Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 01 part 2

SINOPSIS Married as Job 01 part 2

SINOPSIS dorama Married as Job episode 01 part 2. Akibat kesalahan sistem, tim programmer harus menulis ulang program yang biasanya dilakukan selama satu bulan, hanya dalam waktu beberapa hari saja. Setelah membuat list hal-hal yang harus dikerjakan, semua orang mulai mengerjakan bagian masing-masing.

Hari pertama. Semua orang masih bekerja keras. Bahkan Kazami-san masih sempat membelikan makan siang untuk semuanya. Hiramasa masih fokus di mejanya untuk bekerja.

Hari kedua. Keadaan mulai kacau. Wajah-wajah kusut mulai muncul. Tapi Hiramasa masih serius dan fokus di mejanya. Hino-san mulai kacau. Ia bahkan membuat kesalahan yang akhirnya berhasil diperbaiki oleh Hiramasa.

“Hino, tolong pulang ke rumah dan tidur sebentar,” saran Hiramasa kemudian.

Hari dateline pekerjaan. Nyaris seluruh tim sudah terkapar. Sebagian tertidur di meja masing-masing, yang lain bahkan tertidur di lantai. Tapi Hiramasa masih fokus di mejanya. Bahkan saat Kazami-san membawakan sarapan, hanya tinggal Hiramasa yang membalas sapaannya.

Satu per satu list pekerjaan akhirnya selesai. Kini akhirnya bagian terakhir, uji coba program yang telah mereka susun ulang. Dan … kali ini pekerjaan mereka berhasil dengan baik. Semua orang puas dengan hasilnya. Setelah berhari-hari fokus pada pekerjaan, akhirnya Hiramasa mulai tampak kacau.

Hari Jumat. Mikuri datang ke apartemen Hiramasa seperti biasa. Setelah memencet bel beberapa kali, ternyata Hiramasa tidak keluar. Mikuri tidak langsung pulang. Ia justru melamun sambil bergumam sendirian di teras.

“Yah, sepertinya karena gagasan anehku minggu lalu, aku dipecat. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dengan baik dua kali lagi, dan menciptakan mahakarya terakhir. Aku tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Namun, aku belajar banyak dari pengalaman ini. Sejak saat ini pun…”

Tapi terdengar suara pintu terbuka. Hiramasa membukakan pintu, masih dalam piyama-nya. “Maaf, aku sedang sakit.”

“Anda baik-baik saja? Demam, ya?” Mikuri khawatir.

“Aku terlalu memaksakan diri. Aku tidak bekerja hari ini.”

“Aku bisa membantumu,” tawar Mikuri.

Tapi Hiramasa menolak. Ia pun memberikan gaji Mikuri. Tadinya Mikuri menolaknya, tapi Hiramasa memaksa. Mikuri akhirnya mengalah. Ia pun pulang lagi karena Hiramasa ingin istirahat saja hari itu.

Mikuri pulang ke rumahnya. Kedua orangtuanya masih beres-beres sebelum pindah. Yuri heran karena Mikuri pulang cepat. Tapi Mikuri mengatakan kalau hari itu ia tidak bekerja.

Kedua orang tua Mikuri asyik beres-beres. Mereka benar-benar menikmati waktu berdua. Sementara itu Mikuri dan Yuri hanya menyaksikan keduanya sambil minum teh di meja makan. Orang tua Mikuri seperti pasangan yang baru saja menikah.

“Apa mereka melupakanmu?” sindir Yuri.

“Aku hanya tambahan,” ujar Mikuri. “Bahwa hanya ada satu orang untuk mereka berdua. Bukankah itu lebih menyenangkan daripada hidup tanpa seorang pun yang memilihmu?”

Yuri mengangkut sebagian barang-barangnya ke dalam mobil. Mikuri pun mengekor untuk membantu.

“Ibu selalu iri padamu, kau tahu, Yuri? Yuri yang sukses, memiliki pekerjaan impiannya dan cantik.”

“Aku tahu. Dia meminta terlalu banyak. Bagaimana dengan kerjaanmu?” Yuri sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Dia sedang sakit, jadi hari ini libur,” ujar Mikuri.

“Kau meninggalkannya sendirian?” Yuri heran.

“Yah, kalau majikanku memintaku pulang, kupikir aku harus mematuhinya sebagai anak buah.”

“Kau penurut untuk hal yang salah. Kenapa tidak coba meng-SMS-nya? Tidak mudah saat sakit jika kau sendiri. Kau tidak bisa berbelanja dan lain-lain,” saran Yuri. Ia pun menyusup ke balik kemudi dan beranjak pergi.

Baru saja Mikuri mengeluarkan ponsel, sudah ada pesan masuk dari Hiramasa. Ia minta tolong untuk dibelikan obat demam dan juga es krim. Tanpa pikir panjang, Mikuri pun langsung menyanggupinya. Ia berkali-kali memencet bel apartemen Hiramasa, tapi tidak ada jawaban. Mikuri pun akhirnya masuk karena pintu ternyata tidak dikunci.

Mikuri menemukan Hiramasa tengkurap di lantai masih memagang ponselnya. Ia basah kuyup oleh keringat. Mikuri pun segera membantu Hiramasa bangun lalu memberikan minuman elektrolit pada Hiramasa. Ia kemudian menyiapkan baju ganti dan meminta Hiramasa ganti baju terlebih dahulu.

Dibantu Mikuri, Hiramasa minum obat demam lalu makan eskrim. Ia pun kemudian tidur di ranjangnya. Hiramasa mempersilahkan Mikuri untuk mengambil uang pengganti belanjaannya. Mikuri mengiyakan saja, dan membiarkan Hiramasa istirahat.

Mikuri menutup pintu kamar Hiramasa, “Melihat laki-laki yang biasanya tenang ada dalam kesusahan. Aku suka.” Mikuri lalu beranjak ke dapur dan mulai mempersiapkan makanan.

Setelah selesai memasak, Mikuri membangunkan Hiramasa dan membiarkannya makan.

Hari sudah gelap saat Mikuri memeriksa suhu tubuh Hiramasa, yang ternyata sudah turun. Setelah memastikan Hiramasa sudah baikan, Mikuri pamit untuk pulang.

“Bagaimana dengan uang lembur?”

“Aku tidak memerlukannya. Aku hanya memasak makan malam,” tolak Mikuri.

Tapi Hiramasa menghentikan Mikuri, “Menurutku kau bisa menikah. Kau pintar bersih-bersih, dan masakanmu enak. Dan kupikir kau orang yang benar-benar bisa mengurus seseorang.”

“Aku merasa baru mendapatkan pujian untuk seumur hidup.”

“Bahkan jika saat ini kau tidak punya pacar…” Hiramasa ragu sebentar. “Maaf jika kau punya Kau masih muda. Hal-hal seperti pesta percomblangan atau perjodohan. Hal-hal seperti itu, yang mereka sebut “perburuan nikah”? Jika kau melakukan hal-hal itu, Bukankah kau bisa menikah jika kau menginginkannya?”

Mikuri batal pergi. Ia justru duduk di depan Hiramasa, “Anda salah sangka. Bukannya aku ingin menikah.” Mikuri mencoba menjelaskan. “Begini, Aku benar-benar gagal dalam pencarian kerja. Saat aku menjadi sarjana, dan saat aku meraih gelar magister, di kedua waktu itu, bahkan ketika aku bekerja sebagai pekerja sementara, saat mereka harus memilih antara aku dan orang lain, sekali lagi aku tidak dipilih. Bahkan saat tidak ada seorang pun yang mengakuiku, aku harus terus melakukan yang terbaik. Makanya, saat Anda sadar kawat nyamuk itu dibersihkan, dan berkata Anda bersyukur telah mempekerjakanku, Saat Anda berkata Anda berharap aku bisa bekerja lebih lama di sini. Aku pikir “Wah, ini dia!” Aku benar-benar bahagia dengan sesuatu seperti itu. Maaf sudah mengucapkan sesuatu yang tidak masuk akal. Ini keturunan. Turunan ayahku. Tolong lupakan hal itu.” pinta Mikuri. Aku mau seseorang. Aku mau seseorang memilihku. Berkata “Syukurlah ada kau di sini.” Aku mau diterima. Apakah itu suatu kemewahan?

Mikuri lalu pamit pergi.

Numata-san seperti biasa nongkrong di bar.

“Kau lagi-lagi menunggu?” tanya si bartender.

“Aku dicampakkan lagi,” curhat Numata-san.

 

Selamat tinggal… pengalaman yang menyenangkan. Setiap orang ingin diinginkan oleh seseorang. Namun, tidak berjalan lancar. Sedikit demi sedikit menyerah pada berbagai emosi. Tertawa saat mau menangis. Mungkin begitulah, kehidupanku.

Jumat berikutnya, Mikuri kembali datang ke apartemen Hiramasa. Tapi kali ini ia tidak membawa alat kebesihan apapun. Ia justru membawakan bungkusan untuk Hiramasa, yang dikatakan dari ayahnya. “Dia berkata “Meski aku memaksamu mempekerjakan putriku,” kami sekarang malah pindah. Aku benar-benar minta maaf.” Terima kasih banyak untuk satu setengah bulan ini.”

Alih-alih menerima pemberikan Mikuri, Hiramasa justru meminta Mikuri untuk duduk. “Ini gajimu untuk hari ini.” Hiramasa kemudian menunjukkan sejumlah berkas. “Aku membuat simulasi hitungan. Ini besarnya jika kita membagi dua biaya sewa, air, listrik, dan biaya hidup lainnya. Perbandingan jika memasak dan makan di luar. Perbandingan jika menyewa pekerja rumah tangga atau tidak. Lalu, berdasarkan metode OC, jumlah waktu tak berbayar ibu rumah tangga adalah 2.199 jam per tahun. Jika dikonversikan ke gaji tahunan…”

“Jadi 3.041.000 yen,” sambung Mikuri.

“Betul. Dari itu, aku menghitung gaji per jam. Jika diasumsikan dalam sehari bekerja tujuh jam, ini gaji bulanannya. Dikurangi biaya hidup, gaji bersihnya sebesar ini. Aku juga membuat simulasi hitungan jika asuransi kesehatan dan bonus diberikan. Ini proposal saya untuk pernikahan de facto. (Jika pencatatan pernikahan tidak didaftarkan. Jika hidup bersama dan memiliki pekerjaan yang sama. Hanya sertifikat tempat tinggal yang berubah (istri tak terdaftar)).

“Pernikahan de facto?” Mikuri meyakinkan.

“Kartu keluarga tidak akan berubah. Dengan kata lain, kita hanya mengubah alamatmu, tanpa memasukkanmu ke kartu keluargaku. Tentu saja, kita perlu membahas syarat dan ketentuannya. Namun berdasarkan simulasi hitunganku, membiarkanmu tinggal di sini dalam bentuk pernikahan de facto, membayar gaji dan menyewamu sebagai istri, juga menguntungkan untukku. Tentu saja, ini semua tergantung padamu, Moriyama…”

“Aku bersedia! Tolong pekerjakan saya!” Mikuri langsung memberikan jawaban tanpa banyak pertimbangan lagi.

Tapi, Mikuri teringat sesuatu.

Hari itu, hari kepindahan keluarga Mikuri. Jadi, barang-barang Mikuri sudah di packing dan siap diangkut. Mikuri mencoba menelepon ibunya, sayangnya ibunya tidak mendengar dering telepon karena masih sibuk beres-beres. Tidak punya pilihan lain, Mikuri pun mengajak serta Hiramasa untuk datang ke rumah orang tuanya.

“Ada jalan pintas,” ujar Hiramasa.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Mikuri khawatir.

“Jam kerjaku fleksibel.”

Keduanya pun berlarian menuju pemberhentian bus.

“Kita entah bagaimana bisa sejauh ini, tetapi, Ayahmu, Pak Moriyama, Apa yang harus kukatakan padanya?” tanya Hiramasa saat keduanya duduk berdampingan dalam bus.

Mikuri berpikir sejenak, “Tolong berikan, putrimu padaku.” Situasi mendadak canggung. “Oh… aku hanya bercanda. Kita harus jujur dan berkata ini pernikahan de facto. Apakah mereka akan merestuinya?” usul Mikuri.

“Orangtuaku sepertinya mudah berkompromi, tetapi pemikiran mereka kuno untuk hal seperti ini,” ujar Hiramasa.

“Orangtuaku juga. Pilihan satu-satunya mungkin apa yang kita bilang pernikahan normal,” ujar Mikuri.

Hiramasa mencoba kembali ucapan Mikuri tadi, tapi ia masih kesulitan. Keduanya merasa kalimat itu terlalu kuno dan mulai berpikir kalimat yang sekarang lazim digunakan. Belum selesai membahas soal kalimat lamaran, Mikuri membahas hal lain.

“Jika kita hidup bersama, bagaimana dengan malam hari? Maksudku, bagaimana pengaturan kamar tidurnya?”

Hiramasa sedikit kaget, “Tenang saja, kita tidur terpisah. Karena aku lajang profesional.”

“Lajang… profesional?” Mikuri bingung.

Turun dari bus, Mikuri dan Hiramasa langsung menuju kediaman keluarga Mikuri. Tampak pekerja jasa pindahan tengah mengangkut sejumlah barang ke dalam mobil.

“Mikuri! Bukannya kau akan langsung ke sana dari tempat kerja?” tanya ibunya.

“Keadaan berubah….” Mikuri ragu untuk bicara.

Hiramasa lalu menyapa kedua orang tua Mikuri. Ia minta maaf karena baru sempat menyapa. Hiramasa pun mulai bicara … niat hati ingin mengatakan lamaran. Kedua orang tua Mikuri pun sudah sangat penasaran. Tapi ternyata ia hanya mengucapkan terimakasih karena sudah membiarkan Mikuri bekerja di apartemennya.

Melihat Hiramasa kesulitan, Mikuri pun mengambil alih. “Kami akan menikah. Menikah. Aku dan Hiramasa. Jadi aku tidak pindah ke Tateyama. Aku akan pindah dengan … “

Tapi situasi mendadak kacau karena … Yuri. Mendengar kata menikah, Yuri naik pitam. Ia pun nyaris mencekek Hiramasa. “Menikah? Kau siapa?! Siapa orang ini? Dia orang asing. Apa kau bisa membuat Mikuri bahagia?!”

Melihat kekacauan ini, Mikuri dan ibunya mencoba menghentikan Yuri. “Tsuzaki adalah orang yang serius. Orang yang serius tidak akan menyentuh pekerjanya!”

Yuri dan kedua orang tua Mikuri bingung.

Mikuri meralatnya, “Dia melakukannya. Tentu saja dia melakukannya.”

Tapi situasi makin kacau, “Jangan-jangan, hamil di luar nikah?!” Yuri dan orang tua Mikuri kaget.

“Mana mungkin!” elak Mikuri cepat.

“Maafkan aku,” Hiramasa buru-buru minta maaf.

Situasi makin kacau, “Meminta maaf hanya akan membuatnya tambah mencurigakan,” ujar Mikuri pada Hiramasa.

Mikuri lalu berusaha menjelaskan semuanya lagi, “Aku tidak hamil atau apa pun, oke? Maafkan aku. Yuri! Ayah dan ibu juga, jangan menyalahkan Hiramasa. Aku bilang aku ingin bekerja di rumah Hiramasa. Aku bilang aku mau kami menikah, dan Hiramasa menerimanya. Jadi, tolong restui kami!”

Tidak hanya Mikuri saja, Hiramasa pun kemudian menunduk, meminta restu pada orang tua Mikuri dan juga Yuri.

Mobil keluarga Mikuri beranjak pergi. Diikuti oleh mobil yang membawa barang-barang mereka.

Dan begitulah. Dengan membawa sesedikit mungkin, barang keperluan sehari-hariku.

 

Kami tidak akan mengadakan resepsi. Kami akan menghadapi banyak rintangan bersama.

Dalam pertemuan kedua keluarga, Mikuri dan Hiramasa mengatakan tidak akan menyelenggarakan resepsi pernikahan. Ini membuat kedua keluarga kaget.

Tidak hanya itu, situasi kantor Hiramasa juga jadi kacau. Rekan-rekan kerjanya kaget karena mendapat kabar kalau Hiramasa menikah. Padahal dulu ia pernah bilang, tidak akan pernah menikah. Orang-orang pun kemdian menebak-nebak apa yang terjadi.

Karena pernikahan mereka tidak didaftarkan, Mikuri hanya mendaftarkan asuransi kesehatan dan perubahan alamat tinggal saja. Statusnya … istri (tidak terdaftar)

Aku secara resmi direkrut sebagai ibu rumah tangga. Ibu Rumah Tangga

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Gak kebayang aja, tetiba tinggal satu atap sama orang yang baru dikenal dengan status … istri. Ya meski Cuma istri kontrak aja sih. Tapi kan ya … apartemen orang Jepang modelnya LDK aja.

Tapi serius kok, ceritanya makin ke belakang makin seru. Suka aja lihat Hiramasa yang biasanya tenang dan cool, tetiba jadi aneh dan salah tingkah. Sementara Mikuri yang ‘normal’ soal hubungan, justru kelihatan gak peka. Hehe

Na lagi nunggu episode 6 nih. Hubungan mereka ada perkembangan. Hasyeeeek!

Minggu-minggu ini jadwal anak-anak UAS, jadi Na akan agak sibuk nih. Semoga masih ada waktu buat nulis sinopsis ya. Doakan kepala Na bisa diajak kompromi, dan penyakit ngantukan sementara nggak kumat. #ehe

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

6 comments

  1. lanjut… mbk

  2. Looovvvveeee this!!! Already. Hihihi…

  3. Seru… Arigato gozaimasu sinopsisnya…

Leave a Reply

Scroll To Top