlihat terlalu berjarak, dan sama sekali tak terlihat seperti pengantin baru,” ujar Hiramasa.

“Tak ada yang bisa kita lakukan…”

“Bagaimana kalau kita coba?” tawar Hiramasa tiba-tiba. “Apa yang kauusulkan. Maksudku, berpacaran. Kalau dipikir-pikir, alasan Numata curiga dan alasan kita ketahuan oleh Kazami, dan masalah ini pun, semuanya, karena kita sama sekali tidak terlihat seperti pengantin baru.”

Mikuri memberikan usulan, “Kalau kita menciptakan suasana seperti kekasih, mungkin kecurigaan Yuri bisa hilang.”

“Suasana seperti kekasih itu seperti apa, aku tak begitu mengerti, tetapi…”

Mikuri mengusulkan soal berpelukan. Kontan Hiramasa kaget karena itu tiba-tiba. Lalu Mikuri memberi opsi lain, berpegangan tangan ala kekasih. Hiramasa makin bingung. “Sebagai perbandingan, pelukan digunakan sebagai salam di luar negeri, termasuk antara anggota keluarga dan teman.”

“Aku mulai berpikir berpelukan lebih baik.” Hiramasa akhirnya setuju.

Mikuri lalu memberitahukan detail pelukan. Soal bagaimanya mengawalinya, lalu merespon pelukan hingga berapa lama harus berpelukan. Semuanya justru seperti gulat. Tapi Mikuri hanya berpikir itu dasarnya saja. Akhirnya Hiramasa pun setuju.

Hiramasa membuka tangannya lebar-lebar. Lalu Mikuri pun menghambur ke pelukannya. Setelahnya Hiramasa pun membalas pelukan Mikuri dengan meletakkan tangannya di punggung Mikuri. Keduanya berpelukan dengan sangat kaku. Tapi tidak sampai hitungan tiga, hingga keduanya pun saling melepaskan pelukan, canggung. Hiramasa segera mengajak Mikuri untuk makan malam saja.

Ini… apa artinya, ya? Dia menyesalinya? Atau optimis dengannya? Dia sama sekali tak berekspresi, aku tak bisa membacanya.

Di kantor, Yuri masih saja jadi bahan obrolan para staf karyawan yang lain. Mereka mulai menebak-nebak, kalau Yuri ditolak oleh pria yang lebih muda dan pulang sambil menangis di bawah hujan. Saat itu, Yuri masih asyik memegangi ponselnya, ragu apakah ia akan menghubungi Mikuri atau tidak.

Kedua bawahan langsung Yuri mengingatkannya kalau mereka akan rapat jam 3. Yuri berpikir akan menelepon dulu. Tapi kedua bawahan itu mengingatkan kalau akan jadi masalah jika Yuri terlalu sering menelepon. Yuri pun akhirnya setuju dan beranjak menuju ruang rapat.

“Benar-benar, deh. Ini semua salah laki-laki ganteng itu!” guma Yuri. Dan para karyawan di sekitarnya pun mendengar itu. Yuri berhenti dan berbalik ke arah bawahan langsungnya yang laki-laki, “Umehara, kau ganteng, ‘kan? Namun entah kenapa, aku tak terganggu olehmu. Kenapa, ya? Apa karena kau anak buahku?”

Dan rumpian soal Yuri makin panjang. Para karyawan berpikir kalau Yuri sekarang membribiki (menjadikan gebetan. Aduh Na, bahasamu ini lho, kekekek) bawahan yang pria, Umehara.

Kazami-san menemui Hiramasa di mejanya. Ia menanyakan soal mereka, yang ‘nyaris’ ketahuan oleh Yuri. Kazami bahkan menawarkan bantuan.

“Kami akan mengatasinya, jadi jangan khawatir. Kazami, kau jangan melakukan apa pun, ya,” pinta Hiramasa kemudian.

“Aku mengerti,” Kazami-san pun beranjak pergi.

Sementara itu, tidak jauh dari meja Hiramasa, Numata-san tengah serius memerhatikannya. Bahkan Hino-san yang ada di sebelah sedang bicara soal pekerjaan, tidak dipedulikannya. Numata-san asyik dengan tebakan-tebakannya yang kacau soal Hiramasa dan Kazami.

Siang itu Mikuri bertemu dan ngobrol dengan Yassan. Ia membahas soal acara perjodohan yang sempat dibicarakan. Mikuri mengaku tidak mau datang karena sudah punya pacar. Yassan heran.

“Dia punya rasa rendah diri dalam cinta dan mencoba lari dari hubungan mendalam. Namun akhirnya aku melihat secercah harapan,” curhat Mikuri.

Mikuri teringat obrolan dengan Hiramasa sebelumnya. Hiramasa setuju untuk melakukan ide Mikuri, menjadi kekasih. Dan ia juga berpikir soal haru pelukan. Menurut Hiramasa, kalau pelukan dilakukan seenaknya, bisa merusak pekerjaan dan akan melelahkan secara emosi. Jadi, Hiramasa mengusulkan kalau mereka pelukan satu bulan sekali. Mikuri tidak setuju, kalau terlalu jarang, maka mereka tidak akan bisa membuat Yuri percaya. Hiramasa lalu mengusulkan dua minggu sekali, dan Mikuri masih belum setuju. Hiramasa akhirnya mengatakan satu minggu sekali dan tidak mau tambah lagi. Mikuri akhirnya setuju. Dan karena pelukan terakhir adalah hari selasa, mereka pun sepakat akan pelukan lagi di hari selasa. Selasa, jadi hari berpelukan.

“Akan kulewatkan detailnya untukmu, tetapi intinya sekarang kami punya waktu untuk sedikit sentuhan, dan perasaanku akhirnya tenang juga,” Mikuri masih larut pada rasa bahagianya. Dia baru sadar kalau Yassan ternyata malah asyik dengan Hirari. “Apa kau mendengarkan?”

“Tidak…Membosankan, ya, Hirari?”

Saat pulang ke rumah, ternyata Yuri sudah menunggu Mikuri. Yuri mengaku pulang cepat dan akan mengganti jam kerjanya di hari libur besok. Mikuri pun mengajak Yuri masuk. Yuri sempat kesal, karena Mikuri belum menghubunginya lagi sejak telepon kemarin malam.

“Aku mau dengar perasaanmu yang sesungguhnya sebelum Hiramasa pulang. Sebagai tantemu, aku tak mau mengatakan ini, aku tak mau mengatakannya, tetapi aku katakan saja, ya. Sebenarnya kau…” Yuri ragu.

“Kau melihatnya, ‘kan? Aku dan Kazami.”

Yuri sudah langsung panik, “Kalau-kalau kau selingkuh dan bercerai, aku tak bisa menghadapi Sakura (ibu Mikuri), ‘kan? Dari semua tempat yang ada, sarang cintanya adalah apartemen yang kukenalkan padanya. Aku juga setengah bertanggung jawab! Jujurlah. Aku benci Kazami, tetapi jika kau berkata kau mau bersamanya apa pun yang terjadi, aku akan mengabaikan perasaanku. Namun, siapa pun yang kaupilih, aku selalu di pihakmu. Jangan lupakan itu.”

Mikuri akhirnya punya kesempata bicara, “Terima kasih. Akan tetapi, Yuri, aku dan Kazami tak ada hubungan apa-apa. Benar. Tidak ada apa-apa, sama sekali. Aku hanya dipekerjakan olehnya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.”

“Pekerjaan rumah tangga?” Yuri heran.

“Ya, seperti memasak dan bersih-bersih. Seminggu dua kali,” aku Mikuri.

Yuri makin syok, “Pengantin baru di tempat seorang lajang? Dan Hiramasa?”

“Tentu saja dia tahu,” ujar Mikuri cepat.

“Kenapa dia mengizinkannya? Apa yang Hiramasa pikirkan?! Aku tak percaya. Dia kekurangan akal sehat. Telepon Hiramasa di sini sekarang. Aku akan memberinya wejangan!”

Mikuri pun mengirim pesan pada Hiramasa yang masih ada di kantor.

Yuri baru saja datang. Aku bilang aku bekerja di tempat Kazami, tetapi itu hanya memperburuk keadaan. Maaf! Lengkap dengan emot lucu LOL

Malam itu Mikuri menjemput Hiramasa di bawah. Dia memberitahu Hiramasa kalau Yuri tertidur karena belakangan kurang tidur akibat memikirkan Mikuri. Mendengar itu Hiramasa pun sedikit lega.

“Ayo pulang dan berpura-pura menjadi pasangan yang mesra. Saat dia bangun dia akan merasakan betapa dekatnya kita,” ujar Hiramasa.

“Kalau begitu, jelaskan juga kalau kepergianku ke rumah Kazami tidak mengganggu Anda sama sekali,” tambah Mikuri. “Tunggu! Lebih baik kita menciptakan suasana seperti kekasi!” usul Mikuri.

“Ini hari Jumat!” protes Hiramasa. “Apakah kau akan langsung melanggar peraturan?”

“Ini keadaan darurat!” elak Mikuri.

Saat itu ternyata Yuri keluar dari apartemen Hiramasa dan berdiri di balkon. Melihat Yuri ada di sana, Mikuri dan Hiramasa tidak punya pilihan untuk langsung berpelukan. Mereka ingin meyakinkan Yuri kalau keduanya baik-baik saja.

“Dasar Hiramasa, bagaimana mungkin kau lupa bawa kunci rumah?” ujar Mikuri saat dia dan Hiramasa kembali ke apartemen.

“Terima kasih sudah menjemputku, Mikuri.”

Saat itu Yuri tengah duduk di kursi. Rambutnya tampak acak-acakan dan ia baru saja mengenakan kaca matanya kembali. “Selamat datang….Maaf, aku ketiduran.”

Mikuri sadar sesuatu, “Yuri… kapan kau melepas lensa kontakmu?”

“Saat bangun, mataku sangat sakit…” ujar Yuri. Jadi, biasanya ia mengenakan lensa kontak. Dan karena dilepas, sekarang ia mengenakan kaca matanya.

“Kau baru saja dari balkon, ‘kan?” ujar Mikuri lagi.

“Ah, yang di bawah itu kau, Mikuri? Kulihat ada orang lain di sana, tetapi aku tak pakai lensa kontakku, jadi semuanya buram,” aku Yuri.

Jadi, usaha Mikuri dan Hiramasa untuk berpelukan agar dilihat oleh Yuri ternyata … sia-sia.

“Hmm, Yuri, meski sepertinya kami membuatmu khawatir, sebagai suami-istri, kami…”

Ucapan Mikuri dipotong oleh Yuri. Ia mengaku sangat ngantuk dan lelah jadi pamit pulang begitu saja. “Aku akan meneleponmu besok.”

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Terimakasi Yuri-san, kekekeke. Ya meski pelukannya masih kaku dan terpaksa, tapi paling nggak ada progress lah soal hubungan mereka ini.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

4 comments

  1. Yaahh Yuri Ternyata ga liat, aduh jadi mkin aneh aja hubungan mereka. Mungkin gak Ya ada kisah seperti ini di dunia nyata? Btw, Arigatou Na

    • aneh, kaku dan lucu
      tapi Na suka couple ini. nggak maksa sok romantis gitu
      jadi, deketnya natural gitu kekekeke
      di dunia nyata ya? hmmm … kalau di negeri kita ini kayaknya nggak lazim ya, nikah kontrak gitu
      selama ni cuma tahunya ya di sinet atau drama aja sih, belum nemu yg nyata
      terimakasih juga udah mampir dan komen di sini terus, #ehe

  2. #hahaha lucu kalo ran dgn sinichi pasti dah kena jitak kepalanya kan…

    Suka liat mereka semoga hubungan nya semakin rapat dan bisa saling menyadari ht mereka… Arigato na
    #big hug

Leave a Reply

Scroll To Top