Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 02 part 2

SINOPSIS Kaito Yamaneko 02 part 2

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 02 part 2. Salah satu anggota Yamaneko, Hosoda-san ditemukan tidak bernyawa di dekat dermaga. Ini membawa Katsumura menyelidiki hubungan Hosoda-san dengan sebuah kelompok Yakuza.

Kelompok Yakuza ini memiliki usaha agensi artis. Tapi yang sebenarnya, mereka menggunakan ini untuk memasok para ‘prostitute’. Dan salah satu korbannya adalah gadis yang selalu membully Mao di sekolah. Kenapa Mao mau menyelamatkan gadis ini?

“Apa kau mempermainkan polisi?!” bentak Sakura dengan kesal.

Ada laporan yang menyebutkan adanya keributan di club yang dikelola kelompo yakuza pimpinan Shunichi-san ini. Tapi saat polisi datang, Shunichi-san mengatakan kalau tidak ada apapun.

“Hentikan! Kalau kau tidak melaporkan kerusakan, kami tidak bisa membawanya ke pengadilan juga. Ayo kembali!” det.Sekimoto menyeret Sakura keluar.

Det.Sekimoto menyeret Sakura keluar dan kembali ke mobil. Sakura masih kesal karena dipaksa mundur, apalagi ada kabar yang menyebutkan soal keterlibatan ‘yamaneko’ dalam insiden ini.

“Sebegitu bencikah kau pada yamaneko?”

“Ya. Apapun yang dilakukannya, semua kejahatan!” protes Sakura.

“Kau hanya terpaku pada apa yang terjadi pada ayahmu. Sudah berapa kali kukatakan, sebagai partner ayahmu, aku yakin kalau itu adalah benar kecelakaan. Lebih baik lupakan obsesi anehmu itu!” ucapan det.Sekimoto berubah serius.

 

Shunichi menghubungi ayahnya, Nakaoka Taichi dan melaporkan kalau Yamaneko berniat mencuri uang mereka, “Seperti yang kau katakan, kukatakan padanya ada di Daiba.”

“Bagus. Kumpulkan uang di Fine Break, mengerti?” ujar Taichi-san dari seberang.

“Jadi ada di agensinya,” komentar Yamane. Rupanya kedatangan Yamane mengacau di club sekaligus memasang alat penyadap.

“Kalian ini siapa?” Kakiuchi Yuuna, si gadis yang membully Mao dan baru saja diselamatkan dari club, akhirnya penasaran juga.

Dan tanpa ragu (serta narsis), Yamane mengakui dirinya sebagai Pencuri-detektif-misterius, Yamaneko, lengkap dengan pose anehnya.

Yuuna melihat Mao yang ada tidak jauh darinya, “Kenapa? Kau mengasihaniku? Atau mau pinjami aku uang? Aku tidak minta diselamatkan. Aku tidak peduli dijual. Aku Cuma perlu tidur dengan mereka kan?”

“Kau harus lebih menghargai dirimu sendiri. Tidakkan kau Cuma pura-pura jadi kuat?”

“Diam!” Yuuna menarik kerah baju Mao, “Memangnya kau tahu apa?! Jangan bicara kalau kau tidak tahu apapun!”

Keributan berhenti karena suara sumbang Yamane. Jelas yang lain sudah terbiasa dan hanya berusaha menghindar atau tutup telinga. Tapi Yuuna yang tidak tahu apapun mengatakan kata ajaib ‘buta nada’, dan ini membuat Yamane marah besar.

Yamane mendekati Yuuna dan menendang kakinya hingga Yuuna terjatuh di kursi, “Aku tidak buta nada. Aku Cuma menunjukkan efek vibra! Tidak ada yang mengerti!” Yamane mulai serius. “Apa kau bersenang-senang membully dia (Mao)? Gadis ini benar-benar menyedihkan. Dia tidak peduli tentang hidupnya, dan bersikap seolah tidak masalah kalau mati. Dia (Mao) bilang dibully tidak masalah, itulah kenapa dia tidak ingin menyalahkanmu. Kau membully, jadi artis atau ‘wanita penghibur’, kau bisa lakukan apapun. Tapi kau tahu, kebebasan bukan berarti semua yang kau lakukan bisa dimaafkan. Artinya, apapun yang kau lakukan, kau harus bertanggungjawab dengannya. Pahami itu!” bentak Yamane.

“Diam! Itu bukan urusanmu!” Yuuna tidak terima dikata-katai oleh Yamane. Ia mengambil tasnya dan buru-buru pergi.

“Kalau kau dapat masalah lagi, aku tidak mau ikut campur!” teriak Yamane. Ia tidak menahan Yuuna untuk pergi sama sekali.

“Apa yang akan kau lakukan?” Katsumura mendekati Yamane. “Yakuza itu tidak akan berhenti menagih hutang padanya.”

“Bisakah kau curi IOU-nya?” pinta Mao kemudian.

“Baiklah, kau kau tertarik,” balas Yamane.

Tapi Katsumura menangkap hal yang cukup tidak terkendali, “ Tunggu! Kau ingin menyeret Mao ke dalam dunia kejahatan ini?”

Yamane menanggapinya dengan santai, karena Mao sendiri yang memang menawarkan diri untuk terlibat.

Yuuna tengah berjalan dengan teman-temannya. Ia bercerita kalau baru saja bertemu dengan Yamaneko. Tapi Yuuna sendiri tidak yakin benar, karena yang dia temui sama sekali tidak cool apalagi meyakinkan.

Tapi obrolan mereka terhenti saat sebuah mobil yang melintas berhenti tiba-tiba di depan mereka. Wajah Yuuna berubah pias. Ia tahu mengenal siapa yang kemudian keluar dari dalam mobil itu. Masalah lain baru saja datang.

Malam itu, semua anggota Yamaneko bersiap. Mao bersama Rikako-san berada di dalam truk. Sementara, si topeng kucing, Yamane sudah beraksi.

“Urus sensor panasnya dulu,” ujar Rikako-san.

Jari Mao lincah menari di atas keyboard. Dan dalam waktu singkat, si topeng kucing pun berhasil masuk ke dalam gedung yang dimaksud. Ia menemukan ruangan dengan panel password di depannya. Tapi itu urusan mudah bagi Mao. Karena setelahnya ia sudah bisa mengetahui password itu.

Tapi saat ruangan itu terbuka, sudah ada segerombolan pria yang menunggu si topeng kucing. “Ini buruk!”

Flash back

Katsumura menolak saat Yamane memintanya menyamar menjadi dirinya. Tapi Yamane meyakinkan Katsumura kalau ini semua demi membalas kematian Hosoda-san. Yamane juga berjanji jika ia akan selalu memperhatikan dari jauh.

Katsumura yang melihat keseriusan Yamane tidak punya pilihan. Ia pun akhirnya setuju untuk kembali menyamar menjadi Yamaneko dan beraksi. Tapi di sinilah dia sekarang. Bukannya selamat, justru dikepung dan dipukuli oleh anak buah si yakuza, Shunichi.

Di mana Yamaneko yang sebenarnya? Dia berada di ruangan Taichi-san, memperhatikan orang tua itu yang juga tengah menyimak yang terjadi pada Yamaneko palsu.

“Bagaimana kau tahu? Apa kau menyadapku?”

Yamane duduk di depan Taichi-san, “Karena itu kau, kupikir kau akan tahu kalau aku menyadapmu. Setelah itu, setiap pesan yang dikirim pada putramu dicek oleh Dark Hotel. Sebuah virus. Itu akan menyerang computer tamu jika masuk ke jaringan hotel,” Yamane menjelaskan.

Tapi Taichi-san yang sudah berpengalaman tetap bersikap tenang, “Tapi, bagaimana dengan sandera ini?” ia memutar laptop dan menyodorkannya pada Yamane.

Yamane hanya tersenyum, ia membalik kembali laptop itu menghadap Taichi-san. Dan di sana, rupanya sudah ada det.Sekimoto, Sakura dan para polisi. Mereka datang untuk mengepung para tukang pukul itu. Sakura kembali dibuat kaget karena menemukan seniornya, Katsumura ada di tempat seperti itu.

“Sakura-chan, orang-orang ini membuat artis agensi mereka jadi ‘wanita penghibur’!”

Taichi-san tersenyum, “Jadi kau sudah menghubungi polisi juga. Katakan satu hal, kenapa Bushido?” ia mengacu pada buku yang dibawa Yamane pada pertemuan mereka sebelumnya.

Wajah Yamane berubah serius, “Karena aku tidak mau lupa, seperti apa orang seharusnya. Karena Jepang masa kini, tidak ada orang Jepang yang sesungguhnya.”

“Aku setuju!” Taichi-san lalu bangkit dan membuka almari di dekatnya. Di balik pintu kayu itu ternyata ada pintu besi, sebuah brankas.

Yamane segera mengeluarkan tas dan memasukkan uang-uang itu ke dalam kopernya. Tapi ia mengeluh, karena uang itu bahkan tidak ada 100 juta yen. Tapi Taichi-san mengaku kalau itu sudah semua. Yamane baru sadar, kalau Taichi-san sudah mengacungkan samura panjang miliknya di belakang Yamane.

“Jika kau mengungkap kejahatan anakmu, kau bisa memimpin kelompok lagi kan?”

“Begitu yang kau temukan? Lebih baik tidak menyelidiki hal tidak penting. Di samping itu, bukannya kau ingin tahu tentang Yuuki Tanmei?” Taichi-san memancing respon Yamane. “Maaf, tapi aku tidak tahu di mana dia. Apa yang kau rencanakan jika bertemu dengannya?”

Yamane berbalik. Ia sama sekali tidak takut dengan pedang yang mengacung di depannya itu, “Aku ingin … mencuri negeri ini darinya.”

“Kenapa kau masuk secara paksa ke gedung milik agensi itu?” tanya Sakura sambil membantu mengobati luka-luka di wajah Katsumura.

Katsumura bingung, “Itu …untuk mengungkap kejahatan Kyoubukai.”

“Seperti Yamaneko. Kau bahkan memakai topengnya,” keluh Sakura.

Katsumura benar-benar kehabisan kata-kata. Tapi det.Sekimoto yang masuk mobil menyelamatkannya.

“Semuanya baik-baik saja. Banyak korban terselamatkan. Cctv mereka rusak, jadi tidak ada bukti kau memaksa masuk. Oi! Aku akan membiarkanmu kali ini saja!” tegas det.Sekimoto.

Yamane tengah berjalan sambil menyeret koper yang berisi uang. Ia memberitahukan agar Rikako-san menunggu di pintu belakang. Tapi seseorang muncul, mengacaukan rencana, Shunichi. Shunichi bersama anak buahnya membawa Yuuna yang mereka tangkap dan menjadikannya sandera.

“Aku tidak ngompol,” ujar Yamane dari telepon sebelum berbalik.

Rikako-san heran dengan ucapan itu. Cuma Mao yang mengerti dan kemudian menghack cctv gedung itu, mencari keberadaan Yamane.

Shunichi menggunakan Yuuna sebagai sandera. Baginya uang adalah segalanya. Karena itu ia minta agar Yamane mengembalikan uang itu dan gantinya adalah melepaskan Yuuna. Tapi Yamane sudah tidak tertarik lagi menyelamatkan Yuuna. Ia menolak begitu saja syarat pertukaran yang diminta Shunichi.

Katsumura akhirnya berhasil kembali ke truk. Ia kesal karena dikerjai lagi oleh Yamane. Tapi perhatiannya teralihkan saat Mao menunjukkan video cctv, saat Yamane berhadapan langsung dengan Shunichi di dalam gedung.

“Apa yang dia lakukan bukan urusanku. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau,” ujar Yamane santai.

Shunichi tidak mengira respon Yamane akan begini. Senpi yang tadinya ia arahkan ke kepala Yuuna, sekarang berganti mengarah pada Yamane, “Kalau begitu, pikirkan hidupmu!”

Tapi Yamane tetap santai, “Sudah kuduga, akan seperti ini. Tapi ini buruk!” ia menggerakkan kopernya dan seketika salah satu tutupnya terbuka menunjukkan deretan bom yang terpasang rapi di sana. “Aku memegang pemicu-nya,” Yamane menunjuk tombol yang tidak jauh dari ibu jarinya. “JIka ini kulepaskan, akan meledak. Dan uangnya lalu kau … akan meledak berkeping-keping.”

Shunichi berjengit kaget, “Jangan menggertak!”

“Jadi, mau coba?” tantang Yamane. Ia berjalan mendekati Yuuna yang jadi tameng Shunichi dan yang lain. Yamane sama sekali tidak perduli dengan gertakan Shunichi yang mengancam dengan senpi teracung. Kali ini ia menatap tajam wajah Yuuna yang mulai ketakutan, “Urus urusanmu sendiri! Bukankah kau malu untuk bilang ‘tolong aku’ padaku sekarang? Hidupmu mulai sekarang adalah membayar hutangmu, kau akan terus menjual tubuhmu. Bagaimana perasaanmu? Apa kau takut? menyesal? Sakit? Itu adalah perasaan orang lemah. Itu perasaan Mao saat kau mem-bully-nya. Prinsip adalah arti tulang untuk tubuh. Jika kau tidak punya tulang, kau tidak akan bisa menegakkan kepalamu atau menggerakkan tangan dan kakimu. Meski kau berbakat dan berpendidikan, kalau kau tidak punya prinsip moral, itu adalah orang yang harus dijauhi. Pasti kau tidak paham ucapanku. Singkatnya, tidak ada manusia yang tidak mengatakan ‘maaf’atau ‘terimakasih’. Kalau kau tidak bisa mengerti luka orang lain, hidupmu sia-sia. Mau mengerti lukamu, itulah kenapa dia ingin menyelamatkanmu. Agar bisa mendapat IOU-mu, dia bahkan melakukan kejahatan. Meski dia adalah korban bullying-mu. Bagaimana denganmu? Apa kau mengerti? Kau Cuma bocah bodoh yang tidak bisa melakukan apapun sendirian. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka mintalah bantuan orang lain. Tidak ada cara lain. Kau tahu, caranya ucapkan ‘terimakasih’. Waktu sudah berubah sekarang!” Yamane bicara serius.

Yamane berbalik dan kembali ke mode konyolnya, “Oke, ini pasti sudah cukup waktu. Aku sudah mencapai batas! Cepatlah! Aku tidak ngompol!” teriak Yamane lalu memasukkan semacam sumbat ke kedua telinganya.

Mendengar itu, Mao yang ada di dalam truk langsung menyahut dengan ‘Aye-aye, Sir!” ia lalu memencet tombol di laptopnya.

Seketika itu terdengar suara denging yang sangat keras di lorong tempat Yamane dan yang lain berada. Shunichi dan yang lain kesakitan karena mendengar suara itu. Sementara Yamane yang sudah siap sedia, santai saja menanggapi suara denging yang memekakkan telinga itu. Satu per satu Yamane memukuli orang-orang itu hingga mereka semua pingsan.

Semua orang sudah dibuat pingsan oleh Yamane. Sekarang ia mengajak Yuuna untuk segera beranjak. Yamane pun menyeret kopernya.

“Aku tidak bisa … “ susah payah Yuuna bicara.

Yamane heran. Tapi kemudian ia sadar kalau Yuuna tidak bisa berdiri, karena lemasnya. Yamane kesal, harus memilih antara koper atau mengangkut Yuuna. Tapi akhrirnya ia jongkok di depan Yunna dan meminta gadis itu naik ke punggungnya. Yamane memilih Yunna dan meninggalkan kopernya yang berisi uang.

“Oh, uangnya … “ Katsumura tidak bisa berkomentar apapun melihat semua kejadian itu.

“Lebih penting … apa arti ‘aye-aye, Sir’ tadi?” Rikako-san bertanya pada Mao. Tapi gadis itu tidak memberikan jawaban apapun padanya.

Shunichi-san bangun dari pingsannya sambil memegangi telinganya yang kesakitan tadi. Ia melihat sekitar, sudah tidak ada Yamaneko. Tapi perhatiannya tercurah pada koper yang ditinggalkan Yamaneko. Ia membuka koper itu dan berseru girang karena uang yang ada di sana masih ada dan utuh.

Tapi, dari arah lain seseorang mendeket. Staf hotel mengantarkan det.Sekimoto pada Shunichi-san. “Nakaoka Shunichi. Sepertinya banyak yang harus kau ceritakan pada kami. Soal uang itu, contohnya.”

Yamane berhasil membawa Yuuna keluar. Setelah jauh, Yunna minta diturunkan. Dan mereka kini duduk di lantai taman. Tapi rupanya Yamane belum mematikan sambungan ponselnya tadi, hingga Mao dan yang lain, yang ada di dalam truk masih mendengarkannya bicara dengan Yuuna.

“Kenapa kau menyelamatkanku?”

“Mao yang memintaku. Katanya, cukup dia saja yang memilih jalan yang salah,” wajah Yamane berubah serius, “Salahku dia jadi seperti ini. Aku pencuri, tapi bukan perampok. Tapi akhirnya aku merampok, masa depan Mao. Hidup yang sebenarnya bisa dijalaninya dengan normal. Sampai dia bisa tertawa dengan tulus … aku akan melindunginya,” curhat Yamane. “Ayo!”

“Jangan khawatir, aku bisa pulang naik taksi,” Yuuna bangun dan beranjak.

“Jangan ceritakan soal kami,” pesan Yamane.

“Tidak akan. Tidak akan ada yang percaya padaku kalau aku ceritakan orang bodoh sepertimu adalah Yamaneko,” Yuuna sudah berjalan menjauh, tapi ia berbalik. “Hei, apa aku masih bisa berubah?

“Booooodoh! Kau sudah berubah kan?”

Yuuna berbalik dan menunduk, “Katakan pada gadis itu (Mao), aku minta maaf dan terimakasih,” ujarnya sebelum benar-benar beranjak pergi.

Yamane mengeluarkan ponselnya dan mematikan sambungan. Sepertinya ia sengaja melakukan ini agar Mao mendengar semua pembicaraannya dengan Yuuna.

Sementara itu di truk, “Kupikir dia senang-senang saja kalau ada orang yang melakukan kejahatan, kecuali kau,” ujar Katsumura pada Mao.

Public heboh. Salah satu kandidat dalam pemilihan gubernur, idol Takashina Toru mengundurkan diri. Ini berkaitan dengan skandal bahwa Kyoubukai, agensinya adalah agensi artis yang memaksa para artisnya untuk jadi ‘wanita penghibur’.

“Aku menunggu investigasi tuntas terhadap kasus ini. Aku akan melakukannya sebaik mungkin,” ujar Todo Kenichiro pada wartawan yang mengelilinginya.

Kembali ke bar

Katsumura kesal luar biasa pada Yamane setelah ia tahu kalau Hosoda-san ternyata tidak ada hubungannya dengan kasus Kyoubukai ini. Tapi Yamane menanggapinya dengan santai. Ia justru meniupi mie yang baru saja disajikan oleh Rikako-san.

“Jadi, siapa yang memintamu melakukan ini?”

“Pak tua,” jawab Yamane asal.

Rikako-san menceritakan kalau mereka sebenarnya punya satu anggota lagi. Dan kasus ini sebenarnya adalah cara untuk mendapatkan kepercayaan sepenuhnya dari Mao. Jadi, teman Mao, si Kakiuchi Yuuna sengaja dijadikan artis dan dibuat bermasalah dengan agensinya. Semuanya dirancang oleh Yamane.

“Penculikan Yuuki satu-satunya yang tidak ada dalam rencana,” aku Yamane dengan santainya.

“Apa rencanamu terhadap Mao?” tanya Rikako-san kemudian.

Yamane hanya melirik sekilas. Lalu bibirnya ditarik ke sebelah, sebuah senyum misterius.

Mao yang baru turun dari tangga menghentikan obrolan mereka semua. Rikako-san menawari Mao makan, tapi Mao tidak memberikan jawaban apapun.

Mao justru tertarik pada Yamane, “Apa pekerjaanku berikutnya?”

“Tidak, Mao-chan! Kau tidak bisa mempercayai orang ini!” protes Katsumura. Tapi Yamane buru-buru menghentikan protes itu.

“Ah, kau membasahi celanamu lagi,” komentar Mao sebelum akhirnya memilih untuk duduk.

Yamane melirik ke bawah dan langsung menutupi bagian celananya yang basah itu. “Ah, itu sup! Sup dari ramen-ku.”

“Tapi kau baru mulai makan!” elak Katsumura.

“Bodoh! Ini dari yang kumakan tadi. Kali ini, ini benar dari sup ramen-ku!” Yamane menjelaskannya pada Mao.

“Kali ini? Huh? Bagaimana yang sebelumnya?”

Tapi Yamane Cuma nyengir bodoh. Yang disambung ungkapan kesal Mao.

Obrolan mereka terhenti saat seseorang membuka pintu bar dan masuk. Dia det.Sekimoto.

“Yamaneko … aku menemukanmu!” ujar det.Sekimoto serius. Tapi kemudian, “Bercanda!” wajah seriusnya berubah ramah.

“Bercanda?” Katsumura dan Mao yang tadi tegang berubah bingung.

“Jangan bikin bingung dong, Pak Tua!” protes Yamane.

“Dia anggota yang lain,” Rikako-san menjelaskan pada Katsumura dan Mao.

“Lihat! Misi selesai!” det.Sekimoto meletakkan koper berisi uang ke atas meja. “Kita mendapatkan dana rahasia Kyoubukai, 100 juta dan 20 ribu yen!”

“Aku merindukanmu!” teriak Yamane girang lalu memeluk koper itu.

Katsumura (lagi-lagi) dibuat tidak mengerti, “Kau pasti bercanda! Sekarang aku tidak tahu apa-apa lagi!” keluhnya.

“Ayo bicara sambil minum, tenggorokkanku kering!” pinta det.Sekimoto. Kali ini ia bicara pada Yamane, “Kita akan segera bisa menghubungi Yuuki.” Kalimat ini membuat wajah konyol Yamane tiba-tiba saja berubah serius.

Todo Kenichiro-san masih ada di ruang kerjanya. Beberapa kali ia mengetik di keyboard, dan berhenti saat tampilan di layar menunjukkan sosok bertopeng, menakutkan, “Sudah lama, Yuuki-sensei!”

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Kaito Yamaneko episode 03 part 1.

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

Kelana’s note

Dalam tulisan ini, Kelana memang sengaja menggunakan istilah ‘wanita penghibur’, tahu kan ya artinya? Jadi nggak usah Na jelaskan ya, hehehe

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top