Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 08 part 1

SINOPSIS Himura and Arisugawa 08 part 1

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 08 part 1. Pimpinan kelompok Shangri La Crussade, Moroboshi Sanae berhasil melarikan diri saat perjalanan dari kantor polisi menuju kantor kejaksaan. Insiden yang berhasil dilakukan dengan sangat rapi dan presisi.

Masalah Moroboshi belum sampai didengar oleh Himura-sensei dan Alice saat kasus lain datang. Apakah kali ini Himura-sensei berhasil memecahkan kasusnya? Dan bagaimana dengan Moroboshi Sanae yang menjadikan Himura-sensei sebagai target selanjutnya?

Polisi tua memastikan kalau Moroboshi akan segera dibawa ke kantor Kejaksaaan di Tokyo. Tapi wanita misterius ini justru terlihat santai saja. Ia malah mulai berdendang seperti biasa. Si polisi tua pun mengerti dan mendekat.

“Istri dan anakmu kamu culik!”

Dalam perjalanan menuju kantor kejaksaan, si polisi tua sengaja mengganggu sopir mobil itu hingga membuat mereka kecelakaan. Setelahnya, dengan mudah Moroboshi melarikan diri dan mobil yang menjemputnya sudah siap di depan.

“Kit menuju tempat persembunyian. Anda bisa bersembunyi dari polisi di sana,” ujar salah satu anak buahnya.

“Aku merubah rencana. Aku akan kembali ke Kyoto. Target barunya adalah Himura Hideo,” Moroboshi-san tersenyum sarkas.

Pertanyaan siapa Himura Hideo membuat anak buahnya penasaran. Tapi mereka memutuskan tidak bertanya lebih banyak dan menuruti saja perintah ketua mereka ini.

Insiden lolosnya Moroboshi Sanae membuat si polisi tua duduk di kursi pesakitan. Sekarang dia yang diinterogasi. Polisi yang lain menyesalkan kenapa si polisi tua ini tidak memberitahu mereka kalau istri dan anaknya diculik oleh kelompok pimpinan Moroboshi Sanae.

Tapi tatapan si polisi tua sudah kacau, “Wanita itu iblis. Kau tidak akan bisa mengertinya. Himura Hideo … saat dia mengunjungi Moroboshi, sesuatu dalam diri Moroboshi terbangun. Benar, ini salah Himura!”

Det.Ono dan det.Hisashi menyimak interogasi si polisi tua dari ruangan sebelah.

“Kudengar Anda yang menyarankan agar Himura bertemu Moroboshi Sanae,” ujar det.Ono.

“Moroboshi adalah lawan yang berat. Jika aku bisa mencampur obat berbahaya bernama Himura dengannya, mungkin saja akan ada perubahan.”

Dan kedua polisi ini tidak pernah mendapatkan kata sepakat soal melibatkan Himura-sensei dalam penyelidikan mereka. Det.Ono selalu merasakan kalau Himura-sensei memiliki sesuatu yang lebih mengerikan yang belum pernah ia ketahui. Sementara det.Hisashi masih sangat percaya kalau terlibatnya Himura-sensei dalam investigasi mereka benar-benar membantu.

Si polisi tua mengatakan kalau ada kemungkinan pengkhianat dalam kepolisian sendiri. Sementara insiden ini membuat det.Hisashi sulit mengatakan fakta pada Himura-sensei bahwa Moroboshi Sanae telah kabur. Det.Hisashi pun memutuskan tutup mulut dulu sampai waktu yang tepat.

Alice asyik di depan laptopnya, berselancar ke dunia maya. Ia curhat tentang apa yang dibicarakannya dengan editor novelnya, mereka membahas soal insiden pembunuhan di Tokyo yang baru-baru ini menjadi viral (ramai dibicarakan) di internet. Kedua korban adalah anggota dari Shangri-La Crusade. Dan kemungkinan tersangka adalah anak SMA.

Informasi ini pada awalnya hanya ada di website sebuah sekolah dan dikira iseng. Tetapi anak SMA yang dimaksud ternyata benar-benar menghilang. Dan rumor pun beredar dengan cepat melalui media sosial yang dimiliki para siswa. Ada yang mengaku kalau mereka mendengar sendiri anak SMA itu mengakui kejahatannya membunuh.

“Kebohongan kecil menjadi kebenaran dan menyebar luas … itu tidak bisa dipercaya,” komentar Himura-sensei. Ia malah asyik mengelus-elus kepala si kucing.

“Benar. Tapi menurut editorku, ini jadi lebih dari gosip. Beberapa dari mereka menemukan nama dan gambar dan mempostingnya. Dan ada juga permintaan untuk menghapus gambar-gambar itu. Orang-orang menyebut bocah SMA itu dengan nama “Prince Ripper” atau “Apollo”. Dia juga dianggap pahlawan oleh sebagain orang.”

“Rumor semakin cepat beredar jika target punya nama yang menarik. Itu hukum di media sosial,” tapi Himura-sensei tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan ini.

Alice masih asyik mencari-cari gambar anak SMA yang dimaksud. Ia sempat kesal karena banyak gambar yang sudah dihapus. Sampai ia menemukan sebuah gambar ramai-ramai. Hanya ada satu orang saja yang wajahnya tidak ditutup emoticon.

Tokie-san rupanya juga mendengar pembicaraan Alice dan Himura-sensei. Setelah menyajikan teh, ia ikut mengecek laptop Alice. Tokie-san kaget dan mengaku kalau ia bertemu anak SMA ini tadi, dia ada di Kyoto.

Malam itu gerimis mengguyur Kyoto. Dan benar saja, si anak SMA misterus yang mereka bicarakan benar ada di Kyoto.

Sementara itu, di tempat lain polisi tengah sibuk melakukan penyelidikan. Sesosok jasad siswi SMA ditemukan di sebuah tempat lapang. Luka menganga di perutnya dan kehilangan banyak darah jadi penyebab siswi itu meninggal.

Insiden mengerikan belum selesai. Pagi harinya, seorang pria tua yang tengah berjalan-jalan dengan anjingnya heran dengan gonggongan si anjing. Saat diperiksa, mereka menemukan sosok jasad lain, seorang siswa SMA yang meninggal akibat luka menganga di lehernya.

Himura-sensei dan Alice langsung menuju TKP saat dihubungi polisi. Mereka disambut Sakashita yang langsung menjelaskan situasinya. Semalam, dua orang siswa SMA ditusuk hingga meninggal. Korban pertama adalah Ogi Shion, jasad siswi SMA ini ditemukan di lahan kosong sekitar 1 km dari tempat mereka sekarang. Saat ini tim forensik sedang menganalisis apakah kedua insiden ini terjadi secara berurutan.

“Yang kami tahu, dua insiden ini dilakukan oleh orang yang sama. Orang yang pertama menemukan korban kedua adalah dia,” det.Hisashi menunjuk seorang pria tua yang tengah mengobrol bersama polisi. Pria itu adalah Anou Moriyuki-san. Dia tengah jalan-jalan bersama anjingnya saat menemukan jasad kedua.

Himura-sensei tampak tidak terlalu tertarik dengan penjelasan det.Hisashi ini, “Bisakah kulihat TKP-nya langsung?”

Baik det.Hisashi maupun det.Ono tampak canggung bertemu dan bicara dengan Himura-sensei. Ini berbeda dengan kebiasaan mereka sebelumnya.

“Apa menurutmu dia tahu aku menyembunyikan sesuatu? Kau juga jangan bersikap aneh!” protes det.Hisashi.

“Maaf, saya tidak ahli,” ujar det.Ono

Kedua polisi ini menyembunyikan sesuatu yang belum bisa dikatakan pada Himura-sensei.

Alice dan Himura-sensei mendekati TKP korban kedua. Ahli foresik menjelaskan kalau korban bernama Zama Kensuke berusia 17 tahun. Dia tewas karena kehilangan banyak darah akibat sayatan di tenggorokkannya. Ditemukan lebih dari satu sayatan di tenggorokkannya. Perkiraan waktu kematian adalah antara jam 11 malam hingga satu sini hari.

“Karena jasad tidak segera ditemukan dan semalam hujan, kami tidak bisa menemukan jejak kaki tersangka atau petunjuk lain,” lanjut si ahli forensik.

Ahli forensik juga menjelaskan keadaan korban pertama, Ogi Shion. Siswi SMA ini terbunuh lebih dulu. Jenis pisau yang digunakan sama dengan korban kedua. Seragam sekolah korban penuh dengan darah.

Dan si ahli forensik ini kembali lebai. Ia pura-pura menangis agar dipeluk oleh Himura-sensei. Padahal sebenarnya hanya ingin diberi selamat karena istrinya tengah hamil. LOL

Menurut informasi, Ogi Shion dan Zama Kensuke adalah siswa sekolah yang sama. Pada pukul 11.41 semalam, Zama mengirim email pada Ogi. Isi pesannya adalah Maaf, aku pergi sekarang. Tapi menurut forensik, Ogi terbunuh antara pukul 10 hingga 11, itu sebelum dia mendapat email.

Alice pun mulai analisis ala penulisnya, “Dia (Ogi) terbunuh saat menunggu Zama di tengah hujan. Zama tidak tahu kalau Ogi sudah terbunuh dan mengiriminya email. Saat akan menemui Ogi, Zama bertemu tersangka. Tersangka sudah membunuh orang yang tida bersalah ini.”

Tapi masalah utamanya bukan hanya kasus pembunuhan dua siswa SMA ini. Tapi media yang sudah ramai berkumpul, karena rumor soal Apollo. Ada rumor yang mengatakan Apollo ini tengah berada di Kyoto. Rumor makin kencang berhembus karena ada dua insiden ini.

“Polisi tidak bisa mengabaikan rumor ini lagi. Bagaimana menurutmu, Sensei?” tanya det.Hisashi.

“Hanya orang bodoh yang percaya begitu saja rumor di internet. Aku hanya percaya hal yang bisa dilihat dan didengar langsung,” komentar Himura-sensei.

Det.Hisashi berniat untuk melakukan wawancara dengan keluarga korban. Biasanya Himura-sensei dan Alice ikut juga. Tapi kali ini mereka menolak. Himura-sensei mengaku kalau ia ada jadwal mengajar siang itu.

“Hei, tidakkah kita harusnya membahas kalau Tokie-san pernah bertemu orang yang mirip Apollo di Kyoto ini?” bisik Alice pada Himura-sensei saat tinggal ada mereka berdua saja.

“Informasi yang belum pasti hanya merusak investigasi. Dan lagi, mereka menyembunyikan sesuatu dari kita,” Himura-sensei rupanya sudah curiga.

Berita di tv masih membahas soal insiden pembunuhan dua orang siswa SMA sekaligus, semalam. Berdasaran luka di tubuh korban, kemungkinan insiden itu dilakukan oleh pelaku yang sama.

Saat itu Tokie-san tengah menonton TV sendirian di rumahnya. Ia menginat-ingat lagi sosok bocah SMA yang ditemuinya kemarin di bis. Tidak ada hal mencurigakan tentang anak SMA itu, sama sekali. Wajah polosnya pun khas anak SMA normal biasa.

Rumor soal Apollo pun beredar luas di internet, dan makin subur. Anak-anak kampus, teman-teman Akemi pun ikutan heboh. Sejumlah informasi mengaku pernah melihat si Apollo ini. Hanya Akemi yang tidak benar-benar tertarik. Bahkan berita soal Apollo berada di posisi teratas dalam pencarian. Saat itu Himura-sensei yang ada jam mengajar baru saja masuk kelas.

“Himura-sensei, dalam kelas sosiologi kriminal, kami tidak bisa mengabaikan Apollo kan?” tanya salah satu mahasiswa. “Apa menurut Anda, Apollo ini yang juga membunuh dua orang korban di Kyoto? Kejahatan serius dilakukan orang-orang muda saat ini makin meningkat.”

Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Himura-sensei marah besar. Ia bahkan menggebrak mejanya dengan keras. “Rumor tidak jelas membuat kebenaran menjadi kabur. Kau baru saja bilang kalau kejahatan yang dilakukan orang orang muda, meningkat. Apa dasarnya?” tantang Himura-sensei membuat si mahasiswa yang bertanya tadi tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Tapi Himura-sensei akhirnya melanjutkan, “Kriminalitas remaja menurun secara matematis setelah tahun 1960. Hanya karena media menungkap soal kriminalitas remaja, kita berpikir kalau hal itu meningkat. Kriminalitas remaja adalah tema penelitian besar dalam Sosiologi Kriminal. Bisa jadi bahan tesis untuk kalian.”

Tapi Akemi belum puas. Ia pun mengangkat tangannya untuk bertanya, “Jika anak di bawah umur melakukan kejahatan, orang dewasa ribut soal itu. Tapi jika orang dewasa yang melakukan kejahatan, itu lebih mengerikan kan?” Akemi mengacu pada kasus sebelumnya yang diselesaikan Himura-sensei, kasus tebing Twilight.

Himura-sensei tersenyum tipis, “Kau mungkin benar. Tapi aku tidak bisa mengatakan ya atau tidak untuk pertanyaan yang memberi arah seperti itu. Kau perlu mencaritahu sendiri jawabannya.”

Tokie berjalan bersama Alice, siang itu.

Tokie-san membahas soal anak SMA yang pernah ditemuinya. Anak itu nyaris sama seperti anak-anak SMA biasa lainnya. “Kalau aku tahu, aku bisa menghentikannya. Aku bisa menghentikannya melakukan kejahatan. Kupikir anak itu sedikit mirip dengan Himura saat Himura pertama datang ke rumahku,” curhat Tokie-san.

Pikiran Alice juga serupa. Tapi ia hanya bisa bicara dalam diamnya, “Aku memikirkan hal yang sama saat Himura mengatakan karena aku ingin membunuh seseorang. Himura mungkin juga punya pemikiran yang sama seperti si Apollo ini saat masih seusia dia dulu. Apa dia hanya menekan keinginan membunuhnya? Atau dia sudah merencanakan pembunuhan tapi berhenti tepat sebelum benar-benar melakukannya. Aku tidak tahu. Tapi dia tidak membunuh siapapun. Jika Himura bertemu Apollo, apa yang akan dia katakan pada Apollo?” Alice penasaran sendiri.

Himura-sensei dan Alice bertemu dengan Sakashita. Si polisi muda ini mengatakan soal hasil investigasi terbaru mereka. Diketahui jika Ogi Shion dan Zama Kensuke sudah putus beberapa waktu yang lalu, itu menurut orang tua Ogi. Dan faktanya, Ogi selalu memblock email dari Zama. Padahal pada insiden ini, diketahui kalau Zama sempat mengirim email pada Ogi. Fakta yang ada saling tumpang tindih. Belum jelas mana yang bisa dijadikan acuan dalam penyelidikan. Himura-sensei kemudian mengajak mereka untuk menemui pria tua yang menemuan jasad kedua tadi pagi.

“Tolong jangan beritahu hal ini pada det.Hisashi dan det.Ono,” pinta Sakashita.

“Kau berhutang waktu padaku,” balas Himura-sensei.

Mereka bertiga menemui si pria tua, Anou Moriyuki-san, yang menemuan jasad Zama tadi pagi. Tapi Anou-san tampak tidak terlalu suka dengan kehadiran orang-orang ini.

“Insiden ini menarik perhatian media. Banyak wartawan yang datang dan mewawancaraiku. Sekarang baru sedikit tenang,” keluh Anou-san. “Tapi aku juga tidak mau dicurigai polisi karena tidak mau bekerjasama. Polisi yang kutemui tadi pagi, dia tampak sangat serius. Sudah kukatakan kalau aku minum bersama tetangga semalam.”

“Ah, kami tidak mencurigai Anda,” ujar Sakashita.

“Apa anda tahu soal insiden yang menimpa Ogi Shion saat jalan-jalan pagi tadi?” tanya Himura-sensei.

“Ya, aku baca koran. Jadi saat aku menemukan jasad, aku kaget. Kupikir itu pembunuhan acak.” Sejenak pandangan Anou-san beralih pada televisi yang menyala. Di sana ditampilkan wajah kedua korban, Ogi Shion dan Zama Kensuke. “Aku tidak kenal mereka, tapi mereka sering datang ke tokoku. Wajah mereka tampak familiar.”

Polisi juga sempat datang ke toko yang dikelola Anou-san ini. Di depan toko ada semacam tempat nongkrong yang biasa digunakan para siswa SMA untuk berkumpul. Anou-san mengaku tidak tahu apakah pasangan korban ini pernah bertengkar atau tidak.

Pembicaraan bergeser pada Apollo, “Tidakkah polisi tahu informasi soal Apollo ini?”

“Karena dia di bawah umur, kamu melakukan investigasi dengan hati-hati,” ujar Sakashita.

“Kalau dia benar pelakunya, kau harusnya mengungkap identitasnya dan menjadikannya buron, meskipun dia masih di bawah umur. Kalian membuat masyarakat dalam bahaya dan membuat Apollo lebih baik.” Anou-san ini tampak tidak terlalu suka pada polisi.

Sementara yang lain ngobrol, Himura-sensei justru asyik melihat sekeliling. Rumah tempat tinggal Anou-san tampak penuh dan berantakan.

Akemi duduk sendirian di sebuah bangku taman. Dari tas yang dibawanya, dikeluarkannya sebuah buku bersampul kuning, ‘The Heart of Man’. Akemi tidak tahu, kalau ada seseorang yang sejak tadi memerhatikannya dari jauh.

“Aku membaca buku itu juga,” ujar seseorang.

Akemi mendongak dan menemukan sesosok wajah imut, “Kau baca buku sulit ini?” Akemi tidak percaya.

Sosok itu pun tersenyum, “Karena membacanya saat 15 tahun, ada banyak kata yang tak bisa kumengerti. Aku baca “Escape from Freedom” juga.”

“Aku baca itu saat SMA,” ujar Akemi.

“Aku belum pernah bertemu orang yang membaca buku seperti itu.”

“Aku juga.”

Himura-sensei, Alice dan Sakashita mendatangi toko yang dikelola Anou-san. Menurut pekerja di sana, ia memang sering melihat kedua korban (Ogi dan Zama) datang bersama. Tapi suatu saat si pelayan toko melihat Zama datang sendirian. Saat ditegur, Zama justru marah-marah dan beranjak pergi begitu saja.

“Kupikir memang seperti itu anak muda sekarang. Aku kasihan pada mereka. Sebuah tragedi! Sepertinya si laki-laki sudah ditinggalkan oleh si perempuan. Bukan kisah cinta yang kupikirkan,” komentar si pelayan toko lagi.

Tapi Himura-sensei tidak sepenuhnya tertarik soal kedua korban ini. Ia justru tertarik soal latar belakang Anou-san, sang pengelola toko.

Menurut pelayan toko itu, Anou-san tidak terpisah dari istri dan anaknya. Anaknya pernah dibully di sekolah dan menolak sekolah lagi. Setelah itu, anaknya tinggal bersama ibunya dan bersekolah dengan cara home-schooling. Diketahui juga jika Anou-san sempat komplain berkali-kali pada pihak sekolah soal bullying yang dialami anaknya. Saat itu tidak ada kata sepakat antara Anou-san dengan pihak sekolah. Pihak sekolah menolak mengungkap identitas para pembully meski jelas anaknya sudah dibully.

“Manager menolak ide kalau identitas pelaku dirahasiakan meski dia di bawah umur. Apa ada yang salah soal manager?” pelayan toko penasaran.

“Tidak. Aku hanya ingin tahu saja,” elak Himura-sensei.

Rombongan ini pun pamit pergi. Tapi pelayan toko sempat menghentikan mereka dan menunjukkan sebuah koran sore. Di halaman utama koran itu ada artikel soal insiden pembunuhan dua anak SMA ini dan juga … Apollo.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Himura and Arisugawa episode 08 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top