Home / Daremo Inakunatta / SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta 01 part 1

SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta 01 part 1

SINOPSIS dorama Soshite, Daremo Inakunatta 01 part 1. Haloooo … sinopsis drama baru nih. Semoga pada suka ya. Kali ini pilihan Na kembali ke genre suspense seperti biasa. Dan aktor utamanya, salah satu favorit Na juga, Fujiwara Tatsuya. Happy reading ^_^

Gagang pintu itu didorong, dan di baliknya ada sebuah jalan. Cahaya terang menuntunnya naik dan akhirnya tiba di atas sebuah gedung. Di sana, juga sudah ada speaker dengan nomer 7.

“Kau punya dua pilihan, ditembak di sana atau melompat.”

“Tunjukkan dirimu!”

Suara tembakan terdengar. “Maju ke depan! Berdiri di tepi! Apa kau akan ditembak atau melompat, pasti salah satunya.”

“Tidak peduli yang manapun, aku tetap akan jadi mayat!”

“Tidak masalah. Kau tidak legal ada sebagai manusia. Jika mayat tanpa identitas ditemukan, pencarian polisi akan berhenti.”

“Jangan main-main denganku, aku ada!”

“Tidak, kau tidak ada.”

“Aku ada! Aku hidup di sini, sekarang.”

“Kalau begitu, siapa namamu? Berapa nomer pengenalmu?”

Benar, saat itu aku tidak punya nama. Aku terlahir sebagai Todo Shinichi. Aku tumbuh dan hidup sebagai Todo Shinichi. Aku selalu Todo Shinichi. Hingga hari itu.

10 hari yang lalu.

Shinichi tengah duduk di sebuah restoran mewah bersama seorang wanita, ibunya, Todo Makiko-san. Shinichi tengah menceritakan soal rencanya pernikahannya pada sang ibu. Mendengar beritu itu, sang ibu tidak terlalu terkejut. Ia berpikir, saat diajak ke restoran mewah pasti ada dua alasan. Pertama karena sakit yang parah atau kedua, berita gembira.

“Kau harusnya ganti jam itu,” ujar Makiko-san pada putranya.

Shinichi tersenyum memandangi jam di tangannya, “Aku ingin tetap memakainya, karena ini hadiah darimu sebagai ucapan selamat setalah selesai kuliah.”

“Baiklah. Tapi paling tidak, belilah hal baru untukmu sendiri.”

Shinichi lalu pamit sebentar. Ia kemudian kembali sambil menggandeng seorang wanita berambut pendek, yang diperkenalkannya sebagai tunangannya, Kuramoto Sanae. Makiko-san tampak senang berkenalan dengan calon istri putranya itu.

“Kami juga punya berita lain,” ujar Shinichi.

Makiko-san agak terkejut, tapi kemudian sudah bisa menebaknya. Hal ini diiyakan oleh Shinichi dan Sanae. Saat ini Sanae sudah hamil.

“Saya minta maaf, karena melakukanya tidak sesuai urutan,” sesal Sanae.

“Tidak masalah. Karena kau orang yang dipilih oleh Shinichi, aku tidak khawatir. Sejak lama, Shinichi selalu disayangi oleh orang-orang di sekitarnya.”

Rupanya selama ini Makiko-san membesarkan Shinichi seorang diri, setelah suaminya meninggal. Itulah kenapa ia begitu sayang pada putranya itu.

Selesai makan malam, Shinichi menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Tapi ternyata kartu kreditnya tidak bisa digunakan sama sekali. Shinichi heran, karena ia baru saja menggunakannya kemarin. Tidak ingin memperpanjang masalah, Shinichi akhirnya memilih membayar secara kontan.

Sayangnya, Shinichi tidak tahu, kalau masalah besar sudah menantinya esok.

Shinichi bersama Sanae mengantar Makiko-san ke mobil. Di sana sudah menunggu perawatnya, Nishino Yayoi-san. Saat itu Makiko-san bertanya soal teman-teman Shinichi di Niigata. Shinichi memastikan akan mengundang mereka saat pernikahannya. Makiko-san tampak lega. Shinichi juga sempat bercerita soal pekerjaannya yang semakin sulit tetapi menarik. Makiko-san pun pamit pergi.

“Seperti yang kudengar, dia ibu yang sangat penyayang,” puji Sanae.

Shinichi senang mendengar calon istrinya itu bicara seperti itu. Apalagi dia juga sebentar lagi akan jadi seorang ibu. Sanae juga mengatakan kalau ia ingin bertemu teman-teman masa kuliah Shinichi saat di Niigata.

9 hari yang lalu

Shinichi berangkat kantor seperti para pekerja lainnya. Langkah-langkah panjang menyapa pagi mereka semua. Tidak ada yang istimewa atau mencurigakan. Semua kartu pas milik Shinichi bisa digunakan seperti biasa.

Di ruangannya, Shinichi memperkenalkan program baru yang belum lama ini ia kembangkan. Sebuah program yang bisa mengenali data, gambar dan video serta bisa menghapus semuanya yang beredar di internet, Miss Erase. Selama ini, informasi yang terlanjur beredar di internet, sangat sulit dibersihkan hingga sebersih-bersihnya. Tapi Shinichi mengklaim ini bisa dilakukan dengan program buatannya dan bahkan bisa mengganti datanya. Atasannya tampak tidak sabar dengan program baru ini dan meminta Shinichi memulai contohnya.

Shinichi pun meminta salah satu staf menuliskan kata kunci pencarian di internet, tentang seseorang, Imasakimura Yoshio. Tampak hasil pencarian menunjukkan data, gambar serta video dari orang yang dimaksud. Shinichi lalu mengaktifkan Miss Erase. Setelah diketikkan kata target dalam jendela Miss Erase, program itu akan mencari seluruh data terkait kata target. Kemudian saat muncul jendela ‘hapus’, Shinichi memilih ‘yes’. Beberapa saat dibutuhkan untuk menghapus seluruh data. Setelah semuanya bersih, Shinichi meminta rekannya yang lain mengetikkan kata target yang sama di mesin pencari. Jika tadi hasil pencarian menunjukkan banyak data orang ini, tapi setelah dijalankan Miss Erase, maka mesin pencari tidak menemukan data apapun dari orang ini. Benar-benar terhapus bersih.

Shinichi mengaku sudah mencoba program ini untuk sekitar 100.000 subyek. Ia juga mengatakan pemrograman ini dibuatnya saat bosan dan ternyata tiba-tiba mendapatkan ide baru. Sang atasan tampak sangat terkesan dengan kejeniusan Shinichi. Shinichi juga dipuji oleh staf yang lain, termasuk juniornya yang sangat mengagumi kemampuan Shinichi.

“Ini buka pekerjaanku saja. Tapi ini juga kerja tim,” aku Shinichi.

Tidak lama setelahnya ada yang datang dan mengatakan kalau Shinichi dicari oleh petinggi perusahaan. Rekan-rekannya tampak antusias dan mulai menebak. Mereka berpikir kalau Shinichi akan dapat bonus atau promosi karena prestasinya ini.

Shinichi pun datang ke sebuah ruangan. Di sana sudah ada lima orang petinggi perusahaan yang menunggunya. Shinichi memperkenalkan diri sebagai ‘Todo Shinichi’. Tapi ternyata orang-orang itu tidak percaya. Mereka meminta Shinichi membacakan nomer ID-nya. Meski bingung, Shinichi pun menurut saja.

“Nomer itu bukan milikmu,” komentar salah satu atasan itu. “Pemilik nomer itu ditangkap tiga hari yang lalu karena perampokan dan berada di dalam penjara.”

“Tunggu dulu. Saya tidak mengerti yang Anda katakan,” Shinichi bingung. “Apakah sistem mengalami kesalahan karena duplikasi data?

Tapi para petinggi itu tidak percaya. Mereka justru menuduh Shinichi melakukan penipuan identitas saat masuk perusahaan dulu.

“Itu bodoh!” protes Shinichi. “Aku Todo Shinichi!”

“Todo Shinichi ada di penjara. Siapa kau?!”

Shinichi baru kembali ke ruangannya saat di sana ada tim lain tengah mengangkut komputer dan data-data miliknya. Shinchi protes, tapi akhirnya tidak bisa berbuat apapun. Semua data penelitiannya ada di sana.

“Perusahaan tidak bisa membiarkan barang-barang perusahaan di tangan orang tanpa identitas. Sampai investigasi selesai, ID anda dan semuanya akan dibekukan. Sampai kami menghubungi Anda, silahkan tetap di rumah!”

“Orang tanpa identitas? Aku sudah bekerja di perusahaan 10 tahun!” protes Shinichi.

Tapi ketua tim-nya, Tajima Tatsuo-san memeringatkan dan berusaha menenangkan Shinichi. Tajima-san berjanji akan mencari tahu yang terjadi dan segera menghubungi Shinichi nanti. “Kau istirahat saja seperti rencana. Jangan khawatir soal proyekmu. Aku akan memastikan semuanya aman.”

Shinichi mengunjungi kantor kependudukan. Tapi pegawai wanita di sana memastikan kalau kartu pengenal milik Shinichi tidak terdeteksi. Tapi Shinichi berkeras agar si pegawai memanggilkan atasannya. Si pegawai ini setuju.

Dari kejauhan Shinichi terus memerhatikan. Mendapat laporan dari staf bawannya, si atasan justru menelepon dan melapor polisi dengan aduan pemalsuan identitas. Tahu yang terjadi, Shinichi pun memutuskan untuk pergi dari kantor kependudukan itu.

Seorang pria perlente tampak tengah bekerja di mejanya. Dia bekerja di kementerian komunikasi, Osanai Tamotsu. Setelah membaca beberapa data, Osanai pun berbicara pada mic yang tertempel di jasnya, semacam melakukan perekaman.

Tapi sebuah telepon mengalihkan perhatiannya. Dari seseorang yang dikenalnya.

Osanai berjalan sambil melihat jam di tangannya. Ia bertemu dengan Shinichi di sebuah taman. Rupanya Shinichi sudah sedikit menceritakan masalahnya pada Osanai.

“Tidak ada yang berubah sejak kuliah. Pertama, orang HRD dari perusahaanmu benar. Nomer ID-mu, bukan milikmu. Itu milik Todo Shinichi, seorang pria yang berbeda.”

“Itu pasti semacam bug,” komentar Shinichi.

“Tentu saja aku juga berpikir begitu. Itu mungkin terjadi, duplikasi data. Seseorang memiliki nomer ID-mu dan kau jadi ditolak oleh sistem. Tapi, ID-mu hilang. Itu yang aku tahu. Investigasi ini sudah mencapai batas yang bisa kulakukan. Tapi informasi pribadinya tidak ada di manapun. Nomer ID-mu, sertifikat warna negara ataupun data keluargamu. Bahkan data pajak dan data pribadi lainnya. Di pusat data pemerintah, kau tidak ada.”

Shinichi tidak habis pikir, “Osanai, becandaan ini sudah keterlaluan.”

“Menyesal sekali, ini bukan becanda. Dan pria bernama Todo Shinichi ini tertangkap, jadi data DNA-nya dan sidik jari sudah masuk sistem data. Todo Shinichi sudah masuk daftar hitam. Tentu saja fotonya. Apa kau punya pasport atau SIM?”

“Tentu saja aku punya.”

“Mulai sekarang, jangan gunakan dulu. Ada kemungkinan kau akan ditangkap karena pemalsuan dokumen. Semua datamu dianggap palsu.”

“Itu bodoh!” Shinichi mulai frustasi.

“Aku tahu kau Todo Shinichi yang asli. Tapi tidak ada bukti apapun. Paling tidak, aku masih belum tahu caranya,” ujar Osanai lagi.

Shinichi pulang dengan frustasi. Dalam satu hari, semua kehidupan enaknya berubah drastis. Sekarang ia terancam berada di bawah. Shinichi pun berniat segera pulang dan akan naik Shinkansen ke Niigata.

Todo Shinichi yang lain ada di Niigata saat insiden perampokkan terjadi dan dia tertangkap. Kebetulan sekali, Niigata juga tempat aku menghabiskan masa sekolahku. Entahlah, kenapa ini bisa kebetulan.

Shinichi pulang ke apartemennya. Di sana sudah ada tunangannya, Sanae yang tengah memasak. Shinichi pun minta bantuan Sanae untuk bersiap, karena ia akan pergi ke Niigata.

Sanae mengaku tadi baru dari kantor kependudukan. Ia mendapatkan formulir pengajuan pernikahan. Di form itu, data milik Sanae sudah ditulis. Tinggal data milik Shinichi yang belum ditulis. Shinichi menerima form itu dengan senang hati. Tapi ia kemudian ragu, karena ingat perkataan Osanai tadi yang melarangnya menggunakan identitas. Karena semua datanya saat ini dianggap palsu.

“Bisakah kita tunda ini sebentar? Ini bukan masalah besar, tapi kita harus menundanya dulu. Bukan aku tidak mau menikah. Hanya menunda sebentar,” pinta Shinichi.

Sanae tampak tidak suka. Ia berpikir kalau Shinichi tidak benar-benar ingin menikah dengannya. Dan bahkan tidak benar-benar senang saat tahu kalau dirinya hamil.

“Bukan begitu. Aku ingin menikahimu dan aku senang soal bayi kita. Hanya saja … kujelaskan nanti.

Tapi Sanae tidak mau dengar lagi. Ia yang terlanjur kesal melepas celemek yang dipakainya, mengambil tas lalu beranjak pergi.

Tidak mau kehilangan, Shinichi mengejar Sanae hingga depan apartemen. Ia mencoba menjelaskan situasinya pada Sanae.

“Kau mungkin tidak percaya. Tapi saat ini, aku bukan orang yang legal. Aku tidak punya nomer ID, sertifikat warga negara atau data keluarga. Saat ini ada orang lain yang juga bernama Todo Shinichi memiliki semua dataku. Tentu saja ini kesalahan. Sekarang, aku akan mengurusnya. Jadi aku belum bisa menikah,” Shinichi mencoba bicara baik-baik.

“Kalau kau mau bohong, lakukan dengan baik,” Sanae tidak mau dengar dan benar-benar pergi.

“Ini bukan kebohongan. Aku juga tidak tahu yang sebenarnya terjadi,” teriakan Shinichi tidak dipedulikan lagi oleh Sanae.

Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Shinichi tetap berangkat ke Niigata. Ia membeli tiket shinkanshen di loket. Sayangnya dua kartu kredit milik Shinichi tidak dapat digunakan. Situasi makin sulit.

Shinichi lalu datang ke mesin atm. Dia berniat mengambil uang tunai untuk membeli tiket shinkanshen. Tapi ternyata situasinya sama saja, kartu atm-nya ditolak dan dia tidak bisa melakukan pengambilan uang sama sekali.

Shinichi kemudian mengambil pilihan terakhir. Ia naik bus cepat menuju Niigata dengan sisa uang yang ada dalam dompetnya. Sudah lewat tengah malam saat Shinichi akhirnya dapat bus. Dan sekarang uang di dalam dompet Shinichi tinggal 500 yen saja.

8 hari yang lalu.

Paginya, Shinichi sudah tiba di Niigata. Dua orang temannya saat masih kuliah, Saito Hiroshi dan Nagasaki Haruka ternyata sudah menunggu. Mereka menjemput Shinichi setelah dihubungi juga oleh Osanai. Ketiga orang ini lalu berkumpul dan bicara di sebuah cafe.

“Ini disebut pemalsuan identitas. Semua ID-mu sudah dibajak. Hal itu juga terjadi di Amerika. Dan kerugiannya mencapai $50,000,000,000 dalam satu tahun. Sepertinya di Jepang juga mulai ada, tetapi tidak banyak,” komentar Saito.

Nagasaki lalu mengeluarkan kliping artikelnya. Berita tentang Todo Shinichi palsu yang ditangkap polisi.

“Dia adalah pria 32 tahun yang menyedihkan dan tanpa pekerjaan. Lebih lagi, detail kasusny parah. Padahal dia ini pria tidak berguna,” komentar Shinichi. “ID seseorang bukan hal mudah untuk dibajak. Menghapus data pribadi seperti nomer pribadi dan kartu, bukan pekerjaan orang biasa.”

“Sebenarnya, sepupuku tinggal di dekat apartemen Todo Shinichi ini,” ujar Saito kemudian, membuat Shinichi makin penasaran. “Dia baru pindah beberapa hari sebelum insiden itu terjadi. Dia tidak berinteraksi dengan tetangga, karena selalu berada di ruangan. Aku tidak tahu kenapa pria ini di Niigata. Tapi aku punya info lain. Ruangan tempat tinggalnya ini adalah ruangan yang sama, yang kau sewa saat sekolah dulu.”

“Kebetulan seperti itu, tidak mungkin kan?” Shinichi ragu.

Dengan mobil yang dikemudikan Nagasaki, mereka bertiga mengunjungi kompleks apartemen lama Shinichi. Seorang pria berambut kribo yang tinggal di sebelah apartemen Shinichi tadinya menolak bicara. Tapi saat Saito mengatakan mereka punya hubungan dengan polisi, si kribo pun mau bicara.

“Aku tidak bicara banyak dengan Todo-san. Dia lahir dan dibesarkan di Tokyo, demam saat ujian nasional masuk universitas. Karena nilainya tidak cukup masuk Todai (Universitas Tokyo), jadi dia datang ke universitas Niigata. Lalu kembali ke Tokyo untuk bekerja. Dia bekerja di sebuah perusahaan komputer, banyak hal yang terjadi. Dia akhirnya kembali ke Niigata setelahnya,” ujar si kribo. Ia pun kemudian pamit pergi.

Shinichi terkejut dengan pengakuan si kribo ini. Karena cerita tentang Todo Shinichi ini, adalah ceritanya. Sama persis dengan cerita masa lalunya.

Shinichi dan kedua rekannya kembali ke dalam mobil. Shinichi heran karena Saito berbohong soal ‘ada hubungan dengan polisi’ tadi pada si kribo.

“Itu tidak bohong. Kadang aku bekerja lepas untuk kepolisian. Semacam pemberian pendapat untuk tes DNA dan tes darah,” aku Saito. (Saito ini seorang ilmuwan)

Shinichi mendapat pesan di ponselnya yang menyebutkan kalau Miss Erase telah diakses. Ia heran, karena ia tidak sedang pegang laptop sama sekali. Shinichi lalu menelepon ketua tim-nya, Tajima-san. Tapi ternyata yang mengangkat telepon adalah juniornya, Itsuki (Shinson Jun). Itsuki mengatakan kalau Tajima-san saat ini sedang rapat. Ia khawatir dengan keadaan Shinichi.

Shinichi pun mengerti, “Tapi, ada seseorang yang sengaja mengakses Miss Erase. Tapi memang saat proyek itu digunakan.”

“Benarkah?” Itsuki heran.

“Itu belum pasti, tapi bisakah kau cek?” pinta Shinichi yang diiyakan oleh Itsuki.

Shinichi kembali pada kedua rekannya di dalam mobil. Ia pun kemudian mendapatkan ide.

“Seperti itulah Miss Erase bekerja. Kalau aku minta pada Osanai, gambar si Todo Shinichi palsu itu, maka salah satu fitur Miss Erase akan menemukan foto lama si Todo Shinichi ini.”

Todo Shinichi palsu tengah tiduran di sel saat petugas memberitahukanya ada tamu. Dari balik ruang penerimaan tamu, seorang pria berkacamata tampak duduk di sana.

“Aku pengacara barumu. Aku datang ke sini untuk persiapan sidangmu.”

“Tapi sebelumnya, tunjukkan dulu tanda pengenalmu,” pinta Shinichi palsu.

Si pengacara, Saijo Shinji-san bingung. Tapi ia pun menurut. Tidak mau menunggu lebih lama, pengacara Saijo pun minta agar pembicaraan mereka segera dimulai.

Saito dan Nagasaki mengantar Shinichi yang akan kembali ke Tokyo. Shinichi mengucapkan terimakasih pada kedua temannya ini dan berjanji akan segera mengembalikan uang mereka setelah semuanya beres. Shinichi pun berbalik dan pergi.

Saito masih memandangi kepergian Shinichi, “Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Saito pada Nagasaki. “Mungkin kukatakan itu tidak masalah. Tapi aku tidak yakin dengan kenyataannya.”

“Shinichi bukan orang jahat, meski dia agak keras kepala,” komentar Nagasaki.

Saito memuji Nagasaki yang tampak tampak riang, setelah sekian lama sejak kedatangan Shinichi. Tidak suka dengan bahan obrolan, Nagasaki memilih pamit pergi dengan alasan ada urusan.

Shinichi berada di ruang tunggu, menunggu kendaraan untuk kembali ke Tokyo. Diaksesnya email dari laptop. Ada satu pesan masuk di emailnya, dari Osanai Tamotsu.

Shinichi membuka pesan itu. Lampiran di sana berisi foto dan data milik Todo Shinichi palsu. Shinichi heran karena tidak pernah mengenal orang ini. Ia pun mengkopi gambar si pria tadi dan menghapus pesan dari Osanai.

Hari sudah gelap saat Shinichi tiba kembali di Tokyo. Ia berjanji bertemu dengan Osanai di bar King. Dengan riang Shinichi menyambut temannya itu dan mengatakan terimakasih banyak.

“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Osanai.

“Tentu saja. Aku menemukan ini,” Shinichi menyalakan laptopnya dan menunjukkan temuannya pada Osanai.

Kawanose Takeru, dia drop out dari SMA Seto Metropolitan Industrial. Saat itu dia berencana untuk jadi atlet bela diri, tapi batal. Dia adalah bagian geng motor di perfektur Tokyo. Dia pernah bekerja partime di restoran dan pemandu permainan di casino.

“Wah kau melakukan investigasi dengan serius,” puji Osanai.

“Aku akan melapor polisi soal ini besok pagi. Orang ini bukan Todo Shinichi. Bisa dilihat kalau si Kawanose ini berandalan. Dan nama serta harga diriku bisa dikembalikan,” ujar Shinichi riang.

“Sepertinya ada hal baik yang terjadi,” ujar bartender yang membawakan mereka minuman. “Silahkan!”

Shinichi masih merasakan atmosfer lega dalam hatinya. Bartender itu pun memperkenalkan dirinya sebagai Kusaka Eiji. Shinichi mengaku tidak sengaja datang ke bar setahun silam dan merasa cocok, jadi sering datang untuk minum sendiri.

“Kalau begitu, izinkan saya bergabung,” ujar Kusaka sambil membawa gelasnya sendiri.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa lagi di SINOPSIS Soshite, Daremo Inakunatta episode 01 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Gimana ceritanya? Belum panas ya? Hehehe … pilihan Na memang selalu jatuh nggak jauh-jauh dari suspense ya. Sayangnya file pahe drama ini belum ada. Jadi mau nggak mau, Na mesti modal download agak banyak. Beruntung juga, ada yang ambil proyek ini untuk sub-nya. Meski engsub, ini jelas lebih baik daripada nggak ada.

Dan … Na nggak pernah dibuat nyesel deh sama ceritanya. Termasuk akting om Fujiwara Tatsuya yang selalu total keren. Duh, si om memang nggak pernah bikin Kelana kecewa. Ok, selamat lanjut membaca ^_^

 

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. Thanks udah nungguin banget project barunya Fujiwara Tatsuya 🙂

Leave a Reply

Scroll To Top