Home / Daremo Inakunatta / SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta 01 part 2

SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta 01 part 2

SINOPSIS dorama Soshite, Daremo Inakunatta 01 part 2. Gimana setelah bagian pertama? Sudah terasakah suspense dan ketegangannya. Hehehe. Kalau belum, cek bagian berikutnya di bawah ini deh. Selamat membaca ^_^

Kehidupan sempurna Todo Shinichi tiba-tiba saja berbalik seratus delapan puluh derajat saat ia kehilangan identitas. Semua kartu pengenal dan fasilitas sosial yang dimilikinya dibekukan. Shinichi melakukan perjalanan ke Niigata, tempat pria bernama sama dengannya Todo Shinichi ‘palsu’ berada. Apa yang terjadi?

Shinichi bertemu Osanai-san di bar King. Dia tampak gembira karena berhasil menemukan identitas asli milik pria yang memiliki nama sama dengannya. Saat itu, bartender bar rupanya tertarik dan ikut bergabung.

“Jadi, kenapa Anda bisa jadi korban?” tanya sang bartender, Kusaka-kun. Melihat Shinichi bingung, Kusaka melanjutkan pertanyaannya, “Kebencian terhadap Anda?”

Kali ini Osanai yang menjawab, “Orang ini sangat menarik, cerdas dan populer diantara wanita. Ada kemungkinan seseorang iri padanya.”

“Tidak mungkin. Aku tidak pernah melakukan hal yang bisa membuat iri atau benci,” elak Shinichi.

“Benar. Dari pengalamanku, kebencian bukan alasan seseorang melakukan hal seperti ini,” ujar Kusaka pula.

“Kalau identitas si Kawanose ini terungkap, maka orang di sebaliknya juga ikut terseret hukuman,” ujar Shinichi yakin.

Makiko-san tengah membalik-balik bukunya dan sesekali tersenyum. Saat itu perawatnya, Yayoi-san datang membawakan bunga dan meletakkannya di meja. Menurut Makiko-san itu bunga dari putranya, Shinichi. Meski hari itu bukan ulangtahunnya, ternyata Shinichi tetap mengirim bunga untuk ibunya, Makiko-san.

“Anak yang baik. Aku iri sekali,” aku Yayoi-san. “Meski dia sibuk bekerja, dia tidak lupa dengan ibunya.”

“Benar. Dia anak yang baik.”

Ponsel Makiko-san berbunyi. Setelah melihat siapa yang memanggil, ia pun menyuruh Yayoi-san agar pulang saja karena pekerjaan sudah selesai hati itu. Yayoi-san menurut saja.

“Makiko-san, apa Anda sendirian?” ujar suara dari seberang.

“Kau membantu Shinichi saat di Niigata kan?” balas Makiko-san. Ia tahu benar siapa yang menelepon dari seberang, Nagasaki Haruka, teman semasa kuliah Shinichi.

“Anda tahu juga,” komentar Nagasaki. Senyumnya berubah misterius.

Saat itu hari sudah gelap dan kantor sepi karena semua karyawan telah pulang. Seseorang berjalan di lorong dan masuk ke lab dengan kartu pass-nya. Kartu pass menunjukkan kalau ia orang dalam perusahaan. Ia kemudian menjalankan Miss Erase. Ada hal yang akan dilakukannya dengan program buatan Shinichi ini nantinya. Siapa dia?

Keluar dari bar King, Osanai naik taksi. Alih-alih menyebutkan tujuan perjalanan, Osanai justru menyuruh si sopir taksi berputar-putar dan kembali ke tempat itu 10 menit lagi. Sopir taksi yang heran Cuma bisa menurut saja permintaan penumpangnya ini. Dari kursi belakang, Osanai juga mengeluarkan ponselnya dan melakukan sesuatu.

Osanai kembali ke bar King dan melihat si bartender, Kusaka tengah menutup bar. Ia pun minta agar diberi waktu 30 menit lagi atau bahkan 10 menit saja untuk minum lagi di bar itu. “Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”

Shinichi berjalan ke arah lain untuk pulang. Ia menghubungi tunangannya, Sanae dan mengatakan kalau semuanya sekarang sudah baik-baik saja. Tapi saat Shinichi mengajak bertemu, Sanae menolak. Shinichi pun menurut saja.

Baru saja Shinichi akan memasukkan ponselnya, ada pesan masuk. Pemberitahuan kalau Miss Erase kembali diakses. Shinichi heran, karena Miss Erase diakses saat waktu sudah larut. Tapi dia tidak terlalu ambil pusing dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Tadinya Shinichi kecewa karena tidak bisa bertemu, ternyata Sanae sudah menunggu di depan apartemen Shinichi. Mereka pun berpelukan dan tersenyum lebar malam itu, tanpa tahu masalah yang sudah menunggu esok harinya.

Malam itu, data tentang pria bernama Kawanose Takeshi menghilang dari internet secara tiba-tiba. Data pria bernama Todo Shinichi pun diganti. Sistem yang kuciptakan menghapus keberadaanku dari dunia.

7 hari yang lalu.

Seperti rencana, pagi berikutnya Shinichi datang ke kantor polisi. Niatnya adalah ingin menunjukkan data tenang Todo Shinichi palsu. Shinichi menyalakan laptop yang dibawanya, dan langsung terhubung dengan internet. Saat itu, ternyata data-data yang sempat ia simpan kemarin menghilang. Tidak ada sama sekali. Shinichi lemas, karena usahanya sia-sia. Tidak ingin memberikan penjelasan membingungkan, Shinichi pun memilih pergi dari kantor polisi.

Shinichi berjalan pulang dengan lemah. Ia tidak mengerti, apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sampai seorang gadis SPG menyapanya dan menawarkan produk.

“Apa kau ingin tampil menarik? Saat ini, pria juga perlu untuk punya kulit yang baik. Aku mencari konsumen untuk perawatan kulit pria. Saat ini kami masih memberikan sampel gratis. Teknologi terbaru ini bisa mengubahmu jadi orang yang berbeda.”

Shinichi yang tadinya tidak tertarik tiba-tiba saja berhenti. Ia meminta si gadis SPG mengucapkan lagi kalimatnya tadi, ‘teknologi terbaru ini bisa mengubahmu jadi orang yang berbeda’. Dan ide itu pun melintas dalam kepala Shinichi.

“Benar kan? Ini dilakukan oleh Miss Erase. Dataku jadi target penghapusan Miss Erase saat terhubung ke internet.”

Shinichi kembali mendatangi kantornya. Di pintu masuk, ia urung untuk masuk. Shinichi ingat kalau saat ini semua data pribadinya dalam keadaan diblokir. Jadi kalau dia memaksa masuk, maka akan membuat masalah dan justru akan ketahuan.

Shinichi berniat menelepon seseorang. Tapi lagi-lagi teleponnya juga tidak bisa digunakan karena telah diblokir. Kebingungan, Shinichi bertemu dengan juniornya, Itsuki di depan kantor. Ia pun minta tolong ada Itsuki agar bisa mengajaknya masuk. Itsuki setuju dengan permintaan Shinichi. Di dalam lab, karyawan yang lain kaget karena Shinichi datang.

Dari komputer lab, Shinichi mengakses Miss Erase. Tapi ia tidak bisa melanjutkannya karena nomer ID-nya diblokir sehingga tidak bisa mengakses. Shinichi pun minta agar Itsuki yang memasukkan nomer ID-nya. Shinichi berniat memeriksa log pemakaian Miss Erase, sehingga bisa tahu siapa yang melakukan akses semalam.

Itsuki sedikit tidak terima, karena sikap Shinichi ini artinya dia mencurigai rekan-rekannya. Shinichi menjelaskan kalau ia belum bisa memutuskan. Selalu ada kemungkinan dan dia berniat untuk membuktikannya.

“Bagaimana kalau ternyata itu aku?” tanya Itsuki. Tapi melihat Shinichi kebingungan, Itsuki pun mengatakan kalau itu Cuma bercanda. Ia pun kemudian memasukkan nomer IDnya ke layar. Sayangnya nomer ID Itsuki juga tidak bisa digunakan untuk mengakses Miss Erase.

“Ini aneh sekali, padahal aku masih bisa mengaksesnya kemari,” keluh Itsuki.

Tapi obrolan mereka terhenti saat ada yang datang. Tidak ingin membuat situasi makin buruk, Shinichi pun bersembunyi di sisi lain ruangan.

“Aku ingin tahu, apa ada yang dihubungi oleh Todo Shinichi?” tanya Tamura, orang HRD yang datang ke lab.

Tapi cara bicara Tamura yang sok ini membuat Itsuki kesal. Keduanya pun memperdebatkan hal tidak penting soal senioritas.

“Ini salahmu jadwal proyek kami jadi mundur,” keluh Itsuki.

Tamura tersenyum mengejek, “Sebaliknya. Ini salah dia (Todo Shinichi), proyek kalian jadi bermasalah.”

Para staf lab heran. Setelah didesak akhirnya Tamura pun buka mulut. “Uang untuk proyek kalian digelapkan. Saat ini jumlahnya sekitar 20 juta yen. Investigasi rahasia dilakukan atasan, dan ternyata pelakunya Todo Shinichi.”

Tidak tahan dibicarakan di luar, Shinichi pun keluar dari persembunyiannya. Ia yang kesal mendorong Tamura hingga terjatuh. Shinichi berusaha menjelaskan kalau urusan uang dia tidak ikut campur, semua diurus atasannya, Tajima-san. Tapi tidak ada yang mau dengar.

Tidak ingin kehilangan buruannya, Tamura kemudian menghubungi keamanan di bawah untuk segera menangkap Shinichi. Itsuki pun meminta Shinichi untuk pergi saja, karena keamanan akan segera datang. Setelah dibujuk, Shinichi pun setuju untuk pergi.

Shinichi baru keluar lab saat pihak keamanan datang, dan masih berusaha setenang mungkin. Tapi akhirnya Shinichi tidak tahan lagi dicurigai dan akhirnya berlari turun mencari jalan keluar.

Di depan kantor, Shinichi bertabrakan dengan temannya dari Niigata, Nagasaki. Nagasaki mengaku kalau dia ada urusan bisnis di Tokyo. Melihat Shinichi yang panik dan ada beberapa petugas keamanan yang mengejar, Nagasaki langsung paham. Ia pun menyeret Shinichi ke arah taksi dan meminta si sopir untuk segera membawa mereka pergi.

Nagasaki membawa Shinichi ke sebuah hotel. Di ruangan, ia kemudian memberikan minum pada Shinichi. Ia sendiri juga mengambil minuman dan segera menenggak isinya.

Alih-alih bertanya soal apa yang terjadi, yang dikatakan oleh Nagasaki justru masa kuliahnya bersama Shinichi dulu. Ia membahas soal kari yang mereka buat dan kemudian dimakan bersama dengan teman-teman yang lain. Saat itu mereka begitu gembira dan lega, tertawa tanpa beban sama sekali.

“Meski itu Cuma kari biasa yang kita makan, tapi aku tidak akan pernah lupa hari menyenangkan itu. Saat itu aku benar-benar menyukai Shinichi,” Nagasaki bahkan mengucapkan lagi kata-kata motivasi yang pernah dikatakan Shinichi soal bertahan hidup dan tidak menyerah.

Shinichi Cuma bisa terdiam heran mendengar ucapan Nagasaki yang belum juga berhenti. Ia tidak mengatakan apapun saat itu.

Itsuki menunggu dan kemudian mengekor Tajima-san yang baru selesai rapat, “Apa benar Todo-san yang menggelapkan uang penelitian?”

Tajima-san tampak tidak terlalu suka ditanyai seperti itu, “Jangan tanyakan hal seperti itu di sini.”

“Kalau memang benar, memangnya dia gunakan untuk apa?” Itsuki masih belum menyerah. “Bukankah 200 juta yen terlalu banyak untuknya?”

“Aku tidak tahu. Aku Cuma seseorang yang terhubung dengan perusahaan, jadi kepalaku sekarang kosong!” bentak Tajima-san.

Setelah bicara soal masa lalu kuliah mereka, sekarang Shinichi dan Nagasaki pun mulai bicara soal yang terjadi pada Shinichi.

“Aku tidak tahu siapa yang punya dendam padaku atau semacam itu.”

“Kalau begitu, apa ada seseorang yang ingin memanfaatkan kesempatan dan mencari keuntungan darimu? Bukankah kalau kau menghilang, maka hak paten Miss Erase akan jatuh pada perusahaan?” Nagasaki menebak-nebak.

“Tapi aku tidak peduli hal seperti itu.”

“Perusahaan punya semua data pribadimu. Bukankah mungkin kalau insiden ini adalah konspirasi perusahaan. Ada seseorang di perusahaan yang kau percaya?”

Shinichi berpikir, “Mungkin Tajima-san? Dia atasan langsungku. Dia adalah orang yang jujur. Sepertinya aku bisa memercayainya.”

Shinichi kemudian pamit akan pergi. Tapi Nagasaki menahannya, dan memberikan sejumlah uang untuk Shinichi.

“Terimakasih, kau benar-benar membantu.”

“Kalau begitu, lain kali ayo kencan,” pinta Nagasaki. Tapi melihat wajah kaget dan heran Shinichi, Nagasaki buru-buru meralat kalimatnya dan mengatakan itu Cuma bercanda.

Osanai menemui atasannya, dan mereka bicara serius.

“Kalau kau ingin sukses dalam hidup, kau tidak punya pilihan lain selain menunggu perubahan arah angin,” ujar sang bos.

“Itu Cuma menunggu kan? Aku sedikit tidak sabar, tapi aku punya ide,” senyum di wajah Osanai berubah misterius.

Osanai keluar dari ruangan atasannya dan bicara lewat alat perekam kecil di balik jasnya. Tapi telepon yang masuk mengalihkan perhatiannya, dari temannya Saito.

“Aku lihat di papan pengumuman. Aku menemukan hal menyangkut investigasi Todo. Ternyata dia menggelapkan uang perusahaan sebanyak 200 juta yen. Apa itu mungkin?” tanya Saito.

Tapi ekpresi wajah Osanai tidak berubah kaget sama sekali, “Tentu tidak mungkin kan?”

“Bukankah kau kaget?” Saito heran dengan respon temannya satu ini.

“Aku kaget. Aku benar-benar terkejut.” Tapi senyum kecil justru terkembang di wajah Osanai.

Shinichi bertemu dengan Tajima-san di taman. Tajima-san mengatakan soal kondisi orang HRD yang tadi sempat dilukai oleh Shinichi. Dia kini baik-baik saja.

“Polisi ikut bertindak. Tapi aku meyakinkan mereka untuk berhenti.”

“Maaf aku sudah menyusahkan,” sesal Shinichi.

“Oh dan ada lagi soal penggelapan. Investigasi memastikan itu kau,” ujar Tajima-san pula

Shinichi meminta bantuan Tajima-san untuk melakukan investigasi untuknya. Shinichi masih curiga, kalau semua ini perbuatan orang dalam hingga ada bukti yang jelas. Dan lagi ada yang menyebarkan berita penggelapan uang itu juga di internet, padahal harusnya belum banyak yang tahu.

Tajima-San juga memastikan kalau catatan log pemakaian Miss Erase bersih, tidak ada jejak sama sekali. Karena pasti ada yang sudah menghapus catatan log itu.

“Ada cara untuk memastikan itu. Sebenarnya Miss Erase punya pintu belakang. Ada cara untuk log in dari sana,” ujar Shinichi. Shinichi mencoba menjelaskan kalau ada yang menghapus log catatan penggunaan Miss Erase, maka itu akan ada datanya pada log tersembunyi.” Shinichi berniat untuk datang sendiri ke kantor.

Tapi Tajima-san melarangnya, karena akan berbahaya. Tajima-san minta diajari caranya dan berjanji akan mengeceknya sendiri.

Hari sudah malam saat Tajima-san masih berada di mejanya, memeriksa berkas-berkas. Satu per satu staf lab pamit pulang lebih dulu. Tinggal Itsuki yang masih berada di sana, belum menyelesaikan pekerjaannya. Padahal Tajima-san punya proyek, melakukan intruksi Shinichi untuk memeriksa data Miss Erase.

Tajima-san tidak punya pilihan selain menunggu hingga Itsuki pulang lebih dulu nantinya.

Makiko-san tengah asyik memandangi foto lama. Saat itu ia bersama Shinichi kecil tengah melakukan lari estafet dalam festival olahraga sekolah. Meski nyaris kalah, ternyata Shinichi bisa kembali mengejar ketertinggalannya.

Yayoi-san, perawat Makiko-san juga memuji foto itu, “Shinichi-san tidak hanya rajin, tapi punya reflek yang baik.”

“Aku merasa lebih baik saat melihat foto ini. Itulah kenapa saat sedih, aku melihat foto ini,” cerita Makiko-san.

“Apa ada yang membuat Anda kesal?” tanya Yayoi-san.

“Tidak.” Makiko-san lalu membuat kursi rodanya mengarah keluar jendela, “Tapi aku merasa akan ada yang terjadi,” ujarnya lirih.

“Silahkan. Ini tidak mengandung alkohol,” ujar si bartender, Kusaka saat Shinichi menunggu di bar king seperti biasa. “Kau tidak berniat minum malam ini kan?”

“Sangat peka,” puji Shinichi. “Aku meminta kenalan untuk menghubungiku lewat bar ini. Tidak masalah kan?”

Saat itu ada seorang pelanggan lain yang datang. Seorang pria tua yang rambutnya nyaris seluruhnya memutih.

“Jadi, ada yang terjadi?” Kusaka penasaran.

“Benar. Aku tidak curiga pada siapapun sampai kemarin. Tapi sepertinya sekarang aku punya musuh. Aku takut,” cerita Shinichi.

“DI saaat seperti ini, rumah yang terbaik. Tidak peduli apa yang terjadi, orang tua tidak akan mengkhianatimu. Terutama ibu,” ujar Kusaka. “Pulanglah!”

Shinichi tersenyum mendengar saran dari Kusaka ini, “Ibuku di tokyo, aku makan malam dengannya beberapa hari yang lalu.”

“Aku iri. Itu benar-benar luar biasa.”

“Benarkah? Bagaimana denganmu?” tanya Shinichi kemudian.

Kusaka berpikir sebentar, “Aku tidak tahu orang tuaku.”

Shinichi menyesal sudah mengajukan pertanyaan sensitif. Tapi Kusaka mengatakan tidak masalah. Ia memilih mendengarkan cerita pelanggan bar-nya. Kusakan kemudian bertanya seperti apa ibu Shinichi.

Shinichi berhenti sebentar, berpikir, “Ibuku dulu perawat. Dia adalah perawat kepala. Rasa tanggungjawabnya, kekuatan dan kerja kerasnya lebih dari siapapun. Dia selalu bekerja keras, bahkan saat pagi natal, aku selalu sendirian.”

Shinichi kecil terbangun dan menemukan kaos kaki natal di meja kosong. Lalu ada video rekaman dari ibunya yang menyala di televisi. Ibunya Shinichi, Makiko-san mengucapkan natal dan minta maaf karena masih terus bekerja. Makiko-san mengaku sudah mempersiapkan hadiah dan meminta Shinichi kecil untuk mencarinya sendiri di rumah.

“Meski sibuk, dia selalu memastikan aku tidak kesepian. Dia ibu yang penyayang. Bahkan kukatakan, dia ibu terbaik.

“Kalimat yang keren. Itu kata lain yang menjelaskan kalau seorang ibu tidak akan mengkhianati putranya,” komentar Kusaka.

“Orang lahir sendirian dan mati sendiri. Tidak lebih dan tidak kurang,” komentar tamu pria yang tadi datang.

“Baba-san, kau mabuk kan?” tegur Kusaka.

Telepon bar pun berbunyi. Kusaka lalu mengangkatnya. Rupanya benar yang dikatakan Shinichi, akan ada orang menelepon dan mencarinya di bar itu.

Telepon itu dari Tajima-san , “Maaf terlambat memberi kabar. Tadi masih ada Itsuki yang kerja lembur. Intruksi yang kau berikan padaku tadi, ternyata tidak bekerja,” lapor Tajima-san.

“Apa?” Shinichi heran.

“Itu tidak bisa mengases data log. Sesuatu terjadi, program yang kugunakan mendadak mulai aktif. Aku menyerah. Memang lebih baik kau yang melakukannya sejak awal. Aku benar-benar tidak berguna,” sesal Tajima-san.

“Ada orang lain di lab?”

“Tidak, tinggal aku saja,” ujar Tajima-san.

“OK, aku akan segera ke sana.” Shinichi lalu beranjak pergi. Ia bahkan tidak sempat mencicipi jus jeruk yang tadi disajikan oleh Kusaka.

Kusaka memandangi gelas yang tadi disajikannya untuk Shinichi. Gelas itu tidak tersentuh sama sekali, begitu juga isinya. Kusaka lalu ingat pertemuannya dengan Osanai beberapa malam lalu. Osanai rupanya minta tolong pada Kusaka.

Tapi Kusaka tidak mau kalau semua sia-sia. Dengan sapu tangan, ia mengambil gelas bekas minum Shinichi lalu memasukkannya ke dalam plastik transparan.

Seorang wanita dengan dandanan glamor baru saja keluar dari sebuah butik. Di tangan kanan dan kirinya ada banyak belanjaan yang dibawa.

“Makoto Miyauchi-San, aku pengacara Saijo. Kau yang melapor soal kasus perampokkan dengan tersangka Todo Shinichi kan? Aku ingin bicara lebih banyak denganmu.”

“Tidak ada yang perlu dikatakan lagi,” ujar Makoto sok. Ia pun berniat pergi sampai ucapan pengacara Saijo menghentikannya.

“Lebih baik kau bicara jujur padaku. Aku tahu rahasiamu dengan si Todo Shinichi palsu ini. Apa kau tahu hukuman untuk tuduhan palsu? Yang terburuk, kau akan masuk penjara,” ancam pengacara Saijo.

Hingga hari ini, ada beberapa orang di sekitarku yang tiba-tiba menghilang. Inilah awal dari akhir.

Kembali ke adegan awal, Shinichi berada di atas sebuah gedung. Saat itu orang yang mengancamnya tengah membidikkan senjata ke tubuh Shinichi. Si pengancam memberikan Shinichi dua pilihan, ditembak atau terjun dari atap. Tapi Shinichi tidak mau menyerah. Ia mengajukan kesempata ketiga.

“Seperti perkiraan, kau memang cerdas. Baiklah, kita ubah rencana sedikit. Pilihan ketiga adalah … pengasingan. Seperti kukatakan. Orang kesakitan karena tidak puas dan tidak nyaman. Itulah kenapa aku ingin membuat masyarakat yang sebaliknya.”

Shinichi makin kesal diperlakukan seperti ini. Ia minta untuk berhenti saja. Shinichi tidak sepakat dengan ide si pengancam, karena itu akan mustahil dilakukan. Tapi si pengancam tidak peduli.

“Kalau kau dan aku bergabung, tangan kita bisa membuat dunia dalam pengasingan.”

Sementara itu dari ruangan lain sebuah gedung, Osanai-san melihat ke arah luar jendela. Ia pun mematikan alat perekam yang dipasangnya. “Saatnya pertunjukkan!”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa lagi di SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta episode 02 part 1

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Kyaaaaa …. selesai juga akhrirnya.

Iya, itu terakhir ada gambarnya Osanai. Tapi … ini baru saja mulai. APakah dia pelaku sebenarnya? Dan untuk alasan apa di menjebak Shinichi? APakah Makiko-san, ibu Shinichi juga tahu sesuatu?

Tidak ada yang kebetulan!

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

8 comments

  1. Wah cerita sinici… menarik na lnjut

    Oia selamat hari guru moga na jd insfirasi ubtuk smua orng..terimkasih tlh mngjrkn arti sebuah oershbtn yg indah…

  2. Wi dah baca tp bagus jg wi pun ikuy tengok j drama title x mistery after diner.. keren tp yg mainnya tak da yg wi knl
    Hira blm ada kabar lagi ke
    #peluk nana z dah

    • iya, after diner misteri it jg bagus (padahal blom nonton)
      yg maen keiko kitagawa, cowoknya lupa, hehehe

      iya nih, hira belum ada kabar lagi #duuuh
      peluk Wi balik ^_^

  3. #peluk nana..
    Apa kabar y hira d sna moga dia sehat slalu nana juga rindu baca sinopsis. Jd berkunjung ke sni
    Mei _ chan pun tak ada kabar ya …
    Lanjut dan semangt

  4. Already love this dorama.

    Makasih Na-chan, semangat nge recaps nya yaaa…. *muachmuach

Leave a Reply

Scroll To Top