Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 08 part 2

SINOPSIS Himura and Arisugawa 08 part 2

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 08 part 2. Dua orang siswa SMA ditemukan tidak bernyawa pada waktu yang berdekatan dan di tempat yang tidak terlalu jauh satu sama lain. Rumor soal Apollo yang menjadi pelakunya pun beredar luas.

Himura-sensei mengecam keras rumor tidak berdasar ini. Dan alih-alih tertarik pada latar belakang kedua korban, Himura-sensei justru tertarik pada latar belakang pria tua yang menemukan korban kedua, Anou-san. Siapa sebenarnya pria ini?

Usai bicara dengan pelayan toko, ketiganya justru nongkrong di depan toko ini. Alice asyik dengan ramen instannya, Sakashita dengan roti-nya dan Himura-sensei dengan rokok mengepul di tangan.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua korban ini? Email mencurigakan yang dikirim si korban laki-laki setelah korban wanita terbunuh. Apa mereka telah putus dan berniat jadian lagi? Rumor soal Apollo makin gencar beredar. Orang-orang pun makin curiga kalau dialah pelaku insiden kali ini.

Sakashita pamit sebentar karena mendapat telepon dari det.Hisashi.

“Tapi kita harus segera menyelesaikan insiden ini sampai akar-akarnya. Karena kriminal peniru mungkin akan segera muncul,” ujar Alice.

“Benar. Singkirkan laporan saksi di internet. Aku penasaran jika Tokie-san benar-benar bertemu dengan Apollo ini,” ujar Himura-sensei.

Sakashita kembali setelah selesai menelepon, “Det.Hisashi tahu kalau aku bersama kalian.”

“Dia sengaja membiarkanmu bekerja bersama kami,” komentar Himura-sensei.

“Det.Hisashi ingin bertemu denganmu, Sensei, di kantor polisi. Katanya ada yang ingin dibicarakan,” lanjut Sakashita.

Himura-sensei tersenyum, “Akhirnya dia akan bicara rahasianya.”

Moroboshi Sanae berada di Kyoto bersama anak buahnya. Pakaiannya pun telah berganti, lengkap dengan make up. Saat ini ia justru berdiri di sebuah tempat lapang, memikirkan semua tentang Himura-sensei. Dan sebuah senyum terukir di wajah wanita ini.

Di mobil, anak buahnya membicarakan pimpinan mereka ini. Mereka berpikir jika Moroboshi sedang memikirkan targetnya yang berikut. Tapi yang lain justru berkomentar kalau senyum Moroboshi seperti senyum seseorang yang tengah memikirkan kekasihnya.

Obrolan selanjutnya berpindah pada korban Apollo di Tokyo. Mereka mengenal korban itu. Tapi yang lain berpikir kalau pengorbanan itu diperlukan dalam kelompok mereka, jadi tidak perlu dipikirkan lagi.

Akemi jalan bersama si anak imut, Sakamata ini. Mereka menyusuri jalanan kota yang ramai oleh orang-orang yang lalu lalang. Setelah membahas soal buku, kini mereka berhenti di depan banyak orang yang asyik bermain di taman.

“Aku pernah tersenyum seperti mereka. Aku datang ke Kyoto untuk perjalanan sekolah. Aku bisa tersenyum bersama teman-teman saat itu. Karena tidak bisa tersenyum lagi, aku mencoba datang lagi ke Kyoto. Tapi aku tidak ingat lagi aku yang dulu,” ujar Sakamata.

“Aku sedikit mengerti. Aku juga punya saat-saat tidak bisa tersenyum dengan baik,” komentar Akemi.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku baca buku sendirian,” ujar Akemi.

Sakamata tersenyum, “Aku pergi dari rumah. Aku tidak sepertimu. Aku merasa spesial saat bersama kelompok. Aku berbeda dari yang lain. Aku punya kekuasaan atas hidup,” wajah Sakamata berubah serius.

Akemi terkejut dengan kata-kata itu, “Kata yang terlalu kuat. Semua orang juga punya nilai.”

“Itu tidak benar,” elak Sakamata cepat. “Bagaimana dengan orang yang bukan siapa-siapa tadi jadi kriminal di akhirnya?” ia pun beranjak pergi.

Alice dan Himura-sensei sampai di kantor polisi. Sementara Himura-sensei bicara dengan det.Hisashi, Alice bicara dengan det.Ono.

“Aku punya perasaan tidak enak sejak pertama kali bertemu Himura. Mungkin asumsiku salah. Tapi kupikir, mungkin saja suatu saat nanti Himura akan berpindah ke pihak satunya,” curhat det.Ono.

Alice belum paham, “Pihak satunya?”

“Lawan polisi.”

“Maksudmu kalau dia akan jadi kriminal suatu saat nanti?” tebak Alice lebih berani.

“Alice, kau juga berpikir begitu? Kau tidak berpikir kau satu-satunya orang yang bisa menahan Himura kan?” pertanyaan det.Ono membuat Alice kehabisan kata-kata.

Sementara Alice bicara dengan det.Ono, det.Hisashi bicara dengan Himura-sensei di ruangan lainnya.

“Kupikir harus kukatakan padamu. Moroboshi Sanae melarikan diri saat akan dibawa ke kantor kejaksaan. Kami masih belum tahu di mana dia bersembunyi. Saat ini biro kemanan publik yang mengurusnya,” ujar det.Hisashi.

Tapi Himura-sensei sama sekali tidak kaget dengan fakta itu. Ia justru teringat pertemuannya dengan Moroboshi saat membahas kasus pembunuhan misterius di Tokyo yang dilakukan oleh Apollo. Menurut analisis Moroboshi, pelakunya jelas masih di bawah umur.

“Bisa aku melihat data kasus pembunuhan misterius di Tokyo?” pinta Himura-sensei kemudian.

“Sensei, apa menurutmu dua insiden berbeda tempat ini juga dilakukan oleh Apollo?”

Himura-sensei mempelajari foto-foto kasus di Tokyo yang disodorkan det.Hisashi, “Kalau tidak melewatkannya, kalian bisa melihat sesuatu,” komentarnya.

Ingatan Himura-sensei kembali pada Moroboshi. Analisisnya mengatakan kalau semua kejahatan itu dilakukan dengan brutal, tapi tidak ada rasa ingin balas dendam atau kemarahan dari lukanya. Lebih mirip dengan keinginan murni membunuh. Seolah si pelaku mengatakan aku ingin membunuh seseorang. Tipikal pembunuhan tanpa motif, psikopat.

Satu per satu fakta kasus pembunuhan di Kyoto bersliweran di kepala Himura-sensei. Korban wanita yang mem-block email dari korban pria. Lalu rasa benci pria tua yang menemukan korban kedua (Anou-san) atas dirahasiakannya nama pelaku.

Imajinasi Himura-sensei juga sampai pada kasus pembunuhan di Tokyo. Jika awalnya ia hanya melihat si pelaku beraksi, sekarang semua berubah. Empati yang terbangun membuat Himura-sensei seolah menjadi pelakunya yang melakukan kejahatan itu.

“Kejahatan ini tidak cantik,” komentar akhir Himura-sensei.

Akemi menyusul Sakamata yang sudah berjalan lebih dulu. Saat melihat ada toko kue tradisional, Akemi mengusulkan untuk membelinya.

Ia mentraktir Sakamata dan memintanya untuk membeli. Sementara Sakamata pergi, Akemi memeriksa tas milik Sakamata. Betapa kagetnya Akemi saat menemukan sebuah pisau terbungkus kain dengan rapi dalam tas itu. Tapi Sakamata keburu mengetahui ulah Akemi ini.

“Kau menemukannya?”

Akemi kaget dan berbalik, “Apa kau Apollo?”

Sakamata tersenyum, “Aku tidak pernah menyebut diriku Apollo.” Ia pun menyerahkan kembali uang milik Akemi, karena makanan yang tadi dimintanya ternyata sudah habis.

Kembali pada Himura-sensei yang sedang menjelaskan soal insiden di Kyoto itu. Ada perbedaan besar dari dua insiden pembunuhan di tempat berbeda itu. Pada insiden di Tokyo, tidak ada tanda-tanda pelaku memiliki dendam pada korban. Sementara dua insiden di Kyoto menunjukkan adanya motif. Pada korban pertama (Ogi), ada rasa dendam dan korban kedua (Zama) ada rasa ragu.

“Tapi orang biasa tidak akan bisa merasakan perbedaannya,” komentar Himura-sensei lagi. “Iya kan, Alice?” ia melirik ke arah Alice yang juga tampak ragu. Himura-sensei akhirnya menyerah untuk membuat mereka semua berempati terhadap keempat kasus pembunuhan itu.

“Bisa kau jelaskan maksudnya?” pinta det.Hisashi.

“Dua insiden di Tokyo dilakukan oleh Apollo. Sementara itu, menurut tempat, kedalaman luka oleh senjata dan motif, insiden di Kyoto dilakukan oleh orang berbeda. Rumor soal Apollp membuat kita sulit melihat kebenaran. Bukan Apollo pelaku yang membunuh Ogi dan Zama.”

“Lalu, siapa yang membunuh mereka?” tanya det.Ono.

“Hanya ada satu orang yang membenci Ogi dan ragu membunuh Zama.”

Kali ini Alice langsung paham, “Kebencian dan keraguan. Aku mengerti! Zama membunuh Ogi. Setelah membunuh Ogi, Zama bunuh diri.”

“Bagaimana luka di lehernya?”

“Itu luka yang dibuat penuh keraguan,” jawab Himura-sensei. “Alice, sekarang giliranmu!”

Sekarang Alice sudah paham rangkaian cerita ini, “Karena Zama tahu Ogi memblock emailnya, dia terus mengiriminya email. Rasa kesal itu berubah menjadi benci. Dia mengirim pesan terakhirnya setelah membunuh Ogi. Aku pergi sekarang. Dan kisah cinta mereka memiliki ending yang buruk.”

“Tunggu, email bukan bukti yang kuat untuk bunuh diri. Kita harus bisa menemukan pisau untuk bunuh diri Zama kan?” protes det.Hisashi.

“Pisaunya sudah diambil oleh seseorang. Dan hanya satu orang yang bisa melakukannya,” ujar Himura-sensei sangat yakin.

Sakamata duduk di sebelah Akemi. Sementara Akemi memeluk erat tangan Sakamata. Dan tangan Sakamata yang kiri memegang gagang pisau yang ada dalam tasnya.

Masih dengan tenang, Sakamata bicara, “Sekarang aku punya beberapa pilihan. Pertama, aku menusukmu dengan pisau ini. Tapi jika kulakukan, aku akan langsung ditangkap. Kedua, kau berjanji tidak menghubungi 911 (layanan nomer darurat di jepang) dan aku akan melarikan diri. Tapi aku tidak yakin kau tidak akan menghubungi 911. Ketika, kita akan pergi ke tempat sepi dan aku menusukmu di sana. Atau … apa lagi? Berteriak minta tolong? Melarikan diri dariku? Atau … “

“Aku akan tetap di sini denganmu dan memanggil 911,” ujar Akemi. Ia memegang tangan Sakamata makin erat.

Sakamata tersenyum, “Benar, aku tidak memikirkan ide itu.”

Himura-sensei dan para polisi kembali mendatangi kediaman Anou-san. Himura-sensei membicarakan soal sekop yang dibawa Anou-san.

“Aku selalu membawa sekop ini saat jalan-jalan dengan anjingku,” aku Anou-san.

“Tapi kau bawa plastik tadi pagi,” lanjut Himura-sensei. (budaya di sana, kalau anjing yang diajak jalan pup sembarangan, maka si pemilik akan mengambilnya dengan sekop dan plastik lalu membuangnya. Sehingga tidak ada pup yang berceceran di jalanan).” Kau tidak memiliki sesuatu yang seharusnya kau punya. Itu menarik perhatianku. Bukan soal pisau yang hilang dari TKP.”

“Kau pikir aku mengambil pisau itu dan meletakkannya dalam plastik dan membawanya pergi?” tebak Anou-san.

“Benar!”

“Omong kosong. Polisi sudah memeriksa badanku,” elak Anou-san.

Himura-sensei tampak berpikir, “Di mana kau menyembunyikannya? Karena kakimu yang tidak sempurna, kau tidak mungkin berjalan jauh dari TKP.”

“Silahkan cari di rumahku kalau begitu. Meski sedikit berantakan, carilah sampai kalian puas!”

Saat itu si anjing tiba-tiba menggonggong, “Anjing pintar. Dia melindungi majikannya! Alice, bisakah kau mengelus si anjing?” pinta Himura-sensei.

Alice kaget. Ia tahu kalau anjing itu menggonggong padanya, artinya si anjing tidak suka padanya. Tapi Alice tetap menurut permintaan Himura-sensei itu. Ia mengelus kepala si anjing yang ternyata menurut. Dan saat mengelus badannya, Alice merasakan sesuatu. Ada bungkusan dalam pakaian si anjing. Saat dibuka isinya adalah pisau lipat. Alice pun menunjukkannya pada det.Hisashi dan yang lain.

Himura-sensei melanjutkan ucapannya, “Kau mengambil pisau itu karena kau ingin membuat Zama seolah adalah korban.”

“Kau tahu juga.”

“Aku mendapat petunjuk dari pendapatmu tentang merahasiakan identitas anak dibawah umur. Saat ditemukan, Zama sudah meninggal dengan satu tusukan pisau.”

Anou-san pun melanjutkan cerita itu, “Aku tahu kalau Ogi ditusuk dengan pisau. Aku tahu mereka tidak akur. Jadi Zama pasti membunuh Ogi sebelum bunuh diri. Gambar dan nama dari gadis yang terbunuh secara tragis muncul di tv. Tapi kerahasiaan tersangka tetap tertutup. Itu sulit diterima. Aku tidak mau tersangka disebut ‘bocah A’. Tidak ada bocah A di dunia ini.”

“Seperti rencanamu, gambar dan nama Zama Kensuke muncul di tv sebagai korban. Meski kau datang ke kantor polisi dengan pisau, kami tidak bisa menghapus identitas dan namanya dari TV karena sudah terlanjur menyebar. Seperti kejahatan sempurna!”

“Anou-san, kau ditangkap karena menghancurkan barang bukti.”

“Kau tidak diijinkan melakukan ini apapun alasannya,” ujar Himura-sensei.

“Tentu saja aku siap dihukum. Kupikir semua berjalan lancar, meski aku mengorbankan diri.” Anou-san pun menatap anjingnya, berpamitan. Ia lalu berjalan dengan Sakashita.

“Aku dengar soal putramu,” ucapan Himura-sensei membuat Anou-san berhenti sebentar. “Mungkin kau pikir yang kau lakukan ini keadilan. Tapi ini jadi tidak adil bagi seorang anak lain yang tidak ada hubungannya denganmu.”

Telepon det.Ono berbunyi. Ia mendapat laporan kalau polisi menemukan seorang anak yang sangat mirip Apollo. Dan pelapornya adalah … Kijima Akemi.

“Kenapa kau mencurigaiku? Apa aku membuat kesalahan?” tanya Sakamata. Tangan kirinya masih memegang erat pisau dalam tas.

“Aku mengenal orang yang memiliki kepribadian mirip denganmu. Seorang yang bisa membunuh tetap dengan wajah datar. Kau pinya senyum yang sama dengannya,” Akemi masih memeluk erat tangan Sakamata.

“Keberuntunganku buruk,” ujar Sakamata. “Kau tidak perlu memegangiku seerat itu. Aku tidak akan melarikan diri.”

Akemi lalu melepaskan pegangan tangannya, “Apa kau menunggu untuk ditangkap?”

“Tidak, aku tidak akan tertangkap. Apollo atau bocah A, itu bukan aku. Aku Sakamata Kiyone,” ujarnya penuh percaya diri. “Tidak ada yang bisa menangkapku. Apollo akan tertangkap jika melakukan kejahatan cantik. Dan Apollo akan terjun dari tebing tinggi. Itu ide bagus.”

Saat itu mobil polisi baru saja tiba. Det.Ono keluar dari mobil dan langsung menghampiri Sakamata. Sementara Alice mendekati Akemi, memastikan dia baik-baik saja.

Sakamata berjalan bersama det.Ono. Mata Himura-sensei dan Sakamata bertemu. Ada percik kengerian di antara keduanya yang tidak bisa dijelaskan. Dua orang yang memiliki jalan pikiran nyaris sama. Dua orang yang bisa saling berempati terhadap kejahatan yang dilakukan.

“Izinkan aku bicara dengannya nanti,” pinta Himura-sensei pada det.Hisashi, yang tidak bisa ditolak.

Perkembangan insiden di Kyoto benar-benar tidak terduga. Anou-san yang sebelumnya jadi saksi, orang yang pertama menemukan korban kini ditangkap jadi tersangka penghilang barang bukti. Sementara itu, dalam berita di tv, nama Zama Kensuke pun menghilang dan berubah menjadi ‘bocah A’.

Tersangka pembunuh misterius di Tokyo pun menyerahkan diri. Sekarang dia, Sakamata berhadapan langsung dengan det.Hisashi dan det.Ono.

Dan nama Apollo serta Sakamata Kiyono menghilang begitu saja.

Malam itu, Alice dan Himura-sensei pulang ke rumah masing-masing. Mereka mengambil jalan yang berbeda. Meski demikian, keduanya masih memikirkan hal serupa. Insiden yang terjadi hari ini benar-benar menarik perhatian mereka dan membuat kepala mereka berpikir lebih keras dari biasanya.

“Ini membuatku kehilangan nafsu makan,” keluh Alice.

Pagi berikutnya

Moroboshi sudah siap bersama anak buahnya di depan komplek apartemen. Mereka mengincar Alice!

“Himura Hideo, kau dalam perangkapku!” ujar Moroboshi, tersenyum.

Apakah Alice dalam bahaya?

BERSAMBUNG

Sampai jumpa lagi di SINOPSIS Himura and Arisugawa episode 09 part 1.

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

 

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. kyaaa!!! Sakamata dan Akemi so sweet~

Leave a Reply

Scroll To Top