Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 03 part 2

SINOPSIS Married as Job 03 part 2

SINOPSIS dorama Married as Job episode 03 part 2.  Awalnya kehidupan Hiramasa dengan Mikuri yang berstatus istri tetapi sebenarnya adalah karyawan rumah, baik-baik saja. Tapi situasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dan Hiramasa mulai tidak nyaman. Ia pun memutuskan kalau mereka perlu apartemen baru dengan dua kamar tidur.

Mikuri menemani Hiramasa berkeliling mencari apartemen. Beberapa tempat sudah mereka singgahi. Semua ada lebih dan kurangnya. Termasuk biaya sewa yang berbeda, dibanding apartemen satu kamar seperti tempat tinggal mereka sekarang ini.

Hiramasa mendapat telepon dari kantor. Rupanya ia buru-buru harus kembali ke kantor. Ia pun ingin menyerahkan pencarian apartemen itu pada Mikuri.

Tapi Mikuri menahannya, “Apa pindah… benar-benar harus saat ini? Bukan untukku, apa benar-benar untuk diri Anda sendiri? Hiramasa…apa aku…mengganggu? Ada orang lain tinggal di rumahmu… membuatmu sulit bersantai, ‘kan? Padahal tujuan utama kontrakku adalah membuat hidup Anda lebih mudah. Jika aku mengganggu, kupikir kita melupakan prioritas kita. Apa tujuan Anda membayarku?”

Hiramasa kaget dicecar seperti itu oleh Mikuri, “Tidak, bukan begitu. Ini bukan salahmu.”

“Kalau begitu, Hiramasa. Jika ada masalah, tolong beritahuku. Anda dulu berkata begitu, ‘kan? Katakan semuanya padaku. Aku merasakan hal yang sama. Jika ada masalah, mari kita bahas dan cari solusinya.”

Acara hari Minggu yang tadinya nyaris batal, ternyata jadi dilakukan. Tapi Hino-san lagi-lagi membatalkan keikutsertaannya karena anaknya sakit. Dan sebagai penggantinya adalah … Kazami-san dan Numata-san.

Hiramasa masih agak syok saat tahu yang jadi pengganti Hino-san dan keluarganya adalah dua orang ini. Tapi Mikuri menyapa mereka dengan ramah. Ia memperkenalkan diri dan juga tantenya, Yuri-san.

Tapi Yuri-san yang sudah buru-buru curiga, menarik Mikuri. Ia berpikir kalau Kazami-san dan Numata-san sedang membicarakannya. Tapi Mikuri mengelak dan mengatakan kalau mereka justru memujinya.

“Apa? Laki-laki ganteng memang selalu begini,” keluh Yuri-san.

“Apa ada yang terjadi dengan laki-laki ganteng?” Mikuri heran.

Yuri-san mencoba mencari kata-kata yang tepat, “Tidak, tetapi aku selalu sangat benci bagaimana laki-laki ganteng tenang setiap saat.”

Mereka berlima pun naik mobil milik Yuri-san. Sementara Yuri-san menyetir, Mikuri menemani di depan. Lalu Hiramasa duduk di belakang, diapit oleh kedua rekannya itu.

“Hiramasa,bagaimana hidup barumu setelah menikah?”

Pertanyaan soal kehidupan pernikahan Hiramasa dan Mikuri masih berlanjut. Dari pajak dan biaya hidup yang lebih murah, tentang makanan yang lebih murah dan bergizi, panerimaan paket dan transaksi perbankan. Khawatir kalau rahasia mereka akan terbongkar, Mikuri pun mencoba membantu Hiramasa.

Obrolan akhirnya justru bergeser pada anggaran bulanan serta data bulanan. Bukan pembicaraan hangat soal keluarga atau teman, tapi lebih mirip pembicaraan bisnis.

Mereka pun tiba di kebun anggur. Dengan gunting, masing-masing dari mereka memetik langsung anggur-anggur matang yang tergantung di atas. (serius, ini tempatnya keren beuuuuud. Perlu banget ya, masuk list tempat yang harus dikunjungi waktu ke Jepang)

Yuri-san memetik anggur warna hijau dan langsung mencicipinya, “Hmm! Manis sekali! Ini enak! Oi…” ia berbalik ingin menunjukkan pada Mikuri. Tapi kemudian sadar kalau Mikuri sudah tidak ada di sampingnya. Alih-alih justru Kazami-san yang tersenyum padanya.

Yuri-san pun buru-buru lari mencari Mikuri. Ia kesal karena Mikuri tidak ada di dekatnya. “Kau di mana sih? Menyebalkan! Dia menertawai nona tua yang gembira karena anggur,” gerutu Yuri-san, menunjuk pada Kazami-san.

Mikuri melirik sekilas, “Tidak. Kazami itu ganteng, tetapi dia laki-laki ganteng yang baik. Apa yang terjadi denganmu dan laki-laki ganteng?”

“Tak ada apa-apa, benar.”

Mikuri pun mengalihkan pembicaraan, “Anggur benar-benar enak saat dimakan beku. Kau petik satu persatu, masukkan ke kantong kedap dan bekukan, dengan kulitnya. Kulitnya mudah dikupas jika ditaruh di bawah air lebih dulu sebelum dimakan,” sarannya pada Yuri-san.

Puas memetik anggur, mereka duduk-duduk di kursi yang juga ada di bawah kebun anggur itu. yuri-san menunjukkan gambar sebuah apartemen pada Mikuri dan Hiramasa. Rupanya ia tahu kalau Hiramasa tengah mencari apartemen baru.

“Ini milik temanku, mereka sedang mencari penyewa. Lima menit dari stasiun dan dekat dengan tempatku juga. Karena tidak melalui agen, harga sewanya 70% harga pasaran. Mereka tidak mau menyewakan pada orang aneh, tetapi kau ‘kan punya pemasukan stabil mestinya mereka tak keberatan,” ujar Yuri-san.

“Berapa kamar?” tanya Hiramasa.

“Satu kamar.”

“Maaf, aku mencari yang dua kamar,” Hiramasa langsung menolak. Ia berkeras tetap mencari yang dua kamar.

Situasi menjadi tidak terlalu baik. Kazami-san mengalihkan pembicaraan dan menyelamatkan keadaan. Ia ikut nimbrung melihat foto yang ditunjukkan oleh Yuri-san itu.

“Waaa… ini apartemen yang bagus, lho. Aku mau tinggal di sana. Aku juga berpikir ingin segera pindah ke tempat yang lebih besar. Aku laki-laki terpercaya dari kantor yang sama dengan Hiramasa,” ujar Kazami-san.

“Kau bisa berkata demikian tentang dirimu sendiri?” sindir Yuri-san.

“Yuri, Kazami itu orang baik, lho! Tampangnya memang seperti ini, tetapi dia orang yang memikirkan sekelilingnya,” bela Mikuri. “Kazami ganteng tetapi baik.”

Kazami-san tertawa dibicarakan seperti itu, “Aku tidak seganteng ataupun sebaik itu.”

“Lihat? Orang jahat tidak akan berkata hal seperti itu, ‘kan?” ujar Mikuri lagi.

“Bukannya malah lebih mencurigakan?”

Sementara itu, Hiramasa justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Kenapa aku bergumul dengan rasa minder? Kenapa aku picik sekali?

Hanya Yuri-san, Numata-san dan Kazami-san yang memilih duduk-duduk dan mengobrol. Kali ini mereka pindah ke tempat lain, di dalam ruangan.

Rupanya mereka tengah minum anggur. Jadi, kebun anggur itu sebenarnya milik kuil. Tapi pendeta dan keluarga di situ juga mengolahnya jadi minuman. Karena menyetir, hanya Yuri-san yang tidak ikutan minum anggur itu dan minum jus. Obrolan mereka bergeser soal status sosial.

“Yah, saat kau bertambah tua ada banyak kesempatan kau merasa kosong, tetapi kau ingat banyak kesenangan juga,” curhat Yuri-san.

“Aku paham. Untuk hidup yang kaya seperti anggur yang enak… bersulang!” ajak Numata-san.

“Ikutkan aku, dong!” sambar Kazami-san.

“Menurutku kau masih terlalu dini. Berapa umurmu?” tanya Yuri-san kemudian.

“Tiga puluh dua.”

“Ya, ‘kan! Kau hampir bisa jadi anakku,” kali ini Yuri-san menanggapinya dengan tertawa saja.

“Hah? Tidak mungkin, ‘kan?” Kazami-san tidak percaya.

Senyum di wajah Yuri-san makin lebar, “Itu mungkin jika aku melahirkanmu pada umur 17 tahun. Jangan dihitung!” perintahnya cepat.

Obrolan pun beralih pada Hiramasa dan Mikuri. Tidak hanya Numata-san saja yang merasakannya. Tapi Yuri-san juga merasa kalau ada jarak antara Mikuri dan Hiramasa yang tidak mereka mengerti.

Rupanya Hiramasa tengah berjalan-jalan di area kuil. Mikuri yang mencarinya ikut bergabung saat melihat Hiramasa berdiri di depan sebuah bangunan.

“Maaf. Apa aku mengganggu?”

“Tidak,” Hiramasa sadar kalau yang menyapanya adalah Mikuri.

Bangunan yang ada di depan mereka itu adalah bangunan tertua di Yamanashi, dan harta karun nasional yang sangat berharga. Mereka berdua pun memutuskan untuk masuk ke dalam.

Curhatan Yuri-san pun masih berlanjut, “Kau tahu, mereka tidak mengadakan pesta pernikahan, dan juga tak memakai cincin pernikahan. Untuk rumah baru, kenapa dia menuntut harus berkamar dua?”

“Sekarang setelah kau menyinggungnya, bagaimana mereka berdua bertemu?” Kazami-san penasaran.

“Mikuri adalah pekerja rumah tangga di rumah Tsuzaki,” ujar Yuri-san.

Kazami-san pun ingat sesuatu. Ia pernah mengobrolkan hal itu saat di rumah Hiramasa. Mikuri pernah bicara soal gaji, tapi kemudian buru-buru meralatnya. Kazami-san curiga sesuatu.

Hiramasa dan Mikuri pun jalan-jalan ke dalam kuil tua itu.

“Saat aku mengunjungi tempat seperti ini… aku merasa mereka bisa melihat semua kebohongan dan ketamakanku,” ujar Hiramasa.

“Kita tidak bisa berbohong di sini, ‘kan?”

Setelah puas jalan-jalan, keduanya pun duduk menghadap altar.

“Anda cocok. Hal-hal seperti patung Buddha dan kuil, bersungguh-sungguh dan tenang. Orang kota seperti Kazami-san, dia keren ya? Akan tetapi aku tetap paling menyukaimu, Hiramasa. Bersungguh-sungguh, kepala dingin, dan tenang,” sadar ucapannya mungkin akan salah ditafsirkan, Mikuri buru-buru meralatnya. “Aku tak ada maksud apa-apa dengan “suka”. Alih-alih gemerlapnya kota, aku lebih memilih yang lebih tenang. Maaf, aku tak tahu apa yang kukatakan.”

Dan ternyata itu memang berefek pada Hiramasa. Ada satu sisi hatinya yang tersentuh oleh ucapan Mikuri, “Terimakasih.” Hidupku mungkin akan berakhir tanpa pernah benar-benar menikah. Jadi, meski nantinya kau akan menikahi orang lain, Mikuri, aku akan senang jika kau datang membersihkan rumahku beberapa kali seminggu.”

Hari sudah sore, saat mereka berlima beranjak pulang. Saat itu mereka berada di tempat yang agak tinggi, seperti bukit.

Ini mungkin pujian terbaik yang pernah kuterima sebagai pekerja. Namun… kenapa, ya? Kata-kata itu membuatku merasa kesepian….Apa arti perasaan ini?!

Ini membuat Mikuri ingin berteriak. Ia pun kemudian meneriakkan sesuatu di sana, membuat orang lain heran dan menganggapnya aneh. Tapi Mikuri mengatakan kalau ini menyenangkan. “Benar, tetapi aku merasa jauh lebih baik. Aku bisa bekerja keras lagi besok. Kalian cobalah!”

Yuri-san pun tadinya tidak yakin. Ia ia juga ikutan mencoba, “ Kau idiot ganteng!” tapi Yuri-san buru-buru meralat ucapannya. “Idiot yang dulunya ganteng!”

Setelah Yuri-san, sekarang giliran Numata-san, “Aku ingin bahagia!”

Lalu Hiramasa. Tadinya ia enggan melakukan ini. Tapi kemudian juga mencoba, “Pengaruhmu bukan main!!!”

Sayangnya tidak ada yang benar-benar mengerti apa yang diucapkan oleh Hiramasa. Hanya Kazami-san yang tidak berteriak, karena ia memang sedang tidak ingin berteriak. Mereka pun berjalan menuruni bukit itu.

Aku tetap paling menyukaimu, Hiramasa.

Kekuatan pengaruh kata-kata tersebut bukan main. Kata-kata itu menyusup ke hatiku yang kering seperti sihir. Bahkan jika kata “suka” itu tak lebih dari rasa hormat kepada atasan.

Rupanya yang dimaksud oleh Hiramasa adalah kata-kata Mikuri selama mereka ada di kuil.

Pagi berikutnya

Seperti biasa Mikuri menyiapkan sarapan untuk Hiramasa. Ia mengingatkan untuk membawa anggur yang dibeli kemarin ke kantor.

“Aku membelinya untukmu. Karena kau selalu merawatku. Meskipun hanya seadanya,” elak Hiramasa.

“Terima kasih atas perhatian Anda,” senyum di wajah Mikuri pun makin lebar.

“Bisakah kau memasak nasi berbumbu lagi untukku? Yang waktu itu benar-benar enak,” pinta Hiramasa kemudian.

“Oke!”

Yuri-san berangkat ke kantor seperti biasa. Tidak disangka, ternyata ia bertemu dengan Kazami-san di lobby. Yuri-san baru tahu kalau mereka ternyata bekerja di gedung yang sama.

“Ya, dan juga Hiramasa. “

Mereka saling sapa pagi itu dengan ramah. Kazami-san juga mengatakan soal apartemen yang sempat disebutkan oleh Yuri-san kemarin di kebun anggur. Ia mengatakan kalau serius dan minta tolong untuk dikatakan pada pemiliknya. Yuri-san setuju saja.

Setelah Kazami-san pamit pergi duluan, dua bawahan Yuri-san datang.

“Itu ‘kan dia, laki-laki yang memutuskan pacarnya saat makan siang,” ujar si karyawan wanita.

Yuri-san pun ingat soal laki-laki menyebalkan yang memutuskan pacarnya di restoran waktu itu. “Jadi dia lelaki ganteng yang tidak baik!” keluh Yuri-san akhirnya.

“Kau tidak jadi pindah?” Kazami-san menyapa Hiramasa di tempat duduknya.

“Mungkin nanti, tetapi tak ada gunanya buru-buru. Mungkin bisa dibilang tujuannya sudah ditentukan atau aku menyadari apa yang seharusnya kulakukan. Kekuatan kata-kata memang hebat, ya,” ujar Hiramasa, tidak curiga sama sekali.

“Menurutku, kau dan Mikuri mempunyai hubungan yang ideal. Kawin kontrak, ‘kan? Kau menggajinya,” tembak Kazami-san.

Dan Hiramasa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia berpaling melihat ke arah Kazami-san dengan serius.

Beberapa hari kemudian.

Hiramasa menyapa Mikuri yang baru pergi. Ternyata Mikuri baru berbelanja. Mikuri juga membahas soal apartemen yang sempat ditawarkan oleh Yuri-san. Menurut Yuri-san, pemiliknya langsung menyukai Kazami-san.

“Karena itu, aku pindah ke sana minggu depan.”

“Keuntungan orang ganteng, ya?” komentar Mikuri.

“Jadi, kapan kau akan datang? Ke tempatku,” tanya Kazami-san. Melihat wajah Mikuri yang bingung, Kazami pun melanjutkan ucapannya. “Hiramasa belum memberitahumu? Hiramasa dan aku akan berbagi dirimu, Mikuri.”

“Berbagi?” Mikuri benar-benar bingung.

“Jadi, minggu depan Mikuri akan…”

Kata-kata ‘berbagi’ melayang-layang di kepala Mikuri. “Aku Mikuri. Kazami bilang kalian akan berbagi diriku. Karena Hiramasa sudah memberi izin. Pada saat itu, aku merasa seperti mengejar kucing liar yang makan ikan. Jadi minggu depan, kita mulai berbagi. Apa itu berbagi? Aku terlalu sering bertemu kata “bagi” terlalu sering!”

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Uwaaaaa … kasian si Mikuri. Dia nggak ngerti arti kata berbagi. Dan menurut Na, kata ini emang agak terlalu kasar, kalau itu untuk manusia. Tapi Hiramasa mulai kelihatan ada rasa. Ia sebenarnya kesal dengan permintaan Kazami-san ini. Tapi juga nggak punya pilihan. Logikanya jauh lebih jalan dibanding perasaannya sih.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

4 comments

  1. thank u … ditunggu cerita selanjutnya 🙂

  2. Ceritanya menarik.. Nana drama genre detective tak.. Wie dah lama tak pernah list j drama haha

Leave a Reply

Scroll To Top