Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 07 part 1

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 07 part 1

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 1. Pertemuan Reiji bersama Misaki dengan presdir Wada dan wanitanya rupanya menguak rahasia Reiji. Setelah tahu alasan Reiji mendekatinya, Misaki yang terluka dan kesal memilih untuk pergi. Dan hubungan mereka pun terancam bubar.

Situasi tidak terduga di pesta membuat Reiji dan Misaki perang dingin. Misaki pulang sendiri ke apartemennya. Sementara Reiji berkeras tidak mau menghubungi Misaki lebih dulu. Hingga akhirnya Reiji menyerah dan menghubungi Misaki lebih dulu. Tidak butuh waktu lama hingga keduanya akhirnya berbaikan. Reiji mengajak Misaki untuk bertemu. Misaki setuju bertemu dan memutuskan datang ke apartemen Reiji.

Karena Misaki akan datang, Reiji menyempatkan diri untuk belanja beberapa makanan. Dengan cepat ia pun mengatur makanan itu di piring yang ditata rapi di meja makan. Reiji juga sempat mengatur lampu ruangan menjadi lebih redup tapi akhirnya membuatnya terang kembali.

Misaki datang dengan pakaian santai dan dibuat takjub dengan apartemen Reiji. Reiji mengatakan kalau ia menyewa apartemen itu. Meski begitu, Misaki tetap berpikir kalau apartemen itu menakjubkan. Misaki rupanya juga datang dengan makanan yang ia beli. Tapi Reiji sudah menyiapkan semuanya di atas meja. Bahkan Reiji pun sempat membelikan salah satu makanan kesukaan Misaki, Matsumaezuke.

“Ini bukan masalah. Aku hanya mengeluarkan isi lemari es-ku dan mengaturnya,” ujar Reiji menyembunyikan fakta kalau ia baru berbelanja.

Reiji dan Misaki pun makan malam bersama. Dari cerita Misaki, Reiji tahu kalau nama ‘Gosuke’ adalah nama yang disukai oleh kakek Misaki. Nama itu adalah nama salah seorang samurai terkenal. Selain itu, kesukaan Misaki terhadap sejarah Jepang dan Rakugo (semacam standup comedy), juga dipengaruhi oleh kakeknya. Termasuk keinginan Misaki bekerja di hotel, itu juga karena kakeknya.

“Kalau begitu aku harus berterimakasih pada kakekmu. Jika bukan karena dia, kau tidak akan datang dan bekerja di perusahaan,” ujar Reiji.

Misaki kemudian menebak kalau Reiji juga terinspirasi ayahnya saat membangun perusahaannya sekarang. Tapi Reiji mengelak. Menurut Reiji, ayahnya justru menolak ide Reiji soal manajemen perusahaan. Merasa obrolan menjadi suram, Reiji pun mengalihkan pembicaraan. Ia mengajukan apakah mereka perlu membuka botol sampagne baru lagi atau tidak. Tapi Misaki mengatakan kalau ia harus pulang.

Reiji mengiyakan hal itu dan menawarkan untuk memanggil taksi. Tapi dalam hati Reiji tidak benar-benar setuju. Ia pun mengajukan pilihan lain untuk Misaki, yakni menginap di apartemennya. Apalagi besok libur.

“Kalau kau tidak nyaman kita berada di satu ruangan, aku bisa membuat tenda di luar dan tidur di dalam kantong tidur,” Reiji menawarkan.

Misaki ragu. Ia Cuma tidak nyaman karena harus menginap secara tiba-tiba. Tapi Reiji mengaku tidak masalah dengan hal itu. Misaki pun akhirnya setuju untuk tinggal dan menginap di apartemen Reiji.

Misaki baru saja keluar dari kamar mandi saat Reiji sudah berada di balik selimutnya. Reiji tidur di ranjangnya sendiri. Sementara sebuah kasur diletakkan di dekat ranjang milik Reiji, untuk tidur Misaki. Misaki baru saja akan menyusup ke balik selimut saat dilihatnya Reiji masih terbangun. Reiji sendiri terus saja senyum-senyum karena melihat Misaki ada di sebelahnya.

Misaki dibuat takjub saat melihat gambar Isanami-sensei dan istrinya—buatan Reiji—dipasang di dinding. Misaki berucap ‘Isanami Suyao’—oyasuminasai sebelum menarik selimutnya. Reiji pun membalasnya dengan ‘Isanami Shiho’, masih sambil terus tersenyum.

Meski Misaki sudah tidur, Reiji masih belum bisa memejamkan matanya. Senyum terus saja terkembang di wajah Reiji, saat dilihatnya Misaki sudah terlelap tidak jauh darinya.

Saat kembali masuk kerja, Misaki menceritakan kalau ia menginap di tempat Reiji, pada Mahiro. Dan lagi, tidak ada yang terjadi pada mereka malam itu.

“Aku juga sudah bersiap, tapi … “

“Mungkinkah dia sangat menghargaimu?” tanya Mahiro kemudian. “Biasanya laki-laki itu serakah seperti serigala kan? Alasan kenapa tidak ada yang terjadi, artinya dia mengirimkan pesan yang mengatakan ‘Aku tidak ingin kau berpikir aku pria serakah’. Artinya dia pria yang menghormati wanita.”

Misaki tersenyum, “Ya, itu lebih baik daripada dugaan kalau ia tidak tertarik padaku,” balas Misaki. Misaki pun bertanya apakah ada yang terjadi pada Mahiro saat perjalanan bisnis bersama ketua tim Goro-san sebelumnya.

“Kau bisa tahu ya?” Mahiro tersipu.

“Kata ‘bahagia’ tertulis jelas di wajahmu dengan huruf besar,” balas Misaki.

Cerita soal Misaki yang menginap juga dikatakan Reiji pada sekt.Maiko. Seperti Mahiro, sekt.Maiko juga heran karena tidak terjadi apapun malam itu.

“Paling tidak, kau menciumnya?”

Reiji kesal, “Paling tidak kau menghargai, kalau aku bisa membuatnya menginap semalam di tempatku. Aku membuatnya tinggal padahal dia sudah mau pulang,” sombong Reiji.

“Kalau dia menginap dan kau tidak melakukan apapun, lebih baik tidak usah membuatnya tinggal,” sindir sekt.Maiko.

Perdebatan bos dan sekretaris ini pun berlanjut. Mereka sekarang bicara soal kiss. Sekt.Maiko berpikir, kalau Misaki mau menginap, artinya dia sudah siap kalau ada ‘kiss’. Hingga akhirnya sekt.Misaki berhasil menebak kalau Reiji belum pernah berciuman, meski Reiji mengelak hal itu.

Karena perdebatan ini tidak ada ujungnya, sekt.Maiko akhirnya mengalihkan pembicaraan. Ia menunjukkan sebuah artikel pada Reiji. Di artikel itu disebutkan ada tiga tempat favorit para wanita untuk dicium oleh kekasihnya untuk pertama kali. Tempat ketiga adalah rumah kekasih, tempat kedua adalah pantai berpasir di malam hari. Dan tempat pertama : kincir sambil melihat pemandangan malam.

Reiji pun dapat ide. Ia mengambil teropong dari lacinya. Dilihatnya arah luar. Dari ruangan kantornya, Reiji bisa melihat sebuah kincir raksasa di sana, “Kutebak, tempat ketiga adalah tempat yang paling tidak menghargai Misa-san. Aku akan memilih tempat pertama, untuk pekerjaan dan juga cinta. Untuk memberikan Misa-san kenangan ciuman pertama, itu tugas Samejima Reiji kan?”

Mahiro membagikan makanan oleh-oleh perjalanan bisnis sebelumnya pada rekan-rekan kerjanya. Pujian pun mengalir dari para karyawan lain. Tampak Mahiro juga sangat bersemangat hari itu. wajahnya berseri-seri karena banyak bicara dengan ketua tim Goro-san. Pembicaraan pun bergeser soal gaji.

“Pria memang suka bicara soal uang ya,” komentar Mahiro.

Obrolan berlanjut. Tapi tidak dengan Ieyasu. Ia yang baru saja mengambil minum dari pantry melihat sekeliling.

Aku suka Mahiro-chan. Semua orang yang punya perasaan itu akan percaya diri tidak akan kalah. Tapi situasinya sekarang berbeda. Dia (Mahiro) suka pada ketua tim Goro-san. Sementara Goro-san juga tampak membuat hati untuknya. Saat itu, apa yang harus dilakukan Miura Ieyasu? Menyerah soal wanita yang tidak mungkin kumenangkan dan memperjuangkan wanita lain sebagai pelarian. Itulah gaya Ieyasu. Ieyasu kemudian melihat ke arah Misaki yang tengah asyik dengan pekerjaannya.

Ieyasu kemudian mengambil makanan oleh-oleh Mahiro-Goro-san lalu memberikannya pada Misaki. Misaki berterimakasih. Ieyasu pun memberikan bagiannya juga pada Misaki, bermaksud menggoda. Bahkan Ieyasu mengedipkan sebelah matanya pada Misaki.

Target, full speed, two months. Susun targetmu, dengan kecepatan tinggi dan raih dalam dua bulan. Dan untuk level gadis seperti Misaki-chan, tidak butuh dua bulan. Dua hari juga cukup. Ujar Ieyasu dalam hati.

Hari berikutnya, Ieyasu terus saja mengekor Misaki. Berkali-kali ia memuji penampilan Misaki, tapi Misaki tampak tidak terlalu peduli. Ieyasu bahkan mengajak Misaki untuk naik kincir, tapi langsung ditolak oleh Misaki. Ieyasu tetap tidak menyerah mendekati Misaki. Tapi ia tidak tahu, kalau kekasih Misaki—Reiji—memerhatikan semua tingkah lakunya yang mendekati Misaki.

Hari berikutnya, Ieyasu sudah mengekor Reiji yang baru saja datang. Tawaran bantuan dari Ieyasu untuk membawakan tasnya ditolak Reiji. Reiji mengkritik Ieyasu yang terlalu banyak ngobrol selama jam kerja, terutama dengan Misaki. Tapi bukannya tahu diri, Ieyasu malah keburu ge-er.

Ieyasu justru curhat soal dirinya. Tadinya dia ingin mengejar Mahiro. Tapi sekarang dia berubah pikiran dan ingin mengejar cinta Misaki karena Misaki tampak kesepian. Dalam hati kemarahan Reiji sudah di ubun-ubun, karena dialah kekasih Misaki.

Reiji kesal dan menyuruh Ieyasu menyerah saja, karena wanita seperti Misaki bukanlah tipe yang mudah untuk ditaklukkan. Meski begitu, Ieyasu tidak menyerah. Dia justru mencari dukungan Reiji untuk bisa mendapatkan Misaki. Reiji yang kesal akhirnya menyuruh Ieyasu diam.

Alih-alih langsung masuk ruangannya, pagi itu Reiji berhenti di ruang karyawan, “Mulai hari ini, ada peraturan baru. Sampai sekarang, aku masih menoleransi hal itu. Tapi dengan perubahan bisnis sekarang, mulai sekarang, kalian semua dilarang punya hubungan romantis dengan teman kantor.”

Karyawan dibuat kaget dengan peraturan baru yang tiba-tiba ini. Tidak terkecuali Mahiro.

Tapi Mahiro tidak bisa lagi menahan diri, “Kecuali anda? Itu tidak adil!” protes Mahiro, membuat Reiji batal masuk ruangannya. “Presdir dan Misaki berkencan!” teriak Mahiro kemudian.

Fakta ini membuat Reiji terdiam. Begitu juga para karyawan lain. Tidak terkecuali Misaki yang sejak tadi diam saja di tempat duduknya. Ieyasu pun tidak berhasil membuat mulutnya tertutup, saking kagetnya.

Pelan, Reiji mulai menguasai diri, “Kenapa tidak ada yang kaget dengan itu?”

Para karyawan hanya bisa terdiam. Mereka memilih seolah melakukan pekerjaan masing-masing, seperti tidak pernah dengar fakta ini. Saat ditanya pun, ketua tim Goro-san mengaku tidak tahu menahu, meski agak curiga.

Reiji menarik nafas, “Kalau begitu, aku tidak bisa memaksakan peraturan baru yang kukatakan tadi. Aku menariknya lagi.” Reiji pun beranjak masuk ke ruangannya.

Sementara itu Misaki tetap duduk terdiam di mejanya. Karyawan lain justru mengerubungi Mahiro yang asal bicara. Mereka khawatir kalau Mahiro akan dipecat oleh Reiji karena masalah ini.

Para karyawan pria membawakan menu belut untuk Katsunori-san, membuatnya merasa tidak enak. (di Jepang, belut itu menu enak dan mewah. Aiiih, jadi pengen). Mereka mencari tahu informasi soal Reiji dari Katsunori-san.

Para karyawan itu juga ingin tahu, sejak kapan Reiji menyukai Misaki. Soalnya sejak awal Misaki masuk, mereka sudah merasa heran. Reiji tampak berubah sejak itu. Mereka kemudian sepakat untuk tetap pura-pura tidak tahu, karena mood Reiji sedang baik tiap hari.

Mahiro makan malam bersama Misaki. Ia sangat menyesal dan minta maaf atas apa yang terjadi tadi. Tapi Misaki sepertinya tidak terlalu memikirkannya. Mahiro mengeluh, kalau pada akhirnya peraturan itu tidak diberlakukan, Reiji sebenarnya tidak perlu membuat peraturan itu.

Mahiro pun kemudian cerita pada Misaki, soal hal baik saat perjalanan bisnis kemarin. “Ketua tim Goro-san berjanji kalau kami akan minum bersama,” sekarang giliran Mahiro yang tersipu.

“Kalau begitu, kerja kerasmu terbayar saat perjalanan bisnis kemarin,” komentar Misaki.

“Tapi soal yang dikatakan presdir, kalau dari sudut pandangmu, pasti kau kesal mendengarnya ya?” Mahiro pun menyimpulkan kalau sikap Reiji ini seolah mengatakan ‘jangan ganggu wanitaku’. “Aku benar, dia sangat menghargaimu kan? Tapi itu pasti memalukan.”

Pagi berikutnya.

Berkali-kali Ieyasu melirik meja kerja di sebelahnya, milik Misaki—yang masih kosong. Huru-hara ini sepertinya menyelesaikan masalah. Satu-satunya yang tersisa hanya satu masalah. Itu benar. Aku. Sejak awal, orang yang ingin kubuat terkesan bukan Mahiro atau Misaki, tapi presdir. Dan kemudian, saat aku mendekai wanitanya presdir … itu membuatku dalam masalah. Kecuali aku melakukan sesuatu, dia mungkin akan punya alasan untuk memecatku. Aku adalah pria yang merubah kemalangan jadi peluang. Itulah gaya Ieyasu.

Dia pun melangkah dengan tegak ke arah ruangan Reiji.

Reiji tengah asyik melihat dari teropongnya saat Ieyasu masuk. Ia kesal karena karyawannya satu ini suka seenaknya saja. Reiji bahkan menolak untuk bicara pada si Ieyasu ini. Tapi dasar, si Ieyasu ini sepertinya nggak ngerti situasi. Ia berkeras tetap mencari celah untuk mendapatkan perhatian Reiji.

“Apa Anda sedang melihat ke arah taman bermain?” tanya Ieyasu penasaran.

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Ingat, aku pria yang tahu banyak hal.” Baru saja Reiji akan mengusir Ieyasu lagi, tapi Ieyasu buru-buru menyodorkan tiket ke taman hiburan. “Jika Anda suka, gunakan tiket ini. Pemandangan malam dari kincir sangat luar bisa. Aku secara khusus merekomendasikan ini.”

“Kau mengajak Misaki ke taman bermain?” Reiji makin tidak suka.

“Meski aku mengajaknya, dia menolak. Artinya dia benar-benar menyukai Anda, Bos. Jadi percaya dirilah!”

“Bisakah kau berjanji tak memberikan ide aneh lagi?” pinta Reiji. “Jadi kau benar-benar menyerah soal dia?”

“Tidak ada menyerah atau apapun karena sejak awal dia memang bukan tipeku. Jadi Anda tidak perlu khawatir.”

“Kau benar-benar ingin dipecat ya?!” Reiji kesal.

“Bos, bisakah kau izinkan aku mulai lagi seperti saat pertama kali bekerja di sini. Seharusnya tidak seperti ini,” sepertinya Ieyasu benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan sang bos.

“Lain kali bawa surat pengunduran dirimu!”

Ieyasu kemudian pamit pergi. Menurutnya, itu artinya Reiji memaafkannya dan masih mengijinkannya bekerja. (ni anak emang nggak pernah paham situasi deh ya)

Malam itu Reiji dan Misaki benar-benar datang ke taman bermain. Dengan sok cool, Reiji mengatakan kalau ia ingin memenuhi harapan Misaki untuk naik kincir. Padahal sebenarnya dirinyalah yang tampak sangat tertarik dan bersemangat untuk naik wahana putar itu.

“Karena melihatnya dari ruanganku tiap hari, aku penasaran seperti apa kantor kalau dilihat dari sini,” ujar Reiji.

Misaki sendiri hanya bisa tersenyum. Ia sudah maklum dengan sikap Reiji yang tiba-tiba saja berubah jadi kekanak-kanakan saat hanya berdua dengannya. Misaki pun mengekor Reiji yang sudah berjalan lebih dulu memasuki wahana putar itu.

Sementara Reiji kencan dengan Misaki, sekt.Maiko minum di bar milik presdir Wada. Tidak lama setelahnya presdir Wada juga bergabung.

“Hubungi saja aku, kalau kau sendirian di sini. Aku akan datang,” tawar presdir Wada.

“Aku tidak bisa, karena kau orang sibuk,” elak sekt.Maiko.

“Mantan kekasih yang kuajak di pesta tempo hari Cuma teman sekarang. Jangan cemburu,” presdir Wada menjelaskan tanpa diminta.

“Dia cantik,” komentar sekt.Maiko.

“Maaf. Aku Cuma mau membuatmu cemburu,” presdir Wada menawarkan minuman lain pada sekt.Maiko. Dia juga berjanji akan tetap di sana sampai semua salah paham terselesaikan.

Kincir berjalan pelan ke atas. Dari satu titik, Misaki mengatakan pada Reiji kalau mereka sudah bisa melihat kantor sekarang. Reiji kesulitan melihat dari arahnya dan akhirnya berpindah ke sisi Misaki.

“Ah yang itu ya? Tampak bersinar ya?” komentar Reiji.

“Sinar itu dari cahaya akuarium di kantormu kan?” mereka pun membahas soal ikan Medaka milik Reiji.

Tapi situasi tiba-tiba berubah canggung. Reiji yang merasa tidak enak berasa terlalu dekat, akhirnya kembali ke kursinya di seberang.

Presdir Wada melanjutkan minum bersama sekt.Maiko. “Lalu, untuk apa kau minum?”

“Aku sendiri tidak tahu.”

Presdir Wada tersenyum, “Aku yakin, kau tipe yang membiarkan rambut terurai jika sedang riang.”

“Aku tidak ingat itu.”

“Itu karena kau tidak punya seseorang yang mengajakmu minum kan?”

Obrolan kedua orang ini pun terus berlanjut. Pelan, presdir Wada merayu sekt.Maiko. Sepertinya dia memang serius dengan sang sekretaris. Tangan presdir Wada pun terulur, merangkul pinggang sekt.Maiko.

Satu putaran telah selesai. Sayangnya Reiji masih belum punya kesempatan untuk mencium Misaki. Ia pun berharap satu putaran lagi dengan alasan ingin melihat lagi ruangannya.

“Tapi, bukankah ini Cuma buka sampai jam 9 saja kan?” Misaki mengingatkan.

“Ah benar,” Reiji baru sadar. Tidak punya pilihan, mereka berdua pun turun. Di bawah, Reiji bertanya soal rencana Misaki selanjutnya. Ia pun mengajak Misaki untuk minum di tempatnya. Bahkan mengajak Misaki untuk menginap.

“Tapi, besok ada pekerjaan,” elak Misaki.

Reiji tidak menyerah, “Aku akan mengantarkanmu pulang besok pagi, bagaimana?”

Misaki pun menurut dan ikut bersama Reiji. Kali ini Misaki yang sudah lebih dulu tertidur di balik selimutnya. Reiji yang masih menggosok gigi teringat soal ciuman. Betapa ia ingin mencium Misaki.

Keluar dari kamar mandi, Reiji mendekati Misaki yang sudah tertidur. Sesaat dia ragu. Tapi Reiji pun mendekatkan wajahnya ke wajah Misaki, bersiap mencium. Sayangnya, gerakan Misaki membuat Reiji justru batal menciumnya. Reiji kesal pada diri sendiri. Ia pun berbalik ke ranjangnya, dan terus memandang serius ke langit-langit apartemen. Sementara itu, pelan mata Misaki terbuka. Rupanya ia belum benar-benar tertidur. Tapi Misaki tampak kecewa, karena Reiji tidak juga berani menciumnya.

Sementara itu di tempat lain, ada dua orang yang tengah asyik berciuman. Mereka adalah presdir Wada dan sekt.Maiko. Yang satu saingan Reiji dalam pekerjaan, yang lain sekretaris kepercayaan. Bagaiman Reiji akan menyikapi hal ini nantinya?

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 07 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top