Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 03 part 2

SINOPSIS Kaito Yamaneko 03 part 2

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 03 part 2. Yamane diminta oleh seorang pengusaha untuk mencari seorang wanita. Ternyata wanita itu adalah seorang mata-mata. Si mata-mata wanita mengajak Yamane untuk bekerjasama dengannya.

Setelah memecahkan kode yang diberikan oleh wanita itu, sekarang Yamane menemuinya di area pabrik. Apa yang mereka rencanakan?

Yamane menemui Anri di tempat yang direncanakan. Tanpa basa basi Akamatsu Anri menanyakan soal kerjasama dengan Yamane. Bukannya setuju, Yamane ternyata datang bersama seseorang, Takigawa.

“Untuk mencari tahu apa informasimu benar, aku menyelidiki perusahaannya. Dan ternyata sangat bersih. Aku bahkan tak bisa menemukan ‘Geo’ dalam Mafia Georgia. Perusahaannya adalah perusahaan perdagangan terbaik,” ujar Yamane.

“Tidak mungkin,” Akamatsu Anri a.k Cecilia tidak suka.

“Tapi bukankah ini bagus? Meski dia tahu segalanya, dia masih tetap ingin bersamamu.”

Takigawa pun memegang tangan Cecilia. Ia minta pada Cecilia agar mereka berbaikan dan bisa mulai lagi dari awal.

“Kau luar biasa! Undang aku ke pernikahan kalian!” puji Yamane. Ia bahkan menepuk-nepuk pundak Takigawa. Yamane kemudian beranjak pergi membiarkan mereka berdua.

Takigawa masih saja terus membujuk Cecilia. Saat itu, Kadomatsu ternyata juga mengintip. Ia marah pada Yamane karena menyerahkan Cecilia pada Takigawa.

“Akan kubuatkan ramen untukmu. Mari bicarakan bersama. Ayo pulang,” ajak Yamane. Ia berusaha menghibur si Kadomatsu ini.

Kadomatsu kemudian teringat akan kadonya. Kado yang berisi gelang yang sama seperti miliknya, gelang keberuntungan yang tadinya ingin ia berikan pada Cecilia. Tanpa peduli panggilan Yamane, Kadomatsu berbalik. Tapi saat sudah dekat, ia justru melihat Cecilia tengah ditodong dengan senpi dan dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Takigawa.

Cecilia dibawa ke gedung milik Takigawa. Di sana sudah menunggu para tukang pukul Takigawa.

“Jadi kau sungguh mata-mata Serpent? Serahkan kartu kuncinya. Karena ulahmu transaksi penting jadi tertunda. Kau pikir siapa yang dirugikan?!” bentak Takigawa.

“Jadi kau memang menghasilkan uang lewat pencucian uang,” sindir Cecilia.

Takigawa mengambil kunci yang disembunyikan Cecilia di balik bajunya. Ia lalu mengakses komputer dan dalam waktu singkat, tampilan di layar berubah menjadi proses transaksi dari uang virtual menjadi uang nyata lewat pencucian uang.

Cecilia melanjutkan bicara, “Hari ini, ‘kan? Waktumu untuk memindahkan uang 1 milyar yen itu. Kau berencana membawanya menggunakan kapal, memasukkannya ke dalam tong sake, ‘kan? Terlebih, kau memiliki 100 kontainer kosong sebagai kamuflase. Tidak bagus jika uang tunaimu bisa ditemukan dengan mudah.”

“Kau terlalu banyak tahu!” Takigawa menodongkan senpi ke arah Cecilia.

Selamat malam, selamat malam, sayang. Tahan airmata di pipi. Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring dari speaker di ruangan itu. Nyanyian sumbang dari Yamaneko.”Semuanya, terima kasih sudah bekerja di akhir pekan. Ini Detektif Pencuri Misterius Yamaneko. Takigawa, kami sudah mengambil uang 1 milyar yen yang kau dapatkan secara ilegal. Sangat merepotkan mencari satu tong berisi uang di antara 100 tong sake. Tapi, jika aku sangat mudah!”

“Periksa apa benar ucapannya! Sekarang!” perintah Takigawa pada anak buahnya.

Anak buahnya di pelabuhan benar memeriksa kontainer dan tong yang dimaksud. Tapi mereka tidak menemukan kecurigaan apapun. Sampai seseorang menyemprotkan gas tidur pada mereka semua. (ini trik psikologi. Saat katanya sudah dicuri, si pemilik otomatis akan mengecek tempat penyimpanan. Nah saat itu, secara nggak langsung dia ngasih tahu si pencuri lokasi sebenarnya)

“Fantastik!” Yamane memandang girang pada tong berisi uang di depannya itu.

Teriakan Takigawa diabaikan, karena semua anak buahnya sudah pingsan.

“Untuk kalian semua yang sudah bekerja keras. Selamat malam!” ujar Yamane lagi. Ternyata suara itu adalah rekaman. Dan yang bertugas memutar rekaman adalah Katsumura.

Saat ini Katsumura di ruang kemanan gedung itu. Sebelum beraksi, Katsumura melumpuhkan para petugas keamanan. Sekarang ia tinggal melanjutkan tugasnya sesuai petunjuk yang diberikan Yamane padanya.

Menyusup masuk ke dalam kargo dagang dan siapkan gas tidur lewat ventilasi udara. Mainkan audio dari perekam di ruang keamanan, lalu sebarkan gas tidur

Katsumura lalu memencet tombol di tangannya. Gas tidur seketika memenuhi ruangan tempat Takigawa dan anak buahnya berada. Mereka berebut keluar ruangan, tapi pintu sudah dihalangi oleh Katsumura.

Ikat pelakunya sementara mereka tidur. Kumpulkan semua barang bukti. Yamaneko

Setelah yakin kalau korbannya sudah tertidur, Katsumura melepas penghalang pintu itu. Tapi betapa kagetnya dia karena di dalam sudah dihadang anak buah Takigawa yang siap memukulinya. Ternyata ventilasi di ruangan itu tidak tertutup, sehingga gas dengan mudah keluar ruangan dan orang yang di dalamnya tidak tertidur.

Flash back …

Yamane membujuk Katsumura untuk kembali menyamar jadi dirinya, seperti kasus-kasus sebelumnya. Jelas kali ini Katsumura menolak. Karena dari pengalaman yang sudah, ia selalu sial dan selalu jadi kambing hitam dalam setiap aksi Katsumura. Tapi kali ini Mao juga meyakinkannya dan berjanji akan ikut mengawasi. Dijanjikan Mao seperti itu, Katsumura tidak bisa menolak.

Sekarang

Mao yang ada di truk melihat ke arah monitor. Ia baru sadar kalau dirinya lupa menutup lubang ventilasi, hingga gas tidur tentu tidak akan berpengaruh.

Katsumura berusaha kembali menutup pintu ruangan itu. Ia menahannya sekuat tenaga, “Mao!!!” teriaknya frustasi.

Satu orang ternyata tidak cukup untuk menahan pintu ruangan itu. Anak buah Takigawa berhasil memaksa keluar dan memojokkan Katsumura dengan beragam senjata. Nyaris saja nyawa Katsumura jadi taruhan kalau tidak ada yang datang.

“Jatuhkan senjata kalian!” perintah Sakura yang baru datang.

“Sakura-chan?” Katsumura heran.

Yamane baru saja merapikan tong-tong ke dalam truk. Ia yakin kalau semuanya berhasil. Tapi teriakan yang terdengar dari alat komunikasinya membuatnya mengerti kalau Katsumura gagal (lagi). Dan benar saja, dari arah lain muncul Takigawa yang berjalan bersama anak buahnya. Takigawa akhirnya mengenali Yamane sebagai Yamaneko.

“Bukankah kau orang Jepang?” Yamane bicara serius. “Kenapa?”

“Kenapa aku menjadi kaki tangan mafia, melakukan pekerjaan yang akan menodai reputasi Jepang? Jawabannya sederhana. Karena aku muak dengan negara ini. Kau tahu apa panggilan dunia pada Jepang? Surga mata-mata. Semua orang membocorkan informasi sebanyak yang mereka mau. Semua orang hanya tertarik pada diri sendiri. Negara ini hanya kebun binatang berisi monyet bodoh. Meski itu sudah lama berakhir,” aku Takigawa dengan santainya.

“Sampah sepertimu tidak seharusnya bicara soal negara ini!” gertak Yamane. “Meski harus berkompromi, semangat Jepang menuntutmu untuk menyadari prinsip yang kau miliki! Kau yang hanya bias melihat wajah luar negara ini takkan tergerak dengan slogan samurai! Keadilan, keberanian, kebajikan, kehormatan, kesungguhan hati! Menghormati, loyalitas! Di masa lalu, mereka menggabungkan karakter itu ke dalam diri mereka. Tapi kita… Tak ada yang tersisa pada kita sehingga kita melupakannya. Meski begitu, masih ada orang-orangN di negara ini dengan jiwa samurai! Mereka ada!”

“Bicara apa kau?”

“Apa yang ada di dalam dirimu? Esensi dirimu! Aku tanya prinsip apa yang kau miliki!” Yamane menarik senpi yang dipegang Takigawa dan mengarahkannya pada kepalanya sendiri. “Aku percaya pada negara ini. Aku percaya pada warga negara ini! Itulah esensi diriku!” mereka berebut senpi hingga satu letusan terdengar dan mengarah ke jalan.

Takigawa melepaskan diri dari cengkeraman Yamane. Ia kemudian menodongkan senpi pada Yamane dan meminta anak buahnya untuk menghabisi Yamane. Setelahnya ia sendiri beranjak pergi.

Takigawa mengemudikan truk dengan Cecilia yang ada di sebelahnya dengan tangan terborgol. “Sial. Karena kau dan Yamaneko…” ia masih terus saja mengumpat. “Jika uang satu milyar itu aman, maka tak masalah.”

Tapi sesosok manusia membuat Takigawa harus mengerem truknya dengan cepat. Mereka dicegat oleh det.Sekimoto. Ia minta agar bisa melihat isi muatan yang dibawa oleh Takigawa. Dengan linggis, tutup tong itu pun dibuka dan isinya adalah … sake.

“Sake ini kelihatannya enak,” komentar det.Sekimoto.

“Apa-apaan ini…” Takigawa heran dengan yang terjadi sebenarnya.

Bagaimana kabar Yamane?

Dengan mudah ia melumpuhkan ketiga anak buah Takigawa dan sekarang meninggalkannya di belakang kontainer. Sementara dirinya menyalakan mesin kapal. Yamane menoleh ke belakang kapa. Di sana ada dua buah koper. Yamane tersenyum karena ia berhasil mendapatkan hartanya, satu milyar yen tunai (sekitar 119 milyar rupiah)

“Mencuri sake tidak cukup sebagai kejahatan. Akan kutambahkan kejahatan pencucian uang,” det. Sekimoto menunjukkan sebuah flash disk. “Kau diretas sementara menerima uang.”

Det.Sekimoto lalu membawa Takigawa keluar truk dan memberikan kunci agar Cecilia bisa melepas borgolnya. “Serahkan ini pada polisi. Cepat pergi dari sini!” perintahnya pada Cecilia.

“Apa kau juga bagian dari Yamaneko…” Cecilia penasaran.

Det.Sekimoto terdiam sebentar, “Bicara apa kau? Yamaneko adalah musuhku!”

Cecilia mengerti maksud ucapan itu. Ia tersenyum kemudian beranjak pergi dari sana.

Sakura berhasil membawa Katsumura keluar dengan selamat dan ia juga menjelaskan kalau dirinya mengikuti Katsumura.

“Aku tak bisa berhenti memikirkan wanita bernama Rikako itu. Bukan itu saja. Kau selalu ada di lokasi insiden yang melibatkan Yamaneko. Sekarang pun kudengar Yamaneko ada di dekat sini. Apa hubunganmu dengannya? Katakan padaku!” desak Sakura.

“Aku tak tahu apa pun,” elak Katsumura. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Sakura.

Sementara itu, kertas catatan yang dibuat Yamane untuk Katsumura terjatuh. Kadomatsu yang melihatnya kemudian mengambilnya. Tahu isi catatan itu, Kadomatsu berbalik dan berlari.

Yamane bertemu dengan Cecilia lagi di tempat tadi pertama mereka bertemu. Keduanya saling mengucapkan terimakasih karena rencana berjalan lancar. Dan yang lebih penting, uang yang diincar pun berhasil didapatkan.

“Tapi tujuanmu sebenarnya bukanlah uang. Kau ingin menghancurkan mafia Georgia dengan menemukan bukti pencucian uang. Benarkan?” tebak Yamane.

Cecilia tersenyum, “Jika kau melihatnya seperti itu, maka pemain paling penting hari ini adalah Mao, ‘kan? Jika bukan karena keahliannya, kita takkan bisa mencuri data. Tapi, tak ada yang menduga bahwa Takigawa tidak tertidur. Kapan kau mengganti tongnya? Kau harus memonitor pergerakannya untuk bisa melakukan hal itu.”

Yamane menunjukkan sebuah alat pelacak. Rupanya saat tadi sore, Yamane menepuk punggung Takigawa, ia juga menyelipkan alat pelacak di sana. “Untuk mengerti prilaku target, dan menemukan cara terbaik untuk mencuri. Itu cara kerjaku.”

“Pencuri Misterius Yamaneko memang hebat,” puji Cecilia.

“Detektif Pencuri Misterius, Yamaneko,” ralat Yamane. Ia pun berbalik dan beranjak pergi.

Dari sudut lain, rupanya ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka. Dia Kadomatsu.

“Hei! Kenapa kau mempercayaiku?”

Pertanyaan Cecilia menahan langkah Yamane. Ia pun berbalik, “Kau tak pernah menipu seseorang. Itu yang kudengar.”

“Dari siapa?” Cecilia heran.

Tapi Yamane melihat sebuah titik laser merah di tubuh Cecilia dan memintanya menunduk. Tapi Cecilia kalah cepat karena Kadomatsu sudah lebih dulu menubruknya hingga mereka terjatuh.

Yamane sigap menyeret Kadomatsu dan Cecilia ke tempat yang lebih tersembunyi. Ternyata Kadomatsu tertembak. Yamane menutupkan tangannya ke tubuh Kadomatsu yang terlanjur berlumur darah.

“Cecilia-san…Syukurlah kau baik-baik saja.” Kadomatsu bicara patah-patah. “Sebenarnya aku ingin membantumu lebih cepat tapi…Aku… Karena aku tak berguna…Maaf. Aku sudah banyak menyusahkan. Ini memang jimat keberuntungan,” Kadomatsu menunjukkan gelang di tangannya. “Karena wanita yang kucintai sedang menatapku.”

“Hal bodoh apa yang kau bicarakan. Kubilang berhenti bicara!” bentak Yamane. Kali ini bukan wajah konyol yang ditunjukkannya, melainkan wajah khawatir.

“Tolong jangan tunjukkan wajah seperti itu,” Kadomatsu masih saja bicara. Ia tidak suka melihat wajah sedih yang nyaris menangis dari Cecilia. “Wajah tersenyum lebih cocok untukmu, Tersenyum.”

“Hei! Senyum! Senyum!” bentak Yamane pada Cecilia juga.

“Aniki-kakak,” kali ini Kadomatsu bicara pada Yamane. “Tak apa. Terima kasih banyak. Cecilia-san. Bahagialah. Itu… Aku…” Kadomatsu terkulai dan tidak bicara lagi.

“Kadomatsu! Kenapa kau sok keren begini. Jangan bercanda. Hei! Bangun! Jadilah pria menyebalkan dengan lelucon payah! Jangan main-main denganku! Kami… Berkat orang sepertimu bisa tersenyum.” Yamane terus saja mengguncang tubuh Kadomatsu yang sudah kaku.

Tapi tiba-tiba saja Sakura datang dan mengacungkan senjata pada mereka semua. Melihat hal itu, sigap Cecilia menyerang Sakura. Ia berhasil mengunci Sakura di tanah. Tapi Yamane menghentikan usaha Cecilia ini dan mengatakan kalau pelakunya bukan Sakura.

Cecilia mengalah dan memilih pergi. Yamane melihat kado yang jatuh di dekat tubuh Kadomatsu lalu mengambilnya. Ia pun beranjak pergi, meninggalkan begitu saja jasad Kadomatsu dan Sakura yang nyaris pingsan.

Ditinggal pergi oleh Yamane seperti itu membuat ingatan Sakura melayang pada dua tahun silam. Saat itu, ia yang merupakan detektif baru menemukan ayahnya yang sudah tidak bernyawa di sebuah gedung terbengkalai.

Dari arah lain tampak si topeng kucing, Yamaneko melihatnya. Tapi Yamaneko tidak menolong ataupun bicara apapun, melainkan beranjak pergi begitu saja.

Sakura datang ke markas seperti biasa esok harinya. Tapi ia masih mengenakan penyangga leher akibat insiden kemarin. Di kursi atasannya, ia melihat sesosok pria yang tidak dikenalinya.

“Kau datang kemari tanpa sedikitpun rasa malu setelah melarikan diri dari TKP pembunuhan,” sindir pria itu.

“Kau siapa?” Sakura balas menatap pria itu dingin.

Yamane kembali ke bar. Ia mengenakan kemeja putih dan jas hitam. Asap rokok juga mengepul di depannya. Ditambah gelas berisi minuman. Tidak ada Yamane yang konyol seperti biasanya. Kali ini Yamane tampak begitu bersedih.

Sementara itu, Mao duduk di tangga memperhatikan Yamane. Ia pun diam saja, tidak mengatakan apapun pada Yamane, seperti memberikan waktu bagi Yamane untuk sendirian dulu.

Det.Sekimoto menemui rekannya, politikus Todo Kenichiro. Todo-san mengucapkan terimakasih karena det.Sekimoto sudah mengurus kasus Takigawa. Rupanya ini cara mereka untuk menghancurkan mafia Gorgia, memanfaatkan Takigawa dan Yamenko sekaligus.

“Tolong jangan berpikir buruk tentangku.” Elak Todo-san. “Karena hal ini, Tokyo menjadi tempat yang lebih menyenangkan sebagai tempat tinggal. Yuuki-sensei juga akan senang.” Todo-san lalu membalik layar monitor di mejanya.

Di sana muncul sebuah gambar, sosok bertopeng. “Lama tak bertemu, Sekimoto.”

Tatapan det.Sekimoto berubah dingin, “Akhirnya kita bertemu, Yuuki-san.”

Kembali ke tahun 2013

Pertarungan antara det.Sekimoto dan Yamane di atap gedung akhirnya membuat Yamane tersudut. Det.Sekimoto bahkan berhasil merebut senpi yang tadi dibawa Yamane dan mengacungkannya pada Yamane.

“Apa yang kau inginkan? Balas dendam pada Yuuki? Itu takkan mengubah apa pun!” bentak det.Sekimoto.

“Berisik! Katakan yang harus kulakukan!” balas Yamane.

Det.Sekimoto menawarkan sebuah ide, “Mari ambil kembali negara ini dari Yuuki.”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 04 part 1

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top