Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 09 part 1

SINOPSIS Himura and Arisugawa 09 part 1

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 09 part 1. Apollo atau si pangeran pembunuh berhasil ditangkap di Kyoto karena keberanian Akemi untuk melaporkannya. Tatapan kedua orang ini saat pertama bertemu, Himura-sensei dan Sakamata, hanya mereka yang bisa memahaminya.

Sementara itu, Moroboshi Sanae yang berhasil melarikan diri di Tokyo menuju Kyoto. Kali ini sasarannya adalah Himura-sensei. Apa yang akan dilakukan Moroboshi selanjutnya?

Lima jam sebelumnya

Alice tengah berjalan keluar dari komplek apartemennya saat sebuah van putih berhenti tepat di depannya. Seorang pria keluar dari mobil dan langsung menyekap Alice lalu memasukkannya ke dalam mobil itu. Di dalam mobil sudah menanti … Moroboshi Sanae.

Tetangga Alice yang baru selesai olahraga dan berniat menyapa Alice dibuat kaget karena Alice tiba-tiba saja menghilang setelah mobil itu datang. Ia kebingungan dan tidak berbuat apapun.

Tokie-san membaca koran pagi dan menemukan info kalau si pembunuh misterius, Apollo sudah berhasil ditangkap. Saat berbalik, Tokie-san keheranan karena Himura-sensei tengah bersiap pergi padahal ini hari minggu. Himura-sensei mengaku akan bertemu ‘dia’, orang yang beritanya baru saja dibaca oleh Tokie-san.

“Aku tidak mengira kalau dia akan melakukan kejahatan mengerikan seperti ini. Dia sedikit mirip denganmu saat pertama kali datang ke sini.”

Seorang pria berkacamata memberikan laporan pada Moroboshi soal rumah yang mereka datangi itu. Menurutnya, rumah itu sudah kosong selama empat tahun, dan tidak akan mudah ditemukan. Selain itu, ada dua ruang di bawah tanah yang bisa digunakan dan tentu saja rute melarikan diri jika keadaan darurat. Pria berkacamata itu memperkenalkan dirinya sebagai Saga.

Anak buah Moroboshi Sanae yang lain, seorang wanita bernama Anne melapor kalau di luar rumah pun aman. Dia juga mengatakan kalau sandera mereka sudah aman di ruangan lain.

“Kita akan menuju langkah berikutnya. Tidak ada gunanya terlalu lama di sini. Semua akan selesai malam ini!” tegas Moroboshi-san.

Himura-sensei benar menemui Sakamata. Det.Hisashi memperkenalkan Himura-sensei sebagai seorang ahli kriminal pada Sakamata ini.

“Apa ahli kriminal membedah pelaku kejahatan seperti ahli biologi membedah serangga?”

“Ya, tapi tidak hanya pelaku. Tapi juga TKP, senjata, karakter benda-benda atau latar belakang pelaku. Aku meletakkan scalpel pada semuanya,” ujar Himura-sensei.

Sakamata tersenyum, “Kalau begitu, aku pasti obyek penelitian berharga kan?”

“Kenapa kau membunuh mereka?”

“Karena aku ingin membunuh,” ujar Sakamata dengan santainya. “Apa aku seperti pembunuh gila?”

“Karena kau tidak ada hubungannya dengan Shangri La Crusade, kenapa kau memilih targetmu orang-orang Shangri La Crusade? Bisa siapa saja kan?”

Sakamata makin merasa menang, “Sudah jadi hal umum kan? Masyarakat berpikir kalau kelompok mereka itu penjahat sebenarnya. Jadi, orang-orang tidak akan peduli kalau mereka terbunuh kan? Aku butuh mereka untuk kejahatan sempurna.”

“Kejahatan sempurna?” sindir Himura-snsei. “Jika ada kejahatan sempurna di dunia ini, aku ngin melihatnya. Atau aku ingin melakukan kejahatan sempura itu sendiri.” Himura-sensei berdiri dan menarik kerah baju Sakamata. “Aku jadi ahli kriminal dan mencari kejahatan sempurna. Aku menyaksikan banyak TKP dan menyadarinya, tidak ada kejahatan sempurna di dunia ini. Yang ada hanya kejahatan brutal dan tidak bernilai. Karena itu, aku tidak pernah memaafkan penjahat yang melakukan kejahatan itu. Aku akan membuktikan pada orang sepertimu dan diriku sendiri, kalau tidak ada kejahatan sempurna. Ini pekerjaanku. Dan kejahatanmu tidak sempurna!” Himura-sensei mengelus kepala Sakamata.

Sakashita mengantarkan Akemi keluar. Di luar, sudah ada dua temannya yang langsung histeris menyambut dan memeluk Akemi. Mereka begitu mengkhawatirkan Akemi dan berterimakasih juga pada Sakashita yang sudah memberitahu mereka.

Saat itu Himura-sensei juga baru keluar. Akemi langsung menemui Himura-sensei. Ia penasaran apakah benar Himura-sensei sudah bicara dengan Sakamata.

“Saat bertemu dengannya, dia seperti anak SMA biasa. Tapi ternyata tidak,” cerita Akemi.

“Pelaku kriminal sering pura-pura jadi orang biasa dan menyembunyikan sisi gelap mereka. Psikologi kriminal sangat misterius. Mereka tidak ingin ditangkap. Tapi tanpa tertangkap, mereka tidak akan bisa diakui. Itulah kenapa mereka juga ingin ditangkap.”

“Aku mengetahui tiga pembunuhan secara tidak sengaja,” aku Akemi. Ia mengacu pada peristiwa yang terjadi pada pamannya dan kenalannya (episode sebelumnya). Tapi aku masih tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu. Sensei, ijinkan aku jadi asistenmu. Aku ingin tahu lebih banyak sisi gelap para kriminal,” pinta Akemi.

“Aku menolak,” jawaban Himura-sensei cepat dan tanpa keraguan. “Aku tidak berpikir butuh asisten lain selain Alice. Yang kubutuhkan hanya Alice. Dengar, jangan pernah lagi lakukan hal berbahaya seperti ini. Aku mengkhawatirkanmu,” Himura-sensei memegang kepala Akemi dengan sayang.

Ternyata obrolan Himura-sensei dan Akemi di depan penjara itu juga diabadikan oleh sebuah kamera. Dua orang anak buah Moroboshi Sanae ada di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.

“Apa yang dipikirkan Moroboshi? Aku tidak mengira Moroboshi akan menculik penulis atau bersikap seperti paparazi,” ujar si rambut cepak yang tadi memegang kamera.

“Sabar saja. Kita butuh pemimpin karismatik, Moroboshi Sanae untuk revolusi kita,” komentar si rambut belah tengah.

Saat berjalan pulang, Himura-sensei ingat pembicaraannya dengan Tokie-san tadi pagi.

Saat aku bertemu dengannya (Sakamata), aku ingat kau saat masih muda. Aku juga ingat banyak hal. Ingat saat Alice datang pertama kali, kita makan malam bersama. Kalian berdua sangat manis,” ujar Tokie-san.

Saat Himura-sensei mengusulkan kalau malam nanti mereka makan bersama lagi, Tokie-san setuju. Himura-sensei pun menghubungi Alice. Setelah ditunggu, ternyata belum juga ada jawaban dari seberang.

Sementara itu, anak buah Moroboshi Sanae memberitahunya kalau ponsel Alice berbunyi. Moroboshi menerima ponsel itu dengan senang.

Alih-alih bicara sesuatu, Moroboshi justru mulai bersenandung, “Kagome, kagome… burung dalam sangkar.”

Mendengar suara yang tidak asing dan senandungan ini, Himura-sensei langsung paham. Ia menutup telepon dan berlari ke arah sebaliknya.

Alice sadar dari pingsannya. Ia kaget dan heran dalam keadaan diikat dan berada di tempat asing. Dari arah pintu masuk seorang wanita, Anna. Anna kemudian mengambil gambar Alice dengan ponsel milik Alice yang dibawanya.

“Akan kuberitahu dia kalau kau sudah bangun!” ujar Anna lalu beranjak pergi.

Alice tadinya tidak mengerti maksud si wanita ini. Tapi saat sesosok wajah yang dikenalnya muncul, Alice paham. Ia kini berada di tempat Moroboshi Sanae, pimpinan kelompok Shangri La Crussade.

“Hei, siapa pria itu? Siapa Himura? Apa yang akan terjadi sekarang?” tanya si pria berkacamata, Saga yang tadi mencarikan tempat persembunyian untuk Moroboshi ini.

Sementara itu, yang ditanya, Anna masih asyik dengan permennya, “Buat apa kau peduli?”

“Ah, aku belum diberitahu apapun. Aku mengerti, kau juga tidak tahu.”

“Aku tidak butuh tahu semuanya. Yang perlu kita lakukan hanya ikuti perintahnya,” ujar Anna kemudian.

Alice kenal benar dengan wanita yang kini ada di hadapannya itu, “Apa yang kau ingin aku lakukan untuk Shangri La Crussade? Kau mungkin salah orang. Aku tidak ada hubungannya dengan khayalanmu.”

“Benar. Penculikan ini tidak ada hubungannya dengan Shangri La Crussade.”

“Lalu, kenapa kau menculikku?”

“Targetku adalah Himura Hideo,” ujar Morobishi dengan senyum khasnya. “Aku langsung tahu saat bertemu dengannya. Dia harus berada di pihakku. Dia bukanlah dirinya yang sebenarnya. Aku ingin membuatnya lebih serius.”

“Maaf harus bilang begini, tapi kau tidak akan menarik perhatiannya,” balas Alice.

“Jika aku membunuh Arisugawa Alice?” tantang Moroboshi. “Aku akan membuatnya serius dan membebaskan monster dalam dirinya. Aku ingin melihat karakter aslinya!”

Himura-sensei tiba di apartemen Alice. Ia menggedor-gedor pintu, tetapi tidak ada jawaban apapun. Sampai akhirnya tetangga Alice yang cantik keluar.

“Apa kau tahu kemana Arisugawa pergi?” tanya Himura-sensei.

“Aku melihatnya tadi. Tapi aneh, dia tiba-tiba menghilang!” ujar wanita itu.

“Anna, kirim gambarnya pada Himura!” perintah Moroboshi.

“Tentu. Apa aku gunakan ponselnya? Kalau polisi melacak dengan GPS … “

“Cepat! Kita akan segera keluar dari sini,” ujar Moroboshi.

“Lalu, bagaimana dengan penulis itu?”

“Aku tidak butuh dia lagi!”

“Baiklah. Jadi pesan apa yang harus kutulis?” kali ini Anna terus saja bertanya.

“Kau .. kau punya aroma yang sama denganku,” ujar Moroboshi.

Anna tertawa, “Seperti surat cinta.” Tapi ia buru-buru sadar dan menghentikan tawanya.

Moroboshi memegangi rambutnya, “Surat cinta … mungkin saja.”

Himura-sensei keluar dari komplek apartemen Alice. Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponselnya, lengkap dengan foto Alice yang tadi diambil oleh anak buah Moroboshi. Kau punya aroma yang sama denganku.

Himura-sensei kemudian menghubungi det.Hisashi, “Alice diculik!”

Himura-sensei kemudian kembali berlari. Tidak lupa ia memberitahu Tokie-san kalau Himura-sensei dan Alice akan pulang terlambat nanti malam. “Tapi aku pasti akan membawa Alice kembali bagaimanapun caranya!”

Si pria berkacamata, Saga menemui Alice diam-diam.

Alice sudah keburu berpikiran buruk saat melihatnya, “Apa kau akan membunuhku?”

“Aku bukan musuhmu,” ujar Saga-san. “Kalau hal buruk terjadi, aku akan menyelamatkanmu.”

“Kalau begitu hubungi 911 sekarang,” pinta Alice.

“Tolong sabar sebentar lagi. Aku datang kesini meski dengan resiko terbunuh!”

Moroboshi mengumpulkan anak buahnya, “Paling cepat satu jam Himura akan beraksi setelah membaca pesanku, dan polisi menemukan lokasi kita dengan GPS. Kita akan menyelesaikannya segera. Onizuka, kita akan melakukan eksekusi!” ujar Morobishi pada anak buahnya

Himura-sensei menemui det.Hisashi dan yang lain di markas, “Setahuku, tujuan utama Moroboshi adalah membuatku keluar.” Himura-sensei mengaku kalau ia hapal dengan kalimat Moroboshi, Kau punya aroma yang sama denganku.

Tim lain baru saja datang, mereka dari biro keamanan publik yang berniat mengambil alih kasus penculikan Alice ini. Tentu det.Hisashi tidak terima, karena mereka bekerjasama sebelumnya pada kasus Apollo. Det.Hisashi pun minta agar mereka bisa bergabung.

“Aku melapor pada biro kemananan publik agar bisa bergabung dalam investigasi!” tegas det.Hisashi.

Anak buah Moroboshi sudah berkumpul di ruang tempat Alice disekap. Alice mengenali salah satunya, si anak buah pria, tinggi dan rambut belah tengah sebagai Onuzuka Ryuzou.

“Kita akan mulai eksekusinya!”

Alih-alih melakukannya pada Alice, justru Saga (si pria kacamata) yang didudukkan di kursi lalu diikat. Mereka menemukan semacam alat perekam dari balik jas Saga-san ini. Ternyata tadi saat bicara pada Anna, Saga sempat menyalakan alat perekamnya dan Anna tidak sengaja melihatnya dari cermin. Onizuka pun bersiap dengan senpi teracung pada Saga-san.

“Tidak ada gunanya membunuhku,” ujar Saga-san mulai melunak. “Aku hanya penulis tragis. Karena tidak ada yang mengenalku, tidak bisa dikatakan juga aku penulis. Hidupku sudah menyedihkan. Aku memutuskan melakukan hal besar meski mempertaruhkan hidupku. Aku menyusup ke dalam Shangri La Crussade untuk mencari data sumber penulisan buku. Dengan mempertaruhkan hidupku, aku bisa sampai sejauh ini. Aku harusnya menghubungi 911 lebih cepat. Aku terlalu serakah.”

Onizuka melepas kunci senpi. Ia bersiap menekan pelatuk saat Alice berteriak melarang.

“Jangan bunuh dia! Moroboshi, hentikan dia!”

Tapi Saga-san masih bersikap setengah mungkin, “Aku sangat haus. Bisa minta air? Aku melihat botol minuman di luar. Bisakah kalian berikan itu padaku?” pinta Saga-san.

“Onizuka, aku akan ambil minumannya. Itu keingainan terakhirnya,” ujar si pria rambut cepak. Si rambut cepat berjalan keluar diikuti Anna.

Himura-sensei masih menunggu kabar di markas bersama det.Hisashi dan yang lain. Kali ini ia tampak sama sekali tidak tenang. Berkali Himura-sensei memukul-mukul tembok dengan tangannya.

Situasi barubah saat Sakashita datang mengabarkan kalau mereka berhasil menemukan lokasi Alice setelah melacak GPS ponselnya. Mereka pun segera bergegas menuju tempat itu. Tidak hanya tim det.Hisashi saja, tim lain kepolisian pun bergabung.

Si rambut cepak dan Anna mencari dan memilih sejumlah botol minuman di ruangan luar.

“Untuk tujuan apa kita harus membunuhnya?” tanya si rambut cepat.

“Kita lakukan apa perintahnya,” balas Anna.

Anna menemukan minuman yang menurutny cocok. Tapi tidak sengaja tersenggol si rambut cepak hingga minuman itu pun terjatuh. Mereka akhirnya menggunakan minuman yang dipilih si rambut cepak.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa lagi di SINOPSIS Himura and Arisuga episode 09 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. ada yg salah “Alice menemui det. hisashi dan yg lain di markas”… harusnya Himura-sensei, kan? bkn Alice.
    oh, my my, mengelus rambut Akemi dg “sayang”, ah aku cemburu~~

Leave a Reply

Scroll To Top