Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 05 part 2

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 05 part 2

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 05 part 2. Reiji masih saja terus uring-uringan tidak jelas. Ia masih menunggu Misaki memberikan jawabannya. Meski di depan Misaki Reiji tetap bersikap sabar dan baik-baik saja, tapi di balik semua itu hatinya sudah terus bergemuruh kesal.

Reiji tengah asyik membuka-buka buku panduan pesta di mejanya saat sekt.Maiko masuk an memberikan buku lain. Sebentar lagi mereka akan mengadapan pesta perayaan pernikahan sopir Katsunori-san dan Reiji ingin melakukan sesuatu untuknya.

“Apa semuanya akan datang?” tanya Reiji.

“Ya. Shibayama Misaki juga akan hadir,” ujar sekt.Maiko.

Mata Reiji membulat saat membaca isi bukua yang tengah dipegangnya, ‘Kejutan: Cara untuk Membuat Tamu Tidak Merasa Bosan’. Tapi saat sekt.Maiko ingin tahu, Reiji buru-buru menarik buku itu menjauh.

Pesta yang sudah dipersiapkan pun tiba. Para staf berkumpul di bar untuk makan dan minum. Katsunori-san merasa sangat berterimakasih karena orang-orang mau ikut merayakan pestanya itu. Salah satu staf bertanya soal bagaimana Katsunori-san bertemu pasangannya ini.

Akhirnya Katsunori-san pun memulai cerita. Dia dan pasangannya ini bertemu saat masih SMA dulu. Mereka pernah kencan sekali, tapi karena Katsunori-san berandalan saat itu, si wanita meninggalkannya. Setelah lulus dari universitas, si wanita sempat bekerja di organisasi internasional sehingga sering berada di luar negeri. Dan setelah 30 tahun, si wanita akhirnya bersedia memberikan Katsunori-san kesempatan kedua dan mau menerimanya.

Para staf itu merasa takjub luar biasa. Karena menunggu 30 tahun jelas bukan hal biasa. Meski memang selama ini pekerjaan Katsunori-san kebanyakan menunggu presdir Reiji, tapi tetap saja 30 tahun adalah suatu yang sangat istimewa.

Mendengar kisah ini, Ieyasu langsung sumringah. Meski selama ini cintanya ditolak oleh Mahiro, ia yakin kalau akan tetap menunggu sampai Mahiro mau menerimanya, bahkan kalau perlu selama 31 tahun. Mahiro jelas menolak ide ini, ia berkeras tidak akan tertarik sama sekali dengan Ieyasu. Tapi Ieyasu tetap tidak berubah pikiran.

Melihat keseriusan Ieyasu ini, ketua tim Goro-san pun setuju. Ia berpikir kalau Mahiro dan Ieyasu akan cocok. Mahiro terkejut, karena orang yang dia sukai justru bicara seperti ini. Karena kesal, Mahiro kemudian mengajak semuanya untuk minum lagi. Dan ia sendiri minum cukup banyak malam itu.

Tidak lama setelah Reiji datang bersama sekt.Maiko dan seorang pria asing. Reiji pun memperkenalkan pria ini sebagai sopir pengganti, namanya Jack. Si pria asing ternyata sangat mahir bicara bahasa Jepang. Katsunori-san dan karyawan lain keheranan karena tiba-tiba saja Reiji mencari sopir pengganti tanpa pemberitahuan lebih dulu.

Tapi sekt.Maiko kemudian yang menjelaskan semuanya. Jack ini akan mengantar Reiji pulang malam ini. Dan dia adalah sopir pengganti selama Katsunori-san diberi cuti untuk bulan madu. Cuti ini adalah hadiah pernikahan dari Reiji untuk Katsunori-san atas dedikasi kerjanya selama ini.

Sekt.Maiko kemudian menyodorkan semacam kartu pada Reiji. Reiji melirik sekilas ke arah Misaki yang ternyata tengah membantu Mahiro yang terlanjur mabok, di pinggir ruangan. Usaha Reiji untuk menarik perhatian Misaki pun gagal. Saking senangnya mendapat bonus dari sang bos, Katsunori-san pun memeluk Reiji diiringi tepuk tangan dari karyawan lainnya.

Pesta pun berlanjut. Tapi Reiji memilih duduk sendirian dan minum sambil sesekali melirik ke arah Misaki yang masih sibuk mengurus Mahiro. Reiji sudah kehilangan harapan untuk bersikap baik agar Misaki terkesan olehnya.

Misaki pun kemudian minta izin pada Reiji untuk pergi dulu, karena akan mengantar Mahiro yang mabuk. Reiji hanya mengangguk mengijinkan tanpa berkomentar lebih panjang lagi.

Reiji kembali pada minuman di hadapannya. Bahkan saat ketua tim Goro-san mengajak Reiji untuk bergabung dengan mereka minum lagi di tempat lain, Reiji menolak. Reiji memilih untuk pulang saja ke apartemennya.

Mahiro sudah cukup sadar dari maboknya. Ia bersama Misaki berhenti di sisi jembatan, menikmati udara malam yang segar. Mahiro menyesal sekali karena sudah menyusahkan Misaki karena minum banyak malam itu. Tapi Misaki tidak merasa keberatan dengan itu.

Mahiro menanyakan soal ungkapan cinta dari Reiji. Tapi Misaki mengatakan kalau ia belum memberikan jawaban apapun. Mahiro berpikir kalau sayang sekali jika ditolak. Karena impian Misaki adalah membuat hotel sendiri, maka menerima Reiji bisa jadi jalan yang tepat untuk mewujudkan mimpi itu.

“Tapi impian dan cinta tidak sama,” ujar Misaki. “Aku tidak pernah berpikir menginginkan seorang pria untuk membantu mewujudkan impianku.”

“Kenapa? Bukankah bagus jika kalian berdua berjalan bersama menuju tujuan yang sama?” Mahiro heran.

“Aku ingin kami berjalan bersama. Tapi kurasa aku tak mau dia mengulurkan tangan padaku. Aku tak akan sanggup melangkah jauh jika tak menggunakan kekuatan sendiri, ‘kan?”

Tetap saja Mahiro menganggap kalau keputusan Misaki ini terlalu serius. Kesempatan di depan matanya justru tidak segera diambil.

Reiji pulang ke apartemennya. Dia masih saja mengomel kesal karena Misaki tidak mengacuhkannya dan justru asyik membantu rekannya yang sakit. Reiji protes, kemana kebaikan Misaki untuknya. Reiji juga kesal karena Misaki pernah meminta waktu untuk berpikir, tapi hingga hari ini pun belum ada jawaban untuknya.

“Seorang pria populer terus memberi dan tidak meminta kebaikan,” komentar sekt.Maiko.

“Aku lelah karena hanya aku yang berusaha keras soal ini. Tidak masalah jika aku bukan pria toleran dan tak bisa mengatakan kebohongan manis. Aku tak terbiasa dengan usaha untuk menjadi pria populer. Aku tidak bisa membiasakan diri,” omel Reiji lagi.

Malam itu bulan sedang terang. Reiji duduk di teras memandang langit. Pikirannya masih terus mengangkasa pada Misaki. Tidak berbeda, Misaki yang sedang berendam di pemandian pun masih memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya pada Reiji.

Hari berjalan seperti biasanya. Omelan Reiji soal Misaki sudah mulai tak terdengar. Reiji sendiri sibuk dengan pekerjaan yang hilir mudik tiap waktu. Ia bahkan mengabaikan dan kembali tidak menjawab salam dari para karyawannya saat baru saja tiba di kantor.

“Permisi. Aku sudah menyelesaikan proposal untuk pengembangan ruang anak-anak di cabang Kanazawa,” ujar Misaki yang baru saja masuk ke ruangan Reiji.

Saat itu Reiji tengah berdiri dan membelakangi Misaki. Ia sama tidak terlalu antusias, “Baik… Simpan di mejaku, akan ku baca nanti.”

“Apa hari ini anda akan ke pusat kebugaran?” tanya Misaki kemudian.

Reiji hanya melirik sekilas, “Ya, rencananya begitu.”

“Soal jawaban yang anda tunggu.”

“Begitu. Aku akan ada di pusat kebugaran hingga pukul 19:00,” ujar Reiji akhirnya.

Kesibukan kantor berlanjut seperti biasa. Misaki baru saja akan bersiap pulang karena rencananya untuk datang ke pusat kebugaran sore ini. Tapi Shizuo-san menahannya dan meminta Misaki menggantikannya rapat dengan desainer furnitur hotel mereka, karena sang desainer berasal dari Prancis. Meski agak berat, Misaki pun menyetujui permintaan ini karena kemungkinan Misaki bisa selesai jam 6 nanti. Artinya dia masih punya waktu untuk menemui presdir.

“Boleh aku pinjam materi rapat?” pinta Misaki kemudian.

Sekt.Maiko masuk ruangan saat Reiji tengah membaca proposal yang tadi ditinggalkan oleh Misaki. Sekt.Maiko berpikir kalau waktu yang ditunggu Reiji akhirnya datang dan itu pertanda baik.

“Bagaimanapun, dia pasti akan menolakku,” tapi Reiji sudah terlanjur hopeless.

“Tolong jangan menyerah lebih dulu,” ujar sekt.Maiko

Tapi Reiji tidak mau berkomentar lagi. Ia tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari kertas yang ada di depannya.

Misaki sudah datang di tempat pertemuan. Tapi rupanya ia masih harus menunggu karena tim dari desainer furnitur datang terlambat.

Setelah sang desainer datang, mereka pun langsung melakukan rapat. Sang desainer yang berasal dari Prancis sangat senang karena ia disapa oleh Misaki yang ternyata fasih bicara dalam bahasa Prancis. Rapat berlangsung cukup lama hingga tanpa sadar waktu sudah lewat dari pukul enam sore.

Reiji sudah menunggu di pusat kebugaran sejak jam enam. Waktu pun berlalu, hingga akhirnya angka berubah dari 18.30 dan kemudian 19.00. Reiji masih terdiam sambil menunggu. Sayangnya belum ada tanda-tanda kalau Misaki akan datang. Reiji pun beranjak pergi.

Misaki mencoba menghubungi kantor karena ia tidak punya nomer telepon Reiji. Sayangnya di kantor sudah tidak ada orang satupun yang menjawab telepon dari Misaki.

Setelah berganti pakaian, Reiji kembali ke mobilnya. Ia mengatakan kalau Misaki sama sekali tidak muncul. Sekt.Maiko dan Katsunori-san membujuk Reiji agar menunggu sebentar lagi. Tapi Reiji tidak bersedia dan justru protes karena ia sudah menunggu terlalu lama sejak beberapa hari yang lalu.

“Seandainya pun dia ingin menghubungi anda, tapi dia tidak punya nomor kontak anda,” bujuk sekt.Maiko lagi. Tapi Reiji tidak mau dengar.

Katsunori-san melihat ke arah sekt.Maiko dan setuju kalau mereka akan pulang. Ia pun menyalakan mesin mobil bersiap melaju. Tapi …

Tapi tiba-tiba saja Reiji membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Saat dihentikan oleh sekretaris dan sopirnya, Reiji mengaku kalau ia merasa belum cukup berolahraga hari itu. Jadi ia akan kembali lagi.

Reiji kembali ke pusat kebugaran, berganti pakaian dan mulai berlari. Ingatan tentang Misaki berseliweran dalam kepalanya. Pertanya kali bertemu dengan Misaki saat kunjungan di hotel cabang, saat itu Misaki yang masih karyawan magang, sama sekali tidak takut padanya. Lalu saat Reiji melihat Misaki yang menangis saat di pusat kebugaran. Reiji yang mencoba minum susu setelah berendam demi menarik perhatian Misaki. Reiji yang meminta Misaki untuk membantunya mencarikan nama anjing kecil. Hingga perjalanan mereka untuk menemui chef Tanaka beberapa waktu yang lalu. Dan terakhir hingga saat Reiji mengungkapkan perasaannya pada Misaki.

Bagaimana Misaki? Setelah keluar dari tempat pertemuan dengan klien, Misaki pun berlari kembali ke kantor. Tapi di suatu tempat, Misaki berhenti. Ia kembali memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Reiji nantinya.

Lamunan Reiji saat berlari dihentikan oleh panggilan sekt.Maiko yang mengatakan kalau sudah cukup Reiji menunggu selama ini.

“Jangan salah sangka. Kalian menduga aku sedang menunggunya? Aku… diam-diam… mengincar medali emas…di Olimpiade,” ujar Reiji sambil terengah-engah.

Sudah jelas ini hanya alasan Reiji saja. sekt.Maiko dan Katsunori-san sudah paham akan maksud bosnya ini. Tapi saat melihat seseorang datang mendekat sambil berlari, sekt.Maiko dan Katsunori-san buru-buru menyingkir dan bersembunyi.

Terengah-engah Misaki menyapa Reiji. Ia sangat menyesal dan minta maaf karena datang terlambat. Tapi siapa yang datang, Reiji mengurangi kecepatan larinya dan perlahan berhenti.

“Ku pikir anda sudah pulang,” ujar Misaki. “Karena anda bilang akan berada disini hingga pukul 19:00.”

“Sebenarnya, aku juga baru tiba di sini,” Reiji berbohong.

Misaki melirik jam digital di alat itu dan melihatnya lebih dari 75 menit dan jarak yang sudah ditempuh sekitar 11 km. Artinya Reiji berbohong barusan. “Maaf, sudah membuat anda menunggu jawaban dariku.”

“Tidak… Jangan khawatirkan itu. Waktu setelah kita melihat telur medaka menetas bersama hingga hari ini, terasa berlalu sangat cepat hingga aku tak menyadarinya,” elak Reiji pula. Ia kembali berbohong.

“Aku kesulitan memutuskan semenjak hari itu,” lanjut Misaki. “Tentang pekerjaanku, impianku, dan juga, tentangmu. Aku berpikir untuk menolakmu. Tapi dalam perjalanan kemari, aku berpikir, “Kenapa aku berlari?” Akhirnya semua menjadi jelas. Aku juga, memiliki perasaan sama padamu.”

Hampir saja Reiji dibuat kehilangan harapan. Tapi ternyata ini berbeda. Reiji tidak menyangka jika Misaki akan menjawab demikian, “Be… begitu. Jadi artinya… itu, sekarang kita bisa berkencan?”

Misaki mengangguk sambil tersenyum lebar. “Aku juga menantikan hubungan ini.”

Reiji pun tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya. Dari balik tempat persembunyian, sekt.Maiko dan Katsunori-san pun ikut bahagia atas bosnya ini.

Malam itu, Reiji pulang ke apartemennya sambil terus tersenyum dari kursi belakang mobilnya. Sekt.Maiko dan Katsunori-san pun tahu benar hal ini. Mereka ikut senang atas kebahagiaan Reiji.

“Ada satu hal yang aku sembunyikan dari kalian. Orang yang aku suka saat SD bukan penjaga perpustakaan yang pendiam. Tapi seorang ketua kelas baik hati dengan rasa keadilan tinggi,” aku Reiji.

“Anda berhasil, Pak. Anda selalu mencapai tujuan yang anda tetapkan,” komentar Katsunori-san pula.

“Apa itu?”

“Bukankah anda mendeklarasikannya di dalam mobil ini dua bulan lalu? Anda berjanji pada diri sendiri akan membawanya ke pesta Asosiasi Perhotelan,” lanjut Katsunori-san.

Reiji mengerti. Sekt.Maiko mengingatkan kalau pesta itu adalah minggu depan. Dan Reiji sudah tidak perlu khawatir lagi, karena ia tidak akan datang sendirian lagi kali ini.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 06 part 1

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

6 comments

  1. Makasih Na sinopsisnya..hmm semoga cepet dilanjutin yak. Ditunggu lho, penasaran sama kisah cinta bang ohno. Btw di episode part 1 (kalo ga salah) ada istilah ketjupable, apaan tuh? Aku bacanya senyum2 kesel gimana gituu… Hehe

    • iya, semoga bisa segera lanjut ya
      ini lagi agak repot sm real life jg soalnya,
      semoga Na masih terus punya energi buat nyelesaiin tulisan, hehe

      itu istilah aneh ya? hehehe
      ketjup-able artinya kira-kira gini …
      “klo km liat bibir itu, rasanya pengen nge-kiss” gitu, hahahaha

  2. semangat kak…….ditinggu
    kelanjutanya.

Leave a Reply

Scroll To Top