Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 04 part 1

SINOPSIS Himura and Arisugawa 04 part 1

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 04 part 1. Pada episode 3 yang lalu, Himura-sensei dan Alice dihadapkan pada kasus mayat yang menghilang dan dapat bersuara. Suara dari kematian.

Kali ini, investigasi yang dilakukan oleh Himura-sensei dan Alice malah membawa mereka pada penemuan sesosok jasad dalam ‘cocoon’. Bagaimana kasus kali ini bisa terjadi?

Himura-sensei dan Alice makan malam di sebuah restoran mewah. (ni dua orang mencurigakan deh. Hmmm). Bukannya menikmati makanan, keduanya justru asyik melihat tamu di sekeliling dan mulai mengomentari mereka. Tamu pertama adalah seorang pria yang tengah makan malam dengan seorang wanita cantik.

Himura-sensei mulai melakukan analisisnya. Jas pria itu adalah merk terkenal asal Inggris, dan melihat dari cara pria itu memakai pisau makan, dia adalah seorang ahli bedah. Kemudian wanita di depan pria itu. Dari make-upnya, dia adalah seorang perawat. Alice bingung. Himura-sensei lalu menjelaskan, wanita itu selalu memakai masker saat bekerja, karenanya dia menggambar alis dengan sangat hati-hati. Dan dia secara tidak sengaja mengecek pembuluh darah pelayan yang membawakan mereka minuman, karena kebiasaannya sebagai seorang perawat.

“Mereka bukan pasangan suami istri,” Himura-sensei menutup kesimpulannya.

“Ayolah! Mereka pasti pasangan suami istri!” protes Alice.

Tapi Himura-sensei tidak setuju. Ia pun menunjukkan ada bekas cincin di jari pria itu. Dan saat ini pasangan itu akan segera putus.

“Apa kau punya alasan kuat?

“Jangan nilai orang hanya dari penampilannya saja,” ujar Alice.

“Bukannya itu yang kita lakukan malam ini kan?” Himur-sensei lalu menunjuk seorang pria berumur di belakang Alice. Dilihat dari pakaiannya, dia adalah pria kaya. Selain itu, pria itu memiliki kumis yang unik, biasanya jadi ciri khas seorang ahli perhiasan yang kaya.

“Bingo!” ujar Alice. Ia menjelaskan kalau pria itu adalah presdir dari toko perhiasan Dojou, namanya Dojou Shuichi. Alice mengenalinya karena pria itu sering muncul di TV. Dan fakta kalau pria itu mengagumi seniman Salvador Dali, karenanya dia memiliki kumis unti seperti itu. “Dia banyak membicarakan dirinya sendiri. Satu-satunya yang kutahu, dia masih sendiri dan mencari wanita idealnya. Dia kakak dari Yoshizumi Norio, teman sekelas kita di kampus.”

“Kenapa nama keluarganya beda?” Himura-sensei heran.

“Pasti ada kisah panjang di balik itu.”

Ide kalau presdir Dojou yang masih mencari wanita ideal dibantah oleh Himura-sensei. Karena baru saja ia melihat seorang wanita cantik baru saja datang dan menuju meja tempat presdir Dojou berada.

Alice berbalik melihat orang yang dimaksud Himura-sensei itu. Dan ia tertegun, terdiam. Wanita itu mirip dengan seseorang di masa lalunya.

Himura-sensei melihat perubahan sikap Alice itu, “Kupikir dia tipe idealmu juga. Dia memiliki ciri-ciri yang serupa dengan karakter wanita di novelmu.”

Dan seperti dugaan Himura-sensei tadi, keributan mulai terjadi di meja seberang. Meja yang berisi dokter bedah yang perawat yang tengah makan malam, mereka mulai bertengkar.

Sebuah kasus terjadi. Himur-sensei dan Alice diminta datang ke TKP, sebuah apartemen mewah. Det.Hisashi memperkenalkan kedua orang itu sebagai adik sekaligus wakil presdir Dojou Shuji dan sekretaris presdir yang cantik, Sagio Yukio. Ternyata beberapa hari yang lalu, presdir Dojou Shuichi makan malam dengan sekretarisnya. Kedua orang ini disebutkan sebagai orang pertama yang menemukan korban.

Wakil presdir Shuji mengaku kalau dia tidak bisa menghubungi kakaknya, presdir Shuichi. Karenanya, dia datang ke apartemen yang merupakan tempat tinggal kedua sang presdir bersama sekretaris presdir, Yukio. Kedua berkeliling mencari keberadaan presdir Shuichi, tapi tidak ada tanda-tanda siapapun. Yukio lalu minta agar bisa melihat benda ‘itu’, karena presdir sering bercerita padanya. Wakil presdir Shuji pun setuju mengajak sekretaris Yukio untuk melihatnya.

Benda itu berbentuk seperti telur besar dan disebut cocoon. Isinya adalah cairan khusus, dimana jika ada yang masuk maka ia akan terapung. Saat ada di dalamnya, rasanya seperti berada di dalam rahim ibu. Keduanya masuk ke ruangan yang dimaksud. Saat cocoon dibuka ternyata … presdir Shuichi ada di sana, dalam keadaan tidak bernyawa.

“Apa Anda makan malam dengan presdir Jumat kemarin?” tanya det.Hisashi kemudian.

“Ya. Bagaimana kau tahu?” sekretaris Yukio heran.

“Kami ada di sana, kebetulan,” Alice yang menjawab.

“Apa kau punya hubungan khusus dengan presdir?”

Sekretaris Yukio heran, “Dia bos dan saya karyawannya. Hanya itu.”

“Sepertinya dia punya perasaan khusus padamu,” kali ini Himura-sensei yang bicara.

Sekretaris Yukio tidak terima kalau ia dituduh begitu. Alice buru-buru mengoreksi itu juga.

Tapi Himura-sensei tidak peduli, “Jika kau punya hubungan khusus dengannya, kau mungkin punya alasan untuk membunuh. Itu kemungkinan.”

“Itu tidak mungkin!”

“Tugas kamu menghilangkan satu per satu ketidakmungkinan itu,” sambung det.Hisashi.

Mereka kini beralih pada wakil presdir Shuji. Ia mengaku kalau hubungannya dengan kakaknya baik-baik saja. Saat ini mereka tengah membangun rencana pengembangan usaha baru.

Saat itu det.Ono baru saja datang. Ia memberikan laporan investigasi kalau menurut karyawan lain, presdir Shuchi sangat baik pada sekretaris Yukio. Tapi ada rumor juga yang menyebutkan kalau sekretaris Yukio punya hubungan khusus dengan desain perhiasan di perusahaan mereka, namanya Nagaike.

“Kuharap ada wanita semenarik dia di kantor kita,” komentar det.Hisashi tanpa sadar. Ia kemudian menyadari tatapn sinis det.Ono. “Ah Ono, kau juga wanita menarik,” ralatnya kemudian.

“Aku mengerti kalau laki-laku suka tipe wanita seperti itu,” balas det.Ono. “Aku tidak bawa-bawa perasaan pribadi pada investigasi!” det.Ono lalu beranjak pergi.

Rupanya Himura-sensei dan Alice juga mendengarkan percakapan itu. Hanya Himura-sensei yang serius mendengarkan, sementara Alice terus saja menatap ke arah sekretaris Yukio.

“Kau dengar itu, Alice? Jangan bawa-bawa perasaan pribadi dalam penyelidikan!” ujar Himura-sensei di telinga Alice yang masih tetap menatap ke arah sekretaris Yukio.

Himura dan Alice menuju TKP tempat korban presdir Shuichi ditemukan. Forensik menunjukkan foto korban saat ditemukan di dalam cocon itu. Kepalanya dipukuli dengan benda tumpul berkali-kali. Perkiraan kematian adalah antara pukul 11 malam hingga 2 pagi di hari Jumat. Penyelidikan belum membuat mereka menemukan benda yang digunakan untuk membunuh. Selain itu, forensik juga menemukan jejak darah di ruang tengah. Artinya presdir dibunuh di ruang tengah baru dimasukkan dalam cocoon. Selain itu, kumis unik presdir juga dicukur bersih.

Kemungkinan pelaku sengaja memasukkan korban ke dalam cocoon untuk mengulur waktu penemuan. Belum jelas kenapa pelaku mencukur bersih kumis korban. Selain itu hanya pakaian dalam korban saja yang ada dalam keranjang di dekat cocoon. Sementara itu pakaian dan sepatu korban hilang. Pelaku tidak membawa uang atau benda berharga. Kemungkinan pelaku adalah orang yang punya kebencian besar terhadap korban, seorang yang dikenalnya.

Keributan yang terjadi di ruang tengah menarik perhatian Himura-sensei dan Alice. Teryata polisi tengah mewawancarai Yoshizumi Norio, seorang manager periklanan. Ternyata Norio ini teman sekelas Himura-sensei dan Alice di universtias dan merupakan adik dari korban, presdir Shuichi. Ia merasa tersudut akibat pertanyaan polisi padanya.

Baru setelah Alice yang mencoba bicara, Norio sedikit tenang, “Kak Shuji dan aku adalah keluarga presdir yang masih ada. Kami saudara tiri. Presdir memperlakukan kamu dengan baik, aku sangat bersyukur dengan itu. Tolong aku, aku tidak membunuh kakakku,” Norio berkeras.

“Baiklah, aku percaya padamu,” ujar Alice.

“Kalau kau tidak membunuh kakakmu, kau harus menceritakan semuanya pada kami,” sambung Himura-sensei.

Polisi menunjukkan sebuah foto korban pembunuhan pada Moroboshi (pimpinan kelompok Shangri-La Crussade). Korban adalah mantan anggota kelompok Shangri-La Crussade.

Moroboshi hanya sekilas melihat foto itu, dan ia pun langsung tahu, “Pembunuhnya adalah remaja laki-laki. Dia sangat tertarik dengan kejahatannya. Dan dia akan melakukannya lagi.”

“Jangan main-main lagi!” bentak si polisi makin tidak sabar. Ia minta agar Morohishi segera memberikan mereka informasi yang berguna.

Tapi Moroboshi hanya menanggapinya dengan senyum tipis, “Aku sekarang ada di sini, di balik jeruji penjara.”

Det.Ono mendekati det.Hisashi di lorong. Ia protes karena det.Hisashi mengijinkan Himura-sensei untuk menemui Moroboshi Sanae, yang merupakan orang dalam catatan hitam polisi. Harusnya dia tidak melakukan kontak apapun dengan dunia luar.

“Jangan sebut Himura-sensei sebagai orang luar, karena dia banyak membantu kita,” elak det.Hisashi. “Morohishi itu berbahaya. Jika kita bisa mencampur obat berbahaya seperti Himura dan dia, mungkin bisa jadi perubahan kimit. Aku tidak bisa mengingkari kalau itu juga berbahaya. Tapi kita tidak akan tahu kecuali mencobanya.”

Himura-sensei ikut pulang ke apartemen Alice. Sementara Alice sudah sibuk dengan bacaannya, Himura-sensei masih saja berjalan bolak-balik.

“Apa aku perlu bicara sesuatu?” Alice akhirnya tidak sabar dengan tingkah Himura-sensei itu.

“Jangan diam, katakan sesuatu. Seperti biasa, katakan apapun. Katakan!”

Alice pun mulai bicara, “Kalau tersangka mengincar posisi presdir, itu pasti Shuji atau Norio. Tapi sepertinya Norio tidak bohong pada kita. Dan jika yang disebutkan det.Ono benar, pertengkaran presdir dengan desainer Nagaike karena sekretaris Yukio, mungkin jadi penyebab insiden ini. Tapi ini mungkin saja bukan salah sekretaris Yukio.

“Baiklah, diam!”

“Tadi kau minta aku bicara!” protes Alice.

Tapi Himura-sensei sudah asyik dengan pemikirannya sendiri, “Kenapa tersangka membawa baju korban kalau dia ingin pergi secepat mungkin? Kenapa tersangka menyembunyikan jasad korban di cocoon? Kenapa tersangka mencukur habis kumis korban? Kenapa?” Himura-sensei akhirnya menjatuhkan dirinya ke sofa.

Himura-sensei tenggelam dalam cairan. Bayangan dirinya yang melakukan pembunuhan dengan kejam kembali muncul dalam mimpi. Setelahnya ia terbangun di dalam cocoon dengan tangan berlumuran darah. Himura-sensei kemudian benar-benar terbangun dan menemukan dirinya ada di apartemen Alice.

“Kau mengerang dalam tidur. Perlu kubangunkan kalau terjadi lagi?” tawar Alice.

“Silahkan, pelan-pelan saja.”

Alice kembali menekuri tulisan calon novel di laptopnya. Tapi pikiranya justru mengangkasa pada sang sekretaris cantik, Sagio Yukio. Ingatannya kembali pada masa sekolahnya, saat ia memberikan surat pada gadis cantik yang disukainya. Sayangnya, kisah itu berakhir tragis. Alice tidak pernah tahu apa yang terjadi setelahnya.

Alice dibuat heran saat bangun pagi, di mejanya sudah berisi sarapan. Himura-sensei sendiri menyiapkan minum dan perlengkapan makan lainnya. Alice duduk sambil memandangi Himura-sensei dengan takjub. Himura-sensei sendiri ikut duduk di depan Alice, mengeluarkan dasi yang tadi ia selipkan di saku dan menopang wajah dengan tangan.

“Ini seperti sarapan untuk pengantin baru,” komentar Alice.

“Aku merasa seperti istrimu,” balas Himura-sensei. “Jangan pandangi aku terus! Waktu pengantin baru selesai! Apa kau bodoh?! Makan sebelum dingin!”

“Apa kau tahu kalau aku … “ ucapan Alice tidak selesai.

(aiiiiih … adegan ini so sweet banget deh. Lihat bromance mereka berdua ini bikin gemes. Nggak Cuma kompak saat kamera on, saat kamer off pun mereka ternyat juga kompak lho)

Akemi dan teman-temannya tengah menunggu dosen mereka, Himura-sensei. Salah satu kawannya menunjukkan gambar sang profesor rambut berantakan, Himura-sensei dan meminta Akemi untuk mewarnainya.

Teman Akemi bercerita, kalau saat pesta perjodohan ia bertemu seorang polisi dari perfektur Kyoto yang bercerita soal profesor yang membantu kepolisian. Tapi ia tidak mau menyebut nama sang profesor itu. Akemi dan teman-temannya menebak kalau itu pasti Himura-sensei. Karena meski banyak profesor tamu di universitas mereka, hanya Himura-sensei yang merupakan ahli kriminal yang tentu banyak berpartisipasi dalam investigasi kepolisian.

Tapi Akemi sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai ia tidak sadar spidol merahnya sudah membuat gambar ‘si profesor rambut berantakan’ mereka jadi berdarah. Obrolan mereka berhenti saat Himura-sensei benar-benar datang dan berniat memulai kuliah hari itu.

Polisi bersama Himura-sensei dan Alice menemui desainer perhiasan, Nagaika Shinsuke. Saat ditanya, desainer Nagaike mengaku kalau dirinya menyukai sekretaris Yukio. Polisi pun jadi penasaran, apakah presdir Shuichi juga tahu hal itu.

“Presdir hanya peduli pada perasaan Yukio. Tidak ada yang tahu siapa yang disukai Yukio. Dan itu tidak ada hubungannya dengan insiden ini,” ujar desainer Nagaike.

“Maksud anda, anda bukan kekasih Yukio?” Alice urun bicara.

“Jangan tanyakan pertanyaan aneh seperti itu!” protes desainer Nagaike. Ia pun kemudian pamit pergi.

(aaaaa … reuni Light sama pengacara Mikami, dari Death Note. Tapi kali ini mereka bukan jadi kawan)

“Alice, pertanyaan bodoh apa itu?!” protes det.Ono.

“Aku hanya perlu merasa bertanya, maaf,” sesal Alice.

Setelah desainer Nagaike pergi, mereka kembali bicara soal kasus itu. Seperti yang lain, desainer Nagaike juga tidak punya alibi saat kejadian. Baik wakil presdir Shuji, manager iklan Norio maupun sekreataris Yukio, mereka juga tidak punya alibi. Semua orang mungkin saja jadi tersangka.

Alice, Himura-sensei dan yang lain keluar dari ruangan wawancara. Mereka bertemu sekretaris Yukio di luar. Tanggap dengan hal itu, secara halus Himura-sensei mengusir det.Ono dan det.Hisashi untuk pergi lebih dulu.

Setengah dipaksa oleh Himura-sensei, Alice pun mengajak sekretaris Yukio bicara. Kini mereka ada di salah satu toko perhiasan Dojou. Alice belum bisa bicara, karena Himura-sensei masih asyik memperhatikannya. Akhirnya Alice juga mengusir Himura-sensei untuk pergi dari sana.

Sekretaris Yukio menunjukkan sebuah perhiasan bernama White Rose. Menurutnya perhiasan itu didesain oleh desainer Nagaike. Ia pun memuji perhiasan itu. Tadinya mereka membahas soal perhiasan dan juga Nagaike, sampai Alice akhirnya bicara hal lain.

“Kau mirip dengan cinta pertamaku,” ujar Alice.

“Apa?” Yukio kaget. “Memang banyak yang mirip denganku. Seperti gadis tetangga. Presdir juga bilang begitu.”

“Bukan begitu maksudku,” elak Alice. Cerita itu pun dimulai. “Aku menulis surat cinta untuk pertama kalinya.” Alice kemudian memberikan surat itu pada gadis cantik yang disukainya dan berjanji untuk bertemu lagi. Tapi ternyata gadis itu tidak datang hari berikutnya dan hari-hari lainnya. Alice kemudian bertanya pada gurunya. Dari gurunya Alice tahu kalau gadis itu mencoba bunuh diri. Gadis itu akhirnya kembali ke sekolah setelah sekian lama. Tapi Alice tidak lagi bertanya soal suratnya atau kenapa gadis itu mencoba bunuh diri. Mereka lulus dari sekolah tanpa pernah bicara lagi.

“Jika kau bisa bicara dengannya saat itu, apa yang akan kau katakan?” Yukio bersimpati.

“Entahlah. Aku masih mencari jawabannya. Ah, kenapa denganku?” Alice heran sendiri. “Aku tidak pernah cerita soal ini pada siapapun. Sekarang aku telalu cerewt. Maaf.”

“Kupikir dia sangat bahagia bisa berada di hatimu. Dia membuatmu seperti ini sekarang. Alice, kau … “ ucapan Yukio terpotong.

Telepon Alice berbunyi, dari Norio. Ia mengajak Alice untuk bertemu secepat mungkin sambil mengajak serta Himura-sensei. Sementara Alice bicara di telepon, ternyata Yukio menguping pembicaraan itu.

Norio tengah menghindar dari kejaran polisi saat Himura-sensei dan Alice datang. Ia menunjukkan pakaian penuh darah. Tapi ia mengaku kalau bukan dirinya yang membunuh presdir.

Saat itu ternyata polisi menemukan mereka semua. Polisi mengajak Norio untuk ikut mereka ke markas. Norio tidak bisa mengelak lagi apalagi saat polisi melihat pakaian penuh darah yang dibawanya.

Norio sempat berbalik melihat ke arah Alice dan Himura-sensei, “Aku baik-baik saja. Aku lega sekarang,” ujarnya sebelum pergi bersama para polisi itu.

BERSAMBUNG

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 04 part 2

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top