Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 09 part 2

SINOPSIS Himura and Arisugawa 09 part 2

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 09 part 2. Penculikan Alice membuat kepolisian heboh. Himura-sendiri tampak lebih frustasi dibanding kasus-kasus sebelumnya. Lewat GPS, mereka berhasil melacak keberadaan Alice.

Alice diikat di kursi. Salah satu anggota Shangri La Crussade, Saga-san dicurigai pengkhianat. Ia pun ikut diikat. Dan sekarang saatnya eksekusi.

Moroboshi mendekati Saga dan bicara di depannya, “Kau bisa memohon untuk tetap hidup.”

“Tidak ada gunanya,” balas Saga-san.

“Kalau kau tidak peduli hidupmu, kau bisa serahkan jiwa dan ragamu untukku. Mati di sini atau patuh dan ikut bersama kami,” Moroboshi memberikan pilihan.

Saga-san tampak berpikir, “Baiklah. Aku menunda kematian. Hidupku milikmu!”

Saat itu Anna dan rekannya si rambut cepak, Jou baru kembali. Mereka sudah membawakan minuman dan gelas yang diminta oleh Saga-san. Sementara Onuzuka juga telah melepas tali yang mengikat Saga-san. Anna memegang gelas di tangannya gemetar, sementara Jou menuangkan minuman dalam gelas itu. Saga-san menerimanya dan meminumnya tanpa ragu. Tapi sesaat kemudian Saga-san memegangi lehernya, ia kesakitan lalu ambruk di lantai.

Suasana berubah tegang. Alice meminta mereka untuk memanggil ambulan, tapi tidak direspon. Anna tampak ketakutan melihat Saga yang terkapar di lantai. Sementara Onizuka dan Moroboshi melihatnya dengan tatapan dingin seperti biasa.

“Tidak ada yang bisa menghentikan kematian,” komentar Moroboshi.

“Bre****k! Dia mencurangiku!” desis Jou.

Alice makin frustasi melihat seseorang meregang nyawa tepat di depannya, tapi ia tidak bisa melakukan apapun. “Kalian semua sampah! Kalian membunuhnya setelah memberinya harapan!”

Onizuka tampak tidak suka, “Anna, Jou! Apa-apaan ini?!”

Anna ketakutan dan menyingkir ke sisi ruangan. Sementara Jou tidak memberikan respon apapun. Tatapan Alice masih begitu marah melihat mereka semua.

Onizuka lalu mengacungkan senpi ke arah Alice, “Sejak awal, kami tidak berniat untuk membunuh Saga. Ini Cuma tes apakah dia akan berguna untuk kami atau tidak.”

“Kalau begitu, ini apa?!” protes Alice.

Onizuka berbalik ke arah Jou dan Anna, “Kalian berdua, meracuninya?”

Moroboshi tidak memberikan respon apapun, “Ayo Onizuka. Aku tidak butuh orang tidak berguna!”

Onizuka lalu memukul Jou hingga pria itu pingsan. Ia kemudian meminta Anna untuk mengikat Jou. Tapi belum selesai, Onizuka menyeret Anna dan mengikatnya di kursi. Anna terus meronta dan mengatakan kalau bukan dia pelakunya. Tapi Onizuka tidak peduli.

Moroboshi mendekati Alice, “Katakan pada Himura Hideo … “ Moroboshi berbisik di telinga Alice.

Moroboshi dan Onizuka kemudian pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan Saga mati, Jou tidak sadarkan diri dan Alice serta Anna yang terikat. Teriakan mereka yang minta dilepaskan pun tidak dipedulikan lagi.

Alice yang frustasi menggerak-gerakan kursinya. Bukannya lepas, Alice justru terjatuh di lantai. Matanya tidak lagi fokus. Tatapannya melihat satu per satu orang-orang di ruangan itu. Hingga seseorang akhirnya datang.

“Alice!” Himura-sensei datang dan menemukan Alice yang sudah terkapar di lantai masih dalam keadaan terikat.

“Kau terlambat, Ksatria Putih!” keluh Alice.

Bersama Himura-sensei, det.Hisashi dan det.Ono juga mengekor di belakangnya. Mereka memeriksa Saga dan mengatakan kalau pria itu sudah tewas.

Anna dan Jou dibawa ke mobil polisi. Selain tim pimpinan det.Hisashi, tim lain juga sudah menyusul ke TKP. Mereka bagi tugas untuk melakukan penyisiran di sekitar tempat itu dan juga melakukan wawancara dengan Jou serta Anna. Dan tentu saja menginvestigasi jasad yang mereka temukan bersama Alice dan yang lain.

“Aku lega karena rekanmu selamat,” ujar polisi itu pada det.Hisashi.

Alice yang terluka dahinya ditolong oleh tim medis yang juga datang. Sementara Himura-sensei berdiri tidak jauh darinya.

“Mereka menculikku untuk membuatmu serius. Aku terlibat kekacauan ini,” ujar Alice.

“Maafkan aku.”

“Jangan minta maaf. Itu tidak seperti dirimu,” komentar Alice atas permintaan maaf rekannya itu. “Aku punya pesan dari Moroboshi Sanae. Aku ada di dekatmu. Seperti cinta yang ditolak olehmu. Himura, jangan terpengaruh provokasinya,” pinta Alice.

“Tidak akan,” tapi pikiran Himura-sensei masih mengembara pada Moroboshi.

Tadinya det.Ono hanya memerhatikan dua sahabat ini dari jauh. Tapi akhirnya dia pun mendekat, “Di mana saat pria di lantai tadi terbunuh?”

Alice melihat ke arah det.Ono dengan tatapan terluka, “Aku melihatnya mati di depanku. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun.”

Alice dan yang lain kembali ke lantai bawah tempat Alice tadinya disekap.

“Setelah dia minum, dia langsung mulai kesakitan,” cerita Alice. Kejadian tadi pun berputar lagi. Alice histeris melihat si pria itu, Saga kesakitan dan minta agar dipanggilkan ambulan. Tapi ternyata tidak ada yang merespon permintaannya.

Ahli forensik, Yasoda-san turut bergabung, “Berdasarkan busa di mulutnya dan aroma almond, racun itu adalah Potasium Sianida (lebih terkenal dengan ‘sianida’). Itu yang menyebabkan dia kesakitan.”

Kemungkinan kalau Saga bunuh diri pun diungkapkan. Tapi Alice menolak ide itu. Menurutnya, Saga setuju untuk tetap hidup tepat sebelum dai terbunuh. Itu artinya salah satu dari mereka, Moroboshi, Onizuka, Jou atau Anna yang meracuninya. Moroboshi sendiri berdiri agak jauh, jadi tidak mungkin dia bisa menuangkan racun di gelas. Selain itu, Moroboshi dan Onizuka tidak berniat membunuh Saga.

“Haruskah kita percaya pada ucapan orang gila seperti mereka?”

“Kupikir mereka bicara jujur,” sambung Alice. Ia pun menceritakan soal Jou dan Anna yang sempat keluar sebentar untuk mengambil minuman. Kemungkinan salah satu dari mereka yang menuangkan racun pada minuman Saga.

“Tapi itu aneh,” ujar Himura-sensei.

Himura-sensei melanjutkan kalimatnya, “Meski salah satu dari mereka menuangkan racun, menurutmu, mereka tidak tahu kalau senpi-nya kosong. Dengan kata lain, mereka yakin kalau Saga akan dihabisi. Jika mereka yakin Saga akan dihabisi, kenapa mereka harus susah-susah meracunnya? Meski mereka punya dendam pribadi dan hendak menghabisi Saga, mereka tidak perlu turun tangan langsung. Onizuka akan menghabisi Saga juga.”

Alice menyadari sesuatu, “Saat kuingat lagi, mereka sangat terganggu saat Saga sekarat.”

“Kalau begitu, kita perlu menginvestigasi Jou dan Anna untuk memastikan kesesuainnya dengan testimoni Alice,” ujar det.Hisashi.

Dari arah lain muncul si Sakashit. Dia menemukan tablet milik Jou. Di sana ada history kalau Jou sudah membeli obat dari pasar gelap. Si ahli forensik, Yasoda-san lalu menawarkan diri untuk mengembalikan data tablet itu seluruhnya.

“Aku juga dikenal sebagai master cyber,” ujar Yasoda-san narsis.

Det.Hisashi, det.Ono, Himura-sensei dan Alice menginterogasi Anna.

“Aku tahu kalau Moroboshi memang tidak berniat membunuh Saga. Tapi, ada yang berubah. Aku melapor pada Moroboshi kalau Saga mencurigakan. Jadi dia bilang dia akan mengetes Saga,” cerita Anna.

“Kuingat, saat Onizuka mengeluarkan senjatanya, kau tidak kaget,” ujar Alice.

“Karena aku tahu kalau senpi itu kosong.”

Sejauh ini pengakuan Anna meyakinkan. Ia ditanyai juga saat keluar bersama Jou untuk mengambil minuman. Saat itu, Jou sengaja menabrak Anna hingga botol yang dipegang Anna jatuh dan pecah. Saat Anna berbalik mengambil gelas, saat itulah Jou menabur racun.

“Kenapa Jou meracuni Saga?”

“Entahlah. Kita punya tujuan berbeda-beda saat bergabung dengan Shangri-La Crussade. Aku hanya melakukan yang diperintahkan. Tapi, Jou selalu mengatakan hal-hal ekstrim. Seperti, aku akan mati demi revolusi atau aku bisa mati kapan saja.”

“Lalu, kenapa kau keluar ikut Jou mengambil minuman?”

“Aku tidak suka suasananya,” aku Anna.

Interogasi selanjutnya adalah Jou.

“Itu adalah pengorbanan tak terhindarkan untuk revolusi,” ujar Jou saat ditanya soal kematian Saga.

“Tapi kematian Saga tidak ada artinya dan tidak punya alasan,” elak Alice. “Kau percaya kalau Saga akan dimusnahkan?”

“Karena itulah, aku mengambilkannya minuman sebagai permintaan terakhirnya.

“Jadi, menurutmu Anna yang meracuninya?”

“Ya. Anna menaruh racun di gelasnya. Anna sengaja menjatuhkan botol yang dibawanya. Dia melakukan itu agar aku yang dicurigai. Aku tidak bisa memaafkan Saga yang menyamar dan bergabung dengan Shangri-La Crussade untuk mengumpulkan bahan untuk menulis buku. Tapi kami tidak perlu membunuhnya,” Jou menjelaskan panjang lebar.

Aku bisa mati kapan saja, itu yang kau katakan?” tanya Himura-sensei.

“Jika ini untuk revolusi. Aku hanya ingin memilih cara mati.”

Himura-sensei berdiri di samping mobil polisi, masih berpikir. Ia mengeluarkan batang rokok tapi urung membakarnya dan justru mengembalikannya ke dalam kotak.

Det.Ono memerhatikan dosen itu dari jauh, kemudian perlahan mendekat, “Himura, kalau kehilangan kesempatan, aku tidak bisa lagi mengatakannya padamu. Selama ini aku salah paham. Aku takut karena kupikir kau memihak kriminal. Tapi saat kudengar kau bicara dengan Sakamata, aku akan buktikan pada orang sepertimu dan aku kalau tidak ada kejahatan sempurna. Itu menyentuhku. Maaf, telah salah menilaimu.”

Himura-sensei menarik bibirnya sedikit, “Kau lebih baik salah menilaiku. Saat bertemu Sakamata, seolah aku melihat diriku sendiri. Godaan untuk jadi monster dalam dirinya, aku tahu persis perasaan itu. Monster itu juga masih ada dalam diriku. Lebih baik kau tetap bersikap seperti sebelumnya,” saran Himura-sensei.

Det.Hisashi dan yang lain kembali berkumpul di ruang bawah tanah. Menurut laporan, mereka masih terus mencari Moroboshi. Det.Hisashi juga mengatakan kalau tim lain, biro keamanan menyalahkan mereka karena berantakannya kasus ini.

Dari arah lain Yasoda-san bergabung, “Aku selesai mengembalikan datanya. Jou membeli obat di apotek Tengoku di pasar gelap. Jou membeli chloroform.”

“Dia menggunakannya padaku,” ujar Alice. (chloroform memang salah satu jenis obat yang memberikan efek tidak sadarkan diri dengan cepat. Tapi saat ini sudah jarang digunakan, karena dianggap terlalu keras)

“Bagaimana dengan sianida?”

“Bukan sianida. Jou membeli obat lain bernama TENSHI (malaikat). Itu adalah obat untuk euthanasia. (euthanasia adalah jenis hukuman mati tanpa rasa sakit). Disebutkan kalau kau bisa mati dalam tidur tanpa rasa sakit. Obat seperti itu memberikan efek berlawanan dengan sianida,” lanjut Yasoda-san.

Jou mengatakan akan memilih sendiri cara matinya. Tapi dia ternyata membeli obat untuk euthanasia seperti ini, aneh.

“Aku tidak mengerti yang mereka pikirkan! Bre****k!” teriak Alice.

“Apa setelahnya?” Himura-sensei tiba-tiba mendapat ide mendengar umpatan Alice ini.

“Alice, bisakah kau jelaskan sekali lagi situasi saat Saga meninggal?” pinta Himura-sensei.

Alice mengingat kembali peristiwa tadi, “Jou menuang minuman pada gelas yang dipegang Anna. Lalu Saga mengatakan aku akan menunda mati. Onizuka menyuruh Jou untuk membebaskan Saga. Saga mengambil gelas dari Onizuka dan meminumnya.” Tidak lama setelahnya Saga mulai memegangi lehernya dan kesakitan. “Lalu Jou berkata bre****k! Dia mencurangiku.

“Stop!” pinta Himura-sensei. “Kau yakin Jou bilang begitu?”

“Ya. Aku merasa aneh karena Jou mengatakan ‘aku’ bukan ‘kami’.”

Satu per satu puzzle berputar di kepala Himura-sensei. Kepingan demi kepingan fakta dan peristiwa mulai tersusun dengan rapi. Himura-sensei tersenyum, “Kejahatan ini tidak sempurna!”

Himura-sensei dan Alice bicara dengan Jou di ruang bawah tanah itu lagi.

“Kami berhasil mengembalikan data yang kau hapus. History-nya mencatat kau membeli obat.”

Jou tersenyum, “Tentu itu bukti bagus kan, karena aku tidak membeli sianida.”

“Ya. Tapi kami tahu kau membeli obat untuk euthanasia bernama TENSHI,” ujar Alice.

“Itu jimatku. Saat aku memilikinya, aku bisa melakukan misiku tanpa khawatir.”

“Kecuali obat itu benar malaikat … itu mungkin saja iblis yang menyerupai malaikan. Kelemahan obat itu adalah kau tidak bisa memastikan apakah kau bisa mati dalam tidur atau tidak. Dan pria yang akan dihabisi minta minuman terakhir. Kau pikir membuatnya tertidur daripada menembaknya,” ujar Himuar-sensei.

“Itu permintaan terakhirnya kan?”

“Kau meracuni pria yang akan dihabisi. Itu sangat aneh, tapi juga sangat rasional. Tapi, malaikat yang kau punya sebenarnya adalah si iblis sianida. Kalimat bre****k. Dia mencurangiku! Bukan ditujukan untuk Saga. Kau bilang pada obat itu, tenshi yang kau jadikan jimat.”

Jou masih sama sekali tidak merasa bersalah, “Saga ditakdirkan mati. Dia pasti sudah siap mati saat menyamar dan bergabung dengan Sangri La Crussade. Meski dia bisa lolos dari eksekusi itu, dia pasti akan dikorbankan di altar revolusi. Aku hanya memilihkan cara dia mati.”

Kalimat ini membuat Alice naik darah, “Kau salah! Saat diberi dua pilihan dalam situasi terburu, Saga memilih hiduo. Meski harus berkorban, dia memilih hidup. Tidak ada orang yang memilih bagaimana mati. Kau melakukan pembunuhan sia-sia!”

“Ini selesai. Kau dikhianati oleh malaikatmua!” Himura-sensei menutup obrolan mereka.

Dan seperti janjinya pada Tokie-san, Himura-sensei berhasil membawa Alice kembali pulang. Malam itu mereka makan malam bersama dengan menu spesial. Suasana begitu hangat dan menyenangkan. Bahkan si kucing pun ikut makan bersama dengan mereka. Sungguh malam yang luar biasa.

Pagi berikutnya, Alice mengekor Himura-sensei ke kampus.

“Moroboshi dan Onizuka masih tetap hilang,” komentar Alice.

“Aku tidak mengira dia akan menyerah.”

“Hei, kau baik saja kan?” Alice tiba-tiba khawatir.

“Apa maksudmu?” Himura-sensei heran.

“Baiklah … kau akan baik-baik saja,” Alice mulai melunak.

Seorang anak kecil yang membawa balon merah mendekat dan memberikan surat pada Himura-sensei. Saat dibuka, isinya target adalah wanita terdekat Himura Hideo. Bersama surat itu ada foto Akemi, Tokie-san dan det.Ono yang sudah dicorat-coret dengan spidol merah.

Himura-sensei tertegun. Ia melihat sekeliling, mencari-cari. Balon si anak tadi lepas. Saat Alice berusaha menenangkan anak itu, Himura-sensei sudah berbalik dan menemukan sosok wanita misterius itu tidak jauh darinya. Himura-sensei sudah tidak mempedulikan panggilan Alice dan berlari mengejark Moroboshi.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa lagi di SINOPSIS Himura and Arisugawa episode 10 part 1

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top