Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 04 part 2

SINOPSIS Married as Job 04 part 2

SINOPSIS dorama Married as Job episode 04 part 2. Mikuri akhirnya mengambil pekerjaan sambilan sebagai pengurus rumah milik Kazami-san. Hiramasa setuju dengan keputusan Mikuri ini. Tapi ia sudah mewanti-wanti Mikuri untuk tidak bicara soal pekerjaan sambilannya itu pada Hiramasa. Padahal Mikuri merasa ada banyak hal yang ingin dibicarakannya.

Kazami-san menyapa Hiramasa yang tengah makan siang. Ia pamer soal masakan yang dibuatkan Mikuri di rumahnya. Mikuri membuatkannya tiga masakan berbeda untuk tiga hari. Meski ketiganya kari, tapi jenis kari yang berbeda. Meski begitu, Hiramasa tampak tidak terlalu tertarik. Ia tetap makan bekal makan siangnya seperti biasa.

“Sudah lama aku tak seantusias ini menantikan waktu makan. Apa makan malammu semalam, Tsuzaki?” tanya Kazami-san lagi.

“Nasi bumbu jahe.”

“Ah, kedengarannya enak. Mungkin aku juga akan beli penanak nasi dan memintanya memasakkan itu untukku…” lanjut Kazami-san kemudian.

Sementara itu ada Numata-san yang duduk tidak jauh dari mereka. Numata-san makan siang tanpa mengalihkan pandangannya dari Hiramasa dan Kazami. Wajahnya menunjukkan kecurigaan dan tebakan-tebakan aneh seperti biasanya.

Lalu ada Hino-san yang tiba-tiba bergabung. Ia penasaran dengan isi obrolan Hiramasa dan Kazami. Ia bahkan menebak kalau Kazami sudah punya pacar baru. Tapi Kazami buru-buru mengelak.

Sementara itu Mikuri seperti biasa membuatkan makan malam untuk Hiramasa. Tapi Hiramasa tertegun sebentar melihat masakan Mikuri, membuat Mikuri heran. Tapi ia buru-buru menepis keheranan Mikuri dengan memakan masakan itu.

“Ini daging ayam?” tanya Hiramasa.

“Ini kari ayam yang biasa. Anda suka ayam, ‘kan?” Mikuri heran. Tapi melihat Hiramasa tidak merespon, Mikuri pun mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana kabar… Numata belakangan ini? Baik?” tapi pertanyaan Mikuri juga hanya dijawab oleh Hiramasa dengan anggukan saja. Mikuri akhirnya bicara soal hal lain lagi. “Hari ini aku bertemu Yassan saat makan siang.”

“Kalau tak salah… teman sekelasmu dari SD?” Hiramasa akhirnya merespon.

“Ya. Mantan preman dan mantan pegawai negeri. Dia menikahi rekan kerjanya, mengundurkan diri, melahirkan anak dan sekarang kembali ke rumah orangtuanya. Yassan yang itu.”

Siang harinya Mikuri sempat bertemu dengan Yassan. Mereka bicara di sisi sungai, bersama Hirari yang tertidur di kereta bayi-nya.

Yassan bercerita kalau ia sudah yakin soal perselingkuhan suaminya. Ia mengaku punya bukti terpercaya. Ada teman-teman lamanya yang menangkap basah si suami saat sedang berselingkuh. Mereka bahkan mengambil gambar saat perselingkuhan itu terjadi. “Itu benar-benar pemandangan tak pantas darinya dan wanita itu… Aku bisa melihatnya dari sudut mana pun. Itu kumpulan dua puluh foto epik. Mau lihat?”

“Tidak, terima kasih,” elak Mikuri, merasa tidak enak.

“Apa kau tahu? Aku sudah menunjukkan foto-foto ini padanya. Menurutmu apa yang dia katakan?”

Mikuri berpikir sebentar, “Itu hanya impulsif semata, maaf.”

“Bukan, salah. Supaya aku bisa terus mencintaimu, aku perlu membagi perasaanku.” Tak masuk akal, ‘kan?”

Mikuri menceritakan semuanya pada Hiramasa. “Jadi dia akan pergi ke acara perjodohan. Untuk mencobanya sendiri apa yang suaminya katakan tentang berbagi perasaan. Dia bahkan mengajakku ikut. Ah, aku tak akan pergi, kok. Yassan tidak tahu tentang situasiku saat ini jadi dia berkata begitu.”

“Bukankah pergi itu baik?”

“Akan tetapi…Ada peluang seseorang dari kantormu kebetulan melihatku…” elak Mikuri.

Tapi respon Hiramasa sama sekali bukan yang diharapkan Mikuri, “Hal seperti itu kecil kemungkinannya terjadi.”

“Bukannya aku ingin pergi…” Mikuri merasa kecewa.

Lagi, tembok itu. Saat Hiramasa melihat bayangan laki-laki lain, dia langsung membangun tembok. Ini mungkin disebabkan karena rendahnya rasa percaya diri. Kemampuan untuk berpikir bahwa dirinya berharga.

Orang dengan rasa percaya diri yang tinggi lebih memperhatikan keberhasilannya dan lebih menguatkan dirinya. Orang dengan rasa percaya diri yang rendah lebih memperhatikan kegagalannya. dan lebih mengecilkan dirinya.

Hiramasa mungkin tak pernah jatuh cinta, dan tidak pernah menaikkan rasa percaya dirinya hingga saat ini.

Kembali pada obrloan Hiramasa dan Mikuri.

“Hiramasa… apa kau bersekolah di sekolah khusus laki-laki?”

“Tidak, sekolah campuran,” Hiramasa masih asyik dengan makannya.

“Apa kau pernah ikut acara perjodohan?” tanya Mikuri lagi.

“Kenapa?”

“Tak ada alasan khusus…” Mikuri ragu untuk terus bicara.

“Berhentilah mengorek dan menganalisis. Kau berprasangka,” tegur Hiramasa. Ia pun menyelesaikan makannya dan kembali masuk ke kamar.

Merepotkan sekali Meskipun aku hanya bosnya, rasanya seperti cinta bertepuk sebelah tangan pada seseorang yang punya pacar. Kau mulai membencinya dan dirimu sendiri. Perasaan seperti ini tidak produktif. Pada saat itu… Hiramasa ingat saat Kazami-san menegurnya dan menebak hubungannya dengan Mikuri dengan tepat.

Kalau saja aku bisa berbohong lebih baik. Pada saat itu… kalau saja aku bisa melarangnya bekerja di dua tempat.

Hiramasa juga teringat curhat Mikuri saat ia sakit, dulu. Saat itu Mikuri mengatakan kalau ia selalu gagal dalam pencarian kerja. Saat ada dua pilihan, maka bianya Mikuri yang tidak akan dipilih. Saat itu Mikuri merasa senang karena dianggap oleh Hiramasa.

Pada saat itu kupikir kita sama. Tidak dipilih oleh siapa pun. Tidak diperlukan. Aku belum pernah diterima oleh seseorang yang kusayangi. Berpikir bahwa kami sama. Apakah ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh seseorang sepertiku?

Hingga kemudian Hiramasa memutuskan membuat kontrak pernikahan dengan Mikuri. Tanpa banyak perdebatan, Mikuri langsung setuju saja dengan kontrak itu. Dan kini, Mikuri bekerja mengurus rumah Hiramasa, dengan status istri kontrak.

Atau sebaliknya, mungkin aku harus melepaskannya. Dengan begitu aku bisa hidup tenteram selamanya.

Sambil menunggu Mikuri menyiapkan bekal makan siangnya, Hiramasa memandangi terasnya. Ia melihat hanya ada satu burung emprit yang mampir dan makan di terasnya. Hiramasa heran karena Cuma ada satu burung saja, padahal biasanya ada dua.

Pembicaraan soal Kazami akhirnya muncul. Soal Kazami yang ingin beli penanak nasi dan ingin dibuatkan nasi berbumbu, seperti yang Mikuri buatkan untuk Hiramasa. Hingga pembahasan soal kari lobak dan daging yang dibuatkan Mikuri sebelumnya.

“Aku sedikit gagal, jadi aku mengubahnya jadi kari. Karena kupikir Kazami punya lidah yang peka, kupikir aku tak bisa masak yang tak enak,” ujar Mikuri lega.

“Aku bisa bertukar dengan Kazami,” ujar Hiramasa tiba-tiba. “Posisi. Kau bisa pindah ke rumah Kazami dan menjadi istri tak terdaftarnya, dan bekerja di tempatku seminggu sekali seperti dulu. Kalau pergi ke sini merepotkanmu, aku bisa menyewa jasa pembersihan rumah lagi.”

Mikuri bingung, “Akan tetapi…apa Anda tak keberatan?”

“Semua terserah padamu,” Hiramasa tetap bersikap dingin.

Bukankah tidak adil terus berkata “terserah aku”? Kalau begitu, aku akan pergi ke rumah Kazami! Kalau aku bilang begitu, mungkin dia akan mengizinkan, tanpa berusaha menghentikannya.” Semua hanya ada dalam pikiran Mikuri. Mikuri pun menyerahkan bekal makan siang yang sudah dibuatnya pada Hiramasa.

Hiramasa lalu beranjak dan pamit pergi. Sama sekali tidak membalas salam Mikuri yang melepasnya pergi.

Mikuri kecewa. Ia teringat masa saat masih di kampus dulu. Selalu seperti ini. Tak peduli seberapa keras aku menyembunyikannya, kekuranganku langsung terlihat. Aku dibenci dan ditolak. Bahkan saat itu…

Di kampus, Mikuri sempat punya kekasih, Shinji, namanya. Dia satu tahun lebih tua dari Mikuri. Dan saat itu adalah tahun ketiga kuliah, saatnya untuk mencari pekerjaan. Tapi berkali-kali melamar pun, Shinji selalu gagal. Sebagai pacar yang baik, Mikuri terus menemaninya. Mikuri bahkan memberikan berbagai saran dan terus menyemangati Shinji. Tapi, bukan senang, Shinji justru kesal. Ia kesal karena berpikir Mikuri Cuma bisa menganalisis dan memberi saran saja. Dan itu justru membuatnya makin terpojok. Akhrinya Shinji pun memutuskan Mikuri.

Mikuri berpikir, apakah mungkin Hiramasa juga merasakan hal yang sama. Selalu diberi saran dan akhirnya justru merasa terpojok.

Mikuri baru saja menyelesaikan pekerjaannya di rumah Kazami-san saat ada pesan masuk di ponselnya. Dari Hiramasa. Aku akan telat karena lembur, jadi tak perlu menyiapkan makan malam.

Saat itu Kazami-san juga baru saja datang. Melihat Mikuri, ia bertanya apa Mikuri akan segera pulang dan menyiapkan makan malam untuk Hiramasa. Mikuri menyiyakan saja. Tapi Kazami menambahkan, kalau hari ini Hiramasa lembur.

Mikuri baru ingat, “Ya, dia baru saja memberitahuku.”

Kazami pun menawarkan apakah Mikuri mau makan malam bersamanya. “Aku tak akan membayar uang lembur, tetapi jika kau tak keberatan…”

“Aku tidak setamak itu,” elak Mikuri cepat.

Pesan balasan dari Mikuri pun datang. Oke, tidak ada makan malam. Sebagai gantinya aku akan masak sarapan yang lebih enak besok.

Kenapa aku berpikir dia sama denganku? Tidak sepertiku, dia pasti pernah berpacaran sebelumnya. Dan dia mungkin saja akan punya banyak calon pacar. Bukannya konsentrasi dengan pekerjaan, Hiramasa justru memikirkan Mikuri. Apalagi setelah Mikuri membalas pesannya tadi.

Mikuri akhirnya makan malam, menemani Kazami di rumahnya. Mereka bicara soal acara perjodohan. Mikuri tidak berpikir akan datang. Kazami juga berpikir begitu, tapi kalau Mikuri datang, ia berpikir akan datang juga.

“Memang ya, orang populer benar-benar berbeda. Dengan santai mengatakan hal-hal yang membuat perempuan bahagia,” komentar Mikuri.

Obrolan mereka makin seru sambil makan malam. Mikuri mengatakan kalau dirinya sering dibenci, karena terlalu banyak menganalisis dan mengkritik orang lain. Tapi Kazami justru berpikir itu keren.

“Itu bagian yang menarik. Aku suka. Aku tak peduli apa yang orang lain katakan,” lanjut Kazami-san. Ia menunjukkan keterarikannya pada Mikuri.

Hiramasa sama sekali tidak konsentrasi bekerja. Hal ini membuatku ingin melarikan diri. Jika aku bersamanya aku mungkin bisa keluar dari kutukan membenci diri sendiri. Ini bukan hal penting. Aku hanya akan kembali seperti semula. Hidup sendiri dalam ketenteraman.

Saat aku mengagumi emprit jepang yang sesekali datang. Menyenangkan, yang menjadi seseorang yang dicintai. Menjadi orang yang dicintai itu menyenangkan sekali, ya.

Saat sampai rumah, ternyata Mikuri sudah menunggunya. Hiramasa sudah paham, kalau Mikuri akan bicara soal kontrak mereka. Ia pun pamit mau meletakkan tasnya dulu baru kembali ke ruang makan.

Tapi ternyata Hiramasa cukup lama berada di kamar. Ia masih terus memikirkan, apa yang akan dikatakan Mikuri. Dan apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Hiramasa tidak tahu kemungkinan apa saja yang akan terjadi. Hingga akhirnya dia menyerah dan keluar. Hiramasa mengatakan pada Mikuri, kalau ada email pekerjaan, jadi ia cukup lama.

Mikuri menunjuk salah satu bab dalam perjanjian mereka, “Soal klausa ini. Aku… ingin berpacaran. Akan tetapi tertulis di sini, Untuk menjaga citra di publik, interaksi dengan kekasih sebaiknya tidak ketahuan. Ternyata sulit, ya? Dan mencoba tidak membicarakannya untuk menghormati pihak lain juga kupikir akan menimbulkan stres. Dan sekarang, aku bekerja di dua tempat. Kupikir akan sulit mengatur waktuku juga. Jika dengan situasi seperti ini aku ingin berpacaran, dalam situasi ini pasangan yang paling cocok hanya Anda, Hiramasa. Hiramasa, maukah Anda menjadi pacarku?” tanya Mikuri.

Syok dengan ucapan Mikuri, Hiramasa buru-buru berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Tapi tidak lama kemudian, ia kelaur lagi, memastikan apa yang ia dengar tidak keliru, “Kau dan aku, berpacaran? Apa ini lelucon di waktu yang salah?”

“Aku serius. Ini bukan ilusi, ini kenyataan. Kupikir jika aku berpacaran dengan Anda, Hiramasa, aku tak perlu menyembunyikannya dari orang lain. Tidak ada hal tak penting yang perlu kukhawatirkan,” tegas Mikuri lagi.

Hiramasa masih sulit memahami jalan pikiran Mikuri, “Tunggu sebentar!” Hiramasa berdiri dari kursi makan.

“Misalnya, kalau aku berpacaran dengan Kazami, akan makin banyak hal-hal yang tak bisa kuceritakan pada Anda. Hal itu bisa membuat kita makin stres,” Mikuri mendekati Hiramasa.

Hiramasa yang masih bingung terus mundur ke arah sofa. Ia bahkan terduduk di sofa, karena dipojokkan oleh Mikuri yang terus mendekatinya, “Itu mungkin benar, tetapi…”

“Kalau seperti sekarang, aku tak bisa tenang, dan di rumah juga kita juga akan canggung. Kupikir ini penyelesaian terbaik untuk masalah ini.”

“Aku sama sekali tak mengerti bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu,” elak Hiramasa.

“Kalau Anda tak setuju, aku akan mundur. Semua terserah Anda!” Mikuri makin mendesaknya.

“Terserah padaku?” Hiramasa makin speechless.

Moriyama Mikuri. Dunia prasangka terbuka lebar! Walaupun aku berprasangka, aku akan bertaruh dengan prasangkaku ini, dan menantang Hiramasa satu lawan satu. Jadi, apa keputusanmu, Tsuzaki Hiramasa? Apa? Apa? Apa?!

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Maaf ya, Minna-san. Agak telat posting ini sepertinya. Kesibukan dunia nyata sedang mengalihkan Na. Semoga nggak pada kecewa ya. Selamat membaca en … selamat liburan #eeeeh

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top