Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 06 part 1

SINOPSIS Himura and Arisugawa 06 part 1

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 06 part 1. Karena ulah si detektif muda yang ‘ember’, Sakashita, mahasiswa Himura-sensei tahu kalau sang dosen bekerjasama dengan polisi dalam penyelidikan kriminal.

Salah satu dari mereka, Akemi menceritakan soal masalahnya. Ia minta Himura-sensei menyelidiki kasus kematian seorang guru piano yang cantik, dua tahun silam. Pelaku kejahatan itu hingga kini belum tertangkap. Dan karena ini, sebuah panggilan telepon misterius pun datang ke kediamana Himura-sensei.

Sebuah panggilan telepon misterius datang pagi-pagi buta. Suara di seberang meminta Himura-sensei untuk datang ke ruang 806 sebuah komplek apartemen, Orange Tachibana secepatnya.

“Sensei, kau jangan pergi. Itu pasti telepon iseng,” pinta Tokie-san.

Tapi Himura-sensei tidak berpikir demikian. Baginya, telepon itu adalah tantangan. Himura-sensei setuju untuk datang. Alice pun meyakinkan Tokie-san kalau ia yang akan menjaga Himura-sensei. Meski tidak yakin dengan Alice, Tokie-san mengiyakan ucapan Alice itu.

“Kami hanya akan pergi ke apartemen sekitar. Kami akan segera kembali,” pamit Himura-sensei pada Tokie yang tengah mengelus kepala si kucing. (ini kucing manis banget, dengan wajah bulatnya)

Pagi berikutnya setelah aku setuju melakukan investigasi atas kasus pembunuhan tebing Twilight, sebuah telepon misterius datang yang memintaku untuk datang ke komplek apartemen tempat orang-orang yang terlibat insiden ini, tinggal. Ini pasti ada hubungannya dengan insiden.

“Siapa saja yang tahu kalau kau setuju melakukan investigasi kasus ini?” Alice penasaran.

“Sejauh ini kau dan klien.”

“Artinya, kalau penelepon tadi menggunakan pengubah suara, bisa laki-laki atau perempuan,” Alice menyimpulkan.

Setelah berjalan beberapa lama, Alice dan Himura-sensei tiba di komplek apartemen yang dimaksud. Mereka berpapasan dengan seorang pria berjaket biru yang baru saja keluar dari komplek apartemen itu juga. Alice penasaran dengan pria yang berpapasan dengan mereka ini.

Tampak kalau komplek apartemen itu menyedihkan, bahkan mirip tempat berhantu. Bahkan keamanannya pun payah. Dari kotak surat yang tertutup, bisa dipastikan kalau ruangan yang dimaksud (ruang 806) adalah ruangan kosong tanpa penyewa. Alice dan Himura-sensei naik lift. Di dalam lift, ada semacam pemberitahuan jika salah satu penghuni apartemen kehilangan hewan peliharaan, yakni burung hantu.

Alice dan Himura-sensei tiba di lantai delapan. Benar-benar sepi, karena nyaris sebagian besar komplek apartemen itu kosong. Himura-sensei menyarankan agar Alice pulang saja kalau ia takut. Tapi jelas Alice menolak, ia bergaya memasang kuda-kuda seperti orang akan berkelahi.

Mereka tiba di ruangan 806 yang dimaksud. Tanpa kesulitan, keduanya bisa masuk begitu saja karena pintu tidak dikunci. Lampu ruangan itu mati, Himura-sensei pun menyalakan pemantik apinya. Mereka memeriksa ruangan apartemen itu, kosong dan tidak ada tanda apapun yang mencurigakan.

Alice membaui aroma tertentu yang khas, seperti parfum. Aroma itu ia cium juga tadi di lift, begitu pula saat mereka tadi berpapasan dengan seorang pria berjaket biru di depan apartemen. Keduanya curiga dengan pria tadi.

Hingga mereka menemukan sesuatu di kamar mandi, “Kita harus mengurus ini dulu.” Himura-sensei memeriksa jamnya, baru pukul 6.22 pagi. “Ini akan jadi hari yang panjang.”

Tim forensik dan polisi sudah datang dan memeriksa korban yang ditemukan Alice dan Himura-sensei di kamar mandi. Korban adalah seorang pria paruh baya.

“Identitasnya tidak diketahui. Kemungkinan meninggal 5-6 jam yang lalu, karena itu perkiraan kematian adalah tengah malam. Tidak ditemukan luka di luar tubuh. Dia dicekik dari belakang,” ujar ahli forensik.

“Kenapa di kamar mandi?” Alice tampak malas melihat mayat itu.

“Dia pasti dibunuh di tempat lain dan dibawa ke sini,” ujar Himura-sensei.

“Menurut titik kematiannya, dia dibunuh tidak jauh dari sini. Ini laporan dari lab kriminal saat ini.”

Det.Hisashi mengatakan kalau tidak ada tanda-tanda pintu didobrak. Dan karena di sekitarnya adalah apartemen kosong, maka mereka tidak bisa mendapatkan pernyataan dari saksi.

“Jadi, komplek apartemen ini adalah tempat yang sempurna bagi tersangka,” gumam Himura-sensei. Telepon misterius di pagi buta. Jasad misterius tanpa identitas. Dan aroma misterius di TKP.

“Sensei, ada yang kau pikirkan?”

“Ada satu orang.”

Kelas sudah ramai. Mereka masih menunggu dosen mereka, Himura-sensei yang tampaknya belum juga datang. Tapi dari arah lain justru muncul det.Ono dan Sakashita.

Det.Ono berdiri di depan kelas, “Siapa yang bernama Kijima Akemi?”

Tahu namanya dipanggil, Akemi mengangkat tangannya.

Det.Ono lalu mendekati Akemi, “Saya Ono dari kepolisian perfektur Kyoto. Bisakah kau ikut kami untuk bekerjasama dalam investigasi?” ujarnya langsung. “Himura-sensei yang meminta agar saya menjemputmu.”

Diberitahu demikian, Akemi pun menurut. Det.Ono kemudian mengatakan pesan dari Himura-sensei pada seluruh mahasiswa, yang mengatakan kalau kelas hari ini kosong. Kedua teman Akemi tampak mengenali Sakashita, yang pernah mereka temui di kencan buta. Tapi Sakashita pura-pura tidak kenal untuk menghindari kecurigaan det.Ono padanya.

Himura-sensei menceritakan soal salah satu mahasiswanya yang memintanya menginvestigasi kasus pembunuhan di tebing Twilight.

“Kenapa dia memintamu? Apa dia tahu kalau Sensei bekerjasama dalam investigasi?” det.Hisashi heran.

“Keculi ada detektif ‘ember’ yang mengatakannya,”

Det.Hisashi kemudian ingat soal kasus itu. Itu adalah kasus 2 tahun silam yang ditangani rekannya, det.Ogata. Kasus itu dikenal sebagai ‘insiden pembunuhan tebing Twilight’. Sebuah insiden yang aneh. Seorang guru piano ditemukan meninggal. Dalam investigasi diketahui kalau dia dibunuh dua kali. Korban pertama dipukul dengan benda padat dan kedua dia dijatuhi batu dari tempat tinggi. Semua orang yang pergi bersama korban untuk berlibur adalah tersangka. Tapi tidak pernah ada kesimpulan jelas ataupun motifnya.

“Jadi, orang-orang yang berlibur itu … “ ucapan Alice terpotong.

“Salah satu dari mereka adalah klienku dan mereka berlibur bersama di villa saat itu.”

Det.Ono baru saja tiba bersama Akemi. Akemi tidak kaget dengan keberadaan Himura-sensei, dosennya yang diketahui bekerjasama dengan polisi itu. Tapi Akemi dibuat kaget saat Alice menyapanya. Akemi ingat kalau Alice pernah sekali waktu makan siang bersama lalu datang dan mengikuti kuliah Himura-sensei.

Akemi kemudian dibawa ke kamar mandi, tempat ditemukannya jasad korban. Saat tutupnya dibuka, Akemi berubah syok. Dia mengenal korban sebagai pamannya.

“Apa dia terlibat dalam insiden tebing Twilight?” pertanyaan ini pun diiyakan oleh Akemi.

“Ada orang lain yang tahu kalau kau memintaku untuk menginvestigasi kasus itu selain dirimu?” tanya Himura-sensei.

“Masaaki yang tinggal di komplek apartemen ini dan aku membicarakan Anda kemarin,” aku Akemi.

“Sekarang ada satu lagu kemungkinan orang yang meneleponku pagi tadi,” gumam Himura-sensei.

Si A yang terlibat dalam insiden tebing Twilight terbunuh di komplek apartemen ini, dimana si B yang juga terlibat dalam insiden itu tinggal. Dan itu terjadi, setelah si C yang juga terlibat dalam insiden itu meminta Himura-sensei melakukan investigasi.

“Ayo kita bicara dengan si B,” ajak Himura-sensei.

Si B yang dimaksud adalah Munakata Masaaki, sepupu Akemi. Akemi pun dibawa ke apartemen Masaaki untuk istirahat.

“Biar kuperjelas. Akemi dan kau adalah saudara sepupu. Setelah orang tua Akemi meninggal, dia sempat tinggal bersama keluargamu. Dan Yamauchi Yohei yang ditemukan meninggal pagi ini … “

“Dia pamanku. Dia adalah adik dari ibuku,” ujar Masaaki menjawab pertanyaan det.Hisashi. “Saat kesulitan uang, dia juga tinggal bersama kami.”

“Apa kau menceritakan kalau aku diminta menginvestigasi kasus pembunuhan tebing Twilight pada orang lain?” tanya Himura-sensei.

“Ya. Aku menceritakannya pada semua. Ibuku, juniorku Mutobe dan paman Yohei.”

Artinya kemungkinan orang yang menghubungi Himura-sensei tadi pagi pun semakin bertambah. Masaaki sendiri tidak bisa membuktikan alibinya saat paman Yohei terbunuh semalam. Yohei memulai usaha baju bekas untuk bertahan hidup, jadi dia tidak datang ke apartemen Masaaki malam itu. Masaaki mengaku hubungannya dengan pamannya menjauh sejak insiden tebing Twilight dua tahun silam itu.

Saat itu, ibu Masaaki, Munakata Machi-san baru saja tiba. Ia marah-marah karena polisi sudah mencurigai mereka tanpa alasan jelas semua seperti dua tahun silam. Masaaki pun mencoba menenangkan ibunya itu.

“Anggota keluargaku baru saja terbunuh. Bisakah kalian beri kami waktu berkabung?” protes Machi-san. “Polisi sama saja seperti dua tahun silam. Dia bertanya semuanya setiap hari.”

“Nama detektif itu Ogata. Dia mencari kebenaran untuk keluarga anda, jadi jangan salah paham,” det.Hisashi mencoba menjelaskan.

Machi-san mulai tenang. Ia pun akhirnya bersedia untuk duduk. Himura-sensei mendekai Machi-san dan mulai mengendus, ia mendapati aroma yang sama seperti tadi pagi.

“Kau bilang aku punya aroma yang sama dengan pelaku?!” Machi-san tidak terima. “Aku ahli parfum profesional. Aku meracik parfum ini sendiri.”

“Tapi aromanya sama dengan pria yang berpapasan dengan kami di jalan semalam. Tingginya sekitar 180 cm, punya warna rambut agak pirang, hidung tegas dan bibir tipis. Dia memakai jaket biru kemeja kotak-kotak di dalamnya. “

“Dia Mutobe,” ujar Masaaki. “Dia adalah juniorku. Dia sering datang menemuiku. Dia juga ada di villa bersama kami saat insiden tebing Twilight.”

“Ini adalah parfum asli yang kuberikan pada semua tamu villa dua tahun silam,” sambung Machi-san.

Sementara itu det.Ono menemui Akemi yang berada di kamar, “Bisakah kutanyakan soal Yamauchi Yohei?”

Wajah Akemi berubah ketakutan. Ingatannya soal insiden kebakaran saat ia masih kecil kembali terbayang jelas, “Aku tidak tahu apapun!” elaknya

Di penjara, polisi masih terus mencari cara agar pimpinan kelompok Shangri La Crussade, Moroboshi Sanae mau bicara.

“Aku tidak pernah memberikan perintah khusus. Mereka melakukan apapun tanpa memberitahuku,” ujar Moroboshi.

Tapi polisi jelas tidak percaya.

Sayangnya kemampuan Moroboshi untuk mempengaruhi orang lain luar biasa. Ia bahkan bisa membuat si polisi seolah menjadi pesakitan sementara dirinya yang menginterogasinya. Setelahnya Moroboshi pun mulai mendendangkan lagunya, Kagome-kagome.

Entah bagaimana persisnya. Tapi tiap kali Moroboshi mulai berdendang, maka semuanya berjalan seperti rencananya. Sejumlah anak buahnya menculik seorang ibu dan putrinya yang masih sekolah. Kini mereka membawa kedua korban penculikan ini dalam mobil tertutup.

Atas permintaan polisi, Masaaki pun menghubungi Mutobe dan memintanya untuk datang. Mutoba yang baru tiba mengatakan turut berduka cita pada Machi-san. Tapi justru ditanggapi dingin oleh Machi-san.

“Mutoba, ini adalah Himura-sensei yang kuceritakan padamu kemarin. Dosen yang sangat dihormati Akemi dan juga disukainya,” Masaaki memperkenalkan Himura-sensei pada Mutobe.

“Kita bertemu sebelumnya. Aku yakin, ini aroma yang sama,” komentar Himura-sensei.

“Mutobe, katakan pada mereka semua yang kau tahu!” pinta Machi-san. “Kau bertemu mereka tadi pagi kan? Kau yang ada di ruangan 806 juga?” cecar Machi-san.

“Tolong jangan ambil tugas kami,” pinta det.Hisashi. Ia pun meminta Mutoba duduk lebih dulu sebelum bicara lebih lanjut. “Jika kau berbohong, itu akan menyakitkan. Apa kau ada di komplek apartemen ini dini hari tadi? Bisakah kau ceritakan kenapa kau ada di komplek apartemen ini?

Mutobe menarik nafas, “Aku tidak yakin kalian akan percaya padaku.”

Ia pun memulai ceritanya. Saat ia pulang semalam, ada surat tanpa nama yang ditemukannya di depan pintu. Dalam surat itu tertulis datang ke Orange Tachibana pada pukul 1 dini hari dan naik tangga darurat sampai kau menemukan amplop kuning. Perintah selanjutnya ada di sana. Kalau kau tidak menuruti perintah ini, aku akan mengungkap fakta ini. Mutobe menuruti perintah dalam surat itu.

“Orang ini tahu rahasia terdalamku,” ujar Mutobe. Tapi ia enggan mengatakannya pada polisi rahasia apa itu.

Mutobe pun menuruti perintah dalam surat itu dan mulai naik tangga darurat. Dia menemukan surat beramplop kuning di lantai 13. Dalam surat itu ada perintah selanjutnya, naik lift dan datang ke ruang 806. Masuk dan tunggu intruksi selanjutnya. Jangan tinggalkan sidik jari. Kalau kau tidak mendapat apapun sampai pukul 6 pagi, pulanglah.

Polisi dan yang lain pun masuk ke lift, seperti dalam cerita Mutobe. Pemberitahuan soal hewan peliharaan yang hilang masih tertempel jelas di dalam lift, membuat orang-orang pasti memperhatikannya. Tapi saat mereka tiba di lantai 8, Himura-sensei meminta Sakashita untuk datang ke ruang 306 dan bertanya soal hewan poliharaan (burung hantu) yang hilang itu.

Mutobe melanjutkan ceritanya. Ia berpikir kalau ada yang mengawasinya. Karena menemukan pintu tidak terkunci, ia pun masuk ke dalam ruang 806 kemudian menunggu. Tidak ada yang terjadi di sana. Karena bosan, Mutobe pun memeriksa ruangan itu, berpikir mungkin ia menemukan petunjuk lain, tapi tetap tidak ada apapun. Setelah pukul 6 pagi dan tidak mendapat apapun, Mutobe pun memutuskan untuk pulang.

“Aku tidak tahu apa yang ingin dilakukan orang ini, atau apa yang dia ingin aku lakukan,” Mutobe menutup ceritanya.

“Kalau cerita itu benar, berarti kau tersangka utama pembunuhan Yamauchi Yohei. Karena kau ada bersama mayat semalaman,” ujar det.Hisashi.

“Tidak mungkin!” Mutobe mengelak cepat. “Saat aku mengecek kamar mandi, tidak ada apapun di bak!”

“Jadi, pelaku membawa jasad korban dari suatu tempat hanya beberapa menit setelah kau pergi dan kami tiba di sini?” tanya Himura-sensei.

“Benar, misal … misal dari ruangan sebelah.”

Tapi ide ini dibantah oleh forensik. Mereka telah memeriksa kemungkinan ini dan dari ruangan sekitar, tidak ada bukti kalau pernah ada jasad di sana.

“Jadi menurut kalian aku bohong?” Mutobe mulai ketakutan.

“Terlalu lemah untuk suata kebohongan. Dan kita tidak punya dasar mengatakan di pembohong,” komentar Himura-sensei. “Itu pendapat pribadiku.”

“Seseorang ingin menjebakku,” gumam Mutobe.

Saat itu Sakashita baru saja kembali. Ia melaporkan kalau poster yang mengatakan soal hewan peliharaan yang hilang itu tidak benar. Pemilik ruangan seperti pada poster itu mengaku tidak pernah memiliki hewan peliharaan ataupun membuat poster seperti itu.

Polisi bubar. Tinggal Himura-sensei, Alice, det.Hisashi dan det.Ono yang masih ada di ruangan itu. Mereka masih membahas soal poster yang sengaja dibuat, dan orang itu kemungkinan tersangka yang ingin menjebak Mutobe.

“Aku tidak percaya 100% padanya. Aku akan mewawancarai dia lagi,” ujar det.Hisashi.

“Orang yang membunuh Yohei. Orang yang mengirim surat pada Mutobe. Orang yang menelepon kita pagi buta. Apa itu dilakukan oleh orang yang sama?” Alice mulai memisah-misah fakta yang mereka miliki. “Semuanya masih misteri.”

“Tapi karena aku sudah menerima tantangan ini, aku tidak akan kalah!” tegas Himura-sensei.

“Sensei, ini soal pribadi. Kupikir ini pekerjaan rumah dari det.Ogata.” det.Hisashi lalu menjelaskan juga pada det.Ono kalau det.Ogata ini adalah detektif yang menangani insiden pembunuhan tebing Twilight ini. Tapi det.Ogata meninggal tahun lalu di tengah investigasi. “Dia adalah rekanku.”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 06 part 2.

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

2 comments

  1. di tunggu ya part 2 nya…
    makasih sinopsisnya

Leave a Reply

Scroll To Top