Home / Himura and Arisugawa / SINOPSIS Himura and Arisugawa 02 part 2

SINOPSIS Himura and Arisugawa 02 part 2

SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 02 part 2. Hari sebelumnya, sosok misterius yang mengenakan perban datang ke penginapan yang didatangi oleh Alice. Pembunuhan terjadi di penginapan itu, tepatnya sesosok jasad ditemukan di ruangan tempat sosok berperban menginap.

Karenanya, semua staf dan tamu di penginapan itu menjadi tersangka. Penyelidikan dilakukan dan polisi menemukan hubungan dengan kasus penyerangan yang terjadi kurang lebih satu bulan sebelumnya. Apakah kedua pembunuhan ini dilakukan oleh pelaku yang sama?

Himura-sensei dan det.Hisashi mengunjungi apartemen korban yang diketahui bernama Aiba. Oleh pemilik apartemen dan orang-orang di sekitar, Aiba dikenal sebagai sosok yang tertutup dan selalu tinggal di rumah, terutama sejak satu bulan silam. Pemilik apartemen dan orang-orang sekitar berpikir kalau si Aiba ini berhubungan dengan kasus penyerangan terhadap seorang pekerja satu bulan silam.

“Sensei, bagaimana menurutmu? Apa menghubungkan kedua kasus ini berarti aku tidak sabar? Jika dua insiden itu dihubungkan, ada kemungkinan kan kalau AIba ini adalah saksi mata insiden sebelumnya?”

Himura-sensei masih asyik melihat-lihat koleksi piringan hitam di ruangan itu, “Kita bisa berpikir begitu juga. Jika kau ingin menghubungkan insiden itu, kau tidak boleh buru-buru.” Melihat koleksi langka piringan hitam itu, Himura-sensei berpikir untuk memutarnya. Piringan hitam itu adalah barang langka curian yang sangat berharga.

Pemilik apartemen mengaku kalau ia terakhir melihat Aiba pada kemarin sore. Saat itu pemilik apartemen melihat Aiba membukakan pintu saat menerima kiriman sebuah pot dengan tanaman yang cukup besar. Pemilik apartemen memastikan kalau waktunya sekitar 5.30 hingga 6.00 sore, saat ia menjemput cucunya.

“Kupikir pria berperban itu adalah Aiba. Karena keduanya memakai kaca mata. Tapi pria berperban masuk penginapan pada pukul 6 sore,” det.Hisashi tampak kesal sendiri.

Himura-sensei masih terus melihat sekeliling, “Kau tidak bolah buru-buru. Dia sepertinya punya tamu, meski dia tida suka bergaul,” komentarnya kemudian. Himura-sensei menunjuk bekas puntung rokok di meja dengan dua merk berbeda. Artinya, ada orang lain di sana selain Aiba.

“Aku melihat seorang pria mengunjunginya beberapa kali,” ujar pemilik apartemen. Dari luar terdengar suara motor. Pemilik apartemen lalu mengajak mereka semua keluar.

“Hata, ada hal buruk terjadi!” ujar pemilik apartemen menyapa pria yang baru datang dengan motor itu.

Pemilik apartemen memperkenalkan pria itu sebagai pria yang sering datang mengunjungi Aiba. Pria yang dipanggil Hata itu mengatakan kalau penginapan dan pemandian air panas tempat jasad Aiba ditemukan adalah milik keluarganya.

“Itu artinya kau tahu persis penginapan itu kan?” tebak det.Hisashi.

“Benar. Aku ragu mengatakannya, karena aku tidak ingin dicurigai.

“Di mana kau kemarin pagi?”

“Lihat kan? Aku langsung dicurigai. Aku tidur di rumah. Aku keluar untuk pesta sepanjang malam kemarin sejak pukul 6 sore,” aku Hata.

Hata tidak mengelak saat ditanya apa benar ia mengunjungi Aiba sejak akhir tahun lalu. Hata mengaku kalau ia sering membantu Aiba untuk belanja atau semacamnya, karenanya ia datang satu atau dua kali dalam satu minggu.

“Kami mungkin tampak seperti pasangan. Tapi tentu tidak benar. Aku anak orang kaya, karena keluarganya pemilik hotel, aku jadi orang yang perhatian. Aku tidak bisa membiarkan orang seperti Aiba sendirian. Pemilik apartemen mengatakan kalau Aiba tinggal di rumah sejak bulan lalu,” cerita Hata.

“Apa kau tahu sesuatu soal itu?

“Aku memang teman terdekatnya sebulan belakangan. Tapi, bagiku dia tetap pria misterius. Itulah asyiknya jadi temannya.”

“Terimakasih. Kalau kau ingat sesuatu, tolong hubungi aku,” HImura-sensei menyerahkan kartu namanya.

Hata membaca kartu nama itu dan keningnya berkerut heran, “Profesor tamu? Bukankah kau detektif?”

“Aku ahli criminal. Aku bergabung dengan investigasi sebagai bagian dari pekerjaanku.”

Hata baru saja berbalik dan akan pergi saat det.Hisashi memanggilnya dan bertanya apa yang dilakukannya pada 10 desember tahun lalu. Hata mengaku tidak ingat hari itu.

Himura-sensei berjalan bersama det.Hisashi. Ia menangkap kalau det.Hisashi sangat mencurigai pria yang baru mereka temui tadi, Hata.

“Aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari Anda, sensei. Figure tubuhnya sangat sesuai dengan pria yang terekam cctv dalam insiden satu bulan silam, dan juga … “

“Intuisimu sebagai detektif,” tebak Himura-sensei.

“Benar. Intuisiku mengatakan kalau dia tersangkanya juga.”

Tapi fakta yang tidak terbantah adalah Hata ini tidak ada di hotel kemarin sorenya. Selain itu, sisanya masih belum bisa dipastikan. Belum jelas juga alasan Hata, jika benar dia membunuh Aiba.

“Tapi, kalau kita hanya melihat fakta, kita tidak akan pernah bisa melihat kebenaran. Kita juga harus focus pada hal-hal yang belum pasti,” ujar Himura-sensei juga.

Malam itu Himura-sensei istirahat di ruangan Alice. Mereka masih membahas kasus kali ini. Insiden terjadi di pagi hari. Semua tersangka tidak memiliki alibi, termasuk Alice juga. Tapi belum ditemukan juga alasan untuk membunuh Aiba.

“Yang menggangguku adalah pria berperan. Ini seperti dunia Yokomizo Seishi,” ujar Himura-sensei.

Sementara itu, det.Hisashi masih terus bekerja hingga malam. Ia bersama tim-nya masih mencari informasi soal kasus penyerangan satu bulan yang lalu. Insiden itu terjadi tidak jauh dari hotel. Tapi sepertinya tidak ada saksi mata atau petunjuk apapun yang mereka temukan hingga kini.

Det.Hisashi berhenti sebentar. Ia memandang ke sebuah apartemen dengan serius. Dari dalam apartemen itu, Hata mengintip keluar. Ia bisa melihat kalau polisi yang menemuinya siang tadi mencurigainya, karena ia masih terus saja diawasi.

Alice sibuk memecahkan kertas berisi catatan dari pemilik apartemen, Tokie-san. Himura-sensei memberikannya petunjuk untuk melihat pada hal-hal yang tidak biasa, baca di antara kalimat.

Alice menurut saja, “To, Ni, Ru, Yu…Na, Ha… “ tapi belum selesai dia memecahkan kode itu, lampu sudah dimatikan oleh Himura-sensei.

“Aku lelah. Aku mau tidur,” keluh HImura-sensei.

“Egois … “ keluh balik Alice. Tapi akhirnya ia menurut juga dan beranjak ke balik selimutnya sendiri.

Bayangan orang berlarian di hutan kembali muncul. Seorang pria mengejar pria lain lalu menusuknya. Dan pria yang mengejar serta menusuk itu adalah … Himura-sensei. Mimpi buruk yang sama membuat Himura-sensei terbangun dari tidurnya. Ia memandangi tangannya, yang dalam mimpi tadi berlumuran cairan merah.

Dari seberang, Alice ternyata belum tidur. Ia masih terjaga dan tahu, kalau sahabatnya ini, Himura-sensei terbangun karena mimpi buruk. Tapi Alice tidak melakukan apapun.

Paginya, Alice dan Himura-sensei bertemu pasangan kekasih, Eri-san dan kekasihnya, yang kemarin ternyata telah berbaikan. Di sana juga ada det.Ono.

“Karena mereka tidak termasuk daftar tersangka, mereka boleh pergi,” ujar det.Ono.

“Bagaimana dengan aku?” tanya Alice.

“Kau juga.”

“Kalian berbaikan karena insiden ini. Bukankah ini artinya mengubah bahaya menjadi keuntungan?” goda Alice.

Tapi Himura-sensei mengalihkan perhatian mereka semua pada insiden itu lagi. Karena kekasih Eri-san itu adalah salah satu saksi yang melihat kedatangan pria berperban.

“Aku melihat pria berperban itu dua kali,” ujar kekasih Eri-san ini. Ia menunjuk kursi yang didudukinya saat pertama kali pria berperban datang. Setelahnya, pria berperban itu berjalan tapi kemudian melihat ke arah Alice yang berdiri tidak jauh dari meja tamu.

“Benar! Dia melihatku cukup lama. Aku kaget. Kupikir itu aneh,” ujar Alice.

Kekasih Eri-san ini berpikir kalau sebenarnya pria berperban bukan sengaja melihat ke arah Alice, tapi deretan hiasan topeng di dinding belakang Alice. Padahal tidak ada yang aneh pada topeng itu. Tapi, saat pria berperban itu pergi pagi berikutnya, dia tampak berjalan begitu saja tanpa menengok lagi pada topeng-topeng itu.

“Kita harus focus juga pada hal-hal yang tidak tampak … “ bisik Himura-sensei. Dalam kepalanya, ia seperti melihat saat pria berperban itu berjalan masuk ke penginapan lalu melihat ke arah Alice. Di sisi kirinya, ia juga melihat bayangan dirinya dan bayangan si pria berperban.

Sudut bibir HImura-sensei terangkat sedikit, “Kejahatan ini tidak cantik (sempurna). Komachi (det.Ono), apa dokter ahli oplas masih di sini?”

“Iya, kenapa?” det.Ono heran.

“Jangan bilang, dia si pria berperban!” tebak Alice asal.

“Aku ingin memastikan sesuatu dengannya.”

Himura-sensei dan Alice menemui Hata yang tengah duduk di sisi sungai. Hata ingin tahu bagaimana investigasi berjalan karena ia merasa masih dicurigai, padahal alibinya jelas. Apalagi Hata merasa kalau masih ada polisi yang datang dan mengamati rumahnya.

“Polisi tidak mencurigaimu atas insiden pembunuhan Aiba di penginapan. Tapi mereka mencurigaimu sebagai pelaku penyerangan yang mengakibatkan kematian satu bulan yang lalu,” Himura-sensei menjelaskan.

“Apa? Bagaimana bisa?”

“Intuisi detektif senior,” lanjut Himura-sensei.

Hata tersenyum sarkas, “Ini bukan drama!”

Himura-sensei juga balas tersenyum, “Aku setuju denganmu. Tapi jika kau juga tersangka kasus penyerangan satu bulan silam, maka kau juga tersangka kasus pembunuhan Aiba. Ini deduksi yang mungkin,” Himura-sensei lalu memperkenalkan rekannya, Alice sebagai seorang penulis novel misteri. “Apa kau ingin dengar ceritanya?”

“Aku tidak punya waktu,” elak Hata cepat.

“Kau punya waktu, karena kau yang menghubungi kami untuk datang kemari. Ini hanya fiksi yang mengisi antara dua fakta. Ini bukan bukti nyata,” pancing Himura-sensei kemudian.

“Terserah!”

Himura-sensei memulai ceritanya, “Ada dua karakter dalam kisah ini. Kau, tersangka kasus penyerangan satu bulan lalu dan Aiba, saksi matanya. Aiba melihatmu yang melakukan penyerangan itu dan memanfaatkannya. Kau diancam olehnya. Kau bukan orang yang peduli atau tidak bisa membiarkan orang lain sendirian. Itulah alasan utama kau datang ke apartemennya sejak bulan lalu. Dia meminta uang juga kan?”

“Itu tuduhan palsu! Kalau benar, bagaimana dia menghabiskan semua uang itu? Apa dia menyimpannya di bank? Apa kau sudah cek rekenignya?” tantang Hata.

Himura-sensei menanggapinya dengan santi, “Aku menemukan rekaman yang langa dan sangat mahal di apartemennya. Karena Aiba tidak bekerja, tidak mungkin dia bisa membeli barang seperti itu. Dari mana uangnya? Kau memang tidak peduli soal uang, tapi kau tidak tahan dengan hubungan tuan-pembantu dengan Aiba. Dan itulah motifmu!”

“Itu Cuma karanganmu saja!” bentak Hata tidak suka.

“Memang benar. Aku lanjutkan. Kau punya alibi jam 6 sore saat pria berperban masuk ke penginapan. Jadi, si pria berperban bukan kau, itu adalah Aiba. Aiba menerima kiriman pohon saat itu. Karena kaulah yang menerima kiriman pohon itu di ruangan Aiba kan? Kau sengaja memesan barang mencolok seperti itu untuk membuat alibi Aiba. Dengan kata lain, pria berperban diperankan olehmu dan Aiba. Pria berperban yang masuk ke penginapan adalah Aiba. Dan pria berperban yang membunuh Aiba adalah kau.”

“Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu?”

“Tujuan utamanya adalah agar polisi mencurigai pria berperban. Dan tujuan selanjutnya adalah untuk membawa Aiba keluar.”

“Aiba memiliki masalah Dysmorphophobia (fobia terhadap bagian tubuhnya sendiri). Itulah kenapa dia selalu tinggal di rumah. Ini bukan fiksi. Aku punya alasan mengatakan hal itu.”

Himura-sensei terus memojokkan Hata, “Aiba tidak hanya menghindari bertemu orang lain, tapi dia juga benci cermin.” Himura-sensei ingat menemukan cermin pecah di apartemen Aiba. “Penampilannya tidak masalah. Masalahnya juga bukan pada cermin, tapi pada keadaan mentalnya. Seorang ahli oplas terkenal menjelaskannya padaku. Katanya, orang yang punya masalah seperti itu biasanya menghabiskan banyak uang untuk oplas. Apakah ceritanya sangat menyakinkan? Setelah sukses mengontrolmu, Aiba mulai semakin tergantung padamu. Dan dia memintamu untuk membayarkannya oplas yang sangat mahal. Saat kau mencapai akhir kesabaranmu, kau memutuskan membunuhnya.”

Hata masih saja sok pede, “Lalu bagaiamana aku, yang dalam cerita fiksimu membawa Aiba ke penginapan itu?”

“Kau sangat cerdas!”

“Kau memanfaatkan penginapan orang tuamu untuk menyempurnakan rencana itu,” ujar Himura-sensei. Ia menunjuk pada Alice.

Sekarang giliran Alice yang menjelaskan sisanya. Hata membujuk Aiba untuk bersamanya mencuri uang dari brangkas yang ada di penginapan orang tua Hata. Baginya itu mudah, tapi akan aneh jika saat itu ia pulang dan uang hilang. Tentu orang tuanya akan curiga. Karenanya, Hata membujuk Aiba untuk bekerja sama dengannnya. Hata menceritakan idenya pada Aiba termasuk cara Aiba untuk keluar dari apartemen dan datang ke penginapan keluarga Hata.

“Kau pura-pura jadi kaki tangan Aiba. Dan ternyata itu adalah cara untuk membunuh Aiba yang merupakan saksi kunci insiden satu bulan silam.

“Cerita yang menarik,” sindir Hata.

“Jadi, kau mau menceritakan semuanya di depan polisi?” Alice yang bertanya.

“Jangan panggil polisi!” cegah Himura-sensei. “Kau membunuh orang asing dan temanmu tanpa alasan yang jelas dan bersikap seolah tidak terjadi apapun. Kau harus diinterogasi polisi yang punya surat perintah penangkapan dan diborgol untuk dibawa ke kantor polisi.”

“Aku tidak akan melakukannya. Dan aku tidak akan menyerahkan diri pada polisi,” ejek Hata. “Lihat, ada banyak iblis yang bebas berkeliaran di luar sana. Apa kau akan menangkap mereka semua? Jadi pahlawan itu berat ya,” Hata tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia berbalik dan berjalan menjauh.

“Ini kau kau inginkan?” Alice tidak tahan untuk protes pada Himura-sensei.

“Polisi akan menemukan bukti dan menangkapnya,” jawab Himura-sensei dengan tenangnya.

Dan seperti dugaan Himura-sensei, penyelidikan oleh polisi masih terus berlanjut. Det.Hisashi bersama tim-nya masih terus mencari saksi mata dan segala yang bisa digunakan untuk menangkap pelaku kasus ini.

Bahkan mereka tidak tanggung-tanggung, turun ke sungai untuk mencari barang bukti. Yakni alat yang digunakan tersangka untuk membunuh seorang pria pada insiden satu bulan silam.

Alice tengah mengajarkan Tokie-san cara memecahkan kodenya saat Himura-sensei datang lalu duduk di dekat mereka.

“Perhatikan yang tidak tampak di sini. Dengan kata lain, ambil kata yang tidak ada di puisi, U, E, Ku, Ta, No, Ra, N… JIka diurutkan jadi E, N, Ta, Ku, No, U, Ra! Bawah meja!” ujar Alice.

Himura-sensei meraba bawah meja dan mengambil selembar kertas, “Dan inilah password brangkasnya!”

Ponsel HImura-sensei berbunyi, panggilan dari det.Hisashi.

“Sensei, kami akhirnya menemukan pisau dengan sidik jari. Itu milik Hata. Hata adalah tersangka kasus itu,” ujar det.Hisashi dari seberang.

“Seperti yang kupikirkan, intuisimu sebagai detektif senior benar.”

“Sekarang tugas kami untuk membuktikan kalau deduksi Sensei benar. Aku berjanji akan membuatnya mengaku soal pembunuhan Aiba!” tegas det.Hisashi.

Dengan password itu, Tokie-san akhirnya bisa membuka brangkasnya. Dan dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah album lama.

“Ini hartaku. Ini foto-foto masa mudaku!” ujar Tokie-san girang.

“Tokie-san, bukankah kau sudah tahu paswordnya sejak awal?!” tuduh Himura-sensei.

“Apa yang kau bicarakan?” TOkie-san tidak mau mengaku.

“Kau sangat cantik! Kau seperti peri dengan aura menarik!” puji Alice melihat foto-foto itu.

“Iblis ada di manapun dan berjalan serta tersenyum dengan bebas.”

Anak sekolah misterius yang muncul di akhir episode satu, kali ini muncul lagi. Ia tengah berjalan tidak jauh dari Tokyo-tower. Tangan kanannya merasa saku. Dan dengan gerakan cepat, tangannya menepis rambut seorang gadis anak sekolah yang berpapasan dengannya. Siapa sebenarnya remaja misterius ini?

BERSAMBUNG

Sampai jumpa di SINOPSIS Criminologist Himura and Mystery Writer Arisugawa episode 03 part 1

Pictures and written by Kelana

FP: elangkelanadotnet, twitter : @elangkelana_net

About Kelana

fulltime blogger, parttime tentor, dreamer

Leave a Reply

Scroll To Top