Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 03 part 1

SINOPSIS Married as Job 03 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 03 part 1. Cobaan pertama kehidupan Mikuri sebagai pekerja rumah tangga di tempat Hiramasa, yakni kedatangan Numata-san dan Kazami-san, berhasil dilewati dengan baik. Tapi ini belum selesai.

Mikuri dan Hiramasa makan pagi seperti biasa.

“Hiramasa-san, aku mau beli penanak nasi dengan uang kita. Saat ini aku memakai alat yang harus dimasukkan ke dalam microwave. Aku membawanya dari rumahku. Aku memakainya untuk memasak nasi, tetapi benda itu terlalu kecil, dan hanya bisa memasak nasi putih.”

“Apa yang mau kaumasak selain nasi putih?” tanya Hiramasa masih tetap sibuk dengan nasinya.

Mikuri berpikir sebentar, “Misalnya nasi merah atau nasi dengan biji-bijian…. Atau nasi berbumbu! Bisakah Anda mempertimbangkan untuk membelinya?”

Alih-alih menanggapinya dengan hangat, Hiramasa justru tiba-tiba menyelesaikan makannya. Padahal nasinya masih belum habis. “Tentang penanak nasi, lakukan apa yang kau mau.” Hiramasa pun beranjak dan masuk kembali ke kamarnya.

Mikuri heran dengan sikap Hiramasa yang tiba-tiba berubah tanpa arah seperti ini. Pada malam sebelumnya, Hiramasa mengatakan kalau ia ingin menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan untuk Mikuri dan meminta Mikuri bicara apapun padanya. Tapi pagi ini, ternyata itu tidak terjadi. Sikap Hiramasa yang hangat pada malam sebelumnya, hilang entah kemana. Bahkan meski Mikuri berusaha untuk bicara cukup banyak, respon Hiramasa hanya satu dua kata saja.

Hiramasa, yang pernah membuatku tersentuh, dengan kata-katanya yang tegas. Apa yang terjadi?

Percakapan tak berjalan, tak peduli apa pun yang Mikuri tanyakan. Dia tidak menatapnya apa pun pertanyaannya. Bahkan pantulan kacamatanya, seperti membuat suasana di rumah ini menjadi tegang.

Mikuri melepas kepergian Hiramasa untuk bekerja seperti biasa. Ia tetap menunjukkan wajah tersenyum. Tapi setelah Hiramasa pergi, kepura-puraan Mikuri terasa berat.

Bekerja di sini sangat sulit. Kenapa jadi begini? Kalau dipikir-pikir, pada malam Numata dan Kazami menginap, aku memang membayangkan sesuatu yang tak pantas. Namun, selama Hiramasa tidak punya kekuatan super, tidak mungkin dia tahu apa yang kubayangkan. Berarti…. tetapi Mikuri tetap tidak berhasil menyimpulkan apapun.

Di awal minggu ini aku menemukan celana dalam Hiramasa dalam tumpukan cucian kotor. Dia belum pernah membiarkanku mencucinya sebelumnya. Hore! Akhirnya aku cukup dipercaya untuk mencuci celana dalamnya. Aku mencuci dengan semangat. Tapi saat Hiramasa baru pulang dan melihat Mikuri tengah melipat celana dalamnya, ia buru-buru merebutnya dan minta maaf pada Mikuri. Bahkan meski Mikuri mengatakan tidak masalah mencuci itu, Hiramasa merasa tidak enak.

Pada akhirnya Mikuri pusing sendiri dengan sikap Hiramasa yang menurutnya berubah-ubah belakangan ini. Mikuri sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan atau diinginkan oleh Hiramasa.

Tiba-tiba pintu depan terbuka. Hiramasa kembali. “Ayo pindah. Ayo kita pindah ke rumah dua kamar!” Hiramasa menegaskan lagi.

Mikuri bingung.

Hiramasa lalu mengambil kertas dan menulis daftar list, “Ini kondisi rumah yang kita cari. Bisakah kau mencarikannya untukku?”

“Kenapa tiba-tiba?” Mikuri heran.

Hiramasa membenarkan letak kaca matanya, “Kau juga mau kamar sendiri, ‘kan? Aku selalu berpikir rumah satu kamar terlalu sempit. “

“Biaya sewanya lebih mahal 20.000 yen dari yang sekarang. Kira-kira segitu harga sewa rumah dua kamar di pasaran. Jadi kalau dibagi dua, jadi tambah 10.000 yen per orang,” elak Mikuri.

“Aku akan membayarnya,” tegas Hiramasa. “Karena ini kemauanku. Dan satu hal lagi. Aku menyadari kita tidak punya klausa tentang kekasih di kontrak kerja kita. Antara kau dan aku, hubungan kita tidak lebih dari majikan dan pekerja. Sejak saat ini, ada kemungkinan kita berdua mulai menyukai orang lain.”

Mikuri berpikir, “Benar, Kalau itu terjadi, bagaimana dengan kesepakatan kita?”

“Aku akan menulis rancangannya. Kalau begitu, aku pergi kerja dulu,” ujar Hiramasa kemudian pergi lagi.

Untuk alasan tertentu, dengan kekuatan yang mengejutkan dia menutup pintu hatinya.

Karyawan bagian promosi meminta Hiramasa kerja lembur. Dan Hiramasa langsung mengiyakan saja tanpa protes. Meski ia pengantin baru, Hiramasa sama sekali tidak protes.

Rupanya ini diperhatikan oleh Kazami-san. Ia teringat obrolan dengan Numata-san di bar. Numata-san mengaku sempat mengintip kamar tidur di apartemen Hiramasa, dan menemukan ranjang serta bantalnya di sana hanya tunggal. Numata-san curiga, kalau Hiramasa dan Mikuri tidak benar-benar suami istri.

Kazami-san juga masih mendengarkan rumpian Numata-san dan Hino-san. Numata-san masih berpikir kalau pernikahan Hiramasa dan Mikuri adalah palsu. Numata bahkan berpikir kalau Hiramasa juga sama seperti dirinya, yang sama menyukai laki-laki. Tapi Hino-san tidak benar-benar menanggapinya. Ia berpikir itu Cuma lelucon saja.

Hiramasa pun bergabung untuk makan siang. Ia membuka makanan bekal yang dibuatkan oleh Mikuri untuknya.

“Bagaimana kalau kita pergi memetik anggur. Kau, istrimu dan keluargaku?” usul Hino-san pada Hiramasa. “Aku belum bertemu istrimu.”

“Tidak terimakasih,” tolak Hiramasa cepat.

“Kenapa? Kau tahu, anak-anak selalu terkena flu. Dua anakku terkena flu secara bergilir, tak ada jedanya. Apa kau tahu beratnya hal itu?” curhat Hino-san.

Kali ini Numata-san ikut nimbrung. Numata-san mengatakan kalau Mikuri adalah istri yang sempurna. Ditambah lagi dia cukup manis. Ini membuat Hino-san makin penasaran. Dan seperti biasa, Hiramasa mengelak habis-habisan.

“Rasanya tidak buruk, tetapi tidak terlalu enak juga. Sulit dikomentari,” komentar Yassan atas makanan bekalnya sendiri.

“Kau bisa saja memakannya sendiri, lalu apa masalahnya?”

Yassan pun mulai curhatnya. Ia sudah masak makan malam yang enak. Tetapi suaminya pulang tengah malam dan bilang kalau makanan itu tidak enak. Yassan benar-benar kesal dibuatnya. Tapi ia mengingatkan diri kalau suaminya itu bekerja untuknya dan putri mereka. “Aku tidak bisa mengeluh seperti ini. Lalu dia… selingkuh.”

“Itu baru perasaanmu, ‘kan? Dia hanya berjalan bersama seorang gadis.”

“Tidak, dia sangat mencurigakan sampai-sampai membuatnya bersalah. Benar-benar bersalah!” Yassan mengingat-ingat masa sebelum ia menikah dan akhirnya menikah lalu punya anak. “Aku seharusnya tidak menyembunyikan fakta bahwa aku dulunya anak nakal (yankee). Kalau saja aku menakutinya dengan mendorongnya ke tembok, mungkin dia tak akan selingkuh.”

Ponsel Mikuri berbunyi. Ternyata dari ibu Hiramasa.

“Mikuri? Aku menerima plum dari orangtuamu. Aku mau berterima kasih pada mereka, tetapi baiknya apa, ya? Mereka bilang bisa memetik plum di kebun rumah mereka. Saat aku bilang aku iri, mereka mengirimkannya padaku,” ujar ibu mertuanya itu.

Mikuri heran, “Kapan?”

“Apa ada yang tidak disukai orangtuamu?”

Mikuri berpikir sebentar, “Tidak, tak ada yang khusus.”

“Terima kasih atas informasinya. Apa kau akur dengan Hiramasa?” sang ibu mertua pun penasaran.

“Ya, sangat akur.”

“Dia mungkin bukan orang paling peka, tetapi dia anak yang baik, jadi tolong jaga dia, ya. Dia selalu menjadi pelajar yang baik dan kurang luwes dengan perempuan. Kupikir dia akan menua tanpa pernah pacaran sekali pun. Aku benar-benar khawatir!” pesan sang ibu mertua lagi.

Seperti rencanya, Mikuri datang ke supermarket untuk mencari penanak nasi. Ia memilih beberapa penanak nasi yang dipajang di sana.

Kapasitas masak tiga gelas. Lima setengah gelas. Tak pernah pacaran selama 35 tahun. Panci tekan dan mengukus. Pot penanak nasi Binchotan. Tak pernah pacaran selama 35 tahun. Alih-alih benar-benar mencari penanak nasi, Mikuri justru memikirkan ucapan ibu mertuanya tadi, soal Hiramasa yang belum pernah pacaran selama 35 tahun.

Kalau dia benar-benar belum pernah berpacaran selama 35 tahun, kupikir Hiramasa tidak akan mendekati seorang gadis dengan perasaan hangat. Karena dia tipe orang yang memastikan semuanya sebelum bertindak, kupikir untuk saat ini dia tidak akan mendekatiku. Kurasa itu mungkin, bahwa dia tak berpengalaman.

Apa pendapatmu tentang perjaka dewasa? Menurutmu apa alasannya? Apa menurutmu dia pilih-pilih? Bagaimana dengan perempuan?

Tidak apa-apa, ‘kan? Masing-masing orang berbeda. Menurutku itu tergantung orangnya, tetapi… Belakangan ini ada banyak juga orang dengan pendidikan yang bagus, gaji tinggi, dan tampang lumayan. Orang seperti itu mungkin terlalu sombong. Atau… mereka tidak mau mengambil langkah pertama. Karena mereka takut ditolak. Salah satu kenalanku, punya sisi kolot dalam dirinya. Dia bilang dia melindungi dan melindungi dirinya sendiri hingga 49 tahun. Dia sudah kehilangan momentum untuk mengatasinya.

Yuri-san ngamuk-ngamuk di kantornya. Salah satu proyeknya dalam masalah dan sekarang mereka harus membayar ganti rugi cukup besar. Saat itu salah satu perwakilan dari partner kerja yang mengurusi masalah itu datang.

“Aku kepala departemen, Tajima,” ujar pria itu.

Yuri-san yang tadinya hampir marah-marah akhirnya batal marah saat kenal dengan orang di depannya ini. Kereka ternyata teman semasa kuliah dan bergabung dalam klub yang sama juga. Alih-alih saling menyalahkan, pertemuan keduanya justru seperti reuni.

Tapi Yuri-san kembali ke mode kerjanya, “Tunggu sebentar. Apa kau mencoba lepas dari masalah ini karena kita kenal satu sama lain? Aku tak akan membayar sepeser pun!”

Hari sudah gelap saat Mikuri keluar dari supermarket dan membawa penanak nasi yang ia cari. Saat itu Kazami-san melihatnya dan menyapa Mikuri.

“Tsuzaki masih lembur,” ujar Kazami-san.

“Ya. Dia memberitahuku akan pulang telat,” Mikuri maklum.

Keduanya malah terlibat obrolan soal penanak nasi yang dicari Mikuri. Dari soal harga murah hingga pekerja asing.

Sementara itu, Hiramasa masih terus tekun di depan komputernya. Pekerjaanku hari ini akan selesai sebentar lagi. Sejak hari itu pikiranku tidak bisa tenang. Akan kuhapus. Akan kuhapus mimpi tak pantasku semalam. Hiramasa pun menghapus file di depannya. Tapi karena sambil melamun, yang terhapus ternyata terlalu banyak.

Tak lama lagi aku akan pindah ke tempat yang lebih besar dan menciptakan jarak antara Mikuri dan aku. Barulah aku bisa tenang. Masalahnya adalah bagaimana aku menghabiskan waktu sampai saat itu? Atau haruskah aku mengikutinya, dan menikmati kisah cinta palsu ini? Karena hal ini sebenarnya tidak akan pernah terjadi. Aku akan maju, dengan niat untuk menjadi pacarnya.

Hiramasa pulang terlambat. Tapi Mikuri sudah menyiapkan makan malam, dan mereka makan bersama. Mikuri pamer kalau ia sudah membeli penanak nasi yang dicarinya. Ia juga sudah menggunakannya untuk menanak nasi berbumbu. Mikuri mengatakan kalau ia fokus mencari yang sesuai fungsinya.

“Aku membahas itu juga dengan Kazami hari ini. Kami tak sengaja bertemu. Dia membantu membawakan penanak nasi. Dia ternyata enak diajak ngobrol, ya. Dia orang yang baik. Kazami bilang dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi kupikir alasannya anti pernikahan adalah karena dia tulus. Dia jadi begitu karena dia populer,” curhat Mikuri.

Tapi sepertinya Hiramasa tidak terlalu suka, “Kazami, kau terus membicarakannya. Terimakasih atas makanannya.” Hiramasa pun mengakhiri makan dan beranjak ke kamar.

Aku kelepasan. Aku sangat senang dia mengajakku bicara. Aku berlebihan. Mikuri menyesal sendiri.

Hiramasa juga merasakan hal yang serupa. Ia termenung di kamarnya. Saat aku mencoba mendengarkan seperti seorang pacar, aku tak tahan. Aku tidak bisa menikmati kisah cinta palsu atau apa pun. Tentu saja seseorang tanpa pengalaman apa-apa sepertiku tak bisa santai. Jika kau membandingkanku dengan orang yang populer, aku tak punya peluang.

Hiramasa pun menyalakan komputernya dan mulai menulis. Klausa 9: Jika Menemukan Kekasih (Atau Orang yang Disukai)

Namun kau tak bisa membandingkan kami. Bahkan jika Mikuri suatu saat mengundurkan diri dan menikah benar-benar dengan orang lain aku mungkin akan tetap sendiri.

Yuri-san minum bersama teman kuliahnya, Tsuchiya di bar. Ia terkejut saat tahu kalau Tsuchiya ini ternyata juga masih sendiri. Dan sekarang mereka bertemu sebagai kepala departemen. Mereka bicara soal pekerjaan dan soal hanya sedikit saja wanita yang bisa memiliki jabatan tinggi di perusahaan.

Obrolan mereka pun beranjak pada hal-hal lain. Yuri-san tampak nyaman bicara dan minum bersama Tsuchiya-san. Tapi semuanya berubah saat Yuri-san merasakan tangan Tsuchiya-san meraba pahanya. Ia paham maksud tanda itu. Tanpa banyak bicara, Yuri-san pun meletakkan minumannya lalu beranjak pergi.

Mikuri membaca pesan dari Yuri-san yang mengajaknya jalan-jalan di hari Minggu. Tapi Yuri-san mengirim pesan lagi dan mengatakan batal, karena ia baru ingat Mikuri masih pengantin baru.

Saat itu Hiramasa keluar dari kamarnya, “Hari Minggu ini, Hino, yang tak bisa datang waktu itu, ingin tahu apa kita bisa ikut keluarganya memetik anggur. Aku akan memberi uang lembur. Bagaimana?”

Tanpa banyak bicara, Mikuri langsung setuju saja, karena ia tidak jadi keluar bersama Yuri-san.

“Kalau begitu kau ikut, ya. Dia selalu memintaku untuk mempertemukannya denganmu, aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan. Lalu, ini klausa tambahan dari kontrak kerja kita,” Hiramasa menyerahkan hasil ketikkannya tadi.

Jika menemukan kekasih (atau orang yang disukai), Untuk menjaga citra di publik, interaksi dengan kekasih sebaiknya tidak ketahuan. Interaksi dengan kekasih sebisa mungkin dilakukan di tempat yang tak terlihat, untuk menghormati kedua belah pihak. Kedua pihak boleh memberitahukan kondisi kerja ini pada sang kekasih, asal dilakukan dengan persetujuan kedua pihak. Jika ingin menikah dengan sang kekasih kontrak kerja ini akan langsung dibatalkan. Mikuri membaca tambahan klausa dalam kontrakanya dengan serius.

Mikuri menyerahkan kembali pada Hiramasa dan mengatakan tidak masalah. Hiramasa lega dan berjanji akan menambahkannya dalam kontrak kerja mereka.

“Lalu, tentang pindah rumah… Aku memilih beberapa dari Internet,” Mikuri menyerahkan hasil pencariannya.

“Hari Senin aku akan mencari di agen perumahan untuk pilihan yang lebih baik,” ujar Mikuri lagi.

“Aku akan pergi besok. Karena besok Sabtu,” ujar Hiramasa.

“Kalau begitu… Aku ikut. Meski besok libur dan di luar jam kerja, tetapi aku penasaran dengan tempat kerja baruku. Dapur misalnya. Bahkan jika hanya proses pindah rumah, kupikir lebih baik kita pergi berdua!” bujuk Mikuri lagi.

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Mereka berdua ini, Mikuri dan Hiramasa kebanyakan berpikir dan menebak-nebak isi pikiran satu sama lain. Dan pada akhirnya rawan salah paham. Tapi untungnya, Mikuri pengertian banget sama Hiramasa. Ya meski kadang oon-nya juga kumat.

Drama satu ini emang keren abis sih. Nggak heran, rating-nya dari pekan ke pekan terus saja naik. Uuuuu … Hiramasa itu kalau senyum lumayan manis lho, macam om-om manis. #ehe

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. Makasih Na, tetap semangat nulisnya.. Makin suka sama hiramasa, pikirannya tak terduga, aneeh.., hehe

Leave a Reply

Scroll To Top