Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 02 part 2

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 02 part 2

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 02 part 2. Samejima Reiji marah besar saat tahu karyawan yang pernah dipecatnya, Matsuda-san ternyata dicarikan tempat kerja baru di hotel milik saingannya, Stay Gold Hotel.

Tapi saat tahu kalau orang yang bertanggungjawab atas pekerjaan baru ini adalah Shibayama Misaki, kemarahan Reiji mengendur. Meski begitu, dia beradu argumen dengan Misaki. Sayangnya Misaki lebih unggul kemudian.

Huru-hara ini akhirnya membuat para staf berpikir untuk menghubungi bos Saty Gold Hotel, Presdir Wada agar membatalkan penerimaan terhadap Matsuda-san. Reiji ternyata mengintip dari balik pintu ruangannya. Perdebatan dengan sekretarisnya membuat Reiji akhirnya mengambil keputusan yang sangat tidak ‘Reiji banget’.

“Sekarang ,aku akan pergi menemui Wada, untuk menyampaikan salam,” ujar Reiji keluar dari pintu sebelah. Ini membuat para karyawan keheranan. “Meminta dia mengurus seorang mantan pegawai. Juga dengan kerendahan hati memberikan sekotak kue, itu adalah tanggungjawab pimpinan.” Reiji lalu mengajak sekretarisnya pergi.

Para karyawan itu hanya bisa menganga tak percaya dengan sikap Reiji yang berubah sama sekali.

Diantar sopir dan sekretarisnya, Reiji tiba di depan Stay Gold Hotel. Dia diterima langsung oleh presdir Wada. Dengan sikap tiba-tiba ini, presdir Wada juga curiga, jangan-jangan Reiji punya rencana.

“Tentu saja tidak. Sebagai mantan atasan, hal ini sudah sewajarnya,” Reiji memaksakan senyumnya.

Sekt.Maiko lalu meminta kedua presdir itu untuk berjabat tangan. Lalu dia sendiri mengambil foto keduanya. Presdir Wada tampak tersenyum seperti biasa. Sementara itu Reiji tampak sangat memaksakan senyumnya.

Kantor pusat Samejima Hotel heboh. Para karyawan itu membuka email mereka dan melihat foto yang tadi diambil oleh sekt.Maiko. Tampak presdir Wada dan presdir Reiji bersalaman dengan wajah tersenyum.

“Foto ini seperti Obama dan Putin!”

Reiji kembali ke kantornya. Di depan lift, ditemuinya salah satu karyawannya memarahi karyawan yang lain karena terlambat. Orang yang terlambat mengaku kalau itu bukan salahnya, karena itu masalah kereta yang mengalami penundaan. (kemungkinan keterlambatan kereta di Jepang sangat kecil. Sehingga alasan terlambat karena kereta sepertinya akan sulit diterima di sana )

“Ada apa, Maruta? Maafkan saja dia,” ujar Reiji.

“A… apa anda yakin, Pak?” sang karyawan hanya bisa bengong mendengar ucapan Reiji yang sama sekali tidak terduga ini.

Di kesempatan lain, Reiji juga terus menguping pembicaraan para karyawannya. Saat itu salah satu karyawan mengatakan kalau di luar sedang hujan. Beberapa dari mereka mengaku tidak membawa payung karena berpikir hari akan cerah.

Tahu ada kesempatan, Reiji mengambil setumpuk payung dari ruangannya dan membawanya keluar. “Kalian semua beruntung. Ada banyak stok payung di lokerku. Silakan gunakan sesuka kalian.”

Para karyawan kembali dibuat terkejut oleh sikap sang presdir, sekaligus senang. Reiji yang kembali ke ruangannya masih terus menguping obrolan para karyawan. Ia benar-benar ingin bersikap baik pada para bawahannya itu. Sayangnya, orang yang dingin dicuri perhatiannya, Misaki, justru tidak mengambil payung yang disediakan oleh Reiji karena sudah membawa payung sendiri.

Reiji berjalan keluar dari kantornya. Di depan, ia melihat dua anak kecil tengah meletakkan anjing di dalam kardus. Anjing itu rupanya tidak punya rumah. Tanpa ragu, Reiji pun mengambil anjing itu dan mengatakan pada dua anak tadi, kalau ia akan memeliharanya. Selain kedua anak tadi yang dibuat senang oleh Reiji, ada karyawannya juga yang melihat semua itu.

Tidak lama setelahnya, Misaki juga keluar dari kantor. Sayangnya Misaki tidak terlalu tertarik apalagi terkesan dengan sikap Reiji yang berbaik hati mengambil anjing itu. Misaki hanya menyapa sekadarnya dan berlalu pergi. Bahkan Reiji hanya dibuat bengong karen lagi-lagi usahanya menarik perhatian Misaki, kembali gagal.

Para karyawan makan malam bersama di sebuah restoran. Dan tema obrolan mereka malam itu adalah sang bos, presdir Reiji.

Dari Reiji yang tiba-tiba saja begitu perhatian, memberikan payung untuk mereka. Reiji yang menraktir jus saat makan siang. Lalu Reji yang perhatian dan mengingatkan agar karyawannya tidak sakit. Reiji yang memaafkan keterlambatan salah satu karyawannya. Hingga Reiji yang berbaik hati mau memelihara anjing yang tidak punya rumah. Mereka berpikir sikap Reiji berubah sejak kasus Matsuda-san.

Reiji pulang ke rumah mewahnya bersama sekt.Maiko dan sopir Katsunori-san. Sekt.Maiko memuji sikap Reiji belakangan terhadap karyawan. Ia tampak lebih baik di depan paran karyawan, dan tentu saja di depan Shibayama Misaki.

“Presdir, saya tak mau berpikiran buruk tapi, apa mungkin anda kehilangan ketertarikan padanya?” tanya sekt.Maiko hati-hati.

Tapi Reiji ternyata memikirkan hal lain, “Aku tahu! Sebenarnya aku bukan ingin terlihat sebagai pria toleran. Yang perlu ku lakukan hanya berbincang dengannya! Apa saja boleh selama tidak berhubungan dengan pekerjaan. Tidak, jika dia ingin bicara, tak masalah meski kami harus membicarakan Wada. Saat ini, sebaliknya aku tidak ingin bersikap tergesa-gesa padanya. Itulah yang aku inginkan.”

“Pak, hal yang anda maksud itu disebut kencan,” ujar sekt.Maiko menyimpulkan. “Bukankah lebih baik jika anda mengajaknya kencan?”

“Hal itu tidak mudah,” Reiji mengelak cepat.

Sekt.Maiko lalu menceritakan kalau Misaki punya jadwal bertemu perusahaan pemasaran di hari Sabtu, artinya dia masuk kerja di hari libur. Tapi Reiji mengelak kalau ia tidak punya pekerjaan hari itu. Menurut sekt.Maiko, bukan hal aneh kalau Reiji yang seorang presdir datang ke kantornya sendiri. Tapi Reiji terus saja menyebutkan alasan.

“Bukankah ini kesempatan yang anda tunggu untuk melakukan percakapan santai dengannya?” bujuk sekt.Maiko lagi.

Dan benar saja seperti yang diceritakan oleh sekt.Maiko. Hari itu Sabtu, hari libur kantor tapi Shibayama Misaki tetap masuk seperti biasa. Dia bertemu dengan dua orang perwakilan dari perusahaan pemasaran.

Kantor benar-benar tampak sepi. Tidak ada pegawai lain yang datang ke kantor hari itu. Misaki menjelaskan semua detail yang diminta klien itu dengan lancar soal fasilitas apa saja yang diberikan hotel. Termasuk fasilitas khusus untuk anak-anak.

Hari itu, masih pagi. Reiji akhirnya memutuskan mengikuti saran sekretarisnya. Ia membawa serta anjingnya untuk jalan-jalan. Tapi Reiji tampak kesulitan mengajak anjing itu berjalan, karena si anjing terus saja berputar-putar di kaki Reiji.

“Berapa lama dia akan sampai ke kantor?” sekt. Maiko bersama sang sopir menunggu dalam mobil Mereka memerhatikan Reiji yang tengah berjalan di depan, agak kesulitan.

“Dengan kecepatan ini, aku yakin akan memakan waktu satu setengah jam,” ujar Katsunori-san, si sopir.

“Dia memilih berjalan kaki padahal kita bisa mengantarnya hingga ke dekat kantor.Aku sama sekali tak mengerti,” komentar sekt.Maiko.

Katsunori-san menanggapinya sebagai bentuk usaha Reiji karena tidak mau berbohong soal perasaannya. Padahal sebenarnya usaha ini, berjalan-jalan di hari libur lewat depan kantor sebenarnya juga modus alias bohong. Belum lagi jalan-jalan bersama anjing.

Setelah beberapa lama berjalan, Reiji menelepon sekt.Maiko, “Mengikutiku dari belakang terasa tidak nyaman, jadi kalian pulang saja.” ujar Reiji kemudian.

“Tapi anda akan pulang dengan apa?” sekt.Maiko khawatir.

“Aku sedang mengajak anjing jalan-jalan. Jadi sudah tentu aku akan pulang dengan berjalan kaki. Jangan khawatirkan soal itu,” pinta Reiji lagi.

Sekt.Maiko hanya mengiyakan permintaan bosnya itu. Ia dan Katsunori-san saling pandang sebelum akhirnya setuju untuk pulang dan tidak mengikuti Reiji lagi.

Reiji sudah sampai di depan gedung kantornya. Tapi belum ada tanda-tanda kehadiran Misaki sama sekali. Ia bahkan menggendong si anjing yang teru saja ribut. Hingga saat nyaris menyerah dan berbalik pulang, Reiji dikejutkan dengan kehadiran Misaki.

“Aku ada pertemuan dengan perusahaan pemasaran,” ujar Misaki saat ditanya oleh Reiji.

“Oh, begitu. Terima kasih sudah bekerja di hari libur,” ujar Reiji dengan canggung.

“Anda sendiri, Pak?”

“Seperti yang kau lihat, Aku sedang jalan-jalan dengan anjing,” Reiji kembali mencoba menarik perhatian Misaki. “Melihat anjing yang malang aku merasa tidak tega dan membawanya pulang bersamaku. Kurasa aku pria yang terlalu baik tapi…”

Tapi Misaki sudah lebih dulu tertarik dengan si anjing hingga tidak terlalu memerhatikan ucapan sang presdir. Puas menyapa si anjing, Misaki pun pamit pergi.

Usaha Reiji nyaris gagal hingga akhirnya ia kembali memanggil Misaki.

“Aku … punya sesuatu yang ingin ku katakan padamu. Jika kau tidak keberatan, bisakah kau dan aku…kita berdua memikirkan nama anjing ini?” Reiji mencari alasan. “Dia masih belum memiliki nama. Aku membeli buku ensiklopedia nama tapi. Aku kesulitan menemukan nama yang cocok.”

Misaki heran, “Kenapa aku?”

“Karena…kau boleh juga.” Reiji gelagapan mencari alasan yang tepat, hingga dia hanya mengatakan hal tidak penting.

Misaki tersenyum mengerti, “Aku mengerti. Aku akan menemukan nama yang bagus hingga Hari Senin nanti.”

Misaki lalu minta izin untuk mengambil foto si anjing. Tapi Reiji justru mengusulkan agar Misaki berfoto bersama si anjing dan dia yang mengambil gambar mereka. Misaki setuju lalu memberikan ponselnya pada Reiji.

Sangat senang, Reiji justru mengambil foto tidak fokus pada si anjing. Ia justru fokus pada wajah Misaki. Beberapa foto diambil Reiji dengan ponsel Misaki. Ia pun mengusulkan agar mengambil juga dengan ponselnya—sebagai alasan untuk mendapatkan foto Misaki. Tapi Misaki menolak dan mengatakan sudah cukup.

Reiji melanjutkan jalan-jalannya. Ia berhenti di dekat perahu yang bersandar, masih senyum-senyum karena pertemuannya tadi dengan Misaki. Tapi dua orang anak yang kemarin meletakkan anjing di dalam kardus mendatanginya bersama seorang wanita. Wanita itu mengaku sebagai pemilik si anjing dan meminta kembali anjing itu dari Reiji.

Merasa punya janji, Reiji enggan melepaskan si anjing. Karena anjing itulah alasan ia bisa berbicara dengan Misaki. Reiji bahkan bersedia membayar berapapun untuk anjing itu. Sayangnya si empunya berkeras mengambil anjing itu. Dan dengan terpaksa Reiji pun harus merelakannya.

“Jika janji itu jadi tak berguna, pikirkan saja rencana lain,” saran salah satu anak.

“Rencana lain… apa itu?” tanya Reiji.

“Kau harus memikirkannya sendiri. Yang tahu apa hal yang akan menyenangkan wanita itu bukan kami. Tapi kau, Oji-san!” ujar salah satu bocah itu. Mereka berdua lalu beranjak pergi dengan senyum-senyum, berhasil mengejek Reiji.

Reiji kembali ke kantor. Ia mengacak-acak kotak di dalam ruangannya, mencari sesuatu. Saat itu senja sudah mulai menjelang. Tapi Reiji tidak menemukan yang ia cari. Reiji memutuskan menyerah. Di depan kantor, sudah datang Katsunori-san yang datang menjemputnya.

“Oh… maaf,” Reiji menyesal sudah meminta supirnya itu pulang tapi sekarang minta dijemput lagi.

“Sama sekali tidak.”

Hari lain

Jam makan siang sudah datang. Kali ini para karyawan kompak untuk makan siang bersama. Tahu ada kesempatan, Reiji buru-buru menyusul mereka di depan lift dan mengatakan akan bergabung. Beberapa karyawan bereaksi khawatir, akan terjadi insiden seperti saat pesta untuk karyawan baru sebelumnya. Tapi Reiji tampak tidak peduli.

Reiji bersama para karyawan akhirnya makan bersama di sebuah restoran China. Seperti yang lalu, suasana agak kaku. Tapi, setelah selesai makan, Reiji mengeluarkan tempat kecil buatan Matsuda-san dari sakunya. Ia sengaja mengangkat tinggi-tinggi benda itu, agar anak buahnya menyadari.

Sedikit terbata, Reiji mulai bicara, “Oh… Terserah pada Matsuda. Tapi jika dia masih ingin bekerja bersama kita, maukah kau mengatakan padanya untuk kembali?” sebenarnya Reiji mengatakan ini pada Misaki. Tapi seolah mengatakan pada semuanya.

Mendengar semua itu, para karyawan tersenyum senang dan lega. Mereka bahkan mengucapkan terimakasih pada Reiji.

“Juga katakan hal sama pada penyambut tamu itu,” lanjut Reiji. “Ya, tidak adil jika hanya Matsuda yang diperbolehkan kembali. Tapi…! Ini adalah proyek rahasia. Aku minta kalian untuk tak membocorkan masalah ini pada staf di Hakone.”

Para karyawan itu mengiyakan permintaan sang bos. Mereka mengangguk mengerti dan setuju untuk tutup mulut.

Dan usaha Reiji sepertinya berhasil. Matsuda-san dan si penerima tamu, Dazai-san akhirnya kembali ke hotel di Hakone. Mereka disambut hangat oleh manager hotel dan juga para karyawan lainnya.

Sementara itu, Reiji memerhatikan mereka dari lantai atas, “Hal semacam itu membuat mereka sebahagia ini?” pertanyaan Reiji yang diiyakan oleh sekretarisnya.

Para karyawan yang sedang reuni itu pun melihat bos mereka di lantai atas. Lalu memberikan senyum dan hormat pada Reiji yang dibalas Reiji dengan sedikit anggukan.

Reiji sudah di pintu depan bersiap pulang. Saat itu si penerima tamu yang baru kembali bekerja yang mengantarkannya. Ia merasa sangat berterimakasih karena sudah diijinkan untuk bekerja kembali. Reiji bahkan bertanya soal bayi si penerima tahu itu. Disebutkannya jika bayinya baru lahir dua hari silam, tetapi ia kesulitan mencarikan nama untuknya.

Reiji teringat sesuatu. Ia pun mengambil buku ensiklopedia nama yang sempat dibelinya. (tadinya untuk mencari nama anjing). Reiji pun memberikan buku itu pada di penerima tamu.

“Anda baik sekali bersusah payah memberikan ini pada seseorang seperti saya,” si penerima tamu sangat terkesan dengan sikap bos-nya yang sama sekali berbeda ini.

“Jangan pikirkan soal itu. Tugas pimpinan untuk peduli pada setiap pegawainya benarkan?” ujar Reiji masih dengan canggung.

Obrolan para karyawan masih seputar bos mereka, Samejima Reiji yang belakangan berubah total. Dan si narsis Ieyasu pun mengatakan kalau si bos berubah setelah makan siang bersamanya. Ide ini jelas ditolak mentah-mentah oleh karyawan lainnya.

Mereka sudah tidak heran dengan kenarsisan karyawan satu ini dan memilih mengabaikannya saja. Daripada mendengarkan ocehan Ieyasu yang lebih banyak bualannya, para karyawan ini memilih melanjutkan saja pekerjaan mereka.

“Bisa tolong tanda tangan?” pinta Mahiro pada ketua tim Goro-san. Karyawati satu ini justru berusaha menarik perhatian sang ketua tim.

“Tentu, berikan padaku,” ujar ketua tim Goro-san.

Tapi dasar Mahiro yang ke-geer-an, dia langsung terlalu bahagia diberi senyum oleh ketua tim Goro-san. Mahiro menyusul Misaki yang tengah mempersiapkan rapat di ruangan sebelah dan pamer soal senyum ketua tim Goro-san.

“Kau punya seseorang seperti itu? Seseorang di dalam perusahaan yang bisa membangkitkan semangatmu saat kau melihatnya?” tanya Mahiro.

Misaki berpikir, “Tidak terpikirkan siapapun,” ujarnya kemudian.

“Sayang sekali jika kau tidak punya. Itu satu-satunya yang membuat hari-hari kita yang membosankan menjadi berwarna. Jangan abaikan perkataanku. Aku serius,” rajuk Mahiro kemudian yang hanya ditanggapi Misaki dengan senyum saja.

Reiji berjalan keluar dari lift dan berpapasan dengan Misaki. Saat itu keinginannya untuk disapa Misaki pun berhasil. Reiji tampak sangat senang dan penasaran. Tapi ia tetap memasang wajah se-cool mungkin.

“Sepertinya anda sudah menemukan pemilik anjing itu,” ujar Misaki.

“Oh… benar.”

“Aku ikut senang untuk anjing itu, tapi aku sedikit kecewa. Aku sudah memikirkan beberapa nama yang sangat bagus…nama yang cocok untuk anjing itu,” ujar Misaki lalu pamit pergi.

Reiji asyik mengotak-atik laptopnya. Saat itu sekt.Maiko yang datang bahkan dihalangi saat ingin tahu apa yang dilakukan Reiji. Tapi sang sekretaris lebih tahu dari siapapun soal bos-nya ini.

“Presdir, tolong berhenti mencari anjing hanya agar Shibayama Misaki bisa menamainya.”

“Aku hanya mencari tahu jenis-jenis anjing,” elak Reiji.

“Jujur saja, memelihara anjing tidak cocok untuk anda. Anda belum pernah membesarkan anjing sebelumnya, ‘kan?”

“Sudah ku katakan aku tahu, ‘kan?” elak Reiji.

“Sebelum mencari di website anjing, ada sesuatu yang harus anda lakukan. Segeralah ajak dia berkencan,” saran sekt.Maiko.

“Jika saja melakukannya semudah bicara!” Reiji merajuk.

Sekt.Maiko kembali mengingatkan, “Jika anda terlalu santai, maka akan terlambat untuk pesta. Sebelum menyadarinya, waktu dua bulan sudah berlalu.”

“Aku tahu! Kau menjengkelkan sekali!” Reiji manyun-manyun pada sekretarisnya itu, membuat sekt.Maiko keheranan. (ngambeknya Reiji unyuuuuu)

Ketua tim Goro-san menemui presdir Wada dan minta maaf soal Matsuda-san.

Tapi presdir Wada menanggapinya dengan santai, “Tidak masalah. Dia memberiku sekotak kue sebagai ucapan permintaan maaf. Selain itu, ada orang lain di Samejima Hotel yang aku inginkan.”

Ketua tim Goro keburu ge-er, “Bisa beri aku waktu sedikit lebih lama untuk berpikir?”

“Oh, bukan kau. Shibayama Misaki.”

“Kenapa kau bisa tahu dia?” ketua tim Goro-san tidak menyangka kalau nama itu yang keluar.

“Karena orang pertama yang tertarik padanya adalah aku. Saat di Paris… “ ujar presdir Wada dengan senyum penuh arti.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 03 part 1

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Ada yang tanya, sebenarnya presdir Wada ini jahat atau baik? Na sendiri belum punya jawabannya. Ntar simpulkan sendiri aja ya, setelah simak episode-episode berikutnya.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

6 comments

  1. Waduh saingan Reiji ternyata bwhaha…makin penasaran tetap semangat ^_^

  2. Hwaa… Lucu, smpe senyum2 sendiri bacanya. Sisi lain seorang bos. Ditunggu episode berikutnya ya Na. Semangat !!

    • halo yesi, terimakasih untuk komentarnya
      nih Na lagi rehat dulu bentar, kebetulan lagi nggak enak badan
      semoga minggu depan bisa lanjut ya

  3. Moga ajha si reiji dapetin misaki ,biar kepanasan jenggot tu Wada,wada
    😀
    mkasih mbak kelana buat sinopsisny

Leave a Reply

Scroll To Top