Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 08 part 2

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 08 part 2

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 08 part 2. Samejima Kozo, ayah Reiji datang ke Tokyo. Tapi tampaknya Reiji tidak terlalu antusias apalagi bersemangat. Ia justru berusaha menghindar.

Hubungan ayah dan anak ini, Reiji dan Kozo-san tidak baik sejak lama. Apalagi sekarang Reiji tengah punya masalah dengan Misaki yang masih belum selesai. Tapi, bisakah Kozo-san membuka hati Reiji dan membuatnya berhasil menyelesaikan masalahnya satu demi satu?

Tidak seperti Reiji, sekt.Maiko dan Katsunori-san tampak sangat bersemangat menyambut Kozo-san. Katsunori menyesal kemarin tidak menyapa Kozo-san, karena berpikir yang dilihatnya di sisi jalan bukan Kozo-san. Saat ditanya, Kozo-san ternyata menginap di taman (berkemah) hari sebelumnya. Tapi hari ini ia mengaku akan tinggal di hotel.

“Apa Anda sudah memesan kamar?”

“Paling tidak sekali, aku ingin menginap di Stay Gold Hotel …”

Reiji yang tadinya tidak peduli, tiba-tiba ikut bicara, “Batalkan sekarang juga!”

“EH, tapi sulit lho memesan kamar. Apalagi penerima tamu-nya tampak sangat bersahabat. Apalagi itu hotel nomer 1 di dunia kan,” protes Kozo-san.

Reiji kesal bukan main, “Kenapa kau perlu melakukan hal tidak penting seperti itu?”

“Tapi aku tidak tahu kalau ada hotel yang tidak boleh kugunakan menginap.”

Tidak punya pilihan, Reiji kemudian meminta Katsunori-san untuk mengantarkan Kozo-san ke apartemennya.

Kozo-san tampak sumringah,” Jadi aku bisa menginap di tempatmu?”

“Pulanglah ke rumah besok pagi-pagi.”

Katsunori-san dan sekt.Maiko lalu mengajak Kozo-san untuk berkeliling kantor. Reiji justru yang ditinggal sendirian. Saat akan menyusul keluar, Reiji melihat barang yang dibawa Kozo-san, seperangkat alat pembuat mie soba. Reiji pun batal untuk ikut menyusul mereka.

Siang itu, para karyawan pria mengerubungi Katsunori-san di dalam mobil sambil membawakannya makanan. Dan kali ini Katsunori-san pun sudah paham, kalau ada yang ingin diminta oleh para karyawan pria itu. Mereka ingin tahu, kenapa Reiji tampak membenci ayahnya, Kozo-san.

Dan cerita itu pun mengalir dari bibir Katsunori-san, “Saat presdir masih SMA, Kozo-san dan istrinya bercerai. Mungkin tidak tampak, tapi Kozo-san kacau dalam mengatur uang. Suatu kali, dia minum hingga mabok. Suatu saat, dia menyiapkan hadiah untuk ulang tahun istrinya. Sebuah tas dengan warna favorit istrinya. Tapi tas itu, persis sama dengan yang sudah digunakan oleh istrinya sejak lama. Dia sudah lama menikah dengan istrinya, tetapi bahkan tidak tahu kalau itu tas yang sama. Jadi istrinya merasa kecewa berat. Saat dia mencoba jadi baik, tapi semuanya justru berbalik. Suatu saat, Kozo-san minum dan mabok berat. Saat itu ia mengusir istrinya dari rumah. Dan si istri tidak pernah kembali lagi. Sejak saat itulah, presdir sangat membenci ayahnya.”

“Jadi dia ayah yang buruk ya. Tapi itu sudah 15 tahun yang lalu kan?”

“Mungkin presdir agak kekanak-kanakan juga.”

Malam itu, Kozo-san justru keluar untuk minum bersama Ieyasu. Dengan mudah mereka cocok dan dekat. Kozo-san bahkan mengajak Ieyasu untuk mengambil foto bersama, selfie. Kozo-an tampak sangat familir dengan hal itu. Dia bahkan mencari latar belakang dan sumber pencahayaan terlebih dahulu sebelum mengambil foto.

Sayangnya, foto yang diambil ternyata blur, karena goyang. Tapi menurut Ieyasu itu tetap bagus. Ia memilih kata ‘art’ untuk menggambrkan foto gagal itu. Ternyata Kozo-san pun menerimanya dengan senang.

Saat Reiji sampai apartemennya, Kozo-san sudah ada di sana lebih dulu. Kozo-san bahkan sudah asyik memipihkan tepung untuk bahan soba di atas meja. Ternyata Kozo-san juga menyetel CD rokugo (yang didapat Reiji dari Misaki). Tapi Reiji buru-buru mematikan CD itu. Reiji menanggapi ayahnya ini tetap dengan dingin.

“Aku membuat mie soba, sebentar lagi siap. Tepung bahan soba kali ini sangat baik,” ujar Kozo-san.

“Aku sudah kenyang. Kalau kubilang tidak mau, ya tidak mau!” bentak Reiji.

Sekt.Maiko buru-buru menyelematkan situasi. Ia yang maju dan mengatakan pada Kozo-san kalau ia ingin makan soba buatan Kozo-san.

“Kau tidak perlu memaksakan diri,” komentar Reiji atas sikap sekt.Maiko.

“Aku tidak memaksakan diri. Ini pertama kalinya bisa makan soba buatan Kozo-san lagi, setelah bertahun-tahun,” elak sekt.Maiko.

“Buatanku sekarang lebih baik daripada dulu.”

Reiji terbangun di tengah malam dan menemukan futon yang digelar di lantai, ternyata tidak digunakan oleh Kozo-san. Ia memilih tidur di sofa, dengan pose kaki mengapit tangan, persis seperti yang dilakukan oleh Reiji.

Reiji bangun dan mengambil air di dapur untuk minum. Ia melihat mie soba di meja, tertutup plastik tapi tetap masih enggan menyentuhnya.

Pagi berikutnya …

Kozo-san sudah bersiap pergi. Saat Katsunori-san menawarkan untuk mengantar ke stasiun, Kozo-san menolak. Kozo-san mengaku akan jalan-jalan dulu.

Reiji pun menyusul keluar dari apartemen menuju mobilnya, “Kalau dia bilang mau jalan, tidak perlu dipaksa,” ujar Reiji.

“Reiji, jaga diri ya?” ujar Kozo-san. Ia pun berbalik dan berjalan pergi.

Reiji yang sudah masuk ke dalam mobil hanya memerhatikan ayahnya yang berjalan menjauh. Tapi Reiji tidak berkomentar apapun atau melakukan apapun.

Sekt.Maiko masuk ke ruangan dan menyerahkan berkas yang harus diperiksa Reiji. Reiji masih penasaran soal sekretarisnya ini.

“Karena ayah, aku kena flu,” cerita Reiji.

“Apa Anda ingin pulang lebih awal?”

“Tidak, tidak seburuk itu. Saat pulang nanti dan tidur lelap, aku pasti bisa lebih baik,” Reiji mengirim sinyal untuk minta dipijat lagi.

Tapi sekt.Maiko seperti tidak menanggapinya, “Aku harap Kozo-san juga tidak kena flu.”

Reiji kesal, karena sekt.Maiko jusru mengomentari orang lain, “Tidak masalah. Dia orang yang biasa kemah di luar.”

“Presdir, bisakah Anda lebih ramah pada ayah Anda?”

“Aku mengijinkan dia menginap di tempatku semalam, itu sudah lebih dari cukup,” ujar Reiji.

“Apa Anda makan sedikit saja mie soba-nya?”

“Tentu saja tidak!” elak Reiji cepat.

“Katanya, saat Anda masih kecil, Anda sering memintanya membuatkan soba yang sangat Anda sukai.”

“Jangan bodoh! Dia melakukan hal-hal itu Cuma untuk menarik perhatianku lewat makanan!” Reiji tambah manyun.

“Presdir, apa Anda punya alasan untuk tidak memaafkan ayah Anda?” cecar sekt.Maiko lagi.

“Orang itu dengan kasar mengusir ibuku dari rumah!”

“Anda juga kasar, mengusir Shibayama Misaki dari perusahaan. Anda dan ayah Anda sama saja, itulah kenapa Anda tidak bisa memaafkannya,” ujar sekt.Maiko dengan berani.

“Jangan samakan kami!”

“Tidak. Tidak seperti Anda, Kozo-san punya keberanian. Tidak peduli Anda membencinya, dia punya keberanian untuk datang dan menemui Anda. Karena dia ingin diakui oleh putranya.”

Saat baru tiba di depan apartemen, ternyata ada Kozo-san menunggu di sana. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Reiji dengan nada tidak suka.

“Maaf. Aku ketinggalan kereta,” aku Kozo-san.

“Kenapa gunakan kebohonan bodoh itu?” sindir Reiji.

Tapi Kozo-san pura-pura tidak dengar. Ia kembali membahas soal tepung bahan soba yang sangat enak tahun ini. Ia masih berusaha membujuk Reiji untuk kembali mencoba mie soba buatannya lagi.

Reiji akhirnya membiarkan ayahnya kembali menginap. Seperti kemarin, Kozo-san membuat mie soba lagi. Kali ini sekt.Maiko ikut membantu membuat kuahnya. Sementara itu, Katsunori-san membantu menghaluskan bumbu hingga matanya terasa pedas.

“Aku juga mengundang teman, tidak masalah kan?” ujar Kozo-san minta izin pada Reiji.

“Teman?” Reiji heran. “Memangnya kau punya teman dekat di kota?”

Tidak lama kemudian bel terdengar. Dan seseorang yang sangat familiar pun masuk, Ieyasu. Melihat situasi apartemen Reiji, Ieyasu dibuat tajub. Tanpa ragu ia pun memuji apartemen itu yang tampak seperti ruangan untuk model.

Ieyasu rupanya datang sambil membawa ayam goreng. Tapi, karena mereka sedang mempersiapkan mie soba, sepertinya ayam goreng tidak akan jadi pasangan yang cocok. Ieyasu mencari dukungan dari Kozo-san. Kozo-san ragu sejenak, tapi kemudian menjawab akan mencobanya.

Ieyasu menyusul Kozo-san yang tengah mempersiapkan mie soba di atas meja. Sekt.Maiko dan Katsunori-san pun ikut bergabung. Mereka dibuat takjub dengan kemampuan Kozo-san meracik mie soba. Sementara itu, dari sofa Reiji hanya melirik saja melihat keakraban empat orang di depannya itu.

Acara masak memasak selesai. Ieyasu dibuat takjub dengan rasa soba buatan Kozo-san dan tidak ragu untuk memujinya. Katsunori-san menanggapinya dengan mengatakan kalau ayam goreng tetap tidak cocok dengan soba. Tapi Ieyasu tidak peduli, ia mencomot ayam goreng, memasukkannya ke mulut dan tetap berkeras berkomentar kalau itu cocok.

“Presdir, bagaimana, kau suka?” giliran sekt.Maiko menanyi Reiji.

Tidak punya pilihan, Reiji pun akhirnya ikut mencicipi masakan soba Kozo-san, “Rasanya agak terlalu kuat dan sulit tertelan lewat tenggorokkanku.” Reiji mencoba mencari kata yang tepat.

“Kalau begitu, kau mau aku yang memakannya?” Ieyasu mengulurkan tangan berniat mengambil soba di depan Reiji.

Tapi Reiji buru-buru menepis tangan Ieyasu dan menyuruh anak itu untuk diam. Sementara itu, sekt.Maiko dan Katsunori-san saling pandang, mereka berhasil membuat Reiji kembali merasakan masakan ayahnya itu.

Reiji baru saja mengambilkan futon saat dilihatnya, Kozo-san ternyata sudah tertidur di sofa dengan gaya seperti malam kemarin. Tadinya Reiji mau meninggalkan saja futon di lantai, tapi ia akhirnya mengambil selimut.

Reiji berniat meletakkan selimut itu di tubuh Kozo-san. Tapi saat Kozo-san menggeliat, Reiji buru-buru bersembunyi di belakang kursi. Setelah aman, Reiji kembali bangun. Tapi ia Cuma meletakkan selimut itu di atas sofa, tidak menyelimutkannya pada Kozo-san secara langsung. Takut ketahuan, Reiji buru-buru menyingkir dan kembali ke ranjangnya.

Kozo-san yang merasa kedinginan meraba ada selimut di dekatnya. Ia pun menarik selimut itu mendekat dan menyelimuti tubuhnya sendiri. Kozo-san tersenyum senang.

“Ada pesan dari Kozo-san. Dia sudah sampai di rumah,” lapor sekt.Maiko pada Reiji.

Reiji yang saat itu baru saja memandangi ikan medaka-nya berbalik. Dia pura-pura bersikap kalau badannya pegal dan memijat beberapa bagian tangannya. Kali ini taktik berhasil. Sekt.Maiko menanyakan keadaan Reiji yang tampak lelah.

“Masalah belakangan membuatku sulit tidur,” aku Reiji. “Bisakah kau lakukan itu lagi?” Reiji menunjuk kakinya. “Kalau aku bisa lelap nanti malam, pasti besok lebih baik.

Sekt.Maiko pun paham yang dimaksud oleh Reiji. Dan tanpa ragu, dia mengiyakan permintaan Reiji untuk datang ke apartemennya nanti malam.

Saat Reiji kembali dari kamar mandi, sekt.Maiko baru saja membuatnya makan malam. Reiji mengatakan akan makan nanti. Dia pun langsung tiduran di ranjang. Paham dengan gesture tubuh Reiji, sekt.Maiko pun mendekat. Tanpa ragu ia kemudian mulai memijat kaki Reiji.

“Kudengar dari Wada, kau menolaknya?”

“Ya. Sepertinya saya memang tidak bisa mengkhianati Anda.”

“Cuma itu? Apa ada yang lain?” pancing Reiji lagi.

“Kubilang padanya kalau saya menyukai Anda,” ujar sekt.Maiko tanpa ragu.

Reiji yang tiduran langsung bangun dan duduk. Dia tidak menyangka kalau sekt.Maiko mengakui hal itu tanpa canggung atau apapun.

“Karena Anda sudah seperti keluarga bagiku,” aku sekt.Maiko lagi.

Jawaban sekt.Maiko makin membuat Reiji kalah kabut, “Tapi aku tidak pernah berpikir ide membuat keluarga (menikah) denganmu. Butuh delapan tahun untuk kupahami. Tidak ada wanita lain yang bisa membuatku nyaman selain kamu. Bagaimana? Bagaimana kalau kita kencan?” ujar Reiji tanpa ragu. Ia mendekatkan wajahnya di depan wajah sekt.Maiko.

Tapi ekspresi sekt.Maiko sama sekali tidak berubah, tetap datar, “Presdir, hentikan membuat orang terlibat dengan patah hatimu.”

“Aku memang patah hati, tapi pijatanmu menyembuhkan,” elak Reiji.

Sekt.Maiko menarif nafas, “Anda tertarik pada wanita yang bersikap baik. Anda dalam situasi rapuh untuk jatuh cinta. Bahkan kalau nenek-nenek yang memijat pun, Anda akan jatuh cinta. Anda hanya melarikan diri dari rasa sakit patah hati.”

“Aku tidak melarikan diri!” elak Reiji cepat. “Aku hanya mengikuti jejak ayahku, mencari kemungkinan cinta baru.”

“Anda salah besar. Mudah membuatku selalu berasa di sisi Anda, menerima kekurangan Anda. Aku Cuma pelarian. Jadi, berhentilah berpikiran terlalu jauh karena kebaikanku. Hadapi kekurangan Anda, dan berjuanglah untuk orang yang benar-benar Anda sukai. Untuk mengatasi rasa benci Anda, ayah Anda berhasil membuka hati Anda. Sekarang giliran Anda,” saran sekt.Maiko. Ia pun berdiri dan beranjak pamit.

Tidak ingin kehilangan kesempatannya lagi, Reiji pun berganti pakaian. Ia memilih jas dengan dasi berwarna hijau, warna kesukaan Misaki. Reiji berjalan keluar apartemen sambil menelepon. Ia melakukan pemesanan kamar untuk malam itu.

Alih-alih memanggil sopirnya atau naik mobil sendiri, Reiji memilih naik taksi. Tujuannya adalah satu tempat khusus.

Seorang tamu baru saja berbalik pergi saat Reiji tiba di meja penerima tamu. Di sana ada Misaki yang tengah bertugas.

“Apa benar, penerima tamu akan mendengarkan apa yang kukatakan?” tanya Reiji ragu.

“Hanya untuk tamu yang menginap di hotel kami,” ekspresi wajah ramah Misaki berubah dingin.

“Kalau begitu … bisa kan dengarkan aku?” Reiji mengeluarkan kunci dari balik sakunya. Kunci kamar hotel itu, Stay Gold Hotel dengan nomer 333 (angka ini bisa dibaca juga sebagai misa-san).

Tidak punya pilihan, Misaki pun mengiyakan. “Apa yang bisa dibantu?”

“Aku putus dari kekasihku belum lama ini. Apa ada cara supaya kami bisa bersama lagi?”

“Bagaimana dengan melupakan cinta lama dan berpindah ke cinta baru?” saran Misaki.

“Bukan itu yang kutanyakan. Aku ingin tahu cara agar ‘kita’ bisa kembali bersama lagi,” desak Reiji.

“Sepertiku akan sulit.”

“Kau katakan, kau akan membantuku kan? Penerima tamu bukankah seharusnya tidak mengatakan ‘aku tidak bisa membantu Anda’, kan?”

“Tolong hentikan ini!” pinta Misaki agak berbisik. Ia mulai terganggu oleh sikap Reiji.

Saat itu supervisor Misaki datang berniat membantu. Reiji yang tidak mau melibatkan orang lain pun memilih pergi.

“Selamat malam,” Reiji menunggu hingga Misaki selesai jam kerja dan segera menyusulnya.

Tidak suka diikuti terus oleh Reiji, Misaki pun mengancam akan lapor polisi. Reiji meminta maaf, sikapnya yang keras kepala ini menurun dari ayahnya. Misaki kesal karena Reiji kembali menyalahkan orang lain.

“Dia (ayahku) datang ke tempatku kemarin. Kuharap kau bisa juga makan mie soba buatannya. Tunggu! Aku hanya ingin mengembalikan ini padamu,” Reiji menyerahkan CD rokugo yang sempat dipinjamkan Misaki padanya.

“Tidak masalah. Kau tidak perlu repot mengembalikannya.”

“Tidak. Karena ini salah satu favoritmu,” elak Reiji.

Misaki pun berbalik dan berniat pergi. Dia tidak ingin bicara lagi dengan Reiji.

“Tunggu, katakan satu hal. Apa kau benar menyukaiku?” pertanyaan ini membuat Misaki heran. Tapi Reiji tetap melanjutkan. “Di waktu singkat kita kencan. Kutanya, apa saat itu kau menyukaiku?”

“Tentu. Kalau tidak, aku tidak mungkin kencan dengan Anda.”

“Tidak. Kau tidak serius!” tuduh Reiji.

Misaki kesal, “Kau meragukanku?”

“Penulis Jerman terkenal, Geothe mengatakan ‘Jika kau tidak bisa mencintai kekurangan orang yang kau cintai, kau tidak mungkin bisa mengatakan aku cinta padamu’. Itu artinya kau tidak benar-benar menyukaiku.”

“Tolong hentikan tuduhan palsu ini!”

“Tapi benar kan? Kau tidak menerima kekuranganku. Menurut teori Goethe tadi, artinya kau tidak benar-benar mencintaiku,” lanjut Reiji. “Semua sikap keras kepalamu itu, aku tidak menerimanya.”

“Itulah kenapa kau memecatku dan kisah ini berakhir,” Misaki menyimpulkan.

“Ini bukan akhir. Karena cinta kita belum mulai. Ini baru mulai sekarang. Setelah kita putus, aku bertarung dengan diriku sendiri. Dan aku menyadari sesuatu. Aku hidup tanpa tahu kekuranganku sendiri. Kalau aku tidak menyadari kekuranganku, maka aku tidak akan bisa menerima kekuranganmu juga. Tapi tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah memahami kekuranganku sekarang. Jadi tidak akan masalah, kalau kau juga menerima kekuranganku. Bisakah kau terima itu? Agar cinta kita bisa mulai lagi?” bujuk Reiji lagi.

“Cinta kita sudah masa lalu.” Misaki berbalik, berjalan pergi.

“Tunggu! Aku menerima kekuranganku. Aku juga siap menerima kekuranganmu. Jika kau tidak mau menerima kekuranganku, artinya kau lebih tidak toleran dibanding aku. Apa itu tidak masalah?”

“Aku tidak peduli!”

“Lihat, keras kepalamu … aku menerimanya. Kau mau kemana? Apa kau mau melarikan diri?”

“Bukankah Anda terlalu memaksakan kehendak?” tantang Misaki.

“Pemaksaan kehendak menguntungkan agar perusahaan bisa sukses. Tapi itu tidak menguntungkan untuk urusan cinta. Apa yang akan kau lakukan? Menerimanya … atau melarikan diri?”

Misaki menyerah dengan keras kepala Reiji. Ia pun berbalik lagi. “Baik, aku punya syarat. Syarat pertama, aku ingin Anda pulang.”

“Baik, aku akan menuruti syaratmu.”

“Aku akan kirim email untuk syarat berikutnya.”

“Bisakah kau telepon saja?” pinta Reiji.

Tapi Misaki yang kesal berbalik pergi.

“Baik. Kau bisa mengirim email saja. Aku terima syaratmu.” Reiji hanya bisa menyaksikan Misaki yang berjalan pergi. “Hati-hati di jalan. Isanami Suyao!”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 09 part 1

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

 

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. Waah, akhirnya Reiji bisa sedikit mengalahkan keras kepalanya sndiri demi misa-san. Ditunggu kelanjutannya ya Na. Btw, yg bagian bwh sendiri ada yg keliru itu Na,harusnya sampai jumpa di episode 9 part 01. Arigatou udah buat sinopsis ini, lucu liat karakter kekanak-kanakannya

    • hahahaha
      iya, suka lihat perubahan sikap reiji pelan2
      misaki bener2 banyak mempengaruhi reiji

      sama-sama, terimakasih juga sudah setia mampir dan komentar ^_^

Leave a Reply

Scroll To Top