Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 02 part 1

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 02 part 1

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 02 part 1. Kehidupan damai dan membosankan Samejima Reiji, bos jaringan hotel Samejima, mendadak berubah karena kehadiran sang karyawan baru. Mulanya Reiji hanya ingin menjadikannya wanita yang bisa diajak ke pesta asosiasi hotel. Tapi semuanya berubah.

Semangat Reiji mendadak sirna saat sekretarisnya melaporkan kalau wanita incarannya, Shibayama Misaki ternyata sudah punya pacar. Dan lagi, pria itu adalah seorang pria Belgia bernama Gabriel.

Rasa campur aduk membuat Reiji keluar dan menghampiri Misaki di mejanya. Tapi melihat tatapan Misaki, Reiji tidak berkutik.

“Aku pinjam…stepler,” hanya itu yang keluar dari bibir Reiji.

Meski bingung, Misaki pun memenuhi permintaan sang bos. Ia mengambilkan stapler dan memberikannya pada Reiji. Setelahnya Reiji langsung berbalik kembali ke ruangannya, tanpa berkata apapun lagi.

Canggung, kesal, marah dan … campur aduk perasaan Reiji. “Mana mungkin aku bisa menanyakannya,” keluh Reiji di depan sekretarisnya.

“Jika anda memikirkan pandangan pegawai lain, panggil saja dia kemari,” saran sekt.Maiko.

“Itu bukan ide bagus!” elak Reiji cepat. “Apa pegawai mau menuruti atasan yang memanggil anak buahnya ke kantornya hanya untuk menanyakan apa dia punya pacar atau tidak? Seorang pemimpin yang berambisi menjadi hotel terbaik di dunia tidak boleh melakukan hal memalukan seperti itu!” Reiji menyetapler dokumen di tangannya berkali-kali.

Sekt.Maiko terdiam sebentar, “Lalu kenapa kita tak bertanya Miura Ieyasu? Aku mendengar soal ini dari Miura.” Sekt.Maiko menjelaskan kalau Ieyasu ini salah satu karyawan Reiji yang sekarang sudah bekerja di tahun kedua.

Reiji pun mengintip keluar dari ruangannya dan mengerti yang dimaksud oleh sekretarisnya itu. Dia tampak terkesan dengan si Ieyasu ini yang tampak begitu mudah bergaul dan akrab dengan semua orang.

“Masalahnnya adalah bagaimana cara anda mendekati dia?”

Obrolan di antara para karyawan masih seputar Matsuda-san, seorang petugas kebersihan yang dipecat Reiji sebelumnya. Yang bertugas untk mencarikan pekerjaan baru untuk Matsuda-san adalah Misaki. Dan menurut Misaki, lamaran untuk pekerjaan baru Matsuda-san sudah disampaikan dan tinggal menunggu jawaban.

Obrolan mereka berubah sedikit mello. Menurut para karyawan, Matsuda-san ini salah satu karayan yang paling mengesankan. Pernah pada suatu acara ulang tahun perusahaan, Matsuda-san membagi-bagikan kantong kecil buatan tangan untuk para karyawan yang lain.

Jam makan siang

Sementara rekan-rekannya masih asyik mengobrol, Ieyasu beberapa kali melihat jam tangannya. Dan setelah tepat masuk waktu makan siang, dia langsung ngacir menuju lift.

Belum sempat lift tertutup, Reiji tiba-tiba saja menyusul masuk lift juga. Ieyasu berdiri dengan canggung di dekat bosnya ini. Tapi akhirnya ia berusaha menyapa dengan sipan. Obrolan soal rencana makan siang dan tempatnya pun jadi tema mereka.

“Sejak pagi tadi aku ingin mencoba makan di restoran Cina Gia,” aku Ieyasu.

“Kebetulan. Sejak pagi aku juga ingin makan masakan Cina,” ujar Reiji pula.

Trik ini rupanya membuat Reiji berhasil makan siang dan bicara dengan Ieyasu. Dengan basa-basi, Reiji bertanya soal para karyawan baru, apa mereka bisa beradaptasi dengan baik di tempat kerja atau tidak.

Tapi dasar Ieyasu, dia justru berpikir soal dukungan pada dua karyawan baru. Hiroma Mahiro atau Shibayama Misaki. Menurut Ieyasu, karyawan lain lebih suka dengan Mahiro yang lebih ceria. Tapi ada juga yang berpikir kalau Misaki adalah pekerja keras.

“Soal pegawai baru… Apa benar bahwa dia punya pacar orang luar negeri?” Reiji bicara senormal mungkin agar tidak dicurigai.

Dan Ieyasu pun mengiyakan itu. Ia mengaku pernah mendengar Misaki bicara di telepon dalam bahasa Prancis. Dan di situ, Ieyasu mendengar kata ‘Belgia’ dan ‘Gabriel’. Artinya info ini Cuma spekulasi si Ieyasu saja. Reiji nyaris kesal dibuatnya. Tapi Ieyasu mengaku sangat yakin.

“Menurutku kau hanya menyebarkan informasi tidak jelas,” komentar Reiji, kecewa.

“Tenang saja, Pak. Hari ini, akan kupastikan masalah ini!” ujar Ieyasu yakin. “Aku akan pergi minum-minum dengan pegawai lain. Jadi jika dia punya masalah dengan pacarnya, ‘Cepat, putus saja dengannya!’ Akan ku katakan itu padanya. Tapi, kenapa anda peduli soal Misaki-chan?” Ieyasu mulai curiga.

Reiji mencari alasan, “Untuk menciptakan tempat kerja dimana pegawai bisa berkonsentrasi pada pekerjaan mereka… itu juga pekerjaan presdir!” tapi Reiji mengingatkan kalau ini adalah misi rahasia antara dia dan Ieyasu saja.

Malam itu Reiji makan malam sendirian di rumah mewahnya. Tapi ia tak berhenti menatap ponsel, menunggu kabar dari Ieyasu. Kabar itu pun datang. Ieyasu mengirim pesan kalau misi akan segera dimulai lengkap dengan foto Misaki yang tengah termenung, agak jauh. Beberapa kali Reiji mendekatkan tampilan foto Misaki dengan penasaran.

Waktu berlalu. Ponsel Reiji kembali berbunyi saat ia tengah mencuci piring. Tapi Reiji dibuat kecewa karena ternyata hanya laporan perkembangan penyelidikan, lengkap dengan foto Ieyasu.

Meski sudah berada di balik selimut, Reiji masih saja mengecek ponselnya. Ieyasu melapor kalau misi berhasil, tapi baru akan memberikan laporan besok pagi.

Reiji nyaris saja mengamuk kalau saja Ieyasu tidak mengiriminya foto Misaki. Dalam foto baru itu, tampak wajah Misaki yang lebih dekat. Misaki tersenyum sambil menutupi sebagian wajahnya dengan tangan.

Wajah kesal Reiji berubah seketika. Bukan lagi marah atau kesal. Tapi wajah … mupeng.

“Anda kurang tidur?” tanya sekt.Maiko saat menuangkan kopi ke gelas di meja Reiji.

“Aku kesulitan tidur,” aku Reiji.

Saat itu kepala Ieyasu nongol dari balik pintu dan minta izin untuk masuk. Ia mengaku ingin membicarakan soal proyek mereka. Reiji meminta agar dilakukan dengan cepat. Tapi dasar Ieyasu, ia pun meminta sekt.Maiko untuk keluar. Sekt.Maiko tampak kaget dan melirik ke arah Reiji untuk minta persetujuan. Reiji pun mengangguk menyetujuinya.

“Dan bisa tolong buatkan aku kopi? Gula dan krimer masing-masing dua sendok teh,” pinta Ieyasu pada sekt.Maiko. Dia mulai ngelunjak.

Dari luar, tampak kalau Ieyasu menutup dinding kaca ruang presdir. Ini membuat rekan-rekan kerjanya bertanya-tanya. Dan ini jadi obrolan menarik mereka. Ada yang berpikir kalau mungkin saja Ieyasu akan segera dipromosikan. Tapi ada juga yang berpikir tidak mungkin, karena promosi dipertimbangkan sesuai lama masa kerja.

Mereka baru sadar kalau Misaki tidak tampak dari tadi. Salah satu dari mereka mengatakan kalau Misaki pergi menemui Matsuda-san kembali.

Misaki menemui Matsuda-san di sebuah kafe. Tampak Matsuda-san sangat senang karena sudah dibantu untuk mendapatkan pekerjaan kembali.

“Sangat disayangkan aku harus meninggalkan Samejima Hotel. Tahun ini aku bisa mendapat pekerjaan kembali tanpa menemui kesulitan, terima kasih atas bantuannya,” ujar Matsuda-san.

Misaki tersenyum, “Diantara para tamu tetap kami, Sepertinya ada banyak dari mereka yang kembali ke Hakone setiap tahun karena keberadaanmu disana,” cerita Misaki.

Matsuda-san tampak sangat senang diberitahu hal ini oleh Misaki. Ia merasa tersentuh dan penting, meski ia hanyalah seorang petugas kebersihan. Matsuda-san lalu menyodorkan kantong kecil buatan tangannya lagi. Salah satunya ia minta diberikan kepada presdir. Matsuda-san juga mengucapkan terimakasih dan titip salam untuk para karyawan yang lain.

Dengan kopi di depannya, Ieyasu mulai laporannya. Tapi ia mengawalinya dengan sedikit berbelit, membuat Reiji sedikit kesal.

“Yang ingin ku ketahui adalah, jika pegawai baru itu memiliki pacar orang Belgia,” desak Reiji makin tidak sabar.

“Apa aku harus melaporkannya sekarang?” akhirnya Ieyasu mulai bicara lebih serius, “Setengah dari tebakanku benar. Pria yang bicara dengannya via telpon adalah orang Belgia bernama Mirco. Soal Gabriel, sepertinya aku salah dengar. Tapi, hal luar biasa bahwa aku bisa menebak pria yang dia ajak bicara adalah orang Belgia, ‘kan?” ujar Ieyasu sok bangga.

“Pria bernama Mirco itu, siapa dia?”

“Mereka sama-sama bekerja di hotel di Paris. Dia mantan pacarnya.”

“Mantan pacar?” Reiji mulai tertarik.

Ieyasu lalu menceritakan obrolannya malam itu. Misaki mengaku kalau ia sudah putus dari pacarnya itu. Meski begitu, si mantan rupanya masih saja terus menghubungi Misaki seperti seorang penguntit. Bahkan mengatakan ‘kau tidak bisa melakukan apapun, meski sudah kembali ke Jepang’. Untuk membuat si mantan ini menyerah, akhirnya Misaki mengaku kalau ia sudah punya pacar baru dan meminta untuk tidak menghubungi lagi. Setelah mendengar kebohongan ini, si mantan pun akhirnya berhenti menghubungi Misaki.

“Dia sudah memutus hubungan dengan mantan pacarnya dan sekarang dia berusaha keras untuk fokus pada pekerjaan. Jadi tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan,” Ieyasu menutup ceritanya.

“Begitu,” bibir Reiji tertarik sedikit, ia merasa lega.

Malam itu, seperti biasa Reiji diantar pulang oleh sekretaris dan sopirnya. Meski tahu kalau Misaki sudah putus dari pacarnya, ternyata ini masih belum membuat Reiji lega. Masih ada yang mengganjal dalam pikirannya.

“Apa bagusnya? Hingga belakangan ini, Dia berkencan dengan pria asing, ‘kan?”

“Kenapa dengan hal itu?” sekt.Maiko heran.

“Kau pikir aku bisa menerima wanita seperti itu setelah tahu yang sebenarnya?” Reiji ngambek. Ia memandangi malam dengan wajah ditekuk dari kursi belakang mobilnya.

“Bagaimanapun, ku putuskan membatalkan rencana untuk membawanya ke pesta,” ujar Reiji. Ia sudah sampai di rumah mewahnya bersama sekt.Maiko yang masih menemaninya bicara.

“Anda yakin akan membatalkan rencana itu?”

“Hingga saat ini, apa pernah aku menarik kembali keputusanku?” tantang Reiji.

“Anda menyerah karena alasan yang sangat konyol,” sindir sekt.Maiko.

Rupanya Reiji masih belum bisa menerima kalau sebelumnya Misaki pernah kencan dengan pria asing. Menurutnya, kalau mantan Misaki adalah orang Jepang, Reiji merasa lebih baik.

Sekt.Maiko lalu mengaku kalau sebelumnya ia juga pernah kencan dengan seorang pria Hawaii. Reiji memang tidak tahu itu. Tapi menurut sekt.Maiko, bukan hal aneh kalau wanita Jepang saat ini pernah kencan dengan pria asing.

Tapi Reiji masih tetap berkeras dengan rasa tidak sukanya. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Yang jelas Reiji sama sekali tidak suka dengan fakta kalau Misaki pernah kencan dengan pria asing. “Bagaimanapun, ide soal mengencani pria asing adalah hal yang sulit diterima.”

“Tapi dia berada di Paris selama 3 tahun, mau bagaimana lagi jika dia jatuh cinta dengan pria asing.”

Reiji makin nyinyir, “Aku bertaruh dia dan pria Belgia itu setiap hari berciuman di jalan-jalan di Paris. Di cafe terbuka juga. Bahkan di stasiun kereta api. Bahkan saat orang melihat, mereka tidak ragu untuk berciuman.”

“Pikiran anda terlalu jauh,” ujar sekt.Maiko lagi.

“Lalu apa? Dia akan menganggap aku aneh?” Reiji mulai merajuk.

“Bukan aneh… tapi tidak toleran. Pria yang mempersoalkan masa lalu pasangannya, tak bisa memaafkan isu-isu remeh, sayangnya tidak populer.”

“Lagi-lagi kau membawa soal “tidak populer”?” Reiji makin ngambek.

“Seorang wanita akan berusaha mencari tahu batas toleransi seorang pria. Ingin mempercayakan diri mereka pada seorang pria yang lapang dada, yang selalu percaya diri dan memiliki toleransi tinggi. Inilah harapan para wanita.”

“Jangan menguji rasa toleransiku,” elak Reiji.

“Lalu, apa anda benar-benar akan menyerah soal dia?”

“Untuk kesekian kalinya, ya, aku yakin! Saat ku katakan berhenti, aku akan berhenti!”

Merasa ucapannya sudah tidak didengarkan lagi oleh si bos, sekt.Maiko memilih pamit pulang. (susah kali ya punya bos kayak gini)

Misaki baru selesai di pemandian. Setelah menghabiskan botol susunya, ia mengenakan lipgloss-nya kembali. Misaki memandangi tempat kecil pemberian Matsuda-san yang digunakannya sebagai tempat lipgloss itu. Ada yang tengah dipikirkan oleh Misaki soal Matsuda-san.

Reiji baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah. Seperti sudah kebiasaan, Reiji membuka lemari es-nya. Dan di sana, masih ada sederet susu botol yang sempat dibelinya. Reiji mengulurkan tangan hendak mengambil salah satunya, ragu dan akhirnya batal mengambil susu. Reiji akhirnya terduduk di lantai depan lemari es-nya. Hatinya masih kacau, memikirkan soal Misaki.

Pagi berikutnya, Reiji berangkat ke kantor seperti biasa. Tapi kali ini, di mobil Reiji lebih banyak diam. Sekt.Maiko dan sopirnya pun hanya saling pandang dan lirik ke arah Reiji. Tapi Reiji hanya balas meriki sekilas dan tetap tidak mengatapan apapun.

Reiji justru asyik memandangi ponselnya. Ia terus saja menggerak-gerakan foto Misaki yang kemarin dikirimkan oleh Ieyasu padanya. (Reiji galau, kekekekeke)

Kantor heboh. Karyawan ribut karena tahu kalau Matsuda-san ternyata diterima bekerja di Stay Gold Hotel, hotel milik presdir Wada, saingan dari hotel Samejima. Ada yang berpikir kalau itu bukan masalah bagi mereka, lantaran Matsuda-san sudah tidak jadi karyawan mereka lagi.

“Cara berpikir umum seperti itu tidak berlalu untuk presdir kita,” ujar yang lain.

Mereka pun seperti biasa merumpikan si bos, Samejima Reiji. Reiji dikenal terlalu sensitif soal saingannya, hotel milik presdir Wada. Selain itu, Reiji juga dikenal sangat mudah memecat karyawannya hanya karena satu kesalahan kecil saja.

“Bukankah lebih baik menghentikannya sebelum presdir tahu?” usul yang lain. “Proses penerimaan kerja Matsuda-san di Gold Hotel.”

Sayangnya itu sudah terlambat. Apalagi dalam beberapa hari ke depan akan ada wawancara oleh sebuah majalah dengan bintang tamu kedua presdir hotel, presdir Wada Hideo dan presdir Samejima Reiji.

Dan benar saja, wawancara itu memang telah dijadwalkan. Reiji bersama sekretarisnya datang lebih dulu. Reiji protes karena kursinya tampak lebih kecil. Tapi sekt.Maiko berkeras mengatakan kalau itu sama saja.

Tidak lama setelahnya, presdir Wada datang dan menyapa Reiji dengan hangat. “Oh ya, soal pegawai dari hotelmu, Matsuda-san, ‘kan? Kau tak keberatan dia bekerja pada kami, ‘kan? Yah, aku mendengar sesuatu. Bahwa dia cukup dihormati dan pegawai yang setia. Tapi kenyataannya, kau memecatnya tanpa ragu?” sindir presdir Wada.

Reiji berusaha tersenyum dan mengendalikan diri, “Aku tak percaya, kau mengicar seorang pegawai yang menerima tanggungjawab besar dari kami.”

Dan perdebatan keduanya pun tak terhindarkan lagi. Presdir Wada terus saja memojokkan Reiji dan membuatnya tampak konyol. Yang paling parah menyindir soal peringkat hotel Samejima yang berada pada posisi 17. Tapi Reiji mengoreksinya cepat, kalau itu peringkat 13.

“Apa kau bisa mewujudkan impian masuk Top 10 tahun depan?” sindir presdir Wada lagi.

“Jika kau punya masalah, sekaranglah waktu yang tepat untuk mengatakannya,” balas Reiji lagi.

“Aku hanya bercanda. Kau tahu, wanita membenci pria yang tidak toleran.”

Tapi Reiji menanggapinya dengan serius, “Yang sungguh aku benci adalah orang yang terus mengatakan”Aku hanya bercanda”.”

Presdir Wada bahkan sempat memuji sekt.Maiko membuat sang sekretaris tersipu. Tapi lirikan Reiji membuat sekt.Maiko langsung mengembalikan sikap angkuhnya.

Saat itu staf dari majalah baru saja datang. Dan tanpa canggung, presdir Wada segera menyapa wanita itu dan memujinya. Hal yang sama sekali sulit dilakukan oleh Reiji dan hanya bisa dilirik kesal oleh Reiji.

Reiji kembali ke kantor sambil ngamuk-ngamuk. Ia ingin tahu siapa yang bertanggungjawab mencarikan pekerjaan baru untuk Matsuda-san. Saat itu karyawan lain mengkeret ketakutan. Tapi Misaki dengan berani mengakui kalau itu dirinya. Kaget karena ternyata orang itu adalah Misaki, Reiji meminta Misaki masuk ke ruangannya.

Reiji minta penjelasan pada Misaki kenapa Matsuda dipilihkan oleh milik presdir Wada. Misaki mengatakan kalau melihat kepribadian Matsuda-san, maka hotel itu sesuai untuknya. Yang sebenarnya ingin diketahui oleh Reiji, kenapa harus hotel milik presdir Wada, saingannya.

“Meski niatmu sesederhana karena ingin mendukungnya, itu akan memberi kerugian dan masalah besar pada kita!” protes Reiji.

Tapi Misaki sama sekali tidak tampak takut. Ia tetap berusaha memberikan argumen sebaik mungkin pada Reiji. Misaki memberikan kantong kecil pemberian Matsuda-san pada Reiji. Ia mengatakan kalau meski dipecat, Matsuda-san masih tetap menunjukkan rasa hormat dan terimakasihnya pada Reiji.

“Tolong jangan ganggu kehidupan Matsuda-san lagi!” pinta Misaki tegas. “Saya harap anda mengerti. Permisi.” Pamit Misaki kemudian.

Reiji makin kesal. Ia sebal pada sikap berani Misaki, padahal dia adalah karyawan baru.

“Tapi argumennya cukup bagus,” bela sekt.Maiko.

“Apa yang harus ku lakukan. Tinggal dua bulan sebelum pesta tapi, dia sepenuhnya membenciku,” rajuk Reiji kemudian.

Sekt.Maiko heran, “Eh? Presdir, bukankah anda mengatakan akan mundur dari rencana itu?”

“Ya, tangan kananku mundur, tapi tidak dengan tangan kiriku,” Reiji akhirnya tidak bisa mengatakan ‘tidak’ lagi.

“Jadi anda masih belum menyerah?” sindir sekt.Maiko.

“Target… Kecepatan penuh… Dua bulan. Sekali memutuskan sesuatu, aku akan menempuh kesulitan apa pun demi mencapai tujuanku. Dan ITU adalah cara Samejima Reiji menjalankan bisnis,” ujar Reiji sok cool.

“Sayang sekali, Pak. Nampaknya dia juga melihat anda sebagai pria tidak toleran.”

“Maaf sudah mengecewakan!” Reiji memamerkan wajah kekanak-kanakan. Ia bahkan menaikan salah satu kakinya.

Tapi sekt.Maiko masih belum menyerah memberikan saran, “Pertama, tolong tutup mata anda (artinya: abaikan) masalah Matsuda-san. Dan mulai sekarang berhenti mempermasalahkan hal-hal kecil. Selalu bereaksi dengan senyuman, apapun yang terjadi dan cobalah berpikiran terbuka.”

“Apa aku bisa melakukannya?” Reiji tampak tidak yakin.

“Ini bukan masalah kesanggupan. Lakukan saja. Dengan begitu, dia akan mempertimbangkan kembali penilaiannya pada anda.”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 02 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Salah satu hal yang membuat Na bertahan nonton drama ini adalah karena muka oon-nya bang Ono. Duh, Bang, kamu imut syekaleeeee apalagi ditambah muka oon itu. Inget umur, Bang. Kekekeke. Ah jadi kangen sobat Na nih, yang ngefans sama bang Ono. Mana ya, dia?

 

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top