Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 04 part 2

SINOPSIS Kaito Yamaneko 04 part 2

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 04 part 2. Penyelidikan atas kematian Hosoda membawa tim Yamaneko pada sejumlah fakta. Termasuk kasus penjualan gunung dan pabrik milik keluarga Hosoda yang dipaksakan.

Tim Yamane sempat mengunjungi ibu Hosoda. Melihat keadaannya, Mao berkali-kali datang berkunjung. Meski diminta oleh Mao, Yamane menolak membantu untuk mengambil kembali sertifikat gunung dan pabrik itu. Apa yang sebenarnya ada di balik kasus ini?

Setelah menempelkan alat penyadap di bar Stray Cats, Sakura menunggu di mobil dan mendengarkannya lewat speaker. Ia juga melihat Katsumura yang ternyata masih saja kembali mendatangi bar itu.

“Maafkan aku.”

Katsumura yang baru saja kembali menanyakan soal Mao yang pergi sendirian. Tapi bukannya menjawab, Yamane malah menyuruh Katsumura melihat ke bawah meja. Ia pun menurut saja.

Pacarmu menyadap kita,” Yamane menulis di kertas.

Katsumura mengerti yang dimaksud Yamane. Ia membalas ucapan Yamane dengan menulis juga, “Dia bukan pacarku!!

Terserah, aku tak peduli,” tulis Yamane kemudian.

Kesal melihat ulah kedua orang ini, Rikako-san menggebrak meja. Ia pun menulis di kertas yang sama, “Apa yang harus kita lakukan? Jika kita diam saja, Mao akan dalam bahaya!

Yamane mengerti, “Baiklah, mau bagaimana lagi. Kita lakukan tanpa Mao? Yamane—ko, resital!” ia kemudian bernyanyi dengan suara sumbangnya. (bang Kame, duh, nggak eman tuh sama suara. Punya suara bagus gitu, eh yang diumbar malah yang jelek, hahaha)

Sakura yang masih mendengarkan di mobilnya bingung, “Resital?” tapi kemudian ia mengerti saat suara sumbang Yamaneko terdengar di speaker mobilnya. “Apa-apaan pekak nada ini!”

Mao benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menyelinap masuk dan membobol brankas untuk mengambil sertifikat tanah milik keluarga Hosoda. Sayangnya polisi bergerak cepat. Takut ketahuan, Mao pun meninggalkan pekerjaannya dan bersembunyi di dalam almari.

Polisi yang datang adalah det.Inui. Ia mengamuk dan mengacak-acak isi ruangan itu mencari Yamaneko. Kini ia berada di almari tempat Mao berada. Tangannya sudah terulur ke pegangan almari itu. Tapi suara dari luar yang mengatakan kalau Yamaneko melarikan diri, mengalihkan perhatian det.Inui. Ia pun membanting almari itu. Di tangga, det.Inui bertemu sosok berseragam yang mengatakan kalau Yamaneko ada di lantai bawah, di ruangan brankas.

Pria berseragam itu ternyata … Katsumura. Ia mengintip masuk ke ruangan yang tadi ditinggalkan det.Inui dan mencari keberadaan Mao. Dengan bantuan Katsumura, Mao pun berhasil melarikan diri dari tempat itu.

Di tempat lain, det.Inui sadar kalau ia sudah dikerjai. Kini ia menuju bagian belakang gedung untuk mengejar Yamaneko kembali. Dari sisi lain, dilihatnya sebuah mobil dengan lampu menyala terang menujunya. Det.Inui baru menghindar saat sangat dekat dengan mobil itu. Tapi ia sempat menempelkan alat pelacak di sisi mobil.

Sakura masih bertahan di mobilnya. Ia menutup telinga mendengar nyanyian Yamane yang terus saja terdengar dan belum ada tanda-tanda akan selesai. Sebuah panggilan telepon

“Yamaneko muncul. Cepat kemari!” ujar suara di seberang.

Sakura bingung, “Tapi Yamaneko ada di bar di depan mataku.”

“Cepat kemari. Bawa mobil!”

Sakura tidak punya pilihan. Ia pun menuruti perintah atasannya ini. Lalu, apa yang terjadi sebenarnya? Tahu disadap, Yamane menyetel dengan keras rekaman suaranya lengkap dengan speaker. Dan membiarkan Sakura mendengar suara sumbangnya sejak sore tadi.

“Jika saja aku tak mengemudi, aku akan memukulmu dengan keras. Jika terulang lagi, aku tak peduli!” keluh Rikako-san. Ia masih fokus di belakang kemudi.

Sementara itu Mao ada di belakang bersama Katsumura.

“Kau pikir Yamaneko-san akan mengabaikan rekannya? Yang membunuh Hosoda-san bukan Yamaneko-san. Dia mengatakannya padaku. Seseorang mengincar nyawa Hosoda-san. Jadi Yamaneko-san pura-pura menembaknya dan ia melarikan diri. Kau harus lebih percaya pada rekanmu,” Katsumura menjelaskan semua pada Mao.

Sakura sudah datang dan kini bersama det.Inui melakukan pengejaran. Det.Inui sibuk melihat ke arah tab-nya, yang dikatakannya untuk melacak dari pemancar yang sempat ditempelkan pada mobil Yamaneko tadi.

Sakura dan det.Inui tiba di tempat pemancar itu berhenti. Tapi bukan melihat mobil Yamaneko apalagi pengemudinya, mereka justru bertemu dengan seorang supir taksi. Supir taksi itu memberikan kertas serta alat pelacak pada det.Inui dan Sakura.

Kutunggu di pabrik di depan. Yamaneko

Det.Inui dan Sakura menuju pabrik yang dimaksud Yamaneko dalam pesannya. Ternyata pabrik itu adalah tempat produksi senjata ilegal. Dengan mudah kedua polisi ini melumpuhkan sejumlah penjaga dan membuat seluruh proses produksi terhenti. Tidak lama setelahnya det.Sekimoto datang bersama tim dari kepolisian lengkap.

“Bagus! Mereka semua sudah diamankan. Penggerebekan ini merupakan prestasi bagi kalian!” puji det.Sekimoto.

“Kenapa ada di sini?” Sakura heran.

Det.Sekimoto tidak mengerti, “Bukankah kalian yang menghubungiku?”

Det.Inui langsung menyadari sesuatu. Ia berlari dan kembali mobil. Akhirnya ia mengerti bahwa sebenarnya yang diincar oleh Yamaneko adalah laptop milik Hosoda yang tadi siang disitanya dari rumah keluarga Hosoda. Dan kini ia berkejaran dengan Yamaneko menuju markas kepolisian.

Det.Inui dan Sakura kembali ke markas. Mereka bertemu seorang tukang bersih-bersih yang baru lewat. Curiga, det.Inui menghentikan sosok itu dan minta agar diperlihatkan isi benda yang didorongnya. Orang itu, yang ternyata makhluk bertopeng kucing, Yamaneko tentu menolak.

Sigap Yamaneko menangkis serangan det.Inui. Ia lalu melepas bom asap yang juga menyebabkan sinar terang. Ini membuatnya bisa melarikan diri dan membiarkan det.Inui serta Sakura tidak berhasil mengejarnya karena terlalu silau.

“Selamat tinggal! Nyaww!”

Yamane sudah berada di bar saat Mao kembali. Ia memberikan laptop milik Hosoda dan meminta Mao untuk menganalisisnya. Tidak lupa Yamane juga menyerahkan sertifikat gunung milik keluarga Hosoda yang sudah dicurinya.

“Kapan kau mencurinya?” Mao heran.

“Kebenaran tak diperlukan untuk hal yang kau harapkan,” elak Yamane dengan santainya.

Malam itu Mao bekerja lembur. Ia hanya ditemani Yamane yang sudah terkantuk-kantuk di sebelahnya. Sudah lewat tengah malam hingga akhirnya Mao berhasil memecahkan sandi laptop itu dan berhasil membuka isinya.

“Aku tidak tidur, sama sekali tidak tidur. Aku masih terjaga!” elak Yamane saat Mao memukul tongkat penopang kepalanya yang sudah terkantuk-kantuk sejak tadi.

“Aku berhasil,” ujar Mao.

Dan sebuah file dibuka. Video dari Hosoda-san. Tak ada yang bisa meretas ini selain Mao. Jadi, orang yang sedang menonton video ini adalah Yamaneko. Akan kukatakan semua hal yang kutahu.

Hari ini Mao kembali mengunjungi ibu Hosoda. Tapi sikap ramah ibu Hosoda hanya ditanggapi dingin oleh Mao. Mao malah membahas soal pabrik yang dijual oleh ibu Hosoda.

“Katanya organisasi kriminal Asia membuat senjata di sana. Sayang sekali pabrik itu digunakan untuk hal illegal,” ujar ibu Hosoda.

“Nenek sudah tahu, ‘kan? Bahwa itu adalah pabrik senjata,” Mao menunjukkan sertifikat gunung dan pabrik yang kemarin didapatkan kembali oleh Yamaneko. Termasuk satu lembar lagi surat perjanjian lain. “Berdasarkan sertifikat gunung dan perjanjian yang Nenek tanda tangani dengan Serpent, Nenek akan menerima 30 juta yen.”

Tapi ibu Hosoda mengelak soal itu. Ia bilang hanya menggunakan stempelnya pada surat perjanjian itu. Lalu kebohongan soal pikun pun terungkap. Menurut pengakuan Hosoda yang dilihat Mao serta Yamaneko di laptopnya, pada awalnya pabrik keluarga mereka dibangun untuk memproduksi senjata api ilega. Lalu uang 30 juta yen yang diberikan adalah uang tutup mulut. Tapi ibu Hosoda tetap berkeras kalau ia tidak tahu apapun.

“Tapi, tak ada alasan berbohong soal pikun, ‘kan? Hosoda-san sangat terbebani karena hal itu. Ia berusaha mendapatkan kembali gunung itu demi Nenek,” lanjut Mao.

Ibu Hosoda makin tersudut, “Kau mengerti apa? Kau tak tahu apa-apa. Aku melakukannya karena Masao. Aku bohong soal pikun karena ia! Aku selalu ketakutan. Aku tak bisa menahan diri dari ketakutan pada Masao. Ia tak pergi ke sekolah, mengurung diri di kamar dan saat keluar ia terlibat kekerasan. Saat ia pulang setelah sekian lama, aku pura-pura pikun. Karena aku tak mau terlibat apa pun lagi dengannya. Karena aku tak mau kehilangan 30 juta yen. Ia percaya kebohonganku. Karena bagaimanapun anak akan mempercayai orangtua.”

Dari arah pintu terdengar suara tepuk tangan. Yamane datang, “Ternyata ada manusia yang lebih dibutakan oleh uang dariku. Jadi, ada di mana? Uang 30 juta yen itu!”

Yamane kemudian mengobrak abrik rumah itu. Meski diminta berhenti, Yamane tidak peduli dan terus mencari. Ia akhirnya menemukan uang itu ada di bawah altar persembahan. Berderet, uang sejumlah 30 juta yen.

“Luar biasa, kan?!” giliran Yamane yang menggertak. “Kau tanpa ragu pura-pura pikun demi uang. Saat tahu ia sudah mati, apa yang kau pikirkan?! Hah? Apa kau lega? Kau lega berpikir tak perlu lagi bertemu dengannya? Kau selalu menderita, ‘kan? Jadi kau ingin menyimpan uang itu dan hidup bebas. Memulai kembali hidupmu. Menjadi bahagia! Jadi sejak awal, ini semua salah siapa? Salah anak. Salah Hosoda karena ia mati! Seperti itulah orangtua berpikir. Kau memiliki hidupmu sendiri.”

Pada akhirnya semua yang berkaitan dengan Hosoda dan ibunya adalah masalah uang. Hosoda yang sangat sayang pada ibunya itu bekerja keras untuk bisa mengembalikan gunung dan pabrik milik keluarganya pada ibunya. Akibatnya Hosoda terlibat masalah buruk dan akhirnya meninggal. Yamane kemudian menunjukkan video yang ditinggalkan Hosoda pada ibunya.

Ibu. Maaf. Aku bukan anak yang baik, ‘kan? Aku juga tahu bahwa kau pura-pura pikun. Aku tahu semuanya. Tapi, ini salahku, jadi…Jadi mulai saat ini mungkin kau akan pergi liburan. Makan sesuatu yang lezat. Kepiting raja! Kau bilang ingin makan kepiting raja Hokkaido. Makanlah yang banyak! Lalu, nikmati pemandangan yang luar biasa, pergi ke pemandian air panas. Saat melakukan itu…mungkin di kesempatan berikutnya, pasti menyenangkan jika kita bisa menjadi ibu dan anak yang sebenarnya. Sekarang aku mungkin sudah mati. Jadi, Terima kasih. Untuk selama ini. Terima kasih. Ibu Hosoda hanya bisa terdiam pasrah melihat video pengakuan putranya itu. Ia tidak sanggup mengatakan apapun lagi.

“Hosoda tak pernah meragukanmu. Sudah terlambat. Mengatakan hal seperti ini sekarang. Sudah sangat terlambat,” lanjut Yamane.

Kali ini Mao yang bicara, “Mungkin memang hanya fantasi. Tapi aku ingin Nenek mengerti. Hosoda-san ingin melihat Nenek tersenyum. Hanya tersenyum padanya, sudah membuatnya senang. Hanya itu saja akan membuatnya bahagia.”

“Seperti katamu. Aku terlibat hal tak perlu dan membuatnya menderita. Jika bukan karena aku, dia takkan tertangkap,” sesal Mao. Ia tengah berjalan pulang berdua bersama Yamane.

“Salah,” elak Yamane. “Karena ada kau, dia dan Hosoda, akhirnya bisa menjadi orangtua dan anak. Kau tak membunuh Hosoda-san, ‘kan?” Mao kembali mengatakan pertanyaan ini. “Katsumura-san mengatakannya padaku. Saat itu, kau pura-pura menembaknya agar Hosoda-san yang nyawanya diincar bisa melarikan diri.”

“Katsumura bilang begitu?” Yamane tertegun.

“Ada apa?” Mao justru bingung.

“Aku tak pernah mengatakan hal seperti itu padanya,” aku Yamane.

Yamane menghubungi Cecilia dan menceritakan semua yang ia ketahui, “Sejauh yang bisa kulihat dari berkas milik Hosoda, tak diragukan bahwa Yuuki Tenmei yang bermain di belakang layar. Yang membangun pabrik itu setelah perang juga Yuuki.”

“Jadi, Yuuki tak ingin pabrik senjata ilegal itu di ketahui masyarakat, karena itu dia membunuh Hosoda Masao?” Cecilia a.k Anri menyimpulkan.

Tapi kesimpulan itu dibantah oleh Yamane, “Tidak, informasi yang dimiliki Hosoda hal yang sangat berbeda. Ada hal lain di gunung itu yang sangat berbeda. Rahasia Yuuki. Tapi, dengan begini kita tahu ada seseorang di luar sana yang bertindak sesukanya. Sepertinya ada seseorang yang bertanggung jawab melakukan pekerjaan kotor untuk Yuuki. Dia dikenal dengan Chameleon. Seorang psikopat yang tiba-tiba muncul di sebelah target dan membunuh mereka dengan senyuman di wajah. Waspadalah, Yamaneko-san.”

“Kau bicara dengan siapa?” seorang pria masuk ke kamar. Dia Todou Kenichiro, sang calon gubernur Tokyo.

Anri tersenyum dengan tenangnya sambil mematikan telepon, “Baguslah Serpent sudah dijatuhkan. Dengan ini, kau selangkah lebih dekat menuju kota bersih.” Anri pun mendekat dan menenggelamkan diri dalam pelukan Todou-san.

Yamane mengunjungi makam Hosoda-san. Ia meletakkan pion permainan dengan gambar Hosoda di atas makam, “Sebagai orang gemuk hidupmu singkat.” Yamane melepas kaca mata hitamnya. “Terima kasih atas kerja kerasmu. Beristirahatlah dengan tenang.”

Sementara itu, Mao masih terus melakukan penyelidikan. Kali ini sasarannya adalah pabrik yang ada di gunung milik keluarga Hosoda. Ia menemukan sesuatu tidak terduga, “Pabrik itu memiliki jalan bawah tanah?”

Yamane tengah bersiap menikmati mi ramen-nya saat det.Sekimoto datang dan bergabung. Tapi sebuah telepon menunda obrolan mereka lebih jauh.

Suara di seberang memberitahukan berita tentang kematian seorang bernama Imai, pria yang merupakan mantan tunangan Rikako-san. Det.Sekimoto berbalik, “Tersangkanya adalah, kau Yamaneko.”

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

 

Bonus picture

Melihat Katsumura Hideo (Narimiya Hiroki) bertingkah konyol seperti itu rasanya … gimana ya? Aneh aja sih. Mungkin aura dia sebagai sosok Takato Yoichi (Kindaichi Series) yang kejam atau sosok Kanzaki Jun (Bloody Monday) yang lebih sadis lagi, terlalu mempesona bagi Kelana, hahahaha. Meski dua tahun berperan di Aibou series dan jadi polisi baik bernama Kai Toru, entah kenapa wajah menyebalkan Narimiya Hiroki selalu sukses mencuri perhatian Na kalau dia berperan sebagai penjahat. Duuuh, maaf ya, Bang. Kira-kira bisa lihat wajah ‘devil-nya’ lagi nggak ya di series satu ini?

Tapi semua memang teralihkan dalam sesaat saja kalau si abang ini tersenyum. Senyum kucingnya itu lho. Ok, abaikan tsurhat nggak jelas ini. Selamat membaca. Happy Blogging. ^_^

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

One comment

Leave a Reply

Scroll To Top