Home / Kaito Yamaneko / SINOPSIS Kaito Yamaneko 02 part 1

SINOPSIS Kaito Yamaneko 02 part 1

SINOPSIS dorama Kaito Yamaneko episode 02 part 1. Yamane atau dikenal sebagai Yamaneko adalah seorang pencuri terkenal. Saat mencuri, ia tidak hanya mengambil barang berharga saja, tetapi juga membeberkan kejahatan targetnya. Secara tidak langsung, ia juga membantu mengungkap kejahatan yang dilakukan si target.

Si jurnalis, Katsumura tidak sengaja terlibat dengan Yamaneko ini. Bukan hanya sekali saja, dia akhirnya menjadi bagian dari kelompok Yamaneko. Bukan hanya itu, si hacker muda yang masih berusia 17 tahun pun menjadi bagian dari mereka. Kali ini, siapa target Yamaneko berikutnya?

Hari masih pagi saat Yamane berlarian di jalanan yang sepi. Tidak lama setelahnya, dia membiarkan dirinya menggelinding di rumput yang menurun. Yamane kemudian bangun dan duduk. Mulanya ia kesakitan, tapi kemudian mengelak dari rasa sakit itu. Wajahnya berubah serius, sama sekali berbeda dengan wajah konyol Yamane yang selama ini selalu dimunculkannya saat berhadapan dengan orang lain. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Yamane ini?

Tidur lelap Mao terpaksa kacau saat Yamane masuk ke dalam kamarnya dan mulai bernyanyi dengan suara tidak jelas.

“Kau akhirnya bangun! Dibangunkan oleh suaraku langsung adalah luar biasa. Makanan siap!”

“Berisik!”

Tapi Yamane tertarik pada majalah yang terbuka di dekat meja Mao. Pencuri misterius Yamaneko. Ini era tikus muda. Tidak takut dan sulit dipahami, dia adalah pencuri terkemuka. Tidak ada yang tahu identitas aslinya. Tapi tidak dipungkiri jika dia tampan. Tidak diragukan lagi Yui Aragaki akan jatuh cinta padanya.

“Tidak tertulis seperti itu,” protes Mao terhadap dua kalimat terakhir yang diucapkan Yamane. “Tidak peduli apapun yang terjadi di luar, aku tidak mau bekerja denganmu. Aku tidak mau menghack lagi,” tegas Mao.

“Sikap tegas. Ah, aku lapar,” keluh Yamane.

Tapi Mao justru tertarik dengan bagian bawah celana Yamane yang basah. Karena letaknya, Yamane buru-buru mengelak kalau ia akibat kuah ramen yang dia makan, dan dia bukan ngompol. Tapi Mao tidak percaya dan tetap menunjukkan wajah datarnya pada Yamane. Yamane berkeras kalau ia tidak bohong, sampai menyuruh Mao membauinya sendiri. Mao yang kesal akhirnya menyalakan suara nyaring dari laptopnya, sementara dia sendiri sudah siap dengan penutup telinga. Yamane Cuma bisa guling-guling kesakitan di dekat Mao.

Mao akhirnya mau diajak turun ke bawah. Yamane sendiri masih kesakitan karena suara keras tadi.

“Tapi kita bisa gunakan itu! Kau bisa memainkannya saat aku berteriak ‘aku tidak ngompol!’ dan kau menjawab ‘Aye-aye Siiiiiir’!” usul Yamane.

Tapi Mao tidak tertarik dengan ide itu. Di bawah Rikako-san sudah mempersiapkan sarapan untuk mereka. Dan untuk Yamane jelas ramen.

Berita di televisi menarik perhatian mereka. Jasad Hosoda Masao-san, 37 tahun ditemuan. Pria ini ditemukan pekerja yang melihatnya mengambang di air. Kemungkinan kematiannya antara 10 hingga 14 hari yang lalu. Berdasarkan keadaannya, jelas jika dia ditembak. Polisi curiga jika Hosoda ini terlibat sesuatu.

Di tempat lain, Katsumura juga menyaksikan berita itu. Ia teringat malam itu, saat Yamane menarik Hosoda menuju pelabuhan. Saat itu Yamane menyuruh Katsumura tidak usah ikut saat mereka menjauh. Tidak lama setelahnya, terdengar suara tembakan. Dan Yamane pun kembali ke truk mereka sendirian.

Mao menyodorkan Koran berisi berita penemuan jasad Hosoda-san, “Kau membunuhnya huh?” Mao makin curiga. “Kau membawa Hosoda-san secara paksa dan menembaknya!”

“Apa yang kau katakan? Itu bukan aku,” elak Yamane, ia asyik mengipasi kakinya yang gatal.

“Kalau bukan kau, siapa lagi?”

“Memangnya kau lihat saat aku menembaknya?” balas Yamane. “Dan lagi, aneh kan kalau jasad dibuang ke air dua minggu lalu, tapi masih ada di tempat yang sama.”

“Benar. Normalnya, dia pasti sudah terbawa air,” Katsumura ikut berkomentar.

Yamane kaget karena ada Katsumura. Padahal Katsumura sudah ada di sana sejak tadi.

“Tapi, bukannya ada suara tembakan?” tanya Katsumura.

“Peringatan. Untuk mengatakan ‘jangan letakkan kakimu di dunia ini lagi’.”

“Kalau begitu, artinya Hosoda dibunuh tepat setelah dia melarikan diri darimu,” Rikako-san ikut bicara.

“Tidak. Dia mungkin dibunuh hari lain. Bajunya, jaket dan celana masih sama dengan digunakan dua minggu silam. Tapi kaos kakinya berbeda. Hosoda menggunakan kaos kaki putih hari itu, tapi jasad yang ditemukan mengenakan kaos kaki hitam.

“Bisakah kau buktikan?” Katsumura penasaran.

“Tidak mungkin!” elak Yamane cepat. Yamane kesal sendiri. Yamane tidak bisa menebak siapa yang membunuh Hosoda, tapi dia yakin itu dilakukan oleh professional.

Katsumura menangkapnya, jika mungkin saja si pelaku juga ada di TKP. Sekarang malah Yamane yang balik menuduh Katsumura.

“Kau benar melakukannya atau tidak?” Rikako-san akhirnya turun tangan.

Yamane terdiam, lalu menegak minumannya, “Mungkin. Kita bicara dua minggu lalu. Sejujurnya, aku tidak ingat persis. Saat itu, aku minu banyak,” Yamane masih menjawabnya dengan santai.

“Apa-apaan ini? Kalau kau membunuh orang, kau harus bunuh aku juga. Aku tidak mau lihat wajahmu lagi!” Mao yang kesal mengambil tasnya lalu pergi begitu saja.

Yamane justru berpose sok imut, “Meski aku seganteng ini?” dan kepalanya langsung dipukul oleh Rikako-san.

Katsumura melihat foto-foto jasad Hosoda-san yang diambil oleh polisi.

“Sebenarnya, aku tidak boleh menunjukkan ini padamu. Tapi karena itu kau, jadi ada pengecualian. Aku tidur tiga hari di kantor polisi. Dan bosku yang cabul itu terus saja usil. Dia bilang padaku, ‘kalau kau tidak pakai make up, tidak aka nada yang mengenalimu’. Saat hariku dimulai seperti itu, aku benar-benar ingin membunuh seseorang dan tiba-tiba dipenuhi empati pada penjahat. Dan saat aku membaui aromanya di mobil patrol, aku benar-benar ingin segera melakukannya. Aku kesal! Aku tidak bisa begini! apa yang harus kulakukan? Aku ingin istirahat di hotel sana. Aku ingin istirahat di hotel penuh cinta,” Sakura curhat sambil memandang ke hotel yang ada di seberang jalan, memberikan kode. “Senpai, apa kau mendengarkanku?” Sakura kesal karena Katsumura justru asyik sendiri.

“Kaos kaki kuning,” gumam Katsumura.

“Ada apa?”

“Mungkin ada tersangka kasus ini. Yama … “ tapi ucapan Katsumura terhenti saat orang yang sama sekali tidak ingin dia lihat, justru muncul.

Yamane datang dan menyebut Katsumura dengan ‘Kacchan’. Ia memperkenalkan diri pada sebagai teman sekelas Katsumura di SMA pada Sakura. Katsumura salah tingkah, rencananya untuk mengatakan soal Yamaneko pada Sakura pun gagal. Yamane tahu benar dan segera membuat Katsumura menjauh dari Sakura. Ia menyeret Katsumura pergi dari kafe itu.

Yamane menyeret Katsumura ke dalam truk dan mengikatnya. “Kau mau bilang padanya huh?!”

“Hentikan, tolong! Kaos kakinya kuning,” Katsumura masih berusaha membela dirinya.

“Tidak mungkin kau lihat kaos kakinya dengan detail kan?”

“Jadi itu bohong? Jadi kau benar … “ ikatan Katsumura makin kencang.

“Kubilang padamu, bukan aku!” Yamane mengikat erat Katsumura bahkan menutup mulut rekannya ini dengan kain putih, membuat Katsumura sama sekali tidak bisa berteriak. “Bukankah ini jadi menarik?”

Yamane kemudian membawa Katsumura ke sebuah tempat yang dikatakannya sebagai tempat persembunyian Hosoda-san. Yamane juga menunjukkan sebuah koper buatan Hosoda, yang saat dibuka ternyata berisi deretan bom siap diledakkan.

“Dia membuat barang-barang aneh. Meski kadang dia tidak berguna, tapi dia cukup menyenangkan. Aku mencari clue kematian Hosoda.” Yamane menunjukkan laptop milik Hosoda. “Lihat ini! artikel tentang mantan idol yang bunuh diri enam bulan silam. Hosoda mencari hubungan antara agensi gadis ini dengan kelompok yakuza. Bukankah kita harus membalasnya, meow?”

Meow?” Katsumura heran.

Mantan idol yang bunuh diri adalah artis dari sebuah agensi besar, Fine Break. Tapi kenyataannya, ini adalah perusahaan muka dari Kyoubukai, yang merupakan bagian dari kelompok yakuza Amaya. Presdir Kyoubukai, Nakaoka Shunichi menjadi pimpinan dari kelompok Amaya tiga tahun silam. Dia membuka lima bar dan club cabaret di Tokyo. Bar itu dibangun untuk mempekerjakan ulang artis agensi mereka, tapi di balik itu, kau bisa meminta fasilitas khusus. Seperti kau bisa membawa mereka pulang. Dengan kata lain, ini prostitusi.

“Jadi gadis-gadis ini adalah kelemahan Kyoubukai?” Katsumura menyimpulkan. “Dan saat Hosoda-san mencoba memecahkan ini, dia terbunuh.

“Kemungkinan.”

“Jadi ini belas dendam untuk Hosoda-san? Baiklah, aku akan melakukan penyelidikan serius tentang agensi ini,” Katsumura berucap yakin.

“Yusss! Aku menunggumu mengatakan itu. meow!”

Tapi kebahagiaan Yamane terputus saat telepon masuk ke ponselnya. Suara dari seberang mengatakan agar dia jangan bohong. Karena Hosoda Masao-san sama sekali tidak pernah mencari tahu soal hubungan agensi dan yakuza itu. Suara dari seberang juga mengingatkan agar Yamane tidak memanfaatkan Hosoda untuk pekerjaan mereka.

“Siapa kau?” Yamane penasaran. Ia melihat sesosok pengendara motor dengan pakaian dan helm serba hitam ada di jalan tidak jauh dari tempatnya sekarang.

“Kita akan segera bertemu! Sampai jumpa!” ujar sosok di seberang itu.

“Lihat ini! Memeriksa artis dari agensi ini. Gadis ini … “ Katsumura mengenal gadis itu.

Gadis yang fotonya dilihat oleh Katsumura ternyata tengah asyik membully Mao bersama teman-temannya. Mereka berada di dekat sungai. Nyaris saja gadis itu menggoreskan cutter ke wajah Mao jika saja Rikako-san tidak datang.

“Siapa kau ini?!”

“Kalau kau ingin tahu, aku akan mengukir namaku di wajahmu!” ancam Rikako-san.

Mendengar kalimat itu, anak-anak wanita yang tadi membully Mao buru-buru pergi ketakutan.

Rikako-san lalu membantu Mao bangun, “Lima hari, huh? Apa kau makan dengan baik?” ia lalu berbalik dan berjalan pergi.

Tapi panggilan Mao menghentikan langkahnya, “Rikako-san, apa kau pikir Yamaneko yang membunuhnya?”

“Entahlah. Meski dia membunuh Hosoda, itu juga aneh kan? Karena dia tidak hidup dengan standar normal masyarakat,” ujar Rikako-san.

“Kenapa kau hidup bersama orang-orang seperti mereka?” Mao masih penasaran.

“Karena aku orang dari sisi lain juga. Tapi kau masih bisa pulih. Dan demi dirimu, sebaiknya kau tidak kembali,” Rikako-san memperingatkan Mao lalu beranjak pergi.

Det.Sekimoto dan mantan pembaca berita, Todo Kenichiro duduk-duduk setelah kelelahan akibat berolahraga. Keduanya tampak akrab satu sama lain.

Todo-san membahas soal seorang idol populer yang juga mencalonkan diri sebagai gubernur, seperti dirinya. Menurut det.Sekimoto, Todo-san akan dengan mudah menang. Tapi ide itu ditolak oleh Todo-san. Menurutnya si idol ini akan mencuri semua dukungan ibu-ibu rumah tangga.

“Aku jadi pembaca berita untuk mendapatkan popularitas,” cerita Todo-san.

“Jadi, bagaimana kau akan menghimpun kekuatan?”

Todo-san tertawa, “Itu kan tugasmu.”

“Aku detektif!” elak det.Sekimoto dengan cepat.

Senyum di wajah Todo-san makin lebar, “Tapi kau tidak benci uang kan? Aku tidak salah soal itu kan?”

Katsumura memberikan laporan atas penyelidikannya. (wah jurnalis satu ini keren ya, bisa dapat info sedetail ini). Menurut informasi, kelompok Kyoubukai yang mereka curigai ini mendapatkan pemasukan dari berbagai macam cara yang mencurigakan. Pertama, mereka menanggung 300.000 yen biaya dari artis yang mereka rekrut. Dan jika para artis ini tidak sukses dalam tiga bulan atau mereka membuat skandal, maka mereka dipecat. Tapi saat itu hutang agensi jadi hutam mereka, dan disebutkan sebagai pinjaman illegal.

“Artinya para gadis yang direkrut ini jadi prostitute di cabaret untuk membayar hutang mereka?” Rikako-san menarik kesimpulan.

“Melempar dua burung dengan satu kerikil. Meski jika mereka tidak menjualnya, klien akan mengumpulkan mereka karena mereka selebriti. Bisnis yang bagus,” puji Yamane.

“Nakaoka Shunichi yang membangun sistem ini. Mantan bos lama adalah yakuza kuno. Orang ini … “ Katsumura menunjukkan satu foto pada Yamane. “ … dia adalah bos lama, Nakaoka Taichi. Dia cerdas dan dihormati di kalangan politisi.”

Seorang bellboy berjalan mendorong pengantar barang. Staf hotel yang lain menyapanya dan heran, karena belum pernah melihat si bellboy tadi.

“Aku baru mulai bekerja tiga hari yang lalu. Aku diminta untuk mengantarkan ini ke ruangan Nakaoka Taichi-san,” ujar si bellboy yang ternyata Yamane yang tengah menyamar.

“Itu ruangan 1189,” ujar staf wanita.

Yamane masuk dengan santainya ke ruangan yang dimaksud itu. Ia lalu mengotak atik peralatan listrik di sana, sampai sebuah pedang tersampir di atas pundaknya. Pemilik kamar telah memergokinya.

“Bukankah kau jalan-jalan sebentar sebelum makan?”

“Aku lupa sesuatu,” ujar Nakaoka Taichi-san. “Kau tidak tampak seperti yakuza.”

“Kalau kubilang aku adalah Yamaneko, kau tidak akan tahu kan?”

Pertarungan tidak terhindarkan lagi. Taichi-san menyerang dengan samurai panjangnya. Sementara Yamane yang tidak memegang senjata hanya bisa terus menghindar saja. Hingga pedang Taichi-san membuat buku yang dibawa Yamane di saku belakang terjatuh, baru ia berhenti. Baju bagian depan Yamane sudah robek oleh sabetan pedang.

“Buku yang bagus,” puji Taichi-san.

“Kau masih belum bergerak?” Yamane sudah duduk dan berpose dengan santainya di kursi. “Dikepung oleh peralatan elektronik? Kau masih tampak segar. Anakmu terobsesi dengan uang dan hidupnya kacau.”

“Jika kau hidup dalam kehidupan kejam, kau akan menghargai uang lebih. Kelompok seperti itu terus tumbuh.”

“Karenanya, tidak masalah kan, kalau aku mencuri uang juga?” sambung Yamane.

Taichi-san mengelak dan mengatakan tidak ada uang di ruangan itu. Tapi bukan itu tujuan utama Yamane. Karena ia mencari seorang yang memiliki sebutan Yuuki Tenmei.

“Kalau yang kau maksud dia, dia sudah mati sejak lama,” ujar Taichi-san.

“Kupikir juga begitu. Tapi tidak masih hidup.”

“Meski begitu, aku tidak mungkin mengatakannya pada seorang kucing pencuri kan?”

“Aku tahu kau akan berkata begitu,” Yamane mulai serius. “Bagaimana kalau bertaruh? Jika aku bisa mencuri semua uang milik Kyoubukai hari ini, aku menang. Dan kau akan mengatakan di mana menemukan Yuuuki. Dan jika tidak, kepala ini milikmu. Yuuki pasti akan membelinya dnegan harga tingggi,” tantang Yamane.

Staf Taichi-san berteriak dari luar memastikan kalau tuannya ini baik-baik saja. Taichi-san hanya menengok sebentar untuk menjawab ucapan stafnya itu dan saat berbalik, ia sudah tidak menemukan si pencuri, Yamaneko ini.

Mao melamun sendirian di internet-café. Ia masih memikirkan ucapan Rikako-san tadi, kalau dirinya masih bisa kembali. Lalu dari atas, seseorang mengagetkannya, Yamane.

Mereka sekarang berada di luar ruangan. Sementara Yamane terus menggerakkan kakinya yang kedingingan sambil meniup ramen di tangannya. Mao heran bagaimana cara Yamane menemukannya. Tapi Yamane mengatakan dengan santai agar Mao mengecek tasnya. Ternyata di sana ada alat kecil yang digunakan sebagai pelacak.

“Ah, dia!” teriak Yamane. Sekarang ia dan Mao mengintip ke arah seorang gadis yang baru keluar dari dalam gedung. “Dia teman sekelasmu kan? Dia dipecat dari agensi hari ini, karena ia menyalahi kontrak. Ini di internet,” Yamane menunjukkan foto saat gadis itu membully Mao di dekat sungai. “Kau tahu dia akan kemana? Ke cabaret. Dia akan jadi prostitute di balik layar. Dia melakukan itu agar bisa mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan agensi untuknya. Tapi karena itu adalah pinjaman illegal, tidak peduli seberapa banyak dia bekerja, hutangnya tetap akan bertambah. Hidupnya akan kacu kan? Sebagai korban bullying, kau pasti berpikir itu hal baik.”

“Bisakah aku pulang?” Mao hanya menanggapi Yamane dengan dingin lalu beranjak pergi.

Gadis yang tadi ternyata datang ke sebuah cabaret. Mao yang penasaran ternyata juga mengikuti gadis itu. Dan sebagai pelengkapnya, Yamane menyusul kemudian. Yamane menyapa Mao dan mengatakan kalau kebetulan mereka bertemu lagi. Tapi Mao jelas tahu, kalau Yamane sengaja mengikutinya hingga ke sini. Mao baru saja akan pergi saat terdengar teriakan dari dalam cabaret itu.

“Aku penasaran jika mereka mengajarinya dengan rinci cara melayani klien. Aku penasaran, apa dia bisa menghiburku juga?” Yamane kembali memancing reaksi Mao.

Mao tidak punya pilihan lain, “Tolong aku. Tolong aku selamatkan gadis itu.

“Apa? Kenapa? Dia sudah membully-mu. Ini balasan yang setimpal kan?”

“Sudah cukup! Aku yang mengambil jalan yang salah. Kumohon!” pinta Mao lagi.

“Aku mahal lho!” Yamane lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon Rikako-san dan mengatakan kalau mereka punya pekerjaan.

Yamane masuk ke cabaret itu dan mulai membuar keributan. Para staf yang tidak tahu apapun kaget dengan ulah Yamane. Kali ini ia masuk dengan menggunakan topeng kucingnya dan memanfaatkan alat pemadam kebakaran. Ketika salah satu staf dipukuli habis-habisan oleh Yamaneko, yang lain tidak berani melawan.

Sementara itu, Mao menunggu di luar. Tidak lama setelahnya sebuah truk datang. Yang ada di balik truk itu adalah Rikako-san. “Kau baik-baik saja kan?” tanya Rikako-san.

Di dalam, keributan terjadi. Pimpinan kelompok yakuza itu, Shunichi mulai mendekati gadis yang baru saja datang. Sampai dua orang stafnya terjerembab masuk ke ruangan itu, dan ada Yamaneko mengekor di belakang mereka.

“Apa kau Yamaneko?” Shunichi-san menodongkan senpi pada Yamaneko.

Yamaneko pura-pura ketakutan. Sampai ia kemudian berhasil melumpuhkan Shunichi dan merebut senpi-nya. Tiga kali tembakan peringatan dilakukan, “Buka brangkas itu, cepat!”

Tapi saat dibuka, ternyata isinya Cuma segepok saja. Ini membuat Yamaneko kesal. Ia menodongkan senpi pada Shunichi lagi dan memintanya mengatakan tempat penyimpanan sebenarnya.

“Baiklah! Baiklah! Rumah di Daiba!” ujar Shunichi pula.

Yamaneko lalu memukul Shunichi lagi hingga akhirnya di tidak sadarkan diri.

Yamaneko mendekati gadis yang ketakutan tadi. Ia pun membuka topeng kucingnya dan memamerkan wajah konyolnya, membuat gadis itu keheranan sama sekali. Ia menyeret gadis itu dan membawanya masuk ke dalam truk bersama Mao.

Yamaneko sendiri lalu masuk ke sebelah supir. Rikako-san dengan sigap segera tancap gas meninggalkan jalanan di depan cabaret itu. Sementara di belakang, tukang pukul di cabaret berlarian mengejar truk hitam itu, sayang sia-sia.

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di Sinopsis Kaito Yamaneko episode 02 part 2.

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top