Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 03 part 1

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 03 part 1

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 03 part 1. Demi menarik perhatian Shibayama Misaki, Samejima Reiji—pemilik jaringan hotel Samejima—melakukan berbagai hal yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya yang biasa.

Dan perubahan sikapnya ini awalnya dikhawatirkan oleh para karyawan. Tapi pelan-pelan mereka bisa menerima perubahan sikap Reiji yang lebih toleran dan mudah diterima. Sampai kapan Reiji akan terus seperti ini? Apakah akhirnya dia berhasil mendapatkan hati Misaki?

Saat itu karyawan kantor pusat Samejima Hotel bertemu dengan tim PR. Mereka menunjukkan proposal permintaan wawancara dari sebuah majalah terkemuka, NEWSZERO.

“Kantor Presdir tak akan menerimanya. Presdir tidak cocok dengan hal semacam wawancara penuh atau menjadi objek analisa.”

Bahkan meski pewawancaranya adalah seorang jurnalis terkenal, tawaran itu tetap ditolak.

Reiji baru saja datang ke gym saat dilihatnya Misaki juga tengah berolahraga. Ia melirik sekilas papan penanda ‘hanya untuk presdir’ di alat olahraga miliknya, yang hanya berjarak sangat dekat dengan tempat Misaki.

“Boleh aku bertanya?” tanya Reiji kemudian. “Mengenai hal yang kau katakan sebelumnya, soal nama untuk anjing. Apa nama yang terpikirkan olehmu?”

“Membicarakan kembali hal itu agak sedikit memalukan,” elak Misaki.

“Bukankah kau bilang sudah menemukan nama yang bagus?” desak Reiji. “Siapa saja akan penasaran jika menemukan sesuatu hal yang tidak jelas.”

Misaki lalu menyebut sebuah nama, ‘Gosuke’, yang membuat Reiji kaget keheranan. Misaki pun memberikan penjelasannya, “Dari Yuasa Gosuke, seorang samurai perang dari Periode Sengoku. Seorang pria dengan rasa kesetiaan tinggi, yang memberikan hidupnya untuk menepati janji pada tuannya. Juga, kurasa “Gosuke” terdengar sangat cocok untuk anjing itu.”

Reiji kembali dibuat terpesona oleh pengetahuan Misaki, “Apa kau menyukai sejarah Jepang?”

Misaki tersenyum dan mengiyakan pertanyaan sang presdir. “Aku juga memikirkan nama dari Mitologi Yunani dan karakter Kisah Shakespeare. Tapi kurasa nama huruf kanji lebih cocok untuk anjing itu.”

Para karyawan seperti biasa berkumpul usai pulang kantor. Saat itu Misaki datang terlambat dan baru saja bergabung. Mereka ternyata tengah membicarakan Misaki, yang memilih tempat tinggal tanpa fasilitas kamar mandi. Karena biasanya, wanita memilih untuk menghindari hal seperti itu.

Tapi Misaki tampak tidak terganggu, “Tempat tinggalku adalah apartemen tua berusia 40 tahun. Tapi itu hanya tampilan luarnya saja, interior kamarnya sesuai dengan harapanku. Maksudku, di dunia ini hanya ada satu ruangan seperti itu, bukan?”

“Jadi, dimana kau berendam air panas?” karyawan lain penasaran.

“Di sento milik temanku di dekat apartemen,” aku Misaki. Ia juga menyebut tentang kamar mandi di gym kantor perusahaan.

Sekarang obrolan mereka berpindah soal presdir Reiji. Misaki mengatakan kalau tadi ia bertemu dengan Reiji di gym. Mereka heran karena Misaki tidak merasa terganggu atau canggung soal itu. Karena umumnya pegawai memanfaatkan fasilitas gym itu saat presdir tidak ada di sana.

“Dia tidak seburuk dugaan kalian,” ujar Misaki.

Tapi yang lain berpikir kalau belakangan presdir memang sedikit lebih tenang. Bahkan saat Misaki mengatakan kalau presdir cukup ‘lucu’, mereka sama sekali tidak percaya.

Reiji terus saja memencet nomer lima di ponselnya. (Catatan: Nomor 5 adalah “Go” dalam Bahasa Jepang). Ia juga terus saja menggumamkan nama itu, Gosuke. “Bukankah itu nama yang sangat bagus? Terdengar ramah dan lucu, ‘kan? Bagaimana jika kita mampir ke toko hewan sebelum pulang?” usul Reiji.

Katsunori-san langsung mengiyakan permintaan sang presdir. Tapi sekt.Maiko menolak mentah-mentah ide itu.

“Kenapa aku tak boleh memiliki anjing dengan nama yang manis?” protes Reiji seperti anak kecil.

“Tempo hari sudah saya katakan bahwa anda tidak cocok memelihara anjing. Katsunori-san yang mengurus anjing tempo hari itu, bukan anda,” ujar sekt.Maiko.

Tapi Reiji tetap berkeras kalau ia perlu punya anjing. Mulai dari menjaga keamanan hingga rasa santai, berbagai alasan diucapkan Reiji. Terakhir bahkan menghubungkan kepemilikan anjing dengan orang yang terlambat menikah. Tidak berhasil membantah pendapat sekretarisnya, Reiji akhirnya menyerah dan mengajak pulang.

Di rumah mewah Reiji.

“Katakan dengan jelas jika aku salah tapi, Bukankah aku dan Shibayama Misaki sudah berkencan?” tanya Reiji pada sekretarisnya. Ini membuat sekt.Maiko bingung. “Lalu kenapa dia pergi ke pusat kebugaran padahal dia tahu bagaimana perasaanku?”

Sekt.Maiko akhirnya mulai paham, “Justru sebaliknya. Dia tidak tahu soal perasaan anda, karena itu dia tidak tertekan hanya berduaan bersama anda.”

“Dia tidak menyadari perasaanku?” Reiji tidak habis pikir. “Apa benar seperti itu…?”

“Tentu saja, karena anda masih belum menyatakan perasaan padanya.”

Tapi logika Reiji sepertinya sudah sulit diajak realistis, “Bukankah aku meminum susu yang aku benci untuk membuatnya kembali bersemangat dan aku memintanya supaya kami berdua memikirkan nama untuk anjing bersama-sama? Tapi, perasaanku masih belum sampai padanya?”

Sekt.Maiko tersenyum, “Dengan cara itu, kebanyakan wanita tak menyadari rasa cinta yang ditujukan pada mereka. Terlebih dari sudut pandang antara Presdir dan pegawainya. Bahkan jika pegawai menyadari perasaan anda. Pegawai wanita yang menerima rasa cinta itu, akan berpikir bahwa hal semacam itu mustahil. Romantisme cinta tidak serta merta dimulai ketika seseorang mencintai orang lain. Orang yang anda cintai mungkin mulai mencintai anda dengan keinginannya sendiri, tapi jika tak menyatakan perasaan pada orang yang disukai maka tak akan ada perkembangan. Demi menyalakan “tombol” pada perasaannya, anda harus menyatakannya. Perasaan anda padanya.”

“Apa aku… harus melakukannya?” Reiji tampak ragu.

“Harus!”

“Sulit sekali. Itu misi yang sulit,” keluh Reiji.

“Ya. Tapi anda pasti bisa melakukannya!”

Reiji memandangi proposal yang diajukan oleh ketua tim Goro-san. Tapi beberapa di antaranya akhirnya hanya berakhir di mesin penghancur kertas. Tapi saat melihat salah satu proposal yang tertulis nama Misaki, Reiji berubah pikiran. “Aku akan mempertimbangkan proyek ini. Aku akan mengurus proses awal,” ujar Reiji.

“Apa kita perlu membentuk tim saat ini juga?” tanya Goro-san.

“Aku, kau dan juga satu orang lagi, pegawai muda dan cakap, itu saja sudah cukup,” usul Reiji.

“Bagaimana dengan orang yang mengajukan proposal ini, Shibayama Misaki? Dia tajam, memiliki keahlian bahasa yang luar biasa dan kemampuan perencanaan dan bisa segera menjadi aset untuk kita,” usul Goro-san lagi.

Reiji pura-pura sok tidak terlalu tertarik, “Jika kau yakin dia bagus, maka seharusnya tak masalah.”

Goro-san pun pamit kembali ke mejanya. Ia memanggil Misaki dan menjelaskan secara singkat proyek ini dan memintanya untuk mempersiapkan segalanya untuk rapat besok.

“Aku iri padamu, Misaki-san. Presdir dan bahkan direktur menaruh perhatian padamu. Padahal kita dipekerjaan diwaktu bersamaan, aku merasakan perlakuan yang berbeda,” curhat Mahiro yang duduk di depan Misaki.

Misaki sendiri tidak terlalu peduli hal itu. Ia bahkan berpikir kalau Mahiro Cuma ingin menggodanya saja. Dan seperti biasa, si Ieyasu ikutan nimbrung obrolan dua orang karyawati ini. Tapi pada akhirnya ia Cuma ingin narsis dan membuat dirinya yang tampak paling penting dan keren. Dan seperti biasa, Misaki sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan obrolan rekan-rekannya ini.

Telepon di meja sekt.Maiko berdering, dari sekretaris presdir Wada. Sang sekretaris lalu memberikan telepon itu pada presdir Wada.

“Halo? Apa malam ini kau punya waktu?” ujar presdir Wada di seberang.

“Maksud anda atasanku, Samejima?”

“Bukan. Maksudku kau, Maiko-chan,” elak presdir Wada.

“Aku minta maaf.Ku rasa aku tak bisa menerima undangan semacam itu,” sekt.Maiko berusaha tetap sopan menolak ajakan itu.

Tapi presdir Wada masih belum menyerah, “Ada seorang wanita bernama Shibayama Misaki di perusahaan kalian, ‘kan? Apa tanggapanmu jika ku katakan aku ingin berkonsultasi soal dia?”

Sekt.Maiko kaget, “Bukankah lebih baik anda bicara pada Samejima dibanding denganku?”

“Ya, tapi sulit untuk meminta Samejima-kun datang dan bicara, ‘kan? Sebelum secara resmi berkonsultasi dengannya, aku ingin mendengar pendapatmu dulu,” bujuk presdir Wada lagi.

Malam itu sekt.Maiko benar-benar menemui presdir Wada di sebuah bar. Ia ditawari minuman, tapi menolak dengan alasan masih bekerja. Tapi setelah dibujuk, akhirnya sekt.Maiko mau minum cocktail yang direkomendasikan oleh presdir.Wada.

“Bagaimana anda tahu tentang pegawai kami, Shibayama Misaki?” sekt.Maiko to the point.

“Terkadang saat sedang merindukan Paris, aku sering tinggal di hotel tempat dia bekerja. Disanalah kami berkenalan.”

“Apa yang ingin anda konsultasikan denganku?”

“Aku menginginkan dia bekerja di perusahaanku…apa hal itu mungkin,” ujar presdir Wada juga dengan langsung.

Sekt.Maiko dibuat kaget, “Presdir Samejima Reiji tak akan pernah melepaskan dia.”

Presdir Wada heran, karena selama ini Reiji bukanlah tipe orang yang terlalu peduli dengan pegawainya. Tapi sikap aneh sekt.Maiko lalu ditangkap oleh presdir Wada hingga ia menebak kalau si Shibayama Misaki ini adalah tipe presdir Reiji.

“Aku tidak pernah mengatakan apapun,” elak sekt.Maiko, meski sudah ketahuan.

“Tapi kurasa dia terlalu tangguh bagi Samejima-kun,” ujar presdir Wada kemudian. “Butuh keahlian level tertentu untuk bisa memenangkan seorang wanita seperti Shibayama Misaki.”

Sekt.Maiko diantar keluar oleh sekretaris presdir Wada. Sekretaris itu berkomentar jika sudah cukup lama presdir Wada tidak terlihat santai saat minum. Dari sana juga sekt.Maiko mendapat informasi kalau presdir Wada sudah berpisah dengan kekasihnya yang pernah diperkenalkan pada Reiji saat pertemuan asosiasi hotel beberawa waktu silam.

Berbeda dari biasanya, kali ini Reiji tampak sangat bersemangat. Ia membuat sebuah paket yang isinya majalah. Dan setelah membuka majalah itu, Reiji pun berteriak girang. Ternyata majalah itu adalah majalah khusus jamur. Dan salah satu foto Reiji yang berhasil mengabadikan sebuah jamur yang cukup langka ternyata berhasil masuk dan diterbitkan oleh majalah itu.

“Aku berhasil!”

Pagi berikutnya, Reiji sudah ngomel-ngomel pada sekt.Maiko. Sekt.Maiko meminta Reiji untuk mundur saja dari usahanya mendapatkan Misaki. Dia berpikir kalau usaha Reiji hanya akan sia-sia saja, kalau hanya menunjukkan majalah tentang jamur itu.

“Bukankah wanita menyukai pria yang memiliki sisi tidak terduga? Bukankah ada sisi berbeda yang jika diungkap akan membuat seseorang lebih menarik?”

“Saya tidak melarang anda melakukannya. Hanya saja, jika menurut anda bisa memenangkan hatinya dengan menunjukan foto ini, anda salah,” sekt.Maiko mencoba menjelaskan.

Tapi dasar Reiji yang sudah dibutakan cinta, dia tetap saja berkeras akan menunjukkan majalah itu pada Misaki. Reiji bahkan sudah mengandai-andai jawaban Misaki setelahnya. Tapi sekt.Maiko berpikir sebaliknya, bagaimana jika ternyata respon Misaki tidak sesuai dengan dugaan Reiji.

“Bukankah memalukan jika seorang presdir tak bisa mengatakan hal sederhana seperti itu?” tantang Reiji.

Reiji melakukan rapat bersama ketua tim Goro-san dan juga Misaki. Setelah presentasi dan evaluasi, Reiji masih sempat-sempatnya mencoba menarik perhatian Misaki dengan menunjukkan majalah jamur-nya. Sayangnya usaha itu tetap sia-sia, karena Misaki sama sekali tidak tertarik. Rapat sudah selesai, dan Reiji pun keluar ruang rapat.

Saat itu, ketua tim Goro-san bertanya pada Misaki soal pertemuannya dengan presdir Goro, pemilik Stay Gold Hotel. Reiji yang mendengar itu ikut menguping di luar.

“Lebih kepada hubungan antara klien dan pegawai hotel tempat kerjaku sebelumnya,” elak Misaki.

“Tapi Wada-san bilang kalian berdua pernah dua kali pergi makan bersama.”

Misaki tertawa, “Dia terlalu membesar-besarkan. Kami memang pernah dua kali makan bersama di sebuah restoran di Paris tapi…”

Mendengar obrolan itu, Reiji kesal luar biasa. Belum selesai ucapan Misaki, Reiji memilih kembali ke ruangannya. Ia pun mulai ngomel-ngomel seperti biasa. Dan kali ini mengumpat Misaki yang pernah jalan bersama presdir Wada di Paris. Katsunori-san kaget mendengar berita itu. Tapi sekt.Maiko tampak tidak banyak bereaksi, membuat Reiji heran. Baru setelah ditegur Reiji, sekt.Maiko pun menunjukkan ekpsresi kagetnya.

“Pernah makan bersama tidak berarti, aku bertaruh setelahnya mereka bahkan berciuman,” ujar Reiji.

Sekt.Maiko menolak ide itu. Tapi Katsunori-san justru memperburuk suasana dan membuat kemarahan Reiji makin meningkat.

“Setelah seorang pria minum alkohol, entah apa yang akan terjadi saat dia cipika-cipiki dengan seorang wanita muda? Dia akan berubah menjadi serigala. Dan dari semua orang, kenapa harus Wada!? Di Paris pula! Aku yakin dia tak akan puas hanya dengan sekali ciuman. Jangan-jangan…!” pikiran Reiji sudah semakin liar saja.

“Presdir Wada bukan pria mata keranjang,” bela sekt.Maiko.

Reiji heran, “Kau memihak Wada?”

Sekt.Maiko gelagapan menanggapi tududah presdir-nya itu, “Bukan begitu.”

“Kali ini tak akan kumaafkan!” ujar Reiji yang kesal luar biasa. Ia pun mengatakan semakin benci pada presdir Wada. Reiji manyun, merajuk seperti biasanya.

Bahkan setelah sampai rumah, Reiji masih saja terus merajuk, “Aku tak peduli di masa lalunya dia pergi makan dengan siapa. Tapi dari semua orang, kenapa harus Wada? Kenapa dia dan Wada makan bersama di Paris?”

Sekt.Maiko berusaha memperbaiki situasi, “Ini hanya tebakan saja, tapi mungkin dia berniat merekrutnya? Mungkin Presdir Wada mengakui keahliannya dan mengundangnya untuk bekerja padanya. Namun, dia tidak menerimanya dan lebih memilih bekerja di Samejima Hotel. Jika seperti itu yang terjadi, apa perasaan anda akan berubah?”

Membujuk Reiji tidak pernah mudah, “Perasaanku tak akan pernah berubah.”

“Bagaimana jika anda pastikan langsung darinya?” usul sekt.Maiko kemudian.

“Aku harus bertanya padanya?” Reiji berbalik badan.

Dan bujukan sekt.Maiko kali ini berhasil meluluhkan Reiji. Reiji berniat akan memecat Misaki besok, jadi ia berniat menanyai semua detailnya lebih dulu.

Hari berikutnya, Reiji benar-benar memanggil Misaki dan minta penjelasan.

Tanpa merasa takut atau apapun, Misaki mengiyakan semuanya. Ia mengaku benar pernah makan malam dengan presdir Wada tahun lalu. Saat itu presdir Wada berkali-kali mengundangnya untuk datang dan bekerja di Stay Gold Hotel. Reiji penasaran kenapa Misaki menolak tawaran itu.

“Itu karena aku tertarik dengan cara Samejima Hotel mengelola hotel mereka,” aku Misaki.

“Ini kali pertama aku mendengarnya,” kemarahan Reiji perlahan meredup.

“Tidak, Pak. Aku mengatakannya pada anda saat wawancara pekerjaan. Sebelum bergabung dengan manajemen Samejima Hotel aku menginap di kelima hotel anda. Aku terkesan dengan pemanfaatan setiap lokasi hotel dan keunikannya.”

“Tapi hotel Wada menempati peringkat terbaik di dunia 5 tahun berturut-turut. Bukankah lebih menguntungkan untuk bekerja disana?” pancing Reiji, ingin tahu reaksi Misaki yang sebenarnya.

“Setiap orang memiliki standar penilaian masing-masing. Untukku, aku senang bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki kesempatan menjadi No. 1 di masa depan dibanding bekerja di perusahaan yang saat ini menempati No. 1.”

Reiji berbalik membelakangi Misaki. Dia menahan senyum bahagianya dan berusaha bicara tetap dengan wibawa, “Begitu. Apa kau sangat menyukai Samejima?” dan jawaban ‘iya’ dari Misaki membuat senyum Reiji makin lebar.

Reiji makan siang ditemani sekt.Maiko dan Katsunori-san. Dengan lahap Reiji memakan menu sirip ikan hiu di depannya. Sementara sekt.Maiko berkali-kali melirik sebal pada Reiji sambil mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Reiji tidak mendengarkan ucapannya, padahal semua dugaannya benar.

“Kemarin, tanpa ragu anda mengatakan membenci dia dan akan memecatnya,” keluh sekt.Maiko.

“Dimana ada orang bodoh yang akan memecat seorang pegawai berbakat?” ujar Reiji, masih asyik dengan makanannya.

Perasaan Reiji sedang senang-senangnya. Belum lagi ditambah fakta kalau wanita yang disukainya sangat senang bekerja di perusahannya, dan lagi dia menolak tawaran dari presdir Wada, saingan Samejima Hotel.

Sebuah ide terlintas di kepala Reiji. Ia menghentikan makannya dan bicara serius, “Aku mengerti sekarang. Yang sebenarnya dia sukai bukan perusahaanku. Yang sebenarnya dia suka adalah aku.” (abaikan Reiji yang sok pede ini)

Sekt.Maiko mengernyit heran, “Apa yang membuat anda berpikir begitu?”

Reiji mulai mengocah hal tidak jelas soal film Totoro dan Studio Ghibli. Ia menganalogikannya dengan perusahaannya. “Dengan kata lain, dia yang suka pada hotel yang aku dirikan sudah pasti dia juga suka padaku. Kenapa aku tak menyadari hal sesederhana ini sebelumnya? Maiko, yang kau sebut sebagai tombol cinta miliknya sudah menyala bahkan sebelum dia bekerja untukku. Tidak perlu bersusah payah menempuh resiko. Jika aku bekerja dengan baik seperti yang ku lakukan sebelumnya perasaanya akan serta merta menghampiriku.”

Jelas kesimpulan ini ditolak mentah-mentah oleh sekt.Maiko, “Tidak ada waktu untuk bereksperimen! Waktu anda hanya dua bulan hingga pesta.”

Tapi Reiji tetap saja sok pede, “Jika aku menambah ritme bekerjaku, maka tak akan ada masalah. Aku akan mengumumkan proyek baru!”

Pertemuan di kantor hari berikutnya,

“Akhirnya, Samejima Hotel memutuskan untuk memulai pembangunan hotel ke-6 yang sudah lama dinantikan. Sejauh ini, dari penelitianku, seleksi akan berfokus pada wilayah potensial untuk bisnis di pusat Tokyo dan target pembukaan dipatok tahun depan,” Reiji mulai presentasinya.

Proyek ini disambut meriah oleh para staf. Tapi untuk proyek ini, akan ditangani langsung oleh Reiji. Dan seperti biasa, Reiji mengatakan moto perusahaannya, Target… Kecepatan Penuh… Dua bulan! Yang lebih heboh lagi, Reiji meyakini kalau ia bisa menyelesaikan tahap awal proyek ini hanya dalam dua minggu dan kemudian meralatnya menjadi dua hari saja.

“Pak, bagaimana dengan proyek renovasi hotel di Kyoto?” tanya ketua tim Goro-san.

“Ku serahkan padamu untuk menambah anggota tim,” ujar Reiji yang langsung diiyakan oleh ketua tim Goro-san dan beberapa karyawan lain yang bersedia untuk bergabung.

Tanpa membuang lebih banyak waktu, Reiji langsung memulai proyeknya. Pemilihan tempat dilakukan sendiri dan secara langsung. Setelah memperkirakan tempat yang akan dituju, Reiji benar-benar mendatangi tempat-tempat yang dimaksud.

Reiji melakukan survei ke sebuah tempat ramai, tempat banyak orang berlalu-lalang di depan Stasiun Shinagawa. Tempat berikutnya yang dikunjungi Reiji adalah sebuah tempat lapang yang masih kosong. Kemungkinan tempat ini yang diincarnya untuk dijadikan tempat hotel ke-6.

Pulang ke rumah pun, Reiji masih terus bekerja hingga larut malam. Dan paginya, ia terkantuk-kantuk hingga nyaris melewatkan mobil yang menjemputnya.

“Bukankah mustahil menekan proyek ini hanya dalam dua hari?” tegur sekt.Maiko pagi itu.

“Dua hari jelas mustahil. Seharusnya tiga hari,” jawab Reiji, masih keras kepala.

Di kantor, Reiji bertemu dengan tim pengembang. Mereka membahas rencana pengembangan hotel baru itu. Selesai rapat, Reiji masih melanjutkan mempelajari rancangan hotel baru di dalam ruangannya.

Sementara itu di luar, tim yang dipimpin oleh ketua tim Goro-san juga sudah melanjutkan pekerjaan mereka untuk proposal sebelumnya. Gosip tentang rencana hotel baru dan pemilihan tempat juga sudah sampai pada mereka. Para karyawan sudah sangat tertarik dengan hotel baru yang rencananya akan dibangun di tengah kota.

Tapi … bagaimana dengan perjuangan cinta Reiji?

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 03 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top