Home / Soshite Daremo Inakunatta / SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta 02 part 1

SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta 02 part 1

SINOPSIS dorama Soshite, Daremo Inakunatta 02 part 1. Kehidupan Todo Shinichi yang sempurna tiba-tiba berbalik 180 derajat saat identitasnya dicuri oleh orang lain. Jungkir balik mencoba mendapatkan identitasnya kembali, Shinichi bertemu banyak masalah tak terduga. Siapa sebenarnya dalang dibalik masalah ini?

7 hari yang lalu

Osanai masih berada di kantornya meski hari sudah gelap. Padahal karyawan lain sudah bubar dan pulang. Ia mengeluarkan foto masa kuliahnya saat bersama Shinichi dan yang lain. Osanai mengetuk-ngetuk foto itu hingga terjatuh. Ada yang tengah ia pikirkan. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Osanai ini?

Shinichi menemui Tajima-san di depan kantor mereka. Rupanya Shinichi minta bantuan Tajima-san untuk bisa masuk kantor lagi. Mereka masuk ke ruangan kerja lama dengan diam-diam.

“Apakah kita bisa tahu siapa pelakunya dengan cara ini?”

Shinichi sudah asyik di depan monitor utama dan mulai mengetikkan perintah program, “Si pelaku menghapus jejak aksesnya. Tapi kalau kita lewat pintu belakang, masih ada jejak log tersembunyi.” Beberapa kali layar utama berubah. Sayangnya apa yang dicari, ternyata juga tidak ada. Tidak ada jejak sama sekali pemakaian komputer utama mereka itu. “Tidak mungkin!”

Tajima-san bingung, “Apakah aku sudah merusaknya?”

“Tidak. Bukan salah Anda. Log tersembunyi itu menghapus dirinya sendiri. Kenapa bisa berefek sampai sejauh ini?” gumam Shinichi, lebih pada diri sendiri.

Tiba-tiba layar monitor utama dan layar komputer lain di ruangan itu berubah. Ada pesan yang meminta agar Shinichi bicara padanya. Disusul kemudian dengan terdengarnya dering telepon. Meski ragu, Shinichi pun akhirnya mengangkat telepon itu.

“Bukannya kau dilatih untuk mengangkat telepon dalam tiga deringan pertama?” ujar suara di seberang.

“Siapa ini?”

“Aku Gaki no Tsukai (Errand boy – penyampai pesan),” ujar suara itu lagi. “Dengan cara ini aku menghubungimu. Selain itu, aku Cuma penyampai pesan yang tidak bisa melakukan apapun.”

Shinichi curiga, “Kau yang menghapus log Miss Erase!”

Suara di seberang terdengar tertawa, “Kau tidak dengar yang kukatakan? Aku Gaki no Tsukai, penyampai pesan. Ok, aku ingin kau tulis nomer yang kusebutkan! Ini kuis.”

“Jangan main-main denganku. Aku tidak punya waktu dengan ini!” gertak Shinichi.

“Tidak masalah. Tapi aku tahu, kalau kau tidak kena flu saat tes universitas, kau pasti bisa dengan mudah masuk Todai (Tokyo Daigakusen / Unversitas Tokyo).”

“Bagaimana kau bisa tahu?” Shinichi urung menutup telepon.

“Aku tidak akan mengulang ucapanku. Nomer pertama adalah 0, 30 … “

Shinichi segera mencari kertas dan pulpen untuk menulis. Ia mengulur pembicaraan sambil mengingat, apakah pernah mendengar suara ini atau tidak.

Suara di seberang masih melanjutkan ucapannya. 122, 087, 514 … tapi terdengar ada orang yang mendekati ruangan. Tajima-san mengingatkan Shincihi untuk segera bersembunyi. Belum sempat nomer terakhir disebutkan, Shinichi terpaksa sudah harus bersembunyi.

Ternyata yang datang adalah Itsuki. Dia datang membawakan makan malam, takoyaki untuk Tajima-san, karena tahu atasannya ini masih belum pulang. Itsuki mulai curhat. Ia khawatir kalau Tajima-san akan menyusupkan Shinchi masuk ke dalam kantor, seperti dirinya dulu. Tapi Tajima-san cepat-cepat menangkalnya. Telepon kembali berdering. Itsuki yang mengangkatnya.

“Bodoh, kenapa ditutup? Nomer terakhirnya adalah 00,” ujar suara di seberang.

Itsuki heran. Ia pun mengatakan pada Tajima-san kalau itu mungkin Cuma telepon iseng yang mengatakan soal nomer 00. Shinchi yang bersembunyi di bawah meja menuliskan dua digit terakhir yang tadi dikatakan Itsuki. Kini nomer di kertasnya sudah lengkap.

Sementara itu, Itsuki melanjutkan rumpinya. Dia mengatakan kalau kasus kedua Shinichi ditangani oleh pengacara yang sama, dari firma hukum Saijo. Sebuah firma hukum terkenal. Tapi sepertinya si pengacara membuat agar kedua klien tidak saling berhubungan.

Malam itu Shinichi pulang kembali ke apartemennya masih dengan perasaan kacau. Paginya, ia memerhatikan Sanae yang masih tertidur. Shinchi teringat dengan form registrasi pernikahan yang sudah diisi oleh Sanae dan dirinya. Dengan situasi dirinya yang tidak punya identitas seperti sekarang ini, semuanya akan sulit.

Tapi ternyata Sanae kemudian terbangun. Saat itu Shinichi sudah nyaris rapi, sedang mengenakan dasinya. Keduanya pun sarapan bersama.

“Oh ya, apakah kita bisa bertemu di jam istirahatmu nanti?”

“Untuk apa?” Shinichi heran.

Sanae pura-pura merajuk, “Bukankah aku bilang soal membeli gaun pengantin di tempat Michiko? Ternyata itu tidak jauh dari kantormu. 30 menit cukup. Kumohon!”

Shinichi awalnya ragu. Tapi akhirnya ia pun mengiyakan permintaan Sanae. Setelah selesai sarapan, Shinichi pun bersiap berangkat. Sanae seperti biasa melepas kepergian Shinchi, tanpa kecurigaan apapun. Sementara Shinichi berusaha terlihat baik-baik saja. Meski sebenarnya pikirannya kacau.

Ada meeting di sebuah kantor. Sementara presentasi berlangsung, di deretan belakang Osanai justru mengobrol dengan atasannya.

“Osanai-kun, apa yang akan kau lakukan soal rencana kita?”

“Kita sudah memprosesnya,” ujar Osanai.

“Aku khawatir soal skandal. Tapi aku benci kegagalan!” sang bos mengingatkan.

“Jangan khawatir. Semuanya diproses dengan keamanan maksimum.”

Sang bos tampak sumringah, “Aku punya harapan tinggi!”

“Saya ingin melihat wajah orang itu pucat!” sambung Osanai.

Hari itu Shinichi mendatangi firma hukum Saijo, seperti yang didengarnya dari Itsuki. Shincihi masuk dan minta bertemu dengan sang pemilik firma, Saijo-san, tapi ia tidak punya janji. Si sekretaris mengatakan sang bos tengah sibuk, tapi mungkin ia bisa menunggu.

Tidak punya pilihan lain, Shinichi pun memutuskan menunggu. Waktu berlalu cukup pelan. Dari membaca majalah hingga mondar-mandir sudah Shinichi lalukan untuk menghabiskan waktu. Hingga akhirnya, si sekretaris mengatakan kalau pengacara Saijo bersedia menemuinya.

“Normalnya, aku tidak akan menemui klien tanpa janji. Tapi sepertinya kau paham benar, saat kau sebutkan namanya pada sekretaris di depan, aku pasti akan tertarik,” sapa sang pengacara, Saijo-san.

“Ya, aku Todo Shinichi. Kudengar kau juga jadi pengacara untuk Todo Shinichi yang terjerat kasus perampokkan di Niigata. Akulah Todo Shinchi yang asli. Kau pasti juga menyadari, kalau dia mencuri nama dan nomer pribadiku. Tidak masalah bagiku mengatakan nama asli dari pria itu.”

Tapi sepertinya ucapan Shinichi tidak membuat pengacara Saijo tertarik. Tentu informasi itu sudah didapatkan lebih dulu. Pengcara Saijo pun menolak bicara lebih banyak soal kliennya Todo Shinichi yang di Niigata itu. Dia bahkan berpikir kalau Shinichi sudah membuang-buang waktunya.

Shinichi kesal mendapat perlakukan seperti ini, “Aku tahu yang kumau sekarang. Terimakasih. Aku tidak akan memberitahukan tempat kerjaku atau memberikan kartu namaku. Karena kau sudah tahu sejak awal. Siapa sebenarnya klienmu? Kenapa kau melakukan ini?!”

“Kalau kau ingin aku membelamu, tidakkah harusnya kau yang mempekerjakanku? Meski aku tidak akan mencampuradukkan dengan klien sebelumnya. Kalau kau punya masalah, silahkan hubungi aku. Kau bisa pergi sekarang.”

Shinichi termenung di taman sambil menyantap roti makan siangnya. Ia masih memikirkan soal pengacara Saijo.

“Aku tidak mengerti. Kalau dia tidak berniat memberitahukan apapun padaku, kenapa dia mau bertemu?Dan lagi, kalau dia tahu siapa aku sejak awal, kenapa dia sengaja muncul di depanku?”

Shinichi merogoh saku jasnya mengeluarkan kertas yang berisi angka dari si pembawa pesan semalam. Ia memandangi deretan angka-angka itu, tapi masih belum mengerti artinya. Shinichi pun berpikir untuk saat ini, ia akan memecahkan deretan angka itu lebih dulu. Shinichi melirik jam di tangannya, sudah jam 12 lewat. Ia ingat punya janji.

Shinichi memenuhi janjinya pada Sanae untuk membeli gaun pengantin. Sanae merajuk, karena Shinichi belum beli ponsel juga, akibatnya ia jadi sulit dihubungi. Tapi Sanae mafhum dan minta pendapat soal gaun yang dipakaianya itu. Shinichi bilang, Sanae cantik.

Saat itu salah satu pelayan toko datang dan menawarkan model yang lain pada Sanae. Sanae setuju untuk mencoba model lain. Sambil menunggu, Sanae pun menunjukkn pamflet untuk rencana pesta mereka. Ia tampak sumringah. Sementara Shinichi justru memikirkan hal lain.

14 digit nomer. Kalau saja, 10 digit pertama adalah nomer telepon, jadi empat digit berikutnya adalah waktu. Kalau 1400, artinya jam 2 siang!”

“Maaf. Aku harus segera kembali. Pekerjaan sedang menumpuk. Sampaikan salamku pada Machiko-san. Gaunmu … sangat cantik. Sampai jumpa lagi,” pamit Shinchi.

Sanae hanya bisa terdiam ditinggal Shinichi seperti itu. Meski sangat kecewa, Sanae juga tidak bisa menahan kepergian Shinichi. Ditinggal Shinichi seperti itu, Sanae pun membatalkan mencoba gaun baru yang tadi ditawarkan pelayan toko.

Shinichi keluar dari butik dan menuju telepon umum. Ia pun langsung mengetikkan 10 digit nomer yang ada dalam catatannya.

“Halo. Ini kebun binatang Uehara,” ujar suara di seberang.

Shinichi kaget, karena yang diteleponnya adalah kebun binatang. Antara percaya dan tidak, Shinchi akhirnya menutup pembicaraan.

Shinichi tiba di kebun binatang yang dimaksud. Ia sama sekali tidak mengerti apapun atau akan bertemu siapa di sana. Shinichi hanya jalan berkeliling sambil sesekali melihat jam. Waktu terus berlalu, dan jam 2 siang sudah lewat. Tidak ada yang menarik perhatiannya ataupun hal aneh, sampai Shinichi melihat … Tampak nyonya Todo, ibu Shinichi ada di kursi rodanya didorong oleh perawatnya dan … Osanai.

“Ibu. Osanai, kenapa? Shinichi heran.

Nyoya Todo tersenyum seperti biasa, “Tidak biasanya kau terlambat.”

“Apa kau kaget? Ah maaf sudang mengganggu waktu keluargamu,” ujar Osanai pula.

“Ada apa ini?” Shinichi heran.

“Kau sepertinya tidak bawa ponsel. Apa kau terlalu sibuk dengan penelitiannya hingga lupa membayarnya?”

Shinichi menyeret Osani agak menjauh dari ibunya, “Kutanya, kenapa kau bersama ibuku?!” desak Shinichi.

“Apa kau semarah itu? Ibumu menghubungiku kemarin dan mengatakan kalau kau mengajaknya bertemu dan menawariku kalau mau datang juga. Aku sedang ada dekat sini, jadi aku memutuskan untuk datang,” cerita Osanai.

“Aku? Mengundang ibu ke kebun binatang?” Shinichi heran.

“Ya. Ada yang salah? Ada apa?”

“Aku tidak melakukan itu,” aku Shinichi. Tapi otaknya merasakan ada yang tidak beres. Untuk saat ini aku harus tenang. Aku tidak mau ibu tahu soal ini.

“Sebenarnya, bosku tertarik dengan kerugian yang kau alami akibat pencurian identitas. Kalau bisa, dia ingin mendengarkannya langsung darimu. Kupikir dia bisa membantumu juga,” tawar Osani.

Shinichi pun mengerti. Saat Osani mengajaknya bertemu nanti malam di bar tempat biasa, Shinichi pun setuju. Setelah itu, Osanai pun pamit pada nyonya Todo dan beranjak pergi.

Osanai berjalan pergi. Dan seperti biasa, dia merekam yang terjadi hari ini pada alat perekam yang ada di dalam jasnya.

Pada 7 Juli, jam 14.15. Janji bertemu Shinichi di bar King nanti sore.

BERSAMBUNG

Pictures and written by Kelana

Kelana’s note :

Halo semua, ada yang kangen sama Kelana? Sebelumnya mohon maaf sekali, karena ternyata butuh waktu lama untuk Kelana kembali menulis di blog ini. Nggak bisa Kelana jelaskan detailnya. Tapi semoga, setelah ini Kelana bisa kembali aktif dan rutin nulis lagi. Selamat membaca ^_^

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top