Home / Married as Job / SINOPSIS Married as Job 01 part 1

SINOPSIS Married as Job 01 part 1

SINOPSIS dorama Married as Job episode 01 part 1. Moriyama Mikuri, 25 tahun. Lulusan jurusan psikologi di universitas. Sekarang dia menjadi pekerja sementara yang melakukan pekerjaan administratif. Awalnya Mikuri mencari pekerjaan di bidang perencanaan atau desain produk baru. Tetapi gagal. Mikuri lalu meneruskan studi ke jenjang magister karena berpikir itu lebih baik daripada menjadi seorang sarjana pengangguran.

Di universitas, dia memilih jurusan psikologi klinis. Setelah lulus, selain menjadi psikolog klinis bersertifikat, sekali lagi dia mencari kerja. Tapi ternyata semua tidak berjalan seperti keinginan. Dengan gelar magister ilmu sosial ternyata tetap masih sulit mencari pekerjaan. Akhirnya Mikuri mendaftarkan diri ke agensi pekerja sementara. Ia pun bekerja di sebuah perusahaan, melakukan berbagai pekerjaan dari pekerjaan di depan laptop hingga mencuci tempat minum milik atasan. Mikuri bahkan harus mengajari pekerja sementara yang lain soal komputer. Meski statusnya pekerja sementara, tidak jarang Mikuri pun harus menerima kritik atas pekerjaannya.

Sekali lagi, semuanya tidak berjalan seperti semestinya. Atasan memanggilnya dan ternyata Mikuri dipecat. Kontraknya sebagai pekerja sementara tidak diperpanjang. Menurut sang bos, perusahaan sedang mengurangi jumlah pekerja sementara. Sayangnya, ternyata Mikuri-lah yang kemudian dipecat. Padahal ada pekerja sementara lain, yang sebenarnya jauh lebih buruk darinya.

“Fakta bahwa aku punya gelar magister, seharusnya tak kukatakan saja. Sejak saat itu mereka memperlakukanku berbeda. Pekerja sementara tidak tahu kapan mereka akan dipecat. Tapi kalau memikirkan menjadi pekerja penuh waktu, aku bertanya-tanya apa ini pekerjaan yang mau kulakukan seumur hidup dan sejenisnya. Karena aku tidak bisa memutuskan, mulai hari ini… aku pengangguran!” curhat Mikuri di apartemen tantenya, Yuri-chan.

Yuri tengah bersiap akan berangkat ke kantor, “Kau belum bisa keluar, ya? Fobia cari kerja. Ketakutan untuk mencari kerja.” Ponsel Yuri berdering. Suara di seberang memintanya segera bergegas.

Kau sangat beruntung, Yuri. Kau punya sesuatu untuk dikerjakan.”

“Ini sebenarnya tidak mudah. Pasangan baru yang ditugaskan di bawahku benar-benar tak berguna. Akibatnya, aku tidak bisa punya setengah hari. Tolong terima paketku, oke? Mereka akan mengirimkannya kembali jika aku tidak menerimanya hari ini,” pinta Yuri sebelum beranjak pergi.

“Aku akan bersih-bersih sementara aku di sini,” Mikuri menawarkan.

Mikuri pulang ke rumah dan membantu ibunya menyiapkan makan malam. Mereka makan malam dengan sup harira, yang didapat dari Yuri (tante-nya Mikuri), yang pergi ke Maroko pada Natal sebelumnya. Yuri sengaja pergi ke negara yang tidak merayakan natal. Yuri benci sendirian selama natal. (alih-alih perayaan agama, di Jepang, Natal justru hari untuk pasangan. Jadi akan ada banyak pasangan yang keluar bersama).

“Jadi, aku punya kenalan, namanya Tsuzaki Hiramasa. Dia seorang insinyur enginer. Karena dia sibuk dan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, aku dengar dia menyewa jasa pembersihan rumah yang datang seminggu sekali ke rumahnya. Jadi, kami memutuskan mulai sekarang Mikuri akan menjadi pekerja sementara di rumah Tsuzaki,” ujar ayah Mikuri.

Mikuri jelas kaget dengan keputusan tiba-tiba ayahnya ini. Meski Cuma bekerja selama tiga jam saja, gaji yang diberikan lumayan. 2000 yen per jam. Tapi Mikuri tidak suka dengan ide tiba-tiba ayahnya ini. Sayangnya, meski protes, kedua orang tuanya tidak mendengarkan Mikuri.

“Ini alamat, nomor telepon, dan surel Tsuzaki,” ujar ayahnya lagi.

Dengan membawa tas besar yang cukup berat, Mikuri pun datang ke apartemen Tsuzaki Hiramasa-san dan memperkenalkan diri sebagai putri dari Hiramasa Tochio-an, ayahnya. Hiramasa dibuat kaget karena pengurus kebersihan rumahnya masih sangat muda. Tas berat Mikuri ternyata adalah sejumlah peralatan kerja untuk kebersihan.

Hiramasa-san mempersilahkan Mikuri masuk. Ruangannya sebenarnya tidak terlalu luas. Hanya satu kamar tidur, satu toilet dan satu ruangan serbaguna untuk dapur dan ruang tamu. “Hingga beberapa hari yang lalu aku mengontrak jasa pembersih rumah.” Tapi ternyata tidak ada satupun yang cocok dengan selera Hiramasa-san, hingga berkali pula ia minta ganti pekerja.

“Saat aku berpikir ternyata sangat sulit, Moriyama berkata… Maksudku ayahmu, Pak Moriyama, berkata…’Putri saya mahir bersih-bersih dan antusias’. Dia berkata kau mendapatkannya dari ibumu.” Obrolan itulah yang akhirnya membuat ayah Mikuri merekomendasikan Mikuri untuk bekerja sebagai pembersih rumah.

Hiramasa-san memberikan penjelasan soal apa saja yang harus dibersihkan dan harus diperhatikan oleh Mikuri. Selain itu, ia pun memberikan bayarannya di muka. “Aku akan memutuskan apakah akan mempekerjakanmu lagi minggu depan berdasarkan kerjamu hari ini.” Sehingga jika tidak cocok dengan pekerjaannya nanti, maka tidak perlu bertemu lagi.

Mikuri pun mengerti. “Instruksimu sangat rinci. Aku mengerti,” ujar Mikuri selanjutnya.

“Saat kau selesai, tolong kunci pintunya, dan tinggalkan kuncinya di kotak pos di lantai pertama. Aku pergi kerja dulu,” pamit Hiramasa-san.

Hari pertama Mikuri bekerja sebagai pembersih rumah pun dimulai. Menata ruangan, membuang sampah, mencuci peralatan makan dan membersihkan dapur, lalu membersihkan kamar mandi, mencuci pakaian dan tidak lupa mengelap jendela yang menghadap balkon.

Aku tidak pernah berpikir pekerjaan rumah tangga adalah sebuah pekerjaan. Yang kupelajari di universitas tidak berguna di sini. Namun aku akan menikmatinya, dan menargetkan pekerjaan tetap!

Yuri-san (tante Mikuri) makan siang bersama kedua bawahannya. Kedua karyawan baru itu tengah bertengkar, membuat Yuri-san ikutan kesal. Karena tidak tahan lagi, Yuri-san pun turun tangan mendamaikan keduanya. Setelah tenang, mereka baru saja mulai makan siang, tapi keributan lain tengah terjadi di restoran itu.

Dari lantai yang agak lebih tinggi, terdengar suara marah seorang wanita. Ia kesal pada kekasihnya yang tidak mau menikahinya, meski mereka sudah pacaran cukup lama. Si pria beralasan kalau ia senang dengan hubungan mereka saat itu dan tidak berpikir untuk menikah. Keduanya pun putus.

Si pria tadi turun dari lantai atas dan berjalan keluar, lewat dekat meja tempat Yuri-san dan kedua bawahannya tengah makan. Pria tampan itu sedikit menarik perhatian Yuri-san. “Dia yang terburuk! Aku tidak bisa menghadapi laki-laki yang pintar omong seperti dia. Lebih parah lagi, dia keren. Aku tidak bisa membalasnya.”

Hiramasa-san tengah makan siang sendirian seperti biasa. Saat itu kedua rekan kerjanya, Numata-san (baru oranye garis-garis) dan Hino-san (baju putih) ikut nimbrung. Hino-san pamer bekal makan buatan istrinya. Sementara Numata-san pamer bekal makan buatan sendiri yang tidak kalah enak karena semuanya organik. Dari arah lain, muncul si pria yang tadi memutuskan pacarnya di restoran, Kazami-san. Ternyata mereka adalah rekan kerja di kantor yang sama.

“Aku bertanya-tanya kenapa semua orang ingin menikah?” curhat Kazami-san sambil mengambil minuman.

“Kenapa? Menikah itu menyenangkan! Sangat membahagiakan!” ujar Hino-san.

“Bagaimana denganmu? Menikah maksudnya,” giliran Numata-san yang bertanya pada Hiramasa.

Hiramasa tampak tidak terganggu oleh ulah rekan-rekannya ini sama sekali. Ia tetap dengan wajah datar tanpa ekspresi, menyantap makan siangnya, “Itu hal termustahil yang bisa kulakukan.”

Mikuri masih melanjutkan pekerjaan bersih-bersih rumahnya. Kali ini sasarannya adalah jendela yang menghadap balkon. Saat itu, di bawah ada pasangan keluarga lain yang tengah melintas. Melihat itu, Mikuri pun menyapa mereka dengan melambaikan tangan.

Kalau orang lain melihatku, akankah aku terlihat seperti pengantin baru? Sebaliknya, jika aku menerima pekerjaan abadi “menikah”, akankah aku terbebas dari lingkaran setan pencarian kerja? Meski ini bukan tentang itu….

Mikuri menemukan ada bangku di balkon dengan beberapa sampah di atasnya. Meski heran, dia hanya membersihkan sampah yang mirip remahan makanan itu.

Selesai bekerja, Mikuri datang ke apartemen tantenya, Yuri-san. Mikuri cerita soal pekerjaan barunya itu, sebagai pembersih rumah. “Ayah. Menurutku dia khawatir aku sudah mencapai limitku dalam pencarian kerja. Namanya Tsuzaki Hiramasa, dia benci kalau hari liburnya dirusak dengan kegiatan bersih-bersih, jadi dia menyewa jasa pembersih di hari Jumat.”

Yuri-san manggut-manggut mengerti, “Aku paham. Sangat menyebalkan pulang dalam keadaan capek dan apartemenmu kotor. Berapa umurnya?”

“Hmm… mungkin lebih dari 30?” Mikuri membawa makanan yang selesai disiapkannya ke meja.

“Apa kau akan baik-baik saja sendirian di sana, sebagai perempuan lajang?” Yuri-san khawatir.

Tapi Mikuri tampak santai saja, “Dia kelihatannya sama sekali tidak berbahaya, seperti tipe herbivor. Jenis orang yang serius. Aku tidak cocok dengan tipe seperti itu. Kenapa?” (di jepang ada istilah pria tipe herbivor, atau penyuka sesama. Selain herbivor ada juga tipe karnivor, asparagus dan beberapa tipe lain)

“Maksudku, bahkan jika dia terlihat jinak, kau tidak tahu apa yang dia pikirkan!” desak Yuri-san.

Tsuchiya Yuri, usia 49 tahun, lajang. Bekerja sebagai humas di perusahaan kosmetik. Setelah lulus kuliah, seperti orang lain, dia disibukkan dengan pekerjaan dan pengangkatannya dan sekarang menjadi manajer departemen. Meski demikian, dia bekerja keras seperti orang lain, dia menikmati hidup seperti orang lain. Hanya satu kekurangannya. Yuri… belum menikah!

Dan obrolan tante-keponakan ini pun beranjak soal pernikahan atau karir. Yuri berpikir ia sudah cukup bahagia dengan hidupnya sekarang, jadi tidak perlu mencari alasan untuk menikah.

“Aku iri padamu, Yuri. Melakukan pekerjaan yang kau sukai, bertanggung jawab pada semua proyek, bahkan melatih anak buahmu.”

“Hal-hal itu tidak membuatku bahagia,” elak Yuri cepat.

“Hah? Namun itu berarti perusahaan membutuhkanmu. Ya, itu hal yang harus disyukuri,” ujar Mikuri. Ponselnya berbunyi. Ternyata pesan dari Hiramasa-san yang mengatakan kalau minggu depan dia bisa datang lagi untuk bersih-bersih rumah. Artinya pekerjaan Mikuri disetujui oleh Hiramasa. “Aku diterima bekerja!” seru Mikuri senang.

Mikuri datang ke apartemen Hiramasa-san seperti biasa di hari Jumat. Hiramasa meminta Mikuri hanya menyedot debu dan mencuci saja. Selain itu ia juga memberikan daftar belanjaan yang harus dibeli Mikuri.

Aku sendiri terkejut aku bisa begini bahagia melakukan pekerjaan rumah tangga. Pakaian dalam? Tidak ada satu pun pakaian dalam di sini. Aku tebak dia memisahkannya lebih dulu. Aku mencuci pakaian dalam ayahku di rumah, jadi aku tak keberatan. Namun sepertinya majikanku pengertian. Mungkin karena aku lebih muda darinya. Mengetahui ilmu psikologi sebenarnya sedikit membantu. Apa yang majikanku benci dan apa yang dia sukai. Ini bukan pekerjaan wajibku, tetapi setiap kali, aku membersihkan satu area secara menyeluruh. Maksudku dengan waktu yang kupunya.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Mikuri masih sempat membuat catatan kecil untuk Hiramasa-san. Membaca catatan yang ditinggalkan Mikuri, ekspresi Hiramasa-san sedikit berubah, lebih tampak cerah.

Baginya, ini bukan pekerjaan luar biasa. Seminggu sekali selama tiga jam. Jika diukur dengan gaji bulanan, hanya 24.000 yen per bulan. Bahkan jika dia meneruskan pekerjaan ini, impiannya tidak akan terwujud. Meski begitu mengapa dia bekerja begitu giat?

Mikuri makan malam bersama kedua orang tuanya seperti biasa. Sepertinya mereka asyik mengobrolkan sesuatu, yang tidak diketahui Mikuri. Tanpa membicarakan lebih dulu, ternyata ayah dan ibunya telah membeli sebuah rumah gaya lama di Tateyama, Chiba.

“Kami memutuskan untuk pindah dari sini di akhir bulan. Kau harus berhenti dari pekerjaanmu,” ujar ayah Mikuri, membuat kaget.

“Maaf ini sangat mendadak,” sambung ibunya.

“Tunggu…!” tapi lagi-lagi protes Mikuri tidak didengarkan oleh kedua orang tuanya ini. Mereka sudah dengan seenaknya sendiri mengambil keputusan dan sekarang asyik membahas soal renovasi rumah itu tanpa mempedulikan protes Mikuri sama sekali.

Mikuri yang tidak punya pekerjaan, tidak mungkin tinggal sendiri. Jadi, pilihannya adalah ikut pindah juga bersama orang tuanya. Mikuri sempat protes, karena rumah itu adalah rumah gaya lama. Tapi orang tuanya tidak mendengarkan. Mereka hanya ingin bisa tinggal di rumah gaya lama dan menikmati masa pensiun ayah Mikuri. Jika ikut pindah, artinya Mikuri juga harus berhenti bekerja sebagai pembersih rumah di apartemen Hiramasa-san.

Remah makanan yang ditemukan Mikuri di kursi yang ada di balkon ternyata makanan burung. Hiramasa-san yang sengaja meletakkan remah itu di sana, agar ada burung yang datang untuk makan.

“Ini sepertinya emprit jepang. Dia kadang datang ke sini. Sepertinya dia hidup bebas di lingkungan ini. Aku khawatir karena tidak melihatnya belakangan ini. Syukurlah dia baik-baik saja. Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu,” pamit Hiramasa-san kemudian.

Tapi Mikuri menghentikan Hiramasa-san dan mengajaknya bicara. Ia pun menceritakan kalau orangtuanya akan pindah ke Tateyama, jadi ia tidak bisa lagi bekerja sebagai pembersih rumah.

“Ini masalah keluargamu, aku juga tidak bisa apa-apa,” komentar Hiramasa-san, tanpa ekspresi apapun.

“Aku akan bekerja sampai akhir bulan,” lanjut Mikuri.

Hiramasa-san kemudian membahas soal kawat nyamuk yang telah dibersihkan oleh Mikuri. Mikuri minta maaf karena belum minta izin lebih dulu.

“Saat aku membuka gorden di Sabtu pagi, ruangan ini lebih terang dari biasanya. Aku bertanya-tanya apa sebabnya. Lalu kupikir “Oh! Kawat nyamuk!” Aku menyadari kawat nyamuknya bersih. Hal itu membuat perasaanku gembira, dan membuatku berpikir Aku bersyukur telah mempekerjakanmu, Moriyama. Jika memungkinkan aku ingin kau terus bekerja di sini,” ujar Hiramasa-san pelan.

Ternyata jawaban Mikuri tidak terduga, “Aku juga. Lebih dari itu, menjadi pekerja inap! Bisakah Anda mempekerjakanku?” pinta Mikuri.

Hiramasa-san terkejut dengan tanggapan Mikuri, “Seperti yang kau pikir, tinggal bersama perempuan sebelum menikah akan…”

“Kalau begitu, kenapa tidak menikahiku?” tembak Mikuri tanpa ragu. “Meski ini pernikahan, ini akan seperti pekerjaan. Aku akan seperti pekerja rumah tangga biasa. Seperti kawin kontrak!” melihat ekspresi Hiramasa-san yang bengong, Mikuri pun segera sadar diri. “Omonganku tidak masuk akal, ya? Maaf atas ucapanku yang tidak masuk akal. Aku hanya bercanda, meski tidak ada yang tertawa. Oh, Anda akan telat masuk kerja! Ini, ambil ini. Maaf sudah menahan Anda. Cepat, Anda akan terlambat. Cepat!” Mikuri memberikan tas kerja milik Hiramasa-san dan memintanya segera berangkat bekerja.

Setelah Hiramasa-san berangkat, tinggal Mikuri yang justru meringkuk di lantai. Ia merasa begitu malu sudah mengatakan ide soal pernikahan barusan pada Hiramasa-san. “Ini semua karena percakapan aneh dengan Yassan dua hari lalu!”

Dua hari sebelumnya, Mikuri bertemu dengan temannya, Yassan yang sudah menikah dan memiliki seorang putri. Yassan mengatakan kalau ia percaya suaminya selingkuh dan tengah mencari buktinya. Karenya itulah Yassan pun memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya.

“Bagaimana mungkin aku tahan? Mencuci pakaian dalam atau memasak untuk pembohong. Dia tidak pernah mengucapkan “terima kasih” sebelumnya. Dia bertingkah seolah-olah semua itu kewajibanku. Meski demikian, aku tidak melakukan apa-apa selain mengurusnya selama tiga tahun ini. Semua itu untuk apa? Kalau kau bekerja selama tiga tahun, kau bisa membangun karier. Namun jika ibu rumah tangga selama tiga tahun bercerai, tidak ada artinya,” curhat Yassan pada Mikuri.

“Hirari masih ada di sini, ‘kan?” Mikuri menunjuk bayi perempuan tidak jauh dari mereka.

“Aku tidak keberatan merawatnya. Aku akan melakukan segalanya. Apa yang membuatku kesal adalah, Kalau dari gajinya, aku yakin dia tidak akan membayar uang kompensasi atau tunjangan anak. Yang berarti pada akhirnya aku yang harus membesarkannya sendirian. Meskipun aku tidak punya karier atau uang simpanan. Kebutuhan ibu tunggal tentu saja besar. Siapa yang akan mempekerjakanku? Omong-omong, jika kau menghitung gaji ibu rumah tangga per tahun … “

“Kudengar mencapai 3.041.000 yen,” sambung Mikuri.

“Kau paham benar, ya. Namun kalau kau menikah, kau tidak digaji meski kau mengerjakan pekerjaan rumah.”

Dan ide itu pun melintas di kepala Mikuri, “Bagaimana kalau begini? Memasangkan seorang laki-laki yang membutuhkan pekerja rumah tangga dan perempuan yang suka melakukannya. Majikan dan pekerja. Kawin kontrak berbayar. Itu mungkin dilakukan. Bagaimana?”

“Tidak, tentu saja tidak! Bagaimana dengan malam hari?” tanya Yassan. “Sedikit biaya tambahan karena tinggal serumah? Tidak, aku tidak akan melakukannya. Kau tidak bisa melakukannya kalau kau tidak jatuh cinta, ‘kan?”

“Lalu, kenapa tidak menikah saja sebagai sepasang kekasih? Itu pernikahan normal.”

Hiramasa-san bekerja seperti biasa. Tapi kali ini ia tidak fokus dan justru menarik perhatian Numata-san. Bahkan Hiramasa justru mengetikkan hal yang seharusnya tidak diketik dalam programnya.

“Kau seperti sedang melamun, tapi sebenarnya kau menyimak,” ujar Numata-san.

“Aku tidak melamun,” elak Hiramasa-san cepat.

“Setiap dua puluh menit sekali, kau berhenti bekerja seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku hanya kebetulan melihatnya. Kebetulan. Tak disengaja. Kenapa tidak mencoba mendiskusikannya dengan seniormu yang hebat ni?” Numata-san menawarkan.

“Tidak ada yang perlu didiskusikan,” tolak Hiramasa cepat.

Terus dibujuk, akhirnya Hiramasa sedikit bercerita soal ‘teman-nya’ ini. Dan soal kata-kata ‘menikahiku’. Tapi obrolan mereka belum selesai saat ada pekerjaan lain datang.

“Minta perhatiannya sebentar! Jadi, perusahaan sistem registrasi di Milan, sebagian spesifikasinya akan berubah. Kalian bisa mendengar detailnya dari Nabe dari bagian penjualan. Oke, silakan!” sang manajer kemudian melarikan diri.

Para karyawan itu kemudian melihat detail pekerjaan yang ditinggalkan pada bagian penjualan, Nabe. Ternyata itu artinya mereka harus menulis ulang program yang sebenarnya diselesaikan dalam waktu satu bulan. Padahal, waktunya hanya … hingga minggu depan!

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Nggak sengaja nonton drama ini sih. Awalnya karena dikasih tahu sama teman. Nggak tertarik-tertarik amat, soalnya bukan selera Na. Eh tapi … setelah nonton episode satu, Na berhasil dibuat senyum-senyum sama drama ini. Sebuah drama kehidupan yang biasa terjadi, tapi dikemas dengan apik. Dan sukses bikin ketagihan bin galau nunggu episode berikutnya.

Entah sudah berapa drama neng Yui Aragaki yang Na tonton. Tapi, baru kali ini Na nonton drama neng Yui dengan rambut pendek. Sepertinya lebih asyik aja sih, cocok dengan karakter Mikuri yang ceria. Pemeran utama prianya, om Hoshino Gen, pertama kali Na tahu dia main di Detektif Q. Drama lama sih. dan beberapa kali muncul juga di drama lain. Tapi baru kali ini Na tahu kalau dia ini adalah aktor, seiyu dan juga penyanyi. Dan setelah ditonton sampai episode-episode berikutnya, Na akhirnya ngerti kenapa om Gen yang dipilih memerankan karakter Tsuzaki Hiramasa-san ini. Cocok banget lah.

Lagu di ending drama ini asyik banget. Apalagi ada gerakannya juga. Oh ya, karena Na posting Cuma dua kali satu minggu, jadi mungkin agak lama. Mohon sabar ya, dan terimakasih selalu.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

4 comments

  1. Waaahh ada neng Yui Aragaki. Tampilan baru dg rambut pendek jadi inget Tabe Mikako waktu jadi detektif yg suka bilang “apa kau bodoh” *aduh, aku lupa judulnya apa. Hehe. Makasih Na, masih fresh nih sinopsisnya. Itu hiramasa-nya sengaja nyari yang om-om yaa?hehe

    • iyaaaaaa
      ah sinopsis itu. tapi si tabe mikako di drama itu kejam, kekekeke
      yup, bener banget. emang ceritanya kan hiramasa ini usianya udah 35-an
      dan lagi cupu tanpa pengalaman punya pacar. jadi emang dicari yg wajah biasa dan tanpa ekspresi

  2. sangat menarik. jd spt’y mulai skrng sitha akn setia menunggu lanjutan’y.
    terima kasih sdh bekerja keras👍

Leave a Reply

Scroll To Top