Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 06 part 1

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 06 part 1

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 06 part 1. Berhari-hari Reiji galau lantaran ungkapan cintanya masih belum mendapatkan jawaban dari Misaki. Tapi, hari itu Misaki berjanji akan memberikan jawabannya di pusat kebugaran, tempat mereka biasa bertemu. Dan jawaban Misaki adalah …

Misaki pulang ke apartemennya. Dipandanginya foto pria tua yang dia panggil kakek. Kakek Misaki dulunya bekerja sebagai penerima tamu di depan sebuah hotel.

Presdir sangat mirip dengan kakekku. Saat kukatakan mirip, bukan soal penampilan. Tapi soal sikap terhadap pekerjaan, dan kadang menunjukkan sisi lucunya. Kakekku persis seperti itu. Aku kehilangan orang tuaku sejak masih kecil dan kakek yang membesarkanku sendirian.

Sesekali kakek mengajak Misaki jalan-jalan. Meski Misaki khawatir, tapi kakek selalu mengatakan tidak ada masalah. Melihat kakeknya seperti ini, Misaki pun memutuskan bermimpi untuk dapat bekerja bersama dengan kakeknya dan bahkan bisa memiliki hotel sendiri.

Misaki masih SMA saat ia bilang pada kakeknya akan menyusul bekerja di hotel setelah lulus. Tapi kakek melarang dan mengatakan Misaki untuk melanjutkan sekolah lebih dulu. Misaki berkeras, tapi akhirnya menuruti juga kemauan kakeknya itu.

Aku bekerja keras agar lebih baik dari kakek. Dan saat aku bekerja di Paris, kakek terus saja menyembunyikan keadaan fisiknya yang makin buruk. Dan dua tahun kemudian kakek meninggal. Pada akhirnya, kakek tidak melihatku bekerja di hotel dan aku tetap tidak bisa menyainginya.

Misaki masih ada di area pemakaman saat seorang pria mendekatinya, seorang pengacara. Pengacara itu memberikan sertifikat tanah yang ditinggalkan kakeknya, atas nama Misaki. Misaki pun mendatangi tempat tanah itu berada. Sebuah tanah lapang yang berada tidak jauh dari laut dengan pemandangan luar biasa. Tempat yang tepat untuk sebuah hotel.

Untuk mewujudkan mimpi kakek, aku memutuskan kembali ke Jepang. Dan sekarang aku bekerja di hotel dengan pertumbuhan tercepat, Samejima Hotel. Meski karyawan lain takut pada presdir yang seolah seperti iblis, kalau mereka tahu sisi lain presdir, pasti pendapat mereka akan berbeda. Kadang dia berbohong seperti anak SD. Atau berteriak kegirangan. Beberapa saat lalu, dia melihat wajahku dan tersenyum bahagia. Semuanya adalah hal yang kukagumi dari presdir.

Sekt.Maiko menutup telepon setelah bicara dengan Reiji. Menurutnya Reiji akan pergi kencan jadi mereka bisa pulang duluan. Reiji dan Misaki akan kencan di akuarium.

“Tapi itu baik kan, kalau kencan mereka di akuarium? Karena itu adalah satu-satunya tempat kencan yang dipahami presdir,” ujar Katsunori-san.

Sekt.Maiko pun mengiyakan ide itu. Mereka ikut senang karena dengan jadiannya Reiji dengan Misaki, artinya Reiji akan punya pasangan kencan untuk pesta mendatang.

Misaki tengah mengambil beberapa gambar saat Reiji mendekat. Dengan sabar, Reiji menjelaskan satu per satu jenis ikan yang ada di akuarium itu. Reiji mengaku kalau sejak kecil ia memang suka binatang. Bahkan saat di sekolah dulu, tugasnya adalah merawat hewan peliharaan kelas. Sementara Misaki mengaku kalau dulu dia adalah ketua kelas. Tebakan Reiji soal Misaki rupanya tepat. Reiji bertanya soal ikan favorit Misaki yang dijawab dengan menunjuk salah satu jenis ikan. Menurut Reiji, ikan itu namanya pilchard, ikan yang sederhana untuk pilihan sederhana.

Reiji bicara serius, “Saat kencan, bisakah jangan kau panggil aku presdir?” pintanya kemudian. Reiji mempersilahkan Misaki memanggil sesukanya, nama keluarga atau nama depan.

Misaki tersenyum mengerti, “Kalau begitu, Rei-san.”

“R-Rei-san? Rei-san. “Reiji” without the “Ji”… Rei-san…” Reiji dibuat takjub dengan pilihan Misaki.

“Apa Anda lebih suka dipanggil Reiji-san?”

Reiji mengelak cepat,”Rei-san, terdengar ribuan kali lebih baik.” Reiji pun minta izin memanggil Misaki dengan Misa-san, yang disetujui juga oleh Misaki.

Keluar dari akuraium, Reiji dan Misaki berjalan menikmati angin luar. Saat ditanya, Reiji mengaku kalau yang tahu hubungan mereka hanya sekretaris dan sopirnya. Misaki juga mengaku kalau ia sudah cerita pada Mahiro soal hubungannya dengan Reiji.

Reiji mengajukan usul kalau besok ia akan mengatakan soal hubungannya dengan Misaki pada karyawan lain. Tapi Misaki menolak ide itu, karena ia tidak mau karyawan lain jadi canggung dan juga tidak ingin mencampurkan antara pekerjaan dan masalah pribadi. Reiji pun setuju hal ini, dan beranggapan kalau di kantor mereka kembali adalah atasan dan bawahan saja.

“Apa kau hanya punya satu ponsel?” tanya Reiji saat Misaki mengeluarkan ponselnya.

“Ya, Cuma ini.”

“Aku juga, Cuma ini,” Reiji cengar-cengir memberikan kode. “BTw, aku masih belum punya kontak lengkapmu,” modus Reiji.

Misaki tersenyum mengerti. Ia pun mengajak Reiji bertukar kontak mereka yang membuat wajah Reiji makin sumringah. Malam itu kencan mereka berjalan dengan sukses. Bahkan sampai di apartemennya pun, Reiji masih saja terus senyum-senyum. Senyumnya makin lebar saat ada pesan dari Misaki, Aku bersenang-senang hari ini. Aku juga ingin belajar lebih banyak lagi soal ikan. Selamat malam.

Para karyawan sudah datang saat Reiji baru saja tiba. Seperti biasa, mereka menyapa Reiji. Tapi balasan Reiji pagi itu benar-benar luar biasa. Saking bahagianya, Reiji pun menjawab sapaan dari para karyawannya itu dengan senyum-senyum. Misaki yang ada di antara mereka berusaha bersikap senormal mungkin. Tidak hanya para karyawan saja, tapi Sekt.Maiko pun dibuat takjub dengan tingkah Reiji pagi itu.

Beragam komentar langsung bermunculan. Karyawan heran karena sudah lama Reiji tidak lagi menjawab sapaan mereka dan kali ini menjawab dengan sangat sumringah. Dan seperti biasa, Ieyasu mulai berdelusi soal hubungan warna dasi-nya dengan sapaan Reiji. Tidak ingin terlibat obrolan atau dicurigai, Misaki justru buru-buru kembali ke mejanya dan sibuk dengan pekerjaan.

Di ruangan, Reiji langsung curhat pada sang sekretaris. Ia merasa sangat bahagia karena kencannya ternyata berjalan lancar. Sekt.Maiko menjawab sarkas, itu karena Reiji baru kencan tiga hari.

“Tapi jatuh cinta itu luar biasa kan? Jangan iri. Kuharap kau juga segera menemukan seseorang sepertiku. Aku tidak membayangkan hidup tanpa kekasih,” Reiji masih saja mengumbar senyum lebarnya.

“Begitu? Jadi Anda akan kencan lagi setelah kerja nanti?”

“Kami akan kencan akhir minggu. Di samping itu, Misa-san punya rencana hari ini. Aku tidak bisa menemuinya karena punya pekerjaan juga,” aku Reiji.

Sekali lagi, sekt.Maiko dibuat takjub, “Presdir, Anda memanggilnya Misa-san?”

Reiji mengangguk mengiyakan, “Dia memanggilku Rei-san. Cara dia memanggilku seperti itu, membuat namaku jadi keren.”

“Kalau Anda begitu menyukainya, haruskah saya memanggil Anda dengan ‘Rei-san’ juga?” sindir sekt.Maiko.

“Hentikan. Itu jadi … tidak terdengar keren!”

Ieyasu menyusul Reiji saat jam makan siang. Mereka berada di lift turun. Ieyasu mengajukan ide untuk makan bersama. Tapi Reiji tampak tidak antusias sama sekali.

“Aku memutuskan setelah dua bulan kita makan bersama, Anda dan aku akan makan siang bersama lagi,” ujar Ieyasu.

“Menyesal sekali, tujuanmu tidak akan tercapai,” ujar Reiji dingin.

Ieyasu akhirnya merasa kalau belakangan Reiji, sang bos, tampak tidak terlalu antusias bicara dengannya, bahkan hanya sedikit bicara. Menurut Ieyasu, Reiji hanya lebih perhatian pada karyawan baru saja. Alarm bahaya menyala di kepala Reiji, ia mengelak cepat. Tapi Ieyasu belum menyerah. Ia mengaku tahu kalau Reiji dan Misaki bertemu di pusat kebugaran. Reiji buru-buru mengelak kalau itu kebetulan.

Tapi ketakutan Ieyasu ternyata … konyol, “Apakah Misaki-chan adalah kandidat presdir baru?”

“Huh, kau bilang apa?” Reiji bingung.

“Jangan pura-pura. Sebagai tangan kanan Anda, aku tidak akan tinggal diam jika dia (Misaki) jadi penerusmu!” ujar Ieyasu.

Reiji benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala karyawannya satu ini, “Sejak kapan kau jadi tangan kananku?”

“Tidak hanya tangan kanan, tolong percayakan juga tangan kiri Anda!”

“Lebih baik kau tutup mulut saja, membuat moodku jadi buruk!” Reiji pun keluar dari lift dengan kesal.

Misaki membantu Mahiro yang sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk rapat. Mahiro mengaku menyerah mengejar cinta ketua tim Goro-san. Ia mengaku kalau sejak pesta perayaan pernikahan Katsunori-san, Mahiro sadar kalau ketua tim Goro-san tidak tertarik padanya. Misaki terkejut dengan keputusan Mahiro ini. Ia khawatir pada Mahiro.

“Aku akan menemukan pengganti secepatnya. Kenalkan padaku kalau kau punya kenalan pria tampan ya?” pinta Mahiro kemudian.

Reiji datang ke bar dan minum bersama presdir Wada malam itu.Ia pun sudah menceritakan soal Misaki yang kini sudah jadi kekasihnya. (hubungan dua presdir ini memang aneh. Di sisi lain mereka adalah saingan, di lain sisi mereka bersahabat). Mendengar kabar itu, presdir Wada pun memberikan selamat dan mengajak Reiji untuk toas minuman.

“Ada yang ingin kukatakan padamu Wada-san. Sebenarnya, tidak ada satupun strategi yang kau katakan padaku, membantu. Pengakuan perasaanku padanya yang membuat kami akhirnya kencan, semuanya adalah ideku. Dengan kata lain, aku memenangkan hatinya dengan kekuatanku sendiri!” ujar Reiji sok.

“Maaf kalau itu tidak membantu. Tapi aku tidak pernah mengira kalau kau dan Shibayama Misaki akan kencan,” presdir Wada berubah serius. “Kau juga tahu kan, kalau aku bertemu dengannya di Paris beberapa kali?”

Reiji curiga, “Jangan bilang, kau akan menceritakannya soal rahasia romansa kantoran.”

“Tentu saja aku tidak akan menceritakannya. Kau bisa percaya sedikit kan? Jadi, kau akan mengajaknya ke pesta minggu depan kan?”

“Memang begitu seharusnya kan. Itulah alasan awalnya, aku memilih dia,” ujar Reiji.

“Baguslah, karena kau sudah memenangkannya.” Presdir Wada kemudian menceritakan soal ketua baru asosiasi pengusaha hotel, Takada dari Yokohama Imperatto Hotel yang terkenal sangat suka berdansa.

“Kelihatannya menarik kan?”

“Itulah, beruntungnya kau sudah punya pasangan tahun ini. Kalau kau sendirian sementara semua orang berdansa … bukankah kau akan terlihat menyedihkan?” (nggak ngerti ini maksud presdir Wada apaan deh. Sekedar mengingatkan atau malah membuat Reiji makin terpojok?)

Sekt.Maiko tengah mengecek email undangan pesta asosiasi pengusaha hotel untuk Sabtu ini. Dan salah satu point yang ditonjolkan adalah … dansa. “Apa presdir tahu cara berdansa?”

Katsunori-san yang ada di dekatnya mengiyakan, “Sepertinya dia pernah belajar saat masih di Inggris, dia mengambil bagian dalam pesta dansa tiap malam.”

Sekt.Maiko agak ragu untuk satu hal ini. Tapi Katsunori-san meyakinkan kalau Reiji sangat percaya diri untuk bidang satu ini. “Baik kau atau beruang, presdir mengatakan tidak masalah kalaupun pasangannya tidak bisa berdansa.”

“Kenapa kau bandingkan aku dengan beruang?” sekt.Maiko tampak tidak senang.

Reiji rapat dengan para karyawannya. Saking bahagianya, Reiji tidak begitu memerhatikan. Ia justru meminta pendapat Misaki soal rencana yang tengah disusun dalam rapat itu. Tidak ingin berlama-lama, Reiji pun menutup rapat itu dan beranjak pergi.

Langkah Reiji terhenti saat mendengar ketua tim Goro-san mengatakan kalau ia ada perjalanan bisnis akhir minggu ini dan menawarkan rekan-rekannya jika ingin ikut. Mahiro tampak ragu, sementara Ieyasu tidak memberikan jawaban. Tidak ada pilihan lain, Misaki pun mengajukan diri untuk berangkat. Tentu saja Reiji kesal dengan ini.

Tapi Mahiro rupanya berubah pikiran. Ia pun tiba-tiba saja mengajukan diri untuk ikut pergi. Ieyasu pun mengacungkan tangannya. Karena Goro-san tidak bisa memilih siapa yang akan diajaknya pergi, Reiji pun turut campur. Ia usul agar ini ditentukan dengan permainan jankenpon—batu-gunting-kertas. Mereka semua setuju dengan hal ini. Tapi alarm bahaya kembali terdengar di kepala Reiji, ia mengingatkan kalau mereka ikut, artinya mengorbankan libur. Tapi Ieyasu mengatakan tidak masalah, karena mereka memang sudah mengerjakan proyek ini sejak awal.

Tidak bisa membiarkan kesempatan mengajak Misaki batal, Reiji pun menyuruh mereka semua bubar dan bertemu lagi setelah makan malam untuk menyelesaikan semua itu. “Orang yang punya keinginan terbesar, yang akan memenangkan tiket perjalanan bisnis ke Kyoto!”

Reiji kembali di ruangannya. Ia sudah heboh di depan Katsunori-san dan sekt.Maiko, kalau rencananya mengajak Misaki kemungkinan batal. Reiji menceritakan kalau ada kemungkinan Misaki akan ada perjalanan bisnis ke Kyoto akhir minggu ini.

“Kalau Misa-san menang dalam permainan jankenpon ini … “

“Kalau begitu, bilang saja padanya untuk membatalkan perjalanan bisnis itu,” saran sekt.Maiko.

“Tapi kita jadi atasan dan bawahan kalau di kantor … “ Reiji makin panik.

Tapi Katsunori-san menenangkannya dan mengatakan kalau masih ada harapan. Bisa saja Ieyasu atau Mahiro yang menang. Reiji lalu meminta Katsunori-san untuk melakukan sesuatu untuknya.

Malam itu, Mahiro seperti biasa keluar dan makan bersama Misaki. Ia tampak menyesal karena mengajukan diri untuk ikut pergi bersama ketua tim Goro-san, padahal tadinya ia sudah mengaku menyerah soal perasaannya.

“Saat ada peluang, aku berpikir kalau mungkin saja ini kesempatan terakhir, jadi aku ambil,” aku Mahiro.

Misaki mengerti, “Kalau begitu, aku yang mundur saja.

“Ah jangan! Karena kalau pun aku menang, itu pasti jadi takdirku dan aku akan lebih percaya diri. Selain itu, bukankah presdir juga bilang kan, orang yang punya perasaan kuat yang akan menang,” Mahiro makin yakin.

Diam-diam, Reiji menyusul Ieyasu yang ada di toilet. Ia berupaya supaya si Ieyasu ini yang nantinya bisa menang dalam jankenpon. Ieyasu mengaku selama ini tidak pernah kalah. Tapi saat dicoba, ternyata dua kali Ieyasu selalu kalah. Reiji kesal dengan gaya sok anak ini.

Tapi Ieyasu belum menyerah. Ia berpikir kalau nanti pasti akan menang. Melihat semangat karyawannya yang satu ini, harapan Reiji perlahan kembali. Ia pun memberikan ‘jimat keberuntungan’ pada Ieyasu dan berpesan agar kalau menang nanti, Ieyasu harus benar-benar serius dengan proyeknya.

“Kalau aku menang, bisa kita makan siang bersama?” pinta Ieyasu kemudian.

“Tentu saja. Kamu boleh makan apapun yang kamu,” ucapan Reiji ini makin membakar semangat si Ieyasu.

Permainan jankenpon pun siap dimulai. Bahkan karyawan lain pun ikut bergabung untuk menonton. Reiji yang awalnya mendukung Ieyasu untuk menang akhirnya kesal karena Ieyasu ini justru langsung kalah di percobaan pertama.

Sekarang tinggal Misaki dan Mahiro yang bersaing. Ieyasu pun memberikan jimatnya pada Misaki, karena ia tidak mau Mahiro yang nantinya akan menang. Reiji yang tahu hal ini melarangnya, karena ia lebih suka Mahiro yang menang, bukan Misaki.

Permainan berikutnya dimulai. Setelah percobaan ketiga, akhirnya Mahiro-lah yang menang. Reiji tentu sangat senang dengan hasil ini. Ia tidak peduli pada yang lain, yang ia pedulikan adalah masih ada kesempatan mengajak Misaki ke pesta asosiasi hotel.

Reiji kembali ke ruangannya dengan perasaan yang lebih lega, tapi tetap saja mengomel kesal. Saat kencan besok, Reiji berencana akan meminta Misaki untuk menemaninya datang ke pesta asosiasi hotel. “Gaya kami adalah tidak mencampurkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan.”

“Jadi setelah akhir pekan, saya akan memasukkan nama Anda dalam daftar undangan yang akan datang,” ujar sekt.Maiko. “Kemana Anda akan kencan besok?”

“Kuserahkan pada Misa-san. Dia bilang, tempat dia ingin mengajakku untuk datang.”

Akhir pekan pun datang. Misaki sudah berdandan rapi saat jarum panjang jam menunjuk angka 11 lewat. Ia pun mengambil ponselnya dan mengirimi Reiji sebuah pesan. Aku akan datang jam 1 nanti. Sampai jumpa nanti.

Reiji pun tengah bersiap di apartemennya. Beberapa pakaian diambilnya dan dicobanya, tapi belum ada yang cocok. Pesan dari Misaki pun mengalihkan perhatian Reiji. Saking senangnya mendapat pesan dari Misaki, Reiji sampai bingung untuk memberikan balasan. Dari balasan gaya imut, tegas hingga akhirnya Reiji memilih gaya pesan ‘datar’. Reiji yang tidak sadar kalau sudah banyak menghabiskan waktu hanya untuk membalas pesan Misaki akhirnya buru-buru ganti pakaian dan bersiap pergi.

Kemana Misaki mengajak Reiji pergi? Mereka datang ke sebuah acara ‘Shoten’ (Na nggak yakin juga apa ini). Dan dalam waktu singkat saja, Reiji sudah bisa ikut tertawa seperti penonton lainnya. Reiji melirik ke arah Misaki yang tampak sangat senang melihat acara itu.

Tak terasa, acara pun selesai. Saat ditanya oleh Reiji, Misaki mengaku suka karena pernah dengar dari kakeknya. Reiji pun mengaku kalau ternyata acara ini jauh lebih menarik dari yang ia perkirakan sebelumnya. Reiji bahkan berpikir untuk mendengar lebih banyak lagi.

“Kalau begitu, aku bisa pinjamkan CD-nya kalau kau mau?” tawar Misaki yang tidak mungkin ditolak oleh Reiji.

Tapi semua ternyata tidak berjalan lancar seperti yang diinginkan. Bagaimana Reiji dan Misaki akan menghadapinya?

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 06 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top