Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 10 part 2 end

SINOPSIS Kaito Yamaneko 10 part 2 end

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 10 part 2 end. Sekali lagi, Yamaneko menyusup ke kediaman Yuuki Tenmei. Kali bersama Sekimoto dan dibantu oleh Mao bersama Rikako-san.

Di ruangan yang sama seperti sebelumnya, Yamaneko sudah ditunggu oleh Katsumura. Senpi pun teracung padanya. Tapi Yamaneko kali ini lebih cerdik dan berhasil melumpuhkan Katsumura. Satu luka tembak menganga pun ditinggalkan Yamaneko di pinggang Katsumura. Sekarang melanjutkan misi. Menemukan Yuuki Tenmei.

Yamaneko sempat terjebak di ruangan bawah tanah saat ruangan itu terkunci dengan udara yang makin tipis. Dengan bantuin Rikako-san, Mao pun berhasi masuk ke ruang kendali keamanan rumah Yuuki Tenmei. Sekarang Mao sudah berhasil mengambil alih seluruh sistem keamanan mereka.

Udara tipis pun berangsur normal dan pintu yang terkunci berhasil dibuka. Yamaneko yang sempat pingsan karena nyaris kehabisan udara sadar kembali dan siap melanjutkan misi.

“Dan kita bertemu keberuntungan yang tersembunyi.”

Yamaneko berjalan di ruangan sebelah yang gelap. Hanya ada tempat lapang dengan beton-beton penyangga. Sampai lampu dinyalakan dan saat Yamaneko berbalik, ia menemukan sosok bertopeng aneh yang selama ini dicarinya.

“Akhirnya yang asli muncul.”

Sosok bertopeng itu melemparkan pedang ke arah Yamaneko. Tanpa ragu ia pun mengambil pedang itu. Dan tidak butuh banyak jurus hingga pedang yang dipegang Yamaneko berhasil membelah topeng aneh itu. Yamaneko berbalik. Tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat sosok di balik topeng aneh itu, Sekimoto.

“Inui-san, apa maksudmu dengan hubungan yang memalukan?” desak Sakura saat ia mengekor det.Inui menuju ruang keamanan.

“Kita salah. Orang yang kita sangka Sekimoto Shugo adalah orang lain.

“Kau adalah Yuuki?” pertanyaan Yamaneko ini dijawab tawa oleh Sekimoto. “Apanya yang lucu?”

“Aku, Yuuki? Bukan.” Sekimoto lalu meminta Mao untuk memasukkan kode.

Meski masih diliputi heran, Mao menurut saja. Dan tidak lama setelahnya, sebuah pintu di dekat tempat Mao dan Rikako-san berada, terbuka. Ada sosok bertopeng aneh duduk di sana. Rikako-san mendekatinya dan menarik topeng itu. Tidak ada respon. Ternyata di dalamnya adalah tengkorak tubuh seseorang.

“Yuuki Tenmei sama sekali tidak ada,” Rikako-san menyimpulkan.

Tapi sebuah suara terdengar di ruangan itu, “Itu juga salah. Aku ada di sini.”

Mao akhirnya paham, “Kecerdasan buatan,” komentarnya kemudian.

Kembali ke Yamaneko dan Sekimoto

Sekimoto melanjutkan ceritanya, “Yuuki Tenmei mati 10 tahun yang lalu. Tapi, ajudan Yuuki dan pejabat pemerintah menggunakan sebagian kekayaannya untuk menanam pikirannya ke komputer. Kau mengerti? Tubuh Yuuki tidak ada, tapi semangatnya masih ada di dunia internet. Aku ingin meluruskan sesuatu padamu. Hal tentang aku bercerai dan punya seorang anak, dan tentang Yuuki mengancamku itu bohong. Aku mengikuti Yuuki dengan kehendakku sendiri. Kata-katanya bergema di kepalaku. Dan menurutku keberadaannya diperlukan untuk negeri ini. Itu sebabnya aku memutuskan menjadi tangan kanannya, meski tubuhnya sudah mati.”

“Berhenti mempermainkanku. Aku memercayaimu. Bukankah kita saling bertarung untuk mengubah negeri ini?!” bentak Yamaneko. Emosinya mulai tersulut.

“Kalau begitu katakan padaku. Apa yang ingin kau lakukan untuk negeri ini? Apa yang ingin kau ubah? Apa kau ingin menyingkirkan politisi yang bekerja hanya untuk memperkaya diri?!”

Serangan yang dilakukan oleh Yamaneko berhasil dilumpuhkan oleh Sekimoto dengan mudah. Sekarang Yamaneko justru terduduk di lantai.

“Kau ingin mendidik kembali masyarakat? Kau ingin mengembalikan semangat Jepang dengan membuat mereka mempelajari kembali semangat Bushido? Menurutmu itu mungkin? Jawabannya adalah tidak. Orang-orang di negeri ini berjuang untuk masa depan pribadi bukan untuk negara. Bahkan tanpa mencatatnya, tak seorang pun yang tak puas untuk mengubah apa pun. Orang-orang di masa sekarang tak begitu buruk seperti yang kita pikirkan!” bentak Sekimoto tak kalah keras.

“Bukan! Kita tahu bahwa kita tak bisa membiarkannya seperti ini. Harus ada hal-hal yang berubah. Kau tahu itu!”

Sekali lagi Yamaneko mencoba menyerang, dan kembali ia berhasil dilumpuhkan oleh Sekimoto.

“Negeri ini menjadi sangat kaya. Saat seseorang sudah merasakan kemewahan, mereka tak ingin mengubah gaya hidup. Jadi, apa yang harus kita lakukan pada negeri ini? Mempertahankan. Bahkan jika kepentingan nasional kita menyebar melalui dunia, apa yang harus kita lakukan agar masyarakat mengalami stabilitas? Yaitu dengan mempertahankannya. Itu adalah filosofi Yuuki. Kita tak memerlukan reformasi besar,” ujar Sekimoto.

“Omong kosong. Padahal kau tak melakukan apa pun tapi kau bicara sok-sokan!” Yamaneko kembali menyerang. Dan sekali lagi serangan penuh emosi dan tanpa perhitungan itu dengan mudah dipatahkan. Sekarang ia bahkan dipukuli oleh Sekimoto.

“Lalu apa yang kau lakukan? Apa kau membongkar penipuan untuk mereformasi negeri ini? Tidak. Kau hanyalah boneka Yuuki. Mengungkap persekongkolan politisi yang tak bermoral, skandal organisasi pemuda politik, dan skandal perusahaan hiburan. Semua yang kau pikirkan dan yang kau lakukan semuanya perintah dari Yuuki. Kau bertindak sesuai dengan rencana Yuuki!”

Tapi mulut penuh darah Yamaneko masih tetap saja mengelak. Ia tidak mau mengakui kalau semua hal yang selama ini dilakukannya hanyalah mengikuti rencana Yuuki.

Sekimoto masih terus bicara, “Kau membuat Yuuki tetap hidup. Menurutmu uang yang kau dapatkan dengan kerja keras hasilnya ke mana? Yuuki yang mendapatkannya. Semuanya menjadi dana politik Yuuki. Untuk membawa kembali senyuman orang-orang. Itu prinsipmu, ‘kan? Tapi apa benar kau menginginkan hal itu? Jika benar, lihatlah sekeliling. Semua orang tersenyum dengan cara mereka sendiri. Mereka hidup bahagia. Itu yang kau inginkan, bukan? Kau terjebak pada senyum mereka, padahal kau sendiri tak bisa tersenyum. Karena cara hidupmu sudah ditentukan sejak awal dan kau tak pernah tersenyum. Kau hanya ingin memuaskan keinginanmu sendiri. Kau ingin balas dendam pada Yuuki. Kau membenci Yuuki, yang hanya membawa kesedihan dan mengancurkan seluruh hidupmu. Karena itu kau ingin membalasnya. Hanya itu saja!”

“Tidak. Kubilang tidak!”

Perkelahian sekali lagi terjadi. Kini bahkan hingga pedang yang dipegang Yamaneko pun terlepas.

“Apa kau tahu kenapa aku berpakaian begini? Agar aku bisa membimbingmu. Kau dijual pada Yuuki, dikhianati oleh Yuuki, kau tumbuh untuk membenci Yuuki, dan dimanfaatkan olehnya saat kau mencoba untuk mengubah negeri ini. Tapi, daripada melawan Yuuki, kau malah dimanfaatkannya. Semua yang kau lakukan hingga saat ini sia-sia. Hidupmu tak berharga. Sekarang Yuuki mengkhianatimu, kau hanyalah penjahat. Meski begitu, apa kau ingin hidup untuk negeri ini meski ingin balas dendam?”

Yamaneko makin frustasi, “Diam!” tangannya lalu sigap mengambil pedang dan menusukkannya pada tubuh Sekimoto.

Sekimoto tidak menyangka apa diserang dengan tiba-tiba seperti ini. Tapi ia masih berusaha tersenyum. Dilepasnya pedang itu dari tubuhnya, lalu menatap Yamaneko, “Kau akan mencuri tapi bukan merampok. Tapi, jika kau ingin sesuatu berubah, jadilah perampok. Coba tunjukan kekuatan itu padaku! Apa esensi dirimu? Jati diri! Jati dirimu! Aku ingin tahu apa yang tak pernah bisa kau lepaskan. Yamaneko… Ke mana kau akan pergi?” Sekimoto lalu ambruk.

“Semuanya sia-sia,” desis Yamaneko pelan. Ia mengambil pedang yang ada di sebelahnya, meletakkannya di dekat lehernya dan bersiap menarik pedang itu saat sebuah suara menghentikannya.

Suara Mao, “Hentikan! Tidak sia-sia! Yang kau lakukan tidak sia-sia! Aku bisa tersenyum karena ada dirimu! Bukan hanya aku. Semua orang tersenyum berkat dirimu. Kau menghadapiku dengan terus terang dan kau memukulku dengan sungguh-sungguh! Jangan bilang tak ada gunanya hidup. Jangan pernah mengatakan hal itu! Aku mohon, dengarkan suaraku!” pinta Mao.

Pintu ruangan keamanan itu digedor dari luar. Rupanya polisi sudah ada di depan sana. Ingin memberikan kesempatan lebih banyak, Rikako-san berusaha menahan pintu itu dan meminta Mao untuk lanjut.

Mao yang mengerti melanjutkan bicara, “Kau pernah bilang padaku,”Kau tak sendirian, Kau memiliki seseorang di sisimu”. Kau tak sendirian. Karena kami ada di sisimu. Aku bisa berubah karena kau ada di sisiku. Jadi, terima kasih!”

Rikako-san tidak bisa lagi menahan pintu saat polisi akhirnya mendobrak masuk. Mereka terdiam melihat Mao menangis, masih tetap di bawah acungan senpi.

“Buka pintu ke ruang bawah tanah!” perintah det.Inui kemudian.

Mao menuruti perintah itu.

Sementara itu di bawah tanah, Yamaneko perlahan melunak. Ia memandangi buku Bushido yang tergelatak tidak jauh di depannya, tepat di samping genangan darah. Sementara itu, jasad Sekimoto sudah tidak ada.

Mao dan Rikako-san pun ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Det.Inui, Sakura dan timnya masuk ke ruang bawah tanah. Tapi yang mereka temukan hanya bekas darah, tanpa ada siapapun di sana.

“Apa yang terjadi di sini?” Det.Inui sama sekali tidak mengerti.

“Yamaneko… Sekimoto-san…”

“Cepat periksa sekitar dan jangan biarkan mereka lolos!” perintah det.Inui pada anak buahnya.

“Apa yang sebenarnya kita kejar? Mereka…Apa Yamaneko sungguh di sini?” keraguan muncul dalam hati Sakura.

“Di sini. Aku yakin Yamaneko pasti ada di sini!” ujar det.Inui yakin.

Satu tahun kemudian.

Det.Inui mengeluh karena tidak pernah hafal nama tim mereka, sambil membolak-balik label tim di atas meja, Markas Besar Investigasi Pencurian Tokyo. Satu tahun sudah berlalu, tapi keberadaan Yamaneko maupun Sekimoto masih belum diketahui. Katsumura yang dibawa ke rumah sakit juga kabur. Selain itu, rumah yang mereka kira kediaman Yuuki itu juga ternyata bukan milik Yuuki. Rumah itu disewa oleh orang lain yang memiliki nama sama sekali berbeda.

“Karena tak ada orang yang bernama Yuuki Tenmei,” ujar Sakura. Ia tengah mengepak barang-barangnya dan dimasukkan ke dalam kardus.

“Kau akan dikirim ke mana?” tanya det.Inui.

“Karena mereka tahu aku membocorkan informasi, aku dipindahkan ke wilayah pedesaan,” cerita Sakura. “Kalau kau?”

“Aku kembali ke markas untuk mengejar Yamaneko.” Det.Inui beranjak pergi. Tapi belum jauh, ia berbalik. Det.Inui berpesan agar Sakura menjadi polisi yang baik.

Di waktu nyaris bersamaan, Mao juga baru keluar dari pusat penahanan anak. Ia merasa begitu lega menghirup kembali udara kebebasannya. Mao kembali datang ke bar Stray Cat. Berbeda dengan dulu, tempat itu kini tampak gelap dan kosong.

Mao duduk di salah satu kursi lalu merogoh ponselnya, Aku sudah sampai di Stray Cat. Pesan dikirimkan Mao pada Rikako-san. Balasan masuk tidak lama setelahnya. Aku hampir sampai, tunggu aku.

Tapi alih-alih melihat kedatangan Rikako-san, Mao justru mendengar sebuah suara sumbang mendekat, tengah asyik bernyanyi. Suara yang begitu dikenalnya. Pintu bar kemudian terbuka. Dan senyum Mao terkembang makin lebar melihat siapa yang datang di sana.

SELESAI

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note :

Halo minna-san, gimana ending dari drama satu ini? Akhirnya selesai juga, yatta!!! Ah, jangan marah sama Kelana dong. Protes sana sama Yamaneko-nya, kenapa pergi menghilang nggak bilang-bilang. Yang jelas ending dari drama ini bener-bener nggak terduga ya? Bagian dari episode terakhir ini benar-benar penuh twist dan kejutan tidak terduga.

Na ucapkan terimakasih untuk semua yang udah sabar nyimak dan menunggu postingan Na dengan setia hehehehe. Ok, sekarang kita bicara soal proyek sinopsis selanjutnya. Seperti Na bilang, proyek kali ini Na mau buat romcom. Ada yang udah nemu judulnya?

Sampai jumpa di proyek sinopsis berikutnya.

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

4 comments

  1. Trimakasih…kmrn sempat lupa krn kelamaan nunggu update sinopx
    Hehhe…semngat y buat sinop film selanjutx (^^)

  2. Makasi kak sinopsisnya….. lama gak baca yang detektif2 saya…. di tunggu sinop yang seru dan lucu hehe. oh ya…. kalo liat drama ini yang suka bilang “meyooow…” yamaneko tapi yang punya senyum imut kaya kucing manis banget katsumura….. waaaaa. keren

    • iya, yang sering bilang meowww emang yamaneko
      tapi senyum kucing-nya katsumura tetap juwara
      sayang, sekarang udah nggak bisa lagi lihat senyum kucing super imut itu
      pemeran katsumura, narimiya hiroko udah retired dari dunia entertainmen
      hiks
      my beloved cat smile and my best of the best villain ever T_T

Leave a Reply

Scroll To Top