Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 07 part 2

SINOPSIS Himura and Arisugawa 07 part 2

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 07 part 2. Penyelidikan kasus pembunuhan di apartemen Orange Tachibana membawa Himura-sensei dan Alice ke TKP kasus pembunuhan tebing Twilight yang terjadi dua tahun silam.

Pelaku dan orang yang menantang Himura-sensei lewat telepon misterius di pagi buta sudah ada di depan mata. Tapi, Himura-sensei harus menjelaskan semua. Kalau ketiga kasus—pembakaran enam tahun silam, pembunuhan guru piano di tebing Twilight dua tahun silam dan pembunuhan di apartemen Orange Tachibana—semua saling berhubungan.

Saat Himura-sensei menerima permintaan investigasi atas kasus pembunuhan tebing Twilight, kasus pembunuhan dengan korban Yamauchi Yohei terjadi. Wajarnya, kedua insiden ini terhubung. Dan Mutobe diancam oleh pelaku yang membunuh Yamauchi Yohei di apartemen Orange Tachibana, yang mengatakan Mutobe pelaku kebakaran enam tahun silam. Dan dua insiden ini juga terhubung. Lalu, bagaimana insiden kebakaran terhubung dengan pembunuhan tebing Twilight.

Diskusi antara Himura-sensei dan Alice masih belum menemukan titik temu. Mereka belum menemukan penghubung antara insiden kebakaran yang menimpa paman Akemi dengan pembunuhan di tebing Twilight.

“Kalau saja kita bisa memastikan waktu kematian korban di tebing Twilight… “ Alice menghambur-hamburkan kertas yang berisi data penyelidikan mereka. Ia mulai merasa frustasi sendiri.

Det.Hisashi kembali mendatangi TKP di tebing Twilight. Ia masih penasaran, apa yang sebenarnya dicari rekannya det.Ogata dulu, dan belum berhasil ditemukannya.

Yoshimoto-san datang bergabung karena melihat det.Hisashi masih saja mencari, “Investigasi ini membuatku penasaran. Ah, matamu! Persis seperti milik Ogata gulu. Berulang kali melihat TKP kan?” Yoshimoto-san kemudian beranjak dan melihat sekeliling.

Det.Ono pun memanfaatkan ini untuk bicara serius pada det.Hisashi, “Aku melihat kegilaan Himura saat bicara dengannya sore tadi. Aku tidak mengingkari kalau orang memiliki keinginan membunuh. Aku tidak bisa bekerjasama dengannya, karena perasaanku tidak nyaman,” cerita det.Ono.

“Maaf mengganggu, apa Himura orang yang tinggi itu?” Yoshimoto-san kembali bergabung dan diiyakan oleh det.Hisashi. “Seperti yang kau katakan, aku melihat cahaya dingin dalam matanya,” ujarnya pada det.Ono. “Mata yang sama seperti dimiliki penjahat. Tapi cahaya dingin itu juga memancarkan cahaya seorang detektif yang memburu penjahat dengan segala upaya. Hisashi, Ogata dan kau juga punya cahaya seperti itu. Aku menyebut cahaya itu sebagai ‘kegigihan’.”

Rupanya Himura-sensei juga memperhatikan keberadaan det.Hisashi, det.Ono dan Yoshimoto-san yang berada di tebing, dari dalam penginapannya.

Dan ide itu pun muncul. Satu per satu puzzle di kepala Himura-sensei mulai terhubung dan terangkai satu sama lain. Jawaban yang ia cari pun akhrinya ada di depan mata. “Kejahatan ini tidak cantik … mungkin. Tunggu… ini mungkin?” Himura-sensei ragu.

“Kau masih belum yakin?” Alice ikut penasaran.

Himura-sensei meminta Alice untuk berhenti, “Berikan aku waktu lagi. Aku akan menemukan jawabannya besok pagi.”

Moroboshi Sanae berada dalam mobil yang akan membawanya ke pengadilan bersama para polisi. Dan seperti biasa, dia mulai bernyanyi.

Kagome kagome, burung dalam sangkar. Kapan oh kapan akan keluar? Bangau membawa si bayi.

Mendengar nyanyian itu, si polisi tua ketakutan. Ia pun memeriksa ponselnya. Sebuah pesan masuk. Tampak istri dan putrinya diikat di sebuah tempat, menjadi sandera oleh anak buah Moroboshi Sanae.

Pagi berikutnya,

Semua orang sudah berkumpul, tapi Himura-sensei masih belum muncul. Mereka mulai kesal karena Himura-sensei justru keluar sudah sangat siang.

“Maaf, aku sulit berpikir jernih dan butuh waktu hingga lewat tengah malam. Dan aku perlu tidur 6 jam,” ujar Himuar-sensei dengan santainya. “Pertama, aku ingin menunjukkan rasa hormat pada pelaku uang sudah susah payah membuat semua ini,” Himura-sensei menundukkan badan.

Orang-orang makin kesal dengan sikap Himura-sensei yang seenaknya ini. Machi-san juga kesal karena Himura-sensei masih beranggapan kalau pelakunya adalah salah satu dari mereka. Tapi Himura-sensei tidak terpengaruh, ia justru mengiyakan ide itu dan mengatakan kalau pelaku benar bersama mereka dengan tampang polosnya.

Himura-sensei beranjak ke meja bar di sisi lain ruangan. Ia mengambil tiga buah botol, “Kasus pembunuhan Yamauchi Yohei, kasus pembunuhan tebing Twilight dua tahun silam dan kebakaran enam tahun silam. Tiga kejadian ini saling terhubunga. Ok, kita mulai dari … kasus pembunuhan di tebing Twilight,“ Himura-sensei mengambil salah satu botol.

“Dua tahun silam, Ogata menemukan ada beberapa hal yang tidak bisa dipastikan dalam investigasi. Salah satunya waktu kematian korban, Yuko. Rentang waktunya panjang, antara pukul 2 siang hingga 5 sore, sehingga alibi mereka sulit dibuktikan. Aku menemukan kunci kita bisa menentukan waktu kematian Yuko,” Himura-sensei menunjuk lukisan milik Yoshimoto-san yang sempat dipinjamnya.

Adegan berubah, seolah mereka semua ada di pinggir tebing, tepat di depan TKP kejadian pembunuhan Yuko.

“Saat itu, Yuko duduk di bawah tebing. Dia duduk di tempat biasa. Alasan dia tetap duduk di sana meski matahari bersinar terang adalah … “ Himura-sensei menunjuk truk milik Yoshimoto-san yang diparkir di atas tebing, tidak jauh dari TKP. “Dia selalu duduk di tempat yang tertutup bayangan truk. Yoshimoto-san selalu memarkir truknya di sana untuk melukis. Yuko tahu itu dan memilihnya jadi tempat favoritnya.

Tapi penjelasan masih berlanjut. Himura-sensei bertanya, apa yang akan terjadi kalau orang berada di suatu tempat dalam bayangan dalam waktu lama. Alice menanggapinya dengan mengatakan kalau bayangan akan mengikuti arah sumber cahaya, matahari. Jadi, Yuko harusnya berpindah tempat sesuai bayangan yang dibentuk truk oleh matahari.

“Tapi Yuko tidak berpindah sejak jam 2 siang setelah rekaman video. Dengan kata lain, Yuko terbunuh selama waktu antara bayangan itu ada hingga bayangan berpindah.”

“Jadi waktu estimasi kematian Yuko antara jam 2 hingga jam 3 sore,” det.Hisashi menyimpulkan. “Siapa yang punya alibi saat itu?”

“Aku dan ibuku. Kami pergi menyelam saat itu,” ujar Masaaki yang diiyakan ibunya, Machi-san.

Det.Hisashi memeriksa catatannya, benar demikian. “Yoshimoto-san melihat Yohei memancing saat itu juga, jadi Yohei juga punya alibi. Jadi orang yang mungkin membunuh Yuko saat itu tinggal … “

“Mutobe atau Akemi,” lanjut Himura-sensei.

Tapi Mutobe segera menyanggahnya, “Tunggu dulu! Aku pergi sekitar jam 2 siang dan tiba di Kyoto jam 4. Pelaku melemparkan batu sekitar jam 5 kan? Kalau begitu, tidak mungkin kan aku yang membunuh Yuko.”

“Benar, kau memang tidak melempar batu ke arah Yuko,” sambung Himura-sensei.

“Jadi, pelaku yang memukul Yuko dengan kayu hingga meninggal dan yang melempar batu pada Yuko… “

“Ada dua orang yang terlibat.”

Suasana berubah menjadi ruang kelas Himura-sensei di kampus.

“Dengan kata lain, ada tersangka X dan Y, dua orang. Aku menyebut X dengan ‘kayu’ dan Y dengan ‘batu’. Kayu menemui Yuko di bawah tebing dan memukul kepala Yuko dengan batang kayu hingga meninggal. Tapi itu pembunuhan tak terencana. Karena kayu meminta batu untuk membunuh Yuko. Kayu meminta batu untuk melemparkan batu ke arah Yuko yang tengah duduk di tempat biasanya di bawah. Tapi Kayu ternyata membunuh Yuko tanpa terencana. Kayu membuat Yuko seolah masih hidup dengan mendudukkannya kembali ke kursi. Itu menjelaskan kenapa pelaku mendudukkan tubuh korban kembali ke kursi.”

“Kayu ingin batu percaya kalau dialah yang membunuh Yuko!” kali ini Alice yan menjawab.

“Benar! Tapi sebaliknya, kayu memiliki titik lemah batu. Kayu ingin menghindari itu.

“Sebaliknya? Kau mengatakan kalau kayu meminta batu membunuh Yuko dengan memanfaatkan kelemahan batu?” tanya det.Ono

“Luar biasa! Dengan jawaban itu, sekarang tinggal satu hal lagi yang perlu kujelaskan,” lanjut Himura-sensei. “Kau mahasiswa cerdas. Akan kuberi kau hadiah.”

“Jadi, apa kelemahan si batu ini?”

Situasi kembali ke vila tempat semua orang berkumpul.

“Sekarang kita berpindah pada kasus kebakaran enam tahun silam. Si pembakar adalah batu dan saksinya adalah kayu.”

“Aku tidak pernah tahu ada saksi dalam insiden itu? Kenapa kau baru bilang sekarang? Dan darimana kau tahu?!” protes Machi-san.

“Sebenarnya, Akemi yang menceritakannya,” ujar Himura-sensei. “Tapi dia melihatnya dalam mimpinya.”

“Mimpi? Kau bercanda?” sindir Machi-san. “Jangan bilang kau mencari petunjuk berdasarkan mimpinya dan tanpa dasar jelas! Aku merasa dibohongi oleh semua penjelasanmu!”

Alice rupanya belum sepenuhnya mengerti isi pikiran Himura-sensei. Ia mulai panik, “Hei Himura? Apa yang kau lakukan?”

Det.Ono pun menunjukkan kekecewaannya. Ia lalu mengajak det.Hisashi untuk pergi saja dan melanjutkan penyelidikan mereka.

“Akemi, bagaimana bisa kau ceritakan mimpi padanya?”

Situasi ini membuat Akemi makin terpojok. Tapi dalam ketakutannya, Akemi akhirnya menemukan keberanian untuk bicara, “Itu bukan mimpi! Aku benar-benar melihatnya. Aku melihat saat paman Yohei menuangkan bensin pada paman Shotaro.”

“Tidak mungkin! Itu tidak benar! Kenapa adikku melakukan itu?” Machi-san tidak percaya.

Giliran Himura-sensei yang melanjutkan, “Pelaku pembakaran adalah Yamauchi Yohei. Dia adalah ‘batu’ yang diminta untuk membunuh Yuko—karena kelemahannya sebagai pelaku pembakaran—untuk membuatnya melempar batu dari atas tebing pada Yuko.

Det.Hisashi mengecek catatannya dan benar menemukan kalau Yamauchi Yohei tidak memiliki alibi pada pukul 5 sore. “Kalau begitu, kayu yang membunuh Yuko sampai meninggal adalah … “ ia melihat ke arah Akemi.

“Tunggu! Aku tidak pernah bilang kalau Akemi adalah kayu. Mutobe juga tidak punya alibi,” ujar Himura-sensei.

“Ini giliranku kan?” Mutobe akhirnya ikut bicara. Ia bangun dari kursinya. “Apa kau mau mencurigai kami satu per satu? Kau kan, Himura yang menghilangkan kecurigaan atas diriku dalam kasus kemarin? Kenapa sekarang kau mencurigaiku lagi?”

“Benar! Itu tujuanmu kan?” Himura-sensei tanpa ragu menuding Mutobe. “Surat ancaman atau apapun yang kau lakukan di apartemen adalah palsu. Itu adalah drama yang kau rencanakan. Yang benar-benar kau lakukan hanya menempel poster di lift dan menutup panel nomer lift. Kita sudah dibohongi dengan triknya.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Agar terbebas dari list pelaku, kau mengirimiku tantangan dan membuatku menyeleaikan insiden itu. Itu adalah strategi luar biasa!” sindir Himura-sensei.

“Apa perasaanmu pada Akemi benar nyata?” kali ini Alice yang bicara. Ia mengacu pada pengakuan Mutobe sebelumnya saat mereka bicara di luar apartemen soal perasaan Mutobe pada Akemi. “Bukannya kau merasa tersaingi karena Akemi memilih minta bantuan Himura? Dan kau berharap bisa kalah darinya. Kau pasti senang karena bisa dikalahkan oleh Himura yang dipilih Akemi. Seorang pahlawan yang tragis.”

Mutobe tidak bisa bicara apapun lagi. Ia hanya bisa memandangi Akemi.

“Aku mengerti perasaan itu. Tapi aku tidak mengerti tujuanmu membunuh Yuko. Tanpa mengatakan tujuan itu, maka perasaan tulusmu padanya akan jadi palsu belaka. Apa tidak masalah? Jangan bohong lagi. Ini kesempatan terakhir kau bicara kebenaran!” ancam Himura-sensei.

Mutobe tidak punya pilihan lagi. Ia memandangi Akemi, “Aku menyukai Akemi sejak lama. Tapi Yuko mempermainkan perasaanku. Hari itu … “

Hari itu Yuko bertemu dengan Mutobe yang berniat pamit, di tebing Twilight. Yuko mengecup bibir Mutobe dan mengatakan kalau Mutobe akan menjadi miliknya. Ini membuat kemarahan Mutobe muncul. Ia kalah oleh sikap baik Yuko padanya. Tapi ia juga takut kalau perasaannya akan berpindah dari Akemi.

Saat Yuko berbalik, Mutobe meraih kayu di dekatnya dan memukulkannya di kepala Yuko. Yuko pun langsung ambruk ke tanah, meninggal.

Yamauchi Yohei akhirnya tahu kalau bukan dia yang sebenarnya membunuh Yuko. Dia memanfaatkan hal ini dan minta bertemu dengan Mutobe di ruang 806 apartemen Orange Tachibana itu. Tapi di sana justru Mutobe yang kemudian mencekik Yohei agar ia tutup mulut.

“Itulah yang sebenarnya terjadi. Dan ini jawabanku atas tantanganmu,” ujar Himuar-sensei.

Masalah semua terpecahkan. Pelaku semua insiden ini pun jelas. Himura-sensei lalu beranjak pergi dengan cool-nya.

Mutobe yang berstatus tersangka dibawa ke mobil polisi.

Tapi det.Hisashi berhenti sebentar di luar. Dia melihat ke arah lain dan menemukan bayangan rekannya, det.Ogata di sana, “Kami menyelesaikan insiden ini, Ogata!”

Dan bayangan di seberang tersenyum. Hutang det.Hisashi untuk menyelesaikan kasus yang tertinggal setelah det.Ogata meninggal, pun selesai.

Himura-sensei, Alice dan Akemi sudah kembali ke Kyoto. Saat ini mereka berada di atap gedung, saat senjak menjelang.

“Mutobe mengaku kalau ia juga melihat Yamauchi Yohei dalam kebakaran. Kau dan Mutobe melihat hal yang sama. Akemi, kata Alice aku konselor yang gagal. Tapi, bisakah kukatakan sesuatu? Ketakutanmu terhadap warna oranye disebabkan oleh ketakutan karena pengalaman nyata dan perasaan bersalah. Tapi kali ini kau harus bisa menerimanya. Aku tidak berpikir semua masalah selesai hanya karena kami bisa menyelesaikan insden ini. Tapi saat matahari terbenam nanti, kau akan memiliki hari baru setelahnya. Itu pasti akan jadi hari barumu.”

“Suatu hari, aku bisa menikmati matahari terbenam kan?” tanya Akemi. Ia pun berbalik. Berbeda dari biasanya, warna oranye matahari senja sudah tidak lagi menakutkan bagi Akemi. Ia sudah bisa menerima dan memaafkan semua. Air mata kelegaan mengalir di kedua pipi Akemi.

Dendang lagu Moroboshi Sanae membuat si polisi tua makin ketakutan. Apalagi setelahnya sebuah mobil pengirim barang lewat di depan mereka. Si polisi tua lalu mengacau setir mobil polisi itu hingga mobil pun terguling di jalan.

Moroboshi Sanae keluar dengan santainya dari dalam mobil dan berjalan ke arah mobil pengantar barang yang sudah menanti mereka. Setalah Moroboshi keluar, sandera anak dan istri si polisi tua pun dibebaskan. Moroboshi Sanae kembali melenggang dengan bebas di luaran sana.

“Aku rubah rencana. Aku akan kembali ke Kyoto. Target baru kita adalah … Himura Hideo,” ujar Moroboshi Sanae.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Himura and Arisugawa episode 08 part 1.

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top