Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 04 part 1

SINOPSIS Kaito Yamaneko 04 part 1

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 04 part 1. Pencarian Yamaneko terhadap sosok Yuuki yang misterius masih terus berlanjut. Sepertinya Yamaneko punya urusan khusus dengan Yuuki ini. Termasuk masa lalu Yamaneko yang masih belum terkuak.

Teka teki kematian mantan anggota Yamaneko, Hosoda Masao masih belum menemukan titik temu. Kali ini tim Yamaneko kembali menelusurinya, termasuk ke kediaman keluarga Hosoda.

Politikus Todo menunjukkan screen komputernya pada det.Sekimoto. Di sana ada sosok bertopeng misterius yang kemudian dikenal sebagai Yuuki. Sementara det.Sekimoto bicara, Todo-san memilih menyingkir sebentar.

“Lama tak bertemu, Sekimoto,” ujar suara serak itu.

“Akhirnya kita bertemu. Yuuki-san,” wajah det.Sekimoto berubah lebih bergairah. “Kau mendukung negeri ini dari balik bayang-bayang GCHQ. (mata-mata dari Inggris yang dibentuk sejak tahun 1945). Tapi, 10 tahun lalu, beredar rumor bahwa kau meninggal dan membuat dirimu sendiri tak terlacak.”

Tapi Yuuki tidak tertarik pada ucapan det.Sekimoto ini, “Yamaneko masih memiliki jalan yang panjang.” Sosok Yuuki berubah, seolah kini berada tepat di depan Sekimoto.

“Jika Yamaneko memberontak padamu…”

Yuuki berdiri dan menebas pedang ke arah det.Sekimoto. Ia menggunakan tangannya untuk menghindar. Tapi saat tangannya disingkirkan lagi, tidak ada siapapun. Layar monitor milik Todo-san pun kembali gelap.

“Apa Yamaneko tahu hubungan kita?” Todo-san baru saja kembali.

“Tidak, kupikir dia tak menyadarinya.”

Todo-san tersenyum, “Sudah hampir 20 tahun yang lalu. Aku menjadi sekretaris Yuuki-sensei dan kau menjadi pengawalnya. Dan sekarang kita bersama-sama mencoba menciptakan dunia baru. Takdir adalah hal yang aneh. Pertama, akan kubuat Tokyo sebagai kota yang bersih. Aku masih mengandalkan bantuanmu.”

Suasana bar ‘Stray Cat’ tampak biasa saja. Keempat penghuninya justru berkumpul dan main ‘monopoly’. Beberapa langkah membuat Yamane makin kaya. Sementara Katsumura justru sial karena rumahnya habis dilahap api.

“Baru kali ini kulihat orang sangat serius main game,” komentar Mao.

Kali ini giliran Rikako-san yang bermain. Ia mendapatkan rumah baru di dekat tempat Katsumura. Dan ia dapat jatah uang dari aset Katsumura.

“Aku sudah tak punya uang,” keluh Katsumura.

Yamane akhirnya mengalah dan meminjami Katsumura uang untuk membayar. Ini membuat Katsumura kesal sendiri, karena Yamane juga menagihnya. Permainan berakhir bahkan sebelum selesai. Mereka bubar dan mulai menghitung aset masing-masing. Meski diprotes oleh Katsumura maupun Mao, Yamane dengan santainya mengatakan kalau inilah aturan permainan Yamaneko.

Saat itu det.Sekimoto baru saja datang sambil membawa koper silver. Rikako-san mendekat dan menunjukkan asetnya dalam permainan. Setelahnya det.Sekimoto benar-benar memberikan sejumlah uang sesuai aset di permainan tadi.

Katsumura tidak habis pikir. Yamane menjelaskan kalau uang itu adalah upah untuk mereka setelah mereka mengambil uang dari orang-orang jahat. Dan imbalan ini ditentukan dari berapa banyak yang mereka dapat dari permainan tadi. (pantesan mainnya serius banget ya)

“Tunggu, kau dapat berapa? Minus 2 juta yen. Kau memang pria malang!” ejak Yamane pada Katsumura.

“Tunggu dulu. Hanya karena aku tak beruntung,aku harus membayar? Bukankah aneh?” protes Katsumura, tidak terima.

“Katsumura, menurutmu yang kita lakukan itu keadilan atau kejahatan?” tantang Yamane.

Katsumura kehabisan kata-kata, “Masih belum tahu. Tapi, bisa kukatakan satu hal. Ada seseorang yang telah diselamatkan melalui tindakanmu.”

Yamane kembali mengingatkan Katsumura soal hutangnya tadi, lengkap dengan surat hutang bertanda cap.

Mao juga mendapat bagiannya sesuai dengan aset di permainan. Tapi Yamane menarik kembali uang itu sebagai bayaran karena Mao menginap dan makan di bar mereka. Dan Yamane hanya menyisakan 500 yen untuk Mao. Mao yang tadinya santai pun ikut kesal. Ia dan Katsumura protes pada Yamane.

“Tolong tegakkan keadilan!” protes Katsumura dan Mao.

Yamane tidak serius menanggapi mereka, “Kalian berdua benar-benar dibutakan oleh uang. Lain kali berjuanglah!”

Katsumura beralih pada det.Sekimoto yang masih asyik dengan kopernya. “Kau tak menerima apa pun?”

“Aku detektif. Aku sudah cukup dengan sisa uangnya,” ujar det.Sekimoto dengan santainya.

“Apa? Bukankah itu yang paling banyak? Ini tidak adil!” Katsumura makin marah.

“Jangan cerewet! Atau kutahan karena berjudi?” ancam det.Sekimoto.

Mao kembali ke kursi. Ia menemukan pion dengan foto Hosoda-san di sana. Rikako-san menjelaskan kalau dulu Hosoda-san juga payah dalam permainan mereka itu. Mao teringat soal pertanyaannya pada Yamane, apa benar Yamane yang membunuh Hosoda atau bukan.

Yamane mengambil minumannya dan duduk di sebelah det.Sekimoto, “Sudah bertemu Yuuki?”

“Masih belum. Kita harus mencari kesempatan lain.”

Cecilia menelepon Yamane dan mengajaknya bertemu. Ia memberikan flashdisk yang diakuinya adalah data penyelidikan yang dilakukan Hosoda sebelum dia tewas.

“Ia mungkin mencarinya terlalu dalam saat mengumpulkan informasi itu. Mungkin ia tahu kebenaran yang seharusnya tak diketahuinya,” lanjut Cecilia.

“Lalu apa hubungannya denganmu?”

“Orang yang membunuh Hosoda Masao, mungkin orang yang sama yang mencoba membunuhku,” yang dimaksud Cecilia adalah insiden sebelumnya yang menyebabkan seorang pria gendut, Kadomatsu tewas karena menyelamatkannya. (cek sinopsis episode 3). “Demi Hosoda-kun, carilah kebenarannya, Yamaneko-san.” Cecilia berbalik, memakai helm dan beranjak pergi dengan motornya.

Yamane ingat malam itu (episode 1), saat ia bicara dengan Hosoda di dekat dermaga. Lalu, dua minggu setelahnya Hosoda ditemukan tewas tertembak di tempat yang sama.

Det.Sekimoto memperkenalkan anggota lain kepolisian, bantuan dari markas pusat karena mereka kekurangan anggota untuk menyelidiki kasus Hosoda Masao. Kedua orang itu adalah Inspektur Morita dan det.Fukuhara. Sakura mengenali dua orang ini.

Tapi perhatian mereka teralihkan oleh kehadiran det.Inui (detektif berwajah galak yang belum lama juga datang). Ia memukuli seorang pria yang ditangkap sebagai tersangka, membuat orang-orang kesal melihatnya. Sakura kaget melihat pria ini yang dibalas sapaan sok akrab sang detektif.

“Mari kita bagi kelompok untuk menyelidiki kasus Hosoda Masao dan mencari Yamaneko,” lanjut det.Sekimoto pada yang lain.

Tapi det.Inui buru-buru memotongnya, “Kita tak perlu dibagi. Hosoda dan Yamaneko saling terhubung.”

Det.Sekimoto tampak tidak terlalu suka dengan det.Inui ini. Inspektur Morita justru yang minta maaf, karena dia adalah anak buahnya juga. Det.Inui sebenarnya seorang detektif hebat, hanya saja sikapnya cukup kasar. Bahkan disebut sebagai ‘anjing pemarah. (inu=anjing)

Data dari Cecilia dibuka di bar. Di dalamnya berisi data tentang Moldau Real Estates. Sebuah perusahaan real estate dengan bisnis mapan tetapi memiliki reputasi buruk.

“Sepertinya Hosoda-san menyelidiki akuisisi mereka pada gunung. Bukankah Hosoda bilang bahwa orangtuanya memiliki gunung?”

Flash back saat mereka memainkan game. Saat itu giliran Hosoda-san. Ia mengatakan kalaudirinya menjual gunung seharga 100 juta yen. “Keluargaku memiliki gunung, tapi harga tanahnya murah. Rumah kami berada di gunung itu dan pabrik ayahku juga berada di sana. Dan ibuku tak mau menyerahkannya,” curhat Hosoda-san.

Tapi Yamane sama sekali tidak peduli dengan curhat rekannya ini. Ia justru mengatai Hosoda-san dengan ‘gemuk’ dan memukul kepalanya.

Hosoda-san menjual gunung itu pada Moldau Real Estates, meski dengan harga murah. Ada cerita lain soal hubungan Hosoda-san dengan keluarganya.

Pada kesempatan bermain game yang lain, Hosoda juga bercerita tentang keluarganya, “Aku tinggal bersama keluarga sampai berumur 30. Aku terus menyebabkan masalah pada ibu dan sejak ditangkap karena meretas, kami tak pernah bertemu.

Dan lagi-lagi, Yamane justru memukul kepala Hosoda dan minta agar ia tidak membawa-bawa masalah keluarga dalam permainan mereka.

Pada kesempatan yang lain, Hosoda juga bercerita kalau ia bertemu ibunya setelah sekian lama. Ternyata ibunya telah pikun dan memperlakukannya seperti orang asing. Ibunya ditipu dalam beberapa transaksi tanah dan akhirnya diusir dari rumah keluarga mereka.

Tanggapan Yamane? Dia tetap cuek dan kembali memukul kepala Hosoda.

“Sejak tadi kau sangat kejam. Kenapa kau mengabaikannya saat sedang bermain?!” protes Mao.

“Bodoh! Jika tak ada uang, aku takkan mendengarkan kisah orang lain,” ujar Yamane dengan santainya.

“Selalu uang, uang, uang dan uang!” balas Katsumura.

“Apa?! Katakan itu saat kau sudah melunasi 2 juta yen!” bentak Yamane, tidak mau kalah.

“Jika Hosoda kembali pada keluarganya setelah sekian lama, dan menjual gunung karena ibunya pernah ditipu dalam penjualan tanah, lalu apa?”

Yamane pergi bertiga bersama Katsumura dan Mao. Sepanjang jalan ia asyik sendiri mendengarkan musik sambil ikut bernyanyi. Katsumura yang penasaran melepas headset Yamane dan mencoba mendengarkan juga.

“Koleksi terbaik Nagabuchi Tsuyoshi Nduet bareng Yamaneko!” (Nagabuchi Tsuyoshi adalah seorang penyanyi dan penulis lagu Jepang yang merupakan tokoh terkemuka dalam musik populer Jepang.)

“Aku tak mengerti,” komentar Katsumura. “Tapi, kenapa kita mengunjungi rumah keluarga Hosoda-san?”

“Aku berharap dapat beberapa informasi.”

“Kau pernah bertemu ibunya Hosoda-san?” tanya Mao.

“Hah? Belum,” Yamane pun kembali bernyanyi dengan suara sumbangnya. Ia pun berjalan duluan di depan.

“Apa yang bakal ibunya pikirkan tentang kematian Hosoda-san?” gumam Mao.

Mereka sampai di kediaman ibu Hosoda-san. Ibunya mengatakan kalau Hosoda-san sedang pergi dengan teman-temannya. Saat ia menghubungi, ternyata tidak menyambung. Karena pikunnya, ibu Hosoda ini berpikir kalau Hosoda masih hidup.

“Mungkin kali ini aku salah. Aku tak bisa menghubunginya,” ujar ibu Hosoda lagi.

“Tentu saja karena ia sudah mati,” komentar Yamane dengan santainya.

Katsumura dan Mao buru-buru mengalihkan pembicaraan. Mereka khawatir pada ibu Hosoda ini.

“Nenek, laptop Hosoda tidak ada. Bukankah ada di sini?” tanya Yamane kemudian. Rupanya ia sudah memeriksa sekitar rumah itu.

“Tadi, polisi kemari,” aku ibu Hosoda.

Dan laptop milik Hosoda itu ada di kursi belakang sebuah mobil. Di depan ada det.Inui yang ada di belakang kemudi dan Sakura di sebelahnya.

“Kenapa kau berpikir Hosoda-san dan Yamaneko terhubung?” tanya Sakura.

“Kau ingat kasus Yamaneko sebelum Hosoda dibunuh?” yang dimaksud det.Inui adalah kasus ayah Mao, Frontier Data Bank. “Dan juga Shining Peace. Ada semacam petunjuk tak lama sebelumnya. Dan petunjuk itu dari Hosoda. Kami mencocokkan suara dari telpon. Jangan beri tahu siapa pun. Karena kau tak pernah tahu siapa musuhmu!” pesan det.Inui.

Jawaban ini justru membuat kening Sakura makin berkerut. Antara kaget dan juga heran. (duh, kalau inget teteh Nanao jadi penjahat di Siren tuh serem banget loh)

Malam itu Yamane dan yang lain makan malam di rumah keluarga Hosoda. Tanpa malu, Yamane berulang kali minta tambah. (biasanya Cuma makan mie doang sih, jadi rakus). Mereka bahkan makan besar malam itu. Dengan menu enak ‘nabe’, yang lagi-lagi atas inisiatif Yamane yang memintanya tanpa rasa malu sama sekali.

“Nenek tak bertemu Hosoda untuk sementara waktu, ‘kan? Ia bilang padaku. Saat ia pulang setelah sekian lama, rumahnya telah tiada. Apa Nenek menjual gunung?”

“Ya, sekitar 3 bulan yang lalu.”

“Kenapa menjualnya?”

“Aku tidak tahu. Saat menyadarinya, dokumen kontrak sudah ditandatangani,” aku ibu Hosoda yang pikun itu. Ia pun melanjutkan ceritanya, “Selain rumah juga ada pabrik. Ayahku segera mendirikannya setelah perang (WW II). Pabrik yang memproduksi suku cadang kapal. Gunung itu berarti segalanya bagi keluarga kami. Sekarang sudah tidak ada.

Mereka pulang malam itu. Katsumura yang bertugas menyetir di depan. Sementara Yamane asyik mengorek-orek kakinya yang gatal di belakang bersama Mao.

Mao kesal karena orang-orang itu memanfaatkan kepikunan ibu Hosoda agar ia menjual tanahnya. “Kau bisa mendapatkan sertifikatnya kembali, ‘kan?” tanya Mao pada Yamane.

“Untuk saat ini tidak mungkin. Aromanya tak seperti uang,” jawab Yamane dengan cueknya. “Moldau Real Estate membuat keuntungan besar tapi mereka tak melakukan sesuatu yang ilegal.”

“Ini bukan tentang uang!” protes Mao.

“Bagiku iya,” Yamane meminta Katsumura menghentikan mobil mereka. Ia pun pergi keluar.

Setelah Yamane pergi, Katsumura masuk ke dalam.

“Yang membunuh Hosoda-san mungkin dia,” cerita Mao pada Katsumura.

“Eh? Kenapa?” Katsumura kaget.

“Jika dia berduka atas kematian Hosoda-san, maka wajar dia ingin membantu ibunya Hosoda-san. Tapi yang dia pikirkan hanya uang. Paling buruk!”

Yamane ternyata mengajak det.Sekimoto bertemu di apartemen Hosoda. Ia menanyakan kenapa det.Sekimoto menghapus data komputer dan kamera yang Hosoda simpan di apartemen itu. Tapi det.Sekimoto menanggapinya dengan santai. Ia mengatakan kalau agar itu tidak terlacak.

“300 juta yen. Kenapa kau tak memberinya?” lanjut Yamane.

Flash back saat Hosoda diajak bicara berdua dengan Yamane di sisi dermaga.

“Kau bilang Yamaneko tak membunuh orang!” protes Hosoda. Ia sudah berlutut di depan Yamane.

“Itu untuk pekerjaan. Berbeda dengan masalah pribadi!” Yamane menembakkan senpi-nya ke lantai. “Dengan ini kau mati,” ujarnya pada Hosoda. “Jika terlibat dengan Yuuki, seseorang akan mencarimu. Jika kita tak melakukan ini, kau tak bisa kabur dari mereka.”

“Jadi, ini demi menyelamatkanku?”

Hosoda lalu mengatakan alasannya mengkhianati tim Yamaneko. Ia mengaku butuh uang 300 juta yen. Yamane menyuruh Hosoda minta pada det.Sekimoto, tapi ternyata det.Sekimoto tidak memberinya.

“Lalu, orangnya Yuuki menghubungiku. Jika aku menurut, dia akan memberi uang. Jika dia memberikan 300 juta pada Moldau Real Estates, mereka akan merobek kontraknya. Dan sepakat,” cerita Hosoda.

Kembali ke masa kini

“Tapi aku tak punya keinginan meminjami sejumlah besar uang untuk sebuah gunung yang tak berguna,” det.Sekimoto mengatakan alasannya.

“Menurutmu tak berguna?” tanya Yamane.

“Menurutmu ada sesuatu di gunung itu?” det.Sekimoto berbalik heran.

“Hosoda bilang padaku. Bahwa Yuuki menghubunginya. Seharusnya ada sesuatu di baliknya. Ia bilang akan melihat di sekitar sana. Dan beberapa hari kemudian Hosoda dibunuh. Di tempat yang sama, memakai pakaian yang sama, dengan peluru yang sama. Bisa kau dapatkan laptopnya yang disita polisi?” pinta Yamane.

“Tidak, itu takkan berhasil. Si Inui yang datang dari kantor utama menyusahkan. Dia terus-menerus di depan komputer itu,” elak det.Sekimoto.

Hari berikutnya, Sakura menemui Katsumura di kafe. “Kami menemukan bahwa Hosoda Masao yang dibunuh mungkin terhubung dengan Yamaneko. Lalu, kami menyita laptopnya. Sayangnya, laptopnya dilindungi sandi. Jadi kami tak mendapat banyak informasi.”

“Begitu,” Katsumura tampak berpikir.

“Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan,” wajah Sakura lebih serius. “Teman Senpai dipanggil Yamane, ‘kan? Kau sering menemuinya?”

Katsumura tersenyum. Ia mengelak, “Sama sekali tidak. Tempo hari itu untuk yang pertama dalam 3 tahun.”

Mao baru kembali ke bar. Ternyata ia kembali mendatangi ibu Hosoda untuk bantu bersih-bersih dan belanja. Mao prihatin pada ibu Hosoda itu. Kesepian dan berpikir kalau putranya masih hidup.

“Karena itu kau memintaku mendapatkan sertifikatnya?” tembak Yamane.

“Kau bisa mendapatkannya dengan mudah. Bantulah nenek itu,” pinta Mao lagi.

Saat itu Katsumura baru kembali. Ia menceritakan pada yang lain kalau polisi masih belum bisa melihat isi laptop milik Hosoda karena dilindungi oleh sandi. Artinya memang ada informasi penting di dalam laptop itu.

Kali ini giliran Rikako-san yang menunjukkan hasil investigasinya. Ia menunjukkan sejumlah foto. Tampak beberapa orang berjaga di depan sebuah pabrik lama di gunung milik keluarga Hosoda. “Pabrik di gunung keluarga Hosoda, tak digunakan sejak ayahnya meninggal lebih dari 20 tahun lalu.”

Rikako menunjukkan kalung yang dipakai pria yang menjaga pabrik ini. Tampak seperti ular. Mafia Serpent, mafia yang sama seperti Cecilia.

“Maksudmu Mafia Asia membeli gunung ini?” Katsumura menyimpulkan.

“Benar. Mereka membeli gunung keluarga Hosoda agar Serpent bisa menggunakan pabrik ini. Sebenarnya pabrik ini—“ tapi ucapan Rikako-san terpotong.

Mereka dibuat kaget dengan kedatangan Sakura di bar mereka. Sakura mengaku kalau ia mengikuti Katsumura dan melihat Katsumura kembali menemui Yamane. Sakura juga melihat ada Mao, putri dari Putri direktur Frontier Data Bank juga di sini. Semua fakta ini membuat Sakura makin penasaran.

“Karena dia bertanya, kau harus menjawabnya,” Yamane yang maju. Meski dilarang oleh yang lain, ia tidak peduli. “Dengar baik-baik. Kami … Kaito—“

Ucapan Yamane dipotong oleh Katsumura, “Kaito Aiko fan club. Aku penggemar beratnya dan ingin mengikuti setiap trennya. Sekarang kami sedang memeriksa situs Cent Force agensinya, setiap hari. Aku membeli 10 kalender tahun ini! Untuk dilihat, dipakai dan untuk bisnis! Dan foto-foto dirinya sebagai karakter One Piece. Kami mendukung Aiko-chan sekuat tenaga kami!” Katsumura bicara sangat cepat. Tidak lupa ia minta persetujuan juga dari Rikako-san, Yamane dan Mao.

“Jadi Kaito Aiko adalah tipenya,” gumam Sakura kecewa. Tapi Sakura pun berkeras tetap tinggal. “Tempo hari, kau berada di TKP tempat Kadoumatsu Tatsuro dibunuh, ‘kan?” kali ini ia bicara pada Yamane. “Kenapa kau melarikan diri?”

“Bicara apa kau, aku sama sekali tak mengerti,” elak Yamane. “Kurasa kau salah mengenali. Ada banyak pria tampan di area ini.”

Tapi Sakura tetap tidak puas. Ia mengeluarkan identitas polisinya, “Ikut aku ke kantor polisi!”

“Tidak mau!” elak Yamane cepat. “Apa kau punya bukti? Bahwa aku ada di sana? Bukti!” tantang Yamane.

“Itu … “ Sakura kehabisan kata-kata. Ponselnya berbunyi. Dari det.Sekimoto yang marah-marah dan menyuruh Sakura untuk segera kembali ke markas. Sakura pun tidak punya pilihan. Ia beranjak pergi tapi tidak lupa menyelipkan alat penyadap di bawah meja.

Katsumura bernafas lega setelah Sakura pergi. Tapi Yamane mengatakan kalau tidak aman. Ia protes soal ‘Kaito Aiko Fans Club’ yang tadi dikatakan Katsumura.

“Sepertinya kau ditandai oleh polisi, kau sebaiknya menjaga sikapmu!” Yamane memperingatkan Katsumura. Ia berniat pergi.

“Tunggu sebentar! Kau tak mau?” kali ini Mao yang bicara. “Jika tak mau, akan kulakukan sendiri!” tegasnya. Mao mengambil tasnya lalu beranjak pergi.

Mao kembali datang menemui ibu Hosoda-san. Ia juga membawakan belanjaan. Setalahnya Mao membantu memasak. Ibu Hosoda-san memuji kemampuan Mao yang terampil memasak.

“Ibuku sudah tiada,” Aku Mao. “Karena itu aku senang bisa melakukan ini bersama Nenek.”

“Aku juga. Lagian, makan malam seorang dirirasanya tidak nyaman, ‘kan?” ibu Hosoda ini masih membahas soal Hosoda yang belum juga pulang.

Mao mengalihkan pembicaraan, “Gunung itu, ia sungguh ingin mendapatkannya kembali, ya? Rumah, pabrik dan semua kenangan yang Nenek miliki dirampas. Aku akan melakukan sesuatu. Akan kuambil kembali gunung itu. Cukup mendapatkan sertifikatnya, ‘kan?”

Ibu Hosoda-san berbalik dan memandang serius Mao, “Mao-chan, tolong hentikan pertanyaan anehmu itu. Soalnya…Jika kau terlibat bahaya karena aku, aku juga akan sedih.”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa lagi di Sinopsis Kaito Yamaneko episode 04 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top