Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 05 part 1

SINOPSIS Kaito Yamaneko 05 part 1

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 05 part 1. Politikus Todou Kenichiro makin gencar melakukan kampanye dalam rangka persiapan pemilihan gubernur Tokyo. Segala cara dilakukannya untuk membuat lawan politiknya satu per satu tumbang sebelum pemilihan. Dan semuanya atas andil det.Sekimoto.

Lalu, apa saja yang dilakukan Yamaneko dan teman-teman satu timnya kali ini?

Kampanye dilakukan oleh politikus Todou bersama timnya di pinggir jalan. Selain sejumlah masyarakat yang hadir, lebih banyak dari mereka adalah para wartawan yang meliput kampanye secara langsung. Cita-cita yang disebutkan oleh politikus Todou memang luar biasa. Ia ingin membawa Jepang menjadi negara yang lebih baik di masa depan.

Sementara itu, di sisi lain jalan, tampak Cecilia a.k Anri memandangi kampanye politikus Todou itu. Tidak ada yang diucapkan atau dikatakannya. Tapi sekilas politikus Todou menyadari kehadiran wanita cantik ini.

Polisi melakukan investigasi terhadap kasus pembunuhan atas korban bernama Imai Shunsuke (45 tahun), seorang pemimpin redaksi sebuah majalah. Diketahui jika situasi penerbitan mereka tidak berjalan baik dan nyaris bangkrut. Korban ditemukan berada di ruangan itu dalam keadaan meninggal karena tercekik.

Dari rekaman CCTV, mereka menemukan kalau pelakunya adalah Yamaneko. Det.Sekimoto tidak setuju dengan kesimpulan itu, karena biasanya Yamaneko akan menghindari CCTV. Tapi salah satu tim mengatakan kalau CCTV itu adalah milik pribadi korban dan tertanam di dinding, sehingga bisa tidak disadari. Melihat brankas terbuka, polisi menyimpulkan kalau yang diincar oleh Yamaneko adalah uang. Tapi, dari semua ruangan, hanya ruangan itu saja yang diobrak-abrik.

Tapi det.Inui menemukan hal lain, “Tujuan pelaku tampaknya bukan uang!” det.Inui menunjukkan komputer yang tampak sudah diacak-acak juga. Kemungkinan pelaku menginginkan data yang ada dalam komputer itu.

Det.Sekimoto baru saja tiba di bar saat Katsumura tengah marah-marah. Dia mengkritik ulah Yamane yang seenaknya membuat barang-barang souvenir serba Yamaneko dan dijual di depan bar. Ditambah lagi, Yamane melakukan itu tanpa memberitahu yang lain. Katsumura kesal karena itu artinya sama saja memberitahukan markas dan keberadaan mereka semua.

“Menyediakan barang untuk masyarakat, apa kita mengizinkannya? Jika kau diikat dengan tali, bakar dengan ini dan kabur! Pemantik Yamaneko.” Katsumura menunjuk pada pemantik api di tangannya. Ia pun menunjuk semua benda lain yang lebih tidak berguna seperti ikat kepala, kotak pensil bahkan SIM Yamaneko. Dan semuanya lengkap dengan topeng berbentuk kucing khas Yamaneko. “Tapi … Bantal tubuh ini! Akan kucuri hartamu saat kau tidur.” Katsumura menunjuk pada sebuah bantal besar seukuran tubuh manusia lengkap dengan gambar narsis Yamaneko. “Menurutmu orang bisa tidur dengan tenang? Jika identitasmu tersebar luas, kau akan dalam masalah besar!”

Masalah makin rumit saat Katsumura menemukan majalah kesayangannya yang berisi foto Kaito Aiko pun telah dicorat-coret oleh Yamane. “Takkan kuizinkan! Jangan bicara!” Katsumura selalu berhasil memotong saat Yamane mau bicara. “Aku tak mau dengar alasanmu. Jangan bicara sampai kuizinkan. Tidak boleh!”

Tidak punya pilihan, Yamane kemudian menggunakan flipchart-nya. Ia mulai menulis sementara Mao yang membaca. Tapi belum selesai Yamane bicara, Katsumura selalu berhasil memotongnya dan membalas ucapan Yamane.

Kesabaran Katsumura makin habis, “Kita bisa bertaruh. Kau menang jika tak mengatakan satu kata pun sampai kuizinkan. Lalu akan kutaruh sumpit di hidungku dan menari Taiko Bushi (Sebuah lagu rakyat Jepang tentang pertambangan batubara. Sering dinyanyikan dan ditarikan selama festival)”

Perseteruan dua orang ini makin seru. Katsumura terus saja memotong tiap kali Yamane mau bicara lewat tulisan. Akhirnya det.Sekimoto yang turun tangan, “Hei, bisa kita ke pekerjaan?”

Keduanya menjawab dengan ‘tentu’ secara bersamaan. Katsumura dengan suaranya sementara Yamane membalik flipchart di tangannya dengan tulisan ‘tentu’.

Mereka berkumpul di kamar atas dan melihat cctv yang menunjukkan Yamaneko sebagai pelaku kasus pembunuhan Imai. Sampai saat ini, polisi masih menyimpulkan kalau pelakunya adalah Yamaneko. Meski begitu, Mao tidak percaya karena menurutnya, meski topeng kucingnya sama, tapi fisiknya tampak berbeda dengan Yamaneko asli. Dan dengan narsisnya—karena belum diijinkan bicara—Yamaneko menulis di flipcharnya ‘aku menarik’.

Yamane terus saja menarik perhatian yang lain supaya mereka mengakui kalau dirinya ini ‘menarik’, tapi sayangnya tidak ada yang peduli. Kesal dengan sikap Yamane, Katsumura turun tangan. Ia mematahkan flipchart yang digunakan Yamane.

“Imai-san adalah tunanganmu, ‘kan? Orang seperti apa dia?” tanya Katsumura pada Rikako-san.

Rikako-san menarik nafas, “Awalnya dia reporter yang meliput kejahatan. Tapi 10 tahun lalu dia mendirikan rumah penerbitan dan membuat majalah dengan nama “PROVE”. Pada saat itu, dia terkenal karena menentang penguasa dan mengangkat peristiwa-peristiwa yang tak diberitakan oleh majalah-majalah besar. Karena bukan untuk dipasarkan secara massal, penjualan selalu lesu. Jadi dia selalu khawatir mengenai uang.”

“Aku menemukan sesuatu yang aneh,” det.Sekimoto menyerahkan selembar kertas pada Rikako-san. “Setiap tiga bulan sekali, 100 juta yen masuk ke rekening bank Imai. Sumber uangnya dari perusahaan fiktif. Imai membayar hutang-hutangnya dengan uang itu.”

“Apa ada yang kau tahu?”

“Sebenarnya, minggu lalu dia kemari. Itu yang pertama kali dalam 10 tahun,” lanjut Rikako-san.

Rikako-san mengatakan kalau minggu lalu, Imai benar datang ke bar. Imai-san mengaku ingin bertemu dengan Rikako-san dan menanyakan soal cincin tunangan mereka dulu.

“Kubuang.” Tapi Rikako-san buru-buru meralatnya. “Aku ingin mengatakan itu tapi, cincin itu adalah satu-satunya pemberianmu yang berharga. Jadi aku menyimpannya terus.”

“Tetap simpanlah. Dalam dua tahun terakhir aku telah berubah,” ujar Imai-san setelah meneguk minumannya.

Meski demikian, hingga akhir Imai-san tetap tidak mengatakan alasan apapun dan apa yang sebenarnya terjadi dalam dua tahun terakhir.

“Imai-san, apa dia keren?” Mao menyusul Rikako-san di bar.

“Iya, dia pria baik. Dia tulus. Jika mampu membongkar penipuan, dia takkan ragu untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri,” jawab Rikako-san.

“Kenapa kau putus dengannya?”

“Entahlah.” Rikako-san membuka paket yang ternyata dari Imai-san. Di dalamnya ada majalah yang dipublikasikan oleh Imai-san. Sepertinya majalah itu akan segera berhenti diproduksi lagi. Dan kiriman itu adalah kiriman sebelum Imai-san meninggal.

“Mungkin dia ingin memberitahumu sesuatu, Rikako-san,” komentar Mao.

Sakura makan malam di sebuah restoran mewah bersama dua orang polisi yang dikirim dari kantor pusat, det.Morita dan det.Fukuhara. Keduanya ini mantan rekan ayah Sakura dulu.

“Inspektur Sekimoto itu seorang petugas yang berbakat. Tapi dia tak bisa menangkap Yamaneko. Apa kau masih terpengaruh atas kematian ayahmu?” tanya det.Morita

Ingatan Sakura menuju dua tahun silam. Hari itu, ia melihat ayahnya pergi untuk menangani kasus. Sakura diam-diam menyusulnya. Tapi ia justru menemukan ayahnya tewas terbunuh di sebuah tempat. Tidak jauh dari tempatnya, Sakura melihat Yamaneko beranjak pergi. Dan dendam itu pun dimulai.

Meski tewas dibunuh, catatan kepolisian menyatakan kalau ayah Sakura ini meninggal karena kecelakaan. Keputusan ini diambil atas persetujuan semua orang agar warga tidak resah karena polisi belum berhasil menangkap Yamaneko. Jika diketahui publik Yamaneko membunuh, maka citra polisi makin buruk karena membiarkan pembunuh berkeliaran.

“Tapi, menyembunyikan kematian ayahku bukan hal yang baik, ‘kan?” protes Sakura.

“Yang seharusnya kau serang bukanlah polisi. Tapi Yamaneko. Penangkapan secepat mungkin akan menjadi upacara peringatan terbaik yang pernah ada.”

Mao mengikuti Rikako-san mengunjungi sebuah pemukiman kumuh tempat orang-orang yang tidak punya rumah atau gelandangan. Rikako-san mengatakan kalau satu salah tempat itu adalah tempat yang biasa digunakan oleh Imai-san. Di sanalah biasanya Imai-san meminta orang-orang ini untuk menjual majalahnya.

“Hei! Apa maumu?” seorang pria tua menegur Rikako yang melihat-lihat tempat Imai-san.

“Imai Shunsuke yang menempati ini, ‘kan?” balas Rikako-san.

“Mungkinkah kau tunangannya? Orang yang melakukan aborsi dan putus dengannya … “ ujar pria itu tanpa ragu, membuat situasi jadi canggung. Pria tua itu menceritakan kalau Imai-san adalah atasan mereka.

“Apa kau tahu sesuatu tentang kematiannya?” selidik Rikako-san.

“Yah, bukan berarti aku tak tahu. Itu sekitar seminggu sebelum dia meninggal. Saat dia datang untuk memberi tahu kami tentang penghentian bisnis. Dia bilang akan melakukan satu hal terakhir yang harus dilakukan. Mungkin itu masalah dari dua tahun yang lalu.”

“Apa yang terjadi dua tahun lalu?” Rikako-san heran. Ia paham maksud pria tua itu. Rikako-san lalu menjejalkan sejumlah lembaran uang ke tangan pria itu agar melanjutkan bicaranya.

Setelah diberi uang, pria itu pun melanjutkan ceritanya, “Imai-chan mendapat informasi tertentu dari polisi. Hal itu tampaknya merupakan berita yang luar biasa. Aku masih ingat betapa bersemangatnya dia. Tapi, sejauh yang kutahu, artikel itu tak pernah diterbitkan ke dalam majalah. Imai-chan mungkin dibunuh karena mencoba merilisnya untuk publik.”

“Kau tahu nama polisi itu?” Rikako-san makin penasaran.

“Jika kau ingin tahu aku bisa mencari tahu,” pancing pria tua itu lagi.

Rikako-san pun mengerti. Ia memberikan beberapa lembar uang lagi pada si pria tua lalu mengajak Mao untuk pergi.

Rupanya Mao masih penasaran dengan ucapan pria tua itu, “Aborsi?”

Rikako-san berbalik, “Itu sudah lama sekali. Jika ia dilahirkan, sekarang ia akan seumuranmu.”

“Karena itu kau putus?”

“Aku ingin berpikir begitu dan kemudian aku tak ingin berpikir begitu. Kami berdua begitu muda. Tapi, jika aku bisa sedikit lebih bersabar, mungkin kehidupanku yang sekarang berbeda. Setidaknya, aku takkan membiarkan dia mati lebih cepat.”

Rikako-san dan Mao masuk ke dalam mobil. Telepon Rikako-san berbunyi, dari Katsumura. Katsumura mengatakan kalau bar dalam keadaan kacau dan acak-acakan. Mendengar berita itu, Rikako-san mengajak Mao untuk bergegas kembali.

Mao dan Rikako-san kembali ke bar dan menemukan kalau tempat itu benar-benar berantakan. Katsumura sedang beres-beres dan kesal karena Yamane tidak membantu dan justru asyik dengan mainan barunya.

“Apa yang kau baca?” tegur Katsumura pada Yamane.

Yamane menggeser layar tab-nya, “Aku menulis penjelasan. Dengan ini kita bisa melakukan percakapan dengan nyaman.” Lengkap dengan suara tawa dan suara dari tab itu.

“Kau membeli hanya untuk itu?” sindir Katsumura.

Tapi perhatian mereka berubah saat Rikako-san mengatakan kalau cincinnya yang diberi dari Imai-san ternyata sudah hilang.

Tapi di sini ada CCTV,” Yamane menunjuk cctv yang ada di sudut ruangan.

Dari rekaman cctv, mereka menemukan kalau yang masuk dan mengacak-acak bar adalah sekelompok preman dan orang yang memakai topeng. Rikako-san kemudian meminta agar gambar diperbesar dan dikirimkan pada det.Sekimoto.

Tidak butuh waktu lama bagi det.Sekimoto menemukan profil orang ini. Namanya Shimura Hajime. Seorang preman yakuza.

Selesai menelepon, det.Sekimoto kembali pada sumpitnya. Ia tengah makan siang bersama politikus Todou-san.

“Akhirnya, pemilihan gubernur,” ujar det.Sekimoto.

“Pertarungan yang sebenarnya dimulai setelah aku terpilih. Untuk merebut Tokyo, dan mengubah Jepang. Seperti yang dilakukan Yuuki-sensei,” balas Todou-san.

Det.Sekimoto tersenyum puas, “Aku menantikannya. Terima kasih atas makanannya.” Ia pun beranjak pergi.

“Jika kau mengkhianatiku, kau akan menderita. Aku memiliki seorang joker,” ancam Todou-san sebelum det.Sekimoto benar-benar pergi.

“Seram! Tolong jangan tindas detektif yang digaji sedikit ini.”

Katsumura sedang mempraktekkan ucapannya sebagai jasa pengiriman Noraneko. Mereka kini berada di depan apartemen si pria yang mengacak-acak bar Stray Cat. Sementara Katsumura masih saja berlatih, ternyata Yamane justru dengan mudah merusak kunci pintu dan masuk. Ia menertawakan Katsumura yang jadi tampak sangat konyol dengan pakaian penyamarannya itu.

“Siapa kau?” pria bernama Shimura itu kaget karena ada dua orang tidak dikenal masuk apartemennya.

Tahu dirinya dalam bahaya, Shimura pun menyerang. Tapi dengan mudah Yamane menaklukkan pria itu. Dan kini Shimura pun diikat di kursi. Cincin milik Rikako-san pun sudah ditemukan.

“Pria bernama Nishihara. Tapi aku yakin itu bukan nama aslinya,” ujar Shimura.

“Bagaimana kau bisa tahu tentang bar itu?” Katsumura yang bicara, karena Yamane masih puasa bicara.

“Aku mengikuti Imai selama seminggu sebelum dia meninggal. Bukan aku yang membunuhnya,” elak Shimura pula.

Saat itu Katsumura dan Yamane menyadari ada narkoba di ruanga Shimura ini. Mereka menyimpulkan kalau Shimura ini pemakai.

“Jadi Imai-san dibunuh karena terlibat dengan narkoba?” tanya Katsumura.

Tapi Yamane Cuma tersenyum dan menulis, Meow meow meow di tab-nya.

“Ya. Sama sekali tak mengerti.”

Mereka semua kembali dan berkumpul di bar. Tapi belum ada penjelasan tentang arti cincin itu sebenarnya. Sementara Yamane justru asyik sendiri memainkan tab-nya dan sesekali tertawa kecil melihat rekan-rekannya kesulitan.

Akhirnya Mao yang turun tangan. Ia meletakkan sekotak ramen di depan Yamane, “Baru dirilis, satu setengah porsi, rasa daging babi kimchi.”

Perhatian Yamane pun tersedot pada ramen itu. Tapi Mao sigap mengambil ramen itu kembali, membuat Yamane mengikutinya persis seperti anak anjing. Sekarang Mao meletakkannya di meja bar dan Yamane duduk di bawah.

“Duduk!” perintah Mao yang dituruti oleh Yamane. Pun saat Mao minta tangan lalu mengajak Yamane bekerja sama, Yamane menurut saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya. (seriusan ini bang Kame akting kayak anak anjing ckckckck)

Yamane mematikan lampu. Lalu menggunakan lampu biru, ia mendekatkannya pada cincin milik Rikako-san. Ada bentuk bunga sakura tersembunyi di dalam cincin itu. Rikako-san menyadari hal itu. Ia pun membuka majalah yang dikirimkan oleh Imai-san dan menemukan halaman dengan gambar pohon sakura di sana. Tapi sampai sini, masih belum jelas maksudnya.

Yamane lalu mengajarkan agar mengeluskan halaman majalah itu di pipi. Katsumura menurut saja, dan tebakannya adalah halus. Tapi Katsumura menemukan kalau halaman itu ternyata kasar.

Mao pun mengerti. Ia kembali mematikan lampu ruangan dan menggunakan lampu biru yang disorotkan ke atas halaman majalah itu. Dan benar saja, di sana ada sebuah alamat.

“Jadi cincin ini adalah petunjuk untuk menemukan ini.”

Sementara yang lain masih takjub dengan penyembunyian itu, Yamane memanfaatkan kesempatan untuk merebut dan menghabiskan ramen kesukaannya.

Mereka memasukkan alamat itu ke dalam laptop. Tapi yang muncul justru halaman yang meminta sandi masuk. Dan mereka sama sekali tidak punya ide, apa sandi yang dimaksud.

Telepon milik Rikako-san berbunyi. Dari pria tua di pemukiman kumuh. “Aku ingat nama polisi yang memberi informasi pada Imai-chan. Detektif Kirishima itu meninggal seketika setelah memberi informasi.”

Rikako-san pun menutup pembicaraan. Katsumura menyadari sesuatu. Kirishima Genichirou adalah … ayah Sakura.

Pagi berikutnya, Katsumura menemui Sakura. Mereka bicara berdua di kafe.

“Aku minta maaf. Aku curiga kau berhubungan dengan Yamaneko dan bahkan menyadapmu,” sesal Sakura.

“Ah itu, Tak usah dipikirkan,” Katsumura tersenyum (uaaaaa senyum kucing. Abang, adek kangen senyum kucing imut itu) “Oh ya, tentang kasus Imai Shunsuke…Dua tahun sebelum kematiannya, Imai-san mungkin menerima informasi tertentu dari ayahmu. Aku masih belum tahu pasti tapi, sangat mungkin itu ada hubungannya dengan narkoba. Terlebih lagi, setelah memberi informasi tersebut ayahmu meninggal.”

Sakura heran, “Kau tahu dari siapa?”

“Rikako-san. Pemilik bar Stray Cat. Sebenarnya, dia adalah mantan tunangan Imai-san. Untuk mendapatkan informasi tersebut kami butuh sandi. Tapi kami tak tahu sandi yang seperti apa.”

“Aku mengerti. Aku akan mencari tahu,” ujar Sakura tanpa ragu.

Sakura kembali ke markas. Ia mengobrak-abrik barang-barang lama milik ayahnya. Saat itu det.Inui datang. Sakura berpikir kalau kematian ayahnya dan kematian Imai Shunshuke mungkin terhubunga, “Sebelum meninggal, sepertinya ayahku memberikan informasi soal narkoba pada Imai. Tapi dia tertangkap basah. Karena Imai reporter yang bertanggung jawab, ayah tak berpikir untuk memberikan informasi pada orang ketiga.”

“Aku tak tahu orang seperti apa ayahmu dan aku tak tertarik, tapi kurasa dia pria baik. Jika dia menyerahkan infomasi pada penerbit, hanya ada satu alasan. Pembongkaran kedok. Ayahmu tewas saat mengejar kasus Yamaneko, ‘kan?” det.Inui makin tertarik.

“Ya, dua tahun lalu. Yamaneko membongkar koneksi antara politisi dan perusahaan konstruksi. Ayah ditembak saat sedang mengejar Yamaneko.”

“Kenapa kau orang pertama yang menemukannya?” det.Inui heran.

“Sebenarnya, aku diam-diam mengikutinya. Pagi hari itu, ayah terlihat seperti menyiksa dirinya, jadi…”

“Kau melihat Yamaneko menembaknya?” yang dijawab Sakura dengan gelengan. “Berarti ada kemungkinan penembaknya bukan Yamaneko.”

“Apa maksudmu?” Sakura heran.

“Senpi. Peluru yang dikeluarkan dari jasad Hosoda Masao setelah Yamaneko menembaknya adalah peluru kaliber 45. Yang menembak ayahmu adalah peluru kaliber 32. Sama dengan SIG230 yang digunakan polisi. Ingat kembali saat itu. Di tempat ayahmu tewas, apa ada sesuatu yang nampak seperti hal yang seharusnya tak ada di sana?” det.Inui memancing ingatan Sakura.

Tapi belum selesai Sakura berpikir, det.Sekimoto datang. Ia memberitahukan mereka kalau tim Morita menemukan keberadaan Yamaneko.

Rikako-san ada di bar sambil mendengarkan siaran televisi. Ada berita mengenai pengunduran diri gubernur lama sehingga pemilihan gubernur baru pun dimajukan. Saat itu Katsumura baru saja tiba.

“Di mana Yamaneko-san dan Mao-chan?” Katsumura heran karena tempat itu sepi.

“Mereka berkeliaran di supermarket sekitar sini untuk membeli semua ramen babi kimchi keluaran baru,” ujar Rikako-san.

“Menumpuk benda seperti anak kecil, dia hanya pria bodoh, ya? Saat dia tak tahu sandinya.” Katsumura membalik tab milik Yamane yang langsung memberikannya jawaban Aku tahu kata sandinya.

Tab itu pun berganti gambar, Ini petunjuk untuk kalian. Tentu saja Katsumura protes, kenapa Yamane tidak langsung saja memberikan mereka sandinya. Di tab itu muncul gambar dua orang pelajar yang bekerja sambilan sebagai kasir. Tahu kalau Katsumura tidak mungkin menemukan jawabannya, tab itu berganti halaman Petunjuk untuk si bodoh Katsumura. Gambar kecil muncul untuk mengejek Katsumura.

“Menyebalkan. Tapi aku terima tantangan ini.”

Ada tiga kotak di bawah gambar. Dan kemudian muncul tulisan Dua, umur, hari. Yang diartikan sebagai Tanggal lahir mereka berdua.

Rikako-san mendapatkan ide, “Imai dan aku?” ia pun mengetikkannya ke panel sandi dan …

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Kaito Yamaneko episode 05 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top