Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 02 part 1

SINOPSIS Married as Job 02 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 02 part 1. Moriyama Mikuri, 25 tahun. Lulusan S2 jurusan psikologi klinis, tetapi selalu gagal mencari pekerjaan. Ia akhirnya bekerja menjadi pekerja rumah tangga. Tidak ingin ikut keluarganya pindah, Mikuri pun akhirnya setuju untuk melakukan kawin kontrak dengan bosnya, Tsuzaki Hiramasa.

Gagal dalam pencarian kerja, Mikuri akhirnya bekerja paruh waktu sebagai pekerja rumah tangga di apartemen Tsuzaki Hiramasa. Karena tidak mau ikut keluarganya pindah, Mikuri mengajukan diri menjadi pekerja inap. Tapi akhirnya, berakhir menjadi pernikahan kontrak. Bos Mikuri, Hiramasa setuju dengan ide itu karena menganggap mempekerjakan Mikuri sebagai istri kontrak menguntungkan baginya.

Dan sekarang aku resmi bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Pernikahan de facto yang disebutkan sebelumnya, terjadi saat surat pernikahan tidak didaftarkan, Keduanya tinggal bersama dan hidup dari mata pencaharian yang sama. Jumlah pernikahan de facto meningkat, karena untuk alasan tertentu tidak mendaftarkan surat pernikahan, atau tidak ingin terkekang oleh peraturan.

Hal ini ternyata populer di Prancis. Tetapi masih sulit diterima di Jepang. Akhirnya, Mikuri dan Hiramasa sepakat untuk memperlihatkannya seperti pernikahan normal ke orang lain. Mereka sepakat kalau kontrak pernikahan itu hanya akan jadi rahasia berdua saja.

Mikuri akan bekerja tujuh jam sehari dengan jam kerja fleksibel. Bekerja dari Senin hingga Jumat, dan libur pada akhir pekan dan hari libur nasional. Permintaan penggantian hari libur diperbolehkan. Biaya hidup ditanggung berdua, dan akan dipotong dari gaji bulanan. Gaji akan diberikan tunai di akhir bulan. Hiramasa menyerahkan berkas-berkas kesepakatan pernikahan kontraknya dengan Mikuri dan memintanya mempelajarinya di rumah.

Obrolan bergeser tentang resepsi pernikahan. Baik orang tua Hiramasa maupun Mikuri (yang tidak tahu soal kontrak pernikahan), berpikir kalau mereka akan melakukan resepsi pernikahan.

“Aku sebisa mungkin ingin menghindari upacara pernikahan atau resepsi. Aku tidak bisa menerima ucapan selamat mereka. Bahkan di kantor mereka terus saja bertanya apa aku akan mengadakan resepsi,” cerita Hiramasa.

Di kantor, pembicaraan soal resepsi ini juga dilakukan. Hino-san (40 tahun dan menikah), berpikir kalau resepsi itu adalah hal penting. Karena pada saat resepsi, pengantin akan jadi bintang dalam sehari.

Pendapat kedua dari Kazami-san (32 tahun dan belum menikah). Sejak awal, ia berpikir kalau menikah adalah hal yang sia-sia. “Resepsi pernikahan hanya untuk kepuasan pribadi. Mereka hanya ingin memamerkan kebahagiaan mereka. Lakukan jika kalian memang menginginkannya.”

Pendapat ketiga dari Numata-san. Pria berumur yang diisukan gay dan kadang agak ekstrem. “Menurutku resepsi pernikahan adalah suatu “pengumuman,” dengan menunjukkan wajah langsung ke masyarakat dan mengucapkan “kami akan menikah.” Karena saat mereka sudah mengumumkannya, mereka tidak bisa menariknya kembali dengan mudah dan menciptakan resolusi.”

Meminta pendapat pada ketiga orang tadi, tidak menyelesaikan masalah.

“Sebaliknya jika kita tidak mengadakan resepsi pernikahan, kita perlu menunjukkan kesungguhan niat kita,” ujar Mikuri.

“Saat makan siang, aku akan bertindak sebagai pemimpin dan mengalirkan pembicaraan,” Hiramasa memberikan saran.

“Jika tidak, kupikir Ayah tidak akan merestuinya,” Mikuri ragu.

Hiramasa dan Mikuri sepakat untuk mencari cara, meyakinkan orang tua mereka kalau mereka tidak akan mengadakan resepsi. Tapi, masih ada satu hal lagi yang akan sulit, Yuri, tantenya Mikuri.

Hari pertemuan kedua keluarga.

Mikuri dan Hiramasa menunggu tamu mereka di lorong. Saat itu Yuri yang datang lebih dulu. Yuri minta maaf pada Hiramasa soal pertemuan pertama mereka. Saat itu Yuri nyaris mencekek Hiramasa saking kagetnya oleh keputusan pernikahan Mikuri dan Hiramasa.

“Itu tidak masalah. Yuri … “ Hiramasa ragu. Tapi kemudian Mikuri memintanya untuk memanggil dengan menambahkan kata –san.

“Maaf, aku benar-benar tante yang merepotkan,” ujar Yuri.

“Wajar jika Anda dan orangtuanya ingin melindunginya, Yuri-san,” Hiramasa mengerti.

Tapi Yuri dibuat heran karena ternyata Mikuri dan Hiramasa saling memanggil dengan nama keluarga, bukan nama diri. (di Jepang, memanggil dengan nama keluarga artinya tidak terlalu dekat. Orang dekat biasanya saling memanggil dengan nama diri)

Mikuri dan Hiramasa kaget dan baru menyadarinya, “Kami menggunakan nama diri saat kami berduaan,” ujar Mikuri menyelamatkan keadaan.

Yuri bertanya soal Chigaya. Mikuri mengatakan kalau Chigaya akan datang juga hari itu. Tahu demikian, Yuri pun pamit pergi berniat memperbaiki dandanannya lagi.

Hiramasa heran soal Chigaya. Mikuri lalu menjelaskan kalau Chigaya adalah kakak laki-lakinya. Dulu, saat masih kelas 1SD, Chigaya pernah berkata kalau Yuri tidak akan bisa menikah. Makannya sekarang pun, Yuri tidak mau kalah dengan keponakannya itu.

“Ada yang lebih penting, nama panggilan! Kita kecolongan. Ayo latihan. Mulai sekarang kita akan memanggil dengan nama depan kita,” usul Mikuri. Ia pun meminta Hiramasa memanggil ‘Mikuri’.

Hiramasa canggung menyebut kata itu. Akhirnya ia minta izin pada Mikuri untuk memanggilnya Mikuri-san, Mikuri setuju saja. Sebaliknya, Mikuri juga belajar memanggil Hiramasa dengan nama dirinya, juga lengkap dengan akhiran –san di belakangnya.

Tidak lama setelahnya keluarga Mikuri dan juga keluarga kakak laki-lakinya datang. Menyusul kemudian keluarga Hiramasa. Mikuri memperkenalkan diri pada keluarga Hiramasa.

Pertemuan kedua keluarga akhirnya dimulai. Kerja sama pertama kami. Kami akan melewatinya, bagaimanapun caranya!

Acara selanjutnya adalah obrolan antar orang tua.

“Apa yang kau suka dari Hiramasa, Mikuri?” tanya ibu Hiramasa.

Mikuri berpikir sebentar. Ia mengingat momennya bersama Hiramasa selama ini, “Arahannya sangat jelas dan spesifik. Tidak ada detail yang tidak perlu. Lalu….Bahkan terhadap gagasan gila sekalipun, dia akan mencari solusi realistisnya. Dia benar-benar mudah disukai.”

“Kau seperti memuji atasanmu,” sela kakak Mikuri, Chigaya.

Mikuri merasa tidak enak dengan jawabannya, “Aku merasa dia sangat terpercaya dan bisa diandalkan,” tambahnya lagi.

Sekarang giliran Hiramasa yang mendapat pertanyaan. Dia pun ditanyai hal yang sama.

“Mikuri bisa melakukan apa pun,” ujar Hiramasa, singkat dan padat.

Obrolan berikutnya masih seputar orang tua. Soal kebanggaan akan anak-anak masing-masing.

Obrolan pun bergeser soal pesta pernikahan. Mereka bertanya, jika Mikuri akan memilih baju pengantin atau memakai kimono ala pernikahan tradisional Jepang. Kedua keluarga juga bersemangat, karena acara pesta bisa dilakukan dua kali. Satu di tempat orang tua Mikuri dan yang satu lagi di kediaman orang tua Hiramasa.

Hiramasa dan Mikuri belum mengatakan apapun. Tapi justru orang lain yang sudah lebih dulu ribut. Yuri ikutan ribut, pun Chigaya, Kakak Mikuri.

“Kami tidak akan mengadakan pesta pernikahan,” ujar Hiramasa kemudian.

“Kami berdua memutuskannya demikian,” sambung Mikuri.

Keputusan itu akhirnya disebutkan juga.

“Bagi kami yang terpenting adalah tinggal dan hidup bersama. Hanya itu. Acara formal seperti upacara dan resepsi pernikahan dan tidak diperlukan,” lanjut Hiramasa.

“Kami berdua memutuskannya demikian,” ujar Mikuri pula.

Tapi para orang tua protes. Karena itu adalah pernikahan pertama bagi keduanya. Pun soal Mikuri, yang tentu saja ingin mengenakan baju pengantin.

Tapi lagi-lagi Hiramasa mencoba memberikan penjelasan logis, “Daripada menghabiskan uang untuk upacara dan resepsi pernikahan, lebih baik uangnya ditabung.”

“Jika ini tentang uang… aku bisa membantumu sedikit,” bisik ayah Mikuri.

“Ayah menggunakan uang pensiun Ayah untuk membayar rumah, ‘kan?” elak Mikuri.

“Sebagai awal kehidupan baru kami sebagai pasangan, kami tidak ada niat untuk bergantung pada uang orangtua kami,” ujar Hiramasa lagi.

Keduanya masih saja berusaha meyakinkan kedua keluarga soal tidak perlu ada pesta pernikahan. Bahkan saat dikatakan, kalau pesta diadakan untuk mengundang kenalan dan teman. Tapi Mikuri dan Hiramasa tetap mengatakan kalau mereka tidak masalah dengan itu, dan itu gaya hidup mereka.

Situasi berubah benar-benar canggung. Tapi karena tidak bisa memaksa Mikuri atau Hiramasa, kedua ibu mereka pun menyerah. Mereka akhirnya sepakat untuk tidak memaksakan pesta pernikahan.

Acara makan bersama pun selesai. Mikuri mengantarkan Yuri di luar. “Terima kasih karena telah menyetujuinya.”

Yuri meremas kepala Mikuri, “Aku akan sangat kesepian. Kita tak bisa lagi bertemu setiap saat.”

“Kenapa tidak? Seperti biasanya,” Mikuri heran.

Tapi Yuri justru menasehatinya, “Tidak bisa begitu saat kau sudah menikah. Mikuri, pernikahan adalah awal hidup barumu, oke? Semangat!”

Setelah Yuri pergi, giliran ibu Mikuri yang memeluk putrinya itu, “Ayahmu kecewa.” Ibu Mikuri menunjuk ayahnya yang tengah duduk membelakangi mereka. “Dia pikir dia akan menuntunmu ke altar. Bahkan dia sudah berlatih di koridor rumah baru kami. Aku tidak pernah berpikir kau akan menikah secepat ini.”

“Ibu melahirkanku saat berumur 23 tahun, ‘kan? Dua tahun lebih muda dari umurku sekarang,” elak Mikuri.

“Itu benar, tetapi….Kau selalu menjadi anak yangingin bekerja dengan giat daripada menikah, benar ‘kan?”

“Menurutku bekerja juga suatu bentuk kebahagiaan,” sambung Mikuri.

“Namun aku bahagia saat kau berkata kau akan menikah. Berbahagialah, oke?” ibu Mikuri pun memeluk putrinya. Kemudian ayah Mikuri yang bergabung memeluk putri bungsu mereka itu. (Mikuri dikelilingi orang-orang yang menyayanginya ya)

Hiramasa juga mengantar kedua orang tuanya keluar. Ibu Hiramasa pamit ke toilet sebentar, dan meninggalkan Hiramasa bicara berdua dengan ayahnya.

“Maaf mengganggu waktu kerja Ayah,” ujar Hiramasa.

“Dia muda, tetapi bisa diandalkan, ya? Hampir terlalu muda,” komentar ayah Hiramasa.

“Jiwanya dewasa. Dia mengatakannya sendiri,” balas Hiramasa.

“Buat seorang laki-laki, berumah tangga itu adalah untuk memikul semua beban dan tanggung jawab. Kupikir kau bisa melakukannya.”

Hiramasa dibuat tertegun dengan ucapan ayahnya itu. Sepertinya hubungan ayah dan anak ini tidak benar-benar dekat. Hingga Hiramasa tidak menyangka ayahnya akan bicara seperti itu.

Mikuri berjalan pulang bersama Hiramasa setelah acara makan bersama itu. Keduanya mengungkapkan kelegaan masing-masing karena hari itu bisa mereka lalui dengan baik. Bahkan meski pernikahan itu hanya pura-pura, tapi bisa membuat keluarga bahagia itu yang utama.

“Aku tak tahu apa yang akan kulakukan jika kau menyesalinya. Dan berbohong itu tidak benar, kupikir aku membuatmu melakukan sesuatu yang tak baik. Karena aku tidak percaya diri untuk meyakinkan orang di sekitarku, bahwa pernikahan kita pernikahan normal,” ujar Mikuri. “Kalau aku bisa bilang, ini pelarian.”

“Tak apa-apa ‘kan jika ini pelarian? Di Hungaria, ada pepatah yang artinya seperti ini: “Melarikan diri itu memalukan, tetapi membantu.” Mengambil pilihan pesimis tidak apa-apa, ‘kan? Bahkan jika melarikan diri itu memalukan, bisa bertahan itu penting. Aku tak akan menerima tanggapan atau bantahan tentang hal itu,” garis bibir Hiramasa tertarik sedikit.

Mikuri mengerti, “Anda benar. Meskipun ini pelarian, mari bertahan. Kita tidak dalam posisi bisa mengajukan keberatan.” Keduanya tersenyum bersama.

Kau juga seperti ayahmu, Hiramasa. Aku tak jadi mengatakannya. Aku tak seharusnya ikut campur sejauh itu. Kami bukan suami-istri ataupun kekasih, bahkan bukan teman. Hubungan kami adalah hubungan majikan dan pekerja.

Mikuri dan Hiramasa tiba kembali di apartemen. Setelah mengucapkan selamat malam, Hiramasa masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Mikuri tertegun di ruang tengah.

Hiramasa tidur di kamar sebelah. Apa aku merasa tegang? Atau tidak? Kenapa tidak? Kami tinggal seatap, tetapi aku merasa aman. Ah! Apa karena dia tipe herbivor? Tidak. Orang itu…Dia bukan tipe yang menentang permintaan orang lain, karena itu aku bisa berpikir demikian.

Mikuri telah berganti pakaian, menggelar futon-nya dan seger menyusup di balik selimut. Tapi ia belum langsung tertidur. Mikuri masih memikirkan soal kehidupan barunya sebagai pekerja rumah tangga. Dan juga soal ucapan Hiramasa tadi.

Di kamar sebelah, Moriyama–Mikuri tidur. Dia orang yang aneh. Apa dia tidak merasa bahaya meski kami tinggal bersama? Apa dia pikir aku bukanlah ancaman? Memang bukan, sih. Pada dasarnya aku tak suka ada orang lain di rumahku atau terikat denganku. Namun dia memahami bagaimana cara menjaga jarak.

Di kamarnya, Hiramasa juga masih belum bisa tertidur. Ia memikirkan ucapan Mikuri saat perjalanan tadi. Hiramasa juga memikirkan fakta bahwa sekarang ia tinggal satu atap bersama seorang wanita.

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Hai, hai … bagaimana episode 1-nya? Seru ya. #ehe. Iya, karena ternyata ceritanya seru dan banyak yang suka serta baca, jadi Na memutuskan untuk lanjut menulisnya. Ya meski harus cari-cari waktu sambil mengerjakan naskah yang lain. Semoga semuanya beres deh.

Oh ya, sebenarnya kan Na ngerjain naskah ini dengan Jimi ni Sugoi, dan diposting gantian. Tapi berhubung Jimi ni Sugoi agak lambat subtitle-nya, jadi Na mendahulukan yang ini. Semoga nggak pada kecewa ya. Selamat membaca.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

10 comments

  1. Ceritanya seru..klo mau nnton dimana ya solanya cari di yutub gak ada..😊

    • halo RH-san
      salam kenal
      kalau nyari di yutub, search pake judul aslinya dalam bahasa jepang
      klo pake judul asingnya, agak susah
      mending donlot aja
      bisa di doramax264(dot)com atau di forum indowebster
      nyari drama jepang emang nggak semudah nyari drama korea

  2. Semangattt..ditunggu kelanjutannya..

  3. joss mbk na….ditunggu lanjutannya moga g lama

  4. ngak sabar nunggu ep brikutnya 😉

  5. Makasih Na, makin suka sama karakter mereka berdua. Penasaran seperti apa kehidupan mereka di hari-hari berikutnya. Dan di bagian ini aku suka karakter Yuri-san, dia bisa bersikap dewasa tentang wanita yang tidak akan keluar2 bebas setelah menikah. Berharap dia cepet dapet jodoh *apaan siy? Hehe. Sekali lagi arigatou Na

Leave a Reply

Scroll To Top