Home / Sekai Ichi Muzukasii Koi / SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 01 part 1

SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi 01 part 1

SINOPSIS dorama Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 01 part 1. Konichiwa, Minna-san. Ah, akhirnya Na kembali dengan sinopsis baru nih. Kali ini Na lagi rehat dulu dari dunia perdetektifan. Dan sinopsis kali ini punya genre romcom, hehehehe.

Kisah ini tentang seorang pemilik hotel besar di Jepang yang belum pernah punya kekasih dan sekarang jatuh cinta pada karyawannya sendiri. Beragam tingkah konyol dan kaku dilakoninya demi mendapatkan sang pujaan hati. Bagaimana kisahnya?

Samejima Reiji, seorang pengusaha muda pemilik jaringan hotel Samejima. Dari kursi belakang mobilnya, ia memeriksa ponsel dan menonton berita.

Pada Ranking Hotel Terbaik Dunia Majalah News Monthly Magazine Amerika, Stay Gold Hotel Jepang mempertahankan posisi No. 1 selama 5 tahun berturut-turut. Presdir Stay Gold Hotel, Wada Hideo berkomentar mereka akan berusaha memberikan pelayanan terbaik.

Kesal karena hotelnya kembali kalah oleh hotel pesaing, Reiji pun menutup siaran berita itu.

Siaran berita ini juga ditonton oleh karyawan di kantor pusat hotel Samejima. Tanggapan masing-masing karyawan beragam. Ada yang berpikir kalau dirinya salah masuk perusahaan. Ada juga yang menghibur diri dengan berpikir kalau hotel tempat mereka bekerja ini masih tetap keren karena masuk top 30.

Salah satu cabang mereka di Sendai dilaporkan naik dua peringkat ke posisi 13. Tapi karyawan yang lain merusak suasana dengan mengatakan cabang lain di Hakone turun tiga peringkat ke posisi 19. Akhirnya mereka hanya saling menertawakan hal konyol soal peringkat hotel

Dari jendela mobil yang terbuka, Reiji menggunakan teropongnya. Di seberang sana, tampak seorang petugas penerima tamu baru saja mengantarkan tamunya pergi. Setelah itu si petugas kembali memeriksa ponselnya.

Puas melihat dengan teropong, Reiji meminta sopirnya menjalankan mobil. Ia tiba di pintu hotel dan disambut petugas hotel tadi. Di ruangan depan, manager hotel langsung mengenalinya sebagai presdir Reiji. Tanpa basa basi, Reiji meminta manager hotel memecat si petugas penerima tamu tadi karena dianggapnya tidak fokus kerja dan tersita dengan ponsel.

Reiji berkeliling hotel. Ia memeriksa tiap sudut hotel, bahkan hingga lantai di bawah kursi. Beberapa kali mengusap perabot, Reiji tampak puas dengan hasilnya. Manager hotel pun mengatakan siapa yang bertanggungjawab atas kebersihan hari itu, seorang karyawan veteran, Matsuda-san.

Tapi, Reiji menemukan sejumput debu di bawah sebuah kursi berat setelah menggesernya. Tanpa ragu—meski ia karyawan veteran—Reiji langsung memecah Matsuda-san. Meski diprotes oleh manager hotel, Reiji sama sekali tidak tertarik berkompromi.

“Bagiku, tidak ada yang namanya sumber daya yang sangat dibutuhkan. Jika dia pergi, maka orang lain akan menggantikan posisinya,” tegas Reiji pula.

Reiji pun melanjutkan inspeksinya. Di luar, petugas penerima tamu menyusulnya. Si petugas tadi menjelaskan kalau istrinya tengah hamil besar dan sedang sakit, karena khawatir ia terus saja memantau lewat ponselnya. Ia minta agar Reiji tidak jadi memecatnya. Tapi Reiji tidak peduli dan tetap dengan keputusan itu.

Rumor soal keberadaan presdir Reiji pun sampai ke kantor. Mereka mendapat informasi kalau Reiji datang ke hotel cabang Hakone. Dan informasi soal karyawan yang dipecat pun sudah sampai ke kantor pusat, kali ini seorang petugas penerima tamu Dazai-san dan petugas kebersihan Matsuda-san.

Mendengar informasi itu, sang ketua tim pun meminta anak buahnya untuk menemaninya ke kantor cabang nanti malam. Dua karyawan dipecat artinya mereka harus segera bertindak mencarikan pekerjaan baru untuk kedua orang tadi.

Reiji lanjut berkeliling. Kali ini ia menuju tempat pemandian air panas. Di sana ia melihat seorang wanita tengah bekerja. Wanita itu mengaku bernama Shibayama Misaki, dipekerjakan di pertengahan karir dan tengah menjalani masa pelatihan. Reiji tadinya tidak peduli, tapi saat Misaki menyiramkan air ke kakinya, Reiji merasa heran. Misaki mengatakan karena Reiji talanjang kaki, mungkin saja dingin, jadi dia menyiramkan air hangat. Pun saat keluar dari area pemandian itu, Reiji sudah disambut oleh Misaki dengan handuk terulur di tangan. Reiji tidak punya pilihan selain menerimanya.

Iseng, Reiji kemudian mengikuti Misaki, “Bekerja disini, apa ada hal yang mengganggumu?”

Misaki berpikir, “Mengganggu… soal itu kurasa…Aku tak bisa menemukan susu di hotel ini. Meski setiap cabang hotel memiliki mesin penjual minuman otomatis. Sangat mengecewakan jika tak meminum susu ketika keluar dari bak mandi.”

Reiji tidak terima. Di seluruh hotelnya tidak ada susu karena ia tidak suka. Tapi, Misaki tanpa ragu mendebat pendapat Reiji itu. Menurutnya tamu akan merasa senang jika bisa minum susu setelah mandi air panas. Misaki sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada atasannya ini.

Nyaris kalah berdebat, Reiji akhirnya mengalihkan pembicaraan, “Cermin disana…Masih kurang bersih. Bersihkan lagi!” perintah Reiji sambil beranjak pergi.

Ternyata, tanpa diketahui oleh Reiji, sekretarisnya, Muraoki Maiko memerhatikan bos-nya sejak tadi. Di pintu keluar, sktr.Maiko menyodorkan tangannya meminta handuk dan menunggu Reiji memakai kembali kaos kakinya.

Puas melakukan inspeksi hotel, Reiji menuju tanah terbuka. Ditemani oleh sekt.Maiko dan sopirnya, Ishigami Katsunori, Reiji berburu jamur langka. Rupanya salah satu hobby-nya adalah mencari dan mengumpulkan foto jamur langka.

“Anda tidak memecat gadis itu?” tanya sekt.Maiko mengomentari sikap Reiji tadi.

“Aku membatasi melakukan pemecatan hanya pada 2 orang dalam sehari, ‘kan?”

“Sejauh ini, jumlah terbanyak pemecatan yang anda lakukan dalam sehari adalah 31 orang,” komentar sang sekretaris.

“Itu cerita lama,” elak Reiji.

Reiji merasa heran kenapa gadis tadi (Shibayama Misaki) bisa diterima bekerja di hotel mereka. Tapi sekt.Maiko mengatakan kalau Misaki diterima sendiri oleh sang presdir beberapa waktu lalu. Reiji merasa suka karena pengalaman Misako yang pernah bekerja di salah satu hotel bintang lima di Paris selama dua tahun. Selain itu, Misaki juga dapat bicara dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Spanyol dan sedikit Bahasa Italia dan German.

Reiji kembali ke kantor pusat. Seluruh karyawannya di sana langsung bangun dan menyapa sang presdir. Tapi dasar Reiji, dia sama sekali tidak peduli dengan sapaan karyawannya itu dan langsung beranjak pergi ke ruangannya.

Sekt.Maiko menyusul ke ruangan Reiji dan mengatakan ada seorang putri presdir yang tertarik kencan buta dengannya. Reiji meminta fotonya dan berkomentar nilainya 72.

“Apa pendapat dia tentang aku?”

“Dia menjadi penggemar berat anda setelah membaca sebuah artikel tentang anda di Surat Kabar YomiYomi,” ujar sekt.Maiko.

Tanpa banyak bertanya, Reiji meminta sang sekretaris mengatur jadwal pertemuan mereka. Sekt.Maiko mengiyakan tapi juga merasa heran dengan sikap bosnya yang tidak seperti biasa ini. Reiji yang biasanya menolak tawaran kencan buta tiba-tiba saja menyetujuinya.

“Ini karena si brengsek, Wada,” ujar Reiji. Yang dimaksud oleh Reiji adalah Presdir Stay Gold Hotel, Wada Hideo.

Dua bulan silam, mereka bertemu di sebuah acara perkumpulan para pemilik hotel presdir Wada seperti biasa datang dengan kekasihnya. Ia mengejek Reiji yang selalu datang sendirian. Bahkan pacar presdir Wada pun ikut-ikutan mengejek Reiji. Yang lebih parah, mereka mengejek soal tinggi badan Reiji juga.

“Aku muak dengan semua penghinaannya padaku. Di pesta Asosiasi Hotel berikutnya aku pasti akan membawa seorang tunangan!” tegas Reiji.

“Tunangan?”

“Aku sudah 35 tahun. Katanya itu usia yang sempurna untuk menikah. Dan aku tak sabar melihat wajah kaget si brengsek Wada.. Akan ku pastikan memiliki tunangan yang jauh lebih baik dari pacar Wada.”

“Tapi waktu kita hanya dua bulan hingga pesta berikutnya,” sekt.Maiko mengingatkan sang bos.

“Maksudmu mustahil untuk mendapatkan tunangan dalam 2 bulan? Target… kecepatan penuh…Dua bulan!” dengan percaya diri Reiji mengatakan moto-nya. “Targetku mendapatkan hasil dengan kecepatan penuh dalam dua bulan. Hingga saat ini, diantara semua proyek kita adakah yang tidak berhasil dicapai berdasarkan target ini?”

Hari pertemuan kencan buta.

Seorang wanita cantik sudah duduk di depan Reiji. “Ku dengar kau suka sampanye. Jadi apa kesanmu tentang aku? Sekarang kita sudah bertemu.

Wanita itu sedikit kaget karena langsung diberi pertanyaan to the point dari Reiji, “Kita baru saja bertemu jadi aku masih belum tahu.”

“Kau tidak terlihat berbeda. Ah, dari foto proposal pencarian jodohmu,” Reiji mencoba mencairkan pembicaraan. Tapi kalimatnya setelahnya merusak suasana. “Foto itu menggunakan pencahayaan untuk menipu, bahkan memiliki garis masase wajah photoshop…yang sering tak bisa dipercaya.”

“Apa kau sering melakukan pertemuan pencarian jodoh?”

“Ya. Baru bulan lalu aku makan di restoran ini dengan bakal calon mempelai wanita. Oh, aku yakin ini meja yang kami gunakan ketika itu. Oh, kau tidak perlu khawatir. Tidak sepertimu, wanita itu mengerikan… Aku tak pernah bertemu dia semenjak saat itu. Aku marah sekali, sehingga aku meminta untuk membagi dua pembayaran tagihan,” ujar Reiji, sangat jujur.

Reiji pulang dengan gembira usai kencan tadi. Ia Cuma heran karena calon partnernya kali ini tidak punya ponsel, sangat tidak modern. Reiji bahkan meminta sekt.Maiko untuk mengatur jadwal temu lagi.

“Kurasa dia tidak cocok untuk anda,” ujar sekt.Maiko. Beberapa kali ia tampak ragu memilih kata-kata untuk membujuk Reiji agar mundur saja.

Reiji melihat wanita yang jadi partnernya tadi berdiri di sisi jalan dan meminta sopirnya untuk berhenti. Reiji membuka kaca mobilnya dan melihat wanita itu ternyata tengah bicara dengan ponselnya.

Sekt.Maiko tidak punya pilihan selaian mengatakannya, “Dia sudah menolak anda. Aku menerima panggilan dari pihak wanita itu. Mengatakan untuk melupakan soal pertemuan dengan anda. Sejauh yang aku tahu, dia punya 3 ponsel.”

“Lalu, kenapa dia berbohong?” protes Reiji.

“Itu jalan terakhir ketika seseorang yang tidak disukai memaksa menanyakan nomor telponmu.”

Dan isi pembicaraan si wanita itu ternyata didengar juga oleh Reiji. Wanita itu menjelek-jelekan Reiji. Reiji yang kaget bahkan hanya bisa membuka mulutnya. Setelah tahu situasinya, Reiji lalu berbalik duduk di kursinya dan meminta sopir melanjutkan perjalanan.

Hari sudah gelap saat Reiji kembali ke rumah mewahnya. Sekt.Maiko bahkan mengantarkan Reiji hingga masuk ke dalam. Merasa semuanya selesai, sekt.Maiko pun pamit pulang. Tapi Reiji menghentikannya.

“Apa…wanita membenciku?” tanya Reiji tiba-tiba.

“Aku minta maaf mengatakan hal ini tapi Sejauh ini, semua pasangan perjodohan anda menolak anda. Semuanya ada sekitar 20 orang. Dan meskipun kenyataannya mereka semua setuju untuk bertemu dengan anda.”

“Apa… ada yang salah dengan penampilanku?” Reiji meletakkan gelasnya dan duduk di sofa.

“Tidak, anda cukup tampan, dan populer, menurut pendapat publik.”

“Bahkan soal uang sekalipun, aku hidup nyaman dengan penghasilan tinggi. Lalu, kenapa mereka semua tidak menyukaiku? Apa ada yang salah denganku?” Reiji heran sendiri.

“Tidak ada. Tapi anda terlalu terus terang pada diri sendiri dan orang lain,” ujar sekt.Maiko lagi.

Reiji memandang sekretarisnya dengan heran, “Apa yang salah dengan menjadi orang jujur? Padahal aku tulus dan berusaha untuk tidak berbohong pada siapapun. Kenapa aku dibenci?”

“Berterus terang bukan sifat yang anda butuhkan untuk mencintai seseorang. Tapi untuk membuat orang itu merasa nyaman. Cinta namanya ketika anda sesekali berbohong pada seorang wanita.”

“Jadi demi membuatnya merasa nyaman,aku harus berbohong padanya?” Reiji menyimpulkan yang langsung diiyakan oleh sekt.Maiko. “Omong kosong! Aku sudah bekerja mati-matian untuk membuat para pelangganku merasa nyaman.. Kenapa aku harus membuat orang merasa nyaman di waktu pribadiku?” protes Reiji.

“Maka, kusarankan anda untuk menyerah mencari calon pengantin wanita. Tidak, kurasa anda akan sangat kesulitan menemukan calon pasangan. Karena seorang pria yang tidak tahu cara berbohong tak akan pernah populer.” Setelah mengatakan itu, sekt.Maiko pun pamit pulang.

Misaki baru saja pulang dari pemandian air panas. Tempat yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi karena ia berada di Prancis. Misaki berhenti di jembatan saat ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk. Misaki, aku sangat merindukanmu. Dalam bahasa Prancis.

Tapi Misaki tampak tidak terlalu suka dengan pesan itu. wajahnya berubah keruh.

Ketua tim memperkenalkan dua orang karyawan baru, Hori Mahiro dan Shibayama Misaki.

“Mulai hari ini mohon bantuan kalian semua, aku Hori Mahiro. Bantal kesukaanku terbuat dari sekam keras soba. Salam kenal kalian semua,” ujar Mahiro yang ceria menyapa seluruh rekan-rekannya.

Giliran berikutnya adalah Misaki, “Namaku Shibayama Misaki. Aku dipekerjakan di pertengahan karir.” Ujarnya singkat.

Rumor soal Misaki yang sebelumnya pernah bekerja di Mitz-Carlson Paris pun dengan cepat menyebar. Saat itu presdir Reiji keluar dari ruangannya. Seluruh karyawan menunduk hormat. Mahiro bahkan menyapa Reiji dan memperkenalkan diri. Tapi seperti biasa, tanggapan Reiji tetap dingin.

“Apa kita dilarang bicara pada Presdir?” Mahiro heran.

“Boleh bicara pada presdir. Tapi jangan mengharapkan respon, mengerti?”

Si karyawan tampan, Miura Ieyasu membawa Misaki dan Mahiro berkeliling. Ia menunjukkan pada mereka tempat pusat kebugaran untuk pegawai. Bahkan tempat itu juga dilengkapi dengan pemandian dan sauna.

“Itu akan sangat membantuku. Sento yang biasanya aku kunjungi tutup di akhir pekan,” komentar Misaki, tetap dengan wajah dinginnya. Misaki pun meminta Ieyasu untuk memanggil nama kelaurganya saja, Shibayama. (sento ini kayaknya semacam pemandian umum deh)

Tapi dasar si Ieyasu, ia berkeras memanggil nama diri Misaki saja. Selain berkeliling, Ieyasu juga memberitahu mereka kalau tanda dengan tulisan “Khusus untuk Presdir” di peralatan kebugaran artinya hanya digunakan presdir saja. Kalau mereka nekat memakainya, maka ada kemungkinan akan dipecat.

“Dan satu hal lagi yang perlu kalian ingat, jangan gunakan bahasa formal padaku,” ujar Ieyasu memperingatkan.

Perdebatan soal bahasa formal dan tidak formal dimulai. Ieyasu beralasan menggunakan bahasa formal dalam pembicaraan sehari-hari berarti tidak efisien dan boros kata. Dan dia tidak ingin didebat lebih lanjut. Mereka melanjutkan berkeliling, dan sasaran berikutnya adalah kafetaria.

Ketua tim, Shirahama Goro (kaca mata) bersama dua stafnya Maruta Jun (jas abu-abu) dan Matsukawa Sasahiro (jas coklat) menghadap presdir untuk melaporkan hasil kunjungan mereka.

“Kami akan melaporkan hasil survei tentang kunjungan kembali pelanggan ke cabang Hakone. Kami menanyakan bagaimana pendapat mereka soal penurunan peringkat Good Hotel oleh Majalah News Monthly Magazine. 78% memilih “aku tak peduli soal itu”. 17% memilih “Merasa sedikit khawatir”. Sementara 5% memilih, “Aku tak akan pernah kembali kesini.””

Reiji masih asyik memandangi laporan di depannya, “Apa alasan mereka yang mengatakan\N tak akan pernah kembali lagi?”

“Ya, soal itu… ada banyak jawaban, seperti “Aku cenderung ingin mencoba hotel lain.””

“Hotel lain?” Reiji heran.

“Kebanyakan dari mereka menyebutkan, “Stay Gold Hotel”.” Jawaban ini membuat Reiji makin kesal.

Sekretaris Maiko masuk membawakan kopi untu Reiji, “Saya minta maaf sekali untuk tadi malam.”

“Untuk perkataan aku tak akan populer diantara wanita jika terus melakukannya dengan caraku?”

“Ya. Perkataan itu sangat kasar.”

“Tidak perlu meminta maaf. Akulah yang ingin mendengar pendapatmu. Tapi aku masih tak mengerti kenapa aku harus berbohong demi disukai wanita,” Reiji bangun dari kursinya dan memandang ke arah jendela.

“Mungkin itu karena anda belum bertemu seseoang yang sungguh anda sukai?”

“Jangan konyol! Aku memiliki pengalaman cinta sebanyak orang lain!” elak Reiji.

“Paling lama, hubungan anda bertahan berapa lama?” sekt.Maiko penasaran.

Reiji gelagapan, “Itu mencampuri urusan pribadiku.”

Sekt.Maiko pun paham, “Lalu, misalnya seorang wanita datang terlambat ke kencan kalian dan mengatakan, “Maaf membuatmu menunggu,”apa yang akan anda katakan?”

“Tentu saja, akan ku katakan padanya dengan rinci sudah berapa lama aku menunggu,” ujar Reiji dengan jujurnya.

“Seorang pria akan berbohong. Tak apa. Aku juga baru sampai.” Pertemuan pencarian jodoh selanjutnya sudah menanti. Dibanding harus menjelaskannya pada anda, kurasa lebih baik bergegas dan memulai melatih saran dariku,” sekt.Maiko memeringatkan.

Tapi Reiji memilih menolak pertemuan perjodohan kali ini. Sekt.Maiko tidak menyerah. Ia menunjukkan foto calon partnernya pada Reiji yang kemudian dikomentari dengan skor 81, cukup tinggi.

“Dia bilang ingin bertemu anda, malam hari juga tak masalah,” bujuk sekt.Maiko lagi.

“Berbohong demi menyenangkan wanita itu mustahil untukku,” protes Reiji.

“Tidak perlu terlalu aktif. Dengarkan saja perkataannya tanpa membantahnya itu merupakan bentuk terbaik dari berbohong. Ini demi menutup mulut Pesdir Wada, bukan?” dan bujukan kali ini pun tidak bisa ditolak oleh Reiji.

Malamnya, Reiji benar-benar makan malam bersama wanita cantik. Beberapa kali wanita itu memuji soal restoran, makanan hingga apakah Reiji sering datang ke sana. Tapi sesuai saran sekretarisnya, Reiji memilih sedikit pasif dan hanya menjawab dengan ‘iya’ saja.

Pertemuan selesai. Reiji pulang bersama sekretaris dan sopirnya. “Aku bertaruh dia menolakku, ‘kan?” tebak Reiji setelahnya.

“Ya. Dia mengatakan, ketenangan anda terasa mengerikan.”

Reiji tidak mau berkomentar lagi. Saat sopirnya menyalakan musik kesukaannya, Reiji memilih menarik kakinya ke atas kursi dan memandangi lampu-lampu di luaran sana.

Hari libur. Reiji masih tetap tidak terpejam semalaman. Ia masih memikirkan kenapa selama ini wanita selalu menolaknya. Hari sudah pukul 7 pagi saat akhirnya Reiji memutuskan untuk bangun dan berganti pakaian.

Di depan rak bukunya yang tertutup deretan buku, Reiji memilah. Diambilnya sebuah buku tentang jamur. Seperti kesukaannya, Reiji melihat halaman demi halaman buku itu dengan kaca pembesar. Reiji benar-benar sangat menyukai jamur.

Puas menatap jamur di buku, Reiji pun keluar rumah. Tempat yang ia tuju adalah akuarium. Di sana, ia terlalu asyik memandangi ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari.

Hari libur Misaki juga digunakannya untuk mengunjungi perpustakaan. Setumpuk buku tebal pun diambilnya.

Setelahnya, Misaki seperti biasa datang ke pemandian umum. Misaki mengecek ponselnya saat sebuah pesan masuk. Tanpa ragu, Misaki pun mengirimkan balasan Sudah berakhir, hubungan kita. Aku di jepang dan tak bisa menemuimu lagi.

Pemilik pemandian menegur Misaki dan bertanya apa itu dari pacarnya. Tapi Misaki mengelak dan mengatakan kalau itu hanya pesan dari orang yang menggantikan pekerjaannya di Paris dulu.

Hari libur cepat berlalu. Dan hari kerja siap di depan mata. Reiji sudah duduk di kursi meja makan untuk sarapan. Tapi berita yang muncul di koran pagi itu membuatnya benar-benar kesal. Kerry Peity Kunjungi Jepang!

“Kenapa artis terkenal dari luar negeri menginap di hotel Wada dibanding di hotel kita?” pertanyaan pertama Reiji saat baru saja sampai kantor.

“Kurasa mereka sudah mengenal Stay Gold Hotel karena memiliki cabang di luar negeri,” ujar sekt.Maiko.

“Aku tahu. Yang ingin ku dengar adalah bagaimana caranya supaya kita bisa mendapatkan tamu seperti itu?”

“Kantor cabang Stay Gold Hotel di New York aktif dalam kegiatan PR untuk artis internasional. Bahkan sebelum itu pun, mereka sudah memiliki hubungan erat dengan Hollywood dan pengusaha. Jadi jika bicara soal mematahkan dominasi, kita harus…” sekt.Maiko masih terus memberikan penjelasan sementara mereka menuju ruangan presdir di lantai atas.

Reiji dan sekt.Maiko tiba di depan ruang direktur. Saat itu suasana masih sepi. Tapi mereka dikejutkan karena pintu ruangan direktur terbuka.

“Hei, sedang apa kau?!” Reiji nyaris marah saat yang dilihatnya dari balik akuarium kesayangannya adalah Shibayama Misaki, si karyawan baru. “Kau dipe–…!” tapi kata terakhir tida berhasil disebutkan Reiji. Hingga akhirnya justru kalimat lain yang keluar dari bibir Reiji, “Kumbang…macan leher merah menyala, seperti itulah penampilanmu.”

“Bisa katakan sekali lagi?” Misaki sama sekali tidak memahami situasi.

“Aku bilang, kau terlihat sama seperti kumbang macan leher merah menyala. Itu milik keluarga kumbang serangga. Meski sudah pernah bekerja di hotel bintang 5 di Paris, kau bahkan tidak tahu apa itu kumbang macan leher merah menyala?” Reiji mencoba menata ucapannya.

“Maaf soal pengetahuanku yang dangkal. Serangga itu…”

“Kumbang macan leher merah menyala. Ingat itu!” Reiji mulai bisa menguasai diri.

“Kumbang macan leher merah menyala. Apa mirip denganku?” Misaki masih penasaran.

“Ya, tidak terlalu mirip. Jika kau sedikit lebih kecil, kau bisa ditangkap,” ujar Reiji lagi.

“Apa itu serangga yang besar?”

“Bukankah aku bilang jika kau sedikit lebih kecil!?” kali Reiji mulai kesal.

“Aku akan belajar soal serangga itu nanti,” janji Misaki.

“Tidak perlu! Hanya saja kau sedikit mengingatkanku pada serangga itu saat kau berdiri disana.”

Sekt.Maiko lalu menjelaskan pada Misaki kalau hanya presdir saja yang boleh memberi makan ikan peliharaannya yang ada di ruangan itu. Misaki mengerti dan minta maaf. Ia pun menawarkan untuk membelikan makanan baru karena makanan yang ada nyaris habis. Tapi Reiji menolak. Misaki pun akhirnya pamit keluar.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Sekai Ichi Muzukashii Koi episode 01 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Gimana kesan episode pertama drama satu ini? Ehm … masih pemanasan juga kok. Tenang aja, nanti akan ada banyal hal konyol yang dilakukan Reiji untuk menarik perhatian wanitanya ini. Hehehehe

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top