Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 05 part 1

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 05 part 1

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 05 part 1. Malam itu Reiji menginap di kantor karena menunggu momen saat ikan medaka-nya menetas. Misaki yang tahu soal itu, ikut bergabung juga. Dan kata ‘suka’ itu pun terlontar begitu saja dari bibir Reiji, alami. Bagaimana reaksi Misaki?

(btw, Na suka sama wajah bang Ohno di gambar ini deh. Aih, itu kok pipi sm bibirnya ketjup-able banget ya? Klepek-klepek deh dilirik model begitu)

Bagaimana reaksi Misaki atas pengakuan sang bos?

“Tolong beri aku waktu untuk berpikir,” ujar Misaki salah tingkah. Ia pun pamit dan beranjak pergi meninggalkan Reiji yang masih belum sepenuhnya menguasai diri.

Reiji kesal sekaligus penasaran. Jam sudah menunjuk angka 11 saat Reiji meminta kedua karyawan terdekatnya bertemu di ruang rapat. Lalu ucapan Misaki tadi ‘tolong beri aku waktu untuk berpikir’, terpampang jelas di papan.

Reiji masih berusaha mencari tahu. Ia pun memuji Katsunori-san atas cara mengemudinya. Lalu jawaban Katsunor-san adalah ‘terimakasih’. Reiji menganggap itu wajar. Tapi ia heran, kenapa saat ia mengaku suka pada Misaki, jawaban Misaki adalah ‘minta waktu untuk berpikir’? “Apa sebenarnya maksud jawaban balasan, “Tolong beri aku waktu untuk berpikir”?” Reiji menggumam sendiri.

Sekt.Maiko dan Katsunori-san mengerti, “Presdir, apa anda menyatakan perasaan pada Shibayama Misaki?”

“Ya, kenapa kau kaget?” jawab Reiji datar saja.

“Bukankah anda sangat menderita karena tak bisa mengungkapkannya? Selamat, Pak!”

Tapi Reiji merasa itu tidak pantas diberi ucapan selamat. Reiji kesal sendiri, setelah usaha kerasnya untuk mengatakan ‘suka’, tapi jawaban Misaki justru tidak jelas seperti ini. Tapi dasar Reiji, imajinasinya membuat ia berpikir aneh-aneh soal Misaki, dari mengundurkan diri dari perusahaan hingga menuntut atas pelecehan seksual.

Katsunori-san pun memberikan masukan untuk Reiji. Mungkin Misaki butuh waktu untuk memikirkan, akan seperti apa hubungan mereka nantinya. Dan lagi, kalau Misaki memang tidak tertarik, dia pasti akan langsung menolak. Reiji perlahan mulai bisa memahami hal ini.

Bagaimana dengan Misaki? Dia sendiri melamun sambil memegangi botol susu yang belum dibukanya. Misaki baru saja selesai mandi. Hingga pemilik pemandian pun menegur Misaki soal itu. Misaki sendiri masih bingung. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakannya. Bahkan Misaki merasa jika perasaan hatinya dan ucapannya berbeda.

Reiji? Tidak kalah galaunya. Reiji terus saja bolak-balik di ranjangnya, tidak bisa tidur. Reiji mengingat-ingat saat beberapa kali ia melontarkan pertanyaan aneh pada Misaki. Dan meski dipikir pun, Reiji masih belum bisa menemukan, apa yang sebenarnya dirasakan oleh Misaki padanya.

Pagi itu Reiji bersiap ke kantor seperti biasa. Teringat jika warna kesukaan Misaki adalah hijau, Reiji pun memakai dasi berwarna hijau dengan garis hitam. Tapi saat masuk, Reiji dibuat kaget karena Misaki tengah berdiri di sana.

Buru-buru Misaki menunduk, menghindari tatapan Reiji, “Selamat pagi,” sapanya kemudian.

Sadar akan kedatangan sang bos, Misaki dan yang lain menyapa Reiji seperti biasa. Dan hari ini lain dari yang lain, karena Reiji membalas sapaan mereka. Misaki yang salah tingkah buru-buru kembali ke kursinya. Para karyawan pun langsung bergosip seperti biasa, soal si bos yang kembali menjawab salam mereka, padahal lama tidak melakukan itu.

Seorang karyawan tengah mengantar tamunya. Ia mengatakan jika minta diberi waktu beberapa hari terlebih dahulu untuk memikirkan tawaran kerja dari sang tamu tadi.

Rupanya Reiji mendengar pembicaraan mereka. Ia heran kenapa harus ada kalimat ‘tolong beri aku waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu’. Si karyawan bilang kalau tawaran tamu tadi akan ditolak. Tapi ia mengatakan soal minta waktu supaya si tamu tidak kecewa karena sudah susah payah datang ke kantor mereka.

Reiji tampak tidak suka, “Padahal kau akan menolaknya, tapi kau berpura-pura mempertimbangkannya? Dengan melakukan ini menurutmu itu akan membuat pihak lain merasa senang?”

Si karyawan mengerti, “Aku akan menolaknya sekarang juga!” ia lalu pamit mengejar si tamu tadi.

“Bukan itu maksudku!” Reiji kesal sendiri.

Reiji kembali ke ruangannya. Tapi di pintu, sekilas ia melihat ke arah Misaki yang tengah sibuk bekerja. Reiji makin ‘hopless’. Tahu bos-nya galau, sekt.Maiko pun menyusul ke dalam.

“Jika dia mengatakan, “Tolong beri aku waktu untuk berpikir…” seharusnya dia memberikan jawabannya sejak awal. Wanita itu hanya berpura-pura memikirkannya, padahal dia sudah membulatkan pikiran untuk menolakku,” Reiji mulai sesi curhatnya.

“Bagaimana anda tahu bahwa hal itu?”

“Dia takut menolak presdirnya. Lihat kenyataan. Bisakah seorang wanita yang mempertimbangkan masalah cinta dengan seksama, akan sefokus itu apa pekerjaannya?”

“Anda sedang memujinya? Atau menjelek-jelekannya?” ujar sekt.Maiko to the point.

“Menyebalkan.” Reiji beranjak dari kursinya, menatap jendela. “Aku merasa seperti sedang menunggu selamanya.” (pukpuk. Ada yang mau ngasih pundak buat Reiji? kkkkk)

Reiji baru saja masuk lift saat Misaki menyusulnya. Mau tidak mau, mereka tidak bisa menghindar terjebak dalam lift, berdua.

Di tengah drama saling diam, Misaki akhirnya memulai pembicaraan, “Mengenai pembicarakan kita, Aku minta maaf telah membuat anda menunggu. Apa bisa, jika aku meminta waktu lebih lama untuk memikirkannya?” pintanya kemudian.

“Begitu. Tentu,” Reiji pun setuju.

Pint lift terbuka. Misaki pamit keluar lebih dulu. Reiji tidak menyusul dan membiarkan pintu lift kembali tertutup. Ia membalik tubuhnya menghadap tembok, menarik nafas berat. Ternyata jatuh cinta bisa membuat Reiji mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Rapat baru saja selesai. Misaki lalu mendekati Mahiro. Ia mengajak Mahiro bertemu setelah jam kerja nanti. Mahiro heran karena Misaki bilang ingin minta maaf soal sesuatu.

“Apa mungkin soal Presdir?” tebak Mahiro. Malam itu, ia bersama Misaki duduk di kafe tempat mereka kumpul seperti biasa.

“Eh? Bagaimana kau tahu?” Misaki heran.

Mahiro tersenyum, “Tebakanku saja. Aku merasa sudah sejak lama presdir memperhatikanmu. Intuisiku selalu tajam jika soal menebak seseorang suka siapa.”

“Saat kau membicarakan tentang temanmu tempo hari, kau bertanya padaku, ‘kan?” Misaki pun mulai pengakuannya. “Cerita soal dia bertunangan dengan bosnya setelah sebulan bergabung dengan perusahaan. Saat itu, aku mengatakan, “Itu menjijikkan” dan sekarang, aku berada di posisi sama, aku tidak serta merta menolaknya saat itu juga.”

“Aku bahagia sekali,” ujar Mahiro tulus. “Misaki-san, soal kondisi ini, kau berusaha sungguh-sungguh untuk menerima perasaan orang lain, bukan?”

“Aku sama sekali tak tahu harus bagaimana,” keluh Misaki.

“Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah memikirkannya kembali hingga menemukan jawabannya, ‘kan?” saran Mahiro yang dijawab Misaki dengan anggukan tanda setuju.

Reiji pulang ke apartemen mewahnya. Ia melihat ke arah dasi hijau-nya dan merasa ini sia-sia. Saat itu sekt.Maiko masih bersamanya.

“Itu bagus, bukan? Itu artinya dia serius soal ini,” komentar sekt.Maiko saat Reiji curhat lagi tentang pertemuan tadi dengan Misaki di lift.

“Meski begitu, aku tak bisa menunggu selamanya. Kesabaranku ada batasnya,” keluh Reiji.

“Tapi, jawaban terburu-buru akan memberikan hasil yang tidak menyenangkan.”

Reiji masih mendebat sekretarisnya itu, “Hal yang paling aku benci melebihi apapun adalah menunggu. Kau sendiri tahu soal itu, ‘kan?”

“Tapi jika anda mencintainya, anda harus menunggu,” saran sekt.Maiko.

“Aku tak suka wanita yang terus membuat pria menunggu.”

Sekt.Maiko mengingatkan satu hal, “Pria yang tak bisa menunggu tidak populer.”

“Kau masih saja membawa masalah tidak populer di kondisi seperti ini?”

“Mengatakan tidak suka wanita yang terus membuat pria menunggu…Bukankah itu sekedar rengekan tanpa sebab jelas?” sindir sekt.Maiko. “Saat ini anda tinggal selangkah lagi dari tujuan. Sejak anda bertemu dengannya, anda belajar untuk berbohong demi menyenangkan wanita. Berusaha menjadi pria toleran, hingga akhirnya anda bisa menyatakan perasaan. Jika anda menyerah sekarang, semua usaha hingga saat ini akan sia-sia. Pria yang menunggu wanita yang dia sukai pasti akan menjadi pria populer.”

“Sungguh melakukan ini akan membuatku populer?” tanya Reiji balik.

“Ya, tunggulah sebentar lagi,” sekt.Maiko lalu pamit pulang.

Ishinaga Katsunori, sang driver

Sebagian besar pekerjaanku adalah menunggu. Pagi hari, aku tiba 15 menit lebih awal dari jadwal. Setelah mengantar presdir ke kantor, aku melakukan perawatan mobil dan melakukan beberapa gerakan olahraga. Melatih mataku juga menjadi rutinitas harian penting. Kemudian, aku bersiaga jika presdir ingin keluar kantor. Belakangan, aku menghabiskan sebagian besar waktu menungguku dengan membaca, kebanyakan adalah novel romantis dan buku panduan dalam percintaan dengan harapan suatu hari aku mungkin bisa membantu presdir. Belakangan ini, favoritku adalah tulisan Goethe. “Mereka yang tidak bisa menerima kekurangan pasangan mereka, tak akan sanggup mengucapkan kalimat ‘aku mencintaimu’ dengan tulus.” Itu salah satu kata bijak dari Goethe. Pernah satu kali aku melihat Misaki-san di perpustakaan. Melihatnya belajar dengan tekun di waktu senggangnya membuatku bahagia presdir jatuh cinta pada wanita luar biasa seperti dia.

Katsunori-san bertemu Misaki di perpustakaan. Dan Misaki pun merekomendasikan sebuah buku untuk dibaca oleh Katsunori-san.

Reiji makin galau menunggu jawaban Misaki, dan seperti biasa curhat pada sekretarisnya. Sekt.Maiko menanggapinya dengan santai sambil memberikan jadwal kegiatan untuk hari ini. Katsunori-san yang dari tadi duduk di dekat meja sekt.Maiko mendekat. Ada yang ingin dikatakannya.

“Permisi. Sulit bagiku untuk mengatakan ini. Sebenarnya aku, memutuskan untuk menikah sekarang,” ujar Katsunori-san hati-hati.

Reiji dan sekt.Maiko kaget dengan berita itu. Tapi mereka juga ikut senang. Saat ditanya apa Katsunori-san akan mundur, ia mengelak dan mengatakan akan bekerja lebih keras lagi. Katsunori-san mengatakan jika calonnya adalah teman saat sekolahnya dulu, jadi usia mereka tidak beda jauh.

“Ini berita menyenangkan, kenapa sulit bagimu untuk mengatakannya pada kami?” tanya sekt.Maiko kemudian.

“Saya merasa lebih baik jika tidak melibatkan kalian berdua dalam kebahagiaan saya karena kalian berdua selalu terlibat masalah.”

“Aku merasakan sindiran tajam dari ucapanmu,” wajah sekt.Maiko berubah kesal.

Tapi Katsunori-san mengelak cepat, “Aku tidak bermaksud begitu.

“Karena kau yang paling tua diantara kita bertiga, sudah sewajarnya jika kau yang pertama menikah,” komentar Reiji pula.

Dan terjadi salah paham antara mereka bertiga. Meski tidak benar-benar serius, Reiji bahkan meminta sekt.Maiko untuk segera mencarikan sopir baru untuknya. Katsunori-san pun berusaha keras menjelaskan agar Reiji dan sekt.Maiko tidak salah paham. Tapi sekt.Maiko kemudian menyingkir saat telepon di meja sekretaris berdering.

“Halo. Ini Kantor Presdir, Samejima Hotels, dengan Muraoki Maiko ada yang bisa dibantu?” ujar sekt.Maiko tanpa curiga.

Di seberang, sekt presdir Wada lalu menyerahkan gagang telepon pada presdirnya, “Jadi begitu, Maiko-chan. Nama keluargamu adalah Muraoki.”

Sekt.Maiko pun langsung mengerti ia bicara dengan siapa, “Apa yang bisa aku bantu?” ujarnya menguasai diri.

“Oh, kau sudah tahu ini aku hanya dengan mendengar suaraku? Aku merasa senang,” goda presdir Wada dari seberang.

Rupanya presdir Wada menelepon karena sebentar lagi akan ada pesta asosiasi perhotelan dan ingin tahu nama lengkap sekt.Maiko karena ia ingin mengajaknya. Presdir Wada masih saja menggoda sang sekretaris, meski dari seberang sekt.Maiko mulai salah tingkah dan bahkan menutup pintu ruang presdir. Sekt.Maiko mencoba bicara senormal mungkin dan mengingatkan kalau Reiji adalah bosnya, dan juga saingan presdir Wada, jadi ia tidak mungkin menjadi pasangan presdir Wada dalam acara itu.

“Terima kasih sudah menghubungi. Semoga harimu menyenangkan.”

Presdir Wada berhasil menahan sekt.Maiko untuk tidak meletakkan teleponnya, “Bagaimana Samejima-kun? Apa pesta kali in dia akan sendirian lagi?”

“Kurasa kau tak perlu bertanya.”

“Tidak, aku masih belum yakin. Apa antara dia dan Shibayama Misaki berjalan lancar?” presdir Wada penasaran.

“Dia sedang menunggu jawabannya sekarang.” (duh ni sekretaris, nggak bisa ya jaga rahasia dari Wada)

“Juga, bisa kau katakan pada Samejima-kun untuk berkonsultasi padaku kapan saja? Aku bukan pria intoleran yang memutus hubungan guru dan murid karena isu perekrutan koki.”

Reiji mengadakan rapat bersama para stafnya. Ada laporan jika jumlah tamu lansia di hotel cabang Kanazawa meningkat. Karenanya, ruang anak-anak jadi jarang digunakan. Salah satu karyawan menyarankan agar ruang anak-anak diganti saja menjadi tempat penyewaan peralatan mendaki, karena hotel mereka dekat dengan tempat pendakian. Reiji berpikir itu ide bagus. Tapi Misaki menolak ide itu.

“Aku menentang penghilangan ruang bagi anak-anak hanya karena rendahnya intensitas penggunaan!” ujar Misaki tegas. Ia berpikir lebih baik membiarkan ruang anak-anak dan meningkatkan pelayanan untuk pengunjung lansia saja. “Tolong lihat tingkat kembalinya pelanggan yang menggunakan ruang untuk anak-anak. Fasilitas itu hanya membutuhkan lebih banyak promosi dan layak dipertimbangkan untuk menemukan tamu baru untuk ke depannya. Bukankah masih terlalu awal untuk menyerahkannya?” ucapan Misaki tidak bisa dibalas oleh Reiji.

Selesai rapat, Reiji kembali ke ruangannya dengan kesal. Ia sebal pada Misaki yang bersikap keras dan membantah dalam rapat tadi. Sekt.Maiko dan Katsunori-san pun menyusul masuk.

“Sementara dia dengan kejam membuatku menunggu jawaban darinya, dia mengacaukan pekerjaanku, apa maksudnya itu? Jika dia membenciku, maka katakan terus terang padaku,” keluh Reiji.

“Saya rasa dia buka tipe wanita yang mencampur adukan kehidupan pribadi dengan pekerjaan,” ujar sekt.Maiko.

“Menurut saya sisinya yang seperti itu yang membuat anda tertarik padanya,” Katsunori-san pun ikut berkomentar. “Meski pihak lain kuat, dia dengan berani menentang dan mengungkap pikirannya.”

Reiji kemudian memahami itu sebagai karakter ketua kelas, tentu saja membuat sekretaris dan sopirnya itu bingung. “Dia akan mengungkapkan pendapatnya tanpa menghiraukan lawan bicaranya. Selera keadilan yang tidak bisa membaca situasi. Sejak awal bertemu, aku merasakan kembali perasaan lama, karena dia mirip dengan ketua kelas!”

“Apa dia mirip dengan ketua kelas dari sekolah anda?” sekt.Maiko ikut penasaran.

“Ya. Kelas 6-2. Kebanyakan cowok di kelasku jatuh cinta padanya. Di sekolahku, pelajar paling populer adalah ketua kelas. Wanita itu sangat mirip dengan ketua kelasku saat itu, sehingga aku salah mengira antara nostalgia dengan rasa suka padanya. Itu kesalahan terbesar dalam hidupku! Semua jadi jelas sekarang. Ini nostalgia bukan cinta!” tegas Reiji.

Sekt.Maiko kemudian menyimpulkan kalau Reiji suka tipe wanita seperti ketua kelas itu. Tapi Reiji mengelak cepat dan mengatakan kalau tipe-nya adalah gadis pendiam petugas perpustakaan.

“Pak, Shibayama-san juga sangat menyukai buku,” ujar Katsunori-san cepat.

“Meski dia suka buku, wanita itu sedikitpun tidak terihat seperti wanita pendiam. Aku tak suka tipe wanita penyuka buku tak beradap dan sangat agresif!”

Perdebatan mereka bertiga pun makin kacau. Dari rasa kesal Reiji menunggu jawaban Misaki hingga tipe wanita yang disukai Reiji. Sekt.Maiko lalu menyarankan Reiji untuk bicara lagi dengan presdir Wada. Tapi Reiji menolak ide ini karena berpikir kalau presdir Wada sok senior. Tapi di akhir-akhir, Reiji berpikir lagi untuk benar-benar bicara dengan presdir Wada.

Reiji tengah asyik di gym saat Misaki datang dan menyapanya. Suasana di antara mereka sedikit canggung.

“Pak, Bisa beri aku waktu sedikit lagi?” pinta Misaki kemudian.

“Oh, tentu. Jangan khawatirkan aku. Pergunakan waktumu, tak masalah,” ujar Reiji sok baik. Padahal gemuruh dalam hatinya sudah nyaris meletus.

“Berapa lama aku harus menunggu!!” teriak Reiji saat berendam air panas.

Akhirnya dia benar-benar menemui presdir Wada di hotel presdir Wada.

“Benar kau tidak marah soal Koki Tanaka?” tanya Reiji ragu.

“Kenapa aku harus marah? Dia membuat pilihan bagus. Menurutku itu adil. Semakin sering kita bertemu seperti ini, kita akan semakin akrab. Jadi, jika aku ke tempatmu, aku akan disambut hangat,” ujar presdir Wada. Dan pujian pun keluar dari bibir Reiji kemudian.

Presdir Wada sudah paham kalau Reiji sudah mengakui perasaannya pada Misaki, tapi belum ada jawaban pasti dari Misaki. Reiji sendiri sudah lelah menunggu jawaban itu.

“Apa ada sesuatu yang bisa ku lakukan sementara menunggu?” tanya Reiji. Ia sudah bersiap dengan note dan pulpen di tangan.

Presdir Wada kembali sok bijak. “Tidak berlebihan jika mengatakan hal yang kau lakukan sementara menunggu akan menentukan hasil dari pencarian cintamu. Isi kepalanya saat ini antara “ya” dan “tidak”. Anggap seperti ini, jika besok adalah Olimpiade dan kau akan bertanding untuk merebut medali emas, kau sudah sangat dekat pada “ya. Tapi jika mau melakukan kesalahan, maka hasilnya adalah “tidak”. Dengan kata lain, jika dia melihatmu sebagai pria yang lebih mempesona dari sebelumnya…”

“Maka, tingkat keberhasilanku akan naik,” sambung Reiji. “Tapi jika aku mengacau, maka akan turun?”

“Aku tahu kau cukup cakap soal cinta, Samejima-kun,” puji presdir Wada kemudian.

“Tidak sehebat dirimu,” Reiji pun tersipu. “Apa ada sesuatu yang bisa kau lakukan? Yang akan membuatku terlihat sangat luar biasa di perusahaan…

“Aku punya situasi yang tepat untuk menunjukannya,” obrolan mereka berdua pun makin panjang.

Shizuo-san menyusul Katsunori-san yang menunggu di dalam mobil. Mereka tengah asyik dan langsung nyambung saat membahas soal makanan. Rupanya Katsunori-san tengah mempersiapkan tempat makan untuk pestanya.

Shizuo-san pun bertanya soal tempat merayakan pesta ucapan selamat atas pernikahan Katsunori-san. Katsunori-san sendiri mengaku tidak perlu. Tapi Shizuo-san mengatakan kalau presdir yang menghendaki.

“Presdir bilang begitu?” Katsunori-san tidak percaya.

“Ya. Sepertinya dia sangat menyayangimu. Aku iri,” lanjut Shizuo-san pula yang hanya ditanggapi oleh Katsunori-san dengan senyum.

Mahiro membagi-bagi daftar acara perayaan pesta untuk Katsunori-san. Para karyawan menanggapinya tidak terlalu antusias. Karena mereka merasa selama ini tidak terlalu akrab dengan Katsunori-san. Bahkan ada dari mereka yang belum pernah bicara sama sekali dengan Katsunori-san.

Tapi Miura berpikir kalau tidak perlu akrab kalau hanya datang ke pesta. Sayangnya dia sudah terlanjur salah mengucapkan nama Katsunori-san. Hingga akhirnya kawan-kawannya justru mengatakan agar Miura tidak perlu datang saja.

“Kau mungkin bicara begitu, tapi kau akan kesepian tanpa aku,” Miura pun memegang kepala Mahiro dan berucap pon pon.

Ini membuat Mahiro kesal dan melapor pada ketua tim Goro-san.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 05 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Maaf ya, Guys. Kelana telat lagi nih postingnya. Kemarin sempat keluar kota dua hari. Jadi sama sekali nggak bisa pegang laptop. Sekali lagi maaf dan terimakasih. Selamat membaca ^_^

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top