Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 07 part 2

SINOPSIS Kaito Yamaneko 07 part 2

Sinopsis Kaito Yamaneko episode 07 part 2. Ouroboros, sebuah organisasi misterius yang menyatakan dirinya memberantas penjahat makin merajalela. Penyerangan terus mereka lakukan dengan alasan menjadikan Tokyo kota yang ideal menurut mereka.

Yamane curiga kalau gubernur Todou Kenichiro memiliki hubungan dengan Orouboros ini. Tapi ternyata gubernur juga mendapat surat ancaman dari Ouroboros. Puncaknya, gubernur diserang oleh anggota Ouroboros di tempat parkir.

Insiden penyerangan di tempat parkir membuat gubernur Todou makin populer. Ia juga semakin gentar menyuarakan tantangan untuk melenyapkan Ouroboros. Det.Sekimoto baru saja datang. Dia kaget karena Cecilia sudah ada di sana dan dalam keadaan selamat sehat.

Dengan pede-nya, dia mengatakan kalau dari interogasi orang-orang yang menyerang gubernur ini, polisi mendapat informasi baru. Polisi juga sudah mendapatkan daftar 100 orang para pengikut Ouroboros dan tinggal melacaknya saja.

“Bagaimana dengan lima pelaksana?” Yamane menanggapinya tidak terlalu antusias.

“Kau sudah tahu?” det.Sekimoto heran. Ia pun membuka catatannya, “Kelima orang yang menyerang Toudo adalah pelaksana. Nama mereka Tatsumi, Onuki, Inoue, Murota, Kizu.”

“Informasi yang kudapat mengatakan berbeda,” ujar Cecilia.

Info dari det.Inui menyatakan kalau kelima orang yang diidentifikasinya bukan mereka dan artinya salah satu dari mereka berbohong. Det.Sekimoto satu langkah di belakang Yamane dan juga Cecilia.

Tidak hanya informasi saja, tim Yamaneko bahkan sudah memiliki sketsa tempat persembunyian Ouroboros itu. Dan det.Sekimoto dibuat malu sendiri karena sudah membual dan sok jadi orang yang paling tahu.

“Jika pelaksana yang membunuh Ootomo ada di sana, kita bisa buktikan bahwa Katsumura tak bersalah,” ujar Yamane pula.

Det.Sekimoto mengenali tempat itu sebagai tempat calon kasino yang akan dibangun gubernur Todou. Dan tempat persembunyian Ouroboros ini tepat di gedung terbengkalai di persimpangan, tidak jauh dari calon tempat kasino. Meski begitu, ternyata keamanan tempat itu cukup ketat. Ada lima jendela di depan. Jika diterobos paksa, masih ada kunci ganda di dalamnya. Untuk urusan kartu kunci, Mao sudah menyanggupi akan mengurusnya.

Sementara itu di kursi lain, Katsumura mulai menangis. Ia terharu karena semua orang ternyata berusaha keras untuk membersihkan namanya dari kasus pembunuhan ini.

Tapi Yamane tidak terima. Ia melompat ke depan Katsumura, “Tidak, tidak, tidak! Ini demi uang! Di ruang bawah tanah bangunan itu ada 100 juta yen dana aksi Ouroboros.”

“100 juta sungguh motivasi luar biasa!” komentar Rikako-san.

“Jadi demi uang?” Katsumura batal terharu.

Yamane lalu membujuk Katsumura untuk kembali beraksi. Ia pun memberikan langkah-langkahnya. Tapi tahu kalau ia hanya akan terus sial, Katsumura menolak. Bahkan saat Yamane membujuk agar Katsumura bisa membersihkan namanya sendiri, Katsumura tetap menolak. Tapi Yamane belum menyerah untuk terus membujuk. Ia mulai mengeluarkan satu per satu senjata buatan Hosoda-san dulu. Dari rompi anti peluru yang akan mengeluarkan darah palsu saat tertembak, semprotan penidur, pistol yang mirip pistol air dan …

Bukannya tergoda, Katsumura justru makin meledek Yamane. Karena selama ini, meski membawa barang-barang pun, lebih banyak aksinya yang gagal. “Tidak perlu semua itu. Kau mungkin tak menyangka, tapi aku berlatih tinju Thailand selama 3 bulan saat SD,” ujar Katsumura menunjukkan aksinya.

Tapi memang mau bagaimana lagi pun, Katsumura tetap harus beraksi. Dia nyaris dilumpuhkan oleh salah satu anggota Ouroboros saat menyusup masuk. Kali ini semprotan penidur yang menyelamatkannya. Katsumura terus maju. Ia mengeluarkan sumpit bius, sayangnya gagal dan justru membuatnya ketahuan.

Katsumura dihadang tiga orang sekaligus. Tapi saat ia mengeluarkan pistol air, itu benar-benar hanya pisto air biasa. Dan … Katsumura pun tertangkap lagi.

Sakura masih melamun di mejanya. Ia memikirkan ucapan det.Inui yang mengatakan kalau Katsumura bukan orang biasa, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.

Tapi suara sumbang menarik perhatian Sakura. Saat mencari, Sakura menemukan pemantik Yamaneko dalam tasnya. Sekali untuk selamanya, sekali untuk selamanya. Ini sudah sekali dan untuk selamanya? Sekali untuk selamanya, sekali untuk selamanya. Ini sudah sekali dan untuk selamanya? Pesan dari Detektif Pencuri Misterius Yamaneko. Katsumura-kun dalam masalah! Tapi ada kesempatan untuk membersihkan namanya!

Paham arti pesan itu, Sakura lalu bangkit dan membawa tasnya. Tapi di pintu, ia bertemu dengan det.Inui yang mulai menanyainya. Agar bisa lolos, Sakura pun mengarang alasan kalau dirinya lapar dan akan pergi untuk makan.

Sementara Katsumura tertangkap, Cecilia pun ikut beraksi. Sasarannya adalah brankas dana aktivitas Ouroboros. Tidak butuh waktu lama baginya membobol brankas itu. Wajah Cecilia makin cerah lengkap dengan lidah terjulur di sambing bibirnya (persis Yamane) saat menemukan uang itu.

Di mobil, Mao masih bicara dengan Rikako-san. Mereka menyesalkan kenapa Katsumura sudah sangat cepat tertangkap. Saat itu Cecilia kembali dengan tas besar berisi uangnya.

“Di mana Yamaneko?” tanya Cecilia. Ia tidak melihat orang lain dalam mobil itu.

“Pekerjaan lain.”

Katsumura kini berhadapan dengan lima orang ‘pelaksana’ Ouroboros. Dengan mudah Katsumura menebak nama-nama mereka, Kiyokawa, Kozuka, Komoto, Sahara dan Matsushita. “Kalian semua mantan polisi. 100 anggota Ouroboros bertindak atas perintah kalian. Siapa yang membunuh Ootomo?”

“Aku,” ujar salah satu dari mereka dengan pongahnya. “Maaf sudah menjebakmu.”

“Siapa yang memberimu perintah?” desak Katsumura lagi.

“Tak bisa kukatakan. Tak ada keadilan di dunia ini. Karena itu kami ingin menghancurkan segalanya dan menciptakan dunia sempurna.”

“Sebodoh apa kalian percaya fantasi semacam itu?” sindir Katsumura. “Kalian juga memiliki keluarga dan pacar, ‘kan? Sadarlah dan buka mata kalian!”

Tapi rupanya teriakan Katsumura ini membuat mereka marah lalu menodongkan senpi pada Katsumura yang langsung mengkeret ketakutan.

Tapi dari arah lain muncul seseorang. Sakura dengan senpi teracung di tangannya, “Angkat tangan!”

Tapi salah satu anggota Ouroboros itu menodongkan senpi-nya ke arah Katsumura dan memaksa Sakura untuk meletakkan senpi-nya. Sakura yang tidak punya pilihan lain akhirnya menurut saja lalu mengangkat tangannya.

Lampu temaram tiba-tiba benar-benar padam. Beberapa kali suara tembakan terdengar. Setelahnya sebuah suara meminta agar lampu kembali dinyalakan. Dia adalah … det.Inui. Baik Sakura maupun Katsumura kaget dengan kehadiran detektif satu ini.

Det.Inui mendekati Katsumura, “Aku tahu kalau kau bohong. Aku tahu kau bukan pembunuh Ootomo. Akan kujelaskan sisanya di kantor polisi.”

Ternyata adegan di gedung terbengkalai tempat Katsumura disekap juga ditonton orang lain. Dia adalah gubernur Todou yang menyimaknya dari kantornya.

“Kau hanya menonton untuk memuaskan keingintahuanmu?” sindir Yamane yang tiba-tiba saja muncul di ruangan itu. “Jadi kau memang dalang di balik Ouroboros?”

“Kau punya bukti?” gubernut Todou menyembunyikan kekhawatirannya.

Yamane menunjukkan sebuah flashdisk, “Mantan sekretarismu mengambil data dari komputermu.” Yamane masih melanjutkan sindirannya, “Menjadikan Jepang sebagai kota bersih sehingga Jepang bisa menjadi kuat. Itu sloganmu, tapi sebenarnya, kau menjual Tokyo demi timbunan uang.”

“Bicara apa kau?”

“Pura-pura tidak tahu,” Yamane tersenyum sarkas. “Rencana kasino. Tujuanmu membuat banyak uang dengan itu, ‘kan? Jika bisa mendirikan kasino di Tokyo, kau akan mendapatkan timbunan uang dari Amerika yang mendukung rencana itu. Tapi Kyoubukai dan Serpent adalah pengganggu. Mustahil mereka akan menerima rencana itu. Karena itu kau gunakan Ouroboros untuk membuat dua kekuatan besar itu saling serang.”

“Detektif Pencuri Misterius Yamaneko memang hebat!” gubernur Todou berpindah ke kursi tamu. “Seperti katamu, aku berusaha menggunakan Ouroboros untuk menghancurkan dua organisasi itu. Tapi, meski sengaja meninggalkan petunjuk bahwa Serpent adalah pembunuhnya entah alasan apa Kyoubukai tidak bergerak. Apa itu ulahmu?” tebaknya kemudian.

“Kurasa itu hanya karena Kyoubukai punya banyak kesabaran.”

Tapi gubernur Todou tidak percaya dengan jawaban Yamane ini, “Karena kau rencanaku gagal. Sebagai gantinya, aku sudah menyiapkan rencana lain.”

“Menangkap Ouroboros?” tebak Yamane.

“Ouroboros adalah pengganggu Tokyo. Aku akan bekerja sama dalam penangkapan mereka. Jika itu kulakukan, media akan memujiku dan menyebutku sebagai penyelamat,” ujar gubernur Todou, jumawa.

“Dan kau menjadi penyelamat. Kau menipu banyak orang demi mendapatkan keinginanmu.”

“Salah mereka mau dibodohi. Mereka tak berpikir demi diri sendiri. Ini hanya di antara kita, menurutmu kualitas apa yang diperlukan pemimpin negeri ini? Bukan kekuatan politik. Tapi suara yang lantang. Orang akan mengikuti mereka yang bersuara lantang. Kami berurusan dengan perkumpulan bodoh seperti itu. Politisi sopan tak lagi berguna bagi masyarakat,” ujar gubernur Todou lagi. (dari kalimat ini, Na menangkap yang dimaksud Todou dengan ‘bersuara lantang’ bisa diartikan juga sebagai menguasai media. Lewat media, opini publik pun terbentuk. Bahkan image dari si politikus pun akan terbangun sesuai keinginan mereka)

Yamane merasa menang. Ia meloncat ke sebelah gubernur Todou, “Jadi itu pemikiranmu yang sebenarnya? Hai semua! Inilah sifat asli gubernur kalian! Pidato besar abad ini! Tentu saja aku ingin memberikan kesempatan pada mereka untuk mendengarnya. Aku menyiarkannya.”

Gubernur Todou panik. Ia mencari ke arah pandangan Yamane tadi dan menemukan sebuah kamera di sana. “Apa ini?!” gubernur Todou benar-benar panik.

“Sayangnya, ini tak sepenuhnya disiarkan langsung. Karena suaraku harus diubah dan lainnya,” Yamane pun mengkonfirmasi pada timnya, Rikako-san Mao untuk memastikan kalau suaranya dan wajahnya sudah di blur.

Berita beredar luas. Semua pembicaraan yang dikatakan oleh gubernur Todou tadi sudah disiarkan luas ke seluruh Tokyo. Banyak orang yang menyaksikan rekaman itu di jalan-jalan. Gubernur Todou makin panik, ia bahkan menggigit lalu menghancurkan kamera yang baru saja ditemukannya itu.

“Tak ada gunanya melakukan itu. Ada 10 kamera di lokasi berbeda di ruang ini,” ujar Yamane.

Ini membuat gubernur Todou makin panik. Ia mengacak-acak ruangannya, terus mencari kamera mana saja yang sudah merekam ucapannya tadi. Tapi sia-sia saja.

Yamane menyuruh Mao dan Rikako-san menyudahi rekaman itu. Kemarahan gubernur Todou justru membuat Yamane menyeretnya ke depan tv. Penyiar berita mengatakan kalau video yang barusan disiarkan kemungkinan dilakukan oleh Yamaneko. Lalu ada wawancara langsung dengan masyarakat yang melihat video itu. Nyaris semua dari mereka marah besar pada sang gubernur.

Kemarahan gubernur Todou makin memuncak. Ia dan Yamane pun terlibat perdebatan soal bagaimana mengatur rakyat dan masyarakat Jepang, yang saat ini sudah banyak kehilangan identitas mereka sebagai warga Jepang. Masyarakat yang mewarisi semangat samura untuk terus berjuang dalam berbagai keadaan.

“Mungkin itu memang bagus, karena itu kau menjadi politisi. Tapi kau melarikan diri, ‘kan? Dari masyarakat yang tak mau mengotori satu pun jari mereka dan politisi yang hanya tertarik dengan keuntungan kau melarikan diri pada uang. Karena uang takkan mengkhianatimu? Kau lemah. Jangan bertingkah seolah salah negeri ini. Kau menipu banyak orang karena menginginkan uang, hanya karena itu!” bentak Yamane.

Tapi gubernur Todou masih belum menyerah, “Bukan! Aku masih bersedih demi negeri ini! Karena itu aku bertaruh pada Ouroboros. Untuk mengendalikan negara yang ternodai oleh organisasi criminal dan melenyapkan gerakan anti sosial. Uang penghasilan kasino seharusnya menjadi dana politik! Segala yang kulakukan adalah demi negara ini! Lalu kenapa mereka marah?! Kenapa mereka sangat sedih? Karena mereka tak mengerti apa pun!”

“Yang tak mengerti itu kau!” Yamane menyeret gubernur Todou sekali lagi ke depan tv. “Lihat baik-baik wajah mereka. Mereka menginginkan dunia yang bisa mereka tinggali dengan tersenyum. Bagi kalian yang ingin membangun negara, bukankah itu paling utama?” Yamane memukul gubernur itu hingga terkapar di lantai.

Gubernur Todou bangun dan kembali ke kursinya. Ia pun mengeluarkan sebuah kapsul lalu menelannya. Pil untuk bunuh diri. Tapi, setelah beberapa saat, ternyata tidak terjadi apapun.

“Kau ingin menelan ini?” kapsul warna merah jambu itu ada di tangan Yamane. Ternyata ia sudah lebih dulu mengambil kapsul bunuh diri itu. “Jika bersikeras tak bersalah, hidup dan buktikan. Jadi perkataanmu memang tak munafik? Dasar bocah tua brengsek. Jadilah lebih bodoh, dalam makna yang baik.”

Tepat setelah Yamane menghilang dan gorden jendela berkibar, seseorang membuka pintu ruangan itu, det.Sekimoto.

“Apa kau datang untuk menangkapku?”

“Tidak. Aku di sini bukan sebagai polisi, tapi sebagai seorang teman. Rekan dari kepolisian akan segera datang. Jika ingin menyerahkan diri aku bisa mengantarmu,” ujar det.Sekimoto menawarkan.

Gubernur Todou bermobil bersama det.Sekimoto.

“Jadi, hidupku berakhir di sini?”curhat gubernur Todou.

“Hidupmu dimulai saat ini! Kau tak butuh penyemangat,” ujar det.Sekimoto. Ia masih fokus dengan kemudinya.

“Ini masa yang sia-sia. Tak ada gunanya hidup. Salahku di mana?”

“Mungkin gaya rambutmu,” lelucon yang sama sekali tidak tepat waktu dari det.Sekimoto. “Kau ingin menemui siapa?”

“Kurasa almarhum ibuku. Dia akan memarahiku dan mengatakan Apa yang kau lakukan? Sejak dulu itu pertanyaan utama yang harus kujawab.”

“Bagaimanapun, tetaplah hidup. Itu pendapat pribadiku,” saran det.Sekimoto.

Pada sebuah lampu merah, det.Sekimoto mengerem mendadak membuat gubernur Todou kaget. Tapi karena itu laci dasbord mobil terbuka, di dalamnya ada senpi. Mata gubernur itu berkilat. Tidak lama setelahnya terdengar suara tembakan, tepat saat mobil kembali melaju. Ada bercak darah di wajah det.Sekimoto dan ia tetap fokus menyetir. Sementara itu, di sebelahnya, mata gubernur Todou sudah terpejam. Ada darah merah segar mengalir membasahi kemeja putihnya. (dibunuh atau bunuh diri? Tidak ada penjelasannya sih. Dan siapa sebenarnya det.Sekimoto, masih tetap misteri)

Berita tentang bunuh diri sang mantan gubernur beredar luas di tv esok harinya. Rikako-san sedang menyimak berita itu saat Katsumura datang dengan cerianya.

“Aku senang sudah terbukti tak bersalah. Mereka memburuku atas kejahatan kabur dari TKP, tapi kami menyelesaikannya secara damai. Tentu itu karena Sekimoto-san bersusah payah menjadi penengah bagiku.”

“Dan?” Rikako-san menunggu cerita lanjutannya.

“Sekarang Sekimoto diskors. Karena bunuh diri Toudo, ‘kan?” Katsumura baru sadar kalau Yamane dan Mao tidak tampak. Kemana mereka?

“Kenapa ya Toudo Kenichirou memutuskan bunuh diri?” tanya Mao pada Yamane.

“Entahlah. Itu juga salah satu jalan hidup,” ujar Yamane yang berjalan di sebelah Mao.

Mereka tiba di sebuah pabrik yang tidak terpakai lagi. Pabrik bekas milik keluarga Hosoda-san, yang pernah dibahas sebelumnya. Mao mengecek lagi sketsa pabrik itu, dan menunjuk tempat yang ia curigai sebagai tempat bawah tanah.

Yamane membuka satu per satu penutuh yang menempel di dinding. Dan terakhir, ada sebuah pintu. Saat dibuka, benar saja ada tangga menuju bawah di sana.

“Tunggu di sini!” pesan Yamane pada Mao sebelum ia masuk.

Pelan dan waspada, Yamane masuk ke ruang bawah tanah itu. Sebuah benda yang diinjak, menarik perhatiannya. Saat diambil, Yamane mengenali itu sebagai koin emas Marufuku.

Lampu berubah lebih terang. Dan seseorang muncul di belakang Yamane, “Lama tak bertemu, Yamaneko.” Seseorang dengan topeng penuh kabel yang menyeramkan.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa lagi di SINOPSIS Kaito Yamaneko episode 08 part 1.

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top