Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 09 part 1

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 09 part 1

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 09 part 1. Tidak tahan dengan sikap dingin Reiji, para karyawan kemudian membuat pesta perpisahan dengan Misaki, supaya Reiji dan Misaki bisa bertemu. Tapi sedikit salah paham di antara mereka justru menyulut pertengkaran yang lain. Misaki marah besar dan memilih pergi. Begitupula Reiji yang makin frustasi.

Tapi kedatangan ayahnya, sedikit melunakkan hati Reiji. Usaha ayah Reiji, Kozo-san untuk memperbaiki hubungan mereka perlahan memperlihatkan hasil. Reiji jadi lebih tenang dan mau membuka diri serta menerima kekurangan orang lain. Tapi, bagaimana nasib hubungan Reiji dan Misaki selanjutnya?

Dengan tekat ingin berbaikan, Reiji mendatangi Stay Gold Hotel tempat Misaki bekerja. Sepulang kerja pun, Reiji masih terus mengekor Misaki. Kesal karena terus saja diikuti, Misaki meminta Reiji pulang dan berjanji akan mengirim email nanti. Reiji setuju dengan syarat ini.

Sampai di apartemennya, Reiji termenung menunggu pesan dari Misaki. Tapi ponselnya tetap saja diam. Bahkan setelah Reiji mandi, ganti baju dan bersiap tidur, tetap tidak ada pesan yang masuk. Reiji frustasi sendiri menunggu pesan dari Misaki yang tidak kunjung datang.

Sekt.Maiko meletakkan minuman untuk Reiji. Mendapat respon ucapan ‘terimakasih’ dari Reiji, sekt.Maiko heran. Ia bertanya apa ada hal baik. Tapi Reiji mengatakan sebaliknya, justru yang terburuk. Dan cerita soal pesan yang dijanjikan Misaki padanya pun mengalir. Sudah 12 jam, masih tidak ada tanda-tanda pesan dari Misaki. Meski begitu, Reiji tetap santai dan tersenyum (terpaksa).

“Dia mungkin saja kelalahan, hingga tidak tahu kalau ada yang menunggu pesannya. Sebenarnya, Anda marah kan?” sekt.Maiko benar-benar paham situasi bos-nya satu ini.

“Tentu saja, aku tidak marah. Aku Cuma khawatir,” elak Reiji. Ponselnya bebunyi, ada pesan masuk dari Misaki. Tadinya Reiji sudah senang Misaki mengirim pesan. Tapi saat membaca pesan itu, raut wajah Reiji berubah kesal. ‘Sebaiknya kita tidak bertemu lagi’, begitulah isi pesan itu. Kemarahan Reiji yang tertahan sejak semalam pun akhirnya tumpah. “Dia bilang tidak mau bertemu denganku?! Dia masih menjawab meski sibuk, harusnya aku senang kan?” Reiji terus saja memojokkan Misaki.

Misaki masih mempersiapkan makanan, sementara Mahiro sudah menunggu di meja makan, “Apa aku tidak toleran ya? Apa salah, kalau aku masih tidak memaafkan presdir?”

Mahiro heran, “Apa? Tentu saja, kau tidak salah. Itu wajar, kalau kekasihmu mengatakan hal buru, dan kau putus darinya. Masih untung kau mau menghubunginya.”

“Itu karena aku janji untuk mengiriminya email.”

“Tapi tetap saja, itu salahnya kan?” Mahiro berkeras. “Dia tidak berani untuk menciummu sendiri. Dan saat kau mulai, dia menghindar kan? Dia sudah menyakiti harga dirimu sebagai wanita.”

“Saat itu aku juga tersulut kemarahan sesaat.”

“Tapi tetap saja, dia juga sudah bersikap keterlaluan karena memecatmu saat sedang marah seperti itu.”

Hal ini justru membuat Misaki berpikir lagi.

Reiji masih saja memandangi pesan dari Misaki tadi pagi. Setelah malam, ia pun baru mengirimkan jawabannya. Baik. Aku penuhi syarat itu. Sekarang, kita fokus pada pekerjaan masing-masing. Isanami Suyao.

Di apartemennya, Misaki juga baru saja membuka pesan balasan dari Reiji. Terimakasih sudah mengerti. Selamat malam.

Sementara itu, Reiji justru memandangi lukisan pasangan yang pernah dibuatnya, disobek dan kini ditempelkan lagi di dinding. Bagian tengah lukisan itu ternyata tidak ada. “Isanami Shiho. Cepat kembali ya?” gumam Reiji.

Presdir WAda melakukan pekerjaannya seperti biasa. Memeriksa dokuman dan memberikan tanda tangan. Meski tubuhnya ada di kantor, tapi tidak dengan pikiran presdir Wada. Ada hal yang tengah membuatnya resah.

Aku ingin tahu apa sebenarnya arti kebahagiaan. Bagi sebagian orang, berarti memenuhi beban kerja. Dan bagi yang lain, adalah cinta untuk partner ideal. Orang yang mencari kebahagiaan, terus berusaha tiap hari … sekarang, ada seseorang yang tidak sadar akan kebahagiaannya, dan bahkan mencari kebahagiaan yang lebih besar. Aku membuat keputusan besar, demi kebahagiaanku. Dan keputusan ini pasti akan membuat Samejima Reiji bahagia.

Presdir Wada berjalan menuruti tangga, keluar dari kantornya.

Ieyasu tengah mengobrol dengan salah satu rekan kerjanya. Mereka membahas tentang perubahan seseorang, yang mungkin saja karena perubahan lingkungan kerja. Saat itu Reiji datang, penasaran dengan obrolan kedua oang ini.

“Aku bicara soal bertemu Misaki-chan tiap pagi,” ujar Ieyasu.

“Di mana?”

“Aku naik sepeda saat berangkat kerja kan? Itu … “

“Bukan benar-benar bertemu kan?” sindir Reiji.

“Benar. Kami memang tidak benar-benar bertemu. Tetapi hanya saling melihat dan mengangguk satu sama lain.

Dan ini pun memberikan ide pada Reiji. Ia akan melakukan sesuatu.

Reiji kembali ke ruangannya. Di sana ada sekt.Maiko dan Katsunori-san yang menunggu. “Apa kau tahu jam berapa Ieyasu berangkat ke kantor?” tanya Reiji pada sekt.Maiko.

Sekt.Maiko berpikir sebentar, “Karena dia yang paling tepat waktu, sekitar 5 menit sebelum jam 9.”

“Berapa menit untuk naik dari parkir sepeda sampai lantai ini?”

“Kalau lewat lift, sekitar lima menit,” kali ini Katsunori-san yang menjawab.

“Jadi, kalau perkiraanku tidak salah, Ieyasu naik sepeda dan lewat di depan Stay Gold Hotel sekitar 8.45. Mulai besok, aku akan berangkat naik sepeda juga. Ieyasu melihat Misa-san tiap pagi.”

“Presdir, bukankah dia tidak mau bertemu Anda lagi?” tanya sekt.Maiko hati-hati.

“Kita tidak bertemu. Kita hanya berpapasan,” elak Reiji.

Sekt.Maiko mengingatkan lagi, kalau Reiji pura-pura mencari cara untuk bertemu Misaki, justru nanti Misaki yang makin benci pada Reiji. Tapi Reiji tidak peduli itu. Ia mencari alasan lain, kalau ingin jaga kesehatan dengan bersepeda. Reiji tidak mau diprotes lagi.

Katsunori-san pun makan siang bersama salah satu karyawan. Dan cerita soal Reiji berencana naik sepeda agar bisa berpapasan dengan Misaki pun mengalir dari bibirnya. Padahal sebenarnya Reiji ingin benar-benar bertemu dan bicara dengannya. Tapi situasinya sulit, jangankan bertemu, bicara lewat telepon saja tidak bisa dilakukan.

“Bukankah cerita ini membuatmu terharu? Seorang presdir perusahaan besar berusia 34 tahun bangun pagi, naik sepeda agar bisa bertemu orang yang dia sukai. Cerita yang sangat menyentuh.”

Pagi berikutnya

Katsunori-san sudah bersiap di depan apartemen Reiji. Ia mengelap dan memeriksa sekali lagi sepeda yang sudah dipersiapkan. Reiji keluar dari apartemen dan menyerahkan tasnya pada Katsunori-san. Reiji pun naik ke atas sepeda dan tampak agak kesulitan karena sadel sepeda yang terlalu tinggi. Tapi saat Katsunori-san menawari agar sadelnya diatur, Reiji menolak. (sumpe adegan ini lucu dan bikin Kelana ngakak deh. Ya secara ya, bang Ohno kan emang nggak terlalu tinggi. Tapi jadinya lucu gitu deh. Gomene, Bang). Dan perjalanan Reiji menuju kantor dengan sepeda pun dimulai pagi itu.

Di persimpangan jalan, Reiji bertemu dengan Ieyasu. Berbeda dengan sepeda Reiji yang tampak biasa, Ieyasu menggunakan sepeda gunung lengkap dengan helm dan perlengkapan lainnya. Ieyasu pun tampak keren. Disapa oleh Ieyasu, Reiji berusaha bersikap se-cool mungkin. Tapi saat waktu menyeberang, Ieyasu sudah berlalu lebih dulu. Sementara Reiji kesulitan mengayuh pedal sepedanya.

Reiji sampai di kantor dengan peluh berleleran. Ternyata Ieyasu sudah sampai lebih dulu, dan tadi bertemu dengan Misaki. Reiji? Dia tidak dapat apapun. Hari pertama gagal.

Pagi berikutnya …

Katsunori-san sudah mempersiapkan sepeda baru untuk Reiji. Kali ini dengan model dan perlengkapan seperti milik Ieyasu. Tapi seperti kemarin, Reiji masih kesulitan menaikinya, karena kakinya tidak cukup panjang. (hehehe).

Berbeda dengan kemarin, Reiji tertinggal, kali ini Reiji lebih dulu tiba di kantor. Menyusul kemudian Ieyasu. Reiji datang lebih awal, tapi ia kembali tidak bertemu dengan Misaki. Berbeda dengan Ieyasu yang berangkat tepat waktu, dan tetap bertemu Misaki seperti hari-hari sebelumnya. Ieyasu bahkan mengaku sempat melakukan ‘high five’ dengan Misaki pagi itu. Tentu saja ini membuat Reiji makin kesal.

Reiji sudah kembali ke ruangannya. Sekt.Maiko mengusulkan agar Reiji datang bersama Ieyasu, dengan begitu ia bisa bertemu Misaki. Tapi Reiji menolak ide ini.

“Memangnya apa arti berpapasan?” tanya sekt.Maiko kemudian.

Dan tiba-tiba Reiji justru punya ide lain. Dia berpikir kalau Misaki adalah ‘giant-squid’—cumi-cumi raksasa, salah satu hewan laut yang sangat sulit ditemukan. Tapi sekt.Maiko mengatakan kalau cumi-cumi ini sudah pernah diambil gambarnya oleh NHK.

“Tentu saja. Itu adalah keajaiban karena tidak menyerah selama 10 tahun dan sabar menunggu. Yang harus kupelajari dari hal itu … adalah tidak terpacu pada satu strategi saja. Berangkat kerja dengan sepeda tidak efisien. Aku harus merubah strategiku!” tegas Reiji.

Apa yang dilakukan Reiji?

Ternyata dia mencari ruangan yang letaknya dekat dan dari sana, dia bisa selalu mengawasi Misaki yang bekerja di Stay Gold Hotel, seberang. Tapi sekt.Maiko tidak setuju dengan ide ini. Ia berpikir kalau ide Reiji kali ini benar-benar kacau.

“Aku tidak bilang mau pindah kantor pusat. Kau Cuma ingin menyewa ruangan untuk bekerja,” elak Reiji. Ia masih menggunakan alatnya untuk memantai gedung sebelah, tempat Misaki bekerja.

Tapi dasar Reiji. Ia tiba-tiba saja berubah pikiran. Rencana menyewa ruangan itu pun batal. Dan Reiji justru pergi begitu saja.

Ternyata Reiji menemukan semacam panggung promosi di dekat Stay Gold Hotel. Ia pun menemui orang di balik kostum ayam yang tengah tampil itu. Tapi orang di balik kostum ini menolak tawaran Reiji, dan mengatakan kalau ini bukan pekerjaan amatir.

Kali ini sekt.Maiko turun tangan juga untuk meyakinkan, “Karena presdir biasa berlatih olahraga, tidak masalah soal fisik. Dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar dan turis, kami jadi bisa memikirkan ulang layanan hotel kami.”

“Jadi, interaksi dengan orang-orang adalah point penting dalam bisnis layanan jasa,” Reiji pun menambahkan.

Si pria di balik kostum akhirnya setuju. Tapi ia menyebutkan kalau tidak ada gaji bagi orang magang. Reiji mengiyakan, dan mengatakan kalau ia yang justru akan membayar, seperti rental mobil. Hanya kali ini yang disewa adalah kostum.

Si pria di balik kostum pun kemudian meminta Reiji mencoba. Ia pun mengajari Reiji cara dan gerakan kostum itu. Dari geser ke kanan-kiri hingga maju-belakang dan berbagai pose lain. Reiji mengikutinya dengan semangat. Sementara sekt.Maiko dan Katsunori-san hanya duduk dan memperhatikan sang bos. Pemilik kostum marah karena Reiji tidak tersenyum dan menyuruhnya senyum. Reiji pun menurut dan menarik bibirnya, memaksakan senyum lebar.

Reiji pulang ke apartemennya, dan masih saja terus mempraktekkan gerakan yang dipelajarinya dari pemilik kostum tadi.

“Presdir, berjanjilah satu hal padaku,” pinta sekt.Maiko. “Jangan biarkan ini merusak inti bisnis kita.”

“Tentu saja!”

“Meski kau bertemu dengannya, jangan bicara padanya!”

“Kau tidak perlu mengingatkanku. Aku hanya ingin melihat cumi-cumi raksasa. Aku tidak berpikir akan menangkapnya,” ujar Reiji.

“Anda hanya akan berpapasan dan jangan lupakan satu hal lagi … “

Reiji protes karena terus saja diatur oleh sekt.Maiko. Ia menggerutu dan mengatakan akan menuruti semua permintaan sekretarisnya itu.

Hari berikutnya …

Reiji benar-benar melakukannya, pertunjukkan di balik kostum. Si pemilik kostum mengingatkan sekali lagi pada Reiji agar serius melakukannya.

Reiji pun naik panggung, sudah berada di dalam kostum si ayam, Swingy. Awalnya dia bergerak dengan ragu, tapi pelan-pelan, gerakan Reiji mulai luwes. Ia melakukan semua gerakan yang diajarkan si pemilik kostum. Dan ternyata anak-anak yang menonton, melihatnya dengan senang. Anak-anak itu tampak gembira dan tertawa oleh penampilan Reiji.

Penampilan Swingy sudah selesai, dan kini kewajiban Reiji untuk membagikan balon pada anak-anak. Tapi perhatian Reiji teralihkan dan bahkan balonnya pun dilepas saat ia melihat Misaki mendekat bersama temannya. Reiji tidak mempedulikan balon yang terbang, pun ucapan si pemilik kostum yang memanggilnya. Reiji turun panggung dan menuju Misaki.

Saat itu Misaki tersenyum melihat Swingy. Ia dan temannya hanya heran, saat si pemilik kostum menarik Swingy masuk ke dalam, padahal acara belum tuntas.

“Siapa yang mengajarimu melepas balon-balon itu? Balon tidak gratis!” protes si pemilik kostum. Reiji pun hanya bisa berdiri berlutut dan minta maaf karena sudah lalai.

Pemilik kostum mengultimatum Reiji, kalau lain kali bersikap seperti itu lagi, maka ia akan dipecat.

Malam itu, Katsunori-san membelikan makan malam untuk Reiji yang masih berada di kantor. Reiji masih saja memikirkan pertemuan tadi dengan Misaki. Reiji pun menyuruh Katsunori-san untuk pulang saja duluan.

“Mulai hari ini aku mau pulang kantor sambil berjalan.”

“Itu akan melelahkan. Apa tidak masalah?” Katsunori-san khawatir.

“Setelah berhenti naik sepeda untuk berlatih, aku ketinggalan banyak latihan,” Reiji berkeras. Bahkan saat Katsunori-san mengatakan akan butuh banyak waktu jika Reiji pulang berjalan, Reiji tetap tidak mengubah pendiriannya.

Hari yang lain, Misaki pulang lebih awal. Di perjalanan pulang, ia dan rekannya kembali bertemu si Swingy, yang di dalamnya adalah Reiji. Misaki pun minta foto. Dan teman Misaki yang mengambil gambarnya. Misaki tanpa ragu pun memeluk Swingy ini, membuat Reiji yang ada di dalamnya salah tingkah.

Bisa berada begitu dekat dengan Misaki, Reiji pun kehilangan kontrol. Setelah Misaki berbalik pergi, Reiji pun melepas kepala kostumnya. Ia hanya bisa memandangi Misaki tanpa satu katapun terucap. Ada percik kerinduan dalam di mata Reiji. Tentu saja si pemilik kostum marah besar. Dan hari itu, Reiji benar-benar dipecat.

Berita soal Misaki yang foto sambil memeluk Swingy ternyata masuk koran. Tentang maskot lokal daerah yang melakukan pertunjukkan tunggal. (nggak ngerti gimana ceritanya, tapi kok keren amat ya). Bukannya senang, Reiji justru tampak sedih. Ia bahkan duduk memeluk lututnya di lantai.

“Aku bisa berfoto dengan cumi-cumi raksasa. Itu sakit. Sakit melihatnya tersenyum setelah sekian lama. Hei, Maiko. Bisakah aku membuatnya tersenyum seperti itu lagi? Apakah hari seperti itu akan bisa datang lagi, saat dia tersenyum saat melihatku tanpa kostum?”

“Semua akan baik-baik saja,” hibur sekt.Maiko.

“Itu bukan pelukan yang kuharapkan dari dia!”

Tapi obrolan Reiji terganggu oleh kedatangan Ieyasu yang seenaknya. Reiji sempat marah. Tapi kemarahan Reiji berubah kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ieyasu.

Reiji menyusul keluar ruangan. Di sana semua karyawan tengah melihat ke arah televisi. Ada sebuah berita eksklusif di sana, tentang presdir Wada.

Presdir Wada mengatakannya pada wartawan, meski tidak ada masalah manajemen, dan dia tidak bosan jadi presdir, dia akan benar-benar mundur dari industri perhotelan karena alasan pribadi. Orang yang akan menggantikan posisinya adalah adiknya, Hidehiko, yang selama ini jadi direktur regional New York. Dia akan mengambil alih dan tetap melanjutkan peraturan yang telah disusun oleh presdir Wada.

Reiji dibuat kaget dengan berita ini. Semuanya serba tiba-tiba, tanpa tanda-tanda sama sekali. Selain itu, ternyata ketua tim Goro-san-lah yang tampak paling syok atas berita ini.

Reiji pun menyusul Wada di rumah kayu-nya yang ada di dalam hutan. Saat itu Wada-san tengah membelah kayu-kayu menjadi batang yang lebih kecil. Reiji pun tidak mengenakan jas seperti biasa, tapi dia memilih pakaian kasual.

“Wada, apa-apaan ini maksudnya?!” cecar Reiji kesal.

“Bukankah kau datang ke sini untuk berterimakasih padaku?” tanya Wada-san yang kemudian berhenti dari kegiatannya membelah kayu. “Sekarang aku sudah keluar, jadi kau bisa mencapai mimpimu dengan mudah.”

Tapi Reiji tidak menganggap itu keren, “Tidak ada gunanya kalau aku mendapatkan nomer satu tanpa mengambilnya darimu!”

“Kenapa kau marah padaku?”

“Kau khawatir kalah dariku, dan melarikan diri sebagai pengecut!”

“Jadi, kau akan senang kalau kau mengambil posisi nomer 1 dariku?” tantang Wada-san.

“Tentu saja!”

Wada-san tersenyum, “Kebahagiaan itu Cuma fantasi. Selama lima tahun terakhir, kupikir aku bahagia. Saat aku mendapatkan posisi nomer satu dunia. Tapi itu Cuma sehari saja. Saat mencapai posisi puncak, pertarunganku baru dimulai. Apa yang akan kulakukan kalau tahun depan tidak jadi yang terbaik lagi? Atau apa yang harus kulakukan untuk mempertahankan posisi nomer satu ini? Kau pikir kebahagiaan seperti itu, akan ada setiap hari?” tanya Wada-san, sarkas.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 09 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Halo semua. Sebelumnya Na mohon maaf ya atas keterlambatan posting episode ini. Pasti banyak yang heran, karena episode ini pendek sekali, berbeda dengan biasanya. Itu semua karena belum selesai Na kerjakan. Sekali lagi, mohon maaf ya. Tapi hutang sudah Na bayar kok, sekarang sudah selesai. Selamat melanjutkan membaca.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top